Kisah Nabi Adam ‘Alaihissalaam, Wafatnya dan Sekelumit Kisah Nabi Syits (3)

Gambar

Muhammad bin Ishaq berkata, ketika Adam menjelang ajal, dia memberikan wasiat kepada anaknya, Syits, mengajarkannya siang dan malam, mengajarkan ibadah, dan mengajarkan segala macam ilmu pengetahuan. Ketika Adam wafat pada hari Jum’at maka datanglah para malaikat mengafani Adam dari kain kafan surga, para anaknya berkumpul, demikian pula Syits. Ibnu Ishaq berkata, terjadi gerhana matahari dan bulan selama tujuh hari tujuh malam [Tarikh Ath-Thabari 1/100].

Ubay bin Ka’ab berkata, sesungguhnya ketika Adam dijemput ajal, dia berkata kepada anaknya, “wahai anakku, sesungguhnya aku menginginkan buah dari surga,” kemudian anak-anak Adampun berangkat untuk mencarinya dan mereka bertemu dengan para malaikat yang sedang memegang kain kafan. Para malaikat bertanya, “wahai anak Adam, apa yang kalian inginkan dan kalian cari?”, mereka menjawab, “ayah kami sakit dan dia menginginkan buah surga.” Maka para malaikat berkata, “kembalilah kalian, umur ayah kalian sudah habis.” Kemudian mereka pun kembali kepada Adam. Ketika Hawa melihat mereka, ia pun mengetahui maksud kedatangan mereka lalu Adam berkata kepada Hawa, “biarkanlah aku, sesungguhnya aku diciptakan sebelummu, jangan halangi aku dengan para malaikat Tuhanku.” Kemudian para malaikat mencabut nyawa Adam, memandikannya, mengkafaninya dan menggali kuburannya kemudian menshalatkannya. Lalu mereka masuk ke dalam kuburannya dan meletakkan jasad Adam disana, kemudian mereka berkata, “wahai anak Adam, inilah sunnah kalian.” [HR Ahmad no. 10734].

Banyak perbedaan pendapat mengenai tempat dikuburnya Adam, yang masyhur diantaranya adalah :

1. Adam dikubur di dekat gunung yang ketika itu ia diturunkan dari Surga, yaitu di India.

2. Adam dikubur di gunung Abu Qubais di Makkah.

3. Dikatakan, ketika topan melanda, Nuh Alaihissalam membawa jasad Adam dan Hawa di peti Tabut, kemudian menguburkan keduanya di Baitul Maqdis. Inilah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Asakir meriwayatkan, kepala Adam berada di Masjid Ibrahim sementara kakinya berada di batu besar Baitul Maqdis [HR Ibnu Asakir dari perkataan Abdullah bin Abi Farras]. Allahu a’lam.

Terdapat perbedaan pendapat tentang usia Nabi Adam, namun yang rajih insya Allah adalah 1000 tahun. Pendapat ini didasarkan pada bermukimnya Nabi Adam setelah diturunkan ke bumi yaitu 930 tahun Syamsiyah, sementara dalam tahun Qamariyah adalah 957 tahun dan ini ditambahkan dengan lamanya beliau bermukim di surga sebelum diturunkan yaitu selama 43 tahun. Inilah pendapat Ibnu Jarir.

Nabi Syits bin Adam selanjutnya adalah orang yang dipercaya memegang risalah kenabian setelah Nabi Adam wafat. Sebagai seorang Nabi, Syits menerima lembaran-lembaran wahyu dari Allah Ta’ala. Diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari, dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, “sesungguhnya Allah menurunkan seratus empat puluh shahifah, dan kepada Syits sebanyak 50 shahifah.” [Tarikh Ath-Thabari 1/152].

Nabi Syits adalah saudara Habil dan Qabil, beliau dilahirkan setelah peristiwa kematian Habil karena kejahatan saudaranya, Qabil. Nabi Syits terpilih karena faktor kecerdasannya, ketakwaannya, kezuhudannya dan kepatuhannya, sifat-sifatnya yang mulia inilah yang membuatnya lebih unggul dibandingkan anak-anak Nabi Adam yang lainnya. Dikatakan bahwa usia beliau mencapai 920 tahun. Ketika ajalnya datang dia berwasiat kepada anaknya, Anusy, maka dia melaksanakan perintah Allah. Kemudian setelahnya adalah anaknya, Qanin. Kemudian anaknya, Mahla’il, dialah orang yang diklaim merupakan moyang bangsa Persia. Dia menguasai tujuh daerah, dia juga merupakan orang pertama yang menebang pohon, membangun kota dan benteng besar. Dia yang membangun kota Babilonia dan kota Sus Al-Aqsha, dikatakan bahwa dia mengalahkan iblis dan bala tentaranya lalu mengusir mereka dari bumi. Ketika dia meninggal, tampuk kepemimpinan diwariskan oleh anaknya, Yard. Ketika Yard wafat, dia berwasiat kepada anaknya, Khanukh. Khanukh inilah yang kita kenal dengan nama Idris Alaihissalam menurut pendapat yang masyhur. Allahu a’lamu bishawab.

–Al-Hafizh Abul Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah 1/437, tahqiq : Syaikh ‘Abdullah At-Turki, Penerbit Pustaka Azzam–

Catatan :

Nabi Syits tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang menjelaskan mengenai beliau terutama bersumber dari ahli kitab Yahudi dan Nashrani atau riwayat Israiliyat yang tidak bisa dipastikan keshahihannya. Ada pula riwayat dari tanah Jawa yang menyebutkan bahwa beliau adalah putra Nabi Adam yang setelah ayahnya wafat, maka beliau mengembara dan tiba di suatu daerah, lalu beliau menetap disitu kemudian beranak pinak dan keturunan dari beliau inilah yang kemudian menjadi leluhur raja-raja di tanah Jawa. Terhadap kisah gharib yang tak ada asal-usulnya ini, cukuplah kita katakan, Allah-lah yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib.

Allahu a’lam

6 thoughts on “Kisah Nabi Adam ‘Alaihissalaam, Wafatnya dan Sekelumit Kisah Nabi Syits (3)

  1. Pingback: Kisah Nabi Adam ‘Alaihissalaam, Wafatnya dan Sekelumit Kisah Nabi Syits (3) | Al-Muntaqa

  2. ada ga penjelasan dalam alquran kalo nabi adam wafat….mohon penjelasan di surat ataw penggalaan ayatnya…….soalnya agak penasaran kalo baca sebagian riwayat nya….nabi adam kan awalnya di surga….bukannya disurga itu abadi…. mohon penjelasan trima kasih wassalamualaikum.wr.wb

    • Kami belum menemukannya. Adapun kisah isra’iliyat yang dinisbatkan kepada Nabi Syits, yaitu kisah2 dari ahli kitab, maka banyak dan tentunya dengan resiko kedustaan yang sangat banyak didalamnya. Wallaahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s