At-Tauhiid

Gambar

Membahas mengenai tauhid tidak bisa terlepas dari tauhid yang 3, yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah dan tauhid Asma wa Shifat. Inilah pembagian tauhid yang telah didasari dari penelusuran dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabawiyyah serta qaul para sahabat dan para imam.1. Tauhid Rububiyah

Definisi tauhid ini adalah penetapan bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Penguasa, Pencipta serta Pemberi Rizki dari segala sesuatu. Dan juga menetapkan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Menghidupkan dan Mematikan, Pemberi Manfaat dan Mudharat, yang Maha Mengabulkan do’a hamba-hambaNya yang membutuhkan. BagiNya segala urusan dan di tanganNya segala kebaikan, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada bagiNya sekutu dan tandingan dalam semua hal yg disebut tadi.

Dalil-dalil Al-Qur’an yang menunjukkan tauhid Rububiyah :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. [QS Al-Fatihah : 2]

أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. [QS Al-A’raaf : 54]

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ قُلِ اللَّهُ
Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” [QS Ar-Ra’d : 16]

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. [QS Al-Mu’min : 64]

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. [QS Az-Zumar : 62]

=====
Peringatan! Mengakui Tauhid Rububiyah Saja Tidak Cukup
=====

Mengapa tidak cukup? Karena itulah yang terjadi pada kaum musyrikin ketika Allah Ta’ala mengutus Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Mereka mengakui Rububiyah Allah tetapi mereka tidak mau beribadah kepada Allah melainkan mereka berpaling dariNya. Allah Ta’ala telah mengabadikan hal ini dalam firmanNya :

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” [QS Yunus : 31]

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri. [QS Az-Zumar : 38]

Kaum musyrikin mengenal Allah Ta’ala dan mengetahui tentang RububiyahNya juga mengakuinya. Walaupun demikian, sekedar pengakuan tidaklah mencukupi dan menyelamatkan mereka. Hal ini dikarenakan kesyirikan mereka dalam tauhid ibadah yang merupakan realisasi dari “La Ilaha Illallah.” Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). [QS Yusuf : 106]

2. Tauhid Uluhiyah

Tauhid Al-Uluhiyah dibangun diatas keikhlasan beribadah kepada Allah Ta’ala. Dalam kecintaan, khauf (takut), raja’ (pengharapan), tawakkal, raghbah (bermohon dengan sungguh-sungguh), rahbah (perasaan cemas tidak dikabulkan), dan do’a hanya bagi Allah Ta’ala satu-satunya. Jadi, definisinya adalah memurnikan ibadah-ibadah seluruhnya baik ibadah yang lahir maupun batin hanya bagi Allah Ta’ala semata, tidak ada sekutu bagiNya. Inilah tauhid yang menjadi sebab para Nabi dan Rasul diutus, yaitu untuk mengajak manusia memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala. Atas tauhid ini pulalah Allah Ta’ala menciptakan makhluk, diturunkan kitab-kitab suci serta menjadi pembeda antara manusia beriman dan manusia kafir.

Dalil-dalil Al-Qur’an yang menunjukkan tauhid Uluhiyah :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. [QS Al-Fatihah : 5]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. [QS Al-Baqarah : 21]

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. [QS Az-Zumar : 2-3]

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي
فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ
Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. [QS Az-Zumar : 14-15]

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. [QS Al-Bayyinah : 5]

3. Tauhid Asma wa Shifat

Definisinya adalah meyakini dan mengimani bahwa Allah Ta’ala mempunyai nama-nama yang Maha Indah (Asma’ul Husna) dan shifat-shifat yang Maha Agung sesuai dengan kebesaranNya dan keagunganNya. Wajib mengimani tauhid ini tanpa tahrif (penyimpangan makna), ta’thil (pengingkaran), takyif (mempertanyakan kaifiyat) dan tamtsil (penyerupaan).

Dalil-dalil Al-Qur’an yang menunjukkan Tauhid Asma wa Shifat :

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. [QS Al-Fatihah : 3-4]

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى
Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asm’aul Husna (nama-nama yang terbaik), [QS Al-Isra’ : 110]

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [QS Asy-Syuura : 11]

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. [QS Al-Baqarah : 255]

هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [QS Al-Hadid : 3]

إِنَّ رَبِّي عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ
Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. [QS Huud : 57]

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالإكْرَامِ
Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia. [QS Ar-Rahman : 78]

=====
Pembagian Tauhid Merupakan Suatu Kebenaran Syar’i
=====

Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata : Sesungguhnya penelaahan terhadap Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa mentauhidkan Allah Ta’ala terbagi menjadi 3 bentuk :

1. Tauhid dalam Rububiyah. Tauhid ini adalah tauhidnya orang-orang yang fitrah akalnya masih sehat. Adapun tentang pengingkaran Fir’aun terhadap jenis tauhid ini dalam ucapannya,

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ
Firaun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu?” [QS Asy-Syu’ara : 23]

Maka ini adalah kebohongan darinya, suatu bentuk kepura-puraan dalam keadaan dia sebenarnya telah mengetahui bahwa dia adalah seorang hamba yang diciptakan dan dipelihara oleh Rabbnya. Nabi Musa telah membantah kepura-kepuraan Fir’aun :

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلاءِ إِلا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لأظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا
Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata: dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Firaun, seorang yang akan binasa”. [QS Al-Isra’ : 102]

Allah Ta’ala berfirman :

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Dan mereka mengingkarinya karena kelaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. [QS An-Naml : 14]

2. Tauhid dalam peribadahan kepadaNya

Tauhid ini adalah realisasi makna “La Ilaha Ilallah” yang tergabung di dalamnya penafian dan penetapan. Makna penafiannya adalah melepaskan seluruh jenis sesembahan selain Allah, apapun bentuknya, dalam seluruh ibadah. Adapun makna penetapannya adalah mengesakan Allah Ta’ala satu-satunya dalam semua jenis ibadah dengan ikhlas dan dalam ketentuan yang telah disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya. Allah Ta’ala berfirman :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. [QS Muhammad : 19]

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. [QS Al-Anbiya’ : 25]

3. Tauhid dalam nama-nama dan shifat-shifatNya

Ada dua prinsip dalam tauhid jenis ini. Yang pertama adalah mensucikan Allah Azza wa Jalla dari menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Yang kedua adalah beriman dengan apa yang Allah sifatkan bagi diriNya atau apa yang Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam beritakan sesuai dengan kesempurnaan Allah Ta’ala dan kemuliaanNya. Allah Ta’ala berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [QS Asy-Syuura : 11]

Bersamaaan dengan hal tersebut maka dilarang berusaha untuk mencari-cari bagaimana hakekat nama dan shifat Allah karena akal kita tak akan mampu menggapainya. Allah Ta’ala berfirman :

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا
Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. [QS Thaha : 110]

Allahu a’lamu bishawab.
Semoga bermanfaat.

Maraji’ : Al-Mukhtashar Al-Mufid fi Bayan Dala’il Aqsamu At-Tauhid karya Asy-Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr -hafizhahullahu Ta’ala-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s