Biografi Ringkas 4 Khalifah Rasyidin

Gambar

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq -radhiyallahu ‘anhu-

Namanya : ‘Abdullah bin Abu Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al-Qurasyi At-Tamimi, masyhur dengan kunyahnya Abu Bakar. Khalifah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam
Ayahnya : Abu Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir
Ibunya : Ummu Khair Salma binti Shakhr bin ‘Amir
Julukan :
– ‘Atiq yang berarti tampan. Al-Hafizh Ad-Daulabi meriwayatkan dengan sanadnya hingga Az-Zuhri dan ‘Aisyah yang menyebutkan bahwa nama beliau adalah ‘Atiq.
– Ash-Shiddiq yang berarti yang membenarkan. Karena beliaulah orang yang pertama kali membenarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam atas peristiwa Isra’ Mi’raj beliau hingga Sidratul Muntaha.
Beliau dilahirkan pada tahun 51 sebelum Hijrah atau 2 tahun 6 bulan setelah tahun Gajah. Termasuk As-Sabiqunal Awwalun yaitu orang-orang yang pertama kali masuk Islam, dan menyusul beliau masuk Islam adalah tokoh-tokoh besar Quraisy seperti ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, ‘Utsman bin ‘Affan, Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin ‘Ubaidillah dan lain-lain -radhiyallahu ‘anhum-.

Ciri-ciri fisik :
Ibnu Sa’ad dalam Thabaqahnya meriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ayahnya mempunyai kulit putih, berwajah tampan, bertubuh kurus, tipis pelipisnya dengan dahi yang menonjol, matanya hitam dan sering mewarnai janggutnya dengan hinaa dan katm, ia tidak bisa bersajak.

Istri-istri dan anak-anak beliau :
– Pada masa jahiliyah, beliau menikahi Qutailah binti ‘Abdul ‘Uzza. Dari pernikahan ini lahir ‘Abdullah dan ‘Asma’.
– Ummu Ruman binti ‘Amir bin Uwaimir. Dari pernikahan ini lahir ‘Abdurrahman dan ‘Aisyah.
– ‘Asma’ binti Umais bin Ma’ad bin Taim. Dari pernikahan ini lahir Muhammad pada Haji Wada di Dzulhulaifah.
– Habibah binti Kharijah bin Zaid dari bani Harits bin Al-Khazraj.

Keutamaan-keutamaan Abu Bakar :
Keutamaan-keutamaan beliau sangat banyak. Allah Ta’ala berfirman :
إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” [QS At-Taubah : 40].
‘Aisyah, Abu Sa’id Al-Khudri dan Ibnu ‘Abbas menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah Abu Bakar yang menemani Nabi berhijrah.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِنْ أَخِي وَصَاحِبِي
dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku diperbolehkan menjadikan diantara ummatku sebagai kekasih pastilah aku pilih Abu Bakar. Akan tetapi dia hanyalah saudaraku sekaligus sahahabatku”. [HR Bukhari no. 3383]

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
أَتَتْ امْرَأَةٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهَا أَنْ تَرْجِعَ إِلَيْهِ قَالَتْ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتُ وَلَمْ أَجِدْكَ كَأَنَّهَا تَقُولُ الْمَوْتَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ لَمْ تَجِدِينِي فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ
dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, ia berkata; “Ada seorang wanita datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau memerintahkan wanita itu agar kembali di lain waktu. Lalu wanita itu bertanya; “Seandainya aku datang nanti tapi tidak menemukan baginda?”. Wanita itu sepertinya berkata tentang kematian (khawatir bila menjemput beliau). Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kamu tidak menemukan aku lagi, maka temuilah Abu Bakar”. [HR Bukhari no. 3386]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ ادْعِي لِي أَبَا بَكْرٍ أَبَاكِ وَأَخَاكِ حَتَّى أَكْتُبَ كِتَابًا فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ وَيَقُولُ قَائِلٌ أَنَا أَوْلَى وَيَأْبَى اللَّهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ
dari Aisyah dia berkata; Pada suatu hari, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sakit, beliau bersabda kepadaku, Panggillah Ayahmu Abu Bakar dan saudara laki-lakimu ke sini, agar aku buatkan sebuah surat (keputusan khalifah). Karena aku khawatir jika kelak ada orang yang ambisius dan berkata; Akulah yang lebih berhak menjadi khalifah. Sementara Allah dan kaum muslimin tidak menyetujuinya selain Abu Bakar.’ [HR Muslim no. 4399].

Masa kekhalifahan Abu Bakar berjalan selama 2 tahun 3 bulan. Beliau wafat pada Jumadil Akhir tahun 13 H setelah mengalami sakit demam selama 15 hari. Beliau wafat pada usia 63 tahun. Semoga Allah Ta’ala meridhai beliau atas jasa-jasa beliau pada Islam.

2. ‘Umar bin Al-Khaththab -radhiyallahu ‘anhu-

Namanya : ‘Umar bin Al-Khaththab bin Nufail bin ‘Abdul ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib Al-Qurasyi Al-‘Adawi. Abu Hafsh Amirul Mukminin.
Ayahnya : Al-Khaththab bin Nufail
Ibunya : Hantamah binti Hasyim bin Al-Mughirah Al-Makhzumi
Julukan : Al-Faruq yang berarti pembeda antara haq dan bathil. Ibnu Sa’ad meriwayatkan dengan sanad mursal bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran diatas lidah dan hati ‘Umar. Dialah Al-Faruq.” [Ath-Thabaqat 3/270].
Beliau dilahirkan pada tahun 41 sebelum Hijrah. Beliau termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Keislamannya membawa pengaruh besar bagi dakwah Islam. Dengan bantuannyalah dakwah Islam bisa berjalan secara terang-terangan dan tidak sembunyi-sembunyi lagi karena beliau orang yang tak mengenal takut terhadap orang-orang kafir Quraisy.

Ciri-ciri fisik :
Beliau bertubuh tinggi besar, berkulit kuning, kepala bagian depannya botak, matanya hitam, selalu mewarnai janggutnya dan merapikan rambutnya dengan inai (daun pacar), giginya putih bersih, jarang tertawa, tegas dan berwibawa ketika berbicara dan tidak pernah bergurau. [Tarikh Ath-Thabari 4/196].

Istri-istri dan anak-anak beliau :
– Pada masa jahiliyah, ‘Umar pernah menikahi Zainab binti Mazh’un, saudara kandung ‘Utsman bin Mazh’un. Dari pernikahan ini lahir ‘Abdullah, ‘Abdurrahman Al-Akbar dan Hafshah.
– Ummu Kultsum binti Jarwal. Dari pernikahan ini lahir ‘Ubaidullah dan Zaid Al-Ashghar. Umar menceraikannya kemudian ia dinikahi Abu Jahm bin Hudzaifah.
– Quraibah binti Abu Umayyah Al-Makhzumi. Umar menceraikannya kemudian ia dinikahi ‘Abdurrahman bin Abu Bakar.
– Ummu Hakim binti Al-Harits bin Hisyam, setelah suami sebelumnya, Ikrimah bin Abu Jahl tewas dalam peperangan di Syam. Dari pernikahan ini lahir Fathimah.
– Jamilah binti ‘Ashim bin Tsabit. Dari pernikahan ini lahir ‘Ashim.
– Ummu Kultsum binti ‘Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan ini lahir Zaid Al-Akbar dan Ruqayyah.
– Atiqah binti Zaid bin ‘Amr. Dari pernikahan ini lahir ‘Iyadh.
– Luhyah, wanita asal Yaman. Dikatakan oleh Al-Waqidi bahwa ia adalah Ummu Walad (budak) dan bukan istri. Dari pernikahan ini lahir ‘Abdurrahman Al-Ausath atau ‘Abdurrahman Al-Ashghar.
– Fukaihah. Al-Waqidi berkata bahwa ia adalah Ummu Walad. Dari pernikahan ini lahir Zainab, anak ‘Umar yang paling kecil.

Keutamaan-keutamaan ‘Umar :
عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ شَرِبْتُ يَعْنِي اللَّبَنَ حَتَّى أَنْظُرَ إِلَى الرِّيِّ يَجْرِي فِي ظُفُرِي أَوْ فِي أَظْفَارِي ثُمَّ نَاوَلْتُ عُمَرَ فَقَالُوا فَمَا أَوَّلْتَهُ قَالَ الْعِلْمَ
dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika tidur, aku bermimpi meminum (segelas) susu hingga aku dapat melihat aliran air dari kukuku (dengan bentul tunggal) -atau kuku-kukuku (dengan bentuk jamak)-, kemudian aku berikan (sisanya) kepada ‘Umar”. Orang-orang bertanya; “Apa maknanya (susu tersebut) ya Rasulullah?. Beliau bersabda: “Ilmu”. [HR Bukhari no. 3405]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُرِيتُ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَنْزِعُ بِدَلْوِ بَكْرَةٍ عَلَى قَلِيبٍ فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ نَزْعًا ضَعِيفًا وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ ثُمَّ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَاسْتَحَالَتْ غَرْبًا فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا يَفْرِي فَرِيَّهُ حَتَّى رَوِيَ النَّاسُ وَضَرَبُوا بِعَطَنٍ
dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dalam tidurku, aku bermimpi menarik timba (mengambil air) untuk memberi minum unta dari suatu sumur. Kemudian Abu Baka datang lalu menarik satu atau dua timba dan pada tarikannya itu ada kelemahan dan semoga Allah mengampuninya. Kemudian ‘Umar bin Al Khaththab datang lalu mengambil timba tersebut sehingga dapat mengambil air yang banyak (dengan tarikannya). Aku belum pernah melihat di kalangan manusia ada orang yang berbuat seperti apa yang diperbuat olehnya lalu memberi minum unta-unta dan manusia hingga mereka menjadi puas karenanya”. [HR Bukhari no. 3406]

عَنْ عَائِشَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَدْ كَانَ يَكُونُ فِي الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ مُحَدَّثُونَ فَإِنْ يَكُنْ فِي أُمَّتِي مِنْهُمْ أَحَدٌ فَإِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ مِنْهُمْ
dari ‘Aisyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Di kalangan umat-umat yang terdahulu sebelum kalian, terkadang ada orang-orang yang mendapat ilham. Apabila di kalangan umatku terdapat beberapa orang yang mendapat ilham, maka ‘Umarlah orangnya.” [HR Muslim no. 4411; Tirmidzi no. 3626].

Masa kekhalifahan ‘Umar berjalan selama 10 tahun 6 bulan. Beliau wafat pada 25 Dzulhijjah tahun 23 H karena ditikam oleh Abu Lu’lu’ah Al-Majusi -qabahahullah- dengan pisau yang memiliki 2 mata. Dengan demikian beliau dikaruniai mati syahid karena terbunuh di tangan seorang kafir majusi. Beliau wafat pada usia 60 atau 63 tahun. Semoga Allah Ta’ala meridhai beliau dan menempatkan kita bersama-sama dengan beliau di jannahNya.

3. ‘Utsman bin ‘Affan -radhiyallahu ‘anhu-
Namanya : ‘Utsman bin ‘Affan bin Abu Al-‘Ash bin Umayyah bin ‘Abdu Syams bin ‘Abd Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr Al-Qurasyi Al-Umawi. Amirul Mukminin Abu ‘Abdillah atau Abu ‘Amr
Ayahnya : ‘Affan bin Abu Al-‘Ash
Ibunya : Arwa binti Kuraiz bin Rabi’ah
Julukan : Dzun Nurain atau pemilik dua cahaya, disebabkan beliau menikahi 2 putri Rasulullah yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Beliau dilahirkan tahun 47 sebelum Hijrah. Beliau masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau termasuk orang yang pertama-tama hijrah ke negeri Habasyah bersama istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Ciri-ciri fisik :
Beliau bertubuh sedang, berwajah rupawan, janggut dan rambutnya lebat, mempunyai tulang sendi yang besar, bahu dan dadanya bidang, bentuk mulut bagus berwarna sawo matang. Beliau orang yang sangat pemalu, dermawan dan terhormat serta tidak segan-segan mengorbankan hartanya demi kepentingan kaum muslimin. Kalau berbicara pelan dan teratur. [Tarikh Ar-Rusul wa Al-Muluk 4/419].

Istri-istri dan anak-anak beliau :
– Ruqayyah binti Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai ‘Abdullah yang dijadikan nama kunyah beliau.
– Ummu Kultsum binti Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
– Fakhitah binti Ghazwan bin Jabir. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai ‘Abdullah Al-Ashghar.
– Ummu ‘Amr binti Jundub bin ‘Amr. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai ‘Amr, Khalid, ‘Aban, ‘Umar dan Maryam.
– Fathimah binti Al-Walid bin ‘Abd Syams. Dari pernikahan ini lahir Al-Walid, Sa’id dan Ummu ‘Utsman.
– Ummu Al-Banin binti ‘Uyainah bin Hishn dan dikaruniai ‘Abdul Malik atau menurut riwayat yang lain, ‘Utbah.
– Ramlah binti Syaibah bin Rabi’ah. Dari pernikahan ini lahir ‘Aisyah, Ummu ‘Aban, Ummu ‘Amr dan Ummu ‘Utsman.
– Na’ilah binti Farafishah bin Al-Ahwash. Dari pernikahan ini lahir Maryam.
Ketika terbunuh, beliau hanya memiliki 4 orang istri, yaitu Ummu Al-Banin, Ramlah, Na’ilah dan Fakhitah.

Keutamaan-keutamaan ‘Utsman :
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
كُنَّا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نَعْدِلُ بِأَبِي بَكْرٍ أَحَدًا ثُمَّ عُمَرَ ثُمَّ عُثْمَانَ ثُمَّ نَتْرُكُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نُفَاضِلُ بَيْنَهُمْ
dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata; “Kami hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami tidak membandingkan seorangpun terhadap Abu Bakar lalu ‘Umar kemudian ‘Utsman. Setelah itu kami membiarkan para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami tidak mengutamakan seorang diantara mereka”. [HR Bukhari no. 3421]

أَنَّ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُمْ قَالَ
صَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُحُدًا وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ وَقَالَ اسْكُنْ أُحُدُ أَظُنُّهُ ضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ فَلَيْسَ عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ
dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki bukit Uhud bersama Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman lalu bukit itu bergetar. Maka beliau bersabda: “Tenanglah Uhud”. Seingatku beliau menghentakkan kaki beliau seraya berujar, “Karena di atas kamu sekarang tidak lain kecuali Nabi, Ash-Shiddiq dan dua orang (yang akan mati) syahid”. [HR Bukhari no. 3423]

فَقَالَتْ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَهُ فَوَاللَّهِ لَقَدْ كَانَ قَاعِدًا عِنْدَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمُسْنِدٌ ظَهْرَهُ إِلَيَّ وَإِنَّ جِبْرِيلَ لَيُوحِي إِلَيْهِ الْقُرْآنَ وَإِنَّهُ لَيَقُولُ لَهُ اكْتُبْ يَا عُثَيْمُ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُنْزِلَهُ تِلْكَ الْمَنْزِلَةَ إِلَّا كَرِيمًا عَلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ’
Aisyah berkata; “Semoga Allah melaknat orang yang melaknat ‘Utsman. Demi Allah, ia telah duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau menyandarkan punggungnya padaku. Sesungguhnya Jibril menyampaikan wahyu Al-Quran kepada beliau dan beliau bersabda; ‘Tulislah hai Utsaim (maksudnya ‘Utsman)’, maka sungguh Allah tidak memberikan kedudukan seperti itu kecuali sebagai kemuliaan untuk Allah dan Rasul-Nya.” [HR Ahmad 6/250, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah].

Masa kekhalifahan ‘Utsman berjalan selama 11 tahun 11 bulan dan 17 hari. Beliau terbunuh pada 18 Dzulhijjah tahun 35 H, beliau ditikam dan dianiaya secara zhalim oleh para pemberontak -semoga Allah melaknat mereka- yang mengepung rumahnya. Para pemberontak inilah cikal bakal khawarij di kemudian hari pada zaman khalifah ‘Ali. Beliau wafat pada usia 80 tahun atau 84 tahun atau 88 tahun. Allahu a’lam. Semoga Allah Ta’ala meridhai beliau dan segala jasa-jasanya bagi kaum muslimin.

4. ‘Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu ‘anhu-
Namanya : ‘Ali bin Abi Thalib -namanya adalah ‘Abdu Manaf- bin ‘Abdul Muthalib -namanya adalah Syaibah- bin Hasyim ‘Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik Al-Qurasyi Al-Hasyimi. Amirul Mukminin Abu Al-Hasan. Sepupu Nabi Shallallahu alaihi wasallam
Ayahnya : Abu Thalib bin ‘Abdul Muthalib, paman Nabi Shallallahu alaihi wasallam.
Ibunya : Fathimah binti Asad bin Hasyim bin ‘Abdu Manaf.
Julukan : Abu Turab. Merujuk pada sebuah kisah masyhur yang diriwayatkan Imam Bukhari, disebutkan bahwa suatu hari ‘Ali sedikit cekcok dengan istrinya, yaitu Fathimah binti Rasulullah kemudian ‘Ali keluar menuju masjid dan tidur disana. Kemudian Rasulullah menyusulnya dan melihat punggungnya penuh dengan debu, maka Nabi membersihkan punggungnya lalu bersabda, “Duduklah wahai Abu Turab.” [HR Bukhari no. 3703]. ‘Ali sangat menyenangi nama julukannya ini.
Beliau dilahirkan pada tahun 23 sebelum Hijrah dan beliau satu-satunya manusia yang lahir didalam Ka’bah. ‘Ali adalah anak-anak yang pertama kali masuk Islam, diriwayatkan bahwa ketika ia masuk Islam umurnya 7 tahun, atau 8 tahun atau ada yang berkata 10 tahun.

Ciri-ciri fisik :
Beliau bertubuh agak pendek, berjanggut lebat, kulitnya berwarna sawo matang, kelopak mata beliau besar, berperut besar dan berkepala botak, dada dan kedua pundak beliau padat, berwajah tampan dan memiliki gigi yang bagus, ringan langkahnya saat berjalan. Beliau seorang yang pemberani, tidak takut menerjang bahaya ketika berperang, dan seorang orator ulung. [Tarikh Ath-Thabari 5/153].

Istri-istri dan anak-anak beliau :
– Fathimah binti Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Dengannya beliau dikaruniai Al-Hasan, Al-Husain, Zainab Al-Kubra dan Ummu Kultsum Al-Kubra (yang dinikahi ‘Umar) -radhiyallahu ‘anhum-. ‘Ali tidak menikahi wanita lain selain Fathimah hingga beliau wafat 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah.
– Ummu Al-Banin binti Hizam bin Khalid bin Rabi’ah. Dari pernikahan ini lahir Al-‘Abbas, Ja’far, ‘Abdullah dan ‘Utsman. Mereka semua terbunuh di padang Karbala bersama saudara mereka, Al-Husain, kecuali Al-‘Abbas.
– Laila binti Mas’ud bin Khalid At-Tamimi. Dari pernikahan ini lahir ‘Ubaidullah dan Abu Bakar. Menurut Al-Waqidi keduanya juga terbunuh di Karbala.
– ‘Asma’ binti Umais Al-Khats’amiyyah. Dari pernikahan ini lahir Yahya dan Muhammad Al-Ashghar. Namun Al-Waqidi berkata, Yahya dan ‘Aun. Muhammad Al-Ashghar lahir dari ummul walad (budak).
– Ummu Habib binti Rabi’ah bin Bujair. Ia adalah budak yang ditawan Khalid bin Al-Walid ketika ia menyerbu ‘Ain At-Tamr. Dari pernikahan ini lahir ‘Umar dan Ruqayyah.
– Ummu Sa’id binti ‘Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Dari pernikahan ini lahir Ummu Al-Hasan dan Ramlah Al-Kubra.
– Binti Umru’ Al-Qais bin ‘Adi bin ‘Aus Al-Kalbiyah. Dari pernikahan ini lahir seorang putri.
– Umamah binti Abu Al-‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdul ‘Uzza. Dari pernikahan ini lahir Muhammad Al-Ausath.
– Khaulah binti Ja’far bin Qais bin Maslamah Al-Hanafiyyah. Dia ditawan oleh Khalid bin Al-Walid pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq sewaktu menumpas orang-orang murtad dari Bani Hanifah. Darinya ‘Ali dikaruniai Muhammad Al-Akbar atau lebih dikenal dengan Muhammad bin Al-Hanafiyyah.
– Dan sejumlah Ummul Walad lainnya, yang dari mereka lahir Ummu Hani’, Maimunah, Zainab Al-Ashghar, Ramlah Al-Ashghar, Ummu Kultsum Al-Ashghar, Fathimah, Umamah, Khadijah, Ummu Al-Kiram, Ummu Ja’far, Ummu Salamah, Juhanah dan Nafisah. Allahu a’lam.
Ketika wafat, beliau meninggalkan 4 orang istri dan sembilan belas budak wanita.

Keutamaan-keutamaan ‘Ali :
عَنْ سَلَمَةَ قَالَكَانَ عَلِيٌّ قَدْ تَخَلَّفَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خَيْبَرَ وَكَانَ بِهِ رَمَدٌ فَقَالَ أَنَا أَتَخَلَّفُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ عَلِيٌّ فَلَحِقَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا كَانَ مَسَاءُ اللَّيْلَةِ الَّتِي فَتَحَهَا اللَّهُ فِي صَبَاحِهَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ أَوْ لَيَأْخُذَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَوْ قَالَ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَحْنُ بِعَلِيٍّ وَمَا نَرْجُوهُ فَقَالُوا هَذَا عَلِيٌّ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّايَةَ فَفَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ

dari Salamah, ia berkata; ‘Ali pernah tertinggal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Khaibar karena saat itu dia terkena penyakit mata. Dia berkata; “Aku tertinggal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Kemudian ‘Ali keluar menyusul dan bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada waktu malam hari dimana kemudian pada pagi harinya Allah memenangkan Kaum Muslimin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku akan memberikan bendera komando perang ini kepada seorang laki-laki”, atau “Bendera ini akan diambil besok pagi oleh seorang laki-laki yang Allah dan Rasul-Nya mencintainya” atau sabda beliau: “Laki-laki itu mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah akan memberi kemenangan ini lewat tangannya”. Ketika kami bersama ‘Ali padahal kami tidak menginginkan keberadaannya, mereka berkata; “Ini ‘Ali”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembuhkan penyakit matanya dan memberikan bendera itu kepadanya lalu Allah memberi kemenangan kepadanya. [HR Bukhari no. 3426]

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَفَسَأَلَهُ عَنْ عُثْمَانَ فَذَكَرَ عَنْ مَحَاسِنِ عَمَلِهِ قَالَ لَعَلَّ ذَاكَ يَسُوءُكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَرْغَمَ اللَّهُ بِأَنْفِكَ ثُمَّ سَأَلَهُ عَنْ عَلِيٍّ فَذَكَرَ مَحَاسِنَ عَمَلِهِ قَالَ هُوَ ذَاكَ بَيْتُهُ أَوْسَطُ بُيُوتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ لَعَلَّ ذَاكَ يَسُوءُكَ قَالَ أَجَلْ قَالَ فَأَرْغَمَ اللَّهُ بِأَنْفِكَ انْطَلِقْ فَاجْهَدْ عَلَيَّ جَهْدَكَ

Telah datang seorang laki-laki kepada Ibnu ‘Umar lalu bertanya kepadanya tentang ‘Utsman. Maka Ibnu ‘Umar menceritakan kebaikan-kebaikan ‘Utsman. Ibnu ‘Umar bertanya kepada laki-laki itu; “Mungkin hal itu menyusahkanmu?”. Laki-laki itu menjawab; “Ya”. Ibnu ‘Umar berkata; “Semoga Allah memperburuk keadaanmu!”. Laki-laki itu kemudian bertanya tentang ‘Ali, maka Ibnu ‘Umar menceritakan kebaikan-kebaikan ‘Ali. Ibnu ‘Umar melanjutkan; “Itulah rumahnya yang berada di tengah rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu ‘Umar bertanya kepada laki-laki itu; “Mungkin hal itu menyusahkanmu?”. Laki-laki itu menjawab; “Ya”. Ibnu ‘Umar berkata; “Semoga Allah memperburuk keadaanmu!. Pergilah kamu dan sampaikan sesukamu atas keterangan yang aku sampaikan”. [HR Bukhari no. 3428]

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَلِيٍّ أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abu Waqqash dari ayahnya, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali: “Kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja tidak ada nabi setelahku.’ [HR Muslim no. 4418]

Masa kekhalifahan ‘Ali berjalan selama 5 tahun kurang 3 bulan dengan diwarnai kekisruhan politik dan konflik-konflik internal di tubuh kaum muslimin akibat terbunuhnya ‘Utsman di tangan para pemberontak. Oleh karena itu di zaman beliau, ekspansi dan ekspedisi ke wilayah-wilayah yang akan diperangi berkurang karena beliau tersibukkan dengan urusan internal. Beliau ditikam oleh ‘Abdurrahman bin Muljam Al-Khawarij -semoga Allah Ta’ala memburukkan wajahnya- pada waktu subuh, 17 Ramadhan tahun 40 H dan wafat pada hari itu juga, ada yang mengatakan wafatnya hari Ahad 19 Ramadhan. Beliau wafat pada usia 63 tahun menurut pendapat yang terkuat dari Muhammad bin Al-Hanafiyyah, Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir, Abu Ishaq As-Sabi’i dan Abu Bakar bin ‘Ayyasy. Semoga Allah Ta’ala meridhai beliau atas jasa-jasa beliau terhadap Islam.

Semoga yang singkat ini dapat menambah kecintaan kita kepada para sahabat Rasulullah terkhusus 4 manusia istimewa, Khulafa’ur Rasyidin.
Zadanallahu ‘ilman wa hirsha. Allahu a’lamu bishawab.

Sumber :
– Al-Kuna wa Al-Asma’ karya Al-Hafizh Abu Bisyr Ad-Daulabi
– Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani
– Tarikh Al-Kabir karya Al-Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari
– Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s