Tafsir Basmalah

Gambar

Keutamaan Basmalah

Al-Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Abu Hatim meriwayatkan di dalam kitab At-Tafsir, bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Musafir, telah menceritakan kepada kami Za’id bin Al-Mubarak Ash-Shan’ani, telah menceritakan kepada kami Salam bin Wahb Al-Jundi, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Thawus, dari Ibnu Abbas bahwa Utsman bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang basmalah, beliau bersabda :

“Basmalah merupakan salah satu dari nama-nama Allah, diantaranya dan asma Allahu Akbar jaraknya tiada lain hanyalah seperti antara bagian hitam dari bola mata dan bagian putihnya karena saking dekatnya.”

Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Abu Bakar bin Mardawaih, dari Sulaiman bin Ahmad, dari Ali bin Al-Mubarak dari Za’id bin Al-Mubarak.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan di dalam Al-Musnad, Telah menceritakan kepada kami ‘Affan, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ashim Al-Ahwal dari Abu Tamimah dari seorang yang membonceng Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa beliau pernah berada di atas keledai, lalu keledainya jatuh tergelincir, serentak orang yang membonceng di belakang beliau berkata, “Celakalah setan,” maka beliau bersabda :

“Janganlah kamu katakan “celakalah setan,” sebab jika kamu mengatakan “celakalah setan,” maka setan akan membanggakan dirinya, dia akan berkata; “Aku telah melawannya dengan kekuatanku,” namuan bila kamu membaca Bismillah (Dengan Nama Allah) maka setan akan menjadi kecil, lebih kecil dari seekor lalat.”

Diriwayatkan pula oleh Imam Abu Daud dari jalan Wahb bin Baqiyyah dari Khalid Al-Hadzdza dari Abu Tamim dari Abul Malih bin Usamah dari ayahnya. Dan oleh Ibnu Mardawaih dalam kitab Tafsirnya.

*بِسْمِ

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata :

Jar majrur (bi ismi) di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya anda membaca basmalah ketika hendak makan, maka takdir kalimatnya adalah : “Dengan menyebut nama Allah aku makan”.

Dalam kaidah bahasa Arab bahwa jar majrur harus memiliki kaitan dengan kata yang tersembunyi setelahnya, karena keduanya adalah ma’mul. Sedang setiap ma’mul harus memiliki ‘amil.

Ada dua fungsi mengapa kita letakkan kata kerja yang tersembunyi itu di belakang.

Pertama : Tabarruk (mengharap berkah) dengan mendahulukan asma Allah Azza wa Jalla.

Kedua : Pembatasan maksud, karena meletakkan ‘amil dibelakang berfungsi membatasi makna. Seolah engkau berkata : “Aku tidak makan dengan menyebut nama siapapun untuk mengharap berkah dengannya dan untuk meminta pertolongan darinya selain nama Allah Azza wa Jalla”.

*اللَّهِ

Allah adalah nama yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi. Menurut suatu pendapat, Allah adalah Ismul A’zham karena Dia memiliki semua sifat seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut :

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS Al-Hasyr : 22-24]

Semua asma lainnya adalah sifatNya seperti yang disebutkan dalam firman Allah :

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ

Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. [QS Al-A’raaf : 180]

Allah adalah isim yang tidak dimiliki oleh selain Allah sendiri Yang Maha Agung. Karena itu, dalam bahasa Arab lafazh Allah tidak memiliki bentuk asal (isytiqaq) dari fi’il-nya. Pendapat ini dinukil Al-Qurthubi dari sejumlah ulama, antara lain Asy-Syafi’i, Al-Khathabi, Al-Haramain, Al-Ghazali dan lain-lain.

*الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Keduanya merupakan isim yang berakar dari bentuk masdar Ar-Rahman dengan maksud mubalaghah. Lafazh Ar-Rahman lebih kuat dibanding Ar-Rahim. Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi, dengan sanadnya yang bersambung hingga Abdurrahman bin ‘Auf -radhiyallahu ‘anhu- bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda :

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfiman: ‘Akulah Allah, dan Aku adalah Ar-Rahman. Aku telah menciptakan kasih sayang (Rahim) yang aku ambilkan dari nama-Ku. Maka siapa yang menyambungnya, aku akan menyambungnya, dan siapa yang memutuskannya, maka Aku akan memutuskan kasih sayang-Ku darinya.”

Abu Ali Al-Farisi menyebutkan bahwa Ar-Rahman adalah isim yang mengandung makna umum dipakai untuk semua jenis rahmat yang khusus dimiliki oleh Allah Ta’ala. Sedangkan Ar-Rahim hanya dikhususkan untuk orang-orang mukmin saja, seperti yang ditunjukkan pada firman Allah :

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. [QS Al-Ahzab : 43]

Ibnu Abbas mengatakan bahwa keduanya merupakan isim yang menunjukkan makna lemah lembut sedangkan salah satunya lebih lembut daripada lainnya yakni lebih kuat makna rahmatnya daripada yang lain.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami As-Sirri bin Yahya At-Tamimi, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Zufar bahwa ia pernah mendengar Al-Azrami berkata, Ar-Rahman artinya Maha Pemurah kepada semua makhluk (baik yang kafir ataupun yang beriman) sedangkan Ar-Rahim artinya Maha Penyayang kepada kaum mukminin.

Hal tersebut dinyatakan dalam firmanNya :

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, (Dialah) Yang Maha Pemurah. [QS Al-Furqan : 59]

Di dalam firmanNya yang lain, disebutkan :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy. [QS Thaha : 5]

Allah menyebut nama Ar-Rahman untuk diriNya dalam ayat ini agar semua makhluk memperoleh kemurahan rahmatNya. Dan di dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman :

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. [QS Al-Ahzab : 43]

Maka menjadi jelas bahwa Dia mengkhususkan nama Ar-Rahim hanya untuk orang-orang yang beriman. Hal ini menunjukkan bahwa lafazh Ar-Rahman mempunyai pengertian mubalaghah dalam kasih sayang mengingat kasih sayang bersifat umum -baik di dunia maupun di akhirat- bagi semua makhlukNya. Sedangkan lafazh Ar-Rahim dikhususkan bagi hamba-hambaNya yang beriman.

Semoga bermanfaat. Allahu a’lamu bishawab.

Maraji :

1. Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim; Al-Hafizh Abul Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i; Tafsir Basmalah.

2. Tafsir Juz ‘Amma; Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s