Tafsir Surat Al-Faatihah

Gambar

Al-Fatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

–Tafsir Basmalah telah lewat pembahasannya–

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,

Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan, maknanya adalah segala syukur yang hanya dipersembahkan kepada Allah Ta’ala semata, bukan kepada apa yang disembah selainNya dan bukan kepada apa yang diciptakanNya sebagai imbalan dari apa yang Dia limpahkan kepada hamba-hambaNya berupa nikmat yang tak terhitung jumlahnya.

Beberapa pendapat mengenai Alhamdu :

Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar Al-Quta’i, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Hajjaj dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu Abbas yang berkata bahwa Khalifah Umar bin Al-Khaththab pernah berkata, “kami telah mengetahui makna Subhanallah dan Laa ilaaha illallah, lalu apakah makna Alhamdulillah?” Ali bin Abi Thalib menjawab, “ia merupakan suatu kalimat yang diridhai Allah Ta’ala untuk diriNya.” Didalam riwayat yang lain terdapat tambahan “…disukaiNya bila diucapkan.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bersama dengan Ibnu Jarir, dari hadits Bisyr bin Imarah, dari Abu Rauq, dari Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Alhamdulillah sama dengan Asy-Syukru Lillah yakni berterima kasih kepadaNya serta mengakui segala nikmatNya, hidayahNya, penciptaanNya dan lain-lain.

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Rauh, dari Al-Hasan dari Al-Aswad bin Sari’, “saya bertanya pada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, wahai Rasulullah, maukah aku lantunkan kalimat-kalimat pujian yang bisa aku pakai untuk memuji Rabb Tabaraka wa Ta’ala?”, beliau lalu bersabda, “Rabbmu Azza wa Jalla menyukai Alhamdu (pujian).”

Ibnu Majah meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ibrahim Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Musa bin Ibrahim bin Katsir Al-Faqih, dia berkata, aku mendengar Thalhah bin Kirasy yaitu anak pamannya Jabir, dia berkata, aku mendengar Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallah, dan do’a yang paling utama adalah Alhamdulillah.”

Al-Qurthubi didalam kitab Tafsir telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “seandainya dunia beserta isinya berada di tangan seorang laki-laki dari kalangan umatku kemudian dia mengucapkan Alhamdulillah, niscaya kalimat itu jauh lebih afdhal dibanding dunia dan seisinya.” Al-Qurthubi berkata, makna yang dimaksud oleh hadits ini adalah ilham yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada laki-laki itu untuk mengucapkan kalimat Alhamdulillah benar-benar mengandung nikmat baginya daripada semua nikmat dunia. Ini dikarenakan pahala memuji Allah bersifat kekal sedangkan nikmat dunia itu fana dan akan musnah. Hal ini selaras dengan firman Allah Azza wa Jalla :

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. [QS Al-Kahfi : 46]

رَبِّ

Ar-Rabb secara bahasa artinya yang memiliki, yang menguasai, yang mengatur. Makna kata Ar-Rabb menunjukkan tauhid rububiyah yang berarti Yang Maha Mengatur segala urusan, Maha Memelihara semua makhlukNya, Maha Memberi segala karunia dan nikmat. Ibnul Atsir berkata, penisbatan kata Ar-Rabb mutlak hanya boleh untuk Allah Ta’ala, tidak boleh untuk selainnya [An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits 2/450].

الْعَالَمِينَ

Al-‘Alamina adalah bentuk jamak dari ‘Alamun, maknanya adalah semua yang ada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibnu Abbas berkata, yang dimaksud dengan Rabbul ‘Alamina adalah Tuhannya jin dan manusia. Hal yang sama dikatakan pula oleh Sa’id bin Jubair, Mujahid dan Ibnu Juraij. Al-Qurthubi berkata, makna yang dimaksud dengan seluruh alam adalah makhluk jin dan manusia.

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,

Keterangan mengenai ini telah dibahas sebelumnya pada pembahasan Tafsir Basmalah. Oleh karena itu, secara singkat akan dipaparkan perkataan Imam Al-Qurthubi, beliau berkata, sesungguhnya Allah Ta’ala menyifati diriNya dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim sesudah firmanNya, “Rabbul ‘Alamina“, tiada lain agar makna tarhib yang terkandung didalam Rabbul ‘Alamina dibarengi dengan makna targhib yang terkandung pada Ar-Rahman Ar-Rahim.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

4. Yang menguasai hari pembalasan.

Sebagian ulama qira’ah membacanya maaliki, sedangkan sebagian yang lain membacanya maliki, kedua-duanya shahih dan mutawatir dari Qira’ah Sab’ah. Bila membacanya panjang (maaliki) maka maknanya adalah Yang Memiliki atau Yang Menguasai sedangkan bila membacanya tidak dipanjangkan (maliki) maka maknanya adalah Raja. Allah Ta’ala berfirman :

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

(yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. [QS Al-Mu’min : 16]

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. [QS Al-Furqan : 26]

يَوْمِ الدِّينِ

Ibnu Abbas mengatakan maknanya adalah hari semua makhluk menjalani hisab yaitu hari kiamat, Allah Ta’ala membalas mereka sesuai dengan amal perbuatannya.

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanad yang muttashil, dari Abu Hurairah bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kananNya seraya berkata, Akulah Raja, mana raja-raja di bumi?”. Hadits ini terdapat dalam shahihain dan diriwayatkan pula oleh Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Majah dan selainnya.

Ad-Din maknanya adalah pembalasan dan hisab, sebagaimana yang disebut didalam firman Allah Azza wa Jalla :

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ

Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allahlah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya). [QS An-Nuur : 25]

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, ini adalah 2 kalimat yang dibagi antara Rabb dan hamba. Separuh bagi Allah yaitu Iyyaka na’budu dan separuh bagi hambaNya yaitu iyyaka nasta’in. Lafazh yang pertama menunjukkan berlepas dirinya seorang hamba dari segala kemusyrikan sedangkan lafazh yang kedua menunjukkan makna berlepas diri dari upaya dan kekuatan serta berserah diri kepada Allah Ta’ala. Pengertian seperti ini terdapat pula di dalam firman Allah Ta’ala yang lain :

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. [QS Huud : 123]

رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلا

(Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. [QS Al-Muzzammil : 9]

Nabi Allah, Syu’aib ‘Alaihissalam berkata, seperti yang telah diberitakan oleh Allah Azza wa Jalla :

وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. [QS Huud : 88]

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna Iyyaka na’budu adalah Engkaulah yang kami Esa-kan, hanya kepada Engkaulah kami takut dan berharap. Sedangkan makna Iyyaka nasta’in adalah hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan untuk ta’at padaMu dalam semua urusan kami.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,

Al-Hidayah atau hidayah yang dimaksud dalam ayat ini adalah bimbingan, petunjuk dan taufik. Maka, Al-Hidayah mempunyai makna berilah kami ilham atau berilah kami taufik atau anugerahilah kami dan berilah kami. Al-‘Allamah Ibnul Qayyim berkata, petunjuk adalah keterangan dan penjelasan kemudian taufik dan ilham yang datang setelah keterangan dan penjelasan. Tidak ada jalan untuk mendapatkan keterangan dan penjelasan kecuali lewat para Rasul. 

الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Abu Ja’far bin Jarir berkata, semua kalangan ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud dengan ash-shirathal mustaqim adalah jalan yang jelas, lurus dan tidak berbelok-belok. Pengertian ini berlaku di semua dialek bahasa Arab. Selanjutnya ungkapan ahli tafsir dari kalangan salaf dan khalaf berbeda dalam menafsirkan lafazh ash-shirath ini. Setidaknya ada 4 pendapat dalam hal ini.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Arafah, telah menceritakan kepadaku Yahya bin Al-Yaman, dari Hamzah Az-Zayyat, dari Sa’id Al-Mukhtar, dari anak saudara Al-Harits Al-A’war, dari Al-Harits Al-A’war, dari Ali bin Abi Thalib, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Shirathal Mustaqim adalah kitabullah.” Hal yang sama diriwayatkan Ibnu Jarir melalui jalan Hamzah bin Habib Az-Zayyat.

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa malaikat Jibril pernah berkata pada Rasulullah, “Hai Muhammad, katakanlah, ‘tunjukilah kami jalan yang lurus’.” Maknanya jalan yang lurus tersebut adalah agama Islam. Ini juga merupakan pendapat Jabir, Muhammad bin Al-Hanafiyyah dan An-Nawwas bin Sam’an.

Mujahid berkata sehubungan firman Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, bahwa maknanya adalah Al-Haq atau perkara yang haq.

Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkan melalui hadits Abun Nadhr Hasyim bin Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Hamzah bin Al-Mughirah dari Ashim Al-Ahwal dari Abul Aliyah sehubungan dengan makna “tunjukilah kami ke jalan yang lurus”, Abul Aliyah berkata yang dimaksud adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan Asy-Syaikhan (Abu Bakar dan Umar).

Keempat pendapat di atas adalah benar dan saling menguatkan satu dengan yang lainnya, karena barangsiapa mengikuti Nabi dan kedua sahabatnya yang paling utama berarti dia telah mengikuti Al-Haq, dan barangsiapa mengikuti Al-Haq berarti dia mengikuti jalan Islam dan barangsiapa mengikuti jalan Islam berarti dia telah mengikuti Al-Qur’an atau kitabullah atau tali Allah yang kuat dan jalan yang lurus. Allahu a’lam.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Kalimat ini berfungsi menafsirkan makna Ash-Shirathal Mustaqim dari ayat sebelumnya. Orang-orang yang memperoleh anugerah nikmat dari Allah Ta’ala adalah mereka yang disebutkan di dalam firmanNya :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا

Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. [QS An-Nisaa’ : 69-70].

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa maknanya adalah orang-orang yang telah Engkau beri nikmat berupa keta’atan padaMu dan beribadah padaMu, mereka adalah para malaikat, para Nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shalih. Hal yang sama juga dikatakan oleh Mujahid, Ar-Rabi’ bin Anas dan Ibnu Juraij. Sedangkan menurut Waki’, mereka adalah kaum muslimin. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan mereka adalah Nabi Muhammad dan orang-orang yang mengikutinya.

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Makna “jalan mereka yang dimurkai” adalah orang-orang yang telah rusak kehendaknya, mereka mengetahui perkara haq tetapi menyimpang darinya. Sedangkan makna “jalan mereka yang sesat” adalah orang-orang yang bodoh yang tidak memiliki ilmu agama, pada akhirnya mereka bergelimang dalam kesesatan tanpa mendapatkan hidayah kepada jalan yang haq. Keadaan yang pertama adalah kaum Yahudi, karena mereka berilmu serta mengetahui yang haq tetapi mereka tidak mau beramal maka Yahudi adalah kaum yang dimurkai. Keadaan yang kedua adalah kaum Nashrani, karena mereka bodoh terhadap ilmu agama tetapi memiliki semangat yang tinggi untuk beramal, maka jadilah Nashrani itu sesat dan menyesatkan karena beramal tanpa memiliki ilmu.

Allah Ta’ala berfirman mengenai orang-orang Yahudi yang dimurkaiNya :

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. [QS Al-Ma’idah : 60].

Sedangkan Allah Ta’ala berfirman mengenai orang-orang Nashrani yang sesat :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” [QS Al-Ma’idah : 77]

Imam Abu Isa At-Tirmidzi meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna dan Muhammad bin Basyar, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Simak bin Harb, dari ‘Abbad bin Hubaisy, dari ‘Adi bin Hatim, ia berkata, aku pernah bertanya pada Rasulullah mengenai firman Allah, “bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” Rasulullah lalu bersabda, “orang-orang yang dimurkai adalah Yahudi dan orang-orang yang sesat adalah Nashrani.”

Allahu a’lamu bishawab.

Semoga bermanfaat. Yang benar datang dari Allah Ta’ala, yang salah murni dari saya.

 

Maraji’ :

– Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, Al-Hafizh Abul Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i.

– Tafsir Al-Qayyim, Al-‘Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub Al-Jauziyah Ad-Dimasyqi.

– Syarh Asma’il Husna Li As-Sa’di, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz As-Sindi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s