Hukum Seorang Laki-laki yang Mendengar Panggilan Shalat Namun Tidak Memenuhinya

Gambar

Soal :
Apa hukumnya seseorang yang mendengar suara adzan bahkan iqamah dan suara shalat berjama’ah itu sendiri, tetapi ia tidak mendatanginya? Apa hukumnya seseorang yang melaksanakan shalat Jum’at saja?

Jawab :
Segala Puji bagi Allah Ta’ala.
Jika seorang laki-laki mendengar panggilan untuk shalat (adzan) namun ia tidak meresponnya (dengan mendatanginya), maka shalatnya (yang dilaksanakannya di tempat lain dan tidak di masjid) tidak terhitung, kecuali dia memiliki udzur syar’i. Yang dimaksud adalah shalatnya tidak sempurna dan ia telah berdosa karena ia menjauh dari shalat berjama’ah. Ibnu Mas’uud (radhiyallaahu Ta’ala ‘anhu) berkata, “Tidaklah seseorang menjauh dari shalat (berjama’ah) melainkan ia seorang munafik yang telah jelas kemunafikannya.” Tidak memenuhi panggilan adzan menandakan lemahnya iman, kurangnya komitmen kepada agama, tidak peduli dengan pahala dan menolak rumah Allah (masjid).

Sedangkan mengenai hukum seseorang yang tidak pernah shalat kecuali hanya shalat Jum’at saja, beberapa ulama berpendapat bahwa orang yang hanya melaksanakan shalat Jum’at saja adalah kafir karena ia termasuk pada keadaan yang sama dengan seseorang yang tak pernah shalat sama sekali, ia shalat hanya sekali dari 35 kali kewajiban shalat yang diwajibkan dalam seminggu, jadi ia disamakan dengan seseorang yang tidak shalat sama sekali. Diantara para ulama yang berpendapat seperti ini adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziiz bin ‘Abdullaah bin Baaz dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (rahimahumallaahu Ta’ala). Ulama yang lain berpendapat dia tidak kafir namun ia melakukan dosa yang sangat besar yang lebih buruk dari riba, berzina, mencuri, meminum khamr, dan lain-lain.

Allaahu a’lam.

Dijawab oleh : Syaikh Muhammad Shaalih Al-Munajjid -hafizhahullaahu Ta’ala-
IslamQA
[http://islamqa.com/ar/ref/10292]

Tambahan

Hadits yang dimaksud oleh Syaikh adalah :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ عَنْ أَبِي الْعُمَيْسِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْأَقْمَرِ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ
فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Dukain, dari Abu Al-‘Umais, dari ‘Aliy bin Al-Aqmar, dari Abul Ahwash, dari ‘Abdullaah, ia berkata, “Siapa yang berkeinginan menjumpai Allah sebagai seorang muslim, hendaklah ia jaga semua shalat yang ada, dimanapun ia mendengar panggilan shalat itu. Sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan kepada Nabi kalian berupa sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya semua shalat termasuk diantara sunnah-sunnah petunjuk tersebut. Jika kalian shalat di rumah kalian sebagaimana seseorang yang tidak hadir di masjid, melainkan rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, sungguh kalian akan sesat. Tidaklah seseorang bersuci (wudhu’) dengan bagus kemudian ia menuju salah satu masjid yang ada, melainkan Allah akan menulis kebaikan baginya dari setiap langkah kakinya, dan dengannya Allah mengangkat derajatnya dan menghapus kesalahannya. Menurut pendapat kami, tidaklah seseorang menjauh dari shalat (berjama’ah), melainkan dia seorang munafik yang telah jelas kemunafikannya. Sungguh, dahulu seseorang dari kami harus dipapah diantara dua orang hingga ia dibantu berdiri pada shaf (barisan) shalat yang ada.”
[Diriwayatkan Imam Muslim no. 654]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
الصلاة في الجماعات التي تقام في المساجد من شعائر الإسلام الظاهرة وسنته الهادية .
Shalat-shalat berjama’ah yang didirikan di masjid-masjid termasuk bagian dari syi’ar-syi’ar Islam yang nampak dan merupakan sunnah-sunnah petunjuk.

Beliau juga berkata :
وصلاة الجماعة من الأمور المؤكدة في الدين باتفاق المسلمين . وهي فرض على الأعيان عند أكثر السلف وأئمة أهل الحديث : كأحمد وإسحاق وغيرهما وطائفة من أصحاب الشافعي وغيرهم وهي فرض على الكفاية عند طوائف من أصحاب الشافعي وغيرهم وهو المرجح عند أصحاب الشافعي
Dan shalat berjama’ah adalah termasuk perkara-perkara mu’akkadah (amat ditekankan) didalam agama ini dengan kesepakatan kaum muslimin. Dia merupakan fardhu ‘ain menurut banyak pendapat dari para salaf dan para imam ahli hadits, seperti Ahmad, Ishaaq (Ibnu Rahaawaih) dan selain mereka berdua, kemudian sejumlah sahabat Asy-Syaafi’iy dan yang lainnya. Dan dia juga fardhu kifayah menurut mayoritas pendapat dari sahabat Asy-Syaafi’iy dan yang lainnya dan inilah pendapat yang marjuh (lemah) di sisi sahabat Asy-Syaafi’iy. [Majmuu’ Fataawa Ibnu Taimiyyah 23/251-252].

Allaahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s