Hadits-hadits Baathil dan Palsu

1. Diriwayatkan oleh Al-Haafizh Al-Khathiib Al-Baghdaadiy rahimahullah :

أَخْبَرَنَا الْقَاضِي أَبُو الْعَلاءِ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْيَسَعَ الْبَغْدَادِيُّ الْقَارِئُ ، سَاكِنُ أَنْطَاكِيَّةَ ، قَدِمَ عَلَيْنَا بَغْدَادَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ فِيلٍ الْبَالِسِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ حَبِيبٍ لُوَيْنٌ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ ، عَنْ حُمَيْدٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي إِلَى السَّمَاءِ ، وَانْتَهَيْتُ فَرَأَيْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ بَيْنِي وَبْيَنَهُ حِجَابٌ بَارِزٌ ، فَرَأَيْتُ كُلَّ شَيْءٍ مِنْهُ ، حَتَّى رَأَيْتُ تَاجًا مَخُوصًا مِنْ لُؤْلُؤٍ ”
Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Qaadhiy Abul ‘Alaa’ Muhammad bin ‘Aliy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Qaasim ‘Abdullaah bin Muhammad bin Al-Yasa’ Al-Baghdaadiy Al-Qaari’ yang bertempat tinggal di Anthaakiyyah (Antioch, -pent), datang kepada kami di Baghdaad, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ahmad bin Ibraahiim bin Fiil Al-Baalisiy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaimaan bin Habiib Luwain, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Suwaid bin ‘Abdul ‘Aziiz, dari Humaid, dari Anas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pada malam isra’ ketika aku dinaikkan ke langit, akhirnya aku melihat Rabbku ‘Azza wa Jalla diantara aku dan diantaraNya terdapat hijaab yang jelas sehingga aku bisa melihat segala sesuatu dari hijaab tersebut, kemudian aku melihat mahkota yang terbuat dari mutiara.”
[Taariikh Baghdaad 11/362]

Al-Haafizh Adz-Dzahabiy menyebutkan sanad lain dari hadits ini :

حديث روي عن قاسم بن ابراهيم الملطي، ثنا لوين، عن سويد بن عبد العزيز، عن حميد، عن أنس، مرفوعا….
Hadiits diriwayatkan dari Qaasim bin Ibraahiim Al-Malthiy, telah menceritakan kepada kami Luwain, dari Suwaid bin ‘Abdul ‘Aziiz, dari Humaid, dari Anas, secara marfuu’
[Mukhtashar Al-Abaathiil wa Al-Maudhuu’at hal. 42]

Disebutkan pula oleh Al-Haafizh Jalaaluddiin As-Suyuuthiy (Al-La’ali Al-Mashnuu’ah 1/12-13), Ibnul Jauziy (Al-Maudhuu’at Al-Kubra 1/115), Ibnu ‘Iraaq Al-Kinaaniy (Tanziih Asy-Syarii’ah 1/137), Asy-Syaukaaniy (Al-Fawaa’id Al-Majmuu’ah no. 1270).

Sanad dari riwayat Al-Khathiib mempunyai beberapa cacat :
– Abul Qaasim ‘Abdullaah bin Muhammad bin Al-Yasa’ Al-Baghdaadiy Al-Qaari’, “laisa bi hujjah (bukan hujjah), beberapa ulama menuduhnya berdusta, seorang yang dha’if.” [Lisaanul Miizaan no. 1419; Diiwaan Ad-Dhu’afaa’ wa Al-Matruukiin no. 2299].
– Suwaid bin ‘Abdul ‘Aziiz, Abu Muhammad As-Sulamiy Ad-Dimasyqiy, “dha’if jiddan”. Al-Bukhaariy berkata “Abu Muhammad memiliki sesuatu yang diingkari, telah diingkari oleh Ahmad.” [Taariikh Al-Kabiir no. 5176; Taqriib At-Tahdziib no. 2693].

Dan sanad yang disebutkan Adz-Dzahabiy membuat hadits ini bertambah rusak :
– Qaasim bin Ibraahiim Al-Malthiy, “pendusta, ia datang bersama bencana yang tak terelakkan”. [Miizaan Al-I’tidaal 5/446; Adh-Dhu’afaa’ wa Al-Matruukiin li Ad-Daaruquthniy no. 439].
– Suwaid bin ‘Abdul ‘Aziiz, telah lewat penjelasannya.

Hadits ini hadits palsu sebagaimana dikatakan oleh Al-Haafizh Adz-Dzahabiy, As-Suyuuthiy dan Ibnul Jauziy.

2. Diriwayatkan oleh Al-Haafizh Ibnul Jauziy rahimahullah :

أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ الأَرْمَوِيُّ ، قَالَ : أَنْبَأَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ الْمَأْمُونِ ، قَالَ : أَنْبَأَنَا الدَّارَقُطْنِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْعَطَّارُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ أَبِي مَعْمَرٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ ، وَعَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” بَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبَيْنَ الْخَلْقِ سَبْعِينَ أَلْفَ حِجَابٍ ، وَأَقْرَبُ الْخَلْقِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ جِبْرِيلُ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ وَإِنَّ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَهُ أَرْبَعَةَ حُجُبٍ : حِجَابٌ مِنْ نَارٍ ، وَحِجَابٌ مِنْ ظُلْمَةٍ ، وَحِجَابٌ مِنْ غَمَامٍ ، وَحِجَابٌ مِنَ الْمَاءِ ”
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin ‘Umar Al-Armawiy, ia berkata, telah memberitakan kepada kami ‘Abdush Shamad bin Al-Ma’muun, ia berkata, telah memberitakan kepada kami Ad-Daaruquthniy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Bakr Al-Aththaar, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yuusuf bin Abu Ma’mar, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Habiib bin Abu Habiib, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin Sa’ad dan ‘Abdul ‘Aziiz bin Abu Haazim, dari Abu Haazim, dari Sahl bin Sa’ad, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Diantara Allah ‘Azza wa Jalla dan diantara makhluk-makhlukNya terbentang 70.000 lapis hijaab. Makhluk yang terdekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla adalah Jibriil, Mikaa’iil dan Israfiil, diantara mereka dengan Allah terdapat 4 lapis hijaab yaitu hijaab dari api, hijaab dari kegelapan, hijaab dari awan dan hijaab dari air.”
[Al-Maudhuu’at Al-Kubra 1/116]

Disebutkan pula oleh Al-Haafizh Adz-Dzahabiy (Mukhtashar Al-Abaathiil wa Al-Maudhuu’at hal. 44), As-Suyuuthiy (Al-La’ali Al-Mashnuu’ah 1/14), Ibnu ‘Iraaq Al-Kinaaniy (Tanziih Asy-Syarii’ah 1/142), Asy-Syaukaaniy (Al-Fawaa’id Al-Majmuu’ah no. 1271).

Cacat dari sanad riwayat ini adalah :
– Habiib bin Abu Habiib, nama ayahnya, Abu Habiib adalah Ibraahiim atau Marzuuq atau Raziiq, Abu Muhammad Al-Mishriy Al-Hanafiy, penulis Maalik bin Anas. Ahmad berkata “bukan orang tsiqah, penipu hadits dan pendusta”, Yahya bin Ma’iin berkata “laisa bi syai’, ia menampakkan keburukan”, dalam riwayat lain “pendusta”, Abu Daawud berkata “salah seorang pendusta diantara manusia”, Ibnu Hibbaan berkata “meriwayatkan hal-hal dusta dari orang-orang tsiqah, ia menambahkan sesuatu didalamnya hal-hal yang tidak berasal dari mereka”, Abu Haatim berkata “meriwayatkan hadits-hadits palsu dari putra saudara Az-Zuhriy”, Ibnu ‘Adiy berkata “hadits-haditsnya semuanya palsu”, Ibnu Hajar berkata “matruuk, didustakan oleh Abu Daawud dan lainnya.” Wafat tahun 218 H. [Adh-Dhu’afaa’ Al-‘Uqailiy no. 325; Al-Majruuhiin hal. 265; Miizaan Al-I’tidaal 2/190-191; Taqriib At-Tahdziib no. 1087].

Adz-Dzahabiy berkata bahwa hadits ini hadits palsu dalam sanad dan matan, sedangkan Ibnul Jauziy berkata hadits ini tidak ada asal-usulnya.

Allaahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s