….Zaman Sedikit Ahli Ilmu dan Banyak Pengkhutbah

Gambar

Al-Imaam Al-Bukhaariy berkata :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الأَسْوَدِ , قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ , قَالَ : حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ حَصِيرَةَ , قَالَ : حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ , قَالَ : سَمِعْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ , يَقُولُ : ” إِنَّكُمْ فِي زَمَانٍ : كَثِيرٌ فُقَهَاؤُهُ ، قَلِيلٌ خُطَبَاؤُهُ ، قَلِيلٌ سُؤَّالُهُ ، كَثِيرٌ مُعْطُوهُ ، الْعَمَلُ فِيهِ قَائِدٌ لِلْهَوَى ، وَسَيَأْتِي مِنْ بَعْدِكُمْ زَمَانٌ : قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ ، كَثِيرٌ سُؤَّالُهُ ، قَلِيلٌ مُعْطُوهُ ، الْهَوَى فِيهِ قَائِدٌ لِلْعَمَلِ ، اعْلَمُوا أَنَّ حُسْنَ الْهَدْيِ ، فِي آخِرِ الزَّمَانِ ، خَيْرٌ مِنْ بَعْضِ الْعَمَلِ ”
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Abul Aswad, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waahid bin Ziyaad, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Haarits bin Hashiirah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Wahb, ia berkata, aku mendengar Ibnu Mas’uud mengatakan, “Sesungguhnya kalian berada pada zaman yang terdapat banyak ahli ilmu dan sedikit pengkhutbah, sedikit yang bertanya, banyak yang mampu memberi (fatwa), ‘amalan adalah pemimpin hawa nafsu. Dan akan datang setelah kalian suatu zaman yang terdapat sedikit ahli ilmu dan banyak pengkhutbah, banyak yang bertanya, sedikit yang mampu memberi (fatwa), hawa nafsu adalah pemimpin ‘amalan. Ketahuilah, bahwa petunjuk yang terbaik pada masa akhir zaman itu lebih baik daripada sebagian ‘amalan.”
[Al-Adabul Mufrad no. 813]
Sanadnya hasan dan mauquf hingga Ibnu Mas’uud. Dihasankan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 605. Beliau berkata, “Yang benar adalah sanadnya mauquf.” [Silsilah Ash-Shahiihah no. 3189]

Diriwayatkan pula oleh Al-Imaam Maalik bin Anas, dari jalan Yahya bin Sa’iid Al-Anshaariy, dari Ibnu Mas’uud [Muwaththa’ no. 379] – sanadnya munqathi’.

Perkataan Ibnu Mas’uud ini selaras dengan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Al-Imaam Al-Bukhaariy :

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Abu Uwais, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Maalik, dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari Ayahnya, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila tidak tersisa lagi seorang ulama, maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka memberi fatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” [Shahiih Bukhaariy no. 100, Kitab : Ilmu, Bab : Bagaimana Ilmu Dicabut]

Dan salah satu pertanda akhir zaman adalah munculnya Ar-Ruwaibidhah pada tahun-tahun yang penuh tipu daya dan muslihat :

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الْمَدَائِنِيُّ وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Al-Madaa’iniy, -dia adalah Muhammad bin Ja’far-, telah menceritakan kepada kami ‘Abbaad bin Al-‘Awwaam, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaaq, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebelum kemunculan Dajjaal akan ada beberapa tahun munculnya para penipu sehingga orang jujur didustakan sedangkan pendusta dibenarkan. Orang yang amanat dikhianati sedangkan orang yang suka berkhianat dipercaya, dan para ruwaibidhah berani berbicara,” Ada yang bertanya, “Apa itu Ar-Ruwaibidhah?” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang fasiq yang berbicara di dalam permasalahan umum.”
[Musnad Ahmad no. 12885]
Dishahihkan Al-Haafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy 13/91, Syaikh Muqbil Al-Waadi’iy dalam Ash-Shahiihul Musnad no. 27

Mereka inilah yang masuk ke dalam ancaman Allah Ta’ala dalam firmanNya :

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. [QS An-Nahl : 25]

Nas’alullaaha As-Salaamah wal ‘Aafiyah.
Allaahu a’lamu bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s