Anda Muslim? Tunjukkanlah Kasih Sayangmu Tidak Dengan Hari Valentine

Gambar

Seakan benar-benar menjadi kenyataan bahwa umat Islam terutama kaum remaja muda-mudi sekarang ini, mereka lebih suka mengikuti perayaan-perayaan yang sama sekali bukan ajaran dari Islam, bahkan ia adalah religi kaum kuffar yang tidak menyembah Allah. Lebih parah, mereka seakan-akan gelap terhadap ajaran agamanya sendiri sehingga semakin tenggelamlah ilmu. Mereka asyik ikut-ikutan menyemarakkan syi’ar-syi’ar kaum kuffar sehingga dihiaslah rumah mereka, baju mereka, makanan mereka dan pasar-pasar dengan pernak-pernik hari Valentine.

Apakah sebenarnya perayaan valentine itu yang sebentar lagi akan menunjukkan gemerlap pesta poranya?
Jika kita klik Wikipedia edisi bahasa Indonesia, maka akan terpampang penjelasan bahwa ia adalah berasal dari ajaran kaum Pagan Romawi Kuno yang bahkan ia sama sekali tidak diajarkan oleh Nabi ‘Isaa ‘Alaihissalaam. Disebutkan bahwa perayaan ini berasal dari seorang Pastur bernama Santo Valentinus. Riwayat Pastur ini kabarnya juga tidak jelas, ia adalah salah satu dari 3 orang ini yaitu :
1. Seorang Pastur di kota Roma.
2. Seorang Uskup Interamna.
3. Seorang martir di propinsi Romawi Africa.
Mereka hidup pada abad ke-3 pada masa pemerintahan Kaisar Claudius II.

Dalam kitab Legenda Emas Jacobus de Voragine yang dikarang pada tahun 1260 M, tertulis riwayat hidup Santo Valentinus dengan singkat. Diceritakan bahwa ia menolak ketika disuruh untuk menyangkal keberadaan Yesus Kristus di depan Kaisar Claudius II, oleh karena itu dipenggallah kepalanya. Sebelum dihukum penggal, Valentinus mengembalikan penglihatan dan pendengaran sipir penjaranya. Jacobus, pengarang kitab, mereka-reka nama Valentinus sebagai simbol kasih sayang dan keberanian.

Itulah sekilas sejarah singkat mengenai hari Valentine. Untuk lebih lengkapnya, silahkan merujuk disini dan disini.

Nabi kita, Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menubuwahkan bahwa umatnya perlahan-lahan akan mengikuti jejak kaum-kaum sebelumnya. Telah diriwayatkan sabda beliau :

حَدَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa’iid, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah, telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam, dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, hingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”
[Shahiih Muslim no. 2671]

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ فَقَالَ وَمَنْ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b, dari Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Hari kiamat tak akan terjadi hingga umatku meniru generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Ditanyakan pada beliau, “Wahai Rasulullah, seperti Persia dan Romawi?” Nabi menjawab, “Siapa manusia (yang kumaksud) kecuali mereka?”
[Shahiih Bukhaariy no. 7319]

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ بَهْرَامَ ، حَدَّثَنَا شَهْرُ بْنُ حَوْشَبٍ ، حَدَّثَنِي ابْنُ غَنْمٍ ، أَنَّ شَدَّادَ بْنَ أَوْسٍ حَدَّثَهُ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَهُ : ” لَيَحْمِلَنَّ شِرَارُ هَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى مَنْ مَضَى مِنْ قَبْلِهِمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ “

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Hamiid bin Bahraam, telah menceritakan kepada kami Syahr bin Hausyab, telah menceritakan kepadaku Ibnu Ghanm, bahwa Syaddaad bin Aus menceritakan kepadanya, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Umat ini akan membawa keburukan-keburukan yang telah dilakukan orang-orang sebelum mereka, selangkah demi selangkah.”
[Musnad Ath-Thayaalisiy no. 1217] – Sanadnya hasan.

Ikut merayakan hari Valentine dengan bersenang-senang didalamnya, adalah termasuk tasyabbuh yang dilarang dalam Islam :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ يَعْنِي الْوَاسِطِيَّ ، أَخْبَرَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي ، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي ، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yaziid -yakni Al-Waasithiy-, telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Tsaubaan, dari Hassaan bin ‘Athiyyah, dari Abu Muniib Al-Jurasyiy, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku diutus dengan pedang hingga Allah yang diibadahi dan tiada sekutu bagiNya, rizkiku ditempatkan di bawah bayang-bayang tombak dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.”
[Musnad Ahmad no. 5093] – Sanadnya hasan. Dishahihkan Syaikh Ahmad Syaakir dalam tahqiq Musnad Ahmad 7/121.

Dan sudah teranglah bagi kita bahwa perayaan hari Valentine ini merupakan sarana mendekati zina. Saling kirim coklat atau karangan bunga, merayakan Valentina berduaan dengan kekasihnya, bahkan ada yang sampai merelakan kegadisannya direnggut oleh kekasihnya hanya untuk menunjukkan betapa besar cinta kasih mereka. Na’udzubillahi min dzaalik. Padahal telah jelas firman Allah Ta’ala :

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. [QS Al-Israa’ : 32]

Kasih Sayang Dalam Islam

Alhamdulillaah, Islam telah mencukupkan kita dengan kasih sayang. Allah Jalla wa ‘Alaa, Rabb kita adalah Rabb Yang Maha Penyayang, Nabi kita adalah Nabi yang sangat penyayang terhadap umatnya dan agama ini sendiri adalah agama kasih sayang. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita seluk-beluk dari kasih sayang itu :

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا فَقَالَ الْأَقْرَعُ إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yamaan, telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mencium Al-Hasan bin Aliy sedangkan disamping beliau ada Al-Aqra’ bin Haabis At-Tamiimiy sedang duduk, lalu Al-Aqra’ berkata, “Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium mereka sekali pun,” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandangnya dan bersabda, “Barangsiapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi.”
[Shahiih Bukhaariy no. 5997]

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ الْبَهْرَانِيُّ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yamaan Al-Hakam bin Naafi’ Al-Bahraaniy, telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, telah mengkhabarkan kepada kami Sa’iid bin Al-Musayyib, bahwa Abu Hurairah berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) sebanyak seratus bagian, maka ditahanlah disisiNya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkanNya satu bagian ke bumi. Dari yang satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang kepada sesamanya, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya akan terinjak olehnya.”
[Shahiih Bukhaariy no. 6000]

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي مُزَرِّدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb -dan lafazh ini milik Abu Bakr-, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Wakii’ dari Mu’aawiyah bin Abu Muzarrid, dari Yaziid bin Ruumaan, dari ‘Urwah, dari ‘Aaisyah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rahim (kasih sayang) itu tergantung di ‘Arsy,” Seraya bersabda, “Siapa yang menyambungnya, maka Allah pun akan menyambungkannya. Dan barangsiapa yang memutusnya, niscaya Allah pun akan memutuskannya pula.”
[Shahiih Muslim no. 2557]

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي قَابُوسَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنْ الرَّحْمَنِ فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ ال

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Amr bin Diinaar, dari Abu Qaabuus, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang yang saling mengasihi akan dikasihi oleh Ar-Rahman, berkasih sayanglah kepada siapapun yang ada dibumi, niscaya Yang ada di langit akan mengasihi kalian. Lafazh Ar-Rahim (rahim atau kasih sayang) itu diambil dari lafazh Ar-Rahman, maka barang siapa yang menyambung tali silaturrahim niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barang siapa yang memutus tali silaturrahmi maka Allah akan memutusnya (dari rahmat-Nya).”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 1924] – Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih At-Tirmidziy no. 1924, Al-Haafizh Al-‘Iraaqiy dalam Al-‘Arba’uun no. 125.

حَدَّثَنَا هَيْثَمُ بْنُ خَارِجَةَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَيَّاشٍ يَعْنِي إِسْمَاعِيلَ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَيْسَرَةَ عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي فِي ظِلِّ عَرْشِي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي

Telah menceritakan kepada kami Haitsam bin Khaarijah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ayyaasy -yaitu Ismaa’iil-, dari Shafwaan bin ‘Amr dari Abdurrahman bin Maisarah, dari Al-‘Irbaadh bin Saariyah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Orang-orang yang saling berkasih sayang dengan kemuliaanKu berada di naungan ‘arsyKu pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganKu.”
[Musnad Ahmad no. 16707] – Dihasankan Al-Haafizh Adz-Dzahabiy dalam Al-‘Uluw no. 84, Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih At-Targhiib no. 3024.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي شُعَيْبٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Syu’aib, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukah kalian aku tunjukkan suatu perkara yang jika kalian amalkan maka kalian akan saling menyayangi? Tebarkanlah salam di antara kalian.”
[Sunan Abu Daawud no. 4522] – Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Jaami’ no. 7081

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Abu Salamah, dari Al-Auzaa’iy, ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Syihaab, ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Sa’iid bin Al-Musayyib, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin.”
[Shahiih Bukhaariy no. 1240]

Semoga kita semua selalu ingat kepada firman Allah Ta’ala berikut ini :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barang siapa yang menta’ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS An-Nisaa’ : 69]

Sungguh, kita semua tidak akan ada yang menolak bila dibangkitkan bersama mereka yang disebut dalam ayat diatas dan di akhirat nanti kita akan bersama-sama dengan mereka pula. Oleh karena itu, ta’ati perintah Allah dan RasulNya, jauhi larangan-laranganNya, tinggalkan segala perayaan-perayaan yang merupakan syi’ar dari kaum kuffar karena ikut-ikutan merayakannya merupakan bentuk tasyabbuh dan loyalitas kepada mereka. Apakah kita mau dibangkitkan bersama kaum kuffar dan di akhirat nanti bersama mereka? Pilihan ada di tangan anda.

Allaahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s