Bersin Ketika Shalat, Bolehkah Mengucap Hamdalah?

Gambar

Ketika seseorang bersin, maka disyari’atkan baginya untuk mengucapkan hamdalah, ia memuji Allah Rabbnya. Dalilnya adalah :

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

Telah menceritakan kepada kami Adam bin Iyaas, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b, telah menceritakan kepada kami Sa’iid Al-Maqburiy, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, (beliau bersabda) “Sesungguhnya Allah menyukai bersin, dan tidak menyukai menguap. Apabila salah seorang dari kalian bersin, maka hendaklah ia memuji Allah (mengucapkan hamdalah) dan kewajiban seorang muslim yang mendengarnya untuk mendo’akannya. Sedangkan menguap itu datangnya dari syetan, maka hendaklah ia menahan semampunya. Jika ia sampai mengucapkan ‘haaah,’ maka syetan akan menertawakannya.”
[Shahiih Bukhaariy no. 5869, Kitab Adab, Bab : Yang disukai dari bersin dan yang dibenci dari menguap]

Ini adalah dalil yang umum. Namun bagaimana bila kita sedang shalat dan kita bersin? Apakah disyari’atkan juga untuk mengucapkan hamdalah?
Jawabannya adalah ya, dalilnya adalah seperti yang diriwayatkan oleh Al-Imaam At-Tirmidziy rahimahullah :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا رِفَاعَةُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيُّ عَنْ عَمِّ أَبِيهِ مُعَاذِ بْنِ رِفَاعَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَطَسْتُ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ فَقَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّانِيَةَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّالِثَةَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ رِفَاعَةُ بْنُ رَافِعٍ ابْنُ عَفْرَاءَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ كَيْفَ قُلْتَ قَالَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ ابْتَدَرَهَا بِضْعَةٌ وَثَلَاثُونَ مَلَكًا أَيُّهُمْ يَصْعَدُ بِهَا

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Rifaa’ah bin Yahyaa bin ‘Abdullaah bin Rifaa’ah bin Raafi’ Az-Zaraqiy, dari paman ayahnya yaitu Mu’aadz bin Rifaa’ah, dari Ayahnya, ia berkata, “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam lalu aku bersin dan mengucapkan, “Alhamdulillaahi hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiih, mubaarakan ‘alaih, kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardha (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, diberkahi di dalamnya serta diberkahi di atasnya, sebagimana Rabb kami senang dan ridla).” Maka ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam selesai shalat, beliau berpaling ke arah kami seraya bertanya, “Siapa yang berbicara waktu shalat?” Tidak ada seorang pun dari kami yang menjawab, beliau lalu bertanya lagi untuk yang kedua kalinya, “Siapa yang berbicara waktu shalat?” Tidak ada seorang pun dari kami yang menjawab, beliau lalu bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya, “Siapa yang berbicara waktu shalat?” Maka aku menjawab, “Aku, wahai Rasulullah,” Beliau bertanya, “Apa yang engkau ucapkan tadi?” Aku menjawab, “Aku mengucapkan ‘Alhamdulillaahi hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiih, mubaarakan ‘alaih, kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardha’.” Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, sungguh ada tiga puluh lebih malaikat saling berebut untuk membawa naik kalimat tersebut.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 404] – Imam Tirmidziy berkata hadits hasan. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Takhriij Al-Misykaah no. 951.

Perkataan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang tidak mengingkari perbuatan Rifaa’ah -radhiyallahu ‘anhu- menjadi hujjah disyari’atkannya mengucapkan hamdalah ketika bersin dalam shalat. Dan ini adalah pendapat jumhur dari para sahabat dan tabi’in. Begitu juga Imam Maalik, Asy-Syaafi’iy dan Ahmad. Namun mereka berbeda-beda pendapat apakah pengucapannya dikeraskan atau dipelankan. Yang rajih adalah dikeraskan namun hanya sebatas hingga didengar dirinya sendiri dan tidak sampai mengganggu orang lain disampingnya. Ini adalah pendapat madzhab Imam Ahmad.

Bagaimana dengan orang disampingnya yang mendengar ia bersin? Apakah dianjurkan juga baginya untuk mendo’akannya?
Al-Imaam Muslim rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَتَقَارَبَا فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ حَجَّاجٍ الصَّوَّافِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ هِلَالِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ
بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي قَالَ إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ash-Shabbaah dan Abu Bakr bin Abi Syaibah dan keduanya berdekatan dalam lafazh hadits tersebut, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ibraahiim, dari Hajjaaj Ash-Shawwaaf, dari Yahyaa bin Abi Katsiir, dari Hilaal bin Abi Maimuunah, dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari Mu’aawiyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, dia berkata, “Ketika aku sedang shalat bersama-sama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari suatu kaum yang bersin lalu aku mengucapkan, ‘Yarhamukallaah (semoga Allah memberimu rahmat)’. Maka seluruh jamaah menujukan pandangannya kepadaku.” Aku berpikir, “Celakalah Ibuku! Mengapa mereka?” Mereka bahkan menepukkan tangan pada paha mereka. Setelah itu barulah aku tahu bahwa mereka menyuruhku diam. Tatkala Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam selesai shalat, Ayah dan Ibuku sebagai tebusanmu (wahai ‘Athaa’), aku belum pernah bertemu seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah! Beliau tidak menghardikku, tidak memukul dan tidak memakiku. Beliau bersabda, “Sesungguhnya shalat ini, tidak dibolehkan di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.”
[Shahiih Muslim no. 540, Kitab Masjid dan Tempat-tempat Shalat, Bab : Diharamkan berbicara dalam shalat dan dihapusnya hukum yang membolehkannya]

Dari sini diketahui bahwa tidak diperbolehkan mendo’akan orang yang bersin dalam shalat karena ia termasuk dalam hukum membuat percakapan antara dirinya dan orang yang bersin tersebut dan ini dapat membatalkan shalatnya. Inilah yang raajih.

Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata :
ولم ينكر النبي صلى الله عليه وسلم على العاطس الذي حمد الله؛ فدل ذلك على أن الإنسان إذا عطس في الصلاة حمد الله لوجود السبب القاضي بالحمد ، ولكن لا يكون ذلك في كل ما يوجد سببه من الأذكار في الصلاة”
“Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari orang yang bersin dan mengucapkan Alhamdulillaah ketika sedang shalat. Ini menandakan bahwa jika seseorang bersin selama shalat maka dianjurkan mengucapkan Alhamdulillaah karena memang telah tsabit dalilnya, namun ini tidak berlaku untuk semua dzikir (do’a) yang dilakukan karena suatu sebab didalam shalat.” [Fatawaa Ibnu ‘Utsaimin 13/342].

Allaahu a’lam.

Dirangkum dari : Sumber

One thought on “Bersin Ketika Shalat, Bolehkah Mengucap Hamdalah?

  1. Pingback: Bersin Ketika Shalat, Bolehkah Mengucap Hamdalah? | Al-Muntaqa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s