Sang Uswatun Hasanah

Gambar

Beliau adalah Rasulullah Abul Qaasim Muhammad bin ‘Abdullaah bin ‘Abdul Muththalib Al-Haasyimiy Al-Qurasyiy Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wa Ta’aala mengutus Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat bagi seru sekalian alam. Beliau adalah sebaik-baik contoh suri tauladan, sebaik-baik guru, sebaik-baik suami, sebaik-baik ayah, sebaik-baik mujahid, sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik makhluk yang Allah ciptakan.

Allah Ta’ala berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [QS Al-Ahzab : 21]

Beliau diutus oleh Allah Ta’ala sebagai pembawa risalahNya yang membawa hidayah cahaya bagi umatnya sekalian. Beliaulah pemersatu kabilah-kabilah bangsa Arab yang semula bercerai-berai, berkubang di dalam lumpur jahiliyah, fanatisme kesukuan dan golongan, menyembah berhala, menjadi bangsa yang bersatu, meninggalkan kejahiliyahan, meninggalkan penyembahan berhala hingga menuju pada tauhid yaitu hanya menyembah Allah ‘Azza wa Jalla. Kedatangan beliau telah dinubuatkan di dalam kitab-kitab samawi terdahulu.

Allah Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. [QS Al-A’raaf : 157]

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam diutus untuk meletakkan kaidah akhlak yang mulia, menyempurnakannya dan menjelaskannya. Allah Ta’ala berfirman mengenai akhlak beliau :

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. [QS Al-Qalam : 4]

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Manshuur, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziiz bin Muhammad, dari Muhammad bin ‘Ajlaan dari Al Qa’qaa’ bin Hakiim, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [HR Ahmad no. 8729; Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiihul Jaami’ no. 2349]

Istri beliau, Ummul Mu’minin ‘Aaisyah -radhiyallahu ‘anha- menyebut bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an.

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ
أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبِرِينِي بِخُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
{ وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ }

Telah menceritakan kepada kami Haasyim bin Al-Qaasim, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Mubaarak, dari Al-Hasan, dari Sa’d bin Hisyaam bin ‘Aamir, dia berkata, aku mendatangi ‘Aaisyah seraya berkata, “Wahai Ummul Mu’minin! Kabarkanlah kepadaku mengenai akhlak Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.” (‘Aaisyah) berkata, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an, bukankah engkau telah membaca Al Quran pada firman Allah ‘Azza wa Jalla, Wa Innaka La’alaa Khuluqin ‘Azhim (Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung) [QS Al-Qalam : 4].” [HR Ahmad no. 23460; Diriwayatkan pula oleh Muslim (6/25), Abu Daawud (2/40), An-Nasaa’iy (3/199), Ad-Daarimiy (1/345), Al-Baihaqiy dalam Dalaa’ilun Nubuwwah (1/308), Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (2/499, 613), Ibnu Jariir Ath-Thabariy dalam Jaami’ul Bayaan (29/13), Ibnu Hibban (no. 467)].

Makna hadits diatas adalah bahwa melaksanakan perintah Al-Qur’an dan menjauhi larangannya telah menjadi karakter dan kepribadian Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada satu akhlak baik dan terpuji melainkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pasti menyandangnya karena tidak ada cita-cita baginya selain mendapatkan ridha’ Allah Ta’ala.

Beliau adalah seorang yang pemaaf, tidak pernah membicarakan kejelekan-kejelekan orang lain, tidak pernah berghibah tiada guna, beliau bukan seorang yang pendendam yang suka membalas keburukan dengan keburukan. Al-Imaam Abu ‘Isaa At-Tirmidziy rahimahullah meriwayatkan hadits yang bersumber dari ‘Aaisyah :

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ أَنْبَأَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ قَال سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الْجَدَلِيَّ يَقُولُ
سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

Telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Ghailaan, telah menceritakan kepada kami Abu Daawud, ia berkata, telah memberitakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq, ia berkata, aku mendengar Abu ‘Abdullaah Al-Jadaliy berkata, Aku pernah bertanya kepada ‘Aaisyah mengenai akhlak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka ia pun menjawab, “Beliau bukanlah seorang yang buruk prilakunya, tidak pula menjelek-jelekkan orang lain. Beliau tidak suka berteriak di pasar-pasar. Beliau bukanlah tipe orang yang membalas keburukan dengan keburukan, namun beliau selalu memaafkan dengan lapang dada.” [HR Tirmidziy no. 1939, hasan shahih; Ini adalah hadits Muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy (3295), Muslim (4285), Ahmad (6477 & 24247)]

Bahkan disaat kebanyakan kita memandang rendah kepada para pekerja dan pelayan-pelayan kita, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam justru adalah orang yang paling santun kepada para pelayan dan pekerjanya.

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَابْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ خَادِمُ أَحَدِكُمْ بِطَعَامِهِ فَلْيُجْلِسْهُ مَعَهُ فَإِنْ لَمْ يُجْلِسْهُ مَعَهُ فَلْيُنَاوِلْهُ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ فَإِنَّهُ وَلِيَ عِلَاجَهُ وَحَرَّهُ

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa, dari Syu’bah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyaad, dari Abu Hurairah, dan Ibnu Ja’far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Muhammad bin Ziyaad, ia berkata, aku mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Jika pembantu salah seorang dari kalian datang dengan membawakan makanan untuknya, hendaknya ia ajak duduk bersama (untuk makan), jika ia tidak mengajaknya untuk duduk bersama hendaklah ia ambilkan satu atau dua suap, karena si pelayanlah yang telah memasaknya dan merasakan panasnya.” [HR Ahmad no. 9052 dan 9274; Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah no. 3289; Dishahihkan Syaikh Ahmad Syaakir dalam Tahqiiq Musnad Ahmad 13/255].

Al-Ma’rur bin Suwaid (seorang tabi’in) berkata :

رَأَيْتُ أَبَا ذَرٍّ الْغِفَارِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ وَعَلَى غُلَامِهِ حُلَّةٌ فَسَأَلْنَاهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنِّي سَابَبْتُ رَجُلًا فَشَكَانِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ إِخْوَانَكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

Aku pernah melihat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu dia memakai pakaian yang sama dengan budak kecilnya, kami pun bertanya kepadanya tentang masalahnya itu. Maka dia berkata: “Aku pernah menawan seorang laki-laki lalu hal ini aku adukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku, “Apakah kamu menjelek-jelekkkannya karena ibunya?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka juga saudara-saudara kalian yang menjadi tanggungan kalian, Allah menjadikan mereka dibawah tangan kalian, maka siapa yang saudaranya berada di tangannya hendaklah dia memberi makan dari apa yang dia makan dan memberi pakaian dari pakaian yang ia pakai dan janganlah kalian membebani mereka dengan apa yang mereka tidak sanggup. Jika kalian membebani mereka dengan apa yang mereka tidak sanggup maka bantulah mereka”. [HR Al-Bukhaariy no. 2359 dan ini adalah lafazhnya; Muslim no. 3139]

Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- berkata :

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ لَيْسَ لَهُ خَادِمٌ فَأَخَذَ أَبُو طَلْحَةَ بِيَدِي فَانْطَلَقَ بِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَنَسًا غُلَامٌ كَيِّسٌ فَلْيَخْدُمْكَ قَالَ فَخَدَمْتُهُ فِي السَّفَرِ وَالْحَضَرِ مَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا هَكَذَا وَلَا لِشَيْءٍ لَمْ أَصْنَعْهُ لِمَ لَمْ تَصْنَعْ هَذَا هَكَذَا

Saat tiba di Madinah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mempunyai pembantu, lalu Abu Thalhah menggandeng tanganku untuk menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anas ini adalah seorang anak yang cerdas dan dia siap melayanimu”. Maka aku melayani Beliau baik saat bepergian maupun muqim (tinggal), dan Beliau tidak pernah berkata kepadaku terhadap apa yang aku lakukan, “Kenapa kamu berbuat begini begitu,” dan tidak pernah juga mengatakan terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan, “Kenapa kamu tidak berbuat begini begitu.” [HR Al-Bukhaariy no. 2561; Ahmad no. 11550]

Sungguh begitu mulianya akhlak beliau. Beliau tidak segan-segan berbaur dengan para pelayan, orang-orang miskin dan berbincang-bincang dengan mereka bahkan setelah kita simak pengakuan sahabat Anas bin Malik diatas, beliau tidak pernah mengeluh dan mengumpat terhadap pekerjaan yang dilakukan pelayan-pelayannya. Sungguh berbeda sekali dengan kita yang terkadang merasa begitu sombong menjadi seorang tuan, bahkan dengan sesama kita pun terkadang ada rasa angkuh yang menghinggapi kita. Sungguh akhlak seperti ini akan memupus rasa kasih sayang diantara kita bahkan ia akan membuat hati kita menjadi keras membatu. Patutlah kita renungkan hadits berikut agar kita menjadi muslim yang selalu berkasih sayang terhadap saudara-saudara kita.

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى الْأَشْيَبُ حَدَّثَنَا حَرِيزٌ يَعْنِي ابْنَ عُثْمَانَ الرَّحَبِيَّ عَنْ حِبَّانَ بْنِ زَيْدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ
سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِنْبَرِهِ يَقُولُ ارْحَمُوا تُرْحَمُوا وَاغْفِرُوا يَغْفِرْ اللَّهُ لَكُمْ وَيْلٌ لِأَقْمَاعِ الْقَوْلِ وَيْلٌ لِلْمُصِرِّينَ الَّذِينَ يُصِرُّونَ عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Muusaa Al-Asyyab, telah menceritakan kepada kami Hariz -yaitu Ibnu ‘Utsmaan Ar-Rahabiy, dari Hibbaan bin Zaid, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash, bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda di atas mimbar, “Sayangilah, maka kalian akan disayangi, dan ampunilah (kesalahan manusia) maka Allah akan mengampuni kesalahan kalian. Celakalah orang yang mendengarkan nasehat tapi tidak mau melaksanakannya. Celakalah orang-orang yang bersikukuh dalam kemaksiatan padahal mereka mengetahuinya.” [HR Ahmad no. 7001, Al-Haafizh Al-Haitsamiy berkata rijaalnya adalah rijaal kitab Shahiih kecuali Hibbaan bin Zaid, ditsiqahkan oleh Ibnu Hibbaan (Majma’ Az-Zawaa’id 10/194); Dishahihkan Syaikh Ahmad Syaakir dalam Tahqiiq Musnad Ahmad 10/52 dan 12/8].

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي قَابُوسَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Amr bin Diinaar, dari Abu Qaabuus, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr, ia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Ar-Rahman, berkasih sayanglah kepada siapapun yang ada dibumi, niscaya Yang ada di langit akan mengasihi kalian.” [HR Tirmidziy no. 1847, Abu Daud no. 4290 & Ahmad no. 6206; Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Takhriij Al-Misykaah no. 4897]

Maha Benar Allah Ta’ala yang berfirman :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. [QS At-Taubah : 128]

Allahu Ta’ala a’lamu bishawab.

Maraji’ :
– Fi Rihab As-Sunnah Al-Muthahharah karya Syaikh Dr. ‘Abdullaah Syahatah
– Manhajul Anbiyaa’ fi Tazkiyatin Nufuus karya Syaikh Saalim bin ‘Iid Al-Hilaaliy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s