Ilmu Agama, Perhatikan Darimana Kau Ambil

Gambar

Al-Imaam Ath-Thabaraaniy meriwayatkan :

حدثنا علي بن عبد العزيز ، ثنا عارم أبو النعمان ، ثنا حماد بن زيد ، عن عاصم ، عن أبي وائل قال : قال عبد الله : ” تدرون كيف ينقص الإسلام ؟ ” قالوا : كما ينقص صبغ الثوب ، وكما ينقص من الدابة ، وكما يقسو الدرهم عن طول الحبي ، قال : ” إن ذلك لمنه ، وأكثر من ذلك موت أو ذهاب العلماء “

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdul ‘Aziiz, telah menceritakan kepada kami ‘Aarim Abu An-Nu’maan, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari ‘Aashim, dari Abu Waa’il, ia berkata, ‘Abdullaah (bin Mas’uud) menanyakan kepada kami, “Tahukah kalian seperti apa agama Islam akan berkurang?” Kami berkata, “Seperti memudarnya warna pakaian, seperti berkurangnya hewan dan seperti mengerasnya kecintaan terhadap dirham,” Ibnu Mas’uud berkata, “Seperti itulah padanya, dan begitu pula dengan banyaknya kematian atau kepergian para ulama.”

[Mu’jam Al-Kabiir no. 8991] – Sanadnya mauquf hasan. Al-Haafizh Al-Haitsamiy berkata rijaalnya adalah orang-orang tsiqah. [Majma’ Az-Zawaa’id 1/207].
Diriwayatkan pula oleh Al-Imaam Abu Bakr Al-Aajurriy dalam Akhlaaq Al-‘Ulamaa’ hal. 33.

Sedikit penjelasan untuk atsar diatas adalah bahwa agama Islam ini perlahan-lahan akan memudar seperti memudarnya warna pakaian, seperti berkurangnya jumlah hewan kemudian orang-orang berlomba-lomba menguatkan kecintaannya kepada dirham, dalam hal ini bisa diqiyaskan dengan uang dan harta, sehingga tidak tersisalah lagi di antara mereka kecuali kecintaan kepada dunia dan segala perhiasannya. Mereka melupakan urusan akhirat dan lebih menyukai untuk mengejar perkara dunia. Hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan sungguh telah terjadi :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جَابِرٍ حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ السَّلَامِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ibraahiim Ad-Dimasyqiy, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Bakr, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jaabir, telah menceritakan kepadaku Abu ‘Abdussalaam, dari Tsaubaan, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam) seperti memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki bertanya, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” Beliau bersabda, “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian bagai buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari musuh kalian dan akan menanamkan Al-Wahn ke dalam hati kalian.” Seseorang lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Al-Wahn?” Beliau bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.”

[Sunan Abu Daawud no. 4297] – Sanadnya shahih dengan mengumpulkan semua jalannya. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 958.

Memudarnya agama Islam adalah bagaikan sebuah ikatan yang perlahan-lahan akan terurai, Al-Imaam Ahmad meriwayatkan :

حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ حَبِيبٍ حَدَّثَهُمْ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, telah menceritakan kepadaku ‘Abdul ‘Aziiz bin Ismaa’iil bin ‘Ubaidillaah, bahwa Sulaimaan bin Habiib telah menceritakan haditsnya kepada mereka, dari Abu Umaamah Al-Baahiliy, dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Ikatan-ikatan Islam akan terurai satu demi satu, setiap kali satu ikatan terurai maka orang-orang akan bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah-masalah hukum dan yang terakhir adalah shalat.”

[Musnad Ahmad no. 21655; As-Sunnah ‘Abdullaah bin Ahmad no. 675] – Dishahihkan Syaikh Muqbil Al-Waadi’iy dalam Shahiih Al-Musnad no. 1077.

Dan di antara ikatan yang terurai tersebut adalah ilmu.

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Abu Uwais, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Maalik, dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari Ayahnya, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”

[Shahiih Al-Bukhaariy no. 100]

Al-Imaam An-Nawawiy berkata, “Maknanya adalah dengan wafatnya mereka (para ulama Rabbaniy), maka manusia akan mengambil ilmu dari para juhala (orang-orang bodoh), mereka menghukumi suatu masalah dengan kebodohan mereka, maka mereka itu adalah orang-orang yang sesat lagi menyesatkan.” [Syarh Shahiih Muslim no. 2673].

Orang-orang bodoh tersebut dinamakan Ar-Ruwaibidhah.

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الْمَدَائِنِيُّ وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Al-Madaa’iniy -dia adalah Muhammad bin Ja’far-, telah menceritakan kepada kami ‘Abbaad bin Al-‘Awwaam, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaaq, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Anas bin Maalik, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebelum munculnya Dajjal akan ada beberapa masa munculnya para penipu, sehingga orang jujur didustakan sedangkan orang dusta dibenarkan. Orang yang amanat dikhianati sedangkan orang yang suka berkhianat dipercaya, dan para ruwaibidhah angkat bicara,” Ada yang bertanya, “Apakah Ar-Ruwaibidhah?” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang fasiq yang berbicara mengenai masalah-masalah umum.”

[Musnad Ahmad no. 12885] – Sanadnya dha’if karena ‘an’anah Ibnu Ishaaq dan dia adalah perawi tsiqah namun banyak melakukan tadlis, namun menjadi hasan dengan keseluruhan jalannya. Dihasankan Syaikh Muqbil Al-Waadi’iy dalam Shahiih Al-Musnad no. 27, dan Al-Haafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy 13/91.

Sungguhlah telah banyak di zaman kita ini manusia-manusia atau mereka yang (kini disebut) ulama suu’ yang mengeluarkan fatwanya tanpa ada dasarnya dari Al-Qur’an, Hadits Nabi yang shahih serta ijma’ salafus shalih. Mereka berfatwa dengan sekedar ra’yu, malah mereka jadikan hadits-hadits lemah dan palsu sebagai dasar-dasar hukum syari’at dan ada di antara mereka yang dipercaya untuk tampil di depan publik bukan karena berniat mencari Wajah Allah, tapi karena mencari uang dan bayarannya. Maka benarlah atsar Ibnu Mas’uud di awal pembahasan, bahwa manusia akan lebih kokoh dalam mencintai dirham (uang dan harta) ketimbang kokoh dalam mencari pahala akhirat atau ridha’ Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal seperti ini yang dapat mengikis iman dan keistiqamahan kita dalam agama Islam.

Maka, di dalam mencari ilmu agama, haruslah dipertimbangkan masak-masak mengenai dari siapa kita mengambilnya. Al-‘Allaamah Al-Khathiib Al-Baghdaadiy meriwayatkan :

أَخْبَرَنَا أَبُو سَعْدٍ الْمَالِينِيُّ ، قَالَ : أنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَدِيٍّ الْحَافِظُ ، قَالَ : ثنا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحِيمِ ، قَالَ : ثنا أَحْمَدُ بْنُ نَصْرٍ الْمِقَّرِيُّ الْعَابِدُ ، قَالَ : أنا الْمُبَارَكُ مَوْلَى إِبْرَاهِيمَ بْنِ هِشَامٍ الْمُرَابِطِيِّ . ح وَأَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الْفَتْحِ ، قَالَ : ثنا عَلِيُّ بْنُ عُمَرَ الْحَرْبِيُّ ، قَالَ : ثنا حَاتِمُ بْنُ الْحَسَنِ الشَّاشِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ الْمُغِيرَةِ الشَّاشِيُّ ، قَالَ : ثنا الْمُبَارَكُ ، قَالَ : ثنا الْعَطَّافُ بْنُ خَالِدٍ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ ، أَنَّهُ قَالَ : ” يَا ابْنَ عُمَرَ دِينُكَ دِينُكَ ، إِنَّمَا هُوَ لَحْمُكَ وَدَمُكَ ، فَانْظُرْ عَمَّنْ تَأْخُذُ ، خُذْ عَنِ الَّذِينَ اسْتَقَامُوا ، وَلا تَأْخُذْ عَنِ الَّذِينَ مَالُوا “

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’d Al-Maaliiniy, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullaah bin ‘Adiy Al-Haafizh, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Husain bin ‘Abdurrahiim, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Nashr Al-Miqqariy Al-‘Aabid, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Mubaarak maulaa Ibraahiim bin Hisyaam Al-Muraabithiy, (dalam jalan periwayatan yang lain), dan telah mengkhabarkan kepadaku ‘Ubaidullaah bin Abul Fath, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Umar Al-Harbiy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Haatim bin Al-Hasan Asy-Syaasyiy, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Habiib bin Al-Mughiirah Asy-Syaasyiy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Mubaarak, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-‘Athaaf bin Khaalid, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Wahai Ibnu ‘Umar, agamamu, agamamu! Sesungguhnya dia adalah daging dan darahmu, maka perhatikanlah dari siapa kau mengambilnya. Ambillah dari orang-orang yang istiqaamah (terhadap sunnah), dan janganlah kau mengambilnya dari orang-orang yang menyimpang (terhadap sunnah).”

[Al-Kifayaatu fii ‘Ilm Ar-Riwaayah no. 306] – Sanadnya dha’if namun matannya shahih.

Perkataan diatas selaras dengan atsar berikut :

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ الرَّبِيعِ ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ ، عَنْ أَيُّوبَ وَهِشَامٍ ، عَنْ مُحَمَّدٍ ، وَحَدَّثَنَا فُضَيْلٌ ، عَنْ هِشَامٍ ، قَال : وَحَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ حُسَيْنٍ ، عَنْ هِشَامٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ ، قَالَ : إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ar-Rabii’, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari ‘Ayyuub dan Hisyaam, dari Muhammad, (dalam jalan periwayatan yang lain) telah menceritakan kepada kami Fudhail, dari Hisyaam, (dalam jalan periwayatan yang lain) telah menceritakan kepada kami Makhlad bin Husain, dari Hisyaam, dari Muhammad bin Siiriin, ia berkata, “Sesungguhnya agama ini adalah ilmu, maka perhatikanlah darimana kalian mengambil agama kalian.”

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيل بْنُ زَكَرِيَّاءَ ، عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَل ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ ، قَالَ : لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ ، قَالُوا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ ، فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ ، فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ash-Shabbaah, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Zakariyyaa’, dari ‘Aashim Al-Ahwal, dari Ibnu Siiriin, ia berkata, “Pada awalnya kami tidak menanyakan mengenai isnaad, tetapi ketika munculnya fitnah, maka kami berkata, “Sebutkan nama-nama rijaal kalian,” Maka jika kami melihatnya dari ahlussunnah, kami akan mengambil haditsnya. Akan tetapi jika dari ahlul bid’ah, maka kami tidak mengambil haditsnya.”

[Muqaddimah Shahiih Muslim]

Semoga bermanfaat.
Allaahu a’lam.

3 thoughts on “Ilmu Agama, Perhatikan Darimana Kau Ambil

  1. assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

    masyaAllah – bagus blog ini, banyak faidah yang bisa saya ambil

    jazakallah khairan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s