Syafa’at

Gambar

Sebagai seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, wajib hukumnya bagi kita untuk mengimani adanya syafa’at yang kelak akan kita dapatkan di hari kiamat. Berikut akan disinggung sedikit mengenai apa dan bagaimana syafa’at itu serta kiat-kiat untuk memperolehnya. Bi’idznillahi Ta’ala.

====================
Syafa’at Murni Hak Allah Ta’ala
====================

Menurut Al-Imam Ibnul ‘Atsiir, syafa’at adalah sebuah permintaan untuk mema’afkan dosa-dosa dan kejahatan [An-Nihayah fi Gharibil Hadits hal. 484-485]. Ini adalah makna syafa’at secara istilah. Adapun syafa’at bisa juga berarti do’a seperti didalam sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ وَاللَّفْظُ لِأَبِي كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib dan lafazh tersebut milik Abu Kuraib, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap Nabi memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi menyegerakan doanya, dan sesungguhnya aku menyembunyikan doaku sebagai syafa’at bagi umatku pada hari kiamat. Dan insya Allah syafa’atku akan mencakup orang yang mati dari kalangan umatku yang tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apa pun.” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 296; Al-Bukhaariy no. 5829 dan ini lafazh Muslim].

Perlu diketahui oleh setiap muslim bahwa syafa’at adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ini adalah aqidah ahlussunnah, hal ini telah ditegaskan oleh Allah didalam firmanNya :

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ

Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. [QS Al-Baqarah : 255]

FirmanNya Azza wa Jalla :

وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلا شَفِيعٌ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafaat pun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa. [QS Al-An’aam : 51]

Kemudian firmanNya :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا شَفِيعٍ أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? [QS As-Sajdah : 4]

Dan firmanNya :

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. [QS Az-Zumar : 44]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa syafa’at adalah benar-benar murni hak Allah, tidak ada yang mampu memberikan syafa’at selain daripada Allah kecuali dengan seizin dariNya untuk makhluk yang memang diridhaiNya. Allah Ta’ala berfirman :

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai (Nya). [QS An-Najm : 26]

Dan firmanNya :

يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا

Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridai perkataannya. [QS Thaahaa : 109]

Oleh karena itu Allah Ta’ala mencela dan mengingkari kaum musyrikin yang menyeru kepada selain Allah Ta’ala untuk mendapatkan perlindungannya atau dengan kata lain, mereka berwasilah kepada selain Allah Ta’ala dengan harapan agar tuhan-tuhan tersebut bisa memberikan syafa’at di sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman :

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ

Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya”. [QS Saba’ : 22]

Setelah melihat uraian diatas, dapatlah kita tarik kesimpulan awal bahwa syafa’at itu tidak akan diberikan, kecuali dengan 3 syarat :
1. Allah Ta’ala ridha kepada orang yang memberi syafa’at.
2. Allah Ta’ala ridha kepada orang yang diberi syafa’at.
3. Allah Ta’ala memberi izin pemberi syafa’at untuk memberikan syafa’at.
Dari sini jelas bagi kita bahwa orang-orang musyrik tidak akan mendapat syafa’at dan tidak akan berguna syafa’at itu untuk mereka karena Allah telah menetapkan mereka akan kekal di neraka Jahannam. Allah Ta’ala berfirman :

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam. [QS At-Taubah : 113]

==============================
Syafa’at Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
==============================

Di antara pokok-pokok aqidah ahlussunnah adalah setiap muslim meyakini dan mengimani bahwa di hari kiamat nanti Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah makhluk yang pertama kali akan diberi izin oleh Allah Ta’ala untuk memberikan syafa’at kepada umat beliau. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhaariy dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, yaitu ketika umat manusia menghampiri Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa tetapi mereka menolak memberikan syafa’at dan akhirnya Nabi Isa menyuruh mereka untuk meminta syafa’at kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, beliau pun memintakan syafa’at kepada Allah dan dikabulkan oleh Allah.

Kita semua pasti mendambakan syafa’at Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam karena pada hari kiamat nanti tidak ada yang dapat menolong kita kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, amalan-amalan shalih yang kita kerjakan, kemudian syafa’at dari Rasulullah. Al-Imam At-Tirmidziy meriwayatkan sebuah hadits :

حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي

Telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbaas Al-‘Anbariy, telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Razzaaq, dari Ma’mar, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Syafaatku untuk pemilik dosa-dosa besar dari ummatku.” [Diriwayatkan Tirmidzi no. 2359; hasan shahih gharib. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Takhriij Al-Misykaah no. 5528].

Al-Imam Muslim meriwayatkan :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ عَنْ سَيَّارٍ عَنْ يَزِيدَ الْفَقِيرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي كَانَ كُلُّ نَبِيٍّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى كُلِّ أَحْمَرَ وَأَسْوَدَ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَلَمْ تُحَلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَيِّبَةً طَهُورًا وَمَسْجِدًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ بَيْنَ يَدَيْ مَسِيرَةِ شَهْرٍ وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Yahyaa, telah mengkhabarkan kepada kami Husyaim, dari Sayyaar, dari Yaziid al-Faqiir, dari Jaabir bin ‘Abdullaah Al-Anshaariy, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku diberikan lima perkara yang mana belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku. Pertama, dahulu setiap nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada setiap bangsa merah dan hitam. Kedua, ghanimah dihalalkan untukku, namun tidak dihalalkan untuk seorang pun sebelumku. Ketiga, dan bumi itu dijadikan untukku dalam keadaan suci dan mensucikan dan (sebagai) masjid juga, maka siapa pun laki-laki yang mana waktu shalat mendapatinya maka dia bisa shalat di mana pun dia berada. Keempat, aku ditolong dengan rasa takut (yang merasuk pada musuh di hadapanku) sejauh jarak perjalanan satu bulan. Kelima, aku diberi syafaat’.” [Diriwayatkan Muslim no. 810; Al-Bukhaariy no. 323 dan ini adalah lafazh Muslim].

========================
Kiat-kiat Mendapat Syafa’at Rasulullah
========================

1. Bertauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala serta ittiba’ kepada Rasulullah.

حَدَّثَنَا هَاشِمٌ والْخُزَاعِيُّ يَعْنِي أَبَا سَلَمَةَ قَالَا حَدَّثَنَا لَيْثٌ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي سَالِمٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ مُعْتِبٍ الْهُذَلِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا رَدَّ إِلَيْكَ رَبُّكَ فِي الشَّفَاعَةِ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَقَدْ ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَوَّلُ مَنْ يَسْأَلُنِي عَنْ ذَلِكَ مِنْ أُمَّتِي لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْعِلْمِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا يَهُمُّنِي مِنْ انْقِصَافِهِمْ عَلَى أَبْوَابِ الْجَنَّةِ أَهَمُّ عِنْدِي مِنْ تَمَامِ شَفَاعَتِي وَشَفَاعَتِي لِمَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا يُصَدِّقُ قَلْبُهُ لِسَانَهُ وَلِسَانُهُ قَلْبَهُ

Telah menceritakan kepada kami Haasyim dan Al-Khuzaa’iy -yaitu Abu Salamah- mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Laits, telah menceritakan kepadaku Yaziid bin Abi Habiib, dari Saalim bin Abi Saalim, dari Mu’aawiyah bin Mu’tib Al-Hudzaliy, bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata, aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apa yang diserahkan oleh Allah kepadamu dalam hal syafa’at?” Lalu beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di genggaman-Nya, sungguh aku telah mengira bahwa kamu adalah yang pertama kali dari umatku yang bertanya kepadaku tentang hal itu, karena aku tahu akan kesungguhanmu dalam mendapatkan ilmu, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di genggaman-Nya, tidak ada sesuatu yang penting bagiku dengan berkerumunnya manusia di pintu surga dari pada sempurnanya syafa’atku, dan syafa’atku akan diberikan kepada orang yang bersaksi bahwa tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah dengan ikhlash, hatinya membenarkan lisannya dan lisannya juga membenarkan hatinya.” [Diriwayatkan Ahmad no. 7725. Al-Haitsamiy berkata rijaalnya adalah rijaal Ash-Shahiih selain Mu’aawiyah bin Mu’tib, dia tsiqah (Majma’ Az-Zawaa’id 10/407). Dishahihkan Syaikh Ahmad Syaakir dalam tahqiq Musnad Ahmad 15/207].

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ، عَنْ زَيْدٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: …… فَيَشْفَعُ النَّبِيُّونَ وَالْمَلَائِكَةُ وَالْمُؤْمِنُونَ، فَيَقُولُ الْجَبَّارُ: بَقِيَتْ شَفَاعَتِي، فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ، فَيُخْرِجُ أَقْوَامًا قَدِ امْتُحِشُوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرٍ بِأَفْوَاهِ الْجَنَّةِ، يُقَالُ لَهُ: مَاءُ الْحَيَاةِ، فَيَنْبُتُونَ فِي حَافَتَيْهِ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ قَدْ رَأَيْتُمُوهَا إِلَى جَانِبِ الصَّخْرَةِ وَإِلَى جَانِبِ الشَّجَرَةِ فَمَا كَانَ إِلَى الشَّمْسِ مِنْهَا كَانَ أَخْضَرَ وَمَا كَانَ مِنْهَا إِلَى الظِّلِّ كَانَ أَبْيَضَ، فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمُ اللُّؤْلُؤُ، فَيُجْعَلُ فِي رِقَابِهِمُ الْخَوَاتِيمُ، فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: فَيَقُولُ أَهْلُ الْجَنَّةِ: هَؤُلَاءِ عُتَقَاءُ الرَّحْمَنِ أَدْخَلَهُمُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ عَمَلٍ عَمِلُوهُ وَلَا خَيْرٍ قَدَّمُوهُ، فَيُقَالُ لَهُمْ: لَكُمْ مَا رَأَيْتُمْ وَمِثْلَهُ مَعَهُ ”

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Al-Laits bin Sa’d, dari Khaalid bin Yaziid, dari Sa’iid bin Abu Hilaal, dari Zaid, dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “……maka para Nabi, malaikat dan orang-orang yang beriman, kesemuanya telah memberi syafaat. Kemudian Allah Al-Jabbaar berkata, syafaat-Ku masih ada. Lantas Allah menggenggam segenggam dari neraka dan mengentaskan beberapa kaum yang mereka telah terbakar, lantas mereka dilempar ke sebuah sungai di pintu surga yang namanya ‘Sungai kehidupan’ sehingga mereka tumbuh dalam kedua tepinya sebagaimana biji-bijian tumbuh dalam genangan sungai yang kalian sering melihatnya di samping batu karang dan samping pohon, apa yang diantaranya condong kepada matahari, maka berwarna hijau, dan apa yang diantaranya condong kepada bayangan, maka berwarna putih, lantas mereka muncul seolah-olah mutiara dan dalam tengkuk mereka terdapat cincin-cincin. Mereka kemudian masuk surga hingga penghuni surga berkata, ‘Mereka adalah ‘utaqa’ Ar Rahman (orang-orang yang dibebaskan Ar-Rahman), Allah memasukkan mereka bukan karena amal yang mereka lakukan, dan bukan pula karena kebaikan yang mereka kerjakan sehingga mereka memperoleh jawaban ‘Bagimu yang kau lihat dan semisalnya’.” [Diriwayatkan Al-Bukhaariy no. 6886]

2. Membaca Al-Qur’an dan beribadah puasa.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ زَيْدٍ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ حَدَّثَهُ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ شَافِعٌ لِأَصْحَابِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin ‘Amr, telah menceritakan kepada kami Hisyaam, dari Yahyaa bin Abu Katsiir, dari Zaid, dari Abu Sallaam, dari Abu Umaamah telah menceritakan padanya, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Bacalah Al Quran karena ia memberi syafaat pada para pembacanya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan Ahmad no. 21126. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Jaami’ no. 1165]

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّبَرِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ، عَنِ الثَّوْرِيِّ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، وَغَيْرِهِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: ” الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ، وَمَا حَلَّ مُصَدَّقٌ، فَمَنْ جَعَلَهُ إِمَامَهُ قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ ”
Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim Ad-Dabariy, dari ‘Abdurrazzaaq, dari Ats-Tsauriy, dari Abu Ishaaq dan selainnya, dari ‘Abdurrahman bin Yaziid, ia berkata, telah berkata ‘Abdullah (Ibnu Mas’uud), “Al-Qur’an adalah pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya dan pembela yang dibenarkan. Barangsiapa yang menjadikannya sebagai penuntun maka ia akan menuntunnya ke surga, dan barangsiapa mengabaikan maka ia akan menggiringnya ke neraka” [Diriwayatkan Ath-Thabaraaniy, Al-Mu’jam Al-Kabiir no. 8655; shahih dengan mengumpulkan jalur-jalurnya. Dihasankan Syaikh Muqbil Al-Waadi’iy dalam Asy-Syafaa’ah no. 246]

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ حُيَيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Daawud, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah, dari Huyaiy bin Abdullaah, dari Abu ‘Abdurrahman Al-Hubuliy, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Puasa dan Al Qur’an kelak pada hari kiamat akan memberi syafa’at kepada seorang hamba. Puasa berkata: Ya Rabb, aku telah menahannya dari makanan dan nafsu syahwat di siang hari, maka izinkahlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al Qur’an berkata: aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Beliau melanjutkan sabdanya: maka mereka berdua (puasa dan Al Qur’an) pun akhirnya memberi syafa’at kepadanya.” [Diriwayatkan Ahmad no. 6337; shahih lighairihi. Ibnu Hajar Al-Haitamiy dalam Az-Zawaajir 1/197 menshahihkannya, disepakati oleh As-Suyuthiy dalam Jaami’ Ash-Shaghiir no. 5203]

3. Bermukim di Madinah dan bersabar terhadap cobaannya

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَوْلَى الْمَهْرِيِّ أَنَّهُ
جَاءَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ لَيَالِي الْحَرَّةِ فَاسْتَشَارَهُ فِي الْجَلَاءِ مِنْ الْمَدِينَةِ وَشَكَا إِلَيْهِ أَسْعَارَهَا وَكَثْرَةَ عِيَالِهِ وَأَخْبَرَهُ أَنْ لَا صَبْرَ لَهُ عَلَى جَهْدِ الْمَدِينَةِ وَلَأْوَائِهَا فَقَالَ لَهُ وَيْحَكَ لَا آمُرُكَ بِذَلِكَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid, telah menceritakan kepada kami Laits, dari Sa’iid bin Abu Sa’iid, dari Abu Sa’iid Maula Al-Mahriy, bahwa ia menjumpai Abu Sa’iid Al Khudriy pada malam-malam yang panas, dan meminta petunjuk dalam menghadapi kesulitan hidup di Madinah, juga mengadukan padanya tentang mahalnya biaya hidup dan banyaknya keluarga yang ditanggung, serta memberitahukan bahwa dia tidak mampu bersabar lagi menghadapi kesulitan hidup di Madinah. Abu Sa’iid Al-Khudriy berkata kepada Abu Sa’iid (mantan budak Al-Mahriy itu), “Sungguh merugi kamu, aku tidak menyuruhmu begitu. Sungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah seseorang bersabar terhadap kesulitan hidup di Madinah lalu dia mati, melainkan aku akan menjadi penolongnya (atau saksinya) kelak pada hari kiamat, jika orang tersebut adalah seorang muslim.'” [Diriwayatkan Muslim no. 2441]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوتُ بِهَا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyaar, telah menceritakan kepada kami Mu’aadz bin Hisyaam, telah menceritakan kepadaku Ayahku, dari Ayyuub, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mampu untuk mati di kota Madinah, maka hendaknya ia mati di dalamnya, karena sesungguhnya aku akan memberi syafa’at bagi siapa saja yang meninggal di dalamnya.” [Diriwayatkan Tirmidzi no. 3852; shahih gharib, Ahmad no. 5555, Ibnu Majah no. 3103. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Jaami’ no. 6015]

4. Berdo’a setelah adzan

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Ayyaasy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Abu Hamzah, dari Muhammad Al-Munkadir, dari Jaabir bin ‘Abdullaah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa berdo’a setelah mendengar adzan: ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA’WATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAA’IMAH. AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB’ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA’ADTAH (Ya Allah. Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah jannjikan) ‘. Maka ia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” [Diriwayatkan Al-Bukhaariy no. 579 dan yang lainnya]

5. Shalawat kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدٍ ابْنُ عَثْمَةَ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ يَعْقُوبَ الزَّمْعِيُّ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ كَيْسَانَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ شَدَّادٍ أَخْبَرَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyaar, yaitu Bundaar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khaalid bin ‘Atsmah, telah menceritakan kepadaku Muusaa bin Ya’quub Az-Zam’iy, telah menceritakan kepadaku ‘Abdullaah bin Kaisaan, bahwa ‘Abdullaah bin Syaddaad telah mengkhabarkan kepadanya dari ‘Abdullaah bin Mas’uud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” [Diriwayatkan At-Tirmidziy no. 446; hasan gharib. Dihasankan Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy dalam Nataa’ijul Ifkaar 3/295]

6. Memperbanyak sujud (shalat)

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ سَمِعْتُ الْأَوْزَاعِيَّ قَالَ حَدَّثَنِي الْوَلِيدُ بْنُ هِشَامٍ الْمُعَيْطِيُّ حَدَّثَنِي مَعْدَانُ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ الْيَعْمَرِيُّ قَالَ لَقِيتُ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ
أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ يُدْخِلُنِي اللَّهُ بِهِ الْجَنَّةَ أَوْ قَالَ قُلْتُ بِأَحَبِّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ سَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dia berkata, aku mendengar Al-Auzaa’iy berkata, telah menceritakan kepadaku Al-Waliid bin Hisyaam Al-Mu’aithiy, telah menceritakan kepadaku Ma’daan bin Abu Thalhah Al-Ya’mariy, dia berkata, aku bertemu Tsaubaan, maula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku bertanya, “Kabarkanlah kepadaku dengan suatu amal yang jika kukerjakan niscaya Allah akan memasukkanku ke dalam surga disebabkan amal tersebut, -atau dia berkata, aku berkata, ‘Dengan amalan yang paling disukai Allah-,” lalu dia diam, kemudian aku bertanya kepadanya, lalu dia diam kemudian aku bertanya kepadanya yang ketiga kalinya. Dia menjawab, “Aku telah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda, “Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu bersujud kepada Allah dengan suatu sujud melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat dengannya, dan menghapuskan dosa darimu dengannya.” [Diriwayatkan Muslim no. 753]

7. Menshalatkan mayat seorang muslim

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ وَهَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ وَالْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ السَّكُونِيُّ قَالَ الْوَلِيدُ حَدَّثَنِي و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي أَبُو صَخْرٍ عَنْ شَرِيكِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّهُ مَاتَ ابْنٌ لَهُ بِقُدَيْدٍ أَوْ بِعُسْفَانَ فَقَالَ يَا كُرَيْبُ انْظُرْ مَا اجْتَمَعَ لَهُ مِنْ النَّاسِ قَالَ فَخَرَجْتُ فَإِذَا نَاسٌ قَدْ اجْتَمَعُوا لَهُ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ تَقُولُ هُمْ أَرْبَعُونَ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَخْرِجُوهُ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Ma’ruuf dan Haaruun bin Sa’iid Al-Ailiy dan Al-Waliid bin Syujaa’ As-Sakuuniy, -Al-Waliid berkata- telah menceritakan kepadaku -sementara dua orang yang lain berkata- telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengkhabarkan kepadaku Abu Shakhr, dari Syariik bin ‘Abdullaah bin Abu Namir, dari Kuraib maula Ibnu ‘Abbaas, dari Ibnu ‘Abbaas bahwa anaknya telah meninggal di kawasan Qudaid atau ‘Usfan, maka ia pun berkata, “Wahai Kuraib, lihatlah berapa orang yang berkumpul untuk menshalatkannya.” Kuraib berkata, “Maka aku pun keluar, ternyata orang-orang telah berkumpul untuk (menshalatkan) -nya. Lalu aku memberitahukannya kepada Ibnu ‘Abbaas, dan ia bertanya, “Apakah jumlah mereka mencapai empat puluh orang?” Kuraib menjawab, “Ya.” Kemudian Ibnu ‘Abbaas berkata, “Keluarkanlah mayit itu, karena aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, dan dishalatkan oleh lebih dari empat puluh orang, yang mana mereka tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan memberikan syafa’at untuknya.” [Diriwayatkan Muslim no. 1577]

8. Bersabar atas kematian anak-anaknya

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا عَوْفٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ لَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ وَإِيَّاهُمْ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ الْجَنَّةَ وَقَالَ يُقَالُ لَهُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ قَالَ فَيَقُولُونَ حَتَّى يَجِيءَ أَبَوَانَا قَالَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَيَقُولُونَ مِثْلَ ذَلِكَ فَيُقَالُ لَهُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَبَوَاكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq, dia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Auf, dari Muhammad bin Siiriin, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah dua orang muslim (suami istri) yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya sebelum umur baligh, kecuali Allah akan memasukkan keduanya dan mereka semua ke dalam surga dengan rahmat dan hidayahNya.” Beliau melanjutkan, “Lalu dikatakan kepada mereka, masuklah kalian semua ke dalam surga.” Beliau bersabda, “Lalu mereka menjawab, kami tidak akan masuk sehingga kedua orang tua kami datang,” Allah mengatakannya hingga tiga kali, dan mereka pun menjawab dengan jawaban yang sama, lalu dikatakan kepada mereka, “Masuklah kalian semua ke dalam surga bersama kedua orang tua kalian.” [Diriwayatkan Ahmad no. 10213. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Jaami’ no. 5780. Syaikh Muqbil Al-Waadi’iy berkata, “Sesuai syarat Asy-Syaikhain.” (Asy-Syafaa’ah no. 232)]

Semoga bermanfaat untuk menambah ilmu kita mengenai syafa’at.
Allaahu Ta’ala a’lamu bishawab.

Maraji’ :
– Asy-Syafaa’ah, Syaikh Muqbil bin Hadi’ Al-Waadi’iy
– Fatawa Arkanil Islam, Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin
– Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun IX/1426 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s