Mencintai dan Menghormati yang Lebih Tua

Gambar

Syari’at Islam telah menganjurkan pemeluknya untuk saling berkasih sayang, karena agama ini adalah agama kasih sayang. Allah Ta’ala berfirman dalam kitabNya yang mulia :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. [QS Al-Fath : 29]

Diantara cabang-cabang prinsip saling berkasih sayang adalah mencintai dan menghormati kepada orang yang lebih tua dari kita. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjamin surga bagi umatnya yang menghormati orang yang lebih tua.

Al-Imaam Al-Baihaqiy dalam kitabnya, Syu’ab Al-Imaan meriwayatkan sebuah hadits :

أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ الأَصْبَهَانِيُّ ، نَا أَبُو سَعِيدِ ابْنُ الأَعْرَابِيِّ ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ ، نَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ ، نَا مَطَرٌ الأَعْنَقُ ، عَنْ ثَابِتٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَنَسُ ، ” وَقِّرِ الْكَبِيرَ وَارْحَمِ الصَّغِيرَ تُرَافِقْنِي فِي الْجَنَّةِ “

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullaah bin Yuusuf Al-Ashbahaaniy, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’iid Ibnul A’raabiy, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil, telah mengkhabarkan kepada kami Yuunus bin Muhammad, telah mengkhabarkan kepada kami Mathar Al-A’naq, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai Anas, hormati yang lebih tua dan sayangi yang lebih muda, maka kau akan menemaniku di surga.”

[Syu’ab Al-Imaan no. 10979, Al-Arba’uun Ash-Shughraa no. 74; diriwayatkan pula oleh Al-Kharaa’ithiy dalam Makarim Al-Akhlaaq no. 352 dengan sanad yang dha’iif] – sanad Al-Baihaqiy hasan.

Orang yang lebih tua adalah keberkahan untuk umat ini karena mereka telah banyak pengalaman, lebih khusyuk dalam beribadah, mendalam ilmunya dan lebih matang dalam berpikir dan menimbang sesuatu serta tidak terburu-buru dalam memutuskan sesuatu. Berbeda dengan para pemuda yang cenderung lebih emosional, terburu-buru dan masih kurang pengalaman.

حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَمْزَةُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْعَقَبِيُّ بِبَغْدَادَ ، ثنا عَبْدُ الْكَرِيمِ بْنُ هُشَيْمٍ ، ثنا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْمَحْبُوبِيُّ بِمَرْوَ ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ سَيَّارٍ ، ثنا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ ، قَالا : ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ، أَنْبَأَ خَالِدُ بْنُ مِهْرَانَ الْحَذَّاءُ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ “

Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Hamzah bin Al-‘Abbaas Al-‘Aqabiy -di Baghdaad-, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Kariim bin Husyaim, telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad dan telah mengkhabarkan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ahmad Al-Mahbuubiy -di Marw-, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sayyaar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits bin ‘Ubaidillaah, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Al-Mubaarak, telah memberitakan Khaalid bin Mihraan Al-Hadzdzaa’, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Keberkahan ada pada orang-orang tua dari kalian.”

[Mustadrak Al-Haakim 1/62, Shahiih Ibnu Hibbaan no. 559, Mu’jam Al-Ausath no. 8991] – sanadnya shahiih lighairihi.

Bukan termasuk kaum muslimin, mereka-mereka yang tidak mengenali hak orang tua dan tidak menyayangi anak kecil.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي نٌجَيْح ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا ، فَلَيْسَ مِنَّا “

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Najiih, dari ‘Ubaidillaah bin ‘Aamir, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash, ia menyampaikan sesuatu pada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenali hak orang tua kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.”

[Al-‘Adabul Mufrad no. 354, Musnad Ahmad no. 7033, Sunan Abu Daawud no. 4943, Jaami’ At-Tirmidziy no. 1920] – sanadnya shahiih.

Di antara bentuk-bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua adalah :

1. Mendahulukan dalam pemberian.

حَدَّثَنَا يَعْمَرُ بْنُ بِشْرٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ مُبَارَكٍ ، قَالَ : قَالَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ , حَدَّثَنِي نَافِعٌ ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ ، قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَسْتَنُّ ، فَأَعْطَى أَكْبَرَ الْقَوْمِ ، وَقَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنِي أَنْ أُكَبِّرَ

Telah menceritakan kepada kami Ya’mar bin Bisyr, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah -yakni Ibnul Mubaarak-, ia berkata, Usaamah bin Zaid berkata kepadaku, telah menceritakan kepadaku Naafi’, bahwa Ibnu ‘Umar berkata, aku melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang memakai siwak lalu beliau memberikannya pada orang yang lebih tua dari suatu kaum, dan beliau bersabda, “Sesungguhnya Jibril Shallallahu alaihi wasallam memerintahkanku untuk mendahulukan yang lebih tua.”

[Musnad Ahmad no. 6191, Mu’jam Al-Ausath no. 3218, Sunan Al-Kubraa Al-Baihaqiy 1/40, Al-Faqiih wa Al-Mutafaqih 2/181] – sanadnya hasan.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّهَا حُلِبَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ دَاجِنٌ وَهِيَ فِي دَارِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَشِيبَ لَبَنُهَا بِمَاءٍ مِنْ الْبِئْرِ الَّتِي فِي دَارِ أَنَسٍ فَأَعْطَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَدَحَ فَشَرِبَ مِنْهُ حَتَّى إِذَا نَزَعَ الْقَدَحَ مِنْ فِيهِ وَعَلَى يَسَارِهِ أَبُو بَكْرٍ وَعَنْ يَمِينِهِ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ عُمَرُ وَخَافَ أَنْ يُعْطِيَهُ الْأَعْرَابِيَّ أَعْطِ أَبَا بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدَكَ فَأَعْطَاهُ الْأَعْرَابِيَّ الَّذِي عَلَى يَمِينِهِ ثُمَّ قَالَ الْأَيْمَنَ فَالْأَيْمَنَ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan, telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Anas bin Maalik -radhiyallahu ‘anhu-, kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah disiapkan susu hasil perasan kambing peliharaan yang ada di rumah Anas dan susu tersebut dicampur dengan air yang ada di rumah Anas, lalu disuguhkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam segelas minuman tersebut, lalu beliau meminumnya hingga beliau sudah melepas gelas tersebut dari mulutnya, sementara di samping kiri beliau ada Abu Bakar sedangkan di sebelah kanannya ada seorang Arab badui, maka ‘Umar berkata dalam keadaan khawatir jika gelas tersebut akan diberikan kepada orang badui, “Berikanlah kepada Abu Bakar wahai Rasulullah yang ada disampingmu”. Namun beliau memberikannya kepada orang badui yang berada di samping kanan beliau itu, beliau bersabda, “Hendaknya minuman diperuntukkan untuk yang di sebelah kanan dan ke kanan dan seterusnya.”

[Shahiih Al-Bukhaariy no. 2352, Shahiih Muslim no. 2031, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 24555]

Didalam hadits diatas juga terkandung pelajaran untuk mendahulukan orang yang berada di sebelah kanan dan seterusnya.

2. Mendahulukan dalam hal ilmu.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، قَالَ : قَالَ لِي ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، قَالَ : صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ ، فَلَمْ أَسْمَعْهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا ، قَالَ : ” كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُتِيَ بِجُمَّارٍ ، فَقَالَ : إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً مَثَلُهَا كَمَثَلِ الْمُسْلِمِ ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ : هِيَ النَّخْلَةُ ، فَإِذَا أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ فَسَكَتُّ ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هِيَ النَّخْلَةُ “

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, ia berkata, telah berkata kepadaku Ibnu Abi Najiih, dari Mujaahid, ia berkata, aku pernah menemani Ibnu ‘Umar pergi ke Madiinah, namun aku tidak mendengar dia membicarakan tentang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kecuali satu kejadian dimana Ibnu ‘Umar berkata, kami pernah bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bertemu dengan jama’ah para sahabat. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya diantara pohon ada suatu pohon yang merupakan perumpamaan bagi seorang muslim.” Aku ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma namun karena aku yang paling muda (diantara mereka) maka aku diam. Kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang dimaksud adalah pohon kurma.”

[Shahiih Al-Bukhaariy no. 72, Shahiih Muslim no. 2812, Musnad Ahmad no. 6432].

Didalam hadits ini terkandung pelajaran untuk tidak mendahului orang-orang yang lebih tua yang mana keilmuan dan keutamaan mereka memang lebih utama kecuali jika memang yang lebih muda diketahui lebih fasih dalam menyampaikan dan lebih berilmu dibanding yang lebih tua.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَهُمْ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ قَالُوا فَتْحُ الْمَدَائِنِ وَالْقُصُورِ قَالَ مَا تَقُولُ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ أَجَلٌ أَوْ مَثَلٌ ضُرِبَ لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُعِيَتْ لَهُ نَفْسُهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Habiib bin Abi Tsaabit, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, bahwa ‘Umar -radhiyallahu ‘anhu- pernah menanyakan kepada mereka (para pembesar sahabat Badr) mengenai firman Allah Ta’ala “idzaa jaa’a nashrullahi wal fath” [QS An-Nashr : 1]. Mereka menjawab, “Yaitu penaklukkan kota-kota dan istana-istana.” ‘Umar berkata, “Bagaimana menurutmu wahai Ibnu ‘Abbaas?” Ibnu ‘Abbaas menjawab, “Yang dimaksud adalah ajal atau perumpamaan untuk Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa ajal beliau telah dekat.”

[Shahiih Al-Bukhaariy no. 4969, Musnad Ahmad no. 3117]

3. Memuliakan pemuka suatu kaum yang sudah tua.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ أَنْبَأَنَا سَعِيدُ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاكُمْ كَرِيمُ قَوْمٍ فَأَكْرِمُوهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash-Shabbaah, telah memberitakan kepada kami Sa’iid bin Maslamah, dari Ibnu ‘Ajlaan, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila pemuka suatu kaum datang kepada kalian, maka muliakanlah ia.” [Sunan Ibnu Maajah no. 3712, hadits hasan lighairihi dengan keseluruhan jalannya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 1205].

4. Mendahulukannya untuk menjadi imam shalat jika imam rutin berhalangan hadir serta tidak diketahui siapa yang lebih banyak hapalan Al-Qur’annya, pengetahuannya tentang Sunnah serta kapan hijrahnya.

Hal ini berdasarkan sebuah hadits :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي خَالِدٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَوْسِ بْنِ ضَمْعَجٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Abu Sa’iid Al-Asyaj, keduanya menyampaikan dari Abu Khaalid. Abu Bakr berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Khaalid Al-Ahmar, dari Al-A’masy, dari Ismaa’iil bin Rajaa’, dari Aus bin Dham’aj, dari Abu Mas’uud Al-Anshaariy, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang paling berhak menjadi imam atas suatu kaum adalah yang paling menguasai bacaan Kitabullah (Al-Qur’an), jika dalam penguasaan bacaan sama maka yang paling tahu terhadap Sunnah, jika dalam penguasaan Sunnah sama maka yang paling dahulu hijrah, jika dalam hijrah sama maka dahulukan yang pertama-tama masuk Islam (yang paling tua), dan janganlah orang lain mengimami seseorang di daerah kekuasaannya, dan jangan duduk di rumah seseorang di ruang tamunya, kecuali telah mendapatkan izin darinya.”

[Shahiih Muslim no. 674 dan Sunan Arba’ah, Musnad Ahmad no. 16643].

Demikianlah, syari’at yang mulia ini telah mengatur penghormatan kepada umat muslim yang sudah tua. Senantiasa ditekankan kepada yang lebih muda untuk memuliakan mereka, berlemah lembut kepada mereka terutama dalam memberitahukan masalah diin (agama) dan tidak mendahului suara mereka bila mereka melakukan penentangan. Yang demikian adalah termasuk adab yang baik yang mana telah dicontohkan oleh para salafus shalih. Maka Allah dan RasulNya telah menjamin surga untuk kita.

Syaikh Saliim bin ‘Iid Al-Hilaaliy hafizhahullah berkata, “Masyarakat Muslim merupakan satu bangunan ideal yang saling menguatkan antar komponennya, yang kecil (muda) memperoleh kasih-sayang, sementara yang dewasa mendapatkan penghormatan”. [Bahjatun Naazhiriin 1/426].

Semoga yang singkat ini bermanfaat.
Allaahu a’lamu bishawab.

Maraji’ :
Mukhtashar Syu’ab Al-Imaan li Al-Imaam Al-Baihaqiy, karya Al-Imaam Abu Al-Ma’aliy ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al-Qazwiniy, tahqiq dan takhrij Syaikh ‘Abdul Qaadir Al-Arnaa’uth
-dengan penambahan seperlunya-

One thought on “Mencintai dan Menghormati yang Lebih Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s