Jangan Mengharapkan Kematian

Gambar

Al-Imaam Abu ‘Iisaa At-Tirmidziy rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَجُلًا، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ: ” مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ” قَالَ: فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ؟ قَالَ: ” مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ “، قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh ‘Amr bin ‘Aliy, telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Al-Haarits, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari ‘Aliy bin Zaid, dari ‘Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari Ayahnya, bahwa ada seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang baik itu?” Beliau bersabda, “Mereka yang panjang umurnya dan baik amalannya.” Laki-laki itu bertanya, “Kemudian siapakah manusia yang buruk itu?” Beliau bersabda, “Mereka yang panjang umurnya dan buruk amalannya.” Abu ‘Iisaa berkata, “Hadits ini hasan shahiih.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 2330] – Syaikh Al-Albaaniy mensepakatinya dalam Takhriij Al-Misykaah no. 5215, beliau berkata, “Hasan shahiih dengan penguatnya.”

قَالَ الطِّيبِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِنَّ الْأَوْقَاتِ وَالسَّاعَاتِ كَرَأْسِ الْمَالِ لِلتَّاجِرِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَّجِرَ فِيمَا يَرْبَحُ فِيهِ وَكُلَّمَا كَانَ رَأْسُ مَالِهِ كَثِيرًا كَانَ الرِّبْحُ أَكْثَرَ، فَمَنْ اِنْتَفَعَ مِنْ عُمُرِهِ بِأَنْ حَسُنَ عَمَلُهُ فَقَدْ فَازَ وَأَفْلَحَ، وَمَنْ أَضَاعَ رَأْسَ مَالِهِ لَمْ يَرْبَحْ وَخَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا اِنْتَهَى

Ath-Thiibiy rahimahullah berkata, “Sesungguhnya waktu (umur) adalah bagaikan kepala seorang pedagang dan ia harus dipergunakan sebagaimana mustinya untuk menghasilkan keuntungan. Semakin besar kepala, maka akan semakin banyak keuntungannya. Barangsiapa yang menggunakan umurnya dengan melakukan amalan yang baik, mereka akan sukses dan kaya. Tetapi barangsiapa yang menyia-nyiakan umurnya, maka mereka tidak akan sukses dan tidak akan mendapat apa-apa. Selesai.” [Tuhfatul Ahwaaziy no. 2157]

Dari hadits diatas terlihat jelas bahwa Islam memakruhkan seseorang untuk mengharapkan kematian, karena jika ia ternyata ditakdirkan Allah untuk berumur panjang maka ia akan mendapat banyak kesempatan untuk menimba ilmu dan beribadah, dan dari situ ia akan banyak memberi manfaat kepada kaum muslimin dan menjadi muslim yang shaalih, serta ia juga akan mendapat banyak kesempatan untuk bertaubat dari kesalahan-kesalahannya kepada Allah Ta’ala.

Diriwayatkan oleh Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ اسْمُهُ سَعْدُ بْنُ عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَزْهَرَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ يَزْدَادُ وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ يَسْتَعْتِبُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin Yuusuf, telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhriy, dari Abu ‘Ubaid -namanya adalah Sa’d bin ‘Ubaid maula ‘Abdurrahman bin Azhar-, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengharap kematian. Jika ia orang yang baik maka kemungkinan kebaikannya akan ditambah. Sedangkan jika ia orang yang jahat maka kemungkinan ia bisa memohon taubat.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 7235]

قَالَ النَّوَوِيّ : فِي الْحَدِيث التَّصْرِيح بِكَرَاهَةِ تَمَنِّي الْمَوْت لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ مِنْ فَاقَة ، أَوْ مِحْنَة بِعَدُوٍّ ، وَنَحْوه مِنْ مَشَاقّ الدُّنْيَا , فَأَمَّا إِذَا خَافَ ضَرَرًا أَوْ فِتْنَة فِي دِينه فَلا كَرَاهَة فِيهِ لِمَفْهُومِ هَذَا الْحَدِيث , وَقَدْ فَعَلَهُ خَلَائِق مِنْ السَّلَف

An-Nawawiy rahimahullah berkata, “Pada hadits ini terlihat jelas bahwa dimakruhkan mengharap kematian dikarenakan mudharat yang menimpanya atau penderitaan karena perbuatan musuhnya, dan yang sejenisnya dari kerasnya kehidupan dunia. Sedangkan jika seseorang mengkhawatirkan kerugian atau fitnah kepada (kelangsungan) agamanya, maka tidak makruh (mengharapkan kematian). Inilah yang dipahami dari hadits ini. Begitu pula beberapa salaf telah melakukannya.” [Syarh Shahiih Muslim no. 2680]

Berdasarkan perkataan Imaam An-Nawawiy diatas, maka ada beberapa situasi diperbolehkannya mengharap kematian :

1. Seseorang yang mengkhawatirkan kelangsungan agamanya dikarenakan fitnah.

Diriwayatkan oleh Al-Imaam Ahmad rahimahullah :

حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ الْمَوْتُ وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنْ الْفِتْنَةِ وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul ‘Aziiz -yakni Ibnu Muhammad-, dari ‘Amr, dari ‘Aashim bin ‘Amr bin Qataadah, dari Mahmuud bin Labiid, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua hal yang dibenci oleh manusia, yaitu kematian padahal kematian itu lebih baik bagi orang mu`min dari pada fitnah dan benci sedikitnya harta padahal sedikitnya harta itu lebih ringan untuk hisab.”
[Musnad Ahmad no. 23002] – Sanadnya hasan. Al-Haitsamiy berkata rijaalnya adalah para perawi Ash-Shahiih [Majma’ Az-Zawaa’id 2/324]. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilatu Ash-Shahiihah no. 813.

Dan diriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ :

أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، أَنَّهُ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ، يَقُولُ: لَمَّا صَدَرَ  عُمَرُ  بْنُ  الْخَطَّابِ  مِنْ مِنًى، أَنَاخَ بِالأَبْطَحِ، ثُمَّ كَوَّمَ كَوْمَةً مِنْ بَطْحَاءَ، ثُمَّ طَرَحَ عَلَيْهِ ثَوْبَهُ، ثُمَّ اسْتَلْقَى، وَمدَّ
يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ كَبِرَتْ سِنِّي، وَضَعُفَتْ قُوَّتِي، وَانْتَشَرَتْ رَعِيَّتِي، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مُضَيِّعٍ، وَلا مُفَرِّطٍ، ثُمَّ قَدِمَ الْمَدِينَةَ، فَخَطَبَ النَّاسَ
قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ: فَمَا انْسَلَخَ ذُو الْحِجَّةِ حَتَّى قُتِلَ عُمَرُ

Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik, telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sa’iid, bahwa ia mendengar Sa’iid bin Al-Musayyib mengatakan, “Ketika ‘Umar bin Al-Khaththaab tiba dari Minaa, ia menderumkan untanya di Al-Abthah. ‘Umar kemudian mengumpulkan kerikil dan menumpuknya. Ia lalu menutupi kerikil-kerikil tersebut dengan jubahnya sambil berbaring, ia menjulurkan tangannya ke langit dan berdo’a, “Ya Allah, usiaku telah lanjut, kekuatanku telah melemah, dan rakyatku mulai menyebar, maka panggillah diriku ke hadiratMu tanpa menyia-nyiakan dan berlebih-lebihan.” Kemudian dia berangkat menuju Madinah dan berkhutbah di hadapan manusia.”
Sa’iid bin Al-Musayyib berkata, “Bulan Dzulhijjah belumlah berlalu hingga ‘Umar terbunuh.”
[Al-Muwaththa’ no. 692] – Sanadnya shahiih.

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma, do’a Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta (petunjuk)Mu untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Dan jika Engkau menghendaki suatu fitnah bagi hamba-hambaMu maka wafatkan aku kepadaMu sebelum aku terkena fitnah.”
[Shahiih Jaami’ At-Tirmidziy no. 3233] – Lihat juga Shahiihul Jaami’ no. 59

Oleh karena itu dapat dipahami bahwa mengharap kematian disini adalah karena ketakutan akan terkena fitnah yang dapat merusak keistiqamahannya dalam beragama.

2. Seseorang yang mengharapkan mati syahid dalam jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Banyak hadits-hadits yang menerangkan mengenai diperbolehkannya mengharap mati syahid dalam jihad di jalan Allah. Salah satunya seperti diriwayatkan oleh Al-Imaam Muslim rahimahullah :

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى وَاللَّفْظُ لِحَرْمَلَةَ قَالَ أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا و قَالَ حَرْمَلَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو شُرَيْحٍ أَنَّ سَهْلَ بْنَ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ
وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ فِي حَدِيثِهِ بِصِدْقٍ

Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thaahir dan Harmalah bin Yahyaa, -dan lafazhnya adalah milik Harmalah- Abu Ath-Thaahir berkata, telah mengkhabarkan kepada kami, sedangkan Harmalah berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Wahb, telah menceritakan kepadaku Abu Syuraih, bahwa Sahl bin Abu Umaamah bin Sahl bin Hunaif telah menceritakan hadits kepadanya, dari Ayahnya, dari Kakeknya, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang meminta mati syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengangkat derajatnya hingga ke derajat para syuhadaa’ walaupun ia mati diatas tempat tidurnya.” Dalam redaksi Abu Ath-Thaahir tidak disebutkan matan : “dengan sungguh-sungguh”.
[Shahiih Muslim no. 1912]

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ بَهْرَامٍ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا لَيْثٌ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ شُرَحْبِيلَ بْنِ السِّمْطِ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin ‘Abdurrahman bin Bahraam Ad-Daarimiy, telah menceritakan kepada kami Abul Waliid Ath-Thayaalisiy, telah menceritakan kepada kami Laits -yakni Ibnu Sa’d-, dari Ayyuub bin Muusaa, dari Makhuul, dari Syurahbiil bin As-Simth, dari Salmaan, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berjaga-jaga di jalan Allah pada malam hari lebih baik daripada puasa dan qiyaam (shalat malam) sebulan penuh. Jika ia mati maka amalannya itu akan senantiasa mengalir sebagaimana yang pernah ia amalkan, mengalir pula rizqinya dan ia akan (terbebas) dari Al-Fitaan (maksudnya fitnah kubur dan fitnah Dajjaal, -pent).”
[Shahiih Muslim no. 1916]

هَذِهِ فَضِيلَة ظَاهِرَة لِلْمُرَابِطِ، وَجَرَيَان عَمَله بَعْد مَوْته فَضِيلَة مُخْتَصَّة بِهِ، لَا يُشَارِكهُ فِيهَا أَحَد، وَقَدْ جَاءَ صَرِيحًا فِي غَيْر مُسْلِم: ” كُلّ مَيِّت يُخْتَم عَلَى عَمَله إِلَّا الْمُرَابِط فَإِنَّهُ يُنَمَّى لَهُ عَمَله إِلَى يَوْم الْقِيَامَة

An-Nawawiy berkata, “Ini adalah kemuliaan yang nampak dari berjaga-jaga di jalan Allah, dan kemuliaan amalan-amalannya akan terus mengalir setelah ia mati, tidak akan terbagi-bagi sama sekali. Dan telah datang nash yang sharih dari selain riwayat Muslim : “Setiap mayit ditutup berdasarkan amalannya kecuali orang yang mati saat berjaga-jaga di jalan Allah, maka amalannya akan tetap mengalir hingga hari kiamat.” [Syarh Shahiih Muslim no. 2356].

Mati syahid adalah sesuatu yang sudah tentu diinginkan oleh setiap muslim yang beriman kepada Allah, semoga Allah tidak menghalangi kita dari tujuan yang mulia itu. Dan mengusahakan mati syahid di jalan Allah adalah sesuatu yang amat terpuji walaupun pada akhirnya ia ditakdirkan wafat di atas kasurnya. Seperti sahabat Khaalid bin Al-Waliid -radhiyallahu ‘anhu-, sahabat yang sungguh telah kita kenal bagaimana sepak terjang beliau di medan pertempuran memimpin kaum muslimin, namun di akhir hayatnya ternyata beliau Allah takdirkan wafat di atas pembaringannya, bukan karena sabetan pedang musuh.

Terakhir, izinkan kami untuk saling mengingatkan terutama kepada diri kami yang serba lemah ini, bahwa walaupun ada kebolehan untuk mengharapkan kematian, pada dasarnya yang lebih baik adalah tetap berusaha bersabar dan berikhtiar sambil tawakkal kepada Allah sesulit apapun keadaan kita dan kita dilarang untuk berputus asa dari rahmat dan pertolonganNya. Allah Ta’ala berfirman :

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal. [QS Ali ‘Imraan : 160]

Juga karena kebolehan mengharapkan kematian adalah pada hal-hal yang spesifik saja (seperti telah disebutkan diatas), sifatnya tidaklah umum. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita mengharapkan atau memohon kepada Allah agar diberikan taufiq dan umur yang bermanfaat serta dijauhkan dari hal-hal yang membuat kita lalai dari beribadah kepadaNya. Ingatlah saudaraku, jika Allah Ta’ala telah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, maka Allah akan memberikan taufiq kepadanya untuk melakukan amal shalih. Diriwayatkan oleh Al-Imaam Al-Haakim rahimahullah :

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ الْحَافِظُ ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى ، حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ ، حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ ، (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ هَانِئٍ ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَوَّارٍ ، حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ ، جَمِيعًا ، عَنْ حُمَيْدٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَالَ : فَقِيلَ : كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ ؟ قَالَ : يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdillaah Muhammad bin Ya’quub Al-Haafizh, telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Muhammad bin Yahyaa, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir, (dalam jalur periwayatan yang lain) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shaalih bin Haani’, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Sawwaar, telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ja’far, semuanya dari Humaid, dari Anas, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika Allah telah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Allah akan membuatnya beramal.” Ditanyakan, “Bagaimana membuatnya beramal?” Rasulullah bersabda, “Allah akan memberinya taufiq kepada amalan shaalih sebelum matinya.”
[Al-Mustadrak 1/339] – Al-Haakim berkata, “Hadits shahiih sesuai syarat Asy-Syaikhain namun keduanya tidak mengeluarkannya.” Disepakati Al-‘Ajluuniy dalam Kasyful Khafaa’ 1/80. Dan dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Takhriij Kitaabus Sunnah no. 397.

Allaahu a’lam.

Artikel ini dikembangkan dari sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s