Bolehkah Seorang Wanita Menyusui Anak di Hadapan Mahramnya?

Gambar

Permasalahan ini kembali kepada batas-batas aurat wanita yang boleh ditampakkan kepada mahramnya. Dalam hal ini, auratnya adalah seluruh tubuhnya kecuali yang biasa mereka nampakkan seperti wajah, rambut, leher, lengan dan kaki. Allah Ta’ala berfirman :

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung. [QS An-Nuur : 31]

Allah telah membolehkan seorang wanita untuk menampakkan perhiasannya kepada suaminya dan mahramnya. Yang dimaksud dengan perhiasan adalah tempat-tempat atau anggota tubuh dimana perhiasan itu dipakai. Seperti tempatnya cincin adalah pada jari tangan, gelang pada pergelangan tangan, anting pada telinga, kalung pada leher dan sekitar dada, dan gelang kaki pada betis.

Al-Baghawiy rahimahullah berkata :

قوله تعالى : ( ولا يبدين زينتهن ) أي لا يظهرن زينتهن لغير محرم ، وأراد بها الزينة الخفية ، وهما زينتان خفية وظاهرة ، فالخفية : مثل الخلخال ، والخضاب في الرِّجْل ، والسوار في المعصم ، والقرط والقلائد ، فلا يجوز لها إظهارها ، ولا للأجنبي النظر إليها ، والمراد من الزينة موضع الزينة ” انتهى

FirmanNya, “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya”, maksudnya adalah janganlah mereka menampakkan perhiasan kepada selain mahram mereka, dan perhiasan disini ditujukan kepada perhiasan yang tersembunyi. Ada dua jenis perhiasan yaitu perhiasan tersembunyi dan perhiasan terlihat. Perhiasan tersembunyi adalah semisal gelang kaki, henna pada kaki, gelang pada pergelangan, anting-anting dan kalung. Tidak boleh menampakkan mereka dan ajnabiy (non mahram) tidak boleh melihat mereka. Maksudnya adalah tempat (anggota tubuh) dimana perhiasan itu dipakai. Selesai. [Ma’aalim At-Tanziil 6/34]

Qataadah rahimahullah berkata :

لا يحل لإمرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تخرج يدها إلا إلى هاهنا

Tidak halal seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir mengeluarkan tangannya kecuali kepada yang ada disini (maksudnya adalah mahramnya, -pent). [Ad-Durrul Mantsuur 11/25]

Manshuur Al-Bahuutiy rahimahullah berkata :

ولرجل نظر وجه ورقبة ويد وقدم ورأس وساق ذات محارمه . قال القاضي على هذه الرواية : يباح ما يظهر غالبا كالرأس واليدين إلى المرفقين ” انتهى

Seorang laki-laki mungkin melihat wajah, leher, tangan, kaki, kepala dan betis mahramnya. Al-Qaadhiy berkata, berdasarkan riwayat ini maka dibolehkan ia melihat yang memang umum tampak (dari mahramnya) seperti kepala, kedua tangan hingga kedua siku mereka. Selesai. [Kasyaaf Al-Qanaa’ 5/11]

Mahram yang dimaksud disini bervariasi tergantung kepada faktor kedekatan dan terbebas dari fitnah. Oleh karena itu, seorang wanita memungkinkan menampakkan di hadapan ayahnya anggota tubuh yang mana ia diharuskan menutupinya di hadapan anak suaminya. Dalam ayat diatas, Allah menerangkan urutannya yaitu suami terlebih dulu baru kemudian mahram, dan Allah menyatakan bahwa mereka sama dalam hal melihat perhiasan mahramnya. Namun, status mereka bergantung kepada kebiasaan manusia (‘urf). Tidaklah diragukan bahwasanya menampakkan di depan ayahnya atau saudara kandungnya relatif akan lebih aman dibanding anak suaminya.

Jadi, dalam permasalahan menyusui anak di hadapan mahram, hendaknya seorang wanita menutupi payudaranya dengan selimut atau yang sejenis ketika sedang menyusui anaknya, sehingga ia akan tetap tertutup dan lebih terjaga serta lebih menjaga hati yang lainnya.

Allaahu a’lam.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s