Kisah Nabi Ibraahiim -‘Alaihissalaam- (1) : Kelahiran dan Awal Dakwah

Gambar

Nama dan nasabnya adalah Ibraahiim Khaliilurrahman (kekasih Ar-Rahman) bin Azar -dia adalah Taarikh- bin Naahuur bin Syaarugh bin Arghu bin Faaligh bin ‘Aabir bin Syaalikh bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuuh -‘Alaihissalaam- bin Lamka (atau Lamak) bin Mattuusyalah bin Khanuukh -dia adalah Idriis ‘Alaihissalaam- bin Yaarid bin Mahlaayiil bin Qainaan bin Anuusy bin Syiits bin Adam -‘Alaihissalaam-. Seperti inilah yang disebutkan Al-Haafizh Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh-nya.

قَرَأْتُ عَلَى أَبِي مُحَمَّد عَبْد الْكَرِيمِ بْن حَمْزَةَ، عَنْ أَبِي مُحَمَّد عَبْد الْعَزِيزِ بْن أَحْمَدَ، أنا تَمَّامُ بْنُ مُحَمَّد الرازي، أنا أَبُو الحارث أَحْمَد بن مُحَمَّد بن عمارة، نا أَبِي، نا مُحَمَّد بْن إِبْرَاهِيمَ، نا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، نا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ سَعِيد بن عَبْد الْعَزِيزِ، عَنْ مكحول، عَنِ ابْنِ عباس، أنه ولد إِبْرَاهِيم بغوطة دِمَشْق فِي قرية يقال لها: برزة فِي جبل يقال له: قاسيون
Aku membaca di hadapan Abu Muhammad ‘Abdul Kariim bin Hamzah, dari Abu Muhammad ‘Abdul ‘Aziiz bin Ahmad, telah memberitakan kepada kami Tammaam bin Muhammad Ar-Raaziy, telah memberitakan kepada kami Abul Haarits Ahmad bin Muhammad bin ‘Umaarah, telah mengkhabarkan kepada kami Ayahku, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ibraahiim, telah mengkhabarkan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari Sa’iid bin ‘Abdul ‘Aziiz, dari Makhuul, dari Ibnu ‘Abbaas, bahwa Nabi Ibraahiim dilahirkan di sebuah desa di wilayah Damaskus yang bernama Barzah yang terletak di atas gunung bernama Qaasiyuun. [Taariikh Dimasyq 6/164].

Al-Haafizh Ibnu ‘Asaakir (dan disetujui oleh Ibnu Katsiir) berkata bahwa yang shahih adalah beliau dilahirkan di Kautsiya, propinsi Baabil (Babilonia) di negeri ‘Iraaq. Dikatakan oleh para sejarawan dan para ahli hadits bahwa ketika usia Azar memasuki 75 tahun, dia dikaruniai Ibraahiim, Naahuur dan Haraan, kemudian Haraan dikaruniai anak bernama Luuth (yang kelak akan menjadi Nabi). Haraan telah wafat di tanah kelahirannya saat ayahnya masih hidup. Ibu Nabi Ibraahiim bernama Nuunaa binti Karnabaa bin Kautsiy dari keturunan Arfakhsyad bin Saam bin Nuuh, demikian disebutkan Ibnu ‘Asaakir dengan sanadnya hingga Imam Muhammad Al-Kalbiy [Taariikh Dimasyq 6/171].

Kuniyah Nabi Ibraahiim adalah Abu Adh-Dhiifaan seperti disebutkan dalam riwayat berikut :

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الرَّقِّيُّ، حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عِكْرِمَةَ، قَالَ: ” كَانَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلامُ يُدْعَى أَبَا الضِّيفَانِ
Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar Ar-Raqqiy, telah menceritakan kepada kami Qabiishah, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Ayahnya, dari ‘Ikrimah, ia berkata, “Ibraahiim ‘Alaihissalaam dipanggil dengan Abu Adh-Dhiifaan.” [Hilyatul Auliyaa’ 3/335]

Para sejarawan menyebutkan, kemudian Ibraahiim menikahi Sarah sementara Naahuur menikahi Malka, putri dari Haraan, artinya ia menikahi keponakannya sendiri. Sarah adalah seorang wanita yang mandul dan tidak bisa berketurunan. Selang beberapa waktu, Azar bersama Ibraahiim, Sarah dan cucunya (yaitu Luuth putra Haraan) berangkat dari Kaldaan menuju Kan’aan, setibanya mereka di negeri Haran, Azar meninggal dunia pada usia 250 tahun. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju negeri Kan’aan dimana didalamnya terletak Baitul Maqdis dan mereka menetap disana. Pada saat itu, masyarakat yang membangun kota Damaskus adalah penyembah tujuh planet dengan ritualnya yang menghadap kutub selatan sebagi kiblat mereka. Oleh karena itu pada setiap pintu kota Damaskus yang berjumlah tujuh terdapat simbol tujuh planet tersebut.

I. Awal Dakwah Nabi Ibraahiim Kepada Ayah dan Kaumnya

Nabi Ibraahiim adalah kekasih Allah Ar-Rahman, kepanjangan tanganNya dalam memberantas kesesatan dan kebathilan di muka bumi. Allah Ar-Rahman telah membingnya dari sejak kecil hingga beliau dewasa kemudian Allah memilihnya sebagai utusanNya kelak. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ
Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibraahiim hidayah kebenaran sebelumnya, dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. [QS Al-Anbiyaa’ : 51]

Allah memperlihatkan kepada Nabi Ibraahiim tanda-tanda kekuasaanNya di langit dan di bumi agar beliau termasuk kepada orang-orang yang yakin. Allah berfirman :

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ. فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ. فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ. فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُون
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibraahiim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibraahiim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Aku tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. [QS Al-An’aam : 75-78]

Dan setelah beliau mantap dengan ‘aqidah tauhid, beliau pun berdakwah mengemban risalah Tuhannya. Yang pertama-tama beliau dakwahi adalah ayahnya, Azar.

إِذْ قَالَ لأبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لا يَسْمَعُ وَلا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا. يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا. يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا. يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا
Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan”. [QS Maryam : 42-45]

Ini adalah perkataan yang sangat lembut dari seorang Nabi dan Rasul kepada keluarganya sendiri. Nabi Ibraahiim memberitahukan kepada sang ayah bahwa beliau telah diberi petunjuk dan bekal yang bermanfaat dari Tuhannya dan bahwa petunjuk tersebut khusus datang kepadanya, tidak kepada manusia di bumi pada zaman itu. Tatkala beliau menyampaikan nasehat ini maka Azar pun menentang dan mengancamnya.

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لأرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
Berkata ayahnya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibraahiim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama”. [QS Maryam : 46]

Perkataan Azar, tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama, dijawab oleh Nabi Ibraahiim :

قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا. وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا
Berkata Ibraahiim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. [QS Maryam : 47-48]

Ibnu ‘Abbaas dan sejumlah ulama ahli tafsir menafsirkan ayat diatas, maksudnya Allah Ta’ala sangat lembut kepadaku dengan memberiku petunjuk agar aku menyembah semata-mata untukNya. Nabi Ibraahiim memang telah memintakan ampun untuk ayahnya sebagaimana beliau janjikan, akan tetapi tatkala telah jelas baginya bahwa sang ayah adalah musuh Allah, beliau berlepas diri dari ayahnya. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأوَّاهٌ حَلِيمٌ
Dan permintaan ampun dari Ibraahiim (kepada Allah) untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibraahiim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, maka Ibraahiim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibraahiim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. [QS At-Taubah : 114]

Al-Imaam Al-Bukhaariy meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَلْقَى إِبْرَاهِيمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتَرَةٌ وَغَبَرَةٌ فَيَقُولُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ لَا تَعْصِنِي فَيَقُولُ أَبُوهُ فَالْيَوْمَ لَا أَعْصِيكَ فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ يَا رَبِّ إِنَّكَ وَعَدْتَنِي أَنْ لَا تُخْزِيَنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ فَأَيُّ خِزْيٍ أَخْزَى مِنْ أَبِي الْأَبْعَدِ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى إِنِّي حَرَّمْتُ الْجَنَّةَ عَلَى الْكَافِرِينَ ثُمَّ يُقَالُ يَا إِبْرَاهِيمُ مَا تَحْتَ رِجْلَيْكَ فَيَنْظُرُ فَإِذَا هُوَ بِذِيخٍ مُلْتَطِخٍ فَيُؤْخَذُ بِقَوَائِمِهِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ
Dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Nabi Ibraahiim ‘Alaihissalaam bertemu dengan ayahnya, Azar, pada hari kiamat. Ketika itu wajah Azar ada debu hitam, lalu Ibraahiim berkata kepada ayahnya, “Bukankah aku sudah katakan kepadamu agar tidak menentang aku?”. Ayahnya berkata, “Hari ini aku tidak akan menentangmu.” Kemudian Ibraahiim berkata, “Wahai Rabb, Engkau sudah berjanji kepadaku untuk tidak menghinakan aku pada hari kebangkitan. Lalu kehinaan apalagi yang lebih hina dari pada keberadaan ayahku yang jauh (dariku)?”. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku mengharamkan surga bagi orang-orang kafir.” Lalu dikatakan kepada Ibraahiim, “Wahai Ibraahiim, apa yang ada di kedua telapak kakimu?”. Maka Ibraahiim melihatnya yang ternyata ada seekor anjing hutan yang kotor. Maka anjing itu diambil kakinya lalu dibuang ke neraka.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 3350]

Kemudian dakwah Nabi Ibraahiim berlanjut kepada kaumnya, yaitu kaum negeri Baabil. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabadikan kisah perdebatan ini dalam beberapa ayat pada surat Al-Anbiyaa’. Allah Ta’ala berfirman :

إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ. قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ. قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ. قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاعِبِينَ. قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ. وَتَاللَّهِ لأكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ
(Ingatlah), ketika Ibraahiim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” Mereka menjawab: “Kami mendapati ayah-ayah kami menyembahnya”. Ibraahiim berkata: “Sesungguhnya kamu dan ayah-ayahmu berada dalam kesesatan yang nyata”. Mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” Ibraahiim berkata: “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. [QS Al-Anbiyaa’ : 52-57]

Kaum Baabil atau Babilonia adalah kaum penyembah berhala, mereka sangat tekun dalam peribadatan kepada berhala-berhala tersebut. Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa mereka mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka, suatu kesamaan dengan kaumnya para Nabi sebelum Nabi Ibraahiim bahwa sebetulnya kaum musyrikin tersebut tidak mempunyai hujjah yang jelas, mereka melakukan demikian hanya karena mengikuti kebiasaan pendahulu mereka. Hal inilah yang kemudian dibantah oleh Nabi Ibraahiim bahwa kaumnya berikut nenek moyang mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Beliau menyampaikan hujjah yang tak terbantahkan bahwa yang menciptakan kalian adalah Allah, Tuhan langit dan bumi, serta yang mengurusi keduanya, maka hanya Dialah yang berhak untuk kalian sembah tanpa ada sekutu bagiNya. Kemudian beliau bersumpah melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala tersebut, maksudnya untuk memberi bukti bahwa berhala-berhala tidak mempunyai kuasa atas diri mereka.

II. Nabi Ibraahiim Dibakar Hidup-hidup

Kaum Baabil pada waktu itu mempunyai perayaan di mana mereka berbondong-bondong menuju pusat kota setiap tahunnya. Azar mengundang Nabi Ibraahiim untuk datang, namun ditolak beliau dengan mengatakan “aku sakit” seperti difirmankan Allah dalam surat Ash-Shaaffaat ayat 88 dan 89. Beliau melakukan ini agar beliau bisa menghinakan berhala-berhala tersebut dan mengungkapkan kebatilan kaumnya.

فَرَاغَ إِلَى آلِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلا تَأْكُلُونَ. مَا لَكُمْ لا تَنْطِقُونَ. فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ
Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka, lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?” Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). [QS Ash-Shaaffaat : 91-93]

Berhala-berhala tersebut ditaruh di pelataran luas dan di hadapan mereka terdapat aneka macam makanan sebagai persembahan kepada berhala-berhala itu. Nabi Ibraahiim mengolok-olok dan menghinakan mereka, kenapa mereka tidak makan makanan yang sudah disediakan di hadapan mereka? Kenapa mereka tidak menjawab olok-olokan beliau? Ini adalah bukti nyata bahwa berhala-berhala itu tidak kuasa berbuat apa-apa bahkan ia tidak kuasa hanya sekedar makan. Kemudian beliau mengayunkan tangan kanannya kemudian memukulnya, maka berhala-berhala tersebut berjatuhan satu dengan yang lainnya lalu beliau hancurkan dengan kapak sehingga hancur berkeping-keping kecuali berhala induk yang terbesar.

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ
Maka Ibraahiim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. [QS Al-Anbiyaa’ : 58]

Sebuah riwayat mengatakan bahwa Nabi Ibraahiim meletakkan kapak di tangan berhala induk sebagai simbol bahwa dia marah dan cemburu ketika dia disekutukan dengan berhala-berhala yang kecil. Sekembalinya kaum Baabil, mereka melihat apa yang terjadi terhadap berhala-berhala mereka. Mereka marah seraya berkata,

قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ
Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang lalim”. [QS Al-Anbiyaa’ : 59]

Apa yang menimpa tuhan-tuhan mereka tersebut seharusnya membuat mereka berpikir karena jelas terlihat bahwa berhala-berhala itu tidak bisa menjaga diri mereka sendiri dari sesuatu yang membahayakannya, akan tetapi begitulah jika akal dan hati sudah tertutup oleh kesesatan.

قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ. قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ
Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibraahiim”. Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”. [QS Al-Anbiyaa’ : 60-61]

Inilah tujuan yang hendak dicapai oleh Nabi Ibraahiim yaitu semua manusia berkumpul dan beliau berada di hadapan mereka untuk menjelaskan kebatilan keadaan mereka diperkuat dengan hujjah yang begitu jelas, karena akan lebih mudah bagi beliau untuk menjelaskan dakwahnya apabila manusia berkumpul di satu tempat. Maka tatkala mereka semua berkumpul, dibawalah Nabi Ibraahiim ke tengah-tengah mereka, mereka bertanya kepada beliau,

قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ. قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ. فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ. ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلاءِ يَنْطِقُونَ. قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلا يَضُرُّكُمْ. أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ
Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibraahiim?” Ibraahiim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”, kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibraahiim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”. Ibraahiim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?” Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? [QS Al-Anbiyaa’ : 62-67]

Nabi Ibraahiim memberi hujjah yang kuat untuk mereka, silahkan bertanya kepada berhala induk yang terbesar jika memang ia dapat menjawab pertanyaan kalian. Maka kaumnya pun tertunduk dan kembali pada kesadaran mereka dengan mencaci maki diri mereka sendiri dan mereka menganggap bahwa mereka telah menganiaya diri mereka karena meninggalkan berhala-berhala itu tanpa ada yang menjaganya. Qataadah menafsirkan ayat ini bahwa kaum itu ditimpa kebingungan yang parah. Seketika itu Nabi Ibraahiim berkata bahwa berhala-berhala tersebut tidak memberi manfaat kepada kalian dan tidak pula memberi mudharat maka mengapa kalian masih menyembahnya? Kalian akan celaka bila kalian masih tidak memahaminya. Maksudnya adalah berhala-berhala ini juga makhluk yaitu yang diciptakan oleh manusia, maka mengapa manusia menyembah sesuatu yang diciptakannya dengan tangannya sendiri dan tidak bisa memberi manfaat maupun mudharat? Mengapakah manusia tidak menyembah Dzat yang Maha Hidup yang telah menciptakan alam semesta ini berikut isinya?

Kaumnya sadar bahwa mereka telah kalah, mereka berpaling dari adu argumen selanjutnya karena mereka merasa tidak ada lagi hujjah yang mendukung mereka. Oleh karena itu, mereka mulai menggunakan kekuatan fisik untuk mengalahkan Nabi Ibraahiim. Mereka bermaksud untuk membunuh beliau dengan cara membakarnya. Beginilah sifat orang kafir yang telah kalah berhujjah, mereka menggunakan kekerasan untuk membungkam kebenaran. Namun Allah Ta’ala tidak tinggal diam menghadapi muslihat mereka.

قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ. فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأسْفَلِينَ
Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibraahiim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”. Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. [QS Ash-Shaaffaat : 97-98]

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki suku Kurdiy bernama Hazan, dialah orang yang pertama kali membuat manjaniq (alat pelontar batu kuno). Alat inilah yang digunakan oleh kaum Baabil untuk melontarkan Nabi Ibraahiim ke dalam kobaran api yang mana sebelumnya mereka telah mempersiapkan suatu lubang besar yang diisi oleh kayu-kayu bakar, kemudian mereka pun menyulut apinya, maka terciptalah api raksasa yang sangat dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka segera mengikat Nabi Ibraahiim, menutup mata beliau dan menyumpal mulutnya. Nabi Ibraahiim sabar dan tabah menghadapi bahaya yang mengancam nyawanya ini, beliau hanya mengucapkan ‘Hasbunallaah wa ni’mal wakiil’. Diriwayatkan oleh Al-Imaam Al-Bukhaariy dari sahabat Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma-,

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا
إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Hasbunallaah wa ni’mal wakiil adalah ucapan Ibraahiim -‘Alaihissalaam- ketika dilemparkan ke dalam api. Juga diucapkan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika orang-orang kafir berkata, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu, karena itu takutlah kepada mereka!” Maka perkataan itu menambah keimanan mereka (kaum muslimin) dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 4563]

Maka, Allah Ta’ala berfirman :

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ. وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ
Kami berfirman: “Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibraahiim”. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibraahiim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. [QS Al-Anbiyaa’ : 69-70]

Diriwayatkan oleh Ibnu Jariir, bahwa Ibnu ‘Abbaas berkata, seandainya Allah tidak berfirman, “Dan menjadi keselamatanlah bagi Ibraahiim,” niscaya dia akan terganggu oleh dinginnya api itu. [Tafsiir Ath-Thabariy 17/44]. Adh-Dhahhaak berkata, “Diriwayatkan bahwa malaikat Jibriil ketika itu bersama Nabi Ibraahiim untuk menghilangkan keringat yang bercucuran dari wajahnya, dan api tidak mengenai Nabi Ibraahiim sedikitpun.” Ismaa’iil As-Suddiy berkata, “Bersama mereka ada malaikat yang membawa kerindangan. Jadilah Ibraahiim berada di lubang raksasa yang dikelilingi api namun sebenarnya ia berada dalam sebuah taman hijau sedangkan orang-orang hanya bisa melihatnya, mereka tidak dapat sampai kepadanya.”

Al-Haafizh Ibnu Abi Haatim meriwayatkan dari Al-Minhaal bin ‘Amr, ia berkata, “Aku diberitahu bahwa Ibraahiim tinggal disana (di lubang api) selama 40 atau 50 hari dan beliau berkata, “Tidak ada hari maupun malam dalam hidupku yang lebih indah daripada ketika aku berada disana. Bahkan aku menginginkan agar seluruh hidupku seperti ketika aku berada disana.” [Tafsiir Ibnu Abi Haatim no. 13678]

Demikianlah, Allah Ta’ala menyelamatkan kekasihNya dari makar dan tipu daya orang-orang kafir. Oleh karena itu, mereka akan memperoleh kerugian ganda di dunia dan di akhirat. Adapun di akhirat, api yang mereka buat itu tidak akan menjadi dingin dan aman bagi mereka, melainkan akan menjadi seburuk-buruknya pendamping yang akan membakar mereka. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. [QS Al-Furqaan : 66]

Al-Imaam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits dari Saa’ibah maula Al-Faakih bin Al-Mughiirah, bahwa ia bertanya kepada ‘Aaisyah -radhiyallahu ‘anha,
يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا تَصْنَعِينَ بِهَذَا الرُّمْحِ
“Wahai Ummul Mu’miniin, apa yang akan kau lakukan terhadap anak panah ini?” Maka ‘Aaisyah menjawab,
نَقْتُلُ بِهِ الْأَوْزَاغَ فَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَنَا أَنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ لَمْ تَكُنْ دَابَّةٌ إِلَّا تُطْفِئُ النَّارَ عَنْهُ غَيْرُ الْوَزَغِ فَإِنَّهُ كَانَ يَنْفُخُ عَلَيْهِ فَأَمَرَ عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَامُ بِقَتْلِهِ
“Kami membunuh cicak. Karena Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan kepada kami bahwa Ibraahiim ‘Alaihissalaam ketika dirinya dilemparkan ke dalam api, maka tidak ada seekor binatang melata pun kecuali mereka akan berusaha memadamkan api tersebut selain cicak, ia meniupkan api kepadanya sehingga beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuhnya.” [Musnad Ahmad no. 24013]

Al-Imaam Al-Bukhaariy meriwayatkan dari Sa’iid bin Al-Musayyib, dari Ummu Syariik Ghuzailah binti Daudaan -radhiyallahu ‘anha-, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh cicak, beliau bersabda :
كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام
“Dahulu cicak membantu meniup api kepada Nabi Ibraahiim ‘Alaihissalaam.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 3359]

Allaahu a’lam
(bersambung — Insya Allah)

Sumber : Al-Bidaayah wa An-Nihaayah karya Al-Haafizh Ibnu Katsiir, tahqiiq Syaikh Dr. ‘Abdullaah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy. Edisi Indonesia penerbit Pustaka Azzam -dengan penambahan dan pengurangan-.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s