Kisah Nabi Ibraahiim -‘Alaihissalaam- (3) : Hijrah ke Syaam dan Bertemu Dengan Fir’aun Mesir

Gambar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الأرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ. وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلا جَعَلْنَا صَالِحِينَ. وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
Dan Kami selamatkan Ibraahiim dan Luuth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibraahiim) Ishaaq dan Ya’quub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami lah mereka selalu menyembah. [QS Al-Anbiyaa’ : 71-73]

Nabi Ibraahiim dan para pengikutnya pun hijrah menuju jalan Allah. Ikut bersama beliau diantaranya ayahnya, istrinya Sarah, keponakannya Luuth bin Haraan bin Azar, saudara kandung beliau Nahuur bin Azar dan istrinya Malka. Luuth bin Haraan ‘Alaihissalaam juga seorang Nabi yang kemudian hari nanti Allah akan utus beliau kepada penduduk negeri Saduum, mengenai kisah beliau akan ada bagian tersendiri, dengan izin Allah Ta’ala. Nabi Ibraahiim keluar dari Baabil menuju sebuah negeri yang telah diberkahi Allah, dan negeri tersebut adalah negeri Syaam, demikianlah tafsir untuk ayat :
إِلَى الأرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ
Dan inilah pendapat ‘Ubay bin Ka’b, Abul ‘Aliyah, Qataadah dan mayoritas para ahli tafsir. Ka’b Al-Ahbar berpendapat bahwa negeri yang dimaksud adalah negeri Harraan. Kedua pendapat yang kelihatannya bertentangan ini bisa dijamak. Al-Haafizh Ibnu Katsiir menyebutkan bahwa Nabi Ibraahiim dan keluarganya keluar dari Baabil menuju ke Syaam setelah peristiwa perdebatan dengan Namruudz raja Baabil, dan di tengah-tengah perjalanan, beliau sempat singgah di negeri Harraan dan di tempat inilah wafat Azar, ayah beliau. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya kembali menuju Syaam. Seperti inilah yang mendekati kebenaran. Allaahu a’lam.

Setibanya di Syaam, beliau menuju sebuah wilayah bernama Tayammum. Wilayah ini pada waktu itu adalah wilayah yang dilanda bencana kelaparan dan kekeringan yang sangat parah. Beliau pun tidak tega melihat keadaan masyarakatnya, oleh karena itu beliau berangkat ke Mesir bersama Sarah guna mencari bantuan yang dapat digunakan untuk membantu masyarakat Tayammum. Di Mesir inilah, Nabi Ibraahiim akan menjumpai penguasa Mesir yaitu Fir’aun yang kemudian terjadilah sebuah peristiwa yang melibatkan Sarah.

Menurut sebagian ahli sejarah, Fir’aun namanya adalah Sinaan bin Alwaan bin ‘Ubaid bin ‘Uwaij bin Imlaaq bin Laud bin Saam bin Nuuh, sedangkan Ibnu Hisyaam menyebutkan dalam kitab At-Tijaan, bahwa Fir’aun yang menginginkan Sarah adalah ‘Amr bin Imri’ Al-Qais bin Mailun bin Sabaa’ yang merupakan penguasa Mesir.

Kisah Nabi Ibraahiim dan Sarah dengan Fir’aun terekam dalam kitab-kitab hadits mu’tabar ahlussunnah. Seperti diriwayatkan oleh Al-Imaam Muslim rahimahullah, beliau berkata :

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيمُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَام قَطُّ إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ ثِنْتَيْنِ فِي ذَاتِ اللَّهِ قَوْلُهُ
{ إِنِّي سَقِيمٌ }
وَقَوْلُهُ
{ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا }
وَوَاحِدَةٌ فِي شَأْنِ سَارَةَ فَإِنَّهُ قَدِمَ أَرْضَ جَبَّارٍ وَمَعَهُ سَارَةُ وَكَانَتْ أَحْسَنَ النَّاسِ فَقَالَ لَهَا إِنَّ هَذَا الْجَبَّارَ إِنْ يَعْلَمْ أَنَّكِ امْرَأَتِي يَغْلِبْنِي عَلَيْكِ فَإِنْ سَأَلَكِ فَأَخْبِرِيهِ أَنَّكِ أُخْتِي فَإِنَّكِ أُخْتِي فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي لَا أَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ مُسْلِمًا غَيْرِي وَغَيْرَكِ فَلَمَّا دَخَلَ أَرْضَهُ رَآهَا بَعْضُ أَهْلِ الْجَبَّارِ أَتَاهُ فَقَالَ لَهُ لَقَدْ قَدِمَ أَرْضَكَ امْرَأَةٌ لَا يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تَكُونَ إِلَّا لَكَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا فَأُتِيَ بِهَا فَقَامَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام إِلَى الصَّلَاةِ فَلَمَّا دَخَلَتْ عَلَيْهِ لَمْ يَتَمَالَكْ أَنْ بَسَطَ يَدَهُ إِلَيْهَا فَقُبِضَتْ يَدُهُ قَبْضَةً شَدِيدَةً فَقَالَ لَهَا ادْعِي اللَّهَ أَنْ يُطْلِقَ يَدِي وَلَا أَضُرُّكِ فَفَعَلَتْ فَعَادَ فَقُبِضَتْ أَشَدَّ مِنْ الْقَبْضَةِ الْأُولَى فَقَالَ لَهَا مِثْلَ ذَلِكَ فَفَعَلَتْ فَعَادَ فَقُبِضَتْ أَشَدَّ مِنْ الْقَبْضَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ فَقَالَ ادْعِي اللَّهَ أَنْ يُطْلِقَ يَدِي فَلَكِ اللَّهَ أَنْ لَا أَضُرَّكِ فَفَعَلَتْ وَأُطْلِقَتْ يَدُهُ وَدَعَا الَّذِي جَاءَ بِهَا فَقَالَ لَهُ إِنَّكَ إِنَّمَا أَتَيْتَنِي بِشَيْطَانٍ وَلَمْ تَأْتِنِي بِإِنْسَانٍ فَأَخْرِجْهَا مِنْ أَرْضِي وَأَعْطِهَا هَاجَرَ قَالَ فَأَقْبَلَتْ تَمْشِي فَلَمَّا رَآهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام انْصَرَفَ فَقَالَ لَهَا مَهْيَمْ قَالَتْ خَيْرًا كَفَّ اللَّهُ يَدَ الْفَاجِرِ وَأَخْدَمَ خَادِمًا
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَتِلْكَ أُمُّكُمْ يَا بَنِي مَاءِ السَّمَاء

Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thaahir, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullaah bin Wahb, telah mengkhabarkan kepadaku Jariir bin Haazim, dari Ayyuub As-Sakhtiyaaniy, dari Muhammad bin Siiriin, dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Nabi Ibraahiim ‘Alaihissalaam tidak pernah berdusta sama sekali, kecuali pada tiga hal. Dua kali dusta yang berkaitan dengan Dzat Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu ucapan Nabi Ibraahiim yang berbunyi, “Sesungguhnya Aku sakit (QS Ash-Shaaffaat : 89),” dan ucapannya yang berbunyi, “………tapi berhala yang paling besar itulah yang telah melakukannya (QS Al-Anbiyaa’ : 63),” serta dusta tentang Sarah yang ceritanya sebagai berikut.

Pada suatu ketika Nabi Ibraahiim ‘Alaihissalaam beserta istrinya yang cantik, Sarah, pergi ke suatu wilayah yang dikuasai oleh seorang penguasa yang kejam. Nabi Ibraahiim berkata kepada istrinya, “Wahai istriku, ketahuilah jika penguasa yang kejam itu tahu bahwa kau adalah istriku, tentu ia akan membunuhku dan merebutmu dariku. Oleh karena itu, jika ia bertanya kepadamu, maka katakanlah kepadanya bahwa kamu adalah saudara perempuanku, dan kamu memang saudara perempuanku seagama (sama-sama Islam) dan lagi pula di bumi ini tidak aku temui seorang muslim kecuali aku dan kau.” Maka ketika Nabi Ibraahiim dan Sarah memasuki wilayah penguasa yang kejam itu, seorang punggawa sang penguasa melihat Sarah, kemudian ia melaporkan hal itu kepada sang penguasa. “Wahai tuan raja, sesungguhnya aku melihat seorang wanita datang ke wilayah kekuasaan tuan dan sepertinya tidak ada seorang pun yang pantas memiliki wanita tersebut selain tuan.”

Akhirnya penguasa yang kejam itu mengutus para punggawa kerajaan untuk menemui Sarah sekaligus membawanya ke istana sang raja, sedangkan Nabi Ibraahiim segera melaksanakan shalat dan berdo’a kepada Allah memohon keselamatan istrinya Sarah. Tiba-tiba saja tangan penguasa itu terasa terbelenggu dengan kuat. Lalu penguasa itu memohon kepada Sarah seraya berkata, “Wahai wanita cantik, berdo’alah kepada Tuhanmu agar Dia membebaskan tanganku dan aku berjanji tidak akan berbuat tak pantas kepadamu.” Lalu Sarah pun berdo’a kepada Allah agar membebaskan tangan penguasa itu. Tetapi begitu terlepas, ternyata penguasa itu ingin menjamahnya lagi hingga tangannya terasa terbelenggu lebih kuat dari yang sebelumnya. Kemudian ia pun kembali memohon kepada Sarah untuk berdo’a seperti permohonan yang sebelumnya. Tetapi begitu terlepas, ternyata ia kembali ingin menjamah lagi hingga tangannya terasa terbelenggu lebih kuat lagi dari yang pertama dan yang kedua.

Lalu ia berkata kepada Sarah, “Wahai wanita cantik, berdo’alah kepada Tuhanmu agar Dia membebaskan tanganku dari belenggu ini. Demi Tuhan, aku berjanji tidak akan pernah lagi berbuat tak pantas kepadamu.” Kemudian Sarah pun berdo’a hingga tangan penguasa itu terbebas dari belenggu tersebut. Setelah itu, ia pun memanggil punggawanya yang telah membawa Sarah seraya berkata kepadanya, “Hai manusia, ketahuilah bahwa wanita yang kau bawa kepadaku itu adalah syetan dan bukan manusia. Oleh karena itu, bawalah ia keluar dari wilayah kekuasaanku dan berikanlah Hajar kepadanya sebagai pelayan.”

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lalu Sarah pergi dari istana sang penguasa itu dengan berjalan kaki. Ketika Nabi Ibraahiim melihatnya, maka ia pun langsung menyambut dan mendekati seraya bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Sarah menjawab, “Segala Puji Bagi Allah, aku baik-baik saja. Allah telah menghalangi tangan penguasa yang kejam itu untuk menjamahku dan ia pun memberiku seorang pelayan.”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Beliau (Hajar) itu adalah ibu kalian, wahai Bani Maa’is samaa’.”

[Shahiih Muslim no. 2372; Kitab Fadhiilah; Bab Keutamaan-keutamaan Nabi Ibraahiim Al-Khaliil ‘Alaihissalaam]

Ibnu Katsiir berkata, “Perkataan Nabi Ibraahiim kepada Sarah, “Di bumi ini tidak aku temui seorang muslim kecuali aku dan kau,” maknanya adalah tidak ada suami istri yang beriman kepada Allah kecuali dirimu dan diriku saja, karena pada saat itu Luuth bersama mereka dan ia pun juga seorang Nabi yang sudah pasti beriman kepada Allah Ta’ala.” Sementara yang dimaksud Bani Maa’is samaa’ adalah keseluruhan orang-orang ‘Arab, penasaban dan kemurnian mereka. Dikarenakan banyak dari mereka yang menjadi penggembala dan sumber penghidupan mereka ada di padang rumput dan bercocok tanam yang diberi air dari langit, oleh karena itu mereka dinamakan Bani Maa’is samaa’, demikian penjelasan Al-Imaam An-Nawawiy rahimahullah dalam Syarh Shahiih Muslim.

Kemudian Nabi Ibraahiim beserta Sarah kembali dari Mesir menuju wilayah Tayammum, yaitu ardh Al-Muqaddasah (tanah yang disucikan) yang dahulu mereka tempati, kali ini dengan membawa binatang-binatang ternak, para budak dan harta yang melimpah pemberian dari Fir’aun Mesir, dan diantara mereka ada Hajar Al-Qibthiyyah, budak hadiah dari Fir’aun Mesir. Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Ibraahiim dan memerintahkan beliau untuk meluaskan pandangannya dan melihat ke arah selatan, utara, timur dan barat dan memberi beliau kabar baik bahwa bumi dan seisinya akan diperuntukkan bagi beliau dan keturunan-keturunan beliau yang kelak akan menggantikannya hingga akhir masa. Berita gembira ini terhubung dengan umat Nabi Muhammad karena beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, seperti diriwayatkan Al-Imaam Muslim :

حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ كِلَاهُمَا عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ وَاللَّفْظُ لِقُتَيْبَةَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَيَّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا

Telah menceritakan kepada kami Abu Ar-Rabii’ Al-‘Atakiy dan Qutaibah bin Sa’iid, keduanya dari Hammaad bin Zaid dan lafazh ini adalah lafazh Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Hammaad, dari Ayyuub, dari Abu Qilaabah, dari Abu Asmaa’, dari Tsaubaan, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menghimpunkan bumi untukku lalu aku dapat melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku. Aku diberi dua harta simpanan yaitu merah dan putih, dan sesungguhnya aku meminta Rabbku untuk ummatku agar tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, agar Dia tidak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri lalu menyerang perkumpulan mereka, dan sesungguhnya Rabbku berfirman, “Hai Muhammad, sesungguhnya Aku bila menentukan takdir maka tidak bisa diubah, sesungguhnya Aku memberikan untuk umatmu agar tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, Aku tidak memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka meski mereka dikepung dari segala penjurunya hingga sebagaian dari mereka membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.”

[Shahiih Muslim no. 2891; Kitab Al-Fitan; Bab Kebinasaan Umat karena Saling Bermusuhan]

Allaahu a’lam
(bersambung — Insya Allah)

Sumber : Al-Bidaayah wa An-Nihaayah karya Al-Haafizh Ibnu Katsiir, tahqiiq Syaikh Dr. ‘Abdullaah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy. Edisi Indonesia penerbit Pustaka Azzam -dengan penambahan dan pengurangan-.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s