Mani, Madzi dan Hakam-hukumnya

Gambar

Sifat-sifat Mani dan Madzi

Pertama, mani laki-laki bersifat cairan pekat dan berwarna putih, sedangkan mani wanita bersifat encer dan berwarna kuning. Dari hadits Ummu Sulaim yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah :

حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ حَدَّثَهُمْ أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ حَدَّثَتْ
أَنَّهَا سَأَلَتْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمَرْأَةِ تَرَى فِي مَنَامِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَتْ ذَلِكِ الْمَرْأَةُ فَلْتَغْتَسِلْ فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ وَاسْتَحْيَيْتُ مِنْ ذَلِكَ قَالَتْ وَهَلْ يَكُونُ هَذَا فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَمِنْ أَيْنَ يَكُونُ الشَّبَهُ إِنَّ مَاءَ الرَّجُلِ غَلِيظٌ أَبْيَضُ وَمَاءَ الْمَرْأَةِ رَقِيقٌ أَصْفَرُ فَمِنْ أَيِّهِمَا عَلَا أَوْ سَبَقَ يَكُونُ مِنْهُ الشَّبَهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abbaas bin Al-Waliid, telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Zurai’, telah menceritakan kepada kami Sa’iid, dari Qataadah, bahwa Anas bin Maalik menceritakan haditsnya kepada mereka, bahwa Ummu Sulaim pernah bercerita bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenai wanita yang bermimpi dalam tidurnya sebagaimana mimpi seorang laki-laki, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika wanita bermimpi seperti itu maka ia wajib mandi.” Ummu Sulaim berkata, “Aku malu bertanya seperti itu.” Ummu Sulaim bertanya kepada Nabi, “Apakah wanita juga mengalaminya?” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya, darimanakah terjadinya kemiripan (jika bukan karena hal ini)? Sesungguhnya air mani laki-laki adalah pekat dan berwarna putih, sedangkan air mani wanita adalah encer dan berwarna kuning. Yang manapun dari salah satu antara keduanya yang mendominasi, maka dari situlah akan terjadi kemiripan.”
[Shahiih Muslim no. 363]

Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata :

هذا أصل عظيم في بيان صفة المني وهذه صفته في حال السلامة وفي الغالب ، قال العلماء : مني الرجل في حال الصحة أبيض ثخين يتدفق في خروجه دفقة بعد دفقة ويخرج بشهوة ويتلذذ بخروجه وإذا خرج استعقب خروجه فتور ورائحة كرائحة طَلْع النخل ورائحة الطلع قريبة من رائحة العجين
“Hadits ini merupakan ushul kaidah yang agung pada penjelasan shifat mani, dan shifat itulah yang berlaku dalam keadaan tenang dan normal. Telah berkata para ulama, mani seorang laki-laki dalam keadaan sehat berwarna putih, bersifat pekat (kental), memancar sedikit demi sedikit ketika dikeluarkan, ia keluar dengan syahwat dan dibarengi dengan rasa nikmat bersamaan dengan keluarnya. Jika telah dikeluarkan, maka akan terasa lemas dan beraroma seperti aroma serbuk sari atau lebih dekat kepada aroma tepung.” [Syarh Shahiih Muslim 3/222]

Jadi, dari sini dapat diketahui karakteristik air mani, terutama pada laki-laki :
1. Memancar dengan disertai dorongan syahwat, serta merasa lemas sesudahnya.
2. Aromanya seperti aroma serbuk sari atau tepung seperti telah dijelaskan.
3. Keluarnya dengan memancar sedikit demi sedikit.

Adapun pada wanita, karakteristiknya sama seperti laki-laki hanya saja ia tidak dikeluarkan dengan memancar karena perbedaan karakteristik alat kelamin.

Kedua, madzi adalah cairan berwarna putih bersifat lengket yang keluar ketika membayangkan jimaa’ atau ketika terlintas keinginan jimaa’. Ia keluar tidak disertai rasa syahwat, tidak memancar serta tidak disertai rasa lemas (sesudahnya). Keluarnya madzi bisa terjadi pada laki-laki dan wanita akan tetapi ia lebih banyak dialami wanita dibanding laki-laki, seperti inilah yang dijelaskan Imam An-Nawawiy pada Syarh Shahiih Muslim 3/213.

Konsekuensi Hukum Keluarnya Mani atau Madzi

Keluarnya air mani mewajibkan pelakunya untuk mandi janaabah baik keluarnya disebabkan karena melakukan jimaa’ atau sebab lainnya, atau karena ia bermimpi basah ketika tidurnya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا
Dan jika kamu junub maka mandilah. [QS Al-Maa’idah : 6]

Dan dari hadits Ummu Sulaim yang telah lewat.

Sedangkan madzi tidaklah mewajibkan untuk mandi janaabah, dan ia hanya wajib untuk berwudhu’, dalilnya adalah hadits ‘Aliy bin Abi Thaalib -radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Imam Al-Bukhaariy rahimahullah :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُنْذِرٍ الْثَّوْرِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ
كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ فَقَالَ فِيهِ الْوُضُوءُ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Daawud, dari Al-A’masy, dari Mundzir Ats-Tsauriy, dari Muhammad bin Al-Hanafiyyah, dari ‘Aliy bin Abi Thaalib, ia berkata, aku adalah seorang laki-laki yang mudah mengeluarkan madzi maka aku memerintahkan Al-Miqdaad bin Al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenai permasalahanku lalu ia pun menanyakannya kepada Nabi, Nabi bersabda, “Padanya (wajib) berwudhu’.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 132]

Imam Ibnu Qudaamah Al-Maqdisiy rahimahullah berkata :

قال ابن المنذر : أجمع أهل العلم على أن خروج الغائط من الدبر وخروج البول من ذكر الرجل وقُبل المرأة وخروج المذي وخروج الريح من الدبر أحداث ينقض كل واحد منها الطهارة
“Ibnul Mundzir berkata, “Ahli ilmu telah ijma’ bahwa keluarnya kotoran dari dubur, keluarnya air kencing dari kemaluan laki-laki dan wanita, keluarnya madzi dan keluarnya angin dari dubur adalah hadats, semuanya membatalkan wudhu’.” [Al-Mughniy 1/168]

Status Mani dan Madzi

Status mani adalah suci menurut pendapat yang paling rajih dari sekian pendapat para ulama. Dalilnya adalah dari hadits-hadits berikut :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ سَأَلْتُ سُلَيْمَانَ بْنَ يَسَارٍ عَنْ الْمَنِيِّ يُصِيبُ ثَوْبَ الرَّجُلِ أَيَغْسِلُهُ أَمْ يَغْسِلُ الثَّوْبَ فَقَالَ أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْسِلُ الْمَنِيَّ ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ فِي ذَلِكَ الثَّوْبِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى أَثَرِ الْغَسْلِ فِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr, dari ‘Amr bin Maimuun, ia berkata, aku pernah bertanya kepada Sulaimaan bin Yasaar tentang mani yang mengenai pakaian seorang laki-laki apakah ia harus mencuci bekasnya atau mencuci pakaiannya? Sulaimaan menjawab, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Aaisyah bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dahulu mencuci bekas mani kemudian beliau keluar menuju shalat dengan pakaian tersebut dan aku melihat bekas cuciannya pada pakaiannya.
[Shahiih Muslim no. 292]

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ هَمَّامِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ ضَافَ عَائِشَةَ ضَيْفٌ فَأَمَرَتْ لَهُ بِمِلْحَفَةٍ صَفْرَاءَ فَنَامَ فِيهَا فَاحْتَلَمَ فَاسْتَحْيَا أَنْ يُرْسِلَ بِهَا وَبِهَا أَثَرُ الِاحْتِلَامِ فَغَمَسَهَا فِي الْمَاءِ ثُمَّ أَرْسَلَ بِهَا فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ أَفْسَدَ عَلَيْنَا ثَوْبَنَا إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَفْرُكَهُ بِأَصَابِعِهِ وَرُبَّمَا فَرَكْتُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَصَابِعِي

Telah menceritakan kepada kami Hannaad, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’aawiyah, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim, dari Hammaam bin Al-Haarits, ia berkata, Seorang tamu datang ke rumah ‘Aaisyah, lalu ‘Aaisyah menyuruhnya tidur dengan selimut berwarna kuning, maka ia pun tidur dengan selimut tersebut. Tamu itu mimpi basah, dan ia malu untuk mengembalikan selimut tersebut karena di dalamnya terdapat bekas mani sehingga ia mencelupkannya ke dalam air, setelah itu ia mengembalikannya kepada ‘Aaisyah. Maka berkatalah ‘Aaisyah, “Kenapa ia merusak (membuat basah) kain kami? Padahal cukup baginya mengerik bekasnya dengan jari, aku pernah mengerik kain Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan jari-jariku.”
[Jaami’ At-Tirmidziy 1/35; Syaikh Al-Albaaniy menshahihkannya dalam Shahiih At-Tirmidziy no. 116]

Bahkan telah diriwayatkan bahwa beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam menggosok bekas mani dengan batang kayu dan yang sejenisnya. Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنَا مُعَاذٌ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْلُتُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِهِ بِعِرْقِ الْإِذْخِرِ ثُمَّ يُصَلِّي فِيهِ وَيَحُتُّهُ مِنْ ثَوْبِهِ يَابِسًا ثُمَّ يُصَلِّي فِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Mu’aadz, telah menceritakan kepada kami ‘Ikrimah bin ‘Ammaar, dari ‘Abdullaah bin ‘Ubaid bin ‘Umair, dari ‘Aaisyah, ia berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah menghilangkan bekas mani dari pakaiannya dengan menggunakan idzkhir, kemudian beliau shalat dengan mengenakannya dan beliau mengeriknya ketika bekas itu mengering kemudian beliau shalat dengan mengenakannya.”
[Musnad Ahmad no. 25527; Syaikh Al-Albaaniy menghasankannya dalam Al-Irwaa’ 1/197 dan Shahiih Al-Jaami’ no. 4953]

Sisi pendalilan hukumnya adalah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam membiarkan bekas mani tersebut, beliau hanya mengeriknya saja dan tidak dicuci. Jika mani najis niscaya beliau akan memerintahkan ‘Aaisyah untuk mencuci atau memerciki pakaian beliau yang terkena mani dengan air. Juga dari penjelasan ‘Aaisyah kepada tamunya, beliau -radhiyallahu ‘anha- menjelaskan bahwa cukup baginya untuk mengerik bekas mani yang ada di selimut/kain yang dipakai sang tamu dan tidak perlu mencelupkannya ke dalam air.

Sedangkan status madzi adalah najis berdasarkan hadits ‘Aliy bin Abi Thaalib yang telah disebutkan diatas, dan di sebagian riwayat ada tambahan :

ذَلِكَ مَاءُ الْفَحْلِ وَلِكُلِّ فَحْلٍ مَاءٌ فَلْيَغْسِلْ ذَكَرَهُ وَأُنْثَيَيْهِ وَلْيَتَوَضَّأْ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ
“Itu adalah air dari kemaluan dan setiap kemaluan memiliki air, maka basuhlah zakar dan kemaluannya kemudian berwudhu’ sebagaimana wudhu’ untuk shalat.” [Musnad Ahmad no. 1242]

Oleh karena itu jika seseorang mengeluarkan madzi, maka ia cukup membasuh zakar dan kemaluannya kemudian berwudhu’ sebagaimana biasa. Namun bagaimana bila madzi itu mengenai pakaiannya? Maka bekas terkena madzinya tersebut cukup diperciki dengan air. Dalilnya adalah hadits Sahl bin Hunaif berikut :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنِي ابْنَ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ عُبَيْدِ بْنِ السَّبَّاقِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ قَالَ
كُنْتُ أَلْقَى مِنْ الْمَذْيِ شِدَّةً وَكُنْتُ أُكْثِرُ مِنْ الِاغْتِسَالِ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّمَا يُجْزِيكَ مِنْ ذَلِكَ الْوُضُوءُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ بِمَا يُصِيبُ ثَوْبِي مِنْهُ قَالَ يَكْفِيكَ بِأَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَتَنْضَحَ بِهَا مِنْ ثَوْبِكَ حَيْثُ تَرَى أَنَّهُ أَصَابَهُ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil -yakni Ibnu Ibraahiim-, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaaq, telah menceritakan kepadaku Sa’iid bin ‘Ubaid bin As-Sabaaq, dari Ayahnya, dari Sahl bin Hunaif, ia berkata, aku adalah seorang yang sering mengeluarkan madzi maka aku sering mandi, kemudian aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenai hal itu, beliau bersabda, “Sesungguhnya cukup bagimu berwudhu’.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana dengan pakaianku yang terkena madzi tersebut?” Beliau bersabda, “Cukup kau ambil air sepenuh telapak tanganmu, lalu percikkan pada bagian pakaian yang terkena madzi.”
[Sunan Abu Daawud no. 210; Jaami’ At-Tirmidziy no. 115 dan Imam At-Tirmidziy berkata hasan shahiih. Syaikh Al-Albaaniy menghasankannya dalam Shahiih Abu Daawud]

Maka hadits ini menjadi dalil bahwa jika pakaian terkena madzi, ia cukup diperciki dengan air pada tempat yang terkena madzi, demikian dijelaskan oleh penulis Tuhfatul Ahwadziy 1/373.

Demikian yang bisa dituliskan, jika ada kekurangan mohon dimaafkan. Semoga bermanfaat.
Allaahu a’lam.

Sumber : islamqa (dengan sedikit penambahan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s