Shahiih : Kisah Maasyithah (tukang sisir) Putri Fir’aun dan Riwayat Hammaad bin Salamah dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib

sisir

Kisah ini masyhur beredar dan diceritakan dari mulut ke mulut diantara kaum muslimin. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahullah :

حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ الضَّرِيرُ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الَّتِي أُسْرِيَ بِي فِيهَا أَتَتْ عَلَيَّ رَائِحَةٌ طَيِّبَةٌ فَقُلْتُ يَا جِبْرِيلُ مَا هَذِهِ الرَّائِحَةُ الطَّيِّبَةُ فَقَالَ هَذِهِ رَائِحَةُ مَاشِطَةِ ابْنَةِ فِرْعَوْنَ وَأَوْلَادِهَا قَالَ قُلْتُ وَمَا شَأْنُهَا قَالَ بَيْنَا هِيَ تُمَشِّطُ ابْنَةَ فِرْعَوْنَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ سَقَطَتْ الْمِدْرَى مِنْ يَدَيْهَا فَقَالَتْ بِسْمِ اللَّهِ فَقَالَتْ لَهَا ابْنَةُ فِرْعَوْنَ أَبِي قَالَتْ لَا وَلَكِنْ رَبِّي وَرَبُّ أَبِيكِ اللَّهُ قَالَتْ أُخْبِرُهُ بِذَلِكَ قَالَتْ نَعَمْ فَأَخْبَرَتْهُ فَدَعَاهَا فَقَالَ يَا فُلَانَةُ وَإِنَّ لَكِ رَبًّا غَيْرِي قَالَتْ نَعَمْ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ فَأَمَرَ بِبَقَرَةٍ مِنْ نُحَاسٍ فَأُحْمِيَتْ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا أَنْ تُلْقَى هِيَ وَأَوْلَادُهَا فِيهَا قَالَتْ لَهُ إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً قَالَ وَمَا حَاجَتُكِ قَالَتْ أُحِبُّ أَنْ تَجْمَعَ عِظَامِي وَعِظَامَ وَلَدِي فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَتَدْفِنَنَا قَالَ ذَلِكَ لَكِ عَلَيْنَا مِنْ الْحَقِّ قَالَ فَأَمَرَ بِأَوْلَادِهَا فَأُلْقُوا بَيْنَ يَدَيْهَا وَاحِدًا وَاحِدًا إِلَى أَنْ انْتَهَى ذَلِكَ إِلَى صَبِيٍّ لَهَا مُرْضَعٍ وَكَأَنَّهَا تَقَاعَسَتْ مِنْ أَجْلِهِ قَالَ يَا أُمَّهْ اقْتَحِمِي فَإِنَّ عَذَابَ الدُّنْيَا أَهْوَنُ مِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ فَاقْتَحَمَتْ
قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ تَكَلَّمَ أَرْبَعَةٌ صِغَارٌ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَام وَصَاحِبُ جُرَيْجٍ وَشَاهِدُ يُوسُفَ وَابْنُ مَاشِطَةِ ابْنَةِ فِرْعَوْنَ

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Umar Adh-Dhariir[1], telah mengkhabarkan kepada kami Hammaad bin Salamah[2], dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib[3], dari Sa’iid bin Jubair[4], dari Ibnu ‘Abbaas[5], ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dimalam ketika aku di-Isra’kan, aku menghirup aroma yang sangat harum, aku lalu bertanya kepada Jibriil, “Wahai Jibriil, apakah aroma harum ini?” Jibriil menjawab, “Ini adalah aroma harumnya tukang sisir (maasyithah) putri Fir’aun dan anak-anaknya.” Aku bertanya kembali, “Ada apa dengannya?” Jibriil menjawab, “Suatu hari, ia sedang menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisirnya terjatuh dari tangannya, lalu ia mengucapkan, “Bismillah (dengan nama Allah),” maka putri Fir’aun berkata kepadanya, “Ayahku (maksudnya ayahnya adalah Tuhan).” Ia menjawab, “Tidak, akan tetapi Tuhanku dan Tuhan ayahmu adalah Allah.” Putri Fir’aun mengancam, “Aku akan memberitahukan ayahku tentang ucapanmu!” Maasyithah menjawab, “Ya.”

Maka putri Fir’aun memberitahukan kepada ayahnya, lalu Fir’aun memanggil tukang sisir tersebut seraya berkata, “Wahai fulaanah, apakah disisimu ada Tuhan selain diriku?” Maasyithah menjawab, “Ya, Tuhanmu dan Tuhanku adalah Allah.” Kemudian Fir’aun memerintahkan pengawalnya untuk mengambilkan patung sapi betina dari tembaga lalu dipanaskan, kemudian memerintahkan Maasyithah besarta anak-anaknya agar melompat ke dalamnya. Maasyithah berkata kepada Fir’aun, “Aku memiliki hajat kepadamu.” Fir’aun bertanya, “Dan apakah hajatmu itu?” Maasyithah menjawab, “Aku menyukai agar engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang anak-anakku di dalam sebuah kain lalu kau menguburnya.” Fir’aun berkata, “Itulah hakmu atas kami.”

Lalu Fir’aun memerintahkan agar melemparkan anak-anaknya di hadapannya satu demi satu, hingga akhirnya tinggallah anaknya yang masih menyusui, Maasyithah tampak resah karena anaknya tersebut, tapi anak itu berkata, “Wahai ibu, masuklah, sesungguhnya adzab di dunia lebih ringan daripada adzab di akhirat.” Maka Maasyithah pun masuk karenanya.”

Perawi berkata, Ibnu ‘Abbaas berkata, “Empat orang yang dapat berbicara ketika masih bayi, yaitu ‘Iisaa bin Maryam ‘Alaihissalaam, shaahibu Juraij, saksinya Yuusuf dan anak tukang sisir putri Fir’aun.”
[Musnad Ahmad no. 2817] – Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits ini dari 3 orang selain Abu ‘Umar, yaitu Al-Hasan bin Muusaa[6], ‘Affaan bin Muslim[7], dan Hudbah bin Khaalid[8], semuanya dari Hammaad bin Salamah dari ‘Athaa’ dan seterusnya. Redaksi dari Al-Hasan bin Muusaa menyebutkan matan yang semakna hingga perkataan, “Siapakah Tuhanmu? Dan dijawab, “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Dzat yang berada di langit,” dan tanpa menyebutkan perkataan Ibnu ‘Abbaas mengenai empat orang yang dapat berbicara ketika masih bayi.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibbaan (Shahiih Ibnu Hibbaan 7/164-165); Al-Haakim (Al-Mustadrak 2/495); Al-Bazzaar (Musnad Al-Bazzaar 11/277); Abu Ya’laa Al-Maushiliy (Musnad Abu Ya’laa no. 2517); Ath-Thabaraaniy (Mu’jam Al-Kabiir 11/451; Al-Ahaaditsu Ath-Thuwaal 1/114); Ad-Daarimiy (Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah no. 73); Al-Baihaqiy (Syu’abul ‘Iimaan no. 1634; Dalaa’il An-Nubuwwah 2/389); Ibnu ‘Asaakir (Taariikh Dimasyq 16/420); Ibnu Al-Bukhturiy (At-Taasi’ min Fawaa’id no. 144); Ibnul Jauziy (Al-Muntazham 1/346); Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy (Al-Mukhtarah no. 3623, 3624)

Letak permasalahan pada hadits ini berporos pada ikhtilath ‘Athaa’ bin As-Saa’ib.

Riwayat Hammaad bin Salamah dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib

Terjadi perbedaan pendapat seputar penyimakan Hammaad bin Salamah dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib, apakah setelah ikhtilath atau sebelumnya. Mereka yang berpendapat bahwa Hammaad bin Salamah mendengar dari ‘Athaa’ setelah ikhtilathnya berpegang pada pendapat Al-Haafizh Al-‘Uqailiy :

إنما يقبل من حديث عطاء ما روى عنه مثل شعبة وسفيان. فأما جرير وخالد بن عبد الله وإبن علية وعلي بن عاصم وحماد بن سلمة وأهل البصره فأحاديثهم عنه مما سمع منه بعد الإختلاط، لأنه إنما قدم عليهم في آخر عمره، فهؤلاء وأمثالهم ممن روى عنه بعد الإختلاط فلا يقبل حديثهم، وكذالك من روى عنه قبله أو بعده كأبي عوانة.
Yang benar pada penerimaan hadits ‘Athaa’ adalah apa yang diriwayatkan darinya semisal dari Syu’bah dan Sufyaan. Sedangkan Jariir, Khaalid bin ‘Abdillaah, Ibnu ‘Ulayyah, ‘Aliy bin ‘Aashim, Hammaad bin Salamah dan penduduk Bashrah, maka hadits-hadits mereka darinya adalah dari apa yang mereka dengar setelah ikhtilathnya, dikarenakan ‘Athaa’ datang kepada mereka (penduduk Bashrah) pada akhir umurnya, maka mereka dan yang semisalnya yang meriwayatkan darinya setelah ikhtilath adalah tidak diterima haditsnya. Dan seperti itulah yang meriwayatkan darinya sebelum atau sesudah ikhtilathnya seperti Abu ‘Awaanah. [Al-Mukhtalithiin no. 33, lihat ta’liq dari muhaqqiq kitab]

Dan perkataan ‘Abdul Haq Ibnul Qaththaan :

وكذلك جرير وخالد بن عبد الله وإبن علية وعلي بن عاصم وبالجملة أهل البصره، فإن أحاديثهم عنه مما سمع بعد الإختلاط، لأنه قدم عليهم في آخرة عمره
Dan seperti itulah Jariir, Khaalid bin ‘Abdillaah, Ibnu ‘Ulayyah dan ‘Aliy bin ‘Aashim bersama dengan sejumlah penduduk Bashrah, maka hadits-hadits mereka darinya adalah apa yang mereka dengar setelah ikhtilathnya, dikarenakan ‘Athaa’ datang kepada mereka pada akhir umurnya. [Al-Mukhtalithiin no. 33, lihat ta’liq dari muhaqqiq kitab]

Namun kedua pendapat ini dibantah dengan tegas oleh Al-Haafizh Abu ‘Abdillaah Muhammad bin Abu Bakr bin Al-Mawwaaq, beliau membantah Al-‘Uqailiy setelah menyebutkan bahwa Hammaad bin Salamah mendengar dari ‘Athaa’ setelah ikhtilathnya, Al-Haafizh Abu ‘Abdillaah Al-Mawwaaq berkata :

وقد غلط من قال أنه قدم في آخر عمره إلى البصره، وإنما قدم عليهم مرتين، فمن سمع منه في القدمة الأولى صح حديثه عنه
Dan sungguh telah salah orang yang berkata bahwa ia (‘Athaa’) datang ke Bashrah pada akhir umurnya, yang benar adalah ia datang (ke Bashrah) dua kali. Maka barangsiapa yang mendengar darinya pada kedatangannya yang pertama, haditsnya shahiih. [Al-Mukhtalithiin no. 33, lihat ta’liq dari muhaqqiq kitab]

Berkata Imam Ad-Daaruquthniy :

دخل عطاء البصرة مرتين، فسماع أيوب وحماد بن سلمة في رحلة الأولى صحيح
‘Athaa’ memasuki Bashrah dua kali, dan penyimakan Ayyuub (As-Sakhtiyaaniy) dan Hammaad bin Salamah (dari ‘Athaa’) pada rihlah (ke Bashrah) yang pertama adalah shahiih. [Al-Ightibaat no. 71, lihat ta’liq dari muhaqqiq kitab]

Berkata Imam Abu Daawud As-Sijistaaniy :

قال غير أحمد : قدم عطاء البصرة قدمتين فالقدمة الأولى سماعهم صحيح سمع منه في المقدمة الأولى حماد بن سلمه وحماد بن زيد وهشام الدستوائى والقدمة الثانية كان تغير فيها سمع منه وهيب وإسماعيل -يعنى بن علية- وعبد الوارث سماعهم منه فيه ضعف
Berkata selain Ahmad, “‘Athaa’ datang ke Bashrah sebanyak dua kali, maka penyimakan mereka pada kedatangan yang pertama adalah penyimakan yang shahiih, diantaranya Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid dan Hisyaam Ad-Dustuwaa’iy. Sedangkan pada kedatangan yang kedua ia telah berubah hapalannya, diantara yang menyimak darinya (pada kedatangan yang kedua ini) adalah Wuhaib, Ismaa’il -yakni Ibnu ‘Ulayyah-, dan ‘Abdul Waarits. Penyimakan mereka darinya terdapat kelemahan.” [Masaa’il Al-Imam Ahmad Riwayaatu Abu Daawud hal. 383 no. 1852, tahqiiq : Abu Mu’aadz Thaariq bin ‘Iwadhullah bin Muhammad]

Berkata Imam Ya’quub bin Sufyaan :

هو ثقة حجة وما روى عنه سفيان وشعبة وحماد بن سلمة سماع هؤلاء قديم، وكان عطاء تغير بأخرة
Dia tsiqah hujjah, dan apa yang diriwayatkan darinya yaitu dari Sufyaan, Syu’bah dan Hammaad bin Salamah penyimakan mereka adalah dari yang terdahulu. Dan ‘Athaa’ berubah hapalannya di akhir umurnya. [Al-Ightibaat no. 71, lihat ta’liq dari muhaqqiq kitab]

Berkata Imam Abu Ja’far Ath-Thahaawiy :

وإنما حديث عطاء الذي كان منه قبل تغيره يؤخذ من أربعة لا من سواهم، وهم شعبة وسفيان الثوري وحماد بن سلمة وحماد بن زيد
Hadiits ‘Athaa’ yang dapat diambil dari periwayatannya sebelum berubah adalah dari empat orang, tidak dari selain mereka, yaitu Syu’bah, Sufyaan Ats-Tsauriy, Hammaad bin Salamah dan Hammaad bin Zaid. [Al-Kawaakib An-Nairaat no. 39, lihat ta’liq dari muhaqqiq kitab]

Dan dalam kitab taariikh, Imam Yahyaa bin Ma’iin berkata, dalam riwayat ‘Abbaas Ad-Duuriy :

حديث سفيان وشعبة بن الحجاج وحماد بن سلمة عن عطاء بن السائب مستقيم، وحديث جرير بن عبد الحميد وأشباه جرير ليس بذاك، لتغير عطاء في آخر عمره
Hadiits Sufyaan, Syu’bah bin Al-Hajjaaj dan Hammaad bin Salamah dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib mustaqiim. Sedangkan hadiits Jariir bin ‘Abdul Hamiid dan yang semisal Jariir laisa bi dzaaka (setingkat dengan tidak ada apa-apanya, atau dha’iif), dengan berubahnya hapalan ‘Athaa’ pada akhir umurnya. [Yahyaa bin Ma’iin wa Kitaabihit Taariikh 2/403, tahqiiq : Dr. Ahmad Muhammad Nuur Saif; Lihat juga Al-Kaamil Ibnu ‘Adiy 7/72]

Juga dalam riwayat Abu Ishaaq Ibnul Junaid :

قال : وروى عن عطاء بن السائب؟ قال يحيى : إن جريرا وإبن فضيل وهؤلاء، سمعوا من عطاء بن السائب بآخرة. فقلت ليحيى : كان عطاء قد خلط؟ قال : نعم . وحماد بن سلمة سمع من عطاء بن السائب قديما قبل الإختلاط
(Abu Ishaaq) berkata, “Dan (Jariir) meriwayatkan dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib?” Yahyaa menjawab, “Sesungguhnya Jariir, Ibnu Fudhail dan mereka mendengarnya dari ‘Athaa’ di akhir umurnya. Aku bertanya kepada Yahyaa, “‘Athaa’ mengalami ikhtilath?” Yahyaa menjawab, “Ya, dan Hammaad bin Salamah mendengar dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib sebelum ikhtilathnya.” [Su’aalaat Ibnul Junaid li Yahyaa bin Ma’iin hal. 478 no. 837, tahqiiq : Dr. Ahmad Muhammad Nuur Saif]

‘Ala kulli haal, dari sekian khilaaf pendapat mengenai hal ini, kami memilih pendapat yang menshahihkan bahwa Hammaad bin Salamah mendengar dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib sebelum ikhtilathnya pada kedatangan ‘Athaa’ yang pertama kali ke Bashrah karena keterangan mengenainya lebih terperinci, lebih diperjelas dan banyak para ulama yang berpendapat dengannya seperti Yahyaa bin Ma’iin, Abu Daawud As-Sijistaaniy, Hamzah Al-Kattaaniy, Abu ‘Abdillaah Al-Mawwaaq, Ad-Daaruquthniy, Ya’quub bin Sufyaan, Ath-Thahawiy, dan lain-lain. Oleh karena itu, hadits ini shahih atau minimal hasan.[9]

– Imam Al-Haakim telah menshahihkan hadits ini, beliau berkata, “Hadits ini sanadnya shahiih tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhaariy dan Muslim,” dan disepakati oleh Al-Haafizh Adz-Dzahabiy dalam Talkhiish Al-Mustadrak 2/538.
– Al-Haafizh Adz-Dzahabiy sendiri menghasankannya dalam Al-‘Uluw no. 74 dan menyebutkannya dalam Taariikhul Islaam 1/270.
– Al-Haafizh Ibnu Katsiir dalam Tafsiir Al-Qur’anil ‘Azhiim 5/27 berkata, “Sanadnya laa ba’ sa biih (tidak mengapa dengannya).”
– Al-Haafizh Jalaaluddiin As-Suyuuthiy dalam Al-Khashaa’ish Al-Kubraa 1/160 menshahihkannya.
– Syaikh Ahmad Syaakir menshahihkannya dalam ta’liiq Musnad Ahmad 4/295, begitu pula Syaikh Syu’aib Al-Arna’uuth menghasankannya dalam takhriij Musnad Ahmad 5/30-31 no. 2821.
– Syaikh Dr. ‘Umar Sulaimaan Al-Asyqar menyebutkan hadits ini dalam karya beliau, Shahiihul Qishash, sebuah kitab yang mengumpulkan kisah-kisah shahih yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits-hadits Nabawiy.

Namun, Syaikh Al-Albaaniy mendha’ifkan hadits ini pada Silsilatu Adh-Dha’iifah no. 6400 dan Dha’iiful Jaami’ no. 4772, kemungkinan beliau berpegang pada pendapat bahwa Hammaad bin Salamah mendengar dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib sebelum dan sesudah ikhtilathnya[10], dan kisah diatas (menurut beliau) tidak bisa ditarjih apakah Hammaad bin Salamah mendengarnya dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib sebelum ataukah sesudah ikhtilathnya.

Wallaahu a’lam.

Footnotes :

[1] Hafsh bin ‘Umar, Abu ‘Umar Adh-Dhariir Al-Akbar Al-Bashriy. Seorang yang shaduuq ‘aalim, dikatakan ia terlahir dalam keadaan buta. Termasuk thabaqah ke-10. Wafat tahun 220 H. Dipakai oleh Abu Daawud. [Taqriibut Tahdziib no. 1421]

[2] Hammaad bin Salamah bin Diinaar, Abu Salamah Al-Khazzaaz Al-Bashriy. Seorang yang tsiqah ‘aabid, hapalannya sedikit berubah di akhir usianya. Orang yang paling tsabt pada periwayatan Tsaabit (bin Aslam Al-Bunaaniy). Termasuk thabaqah ke-8. Wafat tahun 167 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam At-Ta’aaliq, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Tahdziibul Kamaal no. 1482; Taqriibut Tahdziib no. 1499]

[3] ‘Athaa’ bin As-Saa’ib bin Maalik bin Zaid Ats-Tsaqafiy, Abu Muhammad atau Abu As-Saa’ib atau Abu Zaid Al-Kuufiy. Seorang yang shaduuq, mengalami ikhtilath (hapalannya bercampur baur) di akhir umurnya. Al-Bukhaariy berkata “hadits-hadits ‘Athaa’ yang terdahulu (sebelum ikhtilath) adalah shahiih”, Ahmad berkata “Barangsiapa mendengar hadits-haditsnya yang terdahulu maka ia shahiih, dan barangsiapa mendengar hadits-haditsnya yang terakhir maka ia tidak bernilai apa-apa”, Abu Haatim berkata “dia tempatnya kejujuran sebelum hapalannya bercampur baur”, An-Nasaa’iy berkata “tsiqah dalam haditsnya yang terdahulu, akan tetapi hapalannya berubah. Riwayat Syu’bah, Ats-Tsauriy dan Hammaad bin Zaid darinya adalah jayyid”, Ibnu Ma’iin berkata “dha’iif, kecuali riwayatnya yang datang dari Syu’bah dan Sufyaan (Ats-Tsauriy)”, Yahyaa bin Sa’iid berkata “Hammaad bin Zaid mendengar dari ‘Athaa’ sebelum hapalannya berubah”. Termasuk thabaqah ke-5. Wafat tahun 136 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy sebagai mutaba’ah, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Taqriibut Tahdziib no. 4592; Miizaanul I’tidaal 5/90]. Yang lebih tepat, ‘Athaa’ adalah seorang yang tsiqah lagi tsabt pada hadits-haditsnya yang terdahulu sebelum mengalami ikhtilath, seperti yang dikatakan Imam An-Nasaa’iy.

[4] Sa’iid bin Jubair bin Hisyaam Al-Asadiy, Abu Muhammad atau Abu ‘Abdillaah Al-Kuufiy. Murid Ibnu ‘Abbaas. Tsiqah tsabt faqiih. Termasuk thabaqah ke-3. Wafat tahun 95 H di tangan Al-Hajjaaj. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Taqriibut Tahdziib no. 2278]

[5] ‘Abdullaah bin Al-‘Abbaas bin ‘Abdul Muththalib bin Haasyim bin ‘Abd Manaaf Al-Qurasyiy, Abul ‘Abbaas Al-Haasyimiy Al-Madaniy. Sahabat dan sepupu Nabi yang mulia -radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma-, lautan ilmu, paling paham dalam tafsiir dan ilmu Al-Qur’an. Termasuk thabaqah ke-1. Wafat tahun 68 H di Thaa’if. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Taqriibut Tahdziib no. 3409]

[6] Al-Hasan bin Muusaa Al-Asyyab, Abu ‘Aliy Al-Baghdaadiy Al-Kuufiy. Qaadhiy daerah Thabaristan dan Maushul, seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-9. Wafat tahun 209 H atau 210 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Tahdziibul Kamaal no. 1277; Taqriibut Tahdziib no. 1288]

[7] ‘Affaan bin Muslim bin ‘Abdullaah Ash-Shaffaar, Abu ‘Utsmaan Al-Baahiliy Al-Bashriy. Seorang yang tsiqah tsabt. Termasuk thabaqah ke-10. Wafat tahun 217 H atau setelahnya. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Tahdziibul Kamaal no. 3964]

[8] Hudbah bin Khaalid bin Al-Aswad bin Hudbah Al-Qaisiy, Abu Khaalid Ats-Tsaubaaniy Al-Bashriy Al-Azdiy. Yahyaa bin Ma’iin berkata “tsiqah”, Abu Haatim berkata “shaduuq”, Ibnu ‘Adiy berkata “aku tidak mengetahui ada hal-hal yang diingkari dalam hadits-hadits yang diriwayatkannya, dan dia shaduuq laa ba’ sa bih”, Ibnu Hajar berkata “tsiqah ‘aabid, An-Nasaa’iy sendirian melemahkannya”. Termasuk thabaqah ke-9. Wafat sekitar tahun 230 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim dan Abu Daawud. [Tahdziibul Kamaal no. 6553; Tahdziibut Tahdziib no. 10053; Taqriibut Tahdziib no. 7269]

[9] Diantara contoh hadits shahih lain yang terdapat periwayatan Hammaad bin Salamah dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib adalah hadits berikut :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ عَنْ أَبِي رَزِينٍ عَنْ مُعَاذٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ قَالَ وَمَا هُوَ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib, dari Abu Raziin, dari Mu’aadz, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah engkau aku beritahukan salah satu pintu dari pintu-pintu surga?” Aku bertanya, “Dan apakah itu (wahai Rasul)?” Beliau bersabda, “(Ucapan) Laa haula wa laa quwwata illaa billaah (Tiada daya dan pertolongan kecuali dengan izin Allah).”
[Musnad Ahmad no. 21489]

Al-Haafizh Al-Haitsamiy berkata :

رجالها رجال الصحيح غير عطاء بن السائب وقد حدث عنه حماد بن سلمة قبل الاختلاط
Para perawinya adalah para perawi Ash-Shahiih selain ‘Athaa’ bin As-Saa’ib, dan sungguh Hammaad bin Salamah telah meriwayatkan darinya sebelum ikhtilath. [Majma’ Az-Zawaa’id 10/100]

Al-Haafizh Al-Buushiiry berkata :

هذا حديث صحيح وعطاء بن السائب إن إختلط بأخرة فإن حماد بن سلمة روى عنه قبل الإختلاط كما أوضحته في تبيين حال المختلطين
Ini adalah hadits yang shahih, dan ‘Athaa’ bin As-Saa’ib ikhtilath di akhir umurnya, akan tetapi Hammaad bin Salamah meriwayatkan darinya sebelum ikhtilath, sebagaimana hal ini telah dijelaskan pada keterangan keadaan para perawi yang mengalami ikhtilath (mukhtalith). [Ittihaaf Al-Khairah Al-Mahrah 8/372]

dan Al-Haafizh Al-Mundziriy berkata :

وإسناده صحيح إن شاء الله فإن عطاء بن السائب ثقة وقد حدث عنه حماد بن سلمة قبل اختلاطه
Isnadnya shahiih insya Allah dan ‘Athaa’ bin As-Saa’ib tsiqah. Dan Hammaad bin Salamah telah menceritakan darinya sebelum ikhtilathnya. [At-Targhiib wa At-Tarhiib 2/291]

[10] Seperti perkataan Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy :

فيحصل لنا من مجموع كلامهم أن سفيان الثوري وشعبة وزهيرا وزائدة وحماد بن زيد وأيوب عنه صحيح ومن عداهم يتوقف فيه الا حماد بن سلمة فاختلف قولهم والظاهر أنه سمع منه مرتين مرة مع أيوب كما يومي إليه كلام الدارقطني ومرة بعد ذلك لما دخل إليهم البصرة وسمع منه مع جرير وذويه والله أعلم
Seperti yang kami terima dari kumpulan perkataan mereka semua (para ulama hadits) bahwa (riwayat) Sufyaan Ats-Tsauriy, Syu’bah, Zuhair, Zaa’idah, Hammaad bin Zaid dan Ayyuub, darinya (‘Athaa’ bin As-Saa’ib) adalah shahih, dan dari selain mereka maka para ulama mendiamkannya (tawaqquf) kecuali Hammaad bin Salamah, para ulama ikhtilaf. Yang nampak bahwa ia (Hammaad) mendengar dari ‘Athaa’ dua kali, sekali dengan Ayyuub sebagaimana perkataan Ad-Daaruquthniy mengenainya, dan sekali setelah itu ketika ‘Athaa’ memasuki Bashrah kembali, dan (Hammaad) mendengar darinya bersama Jariir dan yang lainnya. Wallaahu a’lam. [Tahdziibut Tahdziib no. 6386].

NB : Keterangan mengenai ‘Athaa’ bin As-Saa’ib dapat dibaca pada Al-Mukhtalithiin karya Al-Haafizh Abu Sa’iid Al-‘Alaa’iy, Al-Ightibaat karya Al-Haafizh Burhaanuddiin Ibraahiim bin Muhammad bin Khaliil Al-Halabiy sibthu Ibnul ‘Ajamiy dan Al-Kawaakib An-Nairaat karya Al-Haafizh Ibnul Kayaal, berikut ta’liiq dari muhaqqiq kitab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s