Atsar-atsar Para Ulama Mengenai Ru’yatullah

399181_556904797657682_1754139929_n

Para ulama Salafus Shalih kemudian para ulama setelahnya yang setia mengikuti sunnah dan senantiasa menjadi rujukan umat Islam dari masa ke masa mengimani ru’yatullah dengan tanpa bertanya kaifiyahnya, dan mereka menentang paham-paham bid’ah yang bertentangan dengan ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang mana para ahli bid’ah tersebut menolak akan adanya ru’yatullah. Atsar-atsar dari mereka cukup banyak. Dengan seizin Allah dan kemudahan dariNya, kami akan paparkan sebagian disini :

1. ‘Abdurrahman bin Abi Lailaa (wafat 83 H)

حَدَّثَنَا يَحْيَى الْحِمَّانِيُّ، وَسُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالا: ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: “لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ” ، قَالَ: الْحُسْنَى: الْجَنَّةُ، وَالزِّيَادَةُ: النَّظَرُ إِلَى وَجْهِ اللَّهِ عز وجل لا يُصِيبُهُمُ بَعْدَ النَّظَرِ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ ”
Telah menceritakan kepada kami Yahyaa Al-Jimmaaniy dan Sulaimaan bin Harb, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Tsaabit, dari ‘Abdurrahman bin Abu Laila, mengenai firman Allah Ta’ala, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” [QS Yuunus : 26]. Ibnu Abi Laila berkata, “Pahala yang terbaik adalah Al-Jannah (surga), dan tambahannya adalah melihat kepada wajah Allah ‘Azza wa Jalla, tidaklah mereka dihalangi oleh debu dan tidak juga dibatasi setelah melihatNya.”
[Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah li Ad-Daarimiy no. 192]. Lihat juga As-Sunnah ‘Abdullaah bin Ahmad 1/244.

2. Qataadah bin Di’aamah As-Saduusiy (wafat 117 H)

حَدَّثَنَا بِشْرٌ، قَالَ: ثَنَا يَزِيدُ، قَالَ: ثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ، قَوْلَهُ: “لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ”. بَلَغَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ لَمَّا دَخَلُوا الْجَنَّةَ نَادَاهُمْ مُنَادٍ: إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمُ الْحُسْنَى، وَهِيَ الْجَنَّةُ، وَأَمَّا الزِّيَادَةُ: فَالنَّظَرُ إِلَى وَجْهِ الرَّحْمَنِ “. حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ: ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ ثَوْرٍ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ قَتَادَةَ، مِثْلَهُ
Telah menceritakan kepada kami Bisyr, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Yaziid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sa’iid, dari Qataadah, firmanNya, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” [QS Yuunus : 26]. Qataadah berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa orang-orang mu’min ketika akan memasuki surga, mereka diseru dengan sebuah suara, “Sesungguhnya Allah telah menyediakan pahala yang terbaik bagi kalian”, dan dia adalah Al-Jannah (surga), sedangkan ziyadah (tambahan) adalah melihat kepada wajah Ar-Rahman.”
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul A’laa, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Tsaur, dari Ma’mar, dari Qataadah yang semisalnya.
[Jaami’ul Bayaan 12/161]. Lihat juga Tafsiir ‘Abdurrazzaaq 2/294.

3. Al-Auzaa’iy (wafat 157 H), Sufyaan Ats-Tsauriy (wafat 161 H), Al-Laits bin Sa’d (wafat 175 H) dan Maalik bin Anas (wafat 179 H)

أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَحْمَدَ الْقَزْوِينِيُّ، قَالَ: ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مَنْصُورٍ الْقَطَّانُ، قَالَ: ثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ، قَالَ: ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي الْحَارِثِ، قَالَ: ثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ خَارِجَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ الْوَلِيدَ بْنَ مُسْلِمٍ، يَقُولُ: سَأَلْتُ الأَوْزَاعِيَّ وَسُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ، ومالك بن أنس، والليث بن سعد: عَنْ هَذِهِ الأَحَادِيثِ الَّتِي فِيهَا الرُّؤْيَةُ، فَقَالُوا: أَمِرُّوهَا بِلا كَيْفَ
Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ahmad Al-Qazwiiniy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Manshuur Al-Qaththaan, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Abu Haatim, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Abul Haarits, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Khaarijah, ia berkata, aku mendengar Al-Waliid bin Muslim mengatakan, “Aku telah bertanya kepada Al-Auzaa’iy, Sufyaan Ats-Tsauriy, Maalik bin Anas dan Al-Laits bin Sa’d mengenai hadits-hadits yang menyebutkan Ar-Ru’yah didalamnya, mereka semua berkata, “Perlakukanlah dengan tanpa (menanyakan) kaifiyahnya.”
[Syarh Ushuulil I’tiqaad Ahlussunnah wal Jamaa’ah Al-Laalikaa’iy no. 875, 930]. Lihat juga Mu’jam Ibnul Muqri’ hal. 111.

4. ‘Abdul ‘Aziiz bin Abu Salamah Al-Maajisyuun (wafat 164 H)

ذَكَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ، قَالَ: ثَنَا أَبِي، قَالَ: قَالَ أَبُو صَالِحٍ كَاتِبُ اللَّيْثِ، أَمْلَى عَلَيَّ عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ الْمَاجِشُونُ، وَسَأَلْتُهُ فِيمَا أَحْدَثَتِ الْجَهْمِيَّةُ، فَقَالَ: لَمْ يَزَلْ يُمْلِي لَهُمُ الشَّيْطَانُ حَتَّى جَحَدُوا قَوْلَهُ عز وجل “وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ { 22 } إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ { 23 }”، فَقَالُوا: لا يَرَاهُ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَجَحَدُوا، وَاللَّهِ أَفْضَلَ كَرَامَةِ اللَّهِ الَّتِي أَكْرَمَ بِهَا أَوْلِيَاءَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ
Disebutkan oleh ‘Abdurrahman bin Abu Haatim, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ayahku, ia berkata, Abu Shaalih sekretaris Al-Laits berkata, didiktekan kepada kami mengenai ‘Abdul ‘Aziiz bin Abu Salamah Al-Maajisyuun, ketika dia ditanya mengenai perkataan-perkataan Jahmiyyah, ‘Abdul ‘Aziiz Al-Maajisyuun berkata, “Syetan tetap membisikkan kepada mereka hingga mereka mengingkari firmanNya, “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Rabbnya mereka melihat.” [QS Al-Qiyaamah 22-23]. Mereka (para Jahmiyyah) berkata, “Tak seorangpun dapat melihatNya,” (‘Abdul ‘Aziiz berkata) Demi Allah, mereka telah mengingkari kemuliaan paling afdhal yang Allah berikan untuk memuliakan para walinya pada hari kiamat yaitu kemuliaan melihat kepada wajahNya.”
[Syarh Ushuulil I’tiqaad Ahlussunnah wal Jamaa’ah Al-Laalikaa’iy no. 873 – secara ringkas]. Lihat juga Al-‘Uluw hal. 142.

5. Muhammad bin Idriis Asy-Syaafi’iy (wafat 204 H)

حَدَّثَنَا ابْنُ الأَنْبَارِيِّ، قَالَ: ثنا أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ سَعِيدٍ الأَنْمَاطِيُّ صَاحِبُ الْمُزَنِيِّ، قَالَ: قَالَ لِي الشَّافِعِيُّ: “كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ” دَلالَةٌ عَلَى أَنَّ أَوْلِيَاءَهُ يَرَوْنَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَبْصَارِ وُجُوهِهِمْ
Telah menceritakan kepada kami Ibnul Anbaariy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Qaasim bin Sa’iid Al-Anmaathiy, sahabat Al-Muzaniy, ia berkata, Asy-Syaafi’iy berkata kepada kami (mengenai firman Allah), Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka [QS Al-Muthaffifiin : 15]. Berkata Asy-Syaafi’iy, “(Ini adalah) Dalil bahwa para waliNya akan melihatNya pada hari kiamat dengan penglihatan dari wajah mereka (maksudnya dari mata mereka).”
[Al-Ibaanah Al-Kubraa no. 1197]

6. Hisyaam bin ‘Ubaidillaah Ar-Raaziy (wafat 221 H)

ذَكَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، قَالَ: وَجَدْتُ فِي كِتَابٍ عِنْدَ أَبِي مِمَّا وَضَعَهُ هِشَامٌ فِي الرَّدِّ عَلَى الْجَهْمِيَّةِ، قَالَ هِشَامٌ: وَكَانَ فِيمَا سَأَلْتُمْ فِي كِتَابِكُمْ عَنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنَّهُمْ يَرَوْنَ رَبَّهُمْ، قَالَ هِشَامٌ: وَرَدَ عَلَيْنَا فِي تَفْسِيرِ الْقُرْآنِ وَمُحْكَمِ الْحَدِيْث أَنَّ اللَّهَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ يُرَى فِي الآخِرَةِ ثُمَّ ذَكَرَ الرِّوَايَاتِ فِي تَفْسِيرِ الْقُرْآنِ وَالأَخْبَارِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
Disebutkan oleh ‘Abdurrahman (Ibnu Abi Haatim), ia berkata, aku menemukan didalam sebuah kitab di sisi Ayahku yang mana terdapat Hisyaam dan bantahannya terhadap Jahmiyyah, berkata Hisyaam, “Ini adalah dari pertanyaan dalam kitab kalian mengenai penduduk surga bahwa mereka melihat Rabb mereka,” berkata Hisyaam, “Telah dikatakan kepada kami didalam tafsir Al-Qur’an dan hadits-hadits yang jelas bahwa Allah Jalla Tsanaa’uh dapat dilihat di akhirat.” Kemudian dia menyebutkan mengenai Ar-Ru’yah dalam tafsir Al-Qur’an dan khabar-khabar dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
[Syarh Ushuulil I’tiqaad Ahlussunnah wal Jamaa’ah Al-Laalikaa’iy no. 885]

7. Ishaaq bin Raahawaih (wafat 238 H)

وقد مضت السنة من رسول الله صلى الله عليه و سلم بأن أهل الجنة يرون ربهم وهو من أعظم نِعم أهل الجنة
Dan sungguh telah berlalu dalam sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa penduduk surga dapat melihat Rabb mereka, dan itu adalah karunia terbesar untuk penduduk surga.
[Musnad Ishaaq bin Raahawaih 3/672]

8. Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H)

وَحَدَّثَنَا أَبُو الْفَضْلِ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّنْدَلِيُّ، قَالَ: نا الْفَضْلُ بْنُ زِيَادٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ، وَبَلَغَهُ عَنْ رَجُلٍ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لا يُرَى فِي الآخِرَةِ، فَغَضِبَ غَضَبًا شَدِيدًا ثُمَّ قَالَ: ” مَنْ قَالَ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لا يُرَى فِي الآخِرَةِ فَقَدْ كَفَرَ، عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَغَضَبُهُ، مَنْ كَانَ مِنَ النَّاسِ، أَلَيْسَ اللَّهُ عز وجل قَالَ: “وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ { 22 } إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ { 23 }”، وَقَالَ تَعَالَى: “كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ”، هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ اللَّهَ تَعَالَى ”
Telah menceritakan kepada kami Abul Fadhl Ja’far bin Muhammad Ash-Shandaliy, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Fadhl bin Ziyaad, ia berkata, aku mendengar Abu ‘Abdillaah Ahmad bin Hanbal ketika disampaikan kepadanya mengenai seorang lelaki bahwa ia berkata, Allah Ta’ala tidak dapat dilihat di akhirat. Maka Ahmad menjadi sangat marah, kemudian ia berkata, “Barangsiapa berkata bahwa Allah Ta’ala tidak dapat dilihat di akhirat maka sungguh ia telah kafir, baginya la’nat Allah dan kemarahanNya siapapun orang tersebut, bukankah Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” [QS Al-Qiyaamah : 22-23], dan firmanNya Ta’ala, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” [QS Al-Muthaffifiin : 15]. Ini adalah dalil bahwa mu’min akan melihat Allah Ta’ala (di akhirat).”
[Asy-Syarii’ah li Al-Aajurriy no. 1874]

حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْبَغَوِيُّ، قَالَ: نا حَنْبَلُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ حَنْبَلٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ: ” قَالَتِ الْجَهْمِيَّةُ: إِنَّ اللَّهَ لا يُرَى فِي الآخِرَةِ، وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: “كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ” فَلا يَكُونُ هَذَا إِلا أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُرَى، وَقَالَ تَعَالَى: “وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ { 22 } إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ { 23 }” فَهَذَا النَّظَرُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَالأَحَادِيثُ الَّتِي رُوِيَتْ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : ” إِنَّكُمْ تَرَوْنَ رَبَّكُمْ ” بِرِوَايَةٍ صَحِيحَةٍ، وَأَسَانِيدَ غَيْرِ مَدْفُوعَةٍ، وَالْقُرْآنُ شَاهِدٌ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُرَى فِي الآخِرَةِ ”
Telah menceritakan kepada kami Abul Qaasim ‘Abdullaah bin Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziiz Al-Baghawiy, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Hanbal bin Ishaaq bin Hanbal, ia berkata, aku mendengar Abu ‘Abdillaah (Imam Ahmad) mengatakan, “Telah berkata Jahmiyyah, “Sesungguhnya Allah tidak dapat dilihat di akhirat,” Dan Allah Ta’ala berfirman, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” [QS Al-Muthaffifiin : 15]. Ini tidaklah membuktikan kecuali bahwa Allah Ta’ala dapat dilihat. Dan firmanNya Ta’ala, “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” [QS Al-Qiyaamah : 22-23]. Ini adalah (bukti bahwa mereka) melihat kepada Allah Ta’ala, sedangkan hadits-hadits ru’yah yang datang dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam (menyebutkan), “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian,” riwayatnya shahih dengan sanad-sanad yang kuat, dan Al-Qur’an adalah saksi bahwa Allah Ta’ala dapat dilihat di akhirat.”
[Asy-Syarii’ah li Al-Aajurriy no. 1875]

9. ‘Ubaidullaah bin ‘Abdul Kariim Ar-Raaziy (Abu Zur’ah) (wafat 264 H) dan Muhammad bin Idriis bin Al-Mundzir Ar-Raaziy (Abu Haatim) (wafat 277 H)

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبَشٍ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبِي وَأَبَا زُرْعَةَ عَنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي أُصُولِ الدِّينِ، وَمَا أَدْرَكَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ، وَمَا يَعْتَقِدَانِ مِنْ ذَلِكَ، فَقَالا: أَدْرَكْنَا الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ حِجَازًا وَعِرَاقًا وَشَامًا وَيَمَنًا فَكَانَ مِنْ مَذْهَبِهِمُ: “…….وَأَنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُرَى فِي الآخِرَةِ، يَرَاهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ بِأَبْصَارِهِمْ وَيَسْمَعُونَ كَلامَهُ كَيْفَ شَاءَ وَكَمَا شَاءَ
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Muzhaffar Al-Muqri’, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Muhammad bin Habasy Al-Muqri’, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdurrahman bin Abu Haatim, ia berkata, aku telah bertanya kepada Ayahku dan Abu Zur’ah mengenai madzhab ahlussunnah didalam ushuluddiin (pokok-pokok agama), dan juga mengenai pemahaman para ulama di berbagai negeri serta apa yang mereka yakini dari hal tersebut. Keduanya berkata, “Kami telah menjumpai ulama di berbagai negeri yaitu Hijaz, Iraq, Syam dan Yaman, dan madzhab mereka adalah, “……Bahwa sesungguhnya Dia Tabaraka wa Ta’ala dapat dilihat di akhirat. Penduduk surga dapat melihatNya dengan penglihatan mereka sendiri dan mereka akan mendengar kalamNya sebagaimana yang Dia kehendaki.”
[Syarh Ushuulil I’tiqaad Ahlussunnah wal Jamaa’ah Al-Laalikaa’iy no. 321 – secara ringkas]

10. Abu Sa’iid ‘Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimiy (wafat 280 H)

لِاجْتِمَاعِ الْكَلِمَةِ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمِنْ جَمِيعِ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ أَبْصَارَ أَهْلِ الدُّنْيَا لَا تُدْرِكُهُ فِي الدُّنْيَا. فَحِينَ حَدَّ اللَّهُ لِرُؤْيَتِهِ حَدًّا فِي الْآخِرَةِ بِقَوْلِهِ: “إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ” عَلِمْنَا أَنَّهَا رُؤْيَةُ عَيَانٍ، وَكَذَلِكَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حِينَ سَأَلَهُ أَبُو ذَرٍّ هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟ فَقَالَ: ” نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ؟ “، فَلَمَّا سَأَلَهُ أَصْحَابُهُ: ” أَنَرَاهُ فِي الْآخِرَةِ؟ قَالَ: نَعَمْ، كَرُؤْيَةِ الشَّمْسِ، وَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ”
Dengan mengumpulkan kalimat dari Allah dan RasulNya, dan dari kaum mu’minin, bahwa penglihatan penduduk dunia tidak bisa melihatNya di dunia. Maka ketika Allah menetapkan batasan untuk melihatNya di akhirat, dengan firmanNya, “Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” [QS Al-Qiyaamah : 23], kami mengetahui bahwasanya itu adalah melihat dengan mata. Dan seperti itulah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika Abu Dzar bertanya kepadanya, apakah engkau melihat Tuhanmu? Sabda Nabi, “Cahaya, bagaimana aku melihatNya?” Dan ketika para sahabat bertanya kepada beliau, apakah kami akan melihatNya di akhirat? Sabda beliau, “Ya, sebagaimana engkau melihat matahari, dan bulan pada malam bulan purnama.”
[Naqdh Ad-Daarimiy ‘Ala Bisyr Al-Mariisiy 2/281]

11. Abu Bakr bin Abi ‘Aashim (wafat 287 H)

ومما إتفاق أهل العلم على أن نسبوه إلى السنة : …….وإثبات رؤية الله عز وجل، يراه أولياؤه في الآخرة، نظر عيان، كما جاءت الأخبار
Dan dari yang telah disepakati oleh ahli ‘ilmu yang mereka menisbatkannya kepada As-Sunnah, “…….(diantaranya) Telah tetap ru’yatullah ‘Azza wa Jalla, para walinya akan dapat melihatnya di akhirat, melihat dengan mata, sebagaimana telah datang khabar-khabar (yang menyebutkannya).”
[As-Sunnah li Ibnu Abi ‘Aashim 2/1026-1027 – secara ringkas]

12. Abul ‘Abbaas Ahmad bin Yahyaa Ats-Tsa’lab (wafat 291 H)

سَمِعْتُ أَبَا عُمَرَ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الْوَاحِدِ صَاحِبَ اللُّغَةِ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا الْعَبَّاسِ أَحْمَدَ بْنَ يَحْيَى ثَعْلَبًا، يَقُولُ: فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: “وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا ، تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلامٌ” أَجْمَعَ أَهْلُ اللُّغَةِ أَنَّ اللِّقَاءَ هَاهُنَا لا يَكُونُ إِلا مُعَايَنَةً وَنَظَرًا بِالأَبْصَارِ
Aku mendengar Abu ‘Umar Muhammad bin ‘Abdul Waahid -ahli ilmu lughah- mengatakan, aku mendengar Abul ‘Abbaas Ahmad bin Yahyaa Ats-Tsa’lab mengatakan, “Mengenai firmanNya Ta’ala, “Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman, salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu’min) pada hari mereka menemuiNya ialah ‘salam’ [QS Al-Ahzab : 43-44],” Telah ijma’ para ulama lughah bahwa makna “pertemuan” disini tidak lain kecuali memandang dan melihat Allah dengan penglihatan.”
[Al-Ibaanah Al-Kubraa no. 1197]

13. Ibnu Jariir Ath-Thabariy (wafat 310 H)

وأن المؤمنين يرون ربهم يوم القيامة بأبصارهم، كما يرون الشمس ليس دونها غياية، وكما يرون القمر ليلة البدر؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم
Bahwa kaum mu’minin akan melihat Rabb mereka di hari kiamat dengan penglihatan mereka, sebagaimana mereka melihat matahari tanpa adanya awan, dan sebagaimana mereka melihat bulan pada malam bulan purnama, dengan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
[At-Tabshiir fiy Ma’aalim Ad-Diin li Ath-Thabariy hal. 137]

14. Abu Ja’far Ath-Thahaawiy (wafat 321 H)

والرؤية حق لأهل الجنة، بغير إحاطة ولا كيفية، كما نطق به كتاب ربنا : “وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ، إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ”. وتفسيره على ما أراده الله تعالى وعلمه
Dan Ar-Ru’yah adalah haq bagi penduduk surga, tanpa dijangkau (oleh akal) dan tanpa kaifiyah, seperti difirmankan didalam kitab Rabb kita, “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat [QS Al-Qiyaamah : 22-23],” dan tafsirnya sesuai dengan apa yang dikehendaki dan diketahui oleh Allah Ta’ala.
[Al-‘Aqiidah Ath-Thahaawiyah, matan no. 40]

15. ‘Umar bin Syaahiin (wafat 385 H)

وأشهد أن الله -عز وجل- يُرى يوم القيامة، ويتجلى لخلقه فيراه أهل السعادة، ويحتجب عن أهل الجحود
Dan aku bersaksi bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla dapat dilihat pada hari kiamat, dan Dia akan terlihat oleh makhlukNya sebagaimana penduduk surga akan melihatNya, dan Dia tidak akan terlihat oleh orang-orang kafir.
[Syarh Madzaahib Ahlussunnah li Ibnu Syaahiin hal. 319]

16. Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy Asy-Syaafi’iy (wafat 449 H)

ويشهد أهل السنة أن المؤمنين يرون ربهم – تبارك وتعالى- يوم القيامة بأبصارهم، وينظرون إليه، على ما ورد به الخبر الصحيح، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في قوله: ”إنكم ترون ربكم كما ترون القمر ليلة البدر.“ والتشبيه في هذا الخبر للرؤية بالرؤية لا للمرئي بالمرئي
Ahlussunnah bersaksi bahwasanya kaum mu’minin akan melihat Rabb mereka -Tabaraka wa Ta’ala- di hari kiamat dengan penglihatan mereka, dan memandangNya, sebagaimana dalam khabar yang shahih dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sabda beliau, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam bulan purnama.” Tasybiih (keserupaan) dalam hadits ini adalah pada cara melihat (yang tidak ada kesulitan) dan bukan bentuk yang dilihat (Allah dengan bulan purnama).
[‘Aqiidah As-Salaf wa Ashhaabul Hadiits li Ash-Shaabuuniy hal. 76]

Demikianlah atsar-atsar dari para ulama ahlussunnah wal jama’ah -rahimahumullah- yang dapat kami nukil dan kami rasa telah mencukupi, yang jika bukan karena keterbatasan waktu dan tempat, niscaya kami akan nukil semuanya. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan secara garis besar bahwa kaum muslimin dari zaman ke zaman beriman kepada ru’yatullah dan menetapkannya dengan tanpa mengetahui dan menanyakan kaifiyahnya, dan Allah hanya dapat dilihat di akhirat nanti dan tidak di dunia. Barangsiapa yang menolak atau mengingkari bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dengan pengingkaran yang jelas, maka sungguh dia telah kafir terhadap Al-Qur’an, Sunnah Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam serta ijma’ kaum muslimin.

Allaahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s