Ru’yatullah, ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah

full moon

Merupakan sesuatu yang telah qath’iy dalam ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat dilihat di akhirat nanti. Ini telah dikonfirmasi sendiri oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, melalui lisan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang ma’shum, juga melalui atsar-atsar salafus shalih yang mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala dapat dilihat di hari kiamat nanti, dan hal ini berarti bahwa jika ada seseorang atau kaum yang mengaku beriman kepada Allah Ta’ala dan RasulNya, kemudian ia mengingkari ru’yatullah dengan pengingkaran yang jelas, maka tidak syak lagi ia atau mereka telah terjatuh dalam kekafiran yang nyata karena ia telah mengingkari nash-nash Al-Qur’an, Sunnah, juga ia telah mengingkari ijma’ kaum muslimin.

Ru’yah berasal dari huruf Ra (ر), Hamzah (ء) dan Ya (ي) yang semuanya membentuk kata (رؤي), kata ini menunjukkan makna melihat dan penglihatan dengan kedua mata atau dengan bashirah (pikiran). [Mu’jam Maqayis li Ibnu Faaris 2/472]
Ru’yah dengan kedua mata berarti melihat kepada suatu objek, sedangkan ru’yah dengan makna ‘ilmu berarti melihat kepada dua objek.

Allah ‘Azza wa Jalla tidak dapat dilihat di dunia, hal ini dibuktikan ketika Nabi Muusaa ‘Alaihissalaam bermunajat kepada Allah kemudian beliau meminta untuk dapat melihat Allah, maka Allah berfirman kepada Muusaa bahwa ia tidak akan dapat melihatNya, seperti difirmankan oleh Allah Ta’ala :

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي
Dan tatkala Muusaa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Muusaa, “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat kepadaMu.” Allah berfirman, “Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihatKu, tapi lihatlah ke gunung itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu.” [QS Al-A’raaf : 143]

Dan firmanNya :

لا تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. [QS Al-An’aam : 103]

Dalil-dalil Al-Qur’an Mengenai Penetapan Ru’yatullah

1. Firman Allah Ta’ala :

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. [QS Yuunus : 26]

Yang dimaksud dengan “ziyadah” atau tambahannya disitu adalah melihat wajah Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung. Hal ini telah ditafsirkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang beliau adalah manusia yang paling mengerti firman Allah Ta’ala. Beliau bersabda :

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ
“Jika penduduk surga telah masuk ke surga, maka Allah berfirman, “Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian?” Mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” Beliau bersabda, “Lalu Allah membukakan hijab, lalu tidak ada lagi satu pun yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai mereka daripada anugrah (dapat) memandang Rabb mereka.”
[Shahiih Muslim no. 183]

2. Firman Allah Ta’ala :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. [QS Al-Qiyaamah : 22-23]

3. Firman Allah Ta’ala ketika memberitakan mengenai orang-orang kafir yang akan terhalang dariNya :

كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. [QS Al-Muthaffifiin : 15]

Hukum yang ditimbulkan dari ayat ini adalah orang-orang mu’min yang dicintai Allah akan dapat melihat Rabb mereka dan tidak akan terhalang dari hijab apapun. Adapun orang-orang kafir maka mereka akan terhalangi dari melihat Rabb.

4. Firman Allah Ta’ala :

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya. [QS Qaaf : 35]

Yang dimaksud dengan tambahan seperti dijelaskan diatas pada poin nomor 1.

Dalil-dalil Al-Hadits Mengenai Penetapan Ru’yatullah

1. Dari sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang telah disebutkan diatas, kemudian dari Jariir bin ‘Abdillaah Al-Bajaliy -radhiyallahu ‘anhu-, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhaariy :

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ قَيْسٍ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةً يَعْنِي الْبَدْرَ فَقَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا ثُمَّ قَرَأَ
{ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ }
قَالَ إِسْمَاعِيلُ افْعَلُوا لَا تَفُوتَنَّكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Al-Humaidiy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Marwaan bin Mu’aawiyah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil, dari Qais, dari Jariir bin ‘Abdillaah, ia berkata, kami pernah bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu melihat ke arah bulan purnama. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan untuk melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.” Beliau kemudian membaca ayat, “Dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya,” [QS Qaaf : 39]. Ismaa’iil berkata, “Kerjakanlah dan sekali-kali jangan sampai kalian melewatkannya (yaitu shalat Fajr dan shalat Ashar).”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 554]

2. Dari Abu Raziin Laqiith bin ‘Aamir Al-‘Uqailiy -radhiyallahu ‘anhu-, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Maajah :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ وَكِيعِ بْنِ حُدُسٍ عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِينٍ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَرَى اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَا آيَةُ ذَلِكَ فِي خَلْقِهِ قَالَ يَا أَبَا رَزِينٍ أَلَيْسَ كُلُّكُمْ يَرَى الْقَمَرَ مُخْلِيًا بِهِ قَالَ قُلْتُ بَلَى قَالَ فَاللَّهُ أَعْظَمُ وَذَلِكَ آيَةٌ فِي خَلْقِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Haaruun, telah memberitakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Ya’laa bin ‘Athaa’, dari Wakii’ bin Hudus, dari pamannya (yaitu) Abu Raziin, ia berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Allah pada hari kiamat? Dan apakah makhlukNya memiliki pertanda kekuasaanNya mengenai ini?” Beliau bersabda, “Wahai Abu Raziin, bukankah kalian melihat bulan dengan jelas?” Aku berkata, “Benar,” Beliau bersabda kembali, “Maka Allah lebih agung dan itu adalah pertanda kekuasaanNya bagi makhlukNya.”
[Sunan Ibnu Maajah no. 180; Syaikh Al-Albaaniy menghasankannya dalam Shahiih Ibnu Maajah no. 150]

3. Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, diriwayatkan oleh Imam Ahmad :

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا مُصْعَبُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَرَى رَبَّنَا عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ هَلْ تَرَوْنَ الشَّمْسَ بِنِصْفِ النَّهَارِ لَيْسَ فِي السَّمَاءِ سَحَابَةٌ قَالُوا نَعَمْ قَالَ هَلْ تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ فِي السَّمَاءِ سَحَابَةٌ قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرَوُنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ كَمَا لَا تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَتِهِمَا

Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, telah menceritakan kepada kami Mush’ab bin Muhammad bin Syurahbiil, dari Abu Shaalih As-Sammaan, dari Abu Hurairah, ia berkata, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Rabb kami ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat?” Beliau bersabda, “Apakah kalian dapat melihat matahari pada pertengahan siang yang tidak terdapat awan padanya?” Para sahabat berkata, “Ya, ” Beliau bersabda, “Apakah kalian dapat melihat bulan pada malam bulan purnama yang tidak terdapat awan padanya?” Para sahabat berkata, “Ya, ” Beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kalian benar-benar akan dapat melihat Allah ‘Azza wa Jalla dan kalian tidak akan kesulitan dalam melihatnya sebagaimana kalian tidak kesulitan ketika melihat keduanya (matahari dan bulan).”
[Musnad Ahmad no. 8815; Syaikh Al-Albaaniy menshahihkannya dalam Zhilaalul Jannah no. 443]

4. Dari ‘Abdullaah bin Qais -radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhaariy :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الْأَسْوَدِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ الْعَمِّيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Abul Aswad, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziiz bin ‘Abdush Shamad Al-‘Ammiy, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Imraan Al-Jauniy, dari Abu Bakr bin ‘Abdullaah bin Qais, dari Ayahnya, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada dua surga yang perabotnya dan segala isi di dalamnya terbuat dari perak, dan ada dua surga yang perabotnya dan segala isi di dalamnya terbuat dari emas. Tidak ada yang menghalangi suatu kaum untuk melihat Rabb mereka selain selendang keagungan di wajahNya pada surga ‘Adn.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 4878]

5. Dari Jaabir bin ‘Abdillaah Al-Anshaariy -radhiyallahu ‘anhuma- secara mauquuf yang mempunyai hukum marfuu’, diriwayatkan oleh Imam Muslim :

حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ كِلَاهُمَا عَنْ رَوْحٍ قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ الْقَيْسِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ
يُسْأَلُ عَنْ الْوُرُودِ فَقَالَ نَجِيءُ نَحْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَنْ كَذَا وَكَذَا انْظُرْ أَيْ ذَلِكَ فَوْقَ النَّاسِ قَالَ فَتُدْعَى الْأُمَمُ بِأَوْثَانِهَا وَمَا كَانَتْ تَعْبُدُ الْأَوَّلُ فَالْأَوَّلُ ثُمَّ يَأْتِينَا رَبُّنَا بَعْدَ ذَلِكَ فَيَقُولُ مَنْ تَنْظُرُونَ فَيَقُولُونَ نَنْظُرُ رَبَّنَا فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ حَتَّى نَنْظُرَ إِلَيْكَ فَيَتَجَلَّى لَهُمْ يَضْحَكُ قَالَ فَيَنْطَلِقُ بِهِمْ وَيَتَّبِعُونَهُ وَيُعْطَى كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ مُنَافِقٍ أَوْ مُؤْمِنٍ نُورًا ثُمَّ يَتَّبِعُونَهُ وَعَلَى جِسْرِ جَهَنَّمَ كَلَالِيبُ وَحَسَكٌ تَأْخُذُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يُطْفَأُ نُورُ الْمُنَافِقِينَ ثُمَّ يَنْجُو الْمُؤْمِنُونَ فَتَنْجُو أَوَّلُ زُمْرَةٍ وُجُوهُهُمْ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ سَبْعُونَ أَلْفًا لَا يُحَاسَبُونَ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ كَأَضْوَإِ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ ثُمَّ كَذَلِكَ ثُمَّ تَحِلُّ الشَّفَاعَةُ وَيَشْفَعُونَ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنْ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ شَعِيرَةً فَيُجْعَلُونَ بِفِنَاءِ الْجَنَّةِ وَيَجْعَلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ يَرُشُّونَ عَلَيْهِمْ الْمَاءَ حَتَّى يَنْبُتُوا نَبَاتَ الشَّيْءِ فِي السَّيْلِ وَيَذْهَبُ حُرَاقُهُ ثُمَّ يَسْأَلُ حَتَّى تُجْعَلَ لَهُ الدُّنْيَا وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهَا مَعَهَا

Telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullaah bin Sa’iid dan Ishaaq bin Manshuur, keduanya dari Rauh, ‘Ubaidullaah berkata, telah menceritakan kepada kami Rauh bin ‘Ubaadah Al-Qaisiy, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Abu Az-Zubair, bahwa ia mendengar Jaabir bin ‘Abdillaah ditanya mengenai kebangkitan di akhirat, maka dia menjawab, “Kita dibangkitkan pada Hari Kiamat dengan begini dan begini. Lihatlah! Apa itu di atas manusia? Lalu dipanggillah umat-umat dengan berhalanya, dan sesuatu yang mereka sembah dahulu secara berturutan. Setelah itu, Rabb kita datang kepada kita lalu berfirman, “Siapakah yang kalian tunggu?”, Maka mereka pun menjawab, “Kami menunggu Rabb kami.” Allah berfirman, “Akulah Rabb kalian.” Mereka berkata, “Sehingga kami melihatMu terlebih dulu,” Terlihatlah oleh mereka Rabb mereka tertawa.”

Jaabir melanjutkan, “Lalu Allah membawa mereka, dan mereka pun mengikutiNya. Setiap seorang di antara mereka baik munafik atau mu’min akan diberi cahaya. Kemudian mereka mengikuti cahaya tersebut melalui jembatan Neraka Jahannam. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan berduri yang merenggut siapa saja yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian cahaya orang-orang munafik padam, sedangkan orang-orang mu’min selamat. Selamatlah rombongan pertama yang terpancar pada wajah mereka bagaikan bulan purnama sejumlah tujuh puluh ribu orang tanpa dihisab. Kemudian orang-orang berikutnya seperti terangnya bintang-bintang di langit, kemudian demikianlah seterusnya. Kemudian syafa’at diizinkan. Mereka pun meminta syafa’at, sehingga mereka dapat keluar dari neraka, yaitu orang yang mengucapkan, ‘Laa Ilaaha Illallahu (Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah)’, dan dahulu di hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum. Mereka akan ditempatkan di halaman surga, lalu penjaga surga akan memercikkan mereka dengan air sehingga daging mereka tumbuh bagaikan tumbuhnya sesuatu tumbuhan selepas banjir, dan hilanglah hangusnya. Kemudian dia (orang terakhir meminta), sehingga diberikan kepadanya dunia dan sepuluh kali lipatnya.”
[Shahiih Muslim 3/47]

Insya Allah akan dilanjutkan dengan atsar ulama mengenai ru’yatullah, dengan kemudahan dari Allah Ta’ala.

Allaahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s