Berpuasa Ramadhan di Makkah Seratus Ribu kali Lebih Afdhal Dari Tempat Lain?

higher_standard

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Maajah rahimahullah :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُمَرَ الْعَدَنِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ زَيْدٍ الْعَمِّيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ بِمَكَّةَ فَصَامَ وَقَامَ مِنْهُ مَا تَيَسَّرَ لَهُ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ مِائَةَ أَلْفِ شَهْرِ رَمَضَانَ فِيمَا سِوَاهَا وَكَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ عِتْقَ رَقَبَةٍ وَكُلِّ لَيْلَةٍ عِتْقَ رَقَبَةٍ وَكُلِّ يَوْمٍ حُمْلَانَ فَرَسٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَفِي كُلِّ يَوْمٍ حَسَنَةً وَفِي كُلِّ لَيْلَةٍ حَسَنَةً

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu ‘Umar Al-‘Adaniy, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahiim bin Zaid Al-‘Ammiy, dari Ayahnya, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menjumpai bulan Ramadhan di Makkah kemudian ia berpuasa dan shalat malam didalamnya sesuai dengan yang dimudahkan untuknya, maka Allah akan mencatat untuknya bagai pahala seratus ribu kali bulan Ramadhan dan bulan selainnya, dan Allah akan mencatat setiap hari untuknya bagai pahala memerdekakan budak, dan setiap malamnya bagai pahala memerdekakan budak, dan setiap hari bagai menunggang kuda di jalan Allah, dan juga setiap hari satu kebaikan dan setiap malam satu kebaikan.”
[Sunan Ibnu Maajah no. 3117]

Sanad hadits ini bermasalah pada 2 tempat :

‘Abdurrahiim bin Zaid bin Al-Hawaariy Al-‘Ammiy, Abu Zaid Al-Bashriy. Matruukul hadiits. Telah berkata Ibnu Ma’iin dalam riwayat Ad-Duuriy “laisa bi syai'”, dalam riwayat lain Ibnu Ma’iin meninggalkannya, begitu pula Al-Bukhaariy, Al-Jauzajaaniy berkata “tidak tsiqah”, Abu Haatim berkata “ditinggalkan haditsnya, munkarul hadiits, dia merusak nama Ayahnya”, Abu Zur’ah berkata “waahin (lemah)”, An-Nasaa’iy berkata “matruukul hadiits”, pada riwayat lain ia berkata “tidak tsiqah dan tidak ma’muun, haditsnya tidak dicatat”, Adz-Dzahabiy berkata “ahadul matruukiin”, Ibnu Hajar berkata “matruuk, didustakan oleh Ibnu Ma’iin.” [Tahdziibul Kamaal no. 3406; Adh-Dhu’afaa’ Al-‘Uqailiy no. 1047; Al-Kaamil 6/493; Miizaanul I’tidaal 4/336; As-Siyar 8/358; Taqriibut Tahdziib no. 4055]

Ayah ‘Abdurrahiim, Zaid bin Al-Hawaariy Murrah Al-‘Ammiy, Abul Hawaariy Al-Bashriy Al-Qaadhiy. Qaadhiy kota Harraah. Ahmad berkata “shaalih, dia berada diatas Zaid Ar-Raqqaasyiy dan Fadhl bin ‘Iisaa”, Ibnu Ma’iin dalam suatu riwayat berkata “shaalih”, dalam riwayat lain “laa syai'”, dalam riwayat lain “dicatat haditsnya dan dia dha’iif”, Abu Daawud berkata “tidaklah aku mendengar kecuali kebaikannya”, Abu Haatim berkata “dha’iif, dicatat haditsnya namun tidak dijadikan hujjah”, Abu Zur’ah berkata “laisa bi qawiy”, Abu Bakr Al-Bazzaar berkata “shaalih, orang-orang meriwayatkan darinya”, Ibnu Hibbaan berkata “meriwayatkan hal-hal maudhuu’ dari Anas, khabar-khabarnya tidak dijadikan hujjah dan tidak dicatat kecuali dengan i’tibar (penguat)”, Al-Hasan bin Sufyaan berkata “tsiqah”, Ibnu Hajar berkata “dha’iif”. [Tahdziibut Tahdziib no. 2746; Taqriibut Tahdziib no. 2131; Al-Majruuhiin 1/309]

Hadits ini adalah dha’if jiddan. Akan tetapi ia memiliki syaahid dari jalan Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, seperti dikatakan Al-Haafizh Al-Buushiiriy rahimahullah dalam Ittihaaf Al-Khairah 3/406, diriwayatkan Al-Imam Al-Bazzaar rahimahullah :

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ابْنُ ابْنَةِ حَمَّادِ بِنْ مَسْعَدَةَ، نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نَافِعٍ، نا عَاصِمُ بْنُ عُمَرَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: رَمَضَانُ بِمَكَّةَ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ رَمَضَانَ بِغَيْرِ مَكَّةَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Abdirrahman -putra anak perempuan Hammaad bin Mas’adah, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullaah bin Naafi’, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aashim bin ‘Umar, dari ‘Abdullaah bin Diinaar, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “(Puasa) Ramadhan di Makkah lebih afdhal dari seribu (puasa) Ramadhan di tempat selain Makkah.”
[Musnad Al-Bazzaar no. 6144; Kasyful Astaar no. 963]

Al-Haafizh Abul Hasan Al-Haitsamiy rahimahullah berkata :

يخطئ ويخالف فيه عاصم بن عمر ضعفه الأئمة أحمد وغيره ووثقه ابن حبان وقال‏‏
Didalamnya ada ‘Aashim bin ‘Umar, didha’ifkan oleh para imam yaitu Ahmad dan selainnya, ditsiqahkan oleh Ibnu Hibbaan dan dia berkata, memiliki beberapa kesalahan dan penyelisihan. [Majma’ Az-Zawaa’id 3/148]

‘Aashim bin ‘Umar bin Hafsh bin ‘Aashim bin ‘Umar bin Al-Khaththaab Al-‘Umariy, Abu ‘Umar atau Abu Bakr Al-Madaniy Al-Qurasyiy. Saudara ‘Ubaidullaah bin ‘Umar Al-‘Umariy. Disepakati akan kedha’ifannya, Al-Bukhaariy menjarhnya dengan keras “munkarul hadiits”, begitu pula An-Nasaa’iy “matruukul hadiits”. [Tahdziibul Kamaal no. 3017]

‘Amr bin ‘Abdurrahman, majhuul haal.

Syaahid ini pun dha’if dan tidak bisa dijadikan penguat. Walhasil hadits pertama tetap dalam kelemahannya yang parah dan tidak bisa dijadikan hujjah. Bahkan Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah menggolongkannya hadits palsu dalam Silsilatu Adh-Dha’iifah no. 832.

Syaikh Al-‘Allaamah ‘Abdul ‘Aziiz bin Baaz ditanya :

صوم رمضان في مكة يعدل صيام ألف شهر فيما سواه، هل هذا حديث صحيح؟
Berpuasa Ramadhan di Makkah sama dengan berpuasa seribu bulan di tempat lain. Apakah hadits ini shahih?

Jawaban beliau rahimahullah :

الحمد لله
“ليس بصحيح، فقد ورد حديث ضعيف لا يصح، إنما الثابت في الصلاة فقط، الصلاة في المسجد الحرام بمائة ألف صلاة فيما سواه، وفي مسجد النبي صلى الله عليه وسلم خير من ألف صلاة فيما سواه، وأما الصوم فلم يثبت فيه شيء، سوى حديث ضعيف، أنه خير من مائة ألف فيما سواه، لكنه ضعيف، لكن الأعمال الصالحة لها فضل في مكة، الصوم والصدقة والأذكار وغير هذا من الأعمال الصالحة لها فضل، لكن ليس هناك دليل على بيان المضاعفة لكميتها ما عدا الصلاة” انتهى.
“Bukan hadits shahih, dan sesungguhnya telah dinyatakan bahwa ia dha’if, tidak shahih. Yang benar, telah tsabit bahwa (yang dimaksud) hanyalah shalat. Shalat di Masjidil Haraam seratus ribu kali (lebih utama) dari shalat di tempat selainnya, dan di masjid Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam seribu kali lebih baik dari shalat di tempat selainnya. Sedangkan untuk puasa, tidak tsabit sedikitpun terkecuali hadits dha’if bahwasanya puasa (di Makkah) seratus ribu kali lebih baik dari puasa di tempat lain, tetapi hadits ini dha’if. Walaupun begitu, amal-amal shalih yang dilakukannya di Makkah tetap mempunyai keutamaan, seperti puasa, sedekah, dzikir dan selain itu, ia termasuk amalan-amalan shalih yang utama. Hanya saja tidak ada dalil yang menunjukkan dilipatgandakan pahalanya dalam jumlah sekian terkecuali ibadah shalat.” Selesai.
[Majmuu’ Fataawaa Ibnu Baaz 25/211] – Dengan perantaraan Islamway

Allaahu a’lam.

One thought on “Berpuasa Ramadhan di Makkah Seratus Ribu kali Lebih Afdhal Dari Tempat Lain?

  1. Pingback: Hadits-hadits Tidak Shahih yang Laris Selama Ramadhan | Al-Muhandisu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s