Hukum “Duduk Istirahat” dalam Shalat Tarawih

restarea

Dalil yang mendasari hal ini adalah hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy rahimahullah :

أنبأ أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذْبَارِيُّ بِطُوسَ، أنبأ أَبُو طَاهِرٍ مُحَمَّدَ آبَادِيُّ، ثنا السَّرِيُّ بْنُ خُزَيْمَةَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ بِشْرٍ الْكُوفِيُّ، ثنا الْمُعَافَى بْنُ عِمْرَانَ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ زِيَادٍ الْمَوْصِلِيِّ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي اللَّيْلِ، ثُمَّ يَتَرَوَّحُ، فَأَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ، فَقُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ، وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، قَالَ: ” أَفَلا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا؟ “

Telah memberitakan Abu ‘Aliy Ar-Ruudzbaariy di kota Thuus, telah memberitakan Abu Thaahir Muhammad Aabaadiy, telah menceritakan kepada kami As-Sariy bin Khuzaimah, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Bisyr Al-Kuufiy, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’aafaa bin ‘Imraan, dari Al-Mughiirah bin Ziyaad Al-Maushiliy, dari ‘Athaa’, dari ‘Aaisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat empat raka’at pada malam hari, kemudian beliau beristirahat, dengan istirahat yang panjang hingga aku kasihan kepada beliau, aku berkata, “Demi ayahku dan kau, juga ibuku wahai Rasulullah, sungguh Allah telah mengampuni dirimu pada dosa-dosamu yang terdahulu dan pada dosa-dosamu yang akan datang,” Beliau bersabda, “Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[Sunan Al-Kubraa 2/497]

Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy (Hilyatul Auliyaa’ 8/320).

Al-Imam Al-Baihaqiy berkata :

تَفَرَّدَ بِهِ الْمُغِيرَةُ بْنُ زِيَادٍ، وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ، وَقَوْلُهُ: ثُمَّ يَتَرَوَّحُ إِنْ ثَبَتَ فَهُوَ أَصْلٌ فِي تَرَوُّحِ الإِمَامِ فِي صَلاةِ التَّرَاوِيحِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Al-Mughiirah bin Ziyaad[1] bersendirian didalamnya, dan dia tidak kuat (laisa bil qawiy). Dan perkataannya (‘Aaisyah), “kemudian beliau beristirahat,” bahwa telah tetap hal ini asalnya pada istirahatnya imam saat shalat tarawih. Wallaahu a’lam.

Pada hadits ini terdapat perbincangan didalamnya[2], dan yang rajih adalah hadits ini tidak kuat untuk dijadikan hujjah. Walaupun begitu, terjadi khilaf pada para ulama fiqh dalam menghukumi hal ini, sebagian dari mereka ada yang membolehkan dan ada yang memakruhkan, diantaranya adalah para ulama Hanafiyyah dan Hanaabilah -rahimahumullah-. Contohnya :

1. Imam As-Sarkhasiy berkata :

الفصل الرابع في الانتظار بعد كل ترويحتين: وهو مستحب هكذا روي عن أبي حنيفة رحمه الله تعالى، لأنها إنما سميت بهذا الاسم لمعنى الاستراحة، وأنها مأخوذة عن السلف وأهل الحرمين فإن أهل مكة يطوفون سبعاً بين كل ترويحتين كما حكينا عن مالك رحمه الله تعالى
“Pasal keempat pada permasalahan duduk menunggu setelah dua tarawih (maksudnya adalah setelah dua kali salam), bahwasanya ia dibolehkan (mustahab), seperti inilah diriwayatkan dari Abu Haniifah rahimahullahu Ta’ala. Karena sesungguhnya ia dinamakan dengan nama tarawih yang bermakna istirahat dan diambil dari perbuatan para salaf dan penduduk haramain bahwa penduduk Makkah melaksanakan thawaf tujuh kali diantara tiap dua tarawih sebagaimana diriwayatkan kepada kami dari Maalik rahimahullahu Ta’ala.” [Al-Mabsuuth 2/146]

2. Imam ‘Alauddiin Abu Bakr Al-Kaasaaniy berkata :

وأما الاستراحة بعد خمس تسليمات فهل تستحب؟ قال بعضهم: نعم، وقال بعضهم: لا تستحب وهو الصحيح، لأنه خلاف عمل السلف والله الموفق
“Dan adapun duduk istirahat setelah lima salam, apakah ia dibolehkan? Sebagian dari mereka berkata, “Ya”, dan sebagian dari mereka berkata, “Tidak dibolehkan,” dan inilah yang shahih, dikarenakan ia menyelisihi perbuatan para salaf. Wallaahul Muwaffiq.” [Badaa’i Ash-Shanaa’i 1/291]

3. Imam Al-Bahuutiy berkata :

وَيُكْرَهُ التَّطَوُّعُ بَيْنَ التَّرَاوِيحِ نَصَّ عَلَيْهِ(يعني الإمام أحمد )
“Dan tidak disukai menambah (sesuatu) diantara shalat tarawih dan telah menjadi ketetapannya (yakni Al-Imam Ahmad). [Kasysyaaf Al-Qinaa’ 3/272]

4. Imam Al-Mardaawiy berkata :

ومنها: يستريح بعد كل أربع ركعات بجلسة يسيرة.. فعله السلف، ولا بأس بتركه
“Dan diantaranya : istirahat setelah (selesai) tiap empat raka’at dengan duduk yang ringan…, dan inilah perbuatan para salaf, tidak mengapa meninggalkannya.” [Al-Inshaaf 2/182]

5. Imam Ar-Rahiibaaniy berkata :

ويستراح بين كل أربع ركعات بجلسة يسيرة، ولا بأس بترك استراحة بينها
“Beristirahat diantara tiap empat raka’at dengan duduk yang ringan, dan tidak mengapa meninggalkan istirahat diantaranya.” [Mathaalibu Uulin Nuhaa 1/564]

Para ulama Maalikiyyah dan Syaafi’iyyah -rahimahumullah- menyebutkan sifat shalat tarawih tanpa menandai kebolehan beristirahat didalamnya. Contohnya :

1. Imam Al-Baihaqiy seperti telah disebutkan diatas perkataannya.

2. Imam Muhammad bin ‘Abdul Baaqiy Az-Zarqaaniy berkata :

وتسمى التراويح جمع ترويحة وهي المرة الواحدة من الراحة كتسليمة من السلام، سميت الصلاة جماعة في ليالي رمضان تراويح لأنهم أول ما اجتمعوا عليها كانوا يستريحون بين كل تسليمتين
“Dinamakan shalat tarawih karena mengumpulkan istirahat yang berulang sekali pada (setelah) pengucapan salam, dan dinamakan dengan tarawih pada shalat berjama’ah di malam-malam bulan Ramadhan dikarenakan pada awalnya mereka tidak mengumpulkan raka’at-raka’atnya (akan tetapi) mereka dahulu beristirahat diantara tiap dua salam.” [Syarh Az-Zarqaaniy ‘Alaa Al-Muwaththa’ 1/339]

3. Imam Zakariyyaa Al-Anshaariy berkata :

وسميت كل أربع منها ترويحة، لأنهم كانوا يتروحون عقبها، أي يستريحون
“Dan setiap empat raka’at darinya dinamakan tarwiihah (dengan bentuk tunggal), dikarenakan mereka dahulu berhenti setelahnya, yaitu beristirahat.” [Asnaa Al-Mathaalib 1/200]

Dari sinilah, para ulama fiqh Kuwait yang tergabung dalam Mausuu’ah Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah berkata :

والمذهب عند الحنابلة وهو المتبادر من كلام المالكية والشافعية ، أنه يجوز أن يستريح بعد كلّ أربع ركعات في صلاة التراويح بجلسة يسيرة ، قال الحنابلة : وهو فعل السلف ، ولا بأس بتركه
“Dan madzhab (mengenai hal ini) di sisi ulama Hanaabilah, bahwasanya pada shalat tarawih dibolehkan beristirahat setiap selesai empat raka’at dengan duduk yang ringan. Ulama Hanaabilah berkata, ia adalah perbuatan para salaf, tidak mengapa meninggalkannya.” [Al-Mausuu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 15/269]

Lalu mereka juga berkata :

اتفق الفقهاء على مشروعية الاستراحة بعد كلّ أربع ركعات ؛ لأنه المتوارث عن السلف ، فقد كانوا يطيلون القيام في التراويح ويجلس الإمام والمأمومون بعد كلّ أربع ركعات للاستراحة
“Telah disepakati oleh para fuqaha mengenai masyru’nya istirahat setelah selesai tiap empat raka’at, dikarenakan ia adalah perbuatan yang diwariskan dari para salaf. Dan sungguh mereka dahulu shalat dengan raka’at yang panjang pada shalat tarawih, lalu imam dan ma’mum duduk setelah selesai tiap empat raka’at dengan duduk istirahat.” [Al-Mausuu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 27/144]

Maka, dari sini dapat diambil kesimpulan bahwasanya duduk istirahat pada shalat tarawih hukumnya adalah dibolehkan jika memang ada kebutuhan atau maslahat untuknya, seperti misalnya jika diketahui bahwa diantara jama’ah ada yang telah berusia lanjut atau ada yang keletihan sehabis menjalankan aktivitas di siang hari, sehingga dengan adanya duduk istirahat maka mereka akan mendapat kekuatan kembali untuk melanjutkan shalatnya sehingga bisa mengikuti imam hingga akhir shalat dan mendapat pahala shalat semalam suntuk terlebih jika shalat tarawihnya dengan raka’at yang banyak dan panjang-panjang. Akan tetapi jika tidak ada kebutuhan, maka lebih baik untuk ditinggalkan. Dari sini pula dapat kita ketahui bahwa shalat tarawih para salaf panjang-panjang dan lama berdirinya sehingga mereka kerapkali duduk beristirahat setelah menyelesaikan tiap empat raka’at.

Syaikh Sulaimaan bin ‘Abdullaah Al-Maajid ditanya mengenai pensyari’atan duduk istirahat setelah salam yang kedua, maka jawab beliau :

أخذ الراحة بين تسليمات صلاة التراويح راجع إلى الحاجة إلى ذلك ؛ فإذا احتاج إليه الإمام أو المأمومون سن للإمام فعله بقدر الحاجة ، وإلا فلا . والله أعلم.
“Mengambil istirahat diantara dua salam pada shalat tarawih dilakukan karena ada kebutuhan untuknya, jika memang imam atau ma’mum yang sudah berumur membutuhkannya yaitu dengan cara imam melakukannya sesuai dengan yang dibutuhkan, dan jika tidak ada kebutuhan, maka ditinggalkan. Wallaahu a’lam.

Sumber : http://www.salmajed.com/fatwa/findnum.php?arno=10307

Bolehkah memberi ceramah singkat atau nasihat-nasihat ketika duduk istirahat?

Syaikh Muhammad Shaalih Al-Munajjid memberikan penjelasan mengenai hal ini, silahkan simak fatwa beliau.

الدرس الذي يلقيه بعض الأئمة والوعاظ بين ركعات صلاة التراويح لا بأس به إن شاء الله ، والأحسن أن لا يداوَم عليه ، خشية أن يعتقد الناس أنه جزء من الصلاة ، وخشية من اعتقادهم وجوبه حتى إنهم قد ينكرون على من لم يفعله .
وللإمام أو للمدرس والواعظ أن ينبه الناس على ما يتيسر من أحكام الشرع وخاصة مما يحتاجونه في هذا الشهر من مسائل على أن يتركه أحياناً لما سبق ذكره .
ولا شك أن مثل هذه الكلمات والمواعظ أنفع من الخروج أو من الحديث الدنيوي ورفع الصوت وخير من الذكر المبتدع الذي يحدثه بعض الأئمة بعد الأربع ركعات .
قال الشيخ عبد الله الجبرين :
… وحيث إنَّ الناس في هذه الأزمنة يخففون الصلاة ، فيفعلونها في ساعة أو أقل : فإنه لا حاجة بهم إلى هذه الاستراحة ، حيث لا يجدون تعباً ولا مشقة ، لكن إن فصل بعض الأئمة بين ركعات التراويح بجلوس ، أو وقفة يسيرة للاستجمام ، أو الارتياح : فالأولى قطع هذا الجلوس بنصيحة أو تذكير ، أو قراءة في كتاب مفيد ، أو تفسير آية يمرّ بها القارئ ، أو موعظة ، أو ذكر حكم من الأحكام ، حتى لا يخرجوا أو لا يملّوا ، والله أعلم .

” الإجابات البهية في المسائل الرمضانية ” ( السؤال الثاني )

“Pelajaran yang disampaikan oleh sebagian imam dan penceramah diantara raka’at shalat tarawih hukumnya tidak mengapa, insya Allah. Dan yang lebih baik adalah tidak dilakukan terus menerus, ditakutkan akan menjadi keyakinan orang-orang bahwa hal itu merupakan bagian dari shalat, dan ditakutkan pula akan keyakinan mereka bahwasanya itu adalah kewajiban hingga mereka akan mengingkari kepada yang tidak melakukannya.
Dan kepada imam, guru atau penceramah hendaknya menyampaikan permasalahan mengenai hukum-hukum syari’at dan dikhususkan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan bulan ini (Ramadhan), dan kadang-kadang ia meninggalkannya seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Tidaklah diragukan bahwasanya ceramah-ceramah dan kalimat-kalimat semacam ini lebih bermanfa’at daripada keluar (dari masjid) atau membicarakan obrolan duniawi dan menimbulkan kebisingan, ia lebih baik daripada dzikir-dzikir bid’ah yang diucapkan oleh sebagian imam setelah selesai empat raka’at.
Syaikh ‘Abdullaah Al-Jibriin -rahimahullah- berkata, “Yakni bahwa manusia pada zaman ini shalatnya singkat-singkat, mereka melakukannya pada jangka waktu satu jam atau kurang, maka sesungguhnya mereka tidak butuh istirahat yakni tidak merasa letih dan kesulitan. Akan tetapi, jika sebagian imam tersebut ada yang hendak duduk atau istirahat ringan diantara raka’at tarawih, maka yang utama mereka mengisi duduknya ini dengan memberikan nasihat, peringatan, membaca kitab yang bermanfaat, menafsirkan ayat yang baru saja dibacanya, berceramah atau menyebutkan hukum dari hukum-hukum agama agar mereka tidak keluar dari masjid atau tidak bosan. Wallaahu a’lam.

(Al-Ijaabaat Al-Bahiyyah fiy Al-Masaa’il Ar-Ramadhaaniyyah, pertanyaan yang kedua).

Sumber : http://www.islamqa.com/ar/38025

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.
Allaahu a’lam.

Footnotes :

[1] Al-Mughiirah bin Ziyaad Al-Bajaliy, Abu Hisyaam atau Abu Haasyim Al-Maushiliy. Terjadi perbincangan mengenai dirinya. Ahmad menjarhnya dengan keras, dalam suatu riwayat ia berkata “mudhtharibul hadiits, munkarul hadiits,” dalam riwayat lain ia berkata “dha’iiful hadiits”, dalam riwayat lain ia melemahkannya dan dalam riwayat lain ia berkata “aku tidak tahu”, Wakii’ mentsiqahkannya, begitu pula Ibnu Ma’iin, Al-‘Ijliy, Ibnu ‘Ammaar Al-Maushiliy dan Ya’quub bin Sufyaan, Ibnu Ma’iin dalam suatu riwayat berkata “padanya terdapat satu hadits yang mungkar”, Al-Bukhaariy memasukkannya dalam Adh-Dhu’afaa’, ia berkata “laisa bil qawiy”, An-Nasaa’iy dalam suatu riwayat berkata “tidak ada yang salah dengannya”, dalam riwayat yang lain ia berkata “laisa bil qawiy”, Abu Daawud berkata “shaalih”, Abu Haatim dan Abu Zur’ah berkata “syaikh shaalih, tidak dijadikan hujjah”, Abu Zur’ah dalam riwayat lain berkata “pada haditsnya terdapat idhthiraab”, Ibnu ‘Adiy berkata “semua haditsnya lurus kecuali jika terdapat kesalahan didalamnya dan dia di sisiku tidak mengapa”, Abu Ahmad Al-Haakim berkata “bukan termasuk orang-orang yang kokoh di sisi mereka”, Ad-Daaruquthniy berkata “laisa bil qawiy, memerlukan penguat”, Abu ‘Abdillaah Al-Haakim berkata “shaahibu manaakiir”, At-Tirmidziy berkata “ia diperbincangkan dari sisi hapalannya”, Ibnu Hibbaan berkata “dia termasuk yang meriwayatkan secara bersendirian dari orang-orang tsiqah dengan hadits-hadits yang berbeda dari yang telah tsabt, maka wajib menghindari apa-apa yang dia bersendirian dari riwayatnya dan tidak berhujjah dengan riwayat-riwayat yang mana ia menyelisihi yang lebih tsabt dan ia memerlukan i’tibar dengan riwayat yang disepakati orang-orang tsiqah”, Adz-Dzahabiy berkata “shaalihul hadiits, masyhuur, dilemahkan Ibnu Hibbaan”, Ibnu Hajar berkata “shaduuq lahu auham”, Syu’aib Al-Arna’uuth dan Basyaar ‘Awwaad berkata “shaduuq hasanul hadiits”. Termasuk thabaqah ke-6. Wafat tahun 152 H. Dipakai oleh Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Al-Jarh wa At-Ta’diil 8/998; Miizaanul I’tidaal 6/489; Adh-Dhu’afaa’ Ash-Shaghiir no. 562; Taariikhul Kabiir 7/326; Tahdziibul Kamaal no. 6126; Tahdziibut Tahdziib 10/258; Taqriibut Tahdziib no. 6834; Mausuu’atu Aqwaal Al-Imam Ahmad 3/385; Mausuu’atu Aqwaal Abul Hasan Ad-Daaruquthniy no. 3555; Taariikh Asmaa’ Ats-Tsiqaat no. 1332; Al-Kaasyif no. 5586; Al-Majruuhiin 3/6; Al-Mughniy fiy Adh-Dhu’afaa’ 2/318; Tahriirut Taqriib 3/407; Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 7/197]

Maka, dengan menjamak perkataan para ulama diatas, didapat kesimpulan bahwasanya Al-Mughiirah seorang yang shaduuq hasanul hadits jika ia tidak menyelisihi riwayat-riwayat orang-orang yang lebih tsiqah darinya, ia memerlukan penguat dan tidak bisa dijadikan hujjah jika ia bersendirian dalam periwayatannya apalagi jika kemudian ditemukan idhthiraab baik dalam sanadnya atau dalam matannya. Allaahu a’lam.

[2] Imam Al-Baihaqiy telah menjelaskan bahwasanya Al-Mughiirah menyendiri dalam periwayatannya dari ‘Athaa’, dan penyendiriannya adalah dalam periwayatan kalimat :

يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي اللَّيْلِ، ثُمَّ يَتَرَوَّحُ، فَأَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ
Beliau shalat empat raka’at pada malam hari, kemudian beliau beristirahat, dengan istirahat yang panjang hingga aku kasihan kepada beliau.

Lafazh ini tidak ada pada perawi lain yang meriwayatkan dari ‘Athaa’, contohnya pada riwayat berikut :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ سَعِيدٍ الرَّازِيُّ، قَالَ: نا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: نا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سُوَيْدٍ النَّخَعِيُّ، قَالَ: نا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ، فَقِيلَ لَهُ: أَتَفْعَلُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ؟ قَالَ: ” أَفَلا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا “

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Sa’iid Ar-Raaziy, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Utsmaan bin Abi Syaibah, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Yahyaa bin Zakariyyaa bin Ibraahiim bin Suwaid An-Nakha’iy, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul Malik bin Abu Sulaimaan, dari ‘Athaa’, dari ‘Aaisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam berdiri pada shalat malam hingga telapak kaki beliau bengkak, maka dikatakan kepadanya, “Mengapa engkau melakukan ini padahal sungguh dirimu telah diampuni?” Beliau bersabda, “Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[Mu’jam Al-Ausath no. 3810].

Sanad hadits ini hasan. ‘Abdul Malik bin Abu Sulaimaan, namanya adalah ‘Abdul Malik bin Maisarah Al-‘Arzamiy, Abu Muhammad atau Abu ‘Abdillaah atau Abu Sulaimaan Al-Fazaariy Al-Kuufiy, Sufyaan berkata “termasuk diantara para huffaazh”, dalam riwayat lain ia berkata “timbangan kota Kuufah”, Ahmad dalam suatu riwayat berkata “tsiqah”, dalam riwayat lain ia berkata “termasuk para huffaazh”, dalam riwayat lain ia berkata “huffaazh, kecuali riwayatnya yang diselisihi Ibnu Juraij dan Ibnu Juraij lebih tsabt di sisi kami”, dalam riwayat akhir ia berkata “pemuka penduduk Kuufah”, Ibnu Ma’iin dalam suatu riwayat berkata “dha’iif, dia lebih tsabt pada ‘Athaa’ dari Qais bin Sa’iid”, dalam riwayat lain ia berkata “‘Abdul Malik dan Ibnu Juraij, keduanya orang tsiqah”, ditsiqahkan oleh Ya’quub bin Sufyaan, An-Nasaa’iy dan Ad-Daaruquthniy, Abu Zur’ah berkata “tidak mengapa dengannya”, At-Tirmidziy berkata “tsiqah ma’muun, kami tidak mengetahui seorangpun yang membicarakannya selain Syu’bah”, Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat seraya berkata “kemungkinan terdapat kesalahan, dia termasuk orang-orang pilihan dari penduduk Kuufah, huffaazh mereka dan orang yang mulia”, Ibnu ‘Ammaar Al-Maushiliy berkata “tsiqah hujjah”, Adz-Dzahabiy berkata “imam haafizh”, Ibnu Hajar berkata “shaduuq, lahu auham”. Maka, yang lebih tepat ‘Abdul Malik adalah tsiqah hanya saja ia mempunyai kekeliruan dalam beberapa riwayatnya. Termasuk thabaqah ke-5. Wafat tahun 145 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam At-Ta’aaliq, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Tahdziibul Kamaal no. 3532; Tahdziibut Tahdziib 6/396; Taqriibut Tahdziib no. 4184; Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 6/107; Mausuu’atu Aqwaal Al-Imam Ahmad 2/379; Mausuu’atu Aqwaal Abul Hasan Ad-Daaruquthniy no. 2228; Ats-Tsiqaat 7/97]

Dari sini bisa terlihat bahwa ‘Abdul Malik lebih tsiqah dan lebih tsabat dibanding Al-Mughiirah. Terlebih lagi, ‘Athaa’ bin Abi Rabaah mempunyai mutaba’ah dari ‘Urwah bin Az-Zubair :

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ وَهَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي أَبُو صَخْرٍ عَنْ ابْنِ قُسَيْطٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلَاهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Ma’ruuf dan Haaruun bin Sa’iid Al-Ailiy, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengkhabarkan kepadaku Abu Shakhr, dari Ibnu Qusaith, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aaisyah, ia berkata, dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam jika shalat maka beliau berdiri hingga kaki beliau bengkak, ‘Aaisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini padahal sungguh dosa-dosamu yang terdahulu maupun yang akan datang telah diampuni?” Maka Rasulullah bersabda, “Wahai ‘Aaisyah, apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[Shahiih Muslim no. 2823; Shahiih Al-Bukhaariy no. 4837, dan ini adalah lafazh Muslim]

Maka, hadits Al-Mughiirah dengan lafazh “beliau shalat empat raka’at pada malam hari, kemudian beliau beristirahat, dengan istirahat yang panjang hingga aku kasihan kepada beliau”, adalah syaadz karena menyendirinya Al-Mughiirah dalam periwayatan lafazh ini (kemungkinan berasal dari wahm-nya) jika dibandingkan dengan perawi yang lebih kuat darinya yang meriwayatkan dari ‘Athaa’ dari ‘Aaisyah, juga dari riwayat ‘Urwah bin Az-Zubair dari ‘Aaisyah tanpa lafazh seperti itu. Oleh karenanya, hadits Al-Mughiirah adalah hadits dha’iif. Allaahu a’lam.

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s