Rapatkan Shaf Dalam Shalat, Wahai Ikhwah Fillah!

shof-tidak-rapat-edit bener

Perkara yang kelihatannya ringan dan sepele namun mempunyai keutamaan dan pahala yang besar di sisi Allah Ta’ala, dan sayangnya sekarang ini banyak disepelekan oleh kaum muslimin, yaitu merapatkan dan meluruskan shaf, mereka seakan-akan tidak perduli dengan rapat dan lurusnya shaf. Dan sungguh di beberapa tempat, kami menjumpai beberapa saudara-saudara kami yang malah menjauh ketika dirapatkan kakinya. Telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenai betapa pentingnya hal ini.

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبَانُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibraahiim, telah menceritakan kepada kami Abaan, dari Qataadah, dari Anas bin Maalik -radhiyallahu ‘anhu-, dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Rapatkan shaf-shaf kalian, dekatkanlah jarak antara keduanya dan sejajarkanlah antara leher-leher. Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, sesungguhnya aku melihat setan masuk ke dalam celah celah shaf itu, tak ubahnya bagai anak kambing kecil.”
[Sunan Abu Daawud no. 667; Sunan An-Nasaa’iy no. 815; Musnad Ahmad no. 13324] – sanadnya shahih.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ قَالَ سَأَلْتُ سُلَيْمَانَ الْأَعْمَشَ عَنْ حَدِيثِ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ فِي الصُّفُوفِ الْمُقَدَّمَةِ فَحَدَّثَنَا عَنْ الْمُسَيَّبِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَلَّ وَعَزَّ قُلْنَا وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْمُقَدَّمَةَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Muhammad An-Nufailiy, telah menceritakan kepada kami Zuhair, dia berkata, aku pernah bertanya kepada Sulaiman Al-A’masy tentang hadits Jaabir bin Samurah mengenai shaf terdepan, maka dia menceritakan kepada kami dari Al-Musayyab bin Raafi’, dari Tamiim bin Tharafah, dari Jaabir bin Samurah -radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidakkah kalian ingin berbaris sebagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka Azza wa Jalla?” Kami bertanya, “Bagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka?” Beliau bersabda, “Mereka menyempurnakan shaf shaf yang terdepan, dan mereka saling merapatkan shaf.”
[Sunan Abu Daawud no. 661; Sunan An-Nasaa’iy no. 816; Sunan Ibnu Maajah no. 992; Musnad Ahmad no. 20518] – sanadnya shahih.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلَاةِ وَيَقُولُ اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Idriis dan Abu Mu’aawiyah serta Wakii’, dari Al-A’masy, dari ‘Umaarah bin ‘Umair at-Taimiy, dari Abu Ma’mar, dari Abu Mas’uud -radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata, dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengusap pundak-pundak kami ketika (akan memulai) shalat, seraya bersabda, “Luruskanlah, dan jangan berselisih sehingga hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang tepat di belakangku orang yang dewasa yang memiliki kecerdasan dan orang yang sudah berakal di antara kalian, kemudian orang yang sesudah mereka kemudian orang yang sesudah mereka.”
[Shahiih Muslim no. 434; Sunan An-Nasaa’iy no. 807; Sunan Ibnu Maajah no. 9676; Musnad Ahmad no. 16653]

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ أَسَدٍ قَالَ أَخْبَرَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عُبَيْدٍ الطَّائِيُّ عَنْ بُشَيْرِ بْنِ يَسَارٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّهُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَقِيلَ لَهُ مَا أَنْكَرْتَ مِنَّا مُنْذُ يَوْمِ عَهِدْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَنْكَرْتُ شَيْئًا إِلَّا أَنَّكُمْ لَا تُقِيمُونَ الصُّفُوفَ

Telah menceritakan kepada kami Mu’aadz bin Asad, dia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Fadhl bin Muusaa, dia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Sa’iid bin ‘Ubaid Ath-Thaa’iy, dari Busyair bin Yasaar Al-Anshaariy, dari Anas bin Maalik -radhiyallahu ‘anhu- bahwa dia datang ke Madinah, lalu dikatakan kepadanya, “Apakah ada sesuatu yang kau ingkari dari perbuatan kami sejak kau hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Anas bin Maalik menjawab, “Tidak ada sesuatu yang aku ingkari dari kalian kecuali kalian tidak meluruskan shaf dalam shalat!”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 724; Musnad Ahmad no. 11699]

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ “

Telah menceritakan kepada kami Abul Waliid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qataadah, dari Anas, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Luruskan shaf-shaf kalian karena kelurusan shaf-shaf merupakan bagian dari tegaknya shalat.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 723; Shahiih Muslim no. 436, dalam lafazh Muslim, “…merupakan bagian dari sempurnanya shalat.”]

Sebaik-baik shaf bagi kaum laki-laki adalah shaf paling depan, oleh karena itu sudah selayaknya berlomba-lomba dalam mendapatkan barisan shaf paling depan. Dalilnya adalah :

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb, telah menceritakan kepada kami Jariir, dari Suhail, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik shaf kaum laki-laki adalah di depan, dan sejelek-jeleknya adalah pada akhirnya. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah pada akhirnya, dan sejelek-jeleknya adalah awal shaf.”
[Shahiih Muslim no. 442; Musnad Ahmad no. 7315; dan diriwayatkan oleh Ashaabus Sunan]

Dianjurkan bagi imam sebelum memulai shalat berjama’ah agar menghadapkan dirinya pada jama’ah dan meluruskan shaf-shaf mereka, merapatkan pundak-pundak dan tumit-tumit mereka berdasarkan hadits berikut :

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ الْجُدَلِيِّ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ
أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثَلَاثًا وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ قَالَ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَلْزَقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Zakariyyaa bin Abi Zaa’idah, dari Abul Qaasim Al-Judaliy, dia berkata, aku telah mendengar An-Nu’maan bin Basyiir -radhiyallahu ‘anhu- berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa menghadap kepada jama’ah (sebelum memulai shalat), lalu bersabda, “Rapihkan shaf-shaf kalian! -beliau mengucapkannya tiga kali- Demi Allah, hendaklah kalian benar-benar merapihkan shaf-shaf kalian, atau sungguh Allah akan membuat hati kalian saling berselisih.” An-Nu’maan berkata, “Maka aku melihat seseorang melekatkan (merapatkan) pundaknya dengan pundak temannya (orang di sampingnya), demikian pula antara lutut dan mata kakinya dengan lutut dan mata kaki temannya.”
[Sunan Abu Daawud no. 662; Musnad Ahmad no. 17962] – sanadnya hasan.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ، يَقُولُ: ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُسَوِّي صُفُوفَنَا، حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ، حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ، ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا، فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ، فَرَأَى رَجُلًا بَادِيًا صَدْرُهُ مِنَ الصَّفِّ، فَقَالَ عِبَادَ اللَّهِ، لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ، أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ “

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Yahyaa, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Khaitsamah, dari Simaak bin Harb, ia berkata, aku mendengar An-Nu’maan bin Basyiir mengatakan, dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam meluruskan shaf-shaf kami hingga seolah-olah bagaikan meluruskan Al-Qidaah *) dan hingga beliau melihat bahwa kami benar-benar memahaminya. Kemudian pada suatu hari keluarlah beliau dan beliau berdiri (untuk shalat berjama’ah) hingga pada saat beliau akan bertakbir, beliau melihat seorang laki-laki yang menonjol dadanya dari shaf. Maka beliau bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah! Luruskanlah shaf-shaf kalian atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian!”
[Shahiih Muslim no. 439; Shahiih Al-Bukhaariy no. 717, dan ini lafazh Muslim]

*) Keterangan mengenai Al-Qidaah akan datang nanti, insya Allah.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ وَأَقِيمُوا الصَّفَّ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Muhammad, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Hammaam bin Munabbih, dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Dijadikannya Imam adalah untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihnya. Jika ia rukuk maka rukuklah kalian, jika ia mengucapkan ‘Sami’allahu liman hamidah’ maka ucapkanlah, ‘Rabbanaa lakal hamdu’. Jika ia sujud maka sujudlah kalian, jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian semuanya dengan duduk, dan rapihkanlah shaf, karena rapihnya shaf merupakan bagian dari baiknya shalat.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 722; Shahiih Muslim no. 417; dalam lafazh Muslim tanpa redaksi “rapihkan shaf”]

Para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- adalah orang-orang yang paling peduli setelah Rasulullah dalam masalah meluruskan dan merapatkan shaf sehingga mereka tidak mau memulai shalat hingga didapat kabar bahwasanya shaf-shaf telah lurus dan rapat.

عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: كَانَ عُمَرُ لا يُكَبِّرُ حَتَّى تَعْتَدِلَ الصُّفُوفُ، يُوَكِّلُ بِذَلِكَ رِجَالا “

Dari Ma’mar, dari Ayyuub, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Dahulu ‘Umar tidak bertakbir (untuk memulai shalat) hingga ia membaguskan shaf-shaf, dan ia mengutus beberapa orang laki-laki untuk membantunya.”
[Al-Mushannaf ‘Abdurrazzaaq 2/47] – sanadnya shahih.

وَحَدَّثَنِي، عَنْ مَالِك، عَنْ عَمِّهِ أَبِي سُهَيْلِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَقَامَتِ الصَّلَاةُ وَأَنَا أُكَلِّمُهُ فِي أَنْ يَفْرِضَ لِي، فَلَمْ أَزَلْ أُكَلِّمُهُ وَهُوَ يُسَوِّي الْحَصْبَاءَ بِنَعْلَيْهِ، حَتَّى جَاءَهُ رِجَالٌ قَدْ كَانَ وَكَلَهُمْ بِتَسْوِيَةِ الصُّفُوفِ فَأَخْبَرُوهُ، أَنَّ الصُّفُوفَ قَدِ اسْتَوَتْ فَقَالَ لِي: ” اسْتَوِ فِي الصَّفِّ ” ثُمَّ كَبَّرَ

Dan telah menceritakan kepadaku, dari Maalik, dari Pamannya (yaitu) Abu Suhail bin Maalik, dari Ayahnya, bahwa ia berkata, aku sedang bersama ‘Utsmaan bin ‘Affaan -radhiyallahu ‘anhu- dan iqamat shalat dikumandangkan akan tetapi aku masih berbincang dengan ‘Utsmaan mengenai masalah yang akan dia wajibkan kepadaku dan aku masih tetap berbincang dengannya ketika ia sedang meratakan kerikil dengan sepatunya, hingga datanglah beberapa orang laki-laki yang mereka telah ditugaskan untuk meluruskan shaf-shaf, memberi kabar kepada ‘Utsmaan bahwa shaf-shaf sungguh telah lurus. ‘Utsmaan berkata kepadaku, “Luruskan shaf!” Kemudian ia bertakbir.
[Al-Muwaththa’ no. 375] – sanadnya shahih.

Dianjurkan bagi kaum muslimin untuk berlemah lembut dalam menyambung dan meluruskan shaf dengan saudaranya disampingnya

حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْغَافِقِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ وَحَدِيثُ ابْنِ وَهْبٍ أَتَمُّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ أَبِي الزَّاهِرِيَّةِ عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ قُتَيْبَةُ عَنْ أَبِي الزَّاهِرِيَّةِ عَنْ أَبِي شَجَرَةَ لَمْ يَذْكُرْ ابْنَ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ لَمْ يَقُلْ عِيسَى بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Iisaa bin Ibraahiim Al-Ghaafiqiy, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, -dalam jalur lain-, telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, -dan hadits riwayat Ibnu Wahb lebih sempurna-, dari Mu’aawiyah bin Shaalih, dari Abu Az-Zaahiriyyah, dari Katsiir bin Murrah, dari ‘Abdullaah bin ‘Umar, Qutaibah berkata, dari Abu Az-Zaahiriyah, dari Abi Syajarah tanpa menyebutkan Ibnu ‘Umar, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rapihkanlah shaf-shaf, sejajarkanlah antara pundak-pundak, tutuplah celah-celah dan lemah lembutlah terhadap kedua tangan saudara kalian dan janganlah kalian membiarkan celah-celah itu untuk setan, barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya dan barang siapa yang memutusnya maka Allah akan memutusnya.”
[Sunan Abu Daawud no. 666] – sanadnya shahih.

Al-Imam Abu Daawud rahimahullah berkata :

وَمَعْنَى وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ إِذَا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى الصَّفِّ فَذَهَبَ يَدْخُلُ فِيهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُلِينَ لَهُ كُلُّ رَجُلٍ مَنْكِبَيْهِ حَتَّى يَدْخُلَ فِي الصَّفِّ
“Makna dari kalimat ‘lemah lembutlah kalian terhadap tangan saudara kalian’ adalah apabila ada seseorang yang baru datang dan masuk ke dalam shaf, maka yang lain hendaknya melemaskan pundaknya hingga dia dapat masuk ke dalam shaf.”

Orang yang berusaha untuk menyambung dan meluruskan shaf, maka Allah Ta’ala dan para malaikat akan bershalawat untuknya dan diangkat derajatnya. Dalilnya adalah :

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَصِلُونَ الصُّفُوفَ وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً

Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Urwah, dari Ayahnya, dari ‘Aaisyah -radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat bagi orang-orang yang menyambung barisan shalat, maka barangsiapa menutup celah dalam barisan tersebut Allah akan mengangkat derajatnya.”
[Sunan Ibnu Maajah no. 995; Musnad Ahmad no. 24065] – sanadnya shahih lighairihi.

Hukum Merapatkan dan Meluruskan Shaf Dalam Shalat

Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusiy rahimahullah berkata :

تسوية الصف إذا كان من إقامة الصلاة فهو فرض ؛ لأن إقامة الصلاة فرض ؛ وما كان من الفرض فهو فرض
“Meluruskan shaf, jika itu merupakan bagian dari tegaknya shalat maka ia wajib, karena tegaknya shalat adalah wajib. Dan sesuatu yang merupakan bagian dari kewajiban maka ia (hukumnya) juga wajib.” [Al-Muhallaa 4/55]

Al-Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata :

قَوْله: ( يُسَوِّي صُفُوفنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاح ) الْقِدَاح بِكَسْرِ الْقَاف هِيَ خَشَب السِّهَام حِين تُنْحَت وَتُبْرَى، وَاحِدهَا ( قِدْح ) بِكَسْرِ الْقَاف، مَعْنَاهُ يُبَالِغ فِي تَسْوِيَتهَا حَتَّى تَصِير كَأَنَّمَا يَقُوم بِهَا السِّهَام لِشِدَّةِ اِسْتِوَائِهَا وَاعْتِدَالهَا
“Sabdanya, “Meluruskan shaf kami hingga seolah-olah bagaikan meluruskan Al-Qidaah,” Al-Qidaah dengan huruf Qaf di-kasrah adalah panah dari kayu yang diserut dan ditajamkan. Maknanya adalah beliau betul-betul menaruh perhatian pada kelurusannya hingga seolah-olah beliau sedang meluruskan sebuah panah kayu dengan sungguh-sungguh.” [Syarh Shahiih Muslim no. 499]

Al-Haafizh Ibnu Muflih Al-Hanbaliy rahimahullah berkata :

حكم تسوية صفوف المأمومين حتى تكون صفوفهم كصفوف الملائكة عند ربها، يتراصون في الصف ، بحيث تتحاذى المناكب ،والأكعب، والأعناق ، والاعتبار بمؤخرة القدم دون الأصابع
“Hukum ma’mum meluruskan shaf-shaf hingga seperti shaf-shaf para malaikat di sisi Tuhannya, (bahwa wajib) ma’mum meluruskan dalam shaf dimana disejajarkannya pundak-pundak, tumit-tumit, leher-leher dan memperhatikan ujung belakang telapak kaki tanpa (melihat) jari.” [An-Nukat wal Fawaa’id 1/115]

Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy rahimahullah berkata :

ويَحتَمِلُ أَن يَكُونَ البُخارِيّ أَخَذَ الوُجُوب مِن صِيغَةِ الأَمرِ فِي قوله: (سَوُّوا صُفُوفكُم ) ومِن عُمُومِ قوله: (صَلُّوا كَما رَأَيتُمُونِي أُصَلِّي ) ومِن وُرُودِ الوعِيدِ عَلَى تَركِهِ، فَرَجَحَ عِندَهُ بِهَذِهِ القَرائِنِ أَنَّ إِنكارَ أَنَس إِنَّما وقَعَ عَلَى تَرك الواجِب وإِن كانَ الإِنكارُ قَد يَقَعُ عَلَى تَركِ السُّنَنِ، ومَعَ القَولِ بِأَنَّ التَّسوِيَةَ واجِبَة فَصَلاة مَن خالَفَ ولَم يُسَوِّ صَحِيحَة لاختِلافِ الجِهَتَينِ، ويُؤَيِّدُ ذَلِكَ أَنَّ أَنَسًا مَعَ إِنكارِهِ عَلَيهِم لَم يَأمُرهُم بِإِعادَةِ الصَّلاةِ
“Dapat dimengerti bahwasanya Al-Bukhaariy memahami bahwa hukumnya adalah wajib dilihat dari sighat perintah pada sabdanya, “Luruskan shaf-shaf kalian!” Dari keumuman sabdanya, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat,” Dan dari penyebutan adanya peringatan bagi yang meninggalkannya. Maka yang rajih menurut pandangannya dari qarinah-qarinah ini bahwasanya pengingkaran Anas bin Maalik sebenarnya adalah pengingkaran kepada ditinggalkannya kewajiban walaupun pengingkaran tersebut bisa saja terjadi terhadap ditinggalkannya sunnah. Disamping perintah wajibnya meluruskan shaf, maka shalatnya orang yang menyelisihi hal tersebut dan tidak bersungguh-sungguh meluruskan shafnya adalah tetap sah, dengan perbedaan dari keduanya. Hal ini didukung oleh pengingkaran Anas yang walaupun beliau mengingkarinya namun beliau tidak memerintahkan mereka mengulangi shalatnya.” [Fathul Baariy no. 1181]

Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata :

السنة تسوية الصفوف، بل قال بعض العلماء إن تسوية الصف واجبة؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم لما رأى رجلاً بادياً صدره قال: “عباد الله لتسون صفوفكم أو ليخالفن الله بين وجوهكم”. وهذا وعيد، ولا وعيد إلا على فعل محرم أو ترك واجب. والقول بوجوب تسوية الصفوف قول قوي، وقد ترجم البخاري – رحمه الله – على ذلك بقوله: “باب إثم من لم يتم الصفوف”
(Termasuk) Sunnah adalah meluruskan shaf-shaf, bahkan sebagian ulama berkata bahwasanya meluruskan shaf-shaf adalah wajib, karena ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki yang menonjolkan dadanya, beliau bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah! Luruskanlah shaf-shaf kalian atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian!” Ada ancaman disini, dan tidaklah ancaman itu ada melainkan karena perbuatan tersebut termasuk yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban, dan pendapat yang mengatakan wajibnya meluruskan shaf-shaf adalah pendapat yang kuat. Sungguh Al-Bukhaariy -rahimahullah- telah memasukkan ini (ke dalam kitab shahihnya) dengan perkataan, “Bab dosa orang yang tidak menyempurnakan shaf-shaf.” [Majmuu’ Fataawaa wa Rasaa’il 13/12-13]

Di lain tempat, beliau berkata :

وقوله : ( أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ ) أي : بين وجهات نظركم حتى تختلف القلوب ، وهذا بلا شكٍّ وعيدٌ على مَن تَرَكَ التسويةَ ، ولذا ذهب بعضُ أهل العِلم إلى وجوب تسوية الصَّفِّ . واستدلُّوا لذلك : بأمْرِ النبي صلى الله عليه وسلم به ، وتوعُّدِه على مخالفته ، وشيء يأتي الأمرُ به ، ويُتوعَّد على مخالفته لا يمكن أن يُقال : إنه سُنَّة فقط .
ولهذا كان القولُ الرَّاجحُ في هذه المسألة : وجوب تسوية الصَّفِّ ، وأنَّ الجماعة إذا لم يسوُّوا الصَّفَّ فهم آثمون ، وهذا هو ظاهر كلام شيخ الإِسلام ابن تيمية ”
Dan sabda beliau, “Atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian,” maksudnya diantara penglihatan kalian hingga hati menjadi saling berselisih, tak diragukan lagi ini adalah peringatan kepada orang yang meninggalkan meluruskan (shaf), dengannya sebagian ulama berpendapat kepada wajibnya meluruskan shaf-shaf. Mereka berdalil dengan perintah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam didalamnya dan peringatan bagi siapa yang menyelisihinya. Sesuatu yang terdapat perintah didalamnya dan larangan bagi yang menyelisihinya tidaklah dimungkinkan bahwasanya “itu hanyalah sunnah”.
Oleh karena itu, pendapat yang rajih dalam masalah ini adalah wajibnya meluruskan shaf-shaf, dan sesungguhnya jama’ah yang jika mereka tidak meluruskan shafnya maka mereka berdosa. Dan inilah zhahir perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-. [Asy-Syarhul Mumti’ 3/6]

Maka, pendapat yang lebih rajih menurut kami adalah bahwasanya wajib bagi jama’ah shalat untuk memperhatikan, meluruskan dan merapatkan shaf-shaf mereka karena telah jelas perintah dalam hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam menunjukkan kewajibannya dan ada ancaman atau peringatan bagi yang meninggalkannya. Dan juga perkara ini tidak bisa dianggap remeh karena termasuk perkara yang menentukan kesempurnaan shalat kita, walaupun orang yang meninggalkannya (baik dia memang tidak tahu hukumnya ataupun telah tahu) shalatnya tetap sah, namun ia terancam berdosa karena meninggalkan perintah Allah Ta’ala dan RasulNya.

Apakah Didalam Shalat Jenazah Juga Meluruskan dan Merapatkan Shaf?

Syaikh Sulaimaan bin ‘Abdullaah Al-Maajid ditanya, apa hukumnya meluruskan shaf-shaf pada shalat jenazah? Maka jawaban beliau :

تجب تسوية الصفوف في صلاة الجنازة ، وكذا إتمام الصف الأول فالأول؛ لأنها صلاة فتكون مشمولة بعموم ما ورد في الأمرين، ولعدم ثبوت ما يخصصها. والله أعلم
“Wajib bagi kalian untuk meluruskan shaf-shaf pada shalat jenazah sebagaimana (kalian) menyempurnakan shaf awal, dikarenakan shalat adalah termasuk ke dalam keumuman dua perintah (yaitu perintah untuk meluruskan shaf dan perintah Nabi, “shalatlah sebagaimana kau melihat aku shalat.”) dan tidak diketahui ketetapan lain yang mengkhususkannya (pada shalat-shalat tertentu).”

Sumber : http://www.salmajed.com/node/10949

Dari fatwa Syaikh diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perintah meluruskan dan merapatkan shaf berlaku untuk semua shalat yang dikerjakan secara berjama’ah, termasuk shalat tarawih dan witr pada bulan Ramadhan yang dikerjakan di masjid bersama dengan kaum muslimin, karena perintahnya berlaku umum. Jika dibedakan pada shalat tertentu maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pasti akan menjelaskannya dan dipraktekkan oleh para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- kemudian akan ternukil dari kitab-kitab para ulama yang setia mengikuti jalan mereka -rahimahumullah-.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.
Allaahu a’lam.

2 thoughts on “Rapatkan Shaf Dalam Shalat, Wahai Ikhwah Fillah!

  1. Pingback: Rapatkan Shaf Dalam Shalat, Wahai Ikhwah Fillah! | Al-Muntaqa

  2. Apakah benar Syaikh Utsaimin dan Syaikh Bin Baz tidak mewajibkan untuk merapatkan (menempel dgn sebelahnya) sepanjang shalat didirikan,|hanya wajib rapat ketika awal shalat saja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s