Hadits-hadits Shahih dan Hasan Keutamaan Beberapa Surat Al-Qur’an

alquranAl-Faatihah

1) حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ الرَّبِيعِ وَأَحْمَدُ بْنُ جَوَّاسٍ الْحَنْفِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ عَمَّارِ بْنِ رُزَيْقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Rabii’ dan Ahmad bin Jawwaas Al-Hanafiy, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash, dari ‘Ammaar bin Ruzaiq, dari ‘Abdullaah bin ‘Iisaa, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, ketika Jibriil sedang duduk di sisi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, terdengarlah suara dari arah atas dan ia mendongakkan kepalanya, Jibriil berkata, “Ini adalah suara pintu langit dibuka pada hari ini setelah sebelumnya ia tidak pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini.” Maka turunlah malaikat darinya. Jibriil berkata, “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi setelah sebelumnya ia tidak pernah turun sama sekali kecuali pada hari ini.” Lalu (malaikat tersebut) memberi salam dan berkata, “Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu yang sebelumnya ia tidak pernah diberikan kepada seorangpun Nabi sebelummu, (yaitu) pembuka Kitab (Surat Al-Faatihah) dan penutup surat Al-Baqarah, tidaklah engkau membaca satu huruf pun (dari keduanya) kecuali cahaya tersebut akan diberikan kepadamu.”
[Shahiih Muslim no. 809; Sunan An-Nasaa’iy no. 912]

2) حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدَ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَهِيَ مَقْسُومَةٌ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Huraits, telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Muusaa, dari ‘Abdul Hamiid bin Ja’far, dari Al-‘Alaa’ bin ‘Abdurrahman, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Ubay bin Ka’b -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah tidaklah menurunkan pada Taurat dan tidak juga pada Injil semisal Ummul Qur’an (Surat Al-Faatihah), dia adalah As-Sab’ul Matsaaniy (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan dia terbagi diantara Aku dan hambaKu, dan untuk hambaKu apa yang diminta.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 3125; Sunan An-Nasaa’iy no. 914; Musnad Ahmad no. 20589] – Shahih. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah dalam Shahiihul Jaami’ no. 5560. Lihat juga ‘Umdatut Tafsiir 1/51 karya Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah.

3) حَدَّثَنَاه إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ
{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ
{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ
{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }
قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ
{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }
قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ
{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }
قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim Al-Hanzhaliy, telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan bin ‘Uyainah, dari Al-‘Alaa’, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang shalat namun dalam shalatnya tidak membaca Ummul Qur’an (Al-Faatihah), maka shalatnya ada yang kurang, tidak sempurna -tiga kali-.” Ditanyakan kepada Abu Hurairah, “(Walaupun) Kami berada di belakang Imam?” Abu Hurairah menjawab, “Bacalah ia sendiri-sendiri karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, “Aku membagi shalat antara Aku dan hambaKu separuh bagian, dan untuk hambaKu apa yang diminta, maka jika hamba berkata, “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin,” Allah Ta’ala berfirman, “HambaKu memujiKu.” Jika hamba berkata, “Ar-rahmanirrahim,” Allah Ta’ala berfirman, “HambaKu memujiKu.” Jika hamba berkata, “Maaliki yaumiddiin,” Allah Ta’ala berfirman, “HambaKu memuliakanKu,” dan Dia berfirman, “HambaKu berserah diri kepadaKu.” Jika hamba berkata, “Iyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah Ta’ala berfirman, “Ini antara Aku dan hambaKu, dan untuk hambaKu apa yang diminta.” Jika hamba berkata, “Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladhdhaalliin, ” Allah berfirman, “Ini untuk hambaKu dan untuk hambaKu apa yang diminta.”
[Shahiih Muslim no. 396; dan diriwayatkan oleh Ashhaabus Sunan]

4) حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا وَهْبٌ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ مَعْبَدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
كُنَّا فِي مَسِيرٍ لَنَا فَنَزَلْنَا فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ فَقَالَتْ إِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ سَلِيمٌ وَإِنَّ نَفَرَنَا غَيْبٌ فَهَلْ مِنْكُمْ رَاقٍ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مَا كُنَّا نَأْبُنُهُ بِرُقْيَةٍ فَرَقَاهُ فَبَرَأَ فَأَمَرَ لَهُ بِثَلَاثِينَ شَاةً وَسَقَانَا لَبَنًا فَلَمَّا رَجَعَ قُلْنَا لَهُ أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً أَوْ كُنْتَ تَرْقِي قَالَ لَا مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْكِتَابِ قُلْنَا لَا تُحْدِثُوا شَيْئًا حَتَّى نَأْتِيَ أَوْ نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَاهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ وَمَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Mutsannaa, telah menceritakan kepada kami Wahb, telah menceritakan kepada kami Hisyaam, dari Muhammad, dari Ma’bad, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, kami sedang dalam perjalanan kemudian kami singgah di suatu tempat, lalu datanglah seorang jariyah, ia berkata, “Sesungguhnya kepala desa kami sedang sakit sementara orang-orang kami sedang tidak ada, apakah diantara kalian bisa meruqyah?” Maka berdirilah seorang laki-laki bersamaan dengannya dan kami tidak pernah mengetahui bahwa ia bisa meruqyah. Kemudian laki-laki itu meruqyah kepala desa tersebut dan ternyata ia sembuh, kepala desa memerintahkan agar laki-laki itu diberi tiga puluh kambing dan kami dijamu dengan susu. Ketika kami kembali, kami bertanya kepadanya, “Apakah kau memang baik dalam meruqyah ataukah kau ini memang seorang peruqyah?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan Ummul Kitaab.” Kami berkata, “Janganlah kalian berbicara sesuatupun hingga kami bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam.” Ketika kami tiba di Madinah, kami menceritakan hal tersebut kepada beliau, beliau bersabda, “Darimana kalian mengetahui bahwasanya ia (Al-Faatihah) bisa untuk meruqyah? Bagikan kemari kambing tersebut dan hendaknya aku ikut dibagi.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 5007; Shahiih Muslim no. 2203]

Surat Al-Baqarah

1) حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيُّ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid, telah menceritakan kepada kami Ya’quub -dia adalah Ibnu ‘Abdurrahman Al-Qaariy-, dari Suhail, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah didalamnya.”
[Shahiih Muslim no. 782; Sunan Abu Daawud no. 2042; Jaami’ At-Tirmidziy no. 2877; Musnad Ahmad no. 7762]

2) حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Manshuur, dari Ibraahiim, dari ‘Abdurrahman bin Yaziid, dari Abu Mas’uud -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah dalam suatu malam, kedua ayat itu telah mencukupinya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 5010]

3) أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ بِشْرٍ، بِطَرَسُوسَ، كَتَبْنَا عَنْهُ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حِمْيَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلا أَنْ يَمُوتَ

Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Husain bin Bisyr -di Tharsus, kami mencatat darinya-, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Himyar, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyaad, dari Abu Umaamah -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca ayat Kursi pada tiap akhir shalat wajib maka tidak ada yang menghalanginya memasuki surga kecuali kematian.”
[Sunan An-Nasaa’iy Al-Kubraa no. 9848] – Hasan. Dihasankan oleh Syaikh Muqbil Al-Waadi’iy rahimahullah dalam Shahiihul Musnad no. 478, dan Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy rahimahullah dalam Nataa’ijul Ifkaar 2/294.

4) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ أَشْعَثَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجَرْمِيِّ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الْجَرْمِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِأَلْفَيْ عَامٍ أَنْزَلَ مِنْهُ آيَتَيْنِ خَتَمَ بِهِمَا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَلَا يُقْرَأَانِ فِي دَارٍ ثَلَاثَ لَيَالٍ فَيَقْرَبُهَا شَيْطَانٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyaar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Asy’ats bin ‘Abdurrahman Al-Jarmiy, dari Abu Qilaabah, dari Abul Asy’ats Al-Jarmiy, dari An-Nu’maan bin Basyiir -radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menulis kitab sejak dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, Allah menurunkan darinya dua ayat yang menjadi penutup surat Al-Baqarah. Tidaklah keduanya dibaca didalam rumah selama tiga malam kemudian syetan berani mendekatinya.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 2882; Musnad Ahmad no. 17947; Sunan Ad-Daarimiy no. 3387] – Hasan. Dihasankan Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy dalam Nataa’ijul Ifkaar 3/275 serta dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih At-Targhiib no. 1467.

Surat Ali ‘Imraan

1) حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ وَهُوَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ سَلَّامٍ عَنْ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَّامٍ يَقُولُ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

Telah menceritakan kepadaku Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Hulwaaniy, telah menceritakan kepada kami Abu Taubah -dia adalah Ar-Rabii’ bin Naafi’-, telah menceritakan kepada kami Mu’aawiyah -yakni Ibnu Sallaam-, dari Zaid, bahwasanya dia mendengar Abu Sallaam mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Umaamah Al-Baahiliy, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang di hari kiamat nanti sebagai syafa’at kepada yang membacanya. Bacalah Az-Zahraawain, yaitu Surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imraan, karena keduanya akan datang di hari kiamat nanti bagai dua gumpalan awan atau bagai dua naungan atau bagai dua kawanan burung sebagai pembela kepada yang membacanya. Bacalah Surat Al-Baqarah karena sesungguhnya membacanya adalah berkah dan meninggalkannya adalah kerugian, Al-Bathalah (tukang sihir) tidak akan dapat menguasainya.”
[Shahiih Muslim no. 807; Musnad Ahmad no. 21641]

2) حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا بشِيرُ بنُ الْمُهَاجِر، عَنْ عَبدِ اللَّهِ بنِ برَيْدَةَ، عَنْ أَبيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” تَعَلَّمُوا الْبقَرَةَ وآل عمران، فَإِنَّهُمَا الزَّهْرَاوَانِ يَجِيئَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ يُحَاجَّانِ وَقَالَ وَكِيعٌ مَرَّةً: يُجَادِلَانِ عَنْ صَاحِبهِمَا

Telah menceritakan kepada kami Wakii’, telah menceritakan kepada kami Basyiir bin Al-Muhaajir, dari ‘Abdullaah bin Buraidah, dari Ayahnya -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pelajarilah Surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imraan karena sesungguhnya keduanya adalah cahaya yang akan datang di hari kiamat bagaikan dua kumpulan awan atau bagaikan dua naungan atau bagaikan dua kawanan burung.” Wakii’ berkata sekali lagi, “Yang membela kepada yang membacanya.”
[Musnad Ahmad no. 22540] – Dalam sanadnya ada kelemahan[1], namun ia menjadi shahih lighairihi dengan syaahid hadits sebelumnya.

Surat Huud

1) حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ عَنْ شَيْبَانَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ شِبْتَ قَالَ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَالْوَاقِعَةُ وَالْمُرْسَلَاتُ وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Mu’aawiyah bin Hisyaam, dari Syaibaan, dari Abu Ishaaq, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, Abu Bakr -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah beruban!” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku dijadikan beruban oleh Huud, Al-Waaqi’ah, Al-Mursalaat, ‘Amma yatasaa ‘aluun, dan Idzasy syamsu kuwwirat.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 3297; Asy-Syamaa’il Muhammadiyah no. 41] – Hasan. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilatu Ash-Shahiihah no. 955, lihat juga Mukhtashar Asy-Syamaa’il no. 34.

Surat Al-Israa’

1) حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَبِي لُبَابَةَ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الزُّمَرَ وَبَنِي إِسْرَائِيلَ

Telah menceritakan kepada kami Shaalih bin ‘Abdullaah, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Abu Lubaabah, ia berkata, ‘Aaisyah -radhiyallahu ‘anha- berkata, dahulu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak tidur hingga beliau membaca Az-Zumar dan Bani Israa’iil (Surat Al-Israa’).
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 3405] – Shahih. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiihul Jaami’ no. 4874 dan dihasankan Ibnu Hajar dalam Nataa’ijul Ifkaar 3/65.

2)حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ، حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، قَالَ: حَدَّثَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنِ ابْنِ أَبِي بِلَالٍ، عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ، أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” كَانَ يَقْرَأُ الْمُسَبِّحَاتِ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ “، وَقَالَ: ” إِنَّ فِيهِنَّ آيَةً أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ آيَةٍ

Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin ‘Abdu Rabbih, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al-Waliid, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Bahiir bin Sa’d, dari Khaalid bin Ma’daan, dari Ibnu Abu Bilaal, dari ‘Irbaadh bin Saariyah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa ia telah menceritakan kepada mereka, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dahulu membaca Al-Musabbihaat[2] sebelum beliau beranjak tidur, beliau bersabda, “Disana ada ayat yang lebih afdhal dibanding seribu ayat.”
[Musnad Ahmad no. 16709; Sunan Abu Daawud no. 5057; Jaami’ At-Tirmidziy no. 2921] – Hasan. Dihasankan Al-Haafizh Ibnu Hajar dalam Nataa’ijul Ifkaar 3/63.

Surat Al-Kahfi

1) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ الْغَطَفَانِيِّ عَنْ مَعْدَانَ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ الْيَعْمَرِيِّ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْف عُصِمَ مِنْ الدَّجَّالِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, telah menceritakan kepada kami Mu’aadz bin Hisyaam, telah menceritakan kepadaku Ayahku, dari Qataadah, dari Saalim bin Abul Ja’d Al-Gathafaaniy, dari Ma’daan bin Abu Thalhah Al-Ya’mariy, dari Abud Dardaa’ -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa hapal sepuluh ayat dari awal surat Al-Kahfi, ia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal.”
[Shahiih Muslim no. 812] – Dalam riwayat yang lain dengan lafazh, “Dari akhir surat Al-Kahfi.”

2) أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي هَاشِمٍ، عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ عُبَادٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: ” مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ، ثُمَّ أَدْرَكَ الدَّجَّالَ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ، أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سَبِيلٌ، وَمَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَانَ لَهُ نُورًا مِنْ حَيْثُ قَرَأَهَا مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَكَّةَ

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Basysyaar, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Abu Haasyim, dari Abu Mijlaz, dari Qais bin ‘Abbaad, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, kemudian ia menjumpai Dajjal niscaya Dajjal tidak mampu membahayakannya, atau Dajjal tidak mampu menemukannya. Dan barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi maka ia akan diliputi cahaya dari tempat ia membacanya hingga Makkah.”
[Sunan An-Nasaa’iy Al-Kubraa no. 10724] – Shahih mauquuf. Al-Haafizh Siraajuddiin Ibnul Mulqin rahimahullah dalam Al-Badrul Muniir 2/292 berkata, “Disepakati keshahihan riwayat yang mauquuf.”

3) أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ الْمُقْرِيُّ بِبَغْدَادَ، ثنا أَبُو قِلابَةَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثنا يَحْيَى بْنُ كَثِيرٍ، ثنا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي هَاشِمٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ عَبَّادٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ، كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ، وَمَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا، ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ، وَمَنْ تَوَضَّأَ، ثُمَّ قَالَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ كُتِبَ فِي رَقٍّ، ثُمَّ طُبِعَ بِطَابَعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abul Hasan Ahmad bin ‘Utsmaan Al-Muqri’ -di Baghdad-, telah menceritakan kepada kami Abu Qilaabah ‘Abdul Malik bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Katsiir, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Haasyim, dari Qais bin ‘Abbaad, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, maka untuknya cahaya di hari kiamat dari tempat tinggalnya hingga Makkah, dan barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari akhir surat Al-Kahfi kemudian keluarlah Dajjal, maka Dajjal tidak mampu membahayakannya. Dan barangsiapa berwudhu’ kemudian mengucapkan subhanaka Allaahumma wa bihamdika laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik, akan dicatat pada lembaran putih kemudian (hurufnya) akan dicetak dengan alat cetak yang tidak akan rusak hingga hari kiamat.”
[Al-Mustadrak 1/564] – Yang rajih sanadnya adalah mauquuf[3].

Surat Al-Fath

1) حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ حَدَّثَهُمْ قَالَ
لَمَّا نَزَلَتْ { إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ إِلَى قَوْلِهِ فَوْزًا عَظِيمًا } مَرْجِعَهُ مِنْ الْحُدَيْبِيَةِ وَهُمْ يُخَالِطُهُمْ الْحُزْنُ وَالْكَآبَةُ وَقَدْ نَحَرَ الْهَدْيَ بِالْحُدَيْبِيَةِ فَقَالَ لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا جَمِيعًا

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Aliy Al-Jahdhamiy, telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Al-Haarits, telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abu ‘Aruubah, dari Qataadah, bahwa Anas bin Maalik -radhiyallahu ‘anhu- telah menceritakan kepada mereka, ia berkata, ketika turun ayat, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu, ” hingga firmanNya, “…keberuntungan yang besar di sisi Allah,” [QS Al-Fath 1-5], mereka (Rasulullah dan para sahabatnya) baru tiba dari Hudaibiyyah dan mereka diliputi dengan kesedihan dan depresi karena mereka telah menyembelih hewan-hewan kurban mereka di Hudaibiyyah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, telah turun kepadaku ayat yang lebih aku cintai dibanding dunia dan isinya.”
[Shahiih Muslim no. 1789]

2) حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهَا نَزَلَتْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرْجِعَهُ مِنْ الْحُدَيْبِيَةِ وَأَصْحَابُهُ يُخَالِطُونَ الْحُزْنَ وَالْكَآبَةَ وَقَدْ حِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَسَاكِنِهِمْ وَنَحَرُوا الْهَدْيَ بِالْحُدَيْبِيَةِ { إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا إِلَى قَوْلِهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا } قَالَ لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَتَانِ هُمَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا جَمِيعًا قَالَ فَلَمَّا تَلَاهُمَا قَالَ رَجُلٌ هَنِيئًا مَرِيئًا يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَدْ بَيَّنَ اللَّهُ لَكَ مَا يَفْعَلُ بِكَ فَمَا يَفْعَلُ بِنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْآيَةَ الَّتِي بَعْدَهَا { لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ } حَتَّى خَتَمَ الْآيَةَ

Telah menceritakan kepada kami Bahz, telah menceritakan kepada kami Hammaam, dari Qataadah, dari Anas, bahwasanya telah turun satu ayat kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam setibanya beliau dari Hudaibiyyah, yakni ketika para sahabat beliau dalam kondisi lelah, sedih dan depresi, dan sungguh mereka telah terhalang diantara mereka dan diantara rumah-rumah mereka, mereka telah menyembelih hewan-hewan kurban mereka di Hudaibiyyah, ayat tersebut adalah, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,” hingga firmanNya, “…pada jalan yang lurus,” [QS Al-Fath : 1-2]. Beliau bersabda, “Sungguh telah turun kepadaku dua ayat yang keduanya lebih kucintai dari dunia dan isinya.” Anas berkata, ketika beliau sedang membaca keduanya, berkatalah seorang laki-laki kepada beliau, “Wahai Nabi Allah, sebuah pemberian (yang baik) adalah yang diberkahi. Sungguh Allah telah melakukan (yang terbaik) untukmu, maka bagaimana dengan kami?” Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat selanjutnya, “Supaya Dia memasukkan orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,” hingga akhir ayat [QS Al-Fath : 5].
[Musnad Ahmad no. 11966] – Shahih.

Surat Al-Mulk

1) حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَرْزُوقٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنَا قَتَادَةُ عَنْ عَبَّاسٍ الْجُشَمِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُورَةٌ مِنْ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Marzuuq, telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah, telah mengkhabarkan kepada kami Qataadah, dari ‘Abbaas Al-Jusyamiy, dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Surat dari Al-Qur’an yang berjumlah tiga puluh ayat, ia dapat memberikan syafa’at bagi yang membacanya hingga dia diampuni Allah, (surat itu adalah) Tabarakalladzi biyadihil mulku (Surat Al-Mulk).”
[Sunan Abu Daawud no. 1400; Jaami’ At-Tirmidziy 2/728; Sunan Ibnu Maajah 4/241; Musnad Ahmad no. 7915] – Hasan. Dihasankan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiihul Jaami’ no. 2091 dan dishahihkan Syaikh Ahmad Syaakir dalam Ta’liiq Musnad Ahmad 15/129.

2) حَدَّثَنَا هُرَيْمُ بْنُ مِسْعَرٍ التِّرْمِذِيُّ حَدَّثَنَا الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ عَنْ لَيْثٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الم تَنْزِيلُ وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Telah menceritakan kepada kami Huraim bin Mis’ar At-Tirmidziy, telah menceritakan kepada kami Al-Fudhail bin ‘Iyaadh, dari Laits, dari Abu Az-Zubair, dari Jaabir -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dahulu tidak tidur hingga beliau membaca “Alif Laam Miim Tanziil (As-Sajdah)” dan “Tabarakalladzi biyadihil mulku (Al-Mulk).”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 2892; Musnad Ahmad no. 14249] – Shahih lighairihi[4] dengan syawahid. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilatu Ash-Shahiihah no. 585.

Surat Al-Kaafiruun

1) حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ قَالَ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ جَبَلَةَ بْنِ حَارِثَةَ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَقُولُهُ عِنْدَ مَنَامِي قَالَ إِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ فَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ حَتَّى تَخْتِمَهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ

Telah menceritakan kepada kami Hajjaaj, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Syariik, dari Abu Ishaaq, dari Farwah bin Naufal, dari Jabalah bin Haaritsah -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku sesuatu yang dapat aku baca ketika akan tidur.” Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kau hendak menuju pembaringan, maka bacalah “Qul yaa ayyuhal kaafiruun (Al-Kaafiruun)” hingga akhir surat, karena ia akan melepaskannya dari kesyirikan.”
[Musnad Ahmad no. 23381; Sunan An-Nasaa’iy Al-Kubraa no. 10564] – Hasan lighairihi[5], dan dalam sanadnya terdapat pembicaraan. Hadits ini disebutkan oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar dalam Al-Ishaabah 1/456 pada biografi Jabalah bin Haaritsah, dan beliau menshahihkannya.

2) حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ الْعَلافُ الْمِصْرِيُّ، وَأَحْمَدُ بْنُ حَمَّادِ بْنِ زُغْبَةَ، قَالا: ثنا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أنا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زَحْرٍ، عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ، وَ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ تَعْدِلُ رُبْعَ الْقُرْآنِ، وَكَانَ يَقْرَأُ بِهِمَا فِي رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ، وَقَالَ: هَاتَانِ الرَّكْعَتَانِ فِيهَا رَغِبَ الدَّهْرُ

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ayyuub Al-‘Alaaf Al-Mishriy dan Ahmad bin Hammaad bin Zughbah, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abi Maryam, telah mengkhabarkan kepada kami Yahyaa bin Ayyuub, dari ‘Ubaidullaah bin Zahr, dari Laits bin Abu Sulaim, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Qul huwallaahu ahad sama dengan sepertiga Al-Qur’an, dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun sama dengan seperempat Al-Qur’an.” (Ibnu ‘Umar berkata) Dahulu beliau membaca keduanya pada dua raka’at shalat Fajr, beliau bersabda, “Pada dua raka’at ini terdapat hal-hal yang disenangi dunia dan seisinya.”
[Mu’jam Al-Kabiir no. 13493; Al-Ausath no. 186] – Hasan lighairihi. Dihasankan Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilatu Ash-Shahiihah no. 586.

Surat Al-Ikhlaash dan Al-Mu’awwidzatain

1) حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Yuusuf, telah mengkhabarkan kepada kami Maalik, dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdullaah bin ‘Abdurrahman bin Abu Sha’sha’ah, dari Ayahnya, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, bahwa ada seorang laki-laki yang mendengar seseorang membaca Qul huwallaahu ahad dan terus mengulanginya, kemudian pada pagi harinya laki-laki itu datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengadukan hal tersebut kepada beliau sebagaimana perbuatan orang itu tadi malam. Beliau bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh surat tersebut menyamai sepertiga Al-Qur’an.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 5014; Sunan Abu Daawud no. 1461; Sunan An-Nasaa’iy no. 995]

2) حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ مَعْدَانَ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Basysyaar, Zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sa’iid, dari Syu’bah, dari Qataadah, dari Saalim bin Abul Ja’d, dari Ma’daan bin Abu Thalhah, dari Abud Dardaa’, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Tidakkah salah seorang dari kalian sanggup membaca sepertiga Al-Qur’an dalam satu malam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana caranya membaca sepertiga Al-Qur’an?” Rasulullah bersabda, “Qul huwallaahu ahad sama dengan sepertiga Al-Qur’an.”
[Shahiih Muslim no. 813; Musnad Ahmad no. 21196; Sunan Ad-Daarimiy no. 3431]

3) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
كَانَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ فَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ لَهُمْ فِي الصَّلَاةِ فَقَرَأَ بِهَا افْتَتَحَ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ثُمَّ يَقْرَأُ بِسُورَةٍ أُخْرَى مَعَهَا وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ تَقْرَأُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ثُمَّ لَا تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى قَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِهَا فَعَلْتُ وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ وَكَانُوا يَرَوْنَهُ أَفْضَلَهُمْ وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ فَلَمَّا أَتَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ يَا فُلَانُ مَا يَمْنَعُكَ مِمَّا يَأْمُرُ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ أَنْ تَقْرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ حُبَّهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Abu Uwais, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziiz bin Muhammad, dari ‘Ubaidullaah bin ‘Umar, dari Tsaabit Al-Bunaaniy, dari Anas bin Maalik, ia berkata, seorang laki-laki Anshar mengimami mereka di Masjid Qubaa’, setiap kali mengawali untuk membaca surat (setelah surat Al-Faatihah) dalam shalat ia selalu memulainya dengan membaca Qul huwallaahu ahad hingga selesai, lalu ia melanjutkan dengan surat yang lain dan ia selalu melakukannya di setiap rakaat. Lantas para sahabatnya berbicara padanya, mereka berkata, “Kau membaca surat itu lalu menurutmu itu tidak mencukupimu hingga kau melanjutkannya dengan surat yang lain? Bacalah surat tersebut atau tinggalkan lalu bacalah surat yang lain!” Laki-laki Anshar itu berkata, “Aku tidak akan meninggalkannya! Bila kalian ingin aku menjadi imam kalian dengan membacanya maka aku akan melakukannya, dan bila kalian tidak suka maka aku akan meninggalkan kalian!” Sementara mereka melihatnya sebagai orang yang paling afdhal di antara mereka, maka mereka tidak ingin diimami oleh orang lain. Ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mendatangi mereka, maka mereka memberitahukan masalah itu, lalu beliau bersabda (kepada laki-laki Anshar tersebut), “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan yang diperintahkan teman-temanmu dan apa yang mendorongmu membaca surat itu disetiap rakaat?” Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai surat tersebut.” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya mencintai surat tersebut akan memasukkanmu ke dalam surga.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 2901; Musnad Ahmad no. 12024; Sunan Ad-Daarimiy no. 3435] – Hasan. Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih At-Tirmidziy berkata, “Hasan shahiih.”

4) حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي فُدَيْكٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْبَرَّادِ عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
خَرَجْنَا فِي لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي لَنَا قَالَ فَأَدْرَكْتُهُ فَقَالَ قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا قَالَ قُلْ فَقُلْتُ مَا أَقُولُ قَالَ قُلْ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وَتُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil bin Abu Fudaik, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b, dari Abu Sa’iid Al-Barraad, dari Mu’aadz bin ‘Abdullaah bin Khubaib, dari Ayahnya -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, kami keluar pada malam hari ketika hujan lebat dan gelap, kami meminta Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk shalat bersama kami, ‘Abdullaah bin Khubaib berkata, maka aku mendapati beliau dan beliau pun bersabda, “Ucapkan!” Namun aku tidak mengucapkan apapun, kemudian beliau bersabda lagi, “Ucapkan!” Namun aku tidak juga mengucapkan apapun, beliau bersabda kembali, “Ucapkan!” Aku berkata, “Apa yang harus kuucapkan (wahai Rasul)?” Beliau bersabda, “Ucapkan, Qul huwallaahu ahad dan Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) saat sore dan pagi hari tiga kali, maka mereka akan mencukupimu dari segala sesuatu.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 3575; Sunan Abu Daawud no. 5082; Sunan An-Nasaa’iy no. 5428; Musnad Ahmad no. 22156] – Hasan. Dihasankan Al-Haafizh Ibnu Hajar dalam Nataa’ijul Ifkaar 2/345 dan Syaikh Al-Albaaniy dalam Takhriij Al-Misykaah no. 2104.

5) حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid, telah menceritakan kepada kami Al-Mufadhdhal bin Fadhaalah, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihaab, dari ‘Urwah, dari ‘Aaisyah, bahwa dahulu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam jika hendak beranjak ke pembaringannya pada setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniup keduanya dan beliau membaca, “Qul huwallaahu ahad, Qul a’uudzubirabbil falaq dan Qul a’uudzubirabbin naas,” kemudian beliau mengusap dengan kedua telapak tangannya apa yang dapat dijangkau dari anggota tubuh beliau, dimulai dari kepala, wajah dan pada anggota tubuh yang dapat beliau jangkau, beliau melakukannya tiga kali.
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 5018; Sunan Abu Daawud no. 5056; Jaami’ At-Tirmidziy no. 3402]

6) حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عَيَّاشٍ عَنْ أَسِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْخَثْعَمِيِّ عَنْ فَرْوَةَ بْنِ مُجَاهِدٍ اللَّخْمِيِّ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ
لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي يَا عُقْبَةُ بْنَ عَامِرٍ صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَاعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَكَ قَالَ ثُمَّ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي يَا عُقْبَةُ بْنَ عَامِرٍ أَمْلِكْ لِسَانَكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ قَالَ ثُمَّ لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي يَا عُقْبَةُ بْنَ عَامِرٍ أَلَا أُعَلِّمُكَ سُوَرًا مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهُنَّ لَا يَأْتِيَنَّ عَلَيْكَ لَيْلَةٌ إِلَّا قَرَأْتَهُنَّ فِيهَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
قَالَ عُقْبَةُ فَمَا أَتَتْ عَلَيَّ لَيْلَةٌ إِلَّا قَرَأْتُهُنَّ فِيهَا وَحُقَّ لِي أَنْ لَا أَدَعَهُنَّ وَقَدْ أَمَرَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ayyaasy, dari Asiid bin ‘Abdurrahman Al-Khats’amiy, dari Farwah bin Mujaahid Al-Lakhmiy, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, aku berjumpa dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda kepadaku, “Wahai ‘Uqbah bin ‘Aamir, sambunglah (tali silaturahim) dari orang yang memutuskannya, berikanlah (sedekah) kepada orang yang telah mengharamkanmu (memusuhimu), maafkanlah orang yang telah menzhalimimu.” ‘Uqbah berkata, kemudian aku mendatangi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam (di lain waktu), beliau bersabda kepadaku, “Wahai ‘Uqbah bin ‘Aamir, tahanlah lisanmu, menangislah atas kesalahan-kesalahanmu, dan lapangkan rumahmu.” ‘Uqbah berkata, kemudian aku mendatangi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam (di lain waktu), beliau bersabda kepadaku, “Wahai ‘Uqbah bin ‘Aamir, maukah kau kuajarkan surat-surat yang tidak diturunkan di Taurat, Zabur dan Injil, dan tidak juga di Al-Qur’an yang semisal dengannya? Janganlah sekali-kali kau memasuki waktu malam kecuali kau telah membacanya, surat-surat itu adalah Qul huwallaahu ahad, Qul a’uudzubirabbil falaq dan Qul a’uudzubirabbin naas.” ‘Uqbah berkata, “Maka tidaklah aku memasuki waktu malam kecuali aku telah membacanya dan sudah keharusan untukku bahwasanya aku tidak akan meninggalkannya, dan sungguh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan yang demikian kepadaku.”
[Musnad Ahmad no. 16999] – Hasan. Dihasankan Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilatu Ash-Shahiihah 6/859.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Semoga bermanfaat.
Allaahu a’lam.

Sumber : http://www.saaid.net/bahoth/29.htm, dengan penambahan dan pengurangan seperlunya.

Footnotes :

[1] Lemah karena Basyiir. Basyiir bin Al-Muhaajir Al-Ghanawiy Al-Kuufiy, ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’iin, Ahmad berkata “munkarul hadiits, hadits-haditsnya butuh penguat”, An-Nasaa’iy berkata “tidak ada yang salah dengannya”, Al-Bukhaariy berkata “dia menyelisihi pada beberapa haditsnya”, Abu Haatim berkata “ditulis haditsnya namun tidak dijadikan hujjah”, Ibnu ‘Adiy berkata “padanya beberapa kelemahan”, Al-‘Ijliy berkata “orang Kuufah yang tsiqah”, Al-‘Uqailiy berkata “tertuduh seorang murji’, dibicarakan oleh para ulama”, Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat seraya berkata “banyak salahnya”, As-Saajiy berkata “munkarul hadiits”, Adz-Dzahabiy berkata “tabi’in shaduuq”, Ibnu Hajar berkata “shaduuq layyinul hadiits, tertuduh irjaa'”. Termasuk thabaqah ke-5. Dipakai oleh Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Al-Jarh wa At-Ta’diil 2/1472; Tahdziibul Kamaal no. 727; Miizaanul I’tidaal 2/43; Tahdziibut Tahdziib 1/468; Taqriibut Tahdziib no. 723; Al-Mughniy fiy Adh-Dhu’afaa’ no. 937]

[2] Al-Musabbihaat adalah surat-surat Al-Qur’an yang diawali dengan “subhana”, “sabbaha” dan “yusabbihu”, surat-surat tersebut adalah Al-Israa’, Al-Hadiid, Al-Hasyr, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, At-Taghaabun dan Al-A’laa.

[3] Hadits-hadits yang berbicara mengenai keutamaan surat Al-Kahfi yang berasal dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, di sisi kami yang rajih adalah sanad yang mauquuf. Adapun lafazh “malam jum’at” atau “hari jum’at” tidak ditemukan pada jalan periwayatan perawi yang mu’tamad dan sudah terkenal sebagai seorang yang tak perlu diragukan lagi seperti Syu’bah (Amiirul Mu’miniin fil hadiits) dan Sufyaan Ats-Tsauriy (tsiqah haafizh faqiih ‘aabid, imaam hujjah) yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Haasyim. Lafazh tersebut hanya ada pada jalan periwayatan dari Husyaim (tsiqah tsabt, katsiirut tadliis wal irsaal khafiy) yang ketsiqahannya berada dibawah Syu’bah dan Sufyaan. Dari sini kami memandang masalah ini berpulang pada penerimaan ziyadatu ats-tsiqah (tambahan lafazh yang disisipkan oleh seorang perawi tsiqah yang menyelisihi perawi tsiqah lainnya) dan contoh yang sudah mu’tabar dari khilafiyah semacam ini adalah dalam kasus “tahrik” (menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika duduk tahiyat) yang mana tambahan lafazh “yuharrikuha” hanya berasal dari Zaa’idah bin Qudaamah dan ia menyelisihi perawi-perawi tsiqah lainnya yang meriwayatkan dari ‘Aashim bin Kulaib tanpa lafazh tersebut. Oleh karena itu kami menghormati pendapat saudara-saudara kami yang mungkin berbeda pendapat dengan kami. Wallaahu waliyut taufiiq.

[4] Sanad hadits ini lemah karena Laits. Namanya adalah Laits bin Abu Sulaim bin Zunaim Al-Umawiy Al-Qurasyiy, Abu Bakr atau Abu Bukair Al-Kuufiy, seorang ahli ilmu kota Kuufah yang shalih dan jujur namun dha’if dalam hadits, hapalannya bercampur baur hingga ia sendiri tidak bisa membedakan hadits-haditsnya. Tidak diterima periwayatannya jika ia bersendirian namun haditsnya bisa digunakan sebagai i’tibar dan syaahid. Termasuk thabaqah ke-6. Wafat tahun 148 H atau dikatakan 143 H. Dipakai Al-Bukhaariy dalam At-Ta’aaliq, Muslim sebagai penguat, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Tahdziibul Kamaal no. 5017; Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 6/179; Taqriibut Tahdziib no. 5685]

Dan ada sedikit pembicaraan mengenai ‘an’anah Abu Az-Zubair dari Jaabir pada hadits ini.

أَخْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ، قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا الزُّبَيْرِ: أَسَمِعْتَ جَابِرًا يَذْكُرُ، (فذكر هذا الحديث) ؟ “.
قَالَ: لَيْسَ جَابِرٌ حَدَّثَنِيهِ، وَلَكِنْ حَدَّثَنِي صَفْوَانُ أَوْ ابْنُ صَفْوَانَ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Daawud, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair, ia berkata, aku bertanya kepada Abu Az-Zubair, “Apakah kau mendengar Jaabir menyebutkan hadits ini?” Abu Az-Zubair menjawab, “Bukan Jaabir yang menceritakan kepadaku, akan tetapi telah menceritakan kepadaku (hadits ini) Shafwaan atau Ibnu Shafwaan.”
[Sunan An-Nasaa’iy Al-Kubraa no. 10477]

Mengenai Shafwaan, dia adalah Shafwaan bin ‘Abdullaah bin Shafwaan bin Umayyah bin Khalaf Al-Qurasyiy Al-Jumahiy Al-Makkiy, seorang yang tsiqah, termasuk perawi Muslim dalam kitab shahihnya, dan dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul Mufrad. [Tahdziibul Kamaal no. 2885]

Laits bin Abu Sulaim mempunyai mutaba’ah dari Al-Mughiirah bin Muslim :

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، وَيَحْيَى بْنُ مُوسَى، قَالا: حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي الْمُغِيرَةُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ: الم تَنْزِيلُ وَ: تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim dan Yahyaa bin Muusaa, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Syabaabah bin Sawwaar, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Al-Mughiirah bin Muslim, dari Abu Az-Zubair, dari Jaabir, ia berkata, dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam…dst.
[Al-Adabul Mufrad no. 1207] – Hasan.

Al-Mughiirah, dia adalah Al-Mughiirah bin Muslim Al-Qasamaliy, Abu Salamah As-Sarraaj Al-Madaa’iniy, Ahmad berkata “tidaklah aku melihat ada yang salah dalam dirinya”, Ibnu Ma’iin dalam suatu riwayat berkata “shaalih”, dalam riwayat lain ia berkata “tsiqah”, Abu Haatim berkata “shaalihul hadiits, shaduuq”, Ad-Daaruquthniy berkata “tidak mengapa dengannya”, Abu Daawud Ath-Thayaalisiy berkata “shaduuq”, Ibnu Hibbaan mengeluarkannya dalam Ats-Tsiqaat, Al-‘Ijliy berkata “tsiqah”, Ibnu Hajar berkata “shaduuq”. Termasuk thabaqah ke-6. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul Mufrad, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Tahdziibul Kamaal no. 6142; Tahdziibut Tahdziib no. 9483; Taqriibut Tahdziib no. 6850]

Oleh karena itu, hadits pertama terangkat ke derajat hasan dan secara keseluruhan hadits ini shahih lighairihi.

[5] Pembicaraan dalam sanad hadits ini adalah seputar tadlis Abu Ishaaq As-Sabii’iy yang dalam hadits ini meriwayatkan dengan ‘an’anahnya. Abu Ishaaq As-Sabii’iy, ‘Amr bin ‘Abdullaah bin ‘Ubaid Al-Hamadaaniy Al-Kuufiy, seorang yang tsiqah ‘aabid, banyak haditsnya, namun banyak melakukan tadlis dan mengalami ikhtilath di akhir umurnya. [Tahdziibul Kamaal no. 4400; Taqriibut Tahdziib no. 5065]

Oleh Ibnu Hajar, ia dimasukkan dalam mudallis thabaqah ketiga, maka ‘an’anah darinya tidak diterima hingga ia jelas menyatakan penyimakan dari syaikhnya karena ia juga kerap mentadlis dari perawi dha’if.

Jabalah bin Haaritsah mempunyai syawaahid dari :

Naufal Al-Asyja’iy -radhiyallahu ‘anhu-

حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ، عَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْجَعِيِّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ نَوْفَلٍ الأَشْجَعِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَقُولُهُ إِذَا أَصْبَحْتُ وَإِذَا أَمْسَيْتُ؟ قَالَ صلى الله عليه وسلم: ” اقْرَأْ: قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا، فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ

Telah menceritakan kepada kami Marwaan bin Mu’aawiyah, dari Abu Maalik Al-Asyja’iy, dari ‘Abdurrahman bin Naufal Al-Asyja’iy, dari Ayahnya, ia berkata, aku bertanya, wahai Rasulullah, khabarkan kepadaku dengan sesuatu yang dapat kuucapkan ketika aku bangun pagi hari dan jika aku pulang sore hari? Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Qul yaa ayyuhal kaafiruun, kemudian tidurlah ketika selesai membacanya karena ia dapat melepaskanmu dari syirik.”
[Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 26939] – Sanadnya dha’if namun bisa dipakai sebagai i’tibar.

Abu Maalik Al-Asyja’iy, Sa’d bin Thaariq bin Usyaim Al-Kuufiy, Ahmad, Ishaaq bin Manshuur, Ibnu Ma’iin dan Al-‘Ijliy sepakat akan ketsiqahannya, Abu Haatim berkata “shaalihul hadiits, ditulis haditsnya”, An-Nasaa’iy berkata “tidak ada yang salah dengannya”, Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. Dipakai Al-Bukhaariy dalam At-Ta’aaliq, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah. [Tahdziibul Kamaal no. 2211]

‘Abdurrahman bin Naufal Al-Asyja’iy, seorang yang majhuul, ia saudara Farwah bin Naufal Al-Asyja’iy. Meriwayatkan dari Ayahnya, Naufal Abu Farwah Al-Asyja’iy, diriwayatkan hanya oleh Abu Maalik Al-Asyja’iy. [Al-Jarh wa At-Ta’diil 5/294; Taariikhul Kabiir no. 7205]

Oleh karena itu hadits ini saling menguatkan dan ia hasan lighairihi. Allaahu a’lam.

* * *

5 thoughts on “Hadits-hadits Shahih dan Hasan Keutamaan Beberapa Surat Al-Qur’an

  1. Pingback: Keutamaan Beberapa Surat Al-Qur’an dari Hadits-Hadits Shahih dan Hasan | Al-Muntaqa

  2. Assalamualaikum wr wb,
    Alhamdulillah sangat bermanfaat, terimakasih ustadz Abu Ahmad
    Adakah hadits keuatamaan surat Alam Nasrah ( Al Insyirah ) ?
    Bila ada mohon dapat di share, terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s