Tidak Bayar Zakat Fithrah, Puasanya Tidak Sah dan Tidak Diterima Allah?

gandumAl-Imam Abu Bakr Al-Khathiib Al-Baghdaadiy rahimahullah meriwayatkan :

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَلْحَةَ النِّعَالِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ سَهْلُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ سَهْلٍ الْجَوْهَرِيُّ الطَّرَسُوسِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ الْعَسْقَلانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي السَّرِيِّ الْعَسْقَلانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُثْمَانَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” لا يَزَالُ صِيَامُ الْعَبْدِ مُعَلَّقًا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى تُؤَدَّى زَكَاةُ فِطْرِهِ “

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Thalhah An-Ni’aaliy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Shaalih Sahl bin Ismaa’iil bin Sahl Al-Jauhariy Ath-Tharasuusiy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Al-Hasan bin Qutaibah Al-‘Asqalaaniy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu As-Sariy Al-‘Asqalaaniy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, ia berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin ‘Utsmaan, dari Anas bin Maalik -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa puasa seorang hamba tergantung diantara langit dan bumi hingga ditunaikan zakat fithrah.”
[Taariikh Baghdaad 10/174]

Ushul hadits ini terdapat pada kitab Fawaa’id karya Abul Hasan Muhammad bin Thalhah An-Ni’aaliy, hadits no. 77[1]. Juga diriwayatkan oleh cucunya, Abu ‘Abdillaah Al-Husain bin Ahmad bin Muhammad bin Thalhah An-Ni’aaliy dalam Fawaa’id-nya hadits no. 6[2].
Diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Asaakir (Taariikh Dimasyq 43/93)[3]; Abul Fath Al-Maqdisiy (Majlis min Amaliy no. 15)[4].

Mengenai Abul Hasan Muhammad bin Thalhah An-Ni’aaliy, biografinya disebutkan Al-Khathiib Al-Baghdaadiy pada Taariikh Baghdaad 3/370 no. 929 (tahqiiq : Dr. Basyaar ‘Awwaad Ma’ruuf), Al-Khathiib berkata, “Seorang syaikh, dia mencatat hadits bersama kami hingga dia wafat, dan dia mengeluarkan riwayat-riwayat yang gharib dan diingkari,” kemudian Al-Khathiib menyebutkan syuyuukhnya, setelah itu berkata, “Aku mencatat darinya, dan dia seorang rafidhah.”

Al-Khathiib meriwayatkan dari Abul Qaasim Al-Azhariy, dia berkata bahwasanya pada suatu hari disebutkan Mu’aawiyah bin Abu Sufyaan -radhiyallahu ‘anhuma- di sisi Muhammad bin Thalhah, kemudian dia melaknat Mu’aawiyah.

Sanad hadits ini cacat pada dua tempat.
Pertama, letak masalah ada pada ‘Abdurrahman bin ‘Utsmaan, syaikhnya Baqiyyah, seorang yang tidak dikenal, dan tidak diketahui apakah ia punya periwayatan dari Anas bin Maalik. Namun Al-Haafizh Ibnul Jauziy dalam Al-‘Ilal Al-Mutanaahiyah no. 823 menyebutkan :

أما الأول ففيه عبد الرحمن بن عثمان، قال أحمد بن حنبل : طرح الناس حديثه. وقال إبن حبان : لا يجوز الإحتجاج به
Adapun hadits pertama, didalamnya ada ‘Abdurrahman bin ‘Utsmaan, Ahmad bin Hanbal berkata, “Manusia membuang haditsnya,” Ibnu Hibbaan berkata, “Tidak boleh menjadikan haditsnya sebagai hujjah.”

Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilatu Adh-Dha’iifah no. 6827 membantah kalam Ibnul Jauziy, dia berkata :

وأنا أستبعد جدا أن يكون عبد الرحمن هذا هو صاحب هذا الحديث وهو أبو بحر البكراوي، لأنه توفي سنة ١٩٥ه! بل هو من شيوخ بقية المجهولين ألذين ليس لهم ذكر في شيء من كتب الرجال
“Dan aku menganggap sangat mustahil bahwa ‘Abdurrahman yang ini (yang disebutkan oleh Ibnul Jauziy) adalah periwayat hadits ini, dan dia adalah Abu Bahr Al-Bakraawiy, karena dia wafat tahun 195 H! Bahkan (yang benar), dia adalah salah seorang yang tidak dikenal dari syuyuukh-nya Baqiyyah yang nama mereka tidak sekalipun disebutkan dalam kitab-kitab para perawi.”

Syaikh Al-Albaaniy lebih mendekati kebenaran dalam hal ini, karena jika kita buka kitab-kitab para perawi dan mencari nama ‘Abdurrahman bin ‘Utsmaan yang disebutkan Ibnul Jauziy, maka akan ditemukan :

‘Abdurrahman bin ‘Utsmaan bin Umayyah bin Abdurrahman bin Abu Bakrah Ats-Tsaqafiy, Abu Bahr Al-Bakraawiy Al-Bashriy. Seorang yang dha’iif. Ahmad berkata “Manusia membuang haditsnya (tidak dijadikan hujjah), Ibnu Hajar berkata “dha’iif”. Termasuk thabaqah ke-9. Wafat tahun 195 H. [Taariikhul Kabiir no. 7124; Taqriibut Tahdziib no. 3943]

Baqiyyah bin Al-Waliid, walaupun dia seorang yang banyak melakukan tadlis (bahkan tadlisnya dari orang-orang lemah dan tidak dikenal) namun tidaklah diketahui ia punya periwayatan dari ‘Abdurrahman bin ‘Utsmaan Abu Bahr Al-Bakraawiy yang berada pada thabaqah dibawahnya (Baqiyyah termasuk thabaqah ke-8). Dan yang lebih menguatkan bantahan Syaikh Al-Albaaniy adalah pada riwayat Ibnu ‘Asaakir disebutkan ‘Abdurrahman bin ‘Utsmaan bin ‘Umar (silahkan lihat pada bagian footnotes) yang biografinya tidak ditemukan pada kitab-kitab para perawi, terlebih lagi jika kita meneliti perkataan Ibnul Jauziy lebih jauh maka amat mustahil seseorang yang termasuk pada thabaqah ke-9 mempunyai periwayatan dari sahabat Rasulullah bahkan dari sahabat-sahabat yang paling akhir wafatnya, termasuk Anas bin Maalik. Allaahu a’lam.

Kedua, Muhammad bin Abu As-Sariy. Namanya adalah Muhammad bin Al-Mutawakkil bin ‘Abdurrahman bin Hassaan Al-Qurasyiy Al-Haasyimiy, Abu ‘Abdillaah Al-‘Asqalaaniy. Seorang haafizh yang bersamaan dengan hapalannya yang luas, ia juga dicacatkan oleh para ulama karena banyak kelirunya. Ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’iin, Abu Haatim berkata “layyinul hadiits”, Ibnu ‘Adiy berkata “banyak salah”, Ibnu Hibbaan memasukkan dalam Ats-Tsiqaat seraya berkata “termasuk dari para huffaazh”, Maslamah bin Al-Qaasim berkata “banyak keliru dan tidak mengapa dengannya” (ucapan Maslamah ini mengindikasikan bahwa Muhammad bin Abu As-Sariy adalah orang yang jujur namun tidak dhabith dalam hadits), Ibnu Wadhdhaah berkata “banyak hapalannya (tetapi) banyak salahnya”, Adz-Dzahabiy berkata “shaduuq”, Ibnu Hajar berkata “shaduuq ‘aarif, padanya terdapat kesalahan yang banyak”. Termasuk thabaqah ke-10. Wafat pada tahun 238 H. Dipakai oleh Abu Daawud. [Tahdziibul Kamaal no. 5578; Miizaanul I’tidaal 6/317; Al-Kaasyif 3/92; Al-Mughniy fiy Adh-Dhu’afaa’ 2/259; Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 11/161; Tahdziibut Tahdziib no. 8697; Taqriibut Tahdziib no. 6263]

Jadi, sanad ini lemah dan ada indikasi keterputusan antara ‘Abdurrahman bin ‘Utsmaan dengan Anas bin Maalik karena tidak diketahui keadaannya ‘Abdurrahman. Juga Muhammad bin Abu As-Sariy yang banyak kelirunya walaupun ia seorang haafizh.

Anas bin Maalik mempunyai syaahid dari Jariir bin ‘Abdillaah Al-Bajaliy -radhiyallahu ‘anhu-

قَرَأْتُ عَلَى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ، بِدِمَشْقَ، عَنْ أَبِي الْفَضْلِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي مَنْصُورٍ السَّلامِيِّ، أَخْبَرَنَا هِبَةُ اللَّهِ بْنُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْكَاتِبُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي عَلِيٍّ الْبَصْرِيُّ، قَالَ: ثنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ حَمْدَانَ الدِّيرْعَاقُولِيُّ، قَالَ: ثنا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ، قَالَ: ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عُبَيْدَةَ الْمُؤَدِّبُ، قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْبَصْرِيُّ، قَالَ: ثنا مُعْتَمِرُ، قَالَ: ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لا يُرْفَعُ إِلا بِزَكَاةِ الْفِطْرِ “

Aku membacakan kepada ‘Aliy bin Al-Husain bin ‘Aliy -di Damaskus-, dari Abul Fadhl Muhammad bin Abu Manshuur As-Salaamiy, telah mengkhabarkan kepada kami Hibbatullaah bin Abu ‘Abdillaah Al-Kaatib, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin Abu ‘Aliy Al-Bashriy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Ibraahiim bin Hamdaan Ad-Diir’aaquuliy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdillaah Muhammad bin Ismaa’iil bin Ishaaq Al-Faqiih, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin ‘Aliy bin ‘Ubaidah Al-Mu’addib, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid Al-Bashriy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Abu Khaalid, dari Qais bin Abu Haazim, dari Jariir bin ‘Abdullaah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya bulan Ramadhan tergantung diantara langit dan bumi, tidaklah dinaikkan (kepada Allah) melainkan dengan zakat fithri.”
[Fadhaa’il Jariir li Ahmad bin ‘Iisaa Al-Maqdisiy no. 127]

Ibnul Jauziy dalam Al-‘Ilal Al-Mutanaahiyah no. 824 berkata, “Tidak shahih, Muhammad bin ‘Ubaid (Al-Bashriy) majhuul.”
Al-Haafizh Ibnu Hajar dalam Lisaanul Miizaan 7/334, menguatkan kalam Ibnul Jauziy, seraya berkata, “Tidak mempunyai penguat.”
Al-Haafizh As-Suyuuthiy mendha’ifkan hadits ini dalam Al-Jaami’ Ash-Shaghiir no. 4905, begitu pula Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilatu Adh-Dha’iifah no. 43

Walhasil, sanad hadits penguat ini pun lemah. Dan secara keseluruhan, hadits ini adalah hadits yang lemah yang tidak bisa terangkat ke derajat hasan, bahkan matannya gharib, dinukil dari orang-orang yang tidak diketahui keberadaannya dan tidak mempunyai penguat dari para perawi yang tsiqah dan dari hadits-hadits mu’tabar.

Hukum Zakat Fithrah

Hukum zakat secara umum telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an bahkan Allah gandengkan setelah perintah menunaikan shalat yang mana hal ini merupakan indikasi dasar hukum bahwasanya zakat itu wajib. Allah Ta’ala berfirman :

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. [QS Al-Baqarah : 110]

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat. [QS An-Nuur : 56]

Sabda Al-Ma’shum Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam semakin menguatkan kewajiban zakat bagi orang-orang yang terkena kewajibannya, karena ia termasuk rukun Islam. Dalam hadits Jibriil yang panjang, Jibriil ‘Alaihissalaam datang kepada Nabi dan bertanya mengenai apa itu Islam, maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا

“Islam adalah kau bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, kau mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan kau berhaji ke Baitullah jika mampu melaksanakannya.”
[Shahiih Muslim no. 8]

Dan secara khusus, mengenai zakat fithrah :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithrah sebanyak satu sha’ dari tamr (kurma kering), atau satu sha’ dari sya’iir (gandum) kepada setiap hamba baik hamba yang merdeka, laki-laki maupun yang perempuan, anak kecil maupun dewasa dari kaum muslimin, dan beliau memerintahkan untuk membayarkannya sebelum manusia keluar menuju shalat ‘Id.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 1503; Shahiih Muslim no. 984]

Al-Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata :

فَقَالَ جُمْهُورهمْ مِنْ السَّلَف وَالْخَلَف: مَعْنَاهُ أَلْزَمُ وَأَوْجَبُ، فَزَكَاة الْفِطْر فَرْض وَاجِب عِنْدهمْ لِدُخُولِهَا فِي عُمُوم قَوْله تَعَالَى
“Berkata jumhur ulama dari kalangan salaf maupun khalaf, maknanya ditekankan dan diwajibkan. Maka zakat fithrah adalah fardhu yang diwajibkan di sisi mereka menurut makna yang lebih sesuai dengan keumuman firman Allah Ta’ala (yaitu tunaikan zakat).” [Syarh Shahiih Muslim no. 1139]

Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata :

زكاة الفطر فريضة فرضها رسول الله صلى الله عليه وسلم كما قال عبدالله بن عمر رضي الله عنهما: “فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر من رمضان صاعاً من تمر أو صاعاً من شعير”، وقال ابن عباس رضي الله عنهما: “فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث، وطعمة للمساكين”
“Zakat Fithrah adalah kewajiban yang diwajibkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana perkataan ‘Abdullaah bin ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithrah dari Ramadhan sebanyak satu sha’ dari tamr (kurma kering), atau satu sha’ dari sya’iir (gandum),” dan berkata Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithrah untuk mensucikan puasa dari perkataan yang tiada guna dan perkataan keji dan juga untuk memberi makan orang-orang miskin.” [Majmuu’ Fataawaa wa Rasaa’il juz 18, kitab zakat]

Zakat fithrah berfungsi untuk membersihkan puasa Ramadhan kita dari hal-hal tidak berguna yang mungkin kita lakukan tanpa kita sadari seperti berkata-kata keji, berbohong atau bersenda gurau yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa, dan juga untuk memberikan kebahagiaan kepada fakir miskin dengan memberi mereka makan ketika hari raya.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Dari Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithrah untuk mensucikan puasa dari perkataan yang tiada guna dan perkataan keji dan juga untuk memberi makan orang-orang miskin. Barangsiapa yang membayarkannya sebelum shalat ‘Id, maka ia sah sebagai zakat fithrah. Dan barangsiapa yang membayarkannya setelah shalat ‘Id, maka ia hanya sebagai sedekah dari sedekah-sedekah.”
[Sunan Abu Daawud no. 1609; Sunan Ibnu Maajah no. 1827; Sunan Ad-Daaruquthniy no. 2048] – Imam Ad-Daaruquthniy berkata, “Para perawinya tidak ada yang terkena jarh.” Dishahihkan Al-Haafizh Siraajuddiin Ibnul Mulqin dalam Syarh Al-Bukhaariy li Ibnil Mulqin 10/636.

Berdasarkan hadits diatas pula, terdapat dalil yang jelas dan tegas bahwasanya zakat fithrah dibayarkan paling lambat sebelum dimulainya shalat ‘Id, karena jika dibayarkan sesudahnya maka zakatnya tidak sah dan ia hanya bernilai sebagai sedekah biasa.

Bagaimana Bila Tidak Membayar Zakat Fithrah?

Sebagian kaum muslimin berdalil dengan hadits yang disebutkan di awal pembahasan bahwasanya mereka yang telah sengaja tidak membayar zakat fithrah, maka puasa Ramadhannya tidak sah dan tidak diterima Allah, ia tergantung diantara langit dan bumi hingga ia membayarkan zakatnya. Maka kami katakan, dari sisi mana pendalilan ini? Padahal telah jelas bahwasanya haditsnya dha’if dan bukan hanya dari sisi sanad saja ia marduud namun matannya juga gharib, tidak mempunyai penguat dan tidak dikenal dalam hadits-hadits yang mu’tabar yang diriwayatkan oleh para imam tsiqah lagi ‘amanah yang menjadi rujukan umat ini.

Telah jelas didalam Al-Qur’an mengenai orang yang bakhil (pelit) yang dia enggan menunaikan zakat padahal ia dikaruniai harta yang berkecukupan oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman :

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ. فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ. فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepadaNya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. [QS At-Taubah : 75-77]

Kemudian firmanNya :

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى, وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى, فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى, وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى
Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. [QS Al-Lail : 8-11]

Dan firmanNya :

وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS Ali ‘Imraan : 180]

Dijelaskan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenai orang bakhil yang dia enggan membayarkan zakatnya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلَا { لَا يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ } الْآيَةَ

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah berikan padanya harta akan tetapi ia tidak membayarkan zakatnya, maka pada hari kiamat nanti harta yang ada padanya tersebut akan berubah menjadi seekor ular jantan yang bertanduk dan memiliki dua taring lalu mengalungi orang itu pada hari kiamat kemudian ular itu akan memakan daging orang tersebut dengan rahangnya yakni dengan mulutnya, kemudian ular itu berkata, “Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu,” kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca ayat, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil…” [QS Ali ‘Imraan : 180] hingga akhir ayat.
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 1403; Sunan An-Nasaa’iy no. 2482]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:……لَا مِنْ صَاحِبِ مَالٍ لَا يُؤَدِّي زَكَاتَهُ إِلَّا تَحَوَّلَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ يَتْبَعُ صَاحِبَهُ حَيْثُمَا ذَهَبَ وَهُوَ يَفِرُّ مِنْهُ وَيُقَالُ هَذَا مَالُكَ الَّذِي كُنْتَ تَبْخَلُ بِهِ فَإِذَا رَأَى أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْهُ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي فِيهِ فَجَعَلَ يَقْضَمُهَا كَمَا يَقْضَمُ الْفَحْلُ

Dari Jaabir bin ‘Abdillaah -radhiyallahu ‘anhuma-, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “….Tidaklah seorangpun dari pemilik harta yang tidak membayarkan zakatnya melainkan pada hari kiamat hartanya tersebut akan berubah menjadi ular besar botak yang mengikuti pemiliknya kemanapun ia pergi sedangkan ia sendiri selalu lari dari ular itu. Ular tersebut berkata, “Inilah hartamu yang kau dahulu bakhil dengannya!” Dan jika orang tersebut melihat bahwa dia tidak bisa lari menghindar dari ular, maka ia memasukkan tangannya ke dalam mulut ular itu lalu ular itu akan menggigitnya sebagaimana hewan jantan menggigit.”
[Shahiih Muslim no. 991; Sunan An-Nasaa’iy no. 2454; Musnad Ahmad no. 14033]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

Dari ‘Abdullaah bin ‘Amr -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berkhuthbah, beliau bersabda, “Jauhilah oleh kalian sifat kikir karena sesungguhnya sifat kikir itu membinasakan umat-umat sebelum kalian, mereka diperintah dengan kebakhilan maka mereka pun bakhil, mereka diperintah dengan pemutusan hubungan kekerabatan maka mereka pun memutuskan kekerabatan dan mereka diperintah dengan perbuatan dosa maka mereka pun berbuat dosa.”
[Sunan Abu Daawud no. 1698; Musnad Ahmad no. 6753; Shahiih Ibnu Hibbaan no. 5176] – Shahih. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih Abu Daawud dan Syaikh Muqbil Al-Waadi’iy dalam Shahiihul Musnad no. 801.

Syaikh ‘Abdul Kariim Al-Khudhair berkata :

من لم يخرج زكاة الفطر في وقتها وهو قبل الصلاة يوم عيد الفطر فإنه آثم عليه التوبة والاستغفار، وقضاؤها بحيث يخرجها بعد قضاء، هذا إذا كان عامداً، والناسي لا شيء عليه غير القضاء، والله الموفق
“Barangsiapa yang tidak mengeluarkan zakat fithrah pada waktunya yakni sebelum dimulainya shalat ‘Id, maka dia telah berdosa, diwajibkan baginya bertaubat dan memohon ampun, dan mengqadha’nya yakni dengan cara mengeluarkannya setelah lewat waktunya, ini jika ia melakukannya dengan sengaja. Namun jika ia terlupa maka tidak ada dosa baginya selain diwajibkan qadha’. Wallahul Muwaffiq.”

Sumber : http://www.khudheir.com/text/3352

Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts Al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’ mengeluarkan fatwa :

يجب على من لم يخرج زكاة الفطر أن يتوب إلى الله عز وجل ، ويستغفره ؛ لأنه آثم بمنعها ، وأن يقوم بإخراجها إلى المستحقين ، وتعتبر بعد صلاة العيد صدقة من الصدقات .
وبالله التوفيق
“Diwajibkan kepada seseorang yang tidak mengeluarkan zakat fithrah untuk bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan dia memohon ampun kepadaNya dikarenakan ia telah berdosa karena menahan zakat tersebut. Dan bahwa dia wajib mengeluarkannya kepada para mustahiq, akan tetapi mengeluarkannya setelah selesai shalat ‘Id adalah termasuk sedekah dari sedekah-sedekah.”

Sumber : http://www.islamqa.com/ar/ref/34516

Tim Daarul Iftaa’ Palestina ditanya, apakah hukum puasa bagi seseorang yang tidak mengeluarkan zakat fithrah? Maka jawaban mereka adalah :

صيامه صحيح؛ لأنه أتى ما أمر الله عز وجل من الصوم، وأما زكاة الفطر فهي طهرة للصائم من اللغو والرفث، كما جاء في حديث ابن عباس، رضي الله عنه، قال: «فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ، صلى الله عليه وسلم، زَكَاةَ الْفِطْرِ، طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ؛ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فهي زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فهي صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ» [سنن أبي داود، كتاب الزكاة، باب زكاة الفطر، وحسنه الألباني]؛ فالزكاة عبادة مستقلة، تجبر نقص الصوم، ويأثم تاركها، ولكنها لا تفسد الصيام، إنما تنقص أجره
“Puasanya shahih (sah) karena dia telah memenuhi apa yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dari puasanya. Adapun zakat fithrah dia adalah mensucikan puasa dari perkataan yang tak berguna dan perkataan keji, sebagaimana dalilnya datang pada hadits Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithrah untuk mensucikan puasa dari perkataan yang tiada guna dan perkataan keji dan juga untuk memberi makan orang-orang miskin. Barangsiapa yang membayarkannya sebelum shalat ‘Id, maka ia sah sebagai zakat fithrah. Dan barangsiapa yang membayarkannya setelah shalat ‘Id, maka ia hanya sebagai sedekah dari sedekah-sedekah,” [Sunan Abu Daawud, kitab zakat, bab zakat fithrah, dan dihasankan Al-Albaaniy]. Maka zakat adalah ibadah yang terpisah (berdiri sendiri), ia menyempurnakan kekurangan dari puasa dan berdosa bagi yang meninggalkannya akan tetapi ia tidak akan merusak puasa, hanyasanya mengurangi pahalanya.”

Dijawab oleh : Syaikh Ihsaan Ibraahiim ‘Asyuur
Sumber : http://www.darifta.org/fatwa/376.htm

Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin ditanya mengenai seseorang yang tidak mengeluarkan zakat fithrah selama empat tahun, beliau berkata :

هذا الشخص آثم في تأخير الزكاة، لأن الواجب على المرء أن يؤدي الزكاة فور وجوبها ولا يؤخرها ؛ لأن الواجبات الأصل وجوب القيام بها فوراً، وعلى هذا الشخص أن يتوب إلي الله – عز وجل- من هذه المعصية، وعليه أن يبادر إلى إخراج الزكاة عن كل ما مضى من السنوات،  ولا يسقط شيء من تلك الزكاة بل عليه أن يتوب ويبادر بالإخراج حتى لا يزداد إثماً بالتأخير
“Orang ini berdosa disebabkan ia menunda zakat fithrah, karena diwajibkan bagi seseorang untuk membayarkan zakat fithrah segera setelah tiba waktunya dan tidak ia tunda, dikarenakan ibadah-ibadah fardhu diwajibkan untuk didirikan pada waktunya. Dan kepada orang ini, ia harus bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari maksiat yang ia lakukan, ia juga harus mengeluarkan zakat fithrahnya dari semua tahun yang telah lampau, dan janganlah ia meremehkan sedikitpun dari zakat ini, bahkan ia diharuskan bertaubat dan bersegera dalam mengeluarkannya hingga ia tidak menambah dosa dengan menundanya.”

Sumber : http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_18008.shtml (pertanyaan no. 360)

Kesimpulan, dari uraian diatas maka terlihatlah bahwa orang yang enggan mengeluarkan zakat fithrah padahal ia mampu, ia telah berdosa besar karena termasuk melanggar kewajiban yang Allah dan RasulNya telah perintahkan baginya, ia terancam mendapat kehidupan yang sempit dan selubung kemunafikan sedikit demi sedikit akan membungkus hatinya dikarenakan ia termasuk orang yang lalai dan mengingkari karunia Allah Ta’ala. Wajib baginya untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, akan tetapi, puasanya tetap sah karena tidak adanya dalil shahih yang menunjukkan bahwasanya puasanya tertolak, tidak diterima Allah dan menggantung diantara langit dan bumi hingga dibayarkan zakat fithrahnya. Kemudian, ia juga wajib mengqadha’ pembayaran zakat fithrahnya tersebut walau telah keluar dari waktunya dan kewajibannya tidak akan gugur darinya hingga ia ditunaikan.

Adapun, untuk orang yang lupa sehingga ia terlewat waktu pembayarannya, maka insya Allah tidak ada dosa baginya dan ia termasuk orang yang mendapat udzur syar’i (asalkan lupanya benar-benar lupa yang ia memang tidak berniat menyengajanya, bukan yang sengaja dibuat lupa atau ditunda-tunda sehingga ia menjadi terlewat). Kewajiban baginya adalah segera mengqadha’ zakat fithrahnya tersebut ketika dia ingat. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika beliau diberitahukan mengenai seorang laki-laki yang tertidur dan belum shalat atau dia terlupa, maka beliau bersabda :

لِيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا
“Hendaklah dia shalat ketika dia teringat.”
[Musnad Ahmad no. 12785] – Shahih.

Allaahu a’lam.

Footnotes :

[1] Riwayatnya adalah :

حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ سَهْلُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ سَهْلٍ الْجَوْهَرِيُّ الطَّرَسُوسِيُّ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ الْعَسْقَلانِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي السَّرِيِّ الْعَسْقَلانِيُّ، ثَنَا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُثْمَانَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” لا يَزَالُ صِيَامُ الْعَبْدِ مُعَلَّقًا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى يُؤَدِّيَ زَكَاةَ فِطْرِهِ “

[2] Riwayatnya adalah :

أَخْبَرَنَا جَدِّي، ثنا أَبُو صَالِحٍ سَهْلُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ سَهْلٍ الْجَوْهَرِيُّ الطَّرَسُوسِيُّ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ الْعَسْقَلانِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي السَّرِيِّ الْعَسْقَلانِيُّ، ثنا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُثْمَانَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” لا يَزَالُ صِيَامُ الْعَبْدِ مُعَلَّقًا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى يُؤَدِّيَ زَكَاةَ فِطْرِهِ “

[3] Riwayatnya adalah :

قَالَ: وَنا نَصْرُ، أنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ عَلِيٍّ الْهَاشِمِيُّ، بِعَسْقَلانَ، نا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْعَسْقَلانِيُّ الْخَطِيبُ، نا أَبُو الْمَيْمُونِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُطَرِّفٍ، نا ابْنُ قُتَيْبَةَ، نا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” لا يَزَالُ صِيَامُ الْعَبْدِ مُعَلَّقًا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى يُؤَدِّي زَكَاةَ مَالِهِ “

[4] Riwayatnya adalah :

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ عَلِيٍّ الْمِيمَاسِيُّ، بِعَسْقَلانَ، ثنا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْعَسْقَلانِيُّ الْخَطِيبُ، ثنا أَبُو الْمَيْمُونِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ مُطَرِّفٍ، ثنا ابْنُ قُتَيْبَةَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي السُّرِّيِّ، ثنا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” لا يَزَالُ صِيَامُ الْعَبْدِ مُعَلَّقًا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ حَتَّى يُؤَدِّيَ زَكَاةَ مَالِهِ “

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s