Tafsir Al-Qur’an : Surat Alam Nasyrah

landscape rainbowSurat Alam Nasyrah atau orang-orang biasa menyebutnya dengan Surat Al-Insyirah, adalah termasuk golongan Al-Makkiyah, surat ke-94 dalam Al-Qur’an, terdiri dari 8 ayat dan nama suratnya (yaitu Alam Nasyrah) diambil dari ayat pertama surat ini, “Alam nasyrah laka shadrak,” yang berarti, “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu?”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

1-أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu?”

Tafsiir :
Maksudnya adalah Kami telah memberinya cahaya, melapangkannya, melebarkannya dan meluaskannya. Hal ini seperti difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya yang lain :

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ
Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. [QS Al-An’aam : 125]

Sebagaimana Allah telah melapangkan dada beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka Allah pun menjadikan syari’at yang diemban beliau begitu lapang, luas, penuh toleransi dan mudah, tidak ada kesulitan didalamnya, tidak juga pemaksaan dan penyempitan. Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya[1] hingga ‘Ubay bin Ka’b -radhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ جَرِيًّا عَلَى أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَشْيَاءَ لَا يَسْأَلُهُ عَنْهَا غَيْرُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَوَّلُ مَا رَأَيْتَ فِي أَمْرِ النُّبُوَّةِ فَاسْتَوَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا وَقَالَ لَقَدْ سَأَلْتَ أَبَا هُرَيْرَةَ إِنِّي لَفِي صَحْرَاءَ ابْنُ عَشْرِ سِنِينَ وَأَشْهُرٍ وَإِذَا بِكَلَامٍ فَوْقَ رَأْسِي وَإِذَا رَجُلٌ يَقُولُ لِرَجُلٍ أَهُوَ هُوَ قَالَ نَعَمْ فَاسْتَقْبَلَانِي بِوُجُوهٍ لَمْ أَرَهَا لِخَلْقٍ قَطُّ وَأَرْوَاحٍ لَمْ أَجِدْهَا مِنْ خَلْقٍ قَطُّ وَثِيَابٍ لَمْ أَرَهَا عَلَى أَحَدٍ قَطُّ فَأَقْبَلَا إِلَيَّ يَمْشِيَانِ حَتَّى أَخَذَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِعَضُدِي لَا أَجِدُ لِأَحَدِهِمَا مَسًّا فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ أَضْجِعْهُ فَأَضْجَعَانِي بِلَا قَصْرٍ وَلَا هَصْرٍ وَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ افْلِقْ صَدْرَهُ فَهَوَى أَحَدُهُمَا إِلَى صَدْرِي فَفَلَقَهَا فِيمَا أَرَى بِلَا دَمٍ وَلَا وَجَعٍ فَقَالَ لَهُ أَخْرِجْ الْغِلَّ وَالْحَسَدَ فَأَخْرَجَ شَيْئًا كَهَيْئَةِ الْعَلَقَةِ ثُمَّ نَبَذَهَا فَطَرَحَهَا فَقَالَ لَهُ أَدْخِلْ الرَّأْفَةَ وَالرَّحْمَةَ فَإِذَا مِثْلُ الَّذِي أَخْرَجَ يُشْبِهُ الْفِضَّةَ ثُمَّ هَزَّ إِبْهَامَ رِجْلِي الْيُمْنَى فَقَالَ اغْدُ وَاسْلَمْ فَرَجَعْتُ بِهَا أَغْدُو رِقَّةً عَلَى الصَّغِيرِ وَرَحْمَةً لِلْكَبِيرِ

Bahwa Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- adalah orang yang paling berani bertanya kepada Rasulullah tentang sesuatu yang tidak ditanyakan oleh orang lain, dia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang pertama kali engkau lihat dalam perkara kenabian?” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membetulkan posisi duduknya dan bersabda, “Sungguh, wahai Abu Hurairah engkaulah yang telah berani bertanya (hal ini), ketika aku berada di sebuah padang pasir dan umurku masih sepuluh tahun lewat beberapa bulan, tiba-tiba aku mendengar suara orang berbicara di atas kepalaku dan ternyata ada seorang lelaki sedang bertanya kepada lelaki yang lain, “Apa benar dia orangnya?” Lelaki yang satunya menjawab, “Ya!”

Kemudian keduanya menghadap ke arahku dan aku tidak pernah melihat makhluk seperti mereka sama sekali, tidak pernah aku melihat ruh seperti mereka sama sekali, dan tidak pernah aku melihat pakaian seperti mereka sama sekali. Keduanya berjalan ke arahku sampai akhirnya masing-masing dari keduanya memegang lenganku dan aku tidak merasakan (sentuhan mereka) sama sekali. Salah satu dari keduanya berkata kepada yang lain, “Baringkan dia!” Lalu keduanya membaringkanku dengan cepat dan baik, kemudian salah satunya memerintahkan kepada temannya, “Belahlah dadanya!” Maka salah satu dari keduanya menunduk ke dadaku dan membelahnya, aku melihat tidak ada darah yang keluar dan tanpa ada rasa sakit, maka salah satunya berkata, “Keluarkan sifat dengki dan hasad!” Kemudian ia mengeluarkan sesuatu seperti gumpalan darah dan membuangnya. Sementara yang satunya berkata, “Ganti dengan sifat lemah lembut dan kasih sayang!” Dan aku melihat ternyata bentuknya menyerupai sesuatu yang dikeluarkan namun berbentuk seperti perak, kemudian dia menggerakkan ibu jari kaki kananku sambil berkata, “Pergilah dan selamatlah!” Maka aku pergi dengan membawa sifat lemah lembut kepada orang yang lebih muda dan kasih sayang kepada orang yang lebih tua.”
[Musnad Ahmad 5/139] – Dihasankan Al-Haafizh Al-Buushiiriy rahimahullah dalam Ittihaaf Al-Khairah 7/15.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

2-وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ
“Dan kami telah menghilangkan bebanmu daripadamu.”

Tafsiir :
Makna dari ayat ini ditafsirkan oleh ayat yang lain. Allah Ta’ala berfirman :

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. [QS Al-Fath : 2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

3-الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ
“Yang memberatkan punggungmu?”

Tafsiir :
Diriwayatkan dari sejumlah salaf bahwa maknanya adalah yakni yang bebannya telah membuat kamu menjadi berat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

4-وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
“Dan kami tinggikan sebutan namamu untukmu.”

Tafsiir :
Maksudnya adalah pengagungan nama beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Al-Imam Mujaahid Al-Makkiy rahimahullah berkata, “Aku tidaklah disebut melainkan disebutkan bersamaku kesaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Al-Imam Qataadah rahimahullah berkata, “Allah meninggikan penyebutan nama beliau di dunia dan akhirat, tidaklah seorang khathib, orang yang bersyahadat dan orang yang mengerjakan shalat kecuali pasti akan menyeru dengannya bahwa aku bersaksi tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Al-Imam Ibnu Abi Haatim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya[2] hingga ‘Abdullaah bin ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: سَأَلْتُ رَبِّي مَسْأَلَةً وَدَدْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ سَأَلْتُهُ، قُلْتُ: قَدْ كَانَتْ قَبْلِي أَنْبِيَاءٌ، مِنْهُمْ مَنْ سُخِّرِتْ لَهُ الرِّيحُ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُحْيِي الْمَوْتَى، قَالَ: ” يَا مُحَمَّدُ، أَلَمْ أَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَيْتُكَ؟ “، قُلْتُ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: ” أَلَمْ أَجِدْكَ ضَالًّا فَهَدَيْتُكَ؟ “، قُلْتُ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: ” أَلَمْ أَجِدْكَ عَائِلًا فَأَغْنَيْتُكَ؟ “، قَالَ: قُلْتُ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: ” أَلَمْ أَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ؟ أَلَمْ أَرْفَعْ لَكَ ذِكْرَكَ؟ “، قُلْتُ: بَلَى يَا رَبِّ

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku bertanya kepada Rabbku suatu masalah yang aku berharap aku tidak menanyakannya kembali, aku berkata, “Sungguh telah berlalu sebelumku para Nabi yang diantara mereka ada yang dapat memanfaatkan angin untuknya dan diantara mereka ada yang dihidupkan kembali setelah mati,” Allah berfirman, “Wahai Muhammad! Bukankah Aku telah mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Aku melindungimu?” Aku menjawab, “Benar, wahai Rabb,” Allah berfirman, “Bukankah Aku mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Aku memberimu petunjuk?” Aku menjawab, “Benar wahai Rabb,” Allah berfirman, “Bukankah Aku mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Aku mencukupimu?” Aku menjawab, “Benar wahai Rabb,” Allah berfirman, “Bukankah Aku telah melapangkan dadamu? Bukankah Aku telah menaikkan untukmu penyebutan namamu?” Aku menjawab, “Benar wahai Rabb.”
[Tafsiir Ibnu Abi Haatim no. 19387] – Al-Haafizh Al-Haitsamiy rahimahullah berkata, “Didalam sanadnya ada ‘Athaa’ bin As-Saa’ib dan dia mengalami ikhtilath.” [Majma’ Az-Zawaa’id 8/256]

Namun, posisi ‘Athaa’ dalam sanad ini tidak memudharatkan karena telah shahih Hammaad bin Zaid meriwayatkan darinya sebelum ia mengalami ikhtilath. Oleh karena itu hadits ini shahih. Telah dishahihkan oleh Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah dalam Silsilatu Ash-Shahiihah no. 2538.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

5-فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

6-إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Tafsiir :
Allah Ta’ala memberitahukan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa bersama kesulitan itu terdapat kemudahan, kemudian Dia mengulanginya kembali dengan maksud sebagai penegasan dan kepastian. Dua ayat ini mengandung ajaran yang mulia kepada setiap muslim untuk tidak berputus asa terhadap datangnya kemudahan jika ia sedang mengalami kesulitan karena Allah Ta’ala telah berjanji melalui ayat ini bahwa Dia pasti akan mendatangkan kemudahan dibalik kesulitan yang dihadapi hamba-hambaNya. Telah diriwayatkan sebuah perkataan indah :

لن يغلب عسر يسرين لن يغلب عسر يسرين
Satu kesulitan tidak akan bisa mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan tidak akan bisa mengalahkan dua kemudahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

7-فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”

8-وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Tafsiir :
Yaitu jika kamu sekalian telah selesai dari urusan dunia dan segala kesibukannya kemudian kamu telah memutus hubungan dengannya, maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan bersemangatlah menuju kepadanya dengan pikiran yang kosong (dari segala pikiran duniawi) dan berniat ikhlash karena Rabbmu. Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya[3] hingga ‘Aaisyah binti Abu Bakr Ash-Shiddiiq -radhiyallahu ‘anhuma-, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

” لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ ”
“Tidak ada shalat di hadapan makanan, dan tidak ada shalat dalam keadaan menahan buang air kecil dan besar.”
[Shahiih Muslim no. 562]

Al-Imam Al-Bukhaariy rahimahullah juga meriwayatkan dengan sanadnya[4] hingga ‘Aaisyah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ وَحَضَرَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ
“Jika iqamat shalat telah didirikan sementara makan malam terhidangkan, maka kalian dahulukan makan malam.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 5465]

Ibnu Mas’uud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Jika kau selesai dari semua kewajiban (dunia), maka bersungguh-sungguhlah melaksanakan qiyamul lail.” Dan beliau berkata pula (dalam riwayat lain), “Setelah kau selesai menunaikan shalat, maka duduklah (untuk berdo’a dan berharap).”
‘Aliy bin Abu Thalhah rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata, “Dan jika kau telah selesai maka bersungguh-sungguhlah, yakni dalam berdo’a.”
Sufyaan Ats-Tsauriy rahimahullah berkata, “Jadikanlah niat dan harapanmu hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Selesai.
Allaahu a’lam.

Maraji’ : “‘Umdatut Tafsiir ‘an Al-Haafizh Ibni Katsiir, Mukhtashar Tafsiir Al-Qur’anil ‘Azhiim”, karya Syaikh Al-‘Allaamah Ahmad Syaakir rahimahullah, Daarul Wafaa’.

Footnotes :

[1] Riwayat lengkapnya yaitu :

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ أَبُو يَحْيَى الْبَزَّازُ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، حَدَّثَنِي أَبِي مُحَمَّدُ بْنُ مُعَاذٍ، عَنْ مُعَاذٍ، عَنْ مُحَمَّدٍ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ جَرِيئًا عَلَى أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَشْيَاءَ لَا يَسْأَلُهُ عَنْهَا غَيْرُهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَوَّلُ مَا رَأَيْتَ فِي أَمْرِ النُّبُوَّةِ ؟ فَاسْتَوَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم جَالِسًا، وَقَالَ: ” لَقَدْ سَأَلْتَ أَبَا هُرَيْرَةَ إِنِّي لَفِي صَحْرَاءَ ابْنُ عَشْرِ سِنِينَ وَأَشْهُرٍ، وَإِذَا بِكَلَامٍ فَوْقَ رَأْسِي، وَإِذَا رَجُلٌ يَقُولُ لِرَجُلٍ أَهُوَ هُوَ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَاسْتَقْبَلَانِي بِوُجُوهٍ لَمْ أَرَهَا لِخَلْقٍ قَطُّ، وَأَرْوَاحٍ لَمْ أَجِدْهَا مِنْ خَلْقٍ قَطُّ، وَثِيَابٍ لَمْ أَرَهَا عَلَى أَحَدٍ قَطُّ، فَأَقْبَلَا إِلَيَّ يَمْشِيَانِ، حَتَّى أَخَذَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِعَضُدِي، لَا أَجِدُ لِأَخَذِهِمَا مَسًّا، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: أَضْجِعْهُ، فَأَضْجَعَانِي بِلَا قَصْرٍ وَلَا هَصْرٍ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: افْلِقْ صَدْرَهُ، فَهَوَى أَحَدُهُمَا إِلَى صَدْرِي، فَفَلَقَهَا فِيمَا أَرَى بِلَا دَمٍ وَلَا وَجَعٍ، فَقَالَ لَهُ: أَخْرِجْ الْغِلَّ وَالْحَسَدَ، فَأَخْرَجَ شَيْئًا كَهَيْئَةِ الْعَلَقَةِ، ثُمَّ نَبَذَهَا فَطَرَحَهَا، فَقَالَ لَهُ: أَدْخِلْ الرَّأْفَةَ وَالرَّحْمَةَ، فَإِذَا مِثْلُ الَّذِي أَخْرَجَ يُشْبِهُ الْفِضَّةَ، ثُمَّ هَزَّ إِبْهَامَ رِجْلِي الْيُمْنَى، فَقَالَ: اغْدُ وَاسْلَمْ فَرَجَعْتُ بِهَا أَغْدُو رِقَّةً عَلَى الصَّغِيرِ وَرَحْمَةً لِلْكَبِيرِ “

[2] Riwayat lengkapnya yaitu :

حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ الْحَوْضِيُّ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، حَدَّثَنَا عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: سَأَلْتُ رَبِّي مَسْأَلَةً وَدَدْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ سَأَلْتُهُ، قُلْتُ: قَدْ كَانَتْ قَبْلِي أَنْبِيَاءٌ، مِنْهُمْ مَنْ سُخِّرِتْ لَهُ الرِّيحُ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُحْيِي الْمَوْتَى، قَالَ: ” يَا مُحَمَّدُ، أَلَمْ أَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَيْتُكَ؟ “، قُلْتُ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: ” أَلَمْ أَجِدْكَ ضَالًّا فَهَدَيْتُكَ؟ “، قُلْتُ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: ” أَلَمْ أَجِدْكَ عَائِلًا فَأَغْنَيْتُكَ؟ “، قَالَ: قُلْتُ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: ” أَلَمْ أَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ؟ أَلَمْ أَرْفَعْ لَكَ ذِكْرَكَ؟ “، قُلْتُ: بَلَى يَا رَبِّ “

Berkata Imam Abu Ja’far Ath-Thahaawiy rahimahullah :

وإنما حديث عطاء الذي كان منه قبل تغيره يؤخذ من أربعة لا من سواهم، وهم شعبة وسفيان الثوري وحماد بن سلمة وحماد بن زيد
Hadiits ‘Athaa’ yang dapat diambil dari periwayatannya sebelum berubah adalah dari empat orang, tidak dari selain mereka, yaitu Syu’bah, Sufyaan Ats-Tsauriy, Hammaad bin Salamah dan Hammaad bin Zaid. [Al-Kawaakib An-Nairaat no. 39, lihat ta’liiq dari muhaqqiq kitab]

[3] Riwayat lengkapnya yaitu :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ، حَدَّثَنَا حَاتِمٌ هُوَ ابْنُ إِسْمَاعِيل، عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ مُجَاهِدٍ، عَنْ ابْنِ أَبِي عَتِيقٍ، قَالَ: تَحَدَّثْتُ أَنَا وَالْقَاسِمُ عِنْدَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا حَدِيثًا، وَكَانَ الْقَاسِمُ رَجُلًا لَحَّانَةً، وَكَانَ لِأُمِّ وَلَدٍ، فَقَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ: مَا لَكَ، لَا تَحَدَّثُ كَمَا يَتَحَدَّثُ ابْنُ أَخِي هَذَا؟ أَمَا إِنِّي قَدْ عَلِمْتُ، مِنْ أَيْنَ أُتِيتَ هَذَا، أَدَّبَتْهُ أُمُّهُ، وَأَنْتَ، أَدَّبَتْكَ أُمُّكَ؟ قَالَ وَأَضَبَّ عَلَيْهَا، فَلَمَّا رَأَى مَائِدَةَ عَائِشَةَ قَدْ أُتِيَ بِهَا، قَامَ، فَغَضِبَ الْقَاسِمُ، قَالَتْ: أَيْنَ؟ قَالَ: أُصَلِّي، قَالَتْ: اجْلِسْ؟ قَالَ: إِنِّي أُصَلِّي، قَالَتْ: اجْلِسْ غُدَرُ، إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ” لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ “

[4] Riwayat lengkapnya yaitu :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ وَحَضَرَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ

* * *

One thought on “Tafsir Al-Qur’an : Surat Alam Nasyrah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s