Kisah 3 Orang Dari Bani Israa’iil yang Menderita Sakit

inspirasi-syukur21Sebagai makhluk ciptaan Allah Ta’ala, kita dianjurkan syari’at untuk selalu bersyukur kepadaNya, atas nafas yang Dia berikan, atas rizki yang Dia berikan, karena sungguh, jika kita mau memikirkan, maka kita tidak akan bisa menghitung-hitung nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan baik ketika kita dilahirkan dari kandungan ibu hingga detik ini kita bernafas. Allah Ta’ala berfirman :

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kau beristirahat pada malam itu dan supaya kau mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kau bersyukur kepada-Nya. [QS Al-Qashash : 73]

Bersyukur adalah salah satu sebab-musabab ditambahkannya nikmat yang akan kita peroleh. Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kau bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kau mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. [QS Ibraahiim : 7]

Sudah banyak contoh kisah-kisah baik dari kisah para Nabi, para salafus shalih maupun para ulama Rabbaniy mengenai suri tauladan dalam hal bersyukur kepada Allah. Berikut ini akan kami nukilkan sebuah kisah yang terdapat dalam Ash-Shahihain mengenai 3 orang Bani Israa’iil yang menderita sakit. Semoga dengan kisah ini, kita bisa mendapatkan ibrah yang banyak dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Imam Al-Bukhaariy rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي عَمْرَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي عَمْرَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ ثَلَاثَةً فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى بَدَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا فَأَتَى الْأَبْرَصَ فَقَالَ أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ لَوْنٌ حَسَنٌ وَجِلْدٌ حَسَنٌ قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ قَالَ فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ فَأُعْطِيَ لَوْنًا حَسَنًا وَجِلْدًا حَسَنًا فَقَالَ أَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ الْإِبِلُ أَوْ قَالَ الْبَقَرُ هُوَ شَكَّ فِي ذَلِكَ إِنَّ الْأَبْرَصَ وَالْأَقْرَعَ قَالَ أَحَدُهُمَا الْإِبِلُ وَقَالَ الْآخَرُ الْبَقَرُ فَأُعْطِيَ نَاقَةً عُشَرَاءَ فَقَالَ يُبَارَكُ لَكَ فِيهَا وَأَتَى الْأَقْرَعَ فَقَالَ أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ شَعَرٌ حَسَنٌ وَيَذْهَبُ عَنِّي هَذَا قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ قَالَ فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ وَأُعْطِيَ شَعَرًا حَسَنًا قَالَ فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ الْبَقَرُ قَالَ فَأَعْطَاهُ بَقَرَةً حَامِلًا وَقَالَ يُبَارَكُ لَكَ فِيهَا وَأَتَى الْأَعْمَى فَقَالَ أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ يَرُدُّ اللَّهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَأُبْصِرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ فَمَسَحَهُ فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ قَالَ فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ الْغَنَمُ فَأَعْطَاهُ شَاةً وَالِدًا فَأُنْتِجَ هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنْ إِبِلٍ وَلِهَذَا وَادٍ مِنْ بَقَرٍ وَلِهَذَا وَادٍ مِنْ غَنَمٍ ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى الْأَبْرَصَ فِي صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ فَقَالَ رَجُلٌ مِسْكِينٌ تَقَطَّعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي فَلَا بَلَاغَ الْيَوْمَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحَسَنَ وَالْجِلْدَ الْحَسَنَ وَالْمَالَ بَعِيرًا أَتَبَلَّغُ عَلَيْهِ فِي سَفَرِي فَقَالَ لَهُ إِنَّ الْحُقُوقَ كَثِيرَةٌ فَقَالَ لَهُ كَأَنِّي أَعْرِفُكَ أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ فَقِيرًا فَأَعْطَاكَ اللَّهُ فَقَالَ لَقَدْ وَرِثْتُ لِكَابِرٍ عَنْ كَابِرٍ فَقَالَ إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ وَأَتَى الْأَقْرَعَ فِي صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا فَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَيْهِ هَذَا فَقَالَ إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللَّهُ إِلَى مَا كُنْتَ وَأَتَى الْأَعْمَى فِي صُورَتِهِ فَقَالَ رَجُلٌ مِسْكِينٌ وَابْنُ سَبِيلٍ وَتَقَطَّعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي فَلَا بَلَاغَ الْيَوْمَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ بِكَ أَسْأَلُكَ بِالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا فِي سَفَرِي فَقَالَ قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللَّهُ بَصَرِي وَفَقِيرًا فَقَدْ أَغْنَانِي فَخُذْ مَا شِئْتَ فَوَاللَّهِ لَا أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ بِشَيْءٍ أَخَذْتَهُ لِلَّهِ فَقَالَ أَمْسِكْ مَالَكَ فَإِنَّمَا ابْتُلِيتُمْ فَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْكَ وَسَخِطَ عَلَى صَاحِبَيْكَ

Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Ishaaq, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Aashim, telah menceritakan kepada kami Hammaam, telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin ‘Abdillaah, ia berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin Abu ‘Amrah, bahwa Abu Hurairah telah menceritakan kepadanya, bahwa ia mendengar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, (dalam jalur sanad yang lain) telah menceritakan kepadaku Muhammad, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Rajaa’, telah mengkhabarkan kepada kami Hammaam, dari Ishaaq bin ‘Abdillaah, ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin Abu ‘Amrah, bahwa Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- telah menceritakan kepadanya, bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Dahulu, ada tiga orang dari Bani Israa’iil yang menderita sakit. Yang pertama menderita penyakit kusta, yang kedua berkepala botak dan yang ketiga buta. Kemudian Allah Ta’ala menguji mereka dengan mengutus malaikat menemui mereka.

Pertama, malaikat mendatangi orang yang berpenyakit kusta lalu bertanya kepadanya, “Apa yang paling kau sukai?” Orang itu menjawab, “Warna kulit dan kulitku yang bagus karena sekarang ini manusia menjauh dariku.” Rasulullah melanjutkan, “Maka malaikat mengusap kulit orang itu hingga hilang kustanya dan berganti dengan warna dan kulit yang bagus.” Lalu malaikat bertanya lagi, “Harta apa yang paling kau sukai?” Orang itu menjawab, “Unta.” (-Perawi berkata: “Atau sapi”, perawi ragu bahwa orang yang berpenyakit kusta ataukah yang berkepala botak. Yang satu berkata, “Unta” dan yang lainnya berkata, “Sapi”. Keraguan ini berasal dari Ishaaq bin ‘Abdullaah-). Maka dia pun diberinya puluhan unta, lalu malaikat berkata, “Semoga pada unta-unta itu ada keberkahan bagimu.”

Kemudian malaikat mendatangi orang yang berkepala botak dan bertanya kepadanya, “Apa yang paling kau sukai?” Orang itu menjawab, “Tumbuh rambut yang bagus dan penyakit ini pergi dariku karena sekarang manusia menjauh dariku.” Rasulullah melanjutkan, “Maka malaikat mengusap kepala orang botak itu hingga hilang penyakitnya dan berganti dengan rambut yang bagus.” Lalu malaikat bertanya lagi, “Harta apa yang paling kau sukai?” Orang itu menjawab, “Sapi.” Maka dia diberi seekor sapi yang sedang bunting lalu malaikat berkata, “Semoga pada sapi itu ada keberkahan bagimu.”

Kemudian malaikat mendatangi orang yang buta lalu bertanya kepadanya, “Apa yang paling kau sukai?” Orang itu menjawab, “Seandainya Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku sehingga dengan penglihatan itu aku dapat melihat manusia.” Rasulullah melanjutkan, “Maka malaikat mengusap mata orang buta itu hingga Allah Ta’ala mengembalikan penglihatannya.” Lalu malaikat bertanya lagi, “Harta apa yang paling kau sukai?” Orang itu menjawab, “Kambing.” Maka dia pun diberi seekor kambing yang sedang bunting.

Selang beberapa tahun lamanya, maka kedua orang yang pertama tadi hewan-hewannya berkembang biak dengan banyak begitu juga orang yang ketiga, masing-masing mereka memiliki lembah untuk menggembalakan unta-unta, lembah untuk menggembalakan sapi-sapi dan lembah untuk menggembalakan kambing-kambing.

Pada suatu hari, malaikat mendatangi kembali orang yang tadinya berpenyakit kusta dalam wujud seperti orang yang berpenyakit kusta, malaikat berkata, “Aku orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang melangsungkan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi Allah yang telah memberimu warna dan kulit yang bagus berupa seekor unta, apakah kau mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini?” Maka orang itu berkata, “Sesungguhnya hak-hakku (tanggunganku) sangat banyak (untuk aku tunaikan).” Lalu Malaikat bertanya kepadanya, “Sepertinya aku mengenalmu. Bukankah kau dahulu orang yang berpenyakit kusta dan manusia menjauhimu dan kau dalam keadaan faqir lalu Allah Ta’ala memberimu harta?” Orang itu menjawab, “Aku memiliki ini semua dari harta warisan turun temurun.” Maka malaikat yang menyamar tersebut berkata, “Seandainya engkau berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.”

Kemudian malaikat mendatangi orang yang dahulunya berkepala botak dalam wujud orang yang berkepala botak, lalu malaikat berkata sebagaimana yang dikatakan kepada orang pertama tadi dan orang yang dahulunya berkepala botak menjawab seperti jawaban orang yang dahulunya berpenyakit kusta (bahwasanya hartanya didapat dari harta warisan turun temurun), malaikat berkata, “Seandainya engkau berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula.”

Kemudian malaikat mendatangi orang yang dahulunya buta dalam wujud sebagai orang buta, malaikat berkata, “Aku orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang melangsungkan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu dan memberimu harta berupa seekor kambing, apakah kau mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini?” Maka orang itu menjawab, “Dahulu aku adalah orang yang buta, lalu Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku dan aku juga seorang yang faqir lalu Dia memberiku kecukupan, maka itu ambillah sesukamu. Demi Allah, aku tidak akan menghalangimu untuk mengambil sesuatu selama kau mengambilnya karena Allah Ta’ala.”

Maka malaikat itu berseru, “Peganglah hartamu! Sesungguhnya kalian sedang diuji dan Allah Ta’ala telah ridha kepadamu (wahai orang yang dahulunya buta) dan murka kepada kedua temanmu.”

[Diriwayatkan Al-Bukhaariy no. 3464, Kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’; Muslim no. 2966, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqaa’iq]

Faidah-faidah kisah :

1. Kisah ini diriwayatkan oleh Asy-Syaikhain dan sanadnya shahih hingga Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu wajib mengimani dan membenarkan kisah ini sebagai khabar-khabar ghaib mengenai bani Israa’iil di masa lampau yang diberitakan Allah Ta’ala kepada NabiNya, dan bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah mengetahui hal-hal ghaib kecuali hanya sebatas yang Allah Ta’ala khabarkan kepada beliau.

Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad), “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” [QS Al-A’raaf : 188]

2. Ujian Allah kepada hamba-hambaNya sebagaimana terlihat pada 3 orang ini, agar terlihat mana yang bersyukur dan mana yang kufur, mana yang baik dan mana yang busuk.

3. Keutamaan bersyukur dalam kebahagiaan. Dan di antara bentuk syukur adalah mendermakan sebagian harta kepada yang berhak. Di antara bentuk kufur adalah kikir, tidak memberikan harta kepada yang berhak menerima.

4. Kemampuan malaikat menjelma dalam wujud manusia seperti diceritakan dalam kisah ini. Ini merupakan salah satu wujud iman kepada malaikat yaitu mengimani sifat malaikat.

5. Malaikat tidak berdusta tatkala menyatakan bahwa dirinya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di perjalanan karena maksudnya adalah membuat perumpamaan.

6. Jika Allah Ta’ala memberkahi harta seseorang maka akan tumbuhlah melimpah ruah dan berkembang. Harta 3 orang tersebut masing-masing memenuhi lembah padahal semuanya berawal dari satu. Dan harta yang melimpah bisa binasa dalam waktu sekejap.

7. Banyaknya harta bukan merupakan bukti kecintaan Allah Ta’ala kepada seorang hamba, itu adalah bentuk ujian dari Allah kepadanya.

8. Allah Ta’ala amat sangat mampu menyembuhkan penyakit-penyakit sulit yang dikira oleh kebanyakan manusia tidak bisa sembuh. Ini menjadi dasar untuk selalu meminta kesembuhan hanya kepada Allah saja, bukan kepada selain Allah.

Hadaanallahi wa iyyakum.
Allaahu a’lamu bish shawab.

Faidah-faidah kisah kami sarikan dari :
“Shahiihul Qashash An-Nabawiy”, karya Syaikh Dr. ‘Umar bin Sulaimaan Al-Asyqar rahimahullah, maktabah Daar An-Nafaa’is.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s