Mengatasi Gangguan Setan

Boneka-SantetPada tulisan kali ini, kami akan kutipkan beberapa surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat anda baca ketika anda merasa mengalami gangguan setan atau jin jahat. Kami persilahkan para pembaca untuk menyimaknya. Nas’alullaaha as-salamah wal ‘aafiyah.

Pendahuluan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian. [QS Al-Israa’ : 82]

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Yang lebih jelas bahwasanya kata “min” di sini adalah untuk menerangkan jenis (macam) karena Al-Qur’an semuanya adalah penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang beriman.” [Ighatsaatul Lahfaan 1/4]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

Katakanlah, “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.” [QS Fushshilat : 44]

Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata, “Maksudnya, katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnya Al-Qur’an ini bagi orang-orang yang beriman kepadanya adalah petunjuk bagi hatinya dan penawar keragu-raguan dan kebimbangan didalam dada.” [‘Umdatut Tafsiir li Syaikh Ahmad Syaakir 3/243]

A. Surat-surat Al-Qur’an yang Dapat Mengusir Setan

1. Surat Al-Faatihah

Al-Imam Abu Daawud rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ خَارِجَةَ بْنِ الصَّلْتِ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ مَرَّ بِقَوْمٍ فَأَتَوْهُ فَقَالُوا إِنَّكَ جِئْتَ مِنْ عِنْدِ هَذَا الرَّجُلِ بِخَيْرٍ فَارْقِ لَنَا هَذَا الرَّجُلَ فَأَتَوْهُ بِرَجُلٍ مَعْتُوهٍ فِي الْقُيُودِ فَرَقَاهُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ غُدْوَةً وَعَشِيَّةً وَكُلَّمَا خَتَمَهَا جَمَعَ بُزَاقَهُ ثُمَّ تَفَلَ فَكَأَنَّمَا أُنْشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَأَعْطَوْهُ شَيْئًا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَهُ لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلْ فَلَعَمْرِي لَمَنْ أَكَلَ بِرُقْيَةٍ بَاطِلٍ لَقَدْ أَكَلْتَ بِرُقْيَةٍ حَقٍّ

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullaah bin Mu’aadz, telah menceritakan kepada kami Ayahku, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari ‘Abdullaah bin Abu As-Safar, dari Asy-Sya’biy, dari Khaarijah bin Ash-Shalt, dari pamannya -radhiyallahu ‘anhu-, bahwasanya ia melewati sebuah kaum, kemudian mereka mendatanginya dan berkata, “Engkau datang dari sisi orang ini (maksudnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam) dengan membawa kebaikan, maka obatilah orang ini untuk kami!”

Kemudian didatangkan kepada paman Khaarijah orang gila yang sedang dalam keadaan terikat. Lalu paman Kharijah mengobatinya dengan Ummul Qur’an (Al-Faatihah) selama tiga hari tiap pagi dan sore. Setiap kali ia menyelesaikan membacanya, ia mengumpulkan ludahnya kemudian meludah. Maka orang tersebut seolah-olah terlepas dari ikatan (hingga ia sembuh), lalu mereka memberinya sesuatu. Kemudian paman Khaarijah datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan peristiwa tersebut kepada beliau. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Makanlah, maka orang yang makan dari ruqyah yang batil (dia telah berdosa), dan sungguh engkau makan dari ruqyah yang haq.”
[Sunan Abu Daawud no. 3420; Musnad Ahmad no. 21328][1]

2. Surat Al-Baqarah

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullah :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيُّ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid, telah menceritakan kepada kami Ya’quub -dia adalah Ibnu ‘Abdurrahman Al-Qaariy-, dari Suhail, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan-kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan didalamnya surat Al-Baqarah.”
[Shahiih Muslim no. 782; Sunan Abu Daawud no. 2042; Jaami’ At-Tirmidziy no. 2877; Musnad Ahmad no. 7762]

3. Surat Al-Ikhlaash dan Al-Mu’awwidzatain

Al-Imam At-Tirmidziy rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي فُدَيْكٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْبَرَّادِ عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَرَجْنَا فِي لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي لَنَا قَالَ فَأَدْرَكْتُهُ فَقَالَ قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا قَالَ قُلْ فَقُلْتُ مَا أَقُولُ قَالَ قُلْ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وَتُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil bin Abu Fudaik, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi’b, dari Abu Sa’iid Al-Barraad, dari Mu’aadz bin ‘Abdullaah bin Khubaib, dari Ayahnya -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, kami keluar pada malam hari ketika hujan lebat dan gelap, kami meminta Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk shalat bersama kami. ‘Abdullaah bin Khubaib berkata, maka aku mendapati beliau dan beliau pun bersabda, “Ucapkan!” Namun aku tidak mengucapkan apapun, kemudian beliau bersabda lagi, “Ucapkan!” Namun aku tidak juga mengucapkan apapun, beliau bersabda kembali, “Ucapkan!” Aku berkata, “Apa yang harus kuucapkan (wahai Rasul)?” Beliau bersabda, “Ucapkan, Qul huwallaahu ahad dan Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) saat sore dan pagi hari tiga kali, maka mereka akan mencukupimu dari segala sesuatu.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 3575; Sunan An-Nasaa’iy no. 5428][2]

Al-Imam An-Nasaa’iy rahimahullah meriwayatkan :

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنِي الْقَعْنَبِيُّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ بَيْنَا أَنَا أَقُودُ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاحِلَتَهُ فِي غَزْوَةٍ إِذْ قَالَ يَا عُقْبَةُ قُلْ فَاسْتَمَعْتُ ثُمَّ قَالَ يَا عُقْبَةُ قُلْ فَاسْتَمَعْتُ فَقَالَهَا الثَّالِثَةَ فَقُلْتُ مَا أَقُولُ فَقَالَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَقَرَأَ السُّورَةَ حَتَّى خَتَمَهَا ثُمَّ قَرَأَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا ثُمَّ قَرَأَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ فَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا ثُمَّ قَالَ مَا تَعَوَّذَ بِمِثْلِهِنَّ أَحَدٌ

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Al-Qa’nabiy, dari ‘Abdul ‘Aziiz, dari ‘Abdullaah bin Sulaimaan, dari Mu’aadz bin ‘Abdullaah bin Khubaib, dari Ayahnya, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir Al-Juhaniy -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, ketika aku sedang menuntun kendaraan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam suatu peperangan, beliau bersabda, “Wahai ‘Uqbah, ucapkanlah!” Lalu aku menyimaknya. Kemudian beliau bersabda, “Wahai ‘Uqbah, ucapkanlah!” Lalu aku menyimaknya. Beliau mengatakannya hingga tiga kali, maka aku bertanya, “Apa yang harus aku katakan (wahai Rasul)?”

Beliau bersabda, “Qul Huwallaahu ahad,” Beliau lantas membacanya hingga selesai. Kemudian beliau membaca, “Qul a’uudzu birabbil falaq,” Beliau lantas membacanya hingga selesai. Kemudian beliau membaca, “Qul a’uudzu birabbin naas,” Maka aku pun membacanya bersama Nabi hingga selesai. Setelah itu beliau bersabda, “Seseorang tidak akan mendapat suatu perlindungan yang (hasilnya) setara dengan tiga surat tersebut.”
[Sunan An-Nasaa’iy no. 5430][3]

4. Seluruh Al-Qur’an adalah penawar (obat) bagi orang-orang beriman

Telah disebutkan dalilnya pada bagian pendahuluan, oleh karena itu jika seseorang menjaga shalat fardhu lima waktu dalam sehari serta rajin membaca Al-Qur’an (khususnya surat Al-Baqarah), maka ia telah meminta perlindungan kepada Dzat Yang Maha Melindungi makhlukNya dari semua kejahatan dan itulah sebaik-baiknya perlindungan. Allah Ta’ala berfirman :

مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. [QS Yuusuf : 111]

Allah Ta’ala berfirman :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS Al-‘Ankabuut : 45]

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. [QS Faathir : 29]

B. Ayat-ayat Tertentu dari Al-Qur’an yang Dapat Mengusir Setan

1. Ayat Kursi

Diriwayatkan oleh Al-Imam An-Nasaa’iy rahimahullah :

أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَوْفٌ، عَنْ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ، فَأَتَانِي آتٍ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ: لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِنِّي مُحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ وَبِي حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ، فَخَلَّيْتُ عَنْهُ، فَلَمَّا أَصْبَحْتُ، قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: ” يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ ؟ ” قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَكَى حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالا، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، فَقَالَ: ” أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ، وَسَيَعُودُ ” فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّهُ سَيَعُودُ، فَرَصَدْتُهُ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ، فَقُلْتُ: لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: دَعْنِي فَإِنِّي مُحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ وَلا أَعُودُ، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، فَأَصْبَحَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ؟ ” قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَكَا حَاجَةً وَعِيَالا، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، فَقَالَ: ” أَمَا إِنَّهُ كَذَبَكَ، وَسَيَعُودُ ” فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ، فَقُلْتُ: لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم هَذَا آخِرُ ثَلاثِ مَرَّاتٍ تَزْعُمُ أَنَّكَ لا تَعُودُ ثُمَّ تَعُودُ، قَالَ: قَالَ: دَعْنِي أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا، قُلْتُ: مَا هِيَ؟ قَالَ: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّهُ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ، فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ: ” مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ؟ ” قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِي كَلِمَاتٍ يَنْفَعُنِي اللَّهُ بِهَا فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، قَالَ: ” مَا هِيَ؟ ” قَالَ لِي: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَهَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، وَقَالَ: لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلا يَقْرَبُكَ الشَّيْطَانُ حَتَّى تُصْبِحَ، وَكَانُوا أَحْرَصَ شَيْءٍ عَلَى الْخَيْرِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: ” أَمَا إِنَّهُ كَذُوبٌ وَقَدْ صَدَقَكَ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاثٍ، يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ ” فَقُلْتُ: لا، قَالَ: ” ذَلِكَ الشَّيْطَانُ “

Telah mengkhabarkan kepada kami Ibraahiim bin Ya’quub, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin Al-Haitsam, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Auf, dari Muhammad, dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mempercayakan kepadaku untuk menjaga zakat Ramadhan, kemudian datanglah seseorang kepadaku yang mencuri makanan, akupun menangkapnya, aku berkata kepadanya, “Aku akan membawamu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam!” Orang itu berkata, “Sesungguhnya aku membutuhkannya, aku mempunyai keluarga yang kunafkahi dan kebutuhan yang mendesak,” maka aku (Abu Hurairah) pun melepaskannya.

Ketika pagi menjelang, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat oleh tahananmu semalam?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhan yang mendesak dan keluarga (yang harus ia nafkahi), maka akupun mengasihaninya dan membebaskannya,” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ia telah mendustaimu dan ia akan kembali.” Maka akupun mengetahui bahwa ia akan kembali nanti karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Dan ia akan kembali.”

Akupun mengintainya, dan orang itu datang kembali untuk mencuri makanan, (aku kembali menangkapnya) aku berkata kepadanya, “Aku akan membawamu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam!” Orang itu berkata, “Biarkan aku pergi, sesungguhnya aku membutuhkannya dan aku memiliki keluarga (yang harus kunafkahi), aku tidak akan kembali lagi!” Maka aku pun mengasihani dan membebaskannya kembali.

Ketika pagi menjelang, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tahananmu?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhan yang mendesak dan keluarga (yang harus ia nafkahi), maka akupun mengasihaninya dan membebaskannya,” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ia telah mendustaimu dan ia akan kembali.”

Akupun kembali mengintainya untuk yang ketiga kali dan orang itu datang lagi untuk mencuri makanan, maka aku menangkapnya lagi. Aku berkata, “Aku akan membawamu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan ini adalah yang terakhir dan ketiga kalinya kau mengklaim kau tidak akan kembali tetapi kau tetap kembali!” Orang itu pun berkata, “Biarkanlah aku pergi, aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat yang mana Allah akan memberimu manfaat dengannya,” Aku bertanya, “Apa kalimat-kalimat itu?” Orang itu berkata, “Jika engkau akan beranjak ke pembaringanmu, bacalah ayat Kursi, Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum, hingga akhir ayat karena sesungguhnya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.” Kemudian aku membebaskan orang itu.

Ketika pagi menjelang, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, “Apa yang dilakukan oleh tahananmu?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengklaim bahwasanya ia telah mengajariku kalimat-kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadaku, maka aku pun membebaskannya.” Rasulullah bertanya, “Kalimat-kalimat apa itu?” Aku berkata, “Dia berkata kepadaku bahwa jika aku akan beranjak menuju pembaringan, maka bacalah ayat Kursi dari awal hingga akhir ayat, Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum,” selanjutnya orang tersebut berkata, “Maka Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.” Dan mereka (para sahabat Nabi) adalah orang-orang yang haus akan kebaikan.

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ia adalah makhluk pendusta namun ia sungguh telah berkata benar kepadamu. Tahukah kau siapa yang telah mendatangimu hingga tiga kali tersebut, wahai Abu Hurairah?” Aku menjawab, “Tidak (wahai Rasul),” Rasul bersabda, “Dia adalah setan.”
[Sunan Al-Kubraa li An-Nasaa’iy no. 10729][4]

2. Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah

Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidziy :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ أَشْعَثَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجَرْمِيِّ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الْجَرْمِيِّ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِأَلْفَيْ عَامٍ أَنْزَلَ مِنْهُ آيَتَيْنِ خَتَمَ بِهِمَا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَلَا يُقْرَأَانِ فِي دَارٍ ثَلَاثَ لَيَالٍ فَيَقْرَبُهَا شَيْطَانٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyaar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Asy’ats bin ‘Abdirrahman Al-Jarmiy, dari Abu Qilaabah, dari Abul Asy’ats Al-Jarmiy, dari An-Nu’maan bin Basyiir -radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menulis kitab sejak dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, Allah menurunkan darinya dua ayat yang menjadi penutup surat Al-Baqarah. Tidaklah keduanya dibaca didalam rumah selama tiga malam kemudian setan berani mendekatinya.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 2882; Musnad Ahmad no. 17947][5]

Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhaariy rahimahullah :

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Manshuur, dari Ibraahiim, dari ‘Abdurrahman bin Yaziid, dari Abu Mas’uud -radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada suatu malam, niscaya ia telah mencukupinya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 5010]

Al-Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah keduanya (yaitu kedua ayat tersebut) telah mencukupinya dari pahala Qiyaamul Lail, ada yang mengatakan melindunginya dari gangguan setan serta ada pula yang mengatakan melindunginya dari malapetaka, dan semuanya memungkinkan.” [Syarh Shahiih Muslim 6/91]

3. Ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an

Al-Imam Ibnu Maajah rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَنْبَأَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا أَبُو جَنَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ أَبِيهِ أَبِي لَيْلَى قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ إِنَّ لِي أَخًا وَجِعًا قَالَ مَا وَجَعُ أَخِيكَ قَالَ بِهِ لَمَمٌ قَالَ اذْهَبْ فَأْتِنِي بِهِ قَالَ فَذَهَبَ فَجَاءَ بِهِ فَأَجْلَسَهُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَسَمِعْتُهُ عَوَّذَهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَأَرْبَعِ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ الْبَقَرَةِ وَآيَتَيْنِ مِنْ وَسَطِهَا { وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ } وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ وَثَلَاثِ آيَاتٍ مِنْ خَاتِمَتِهَا وَآيَةٍ مِنْ آلِ عِمْرَانَ أَحْسِبُهُ قَالَ { شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ } وَآيَةٍ مِنْ الْأَعْرَافِ { إِنَّ رَبَّكُمْ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ } الْآيَةَ وَآيَةٍ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ { وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ } وَآيَةٍ مِنْ الْجِنِّ { وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا } وَعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ الصَّافَّاتِ وَثَلَاثِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ الْحَشْرِ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ فَقَامَ الْأَعْرَابِيُّ قَدْ بَرَأَ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ

Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Hayyaan, telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Muusaa, telah memberitakan kepada kami ‘Abdah bin Sulaimaan, telah menceritakan kepada kami Abu Janaab, dari ‘Abdurrahman bin Abi Lailaa, dari Ayahnya, yaitu Abu Lailaa -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, aku duduk di sisi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian datanglah kepada beliau seorang ‘Arab badui, ia berkata, “Sesungguhnya ada saudara kami yang sedang sakit,” beliau bertanya, “Sakit apa saudaramu?” ‘Arab badui tersebut menjawab, “Dia gila,” beliau bersabda, “Pergilah dan datangkan saudaramu kemari.”

Maka orang badui tersebut pergi, dan ia datang kembali bersama saudaranya, kemudian ia mendudukkan saudaranya tersebut di hadapan Rasulullah. Lalu aku mendengar beliau memberikan perlindungan kepadanya dengan Al-Faatihah, empat ayat dari awal surat Al-Baqarah, dua ayat dari pertengahannya, “Wa ilaahukum ilaahuw waahid,” ayat Kursi, dan tiga ayat dari akhir surat Al-Baqarah, satu ayat dari surat Ali ‘Imraan, beliau mengucapkan, “Syahidallaahu annahu laa ilaaha illaa huwa”, satu ayat dari surat Al-A’raaf, “Inna Rabbakumullaahul ladzii khalaqa…”, hingga akhir ayat, satu ayat dari surat Al-Mu’minuun, “Wa man yad’u ma’allaahi ilaahan aakhara laa burhaana lahu bihi,” satu ayat dari surat Al-Jinn, “Wa annahu Ta’alaa jaddu Rabbinaa mat takhadza shaahibata wa laa waladan,” sepuluh ayat dari awal surat Ash-Shaaffaat, tiga ayat terakhir dari surat Al-Hasyr, Qul Huwallaahu ahad, dan Al-Mu’awwidzatain.

Kemudian orang ‘Arab badui tersebut berdiri dan sembuh seakan-akan tidak ada penyakit yang menimpanya.
[Sunan Ibnu Maajah no. 3549][6]

Semoga apa yang kami tulis ini bermanfaat bagi saudara-saudara kami kaum muslimin khususnya mereka yang dirasakan sedang mengalami gangguan dari jin jahat. Perlu kami ingatkan kembali bahwasanya agar kita selalu berharap hanya kepada Allah Ta’ala sebagai Dzat tempat kita menggantungkan semua harapan dan kesembuhan, ruqyah hanyalah sarana yang Allah Ta’ala berikan agar kita dapat berusaha mengobati diri sesuai dengan apa yang dituntunkan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi hanya Allah ‘Azza wa Jalla-lah yang memberikan kita jalan keluar dan kesembuhan, dan Dia yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi umatNya yang mau bersabar serta senantiasa berdo’a dan bertawakkal.

Dan kami ingatkan pula agar menjauhi praktek-praktek tidak syar’i bahkan menjurus kepada praktek perdukunan yang mengajarkan kesyirikan berkedok ruqyah, contohnya yang mencari pertolongan kepada jin khodam, mustika atau benda-benda keramat, pesugihan, jimat-jimat bahkan meminta pertolongan kepada jin-jin kafir penunggu tempat-tempat tertentu. Na’udzubillaahi min dzaalik…!

Bukanlah ridha Allah dan kesembuhan yang kita dapatkan melainkan murkaNya dan adzab yang pedih menanti kelak di akhirat. Allaahul musta’an.

Allaahu a’lamu bish shawwaab.

Maraji’ :

“Fadhaa’ilul Qur’an”, karya Al-Haafizh Imaaduddiin Abul Fidaa’ Ismaa’iil bin ‘Umar bin Katsiir rahimahullah, tahqiiq dan takhriij : Syaikh Abu Ishaaq Al-Huwainiy, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo.

“Ash-Shahiihul Burhaan fiimaa Yathrudusy Syaithaan”, karya ‘Aliy bin Muhammad bin Mahdiy Al-Qarniy, edisi Indonesia : Dzikir, Do’a dan Perbuatan Pengusir Setan, penerbit Darul Haq.

“Musnad Al-Imam Ahmad”, karya Al-Imam Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibaaniy, tahqiiq : Syaikh Syu’aib Al-Arna’uuth, Mu’assasah Ar-Risaalah.

Footnotes :

[1] Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah menshahihkannya dalam Shahiih Abu Daawud, lihat Silsilatu Ash-Shahiihah 5/44.

[2] Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah menghasankannya dalam Nataa’ijul Ifkaar 2/345, begitu pula Syaikh Al-Albaaniy dalam Takhriij Al-Misykaah no. 2104.

[3] Syaikh Al-Albaaniy menshahihkannya dalam Shahiih An-Nasaa’iy no. 5445.

[4] Syaikh Al-Albaaniy menshahihkannya dalam Shahiih At-Targhiib no. 610, beliau berkata, “Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy secara mu’allaq, Ibnu Khuzaimah dan lain-lain.”

[5] Al-Haafizh Ibnu Hajar menghasankannya dalam Nataa’ijul Ifkaar 3/275, dan Syaikh Al-Albaaniy menshahihkannya dalam Shahiih At-Targhiib no. 1467.

[6] Hadits ini dha’iif, hanya berasal dari jalan Abu Janaab Al-Kalbiy dan ia tidak memiliki mutaba’ah, namanya adalah Yahyaa bin Hayy Abu Hayah Al-Kuufiy, Abu Janaab Al-Kalbiy. Ibnu Sa’d berkata “dha’if dalam hadits”, Ibnul Madiiniy berkata “Yahyaa Al-Qaththaan membicarakannya”, Al-Bukhaariy dan Abu Haatim berkata “Yahyaa mendha’ifkannya”, Yaziid bin Haaruun berkata “shaduuq, melakukan tadlis”, Abu Nu’aim berkata “Abu Janaab tidak mengapa dengannya, kecuali ia melakukan tadlis”, Ahmad berkata “hadits-haditsnya mungkar”, Ibnu Ma’iin dalam suatu riwayat berkata “tidak ada yang salah dengannya”, dalam riwayat lain ia berkata “shaduuq”, dan dalam riwayat akhir ia berkata “dha’iif”, Ibnu Numair berkata “shaduuq, sering tadlis, merusak haditsnya dengan tadlis yang ia lakukan, ia menceritakan hal-hal yang ia tidak mendengarnya langsung”, Al-Fallaas berkata “matruukul hadiits”, An-Nasaa’iy berkata “laisa bil qawiy”, dalam riwayat lain ia berkata “tidak tsiqah, mudallis”, Ibnu ‘Adiy berkata “tidak kuat disisi mereka, termasuk orang-orang syi’ah di Kuufah”, As-Saajiy berkata “shaduuq, munkarul hadiits”, Ibnu Hajar berkata “mereka mendha’ifkannya, banyak melakukan tadlis”. Termasuk thabaqah ke-6. Wafat tahun 150 H atau sebelumnya. Dipakai oleh Abu Daawud, At-Tirmidziy dan Ibnu Maajah. [Al-Kaamil fiy Adh-Dhu’afaa’ 9/50; Tahdziibul Kamaal no. 6817; Tahdziibut Tahdziib 11/201; Taqriibut Tahdziib no. 7537]

Dari pembicaraan mengenai Abu Janaab diatas, yang lebih tepat mengenainya adalah ia dha’if (bahkan memiliki riwayat-riwayat mungkar) dalam haditsnya dan disifati oleh para ulama dengan sering melakukan tadlis bahkan ia kerap merusak haditsnya dengan tadlis tersebut. Dimasukkan oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar ke dalam thabaqah kelima para perawi mudallis, Thabaqaatul Mudallisiin no. 152, yang artinya riwayat-riwayatnya tidak diterima biarpun ia menyatakan dengan jelas penyimakan dari syaikhnya.

Kami menambahkan bahwasanya hadits ini pun tidak selamat dari idhtirab sanad, yaitu :

1. Pada sanad Ibnu Maajah diatas, Abu Janaab meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Abu Lailaa, dari Abu Lailaa.

2. Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dengan sanad yang berbeda dari Abu Janaab :

حَدَّثَنِي عَبْد اللَّهِ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِي جَنَابٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، حَدَّثَنِي أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ، قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ، فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، إِنَّ لِي أَخًا وَبِهِ وَجَعٌ ! قَالَ: ” وَمَا وَجَعُهُ؟ “، قَالَ: بِهِ لَمَمٌ، قَالَ: ” فَائْتِنِي بِهِ، فَوَضَعَهُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَعَوَّذَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَأَرْبَعِ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، وَهَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ، وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ، وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ، وَثَلَاثِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، وَآيَةٍ مِنْ آلِ عِمْرَانَ، شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ، وَآيَةٍ مِنْ الْأَعْرَافِ، إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، وَآخِرِ سُورَةِ الْمُؤْمِنِينَ، فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ، وَآيَةٍ مِنْ سُورَةِ الْجِنِّ، وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا، وَعَشْرِ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ الصَّافَّاتِ، وَثَلَاثِ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ، وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، فَقَامَ الرَّجُلُ كَأَنَّهُ لَمْ يَشْتَكِ قَطُّ “

Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullaah, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abu Bakr Al-Muqaddamiy, telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin ‘Aliy, dari Abu Janaab, dari ‘Abdullaah bin ‘Iisaa, dari ‘Abdurrahman bin Abu Lailaa, telah menceritakan kepadaku Ubay bin Ka’b, ia berkata, aku sedang berada di sisi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, …dst”
[Musnad Ahmad no. 20682]

Diriwayatkan pula oleh Al-Haakim (Al-Mustadrak 4/409); Al-Baihaqiy (Ad-Da’awaatul Kabiir no. 495); Ismaa’iil bin Muhammad Al-Ashbahaaniy (Dalaa’ilun Nubuwwah no. 116).

Pada sanad ini, Abu Janaab meriwayatkan dengan perantara ‘Abdullaah bin ‘Iisaa, dari Ibnu Abu Lailaa, dari Ubay bin Ka’b -radhiyallahu ‘anhu-.

3. Imam Abu Ya’laa Al-Maushiliy rahimahullah meriwayatkan dengan sanad yang berbeda pula dari Abu Janaab :

حَدَّثَنَا زَحْمَوَيْهِ، حَدَّثَنَا صَالِحٌ، حَدَّثَنَا أَبُو جَنَابٍ يَحْيَى بْنُ أَبِي حَيَّةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” إِنَّ أَخِي وَجِعَ، فَقَالَ: مَا وَجَعُ أَخِيكَ؟ قَالَ: بِهِ لَمَمٌ، قَالَ: فَابْعَثْ إِلَيَّ بِهِ، قَالَ: فَجَاءَهُ، فَجَلَسَ بَيْنَ يَدَيْهِ، قَالَ: فَقَرَأَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَاتِحَةَ الْكِتَابِ، وَأَرْبَعَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، وَآيَتَيْنِ مِنْ وَسَطِهَا: وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ { 163 } إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى فَرَغَ مِنَ الآيَةِ، وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ، وَثَلاثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، وَآيَةً مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ: شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ، إِلَى آخِرِ الآيَةِ، وَآيَةً مِنْ سُورَةِ الأَعْرَافِ: إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، وَآيَةً مِنْ سُورَةِ الْمُؤْمِنِينَ: فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ، وَآيَةً مِنْ سُورَةِ الْجِنِّ: وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلا وَلَدًا، وَعَشْرَ آيَاتٍ مِنْ سُورَةِ الصَّفِّ مِنْ أَوَّلِهَا، وَثَلاثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ “

Telah menceritakan kepada kami Zahmawaih, telah menceritakan kepada kami Shaalih, telah menceritakan kepada kami Abu Janaab Yahyaa bin Abu Hayyah, dari ‘Abdurrahman bin Abu Lailaa, dari seorang laki-laki, dari Ayahnya, ia berkata, datanglah seorang laki-laki kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, …dst”
[Musnad Abu Ya’laa no. 1594]

Diriwayatkan pula oleh Ibnus Sunniy (‘Amalul Yaum wal Lailah no. 633)

Pada sanad ini, Abu Janaab meriwayatkan dari Ibnu Abu Lailaa, dari seorang laki-laki, dari Ayahnya, yang kedua-duanya ini mubham. Oleh karena tidak bisa ditarjih mana sanad yang mahfuuzh, maka hadits ini dha’iif dengan idhtirab pada sanad-sanadnya, dan Syaikh Al-Albaaniy berkata hadits ini hadits mungkar pada ta’liq beliau terhadap Sunan Ibnu Maajah, begitu pula Al-Haafizh Adz-Dzahabiy rahimahullah pada Talkhiish Al-Mustadrak (beliau membantah penshahihan Al-Imam Al-Haakim rahimahullah pada hadits ini), sementara Syaikh Syu’aib Al-Arna’uuth -hafizhahullah- berkata hadits ini dha’iif idhtirab pada tahqiiq beliau terhadap Musnad Ahmad 35/107.

Tanbiih :

Walau sanad hadits ini dha’iif dan tidak bisa dijadikan hujjah, bukan berarti tidak boleh meruqyah dengan membaca 4 ayat dari permulaan surat Al-Baqarah, 2 ayat dari pertengahannya (ayat 163-164), 3 ayat dari akhir surat Al-Baqarah (ayat 284-286), 1 ayat dari surat Ali ‘Imraan (ayat 18), 1 ayat dari surat Al-A’raaf (ayat 54), 2 ayat dari surat Al-Mu’minuun (ayat 116-117), 1 ayat dari surat Al-Jinn (ayat 3), 10 ayat dari permulaan surat Ash-Shaaffaat dan 3 ayat dari akhir surat Al-Hasyr.

Kami katakan bahwasanya dalil-dalil untuk ayat-ayat ini berpulang pada keumuman dalil mengenai Al-Qur’an yaitu seluruh isi Al-Qur’an adalah penawar (obat), rahmat dan petunjuk bagi kaum muslimin, dalil-dalilnya sudah kami sebutkan pada bagian pendahuluan dan pada sub bab A-4. Oleh karena itu kami berkesimpulan tidak mengapa jika anda meruqyah diri anda atau orang lain dengan ayat-ayat tersebut. Allaahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s