Ayat Zhihar

backbone_sideAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلا اللائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. [QS Al-Mujaadilah : 1-4]

Penjelasan Tafsir

Keempat ayat ini adalah bagian dari Surat Al-Mujaadilah, diturunkan di Madinah, oleh karena itu surat ini termasuk ke dalam golongan surat Madaniyyah. Dinamakan Al-Mujaadilah (wanita yang menggugat) karena pokok isinya adalah mengenai seorang shahabiyah (namanya adalah Khaulah binti Tsa’labah -radhiyallahu ‘anha-) yang mengadukan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam perihal perkataan suaminya (Aus bin Ash-Shaamit -radhiyallahu ‘anhu-) yang menzhiharnya dengan mengatakan bahwa ia (Khaulah) bagai punggung ibunya.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abi Haatim rahimahullah dengan sanad :

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ تَمِيمِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: ” الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعُ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ، لَقَدْ جَاءَتِ الْمُجَادِلَةُ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم تُكَلِّمُهُ وَأَنَا فِي نَاحِيَةِ الْبَيْتِ مَا أَسْمَعُ مَا تَقُولَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عز وجل:[قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا] إِلَى آخَرَ الْآيَةِ “

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’aawiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Tamiim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aaisyah -radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang meluaskan pendengaranNya kepada semua suara, sungguh telah datang seorang wanita yang menggugat (suaminya) kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan berbincang dengannya, aku sedang berada di sudut rumah sehingga tidaklah aku mendengar apa yang wanita itu katakan, maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat : Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, hingga akhir ayat.”
[Tafsiir Ibnu Abi Haatim no. 18839] – Sanadnya shahiih.

Diriwayatkan pula oleh An-Nasaa’iy (Sunan Ash-Shughraa no. 3460); Ahmad (Musnad no. 23643); Ibnu Maajah (Sunan no. 184)

عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ تَمِيمِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: ” تَبَارَكَ الَّذِي أَوْعَى سَمْعُهُ كُلَّ شَيْءٍ، إِنِّي لَأَسْمَعُ كَلَامَ خَوْلَةَ بِنْتِ ثَعْلَبَةَ ويَخْفَى عَلَيَّ بَعْضُهُ وَهِيَ تَشْتَكِي زَوْجَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهِيَ تَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَكَلَ شَبَابِي، وَنَثَرْثُ لَهُ بَطْنِي، حَتَّى إِذَا كَبُرَتْ سِنِّي وَانْقَطَعَ وَلَدِي، ظَاهِرَ مِنِّي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْكُو إِلَيْكَ، قَالَتْ: فَمَا بَرِحَتْ حَتَّى نَزَلَ جِبْرِيلُ بِهَذِهِ الْآيَةِ: قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا “، وَقَالَ: وَزَوْجُهَا أَوْسُ بْنُ الصَّامِتِ

Dari Al-A’masy, dari Tamiim bin Salamah, dari ‘Urwah, dari ‘Aaisyah, sesungguhnya ia berkata, “Maha Suci Allah yang pendengaranNya meliputi segala sesuatu, sesungguhnya aku telah mendengar perkataan Khaulah binti Tsa’labah akan tetapi aku tersamarkan sebagian perkataannya, ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, ia telah memakan masa mudaku dan perutku telah melahirkan anak untuknya hingga ketika aku telah tua kini dan aku tidak bisa melahirkan lagi, ia malah menzhiharku. Sesungguhnya aku mengajukan gugatan kepadamu.” ‘Aaisyah berkata, “Dia terus menerus melakukan itu hingga turunlah Jibriil dengan membawa ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya,” Suami Khaulah adalah Aus bin Ash-Shaamit.
[Tafsiir Ibnu Abi Haatim no. 18840]

Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَيَعْقُوبُ قَالَا حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ حَدَّثَنِي مَعْمَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَنْظَلَةَ عَنْ يُوسُفَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ عَنْ خَوْلَةَ بِنْتِ ثَعْلَبَةَ قَالَتْ وَاللَّهِ فِيَّ وَفِي أَوْسِ بْنِ صَامِتٍ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صَدْرَ سُورَةِ الْمُجَادَلَةِ قَالَتْ كُنْتُ عِنْدَهُ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ سَاءَ خُلُقُهُ وَضَجِرَ قَالَتْ فَدَخَلَ عَلَيَّ يَوْمًا فَرَاجَعْتُهُ بِشَيْءٍ فَغَضِبَ فَقَالَ أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّي قَالَتْ ثُمَّ خَرَجَ فَجَلَسَ فِي نَادِي قَوْمِهِ سَاعَةً ثُمَّ دَخَلَ عَلَيَّ فَإِذَا هُوَ يُرِيدُنِي عَلَى نَفْسِي قَالَتْ فَقُلْتُ كَلَّا وَالَّذِي نَفْسُ خُوَيْلَةَ بِيَدِهِ لَا تَخْلُصُ إِلَيَّ وَقَدْ قُلْتَ مَا قُلْتَ حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فِينَا بِحُكْمِهِ قَالَتْ فَوَاثَبَنِي وَامْتَنَعْتُ مِنْهُ فَغَلَبْتُهُ بِمَا تَغْلِبُ بِهِ الْمَرْأَةُ الشَّيْخَ الضَّعِيفَ فَأَلْقَيْتُهُ عَنِّي قَالَتْ ثُمَّ خَرَجْتُ إِلَى بَعْضِ جَارَاتِي فَاسْتَعَرْتُ مِنْهَا ثِيَابَهَا ثُمَّ خَرَجْتُ حَتَّى جِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَذَكَرْتُ لَهُ مَا لَقِيتُ مِنْهُ فَجَعَلْتُ أَشْكُو إِلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَلْقَى مِنْ سُوءِ خُلُقِهِ قَالَتْ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَا خُوَيْلَةُ ابْنُ عَمِّكِ شَيْخٌ كَبِيرٌ فَاتَّقِي اللَّهَ فِيهِ قَالَتْ فَوَاللَّهِ مَا بَرِحْتُ حَتَّى نَزَلَ فِيَّ الْقُرْآنُ فَتَغَشَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ يَتَغَشَّاهُ ثُمَّ سُرِّيَ عَنْهُ فَقَالَ لِي يَا خُوَيْلَةُ قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ فِيكِ وَفِي صَاحِبِكِ ثُمَّ قَرَأَ عَلَيَّ { قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ إِلَى قَوْلِهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ } فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرِيهِ فَلْيُعْتِقْ رَقَبَةً قَالَتْ فَقُلْتُ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عِنْدَهُ مَا يُعْتِقُ قَالَ فَلْيَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَتْ فَقُلْتُ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ شَيْخٌ كَبِيرٌ مَا بِهِ مِنْ صِيَامٍ قَالَ فَلْيُطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا وَسْقًا مِنْ تَمْرٍ قَالَتْ قُلْتُ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا ذَاكَ عِنْدَهُ قَالَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّا سَنُعِينُهُ بِعَرَقٍ مِنْ تَمْرٍ قَالَتْ فَقُلْتُ وَأَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ سَأُعِينُهُ بِعَرَقٍ آخَرَ قَالَ قَدْ أَصَبْتِ وَأَحْسَنْتِ فَاذْهَبِي فَتَصَدَّقِي عَنْهُ ثُمَّ اسْتَوْصِي بِابْنِ عَمِّكِ خَيْرًا قَالَتْ فَفَعَلْتُ قَالَ سَعْدٌ الْعَرَقُ الصَّنُّ

Telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Ibraahiim dan Ya’quub, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ayahku, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaaq, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ma’mar bin ‘Abdullaah bin Hanzhalah, dari Yuusuf bin ‘Abdillaah bin Salaam, dari Khaulah binti Tsa’labah, ia berkata, “Demi Allah, pada diriku dan diri Aus bin Ash-Shaamit, Allah telah menurunkan surat Al-Mujaadilah.” Khaulah berkata, “Aku adalah isterinya (Aus bin Ash-Shaamit), dia adalah laki-laki yang telah lanjut usia, buruk akhlaqnya dan pemarah.” Khaulah melanjutkan, “Suatu hari ia masuk menemuiku (untuk menunaikan hajatnya) namun aku menolaknya dengan sesuatu hingga ia pun marah seraya berkata, “Kau bagiku seperti punggung ibuku!”

Khaulah berkata, “Kemudian Aus pergi dan duduk-duduk bersama kaumnya, kemudian masuk kembali menemuiku dan menginginkan untuk berjimaa’. Aku lalu berkata, “Demi jiwa Khaulah yang berada di genggamanNya, kau tidak akan dapat menguasai diriku, sungguh kamu telah menetapkan sesuatu yang kamu ucapkan sampai Allah dan RasulNya menghukumi di antara kita dengan hukumNya.”

Khaulah berkata, “Namun ia memaksaku, akan tetapi aku dapat menolaknya dan mengalahkannya sebagaimana seorang wanita mengalahkan orangtua yang sudah lemah, kemudian aku melemparkannya.” Khaulah berkata, “Akupun keluar ke salah satu rumah tetanggaku, aku meminjam baju darinya, setelah itu aku keluar menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Aku duduk di hadapan beliau dan melaporkan atas apa yang telah menimpaku, aku adukan kepada beliau perihal akhlaq Aus yang buruk.”

Khaulah berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai Khuwailah, anak pamanmu (yaitu Aus) adalah seorang yang telah lanjut usia, hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dalam perkaranya.” Khaulah berkata, “Demi Allah, tidaklah aku meninggalkan tempat tersebut sehingga turun ayat dalam al Qur’an tentang diriku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak sadarkan diri (karena wahyu sedang turun), kemudian beliau siuman dan bersabda kepadaku, “Wahai Khuwailah, sungguh Allah telah menurunkan kepadamu dan kepada suamimu,” kemudian beliau membaca untukku, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” hingga firmanNya, “Dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.” [QS Al-Mujaadilah: 1-4].

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kembali bersabda, “Suruhlah Aus untuk memerdekakan budak.” Khaulah berkata, “Maka aku berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak mempunyai apapun untuk memerdekakan budak,” beliau bersabda, “Suruhlah dia untuk berpuasa dua bulan berturut-turut.” Khaulah berkata, “Maka aku berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya dia adalah orang yang sudah lanjut usia, dan tidak sanggup untuk berpuasa.” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, “Suruhlah dia untuk memberi makan enam puluh orang miskin dengan kurma satu wasaq.” Khaulah berkata, “Dan aku berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak memiliki apa-apa.” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Sesungguhnya aku akan membantunya dengan sekeranjang kurma,” Khaulah lantas berkata, “Wahai Rasulullah, dan aku akan membantunya juga dengan sekeranjang yang lain.” Beliau bersabda, “Sungguh, kau benar dan telah berbuat baik, maka pergilah dan bersedekahlah darinya, kemudian berwasiatlah terhadap anak pamanmu dengan kebaikan.” Khaulah berkata, “Maka aku pun melaksanakannya.” Sa’d bekata, “Al-Araq adalah sejenis keranjang.”
[Musnad Ahmad no. 27319] – Syaikh Syu’aib Al-Arna’uuth hafizhahullah berkata, “Dalam sanadnya ada kelemahan karena jahalah Ma’mar bin ‘Abdullaah bin Hanzhalah, dia majhuul.” Namun hadits ini dihasankan Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baariy 9/433.

Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah menjelaskan bahwa zhihar, berasal dari kata azh-zhahru yang berarti punggung. Dikatakan bahwa ini adalah budaya Jahiliyyah yang mana jika mereka menzhihar istrinya, mereka akan berkata, “Kau seperti punggung ibuku,” dan di sisi hukum Jahiliyyah, zhihar berarti talak (cerai). Melalui syari’at Islam, Allah Ta’ala ingin membatalkan status hukum tersebut, oleh karenanya seorang laki-laki yang melakukan zhihar terhadap istrinya, maka ia diharamkan atas istrinya dan dikenai kaffarat.

Al-Imam Abu Ja’far Ibnu Jariir rahimahullah meriwayatkan perkataan Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma :

كَانَ الرَّجُلُ إِذَا قَالَ لامْرَأَتِهِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ: أَنْتِ عَلَيَّ كَظَهْرِ أُمِّي، حَرُمَتْ فِي الإِسْلامِ، فَكَانَ أَوَّلَ مَنْ ظَاهَرَ فِي الإِسْلامِ أَوْسُ بْنُ الصَّامِتِ، وَكَانَتْ تَحْتَهُ ابْنَةُ عَمٍّ لَهُ

“Dahulu pada masa Jahiliyyah jika ada seorang laki-laki yang berkata pada istrinya, “Kau di sisiku bagaikan punggung ibuku,” maka (sekarang) ia telah diharamkan dalam Islam. Dan yang pertama-tama menzhihar dalam Islam adalah Aus bin Ash-Shaamit yang memperistri putri pamannya.” [Jaami’ul Bayaan 22/448] – Dengan diringkas.

Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata :

أن الظهار محرَّم، والدليل قوله تعالى: {{وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا}} [المجادلة: 2] فكذبهم الله تعالى شرعاً وقدراً، قدراً في قوله: {{وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا}} وشرعاً في قوله: {{وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا}} والمنكر حرام، والزور حرام

Sesungguhnya zhihar itu diharamkan, dalilnya adalah firmanNya Ta’ala : Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta (QS Al-Mujaadilah : 2). Allah Ta’ala telah mendustakan mereka dengan syari’at dan ketentuanNya, yaitu dengan ayat tersebut. Perkataan yang mungkar hukumnya adalah haram, dan kedustaan juga hukumnya adalah haram. [http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_18236.shtml]

Bagaimana Status Pernikahan Setelah Suami Menzhihar?

Seperti telah disebutkan diatas bahwasanya ucapan zhihar seorang suami kepada istrinya, kau bagaikan punggung ibuku, adalah warisan budaya Jahiliyyah. Dan ucapan ini adalah ucapan yang mungkar dan dusta, karena Allah Ta’ala berfirman :

مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلا اللائِي وَلَدْنَهُم

Tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka.

Konsekuensi hukum dari perkataan ini adalah istrinya tersebut tidak halal lagi baginya (namun tidak jatuh talak) hingga suami menjatuhkan keputusannya jika memang ingin mentalaknya. Namun jika sang suami ingin mencampurinya kembali (mempertahankan pernikahan), maka ia harus membayar kaffarat, diantaranya memerdekakan budak, jika tidak mendapatkan budak maka dengan berpuasa dua bulan berturut-turut, atau jika tidak mampu maka membayar enam puluh orang fakir miskin. Inilah urutan-urutan kaffaratnya.

Al-Imam Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata :

هو أن يمسكها بعد المظاهرة زمانا يمكنه أن يطلق فيه فلا يطلق

Ia (suaminya tersebut) menahan istrinya beberapa waktu setelah istrinya dizhihar yang mana ia bisa mentalaknya selama waktu tersebut namun ia tidak melakukannya.

Dari perkataan Asy-Syaafi’iy diatas terlihat jelas bahwasanya syari’at Islam membatalkan hukum Jahiliyyah bahwa zhihar berkonsekuensi talak. Oleh karena itu jika ada suami yang berniat talak dengan mengucapkan zhihar, maka talaknya tidak jatuh akan tetapi ia menjadi zhihar. [Subuulus Salaam 3/83]

Al-Imam Ahmad berkata :

وهو أن يعود إلى الجماع او يعزم عليه فلا تحل له حتى يكفر بهذه الكفارة

Dan suami (yang telah menzhihar) menginginkan untuk kembali berjimaa’ atau berniat melakukannya kembali, maka istrinya tidak halal baginya hingga suaminya menunaikan kaffarahnya.

Al-Imam Maalik bin Anas rahimahullah berkata :

العزم على الجماع أو الإمساك

(Yang dimaksud adalah) niat untuk berjimaa’ atau mempertahankan (pernikahan).

Al-Imam Abu Haniifah rahimahullah berkata :

وهو أن يعود إلى الظهار بعد تحريمه ورفع ما كان عليه أمر الجاهلية فمتى ظاهر الرجل من امرأته فقد حرمها تحريما لا يرفعه إلا الكفارة

Seorang suami yang menginginkan zhihar setelah diharamkan dan diangkatnya apa-apa yang berlaku pada urusan Jahiliyyah, dengan demikian jika seorang laki-laki menzhihar istrinya, maka istrinya tersebut telah diharamkan baginya dan tidaklah diangkat status haram tersebut kecuali dengan membayar kaffarah.

Dan inilah juga pendapat sahabat-sahabat Abu Haniifah dan Al-Laits bin Sa’d -rahimahumullahu ajma’in-.

Demikian yang bisa dituliskan. Semoga bermanfaat.
Allaahu a’lam.

Maraji’ :

“‘Umdatut Tafsiir ‘an Al-Haafizh Ibni Katsiir”, karya Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah, Daarul Wafaa’.

“Ma’aalimut Tanziil”, karya Al-Imam Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawiy rahimahullah, Daar Thayyibah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s