Kisah Nabi Ibraahiim -‘Alaihissalaam- (5) : Kisah Anak yang Disembelih

mountain-goatMayoritas umat Islam sepakat bahwa anak yang disembelih adalah Ismaa’iil ‘Alaihissalaam, hanya beberapa yang mempunyai pendapat bahwa anak yang disembelih adalah Ishaaq ‘Alaihissalaam, dan ini adalah syaadz.

Allah Ta’ala berfirman menceritakan kisah penyembelihan Ismaa’iil :

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ. رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ. فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ. فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ. فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ. سَلامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ. وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ. وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

Dan Ibraahiim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibraahiim, Ibraahiim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibraahiim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibraahiim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibraahiim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibraahiim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. [QS Ash-Shaaffaat : 99-113]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan mengenai kekasihNya, Ibraahiim ‘Alaihissalaam, bahwa ketika hijrah dari negeri kaumnya, beliau meminta kepada Tuhannya agar dianugerahi anak yang shalih, maka Allah Ta’ala memberitahukan khabar gembira bahwa beliau akan mendapatkan anak laki-laki yang santun, yaitu Ismaa’iil ‘Alaihissalaam karena ia merupakan anak pertama darinya di saat usia beliau sudah memasuki 86 tahun. Ini adalah sesuatu yang tidak ada perselisihan oleh para ulama.

Maksud firman Allah, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibraahiim,” artinya setelah dewasa dan jadilah ia dapat berusaha demi kemaslahatannya sendiri seperti ayahnya. Al-Imam Mujaahid Al-Makkiy rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah beranjak dewasa dan mampu mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan oleh ayahnya berupa usaha dan pekerjaan. Maka disaat itulah Ibraahiim bermimpi bahwa ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhaariy rahimahullah dari sahabat Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma :

رُؤْيَا الْأَنْبِيَاءِ وَحْيٌ

“Mimpinya para Nabi adalah sebuah wahyu.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 138]

‘Ubaid bin ‘Umair rahimahullah berkata pula bahwasanya ini adalah ujian Allah kepada kekasihNya agar ia menyembelih anaknya yang ia cintai yang dianugerahkan disaat Nabi Ibraahiim sudah memasuki usia lanjut, kebersamaan mereka terpangkas oleh karena beliau diperintahkan Allah Ta’ala untuk mengungsikan Ismaa’iil dan ibunya di sebuah negeri yang miskin dan lembah yang tidak ditumbuhi rerumputan, tanaman dan tidak ada air. Maka Nabi Ibraahiim pun mematuhi perintah Allah dengan meninggalkan mereka berdua disana seraya percaya dan bertawakkal kepadaNya, oleh karena itu Allah Ta’ala mudahkan rizki mereka dan memberikan jalan keluar yang tidak terduga.

Kemudian, tatkala diperintahkan untuk menyembelih anak semata wayangnya, anak yang sangat beliau idam-idamkan sejak dahulu, Nabi Ibraahiim justru menuruti perintah Tuhannya bahkan bersegera melaksanakannya, ini menunjukkan keta’atan yang luar biasa kepada perintah Allah Ta’ala.

Nabi Ibraahiim pun memusyawarahkan hal ini kepada Ismaa’iil agar hatinya lebih ringan dan tenang ketimbang menyembelihnya secara paksa, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”

Maka, Ismaa’iil pun tanpa pikir panjang langsung menjawab, “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Sungguh ini sebuah jawaban yang menggambarkan keta’atan yang luar biasa yang ditunjukkan seorang anak kepada ayahnya dan kepada Allah Ta’ala.

Firman Allah Ta’ala, “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibraahiim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya),” ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah keduanya telah berserah diri yaitu menyerah terhadap perintah Allah dan ber-azzam kepadaNya.

Firman Allah Ta’ala, “Ibraahiim membaringkan anaknya atas pelipis,” maksudnya ia akan menyembelihnya dari arah belakang agar Ismaa’iil tidak melihatnya pada saat disembelih, ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbaas, Mujaahid, Sa’iid bin Jubair, Qataadah dan Adh-Dhahhaak. Pendapat lain mengatakan bahwa Ibraahiim membaringkan Ismaa’iil sebagaimana membaringkan hewan kurban dan hanya pinggir lambungnya yang menempel tanah.

Firman Allah Ta’ala, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” maksudnya adalah Kami jadikan tebusan sembelihan anak beliau itu sesuatu yang Allah Ta’ala mudahkan baginya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa sembelihan itu berjenis kambing kibas berwarna putih, bermata lebar dan bertanduk, Nabi Ibraahiim melihatnya terikat di lembah.

Al-Imam Ibnu Jariir Ath-Thabariy rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، قَالَ: ثنا ابْنُ يَمَانٍ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: “وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ، قَالَ: رَعَى فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِينَ خَرِيفًا “. وَقَالَ آخَرُونَ: قِيلَ لَهُ: عَظِيمٌ ؛ لأَنَّهُ كَانَ ذَبْحًا مُتَقَبَّلا

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Yamaan, dari Sufyaan, dari ‘Abdullaah bin ‘Iisaa, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” Ibnu ‘Abbaas berkata, “(Yaitu seekor kambing) yang digembalakan di surga selama empat puluh tahun.” Yang lain berkata, “Dikatakan, seekor kambing yang besar, karena ia dahulu merupakan sembelihan yang diterima.”
[Jaami’ul Bayaan 19/604] – Dalam sanadnya ada kelemahan, Ibnu Yamaan dia adalah Abu Zakariyaa Yahyaa bin Yamaan Al-‘Ijliy Al-Kuufiy, seorang yang shaaduq namun banyak keliru dan hapalannya berubah, demikian dikatakan Al-Haafizh rahimahullah.

Al-Imam Ibnu Abi Haatim rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ الصَّفَّارُ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ الْعَطَّارُ، عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: ” الصَّخْرَةُ الَّتِي بِمِنًى بِأَصْلِ ثَبِيرٍ هِيَ الصَّخْرَةُ الَّتِي ذَبَحَ عَلَيْهَا إِبْرَاهِيمُ فِدَاءَ ابْنِهِ، هَبَطَ عَلَيْهِ مِنْ ثَبِيرٍ كَبْشٌ أَعْيَنُ أَقْرَنُ، لَهُ ثُغَاءٌ، فَذَبَحَهُ، وَهُوَ الْكَبْشُ الَّذِي قَرَّبَهُ ابْنُ آدَمَ فَتُقُبِّلَ مِنْهُ، فَكَانَ مَخْزُونًا حَتَّى فَدَى بِهِ إِسْحَاقَ “

Telah menceritakan kepada kami Ayahku, telah menceritakan kepada kami Yuusuf bin Ya’quub Ash-Shaffaar, telah menceritakan kepada kami Daawud Al-‘Aththaar, dari Ibnu Khutsaim, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata, “Batu besar yang berada di Mina, berasal dari Tsabiir (yaitu gunung besar yang terletak antara Makkah dan ‘Arafah) yaitu batu besar tersebut yang digunakan Ibraahiim untuk menyembelih tebusan anaknya. Allah menurunkan kepada Ibraahiim dari Tsabiir tersebut seekor kambing yang bermata lebar, bertanduk dan mengembik, maka Ibraahiim pun menyembelihnya, dan kambing itu adalah kambing yang dijadikan qurban oleh anak Adam yang Allah terima darinya. Kemudian (dagingnya) disimpan hingga Ishaaq menebusnya.”
[Tafsiir Ibnu Abi Haatim no. 18233] – Sanadnya hasan. Ibnu Khutsaim adalah ‘Abdullaah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim, Abu ‘Utsmaan Al-Qaariy Al-Makkiy, Al-Haafizh berkata ia shaduuq dan ia adalah perawi Al-Bukhaariy dalam At-Ta’aaliq dan Muslim dalam shahihnya.

Mujaahid juga berpendapat Ibraahiim menyembelih di Mina, sementara ‘Ubaid bin ‘Umair berpendapat beliau menyembelihnya di maqam.

Inilah kisah Nabi Ibraahiim ‘Alaihissalaam, sang kekasih Allah, yang mana dari kisah ini terdapat ibrah yang sangat besar yang dapat diambil oleh orang yang mau mengambil pelajaran, bahwasanya tauhid jika sudah mengakar hingga ke dalam hati, maka ia akan mengutamakan perintah Allah Ta’ala dibanding dunia dan seisinya, dan ia bertawakkal sepenuhnya kepada Allah bahwa Dia tidak akan pernah mencelakakan hambaNya.

Melalui kisah penyembelihan ini pula kita mengetahui bahwa para Nabi dan Rasul, mereka adalah orang-orang pilihan yang mengalami ujian terberat yang Allah Ta’ala bebankan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidziy rahimahullah :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَةَ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari ‘Aashim bin Bahdalah, dari Mush’ab bin Sa’d, dari Ayahnya -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang mendapatkan ujian terberat?” Rasulullah bersabda, “Para Nabi, kemudian orang-orang yang semisal mereka, kemudian orang-orang yang semisal mereka. Sungguh seseorang itu diuji berdasarkan agamanya, bila agamanya kuat, ujiannya pun berat. Sebaliknya bila agamanya lemah, ia diuji berdasarkan agamanya. Ujian tidak akan berhenti menimpa seorang hamba hingga ia berjalan dimuka bumi dengan tidak mempunyai kesalahan.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 2398] – Hasan shahih.

Mengenai Anak yang Disembelih

Telah disinggung di awal pembahasan bahwa anak yang disembelih adalah Ismaa’iil ‘Alaihissalaam, ini adalah kesepakatan kaum muslimin. Zhahir ayat Al-Qur’an telah menjawabnya sendiri walaupun Al-Qur’an tidak menyebut nama anak yang disembelih, yaitu ketika Allah Ta’ala menceritakan kisah anak yang disembelih (dan dia adalah Ismaa’iil karena telah shahih bahwa dia adalah anak pertama Nabi Ibraahiim), kemudian setelah itu Allah Ta’ala pun menceritakan bahwa Ibraahiim akan dikaruniai seorang putra lagi, yaitu Ishaaq ‘Alaihissalaam.

Al-Haafizh Ibnu Katsiir menyebutkan sejumlah ulama yang berpendapat Ismaa’iil-lah yang disembelih, diantaranya Ibnu ‘Abbaas, ‘Aliy bin Abi Thaalib, Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, Ibnu Mas’uud, Abu Ath-Thufail, Sa’iid bin Al-Musayyib, Masruuq, ‘Ikrimah, Sa’iid bin Jubair, Mujaahid, ‘Athaa’ bin Abi Rabaah, Asy-Sya’biy, Muqaatil, Abu Shaalih Dzakwaan As-Sammaan, Muhammad bin Ka’b, Abu Ja’far Muhammad Al-Baaqir, ‘Ubaid bin ‘Umair, Abu Maisaarah, Zaid bin Aslam, ‘Abdullaah bin Syaqiiq, Az-Zuhriy, Ahmad bin Hanbal, Al-Qaasim bin Sallaam, Ibnu Abi Burdah, Makhuul Asy-Syaamiy, ‘Utsmaan bin Haadhir, Ismaa’iil As-Suddiy, Abu Haatim, Al-Hasan, Qataadah, Abu Hudzail, Muslim bin Sabiith, kemudian Ibnu Jariir Ath-Thabariy, Al-Baghawiy dan yang lainnya -rahimahumullahu ajma’in-.

Al-Imam Ibnu Jariir Ath-Thabariy meriwayatkan :

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَمَّارٍ الرَّازِيُّ، قَالَ: ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُبَيْدِ بْنِ أَبِي كَرِيمَةَ، قَالَ: ثنا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ الْخَطَّابِيُّ، عَنْ عَبْدِ الله بْنِ مُحَمَّدِ الْعُتْبِيِّ، مِنْ وَلَدِ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: ثني عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِدٍ، عَنِ الصُّنَابِحِيِّ، قَالَ: ” كُنَّا عِنْدَ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ، فَذَكَرُوا الذَّبِيحَ إِسْمَاعِيلَ أَوْ إِسْحَاقَ؟ فَقَالَ: عَلَى الْخَبِيرِ سَقَطْتُمْ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَجَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عُدْ عَلَيَّ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ يَابْنَ الذَّبِيحَيْنِ، فَضَحِكَ عَلَيْهِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ، فَقِيلَ لَهُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، وَمَا الذَّبِيحَانِ؟ فَقَالَ: إِنَّ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ لَمَّا أُمِرَ بِحَفْرِ زَمْزَمٍ، نَذَرَ لِلَّهِ لَئِنْ سَهَّلَ لَهُ أَمْرَهَا لَيَذْبَحَنَّ أَحَدَ وَلَدِهِ، قَالَ: فَخَرَجَ السَّهْمُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ، فَمَنَعَهُ أَخْوَالُهُ، وَقَالُوا: افْدِ ابْنَكَ بِمِائَةٍ مِنَ الإِبِلِ، فَفَدَاهُ بِمِائَةٍ مِنَ الإِبِلِ، وَإِسْمَاعِيلُ الثَّانِي “

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Ammaar Ar-Raaziy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Ubaid bin Abi Kariimah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin ‘Abdurrahiim Al-Khaththaabiy, dari ‘Abdullaah bin Muhammad Al-‘Utbiy -dia dari keturunan ‘Utbah bin Abu Sufyaan-, dari Ayahnya, ia berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Abdullaah bin Sa’d, dari Ash-Shunaabihiy, ia berkata, kami sedang bersama Mu’aawiyah bin Abi Sufyaan -radhiyallahu ‘anhuma- kemudian mereka menyebutkan mengenai anak yang disembelih, Ismaa’iil atau Ishaaq? Maka Mu’aawiyah berkata, “Kalian menepati orang yang paling tahu masalah ini, kami pernah bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian datanglah seorang laki-laki, ia berkata, “Wahai Rasulullah, tambahkan kepadaku dari apa-apa yang telah Allah karuniakan kepadamu, wahai anak dua orang yang disembelih,” maka Rasulullah ‘Alaihish Shalaatu wassalaam tertawa.

Ditanyakan kepada Mu’aawiyah, “Wahai Amiirul Mu’miniin, apakah dua orang yang disembelih itu?” Ia menjawab, “Bahwa ‘Abdul Muththalib ketika memerintahkan penggalian sumur zamzam, ia bernadzar kepada Allah jika urusannya ini dipermudah maka ia akan menyembelih salah satu anaknya.” Mu’aawiyah berkata, “Keluarlah anak panah undian kepada ‘Abdullaah (ayah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam), maka paman-paman ‘Abdullaah dari pihak ibu menghalangi ‘Abdul Muththalib, mereka berkata, “Tebuslah putramu dengan seratus ekor unta.” Maka ‘Abdul Muththalib menebus ‘Abdullaah dengan seratus ekor unta, dan dia adalah Ismaa’iil yang kedua.
[Jaami’ul Bayaan 19/597] – Dengan sanad yang lemah, lihat Ad-Durrul Mantsuur 5/281.

Syaikhul Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

ولهذا امتحَن الله إبراهيم بذبح ابنه، والذبيح على القول الصحيح ابنه الكبير (إسماعيل) كما دلَّت على ذلك سورة الصافات وغير ذلك، فإنه قد كان سأل ربه أن يهَب له من الصالحين، فبشَّره بالغلام الحليم إسماعيل، فلما بلَغ معه السعي أمرَه أن يذبَحه؛ لئلا يبقى في قلبه محبة مخلوق تُزاحِم محبة الخالق، إذ كان قد طلَبه وهو بِكره، وكذلك في التوراة يقول: اذبَح ابنك وحيدك، وفي ترجمة أخرى: بِكرك، ولكن ألْحَق المُبدِّلون لفظ (إسحاق)، وهو باطل، فإن إسحاق هو الثاني من أولاده باتِّفاق المسلمين وأهل الكتاب، فليس هو وحيده ولا بِكره؛ وإنما وحيده وبكره إسماعيل؛ ولهذا لما ذكَر الله قصة الذبيح في القرآن قال بعد هذا: ﴿ وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ ﴾ [الصافات: 112]، وقال في الآية الأخرى: ﴿فَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ ﴾ [هود: 71]، فكيف يُبشِّره بولَد ثم يأمُره بذبحه؟

Dan ini adalah ujian Allah kepada Ibraahiim yang Dia memerintahkannya untuk menyembelih putranya. Dan yang disembelih menurut pendapat yang shahih adalah putranya yang paling besar, yaitu Ismaa’iil sebagaimana ditunjukkan oleh surat Ash-Shaaffaat dan selainnya. Sesungguhnya Ibraahiim telah meminta kepada Rabbnya untuk melimpahkan kepadanya keturunan dari orang-orang yang shaalih, maka Allah memberinya khabar gembira dengan seorang anak laki-laki yang penyabar, Ismaa’iil, dan ketika ia telah sampai di usia yang cukup, datanglah perintah untuk menyembelihnya, agar didalam hati Ibraahiim tidak melanggengkan kecintaan kepada makhluq menyaingi kecintaan kepada Khaaliq, padahal Ismaa’iil adalah anak yang amat dinanti Ibraahiim dan ia sedang beranjak perjaka. Dan seperti inilah pada Taurat, yang mengatakan, “Sembelihlah anak semata wayangmu,” dan pada pembahasan yang lain, “…anak perjakamu.” Akan tetapi, kebenaran menunjukkan bahwa lafazh “Ishaaq” adalah baathil, dikarenakan Ishaaq adalah anak yang kedua dari anak-anak Ibraahiim dengan kesepakatan kaum muslimin dan ahli kitab, maka bukanlah ia anak semata wayangnya, dan bukan pula anak perjakanya, yang benar anak semata wayang dan anak perjakanya adalah Ismaa’iil. Dengannya Allah menceritakan kisah penyembelihan didalam Al-Qur’an, kemudian Dia berfirman setelahnya, “Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih,” (QS Ash-Shaaffaat : 112), dan Allah Ta’ala berfirman pada ayat yang lain, “Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaaq dan dari Ishaaq (akan lahir putranya) Ya’quub,” (QS Huud : 71). Maka bagaimanakah Allah memberitakan khabar gembira kepadanya mengenai kelahiran seorang anak sementara Dia memerintahkan untuk menyembelihnya?!
[Minhaajus Sunnah 5/353]

Al-‘Allaamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

وإسماعيل هو الذبيح على القول الصواب عند علماء الصحابة والتابعين ومَن بعدهم، وأما القول بأنه إسحاق، فباطل بأكثر من عشرين وجهًا، وسمِعت شيخ الإسلام ابن تيميَّة – قدَّس الله رُوحه – يقول: هذا القول إنما هو مُتلقى عن أهل الكتاب مع أنه باطل بنص كتابهم؛ فإن فيه: أن الله أمَر إبراهيم أن يذبح ابنه بِكره، وفي لفظ: وحيده، ولا يشكُّ أهل الكتاب مع المسلمين أن إسماعيل هو بِكر أولاده

Ismaa’iil, beliaulah anak yang disembelih diatas pendapat yang benar menurut para ulama sahabat dan tabi’in, kemudian ulama setelah mereka. Adapun pendapat bahwa ia adalah Ishaaq, maka pendapat itu baathil dilihat dari berbagai sisi. Dan aku telah mendengar Syaikhul Islaam Ibnu Taimiyyah -semoga Allah mensucikan ruhnya- mengatakan, “Pendapat ini (yang mengatakan Ishaaq), yang benar ia mutlak berasal dari ahli kitab bersama kebathilan (yang bertolak belakang) dengan nash kitab mereka, bahwa didalamnya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan Ibraahiim untuk menyembelih putranya yang beranjak perjaka,” dan dengan lafazh, “semata wayangnya,” tidak dapat disangkal lagi oleh ahli kitab bersama kaum muslimin bahwa Ismaa’iil, dialah anak Ibraahiim yang beranjak perjaka.
[Zaadul Ma’aad 1/71]

Allaahu a’lamu bish shawwaab.
(Bersambung — insya Allah)

Sumber :
“Al-Bidaayah wa An-Nihaayah” karya Al-Haafizh Abul Fidaa’ Ibnu Katsiir, tahqiiq : Syaikh Dr. ‘Abdullaah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy, Daar Hijr. Edisi terjemahan penerbit Pustaka Azzam – dengan beberapa penambahan.

One thought on “Kisah Nabi Ibraahiim -‘Alaihissalaam- (5) : Kisah Anak yang Disembelih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s