Kisah Nabi Ibraahiim -‘Alaihissalaam- (6) : Kelahiran Ishaaq dan Wafatnya Nabi Ibraahiim

nabi ishaq - imageUmat bersepakat, lahirnya Ishaaq ‘Alaihissalaam adalah setelah terjadi peristiwa penyembelihan Ismaa’iil ‘Alaihissalaam. Setelah Allah Ta’ala menceritakan mengenai kisah penyembelihan, Allah Ta’ala memberitakan khabar gembira mengenai kelahiran Ishaaq. Allah Ta’ala berfirman :

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ. وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaaq, seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. [QS Ash-Shaaffaat : 112-113]

Khabar gembira ini Allah sampaikan kepada Nabi Ibraahiim ‘Alaihissalaam ketika beliau bersama Sarah, istrinya, sedang menuju daerah Madaa’in untuk memberitahukan penduduk Madaa’in mengenai kekufuran dan kemaksiatan mereka. Allah Ta’ala menyampaikannya melalui tiga malaikat yang menyamar menjadi manusia-manusia tampan guna mengemban tugas membinasakan kaum Nabi Luuth ‘Alaihissalaam yang amat durhaka dan keji. Kisah selengkapnya mengenai kaum Nabi Luuth akan kami paparkan secara tersendiri. Insya Allah.

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ. فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ. وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ. قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ. قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibraahiim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Salaaman” (Selamat). Ibraahiim menjawab: “Salaamun” (Selamatlah), maka tidak lama kemudian Ibraahiim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibraahiim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luuth.” Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaaq dan dari Ishaaq (akan lahir putranya) Ya’quub. Istrinya berkata, “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh. Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [QS Huud : 69-73]

Keterangan serupa juga bisa dibaca pada Surat Al-Hijr ayat 51-56, dan surat Adz-Dzaariyaat ayat 24-30.

Para malaikat tersebut adalah Malaikat Jibril, Mika’il dan Israfil ‘Alaihimussalaam, mereka dijamu oleh Nabi Ibraahiim. Beliau memperlakukan mereka sebagai layaknya tamu biasa walaupun beliau tidak mengenal mereka, ia membuatkan sapi muda panggang untuk mereka yang diambil dari sapi muda terbaik, ini adalah salah satu bentuk tatacara memuliakan tamu walau kita tidak mengenal mereka sebelumnya. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhaariy rahimahullah dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata-kata baik atau hendaklah ia diam.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 6018]

Akan tetapi tatkala hidangan telah matang dan disuguhkan, para tamu tersebut terlihat tidak nafsu sama sekali, dikarenakan para malaikat tidaklah membutuhkan makanan. Ini membuat Nabi Ibraahiim heran dan merasa takut.

Firman Allah, “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luuth,” maksudnya kami akan membinasakan mereka. Maka, Sarah pun menjadi lega dan bahagia seraya marah kepada mereka karena Allah.

Firman Allah, “Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaaq dan dari Ishaaq (akan lahir putranya) Ya’quub,” artinya para malaikat menyampaikan khabar bahagia mengenai hal tersebut.

Firman Allah, “”Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh,” maksudnya bagaimana orang sepertiku ini dapat melahirkan? Sementara aku ini sudah tua dan mandul, begitu pula suamiku juga sudah tua. Ini benar-benar sesuatu yang aneh dan mengherankan.

Firman Allah, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahanNya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah,” para malaikat menegaskan khabar ini maka mereka memberikan keduanya khabar gembira dari Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai kelahiran seorang anak laki-laki yang ‘aalim yaitu Ishaaq ‘Alaihissalaam, anak laki-laki yang penyantun karena posisi dan kejujurannya dan ia adalah seorang Nabi. Demikianlah keberkahan Allah, Dia Maha Terpuji dan Maha Pemurah.

Menurut ahli kitab, saat itu sepotong roti dari Makkah dihadirkan bersama seekor sapi panggang. Roti itu berisikan tiga potong tali geriba, minyak samin dan susu, dan para malaikat memakannya. Ini adalah khabar Isra’iliyat dan tidak benar.

Adapun firman Allah, “Tentang (kelahiran) Ishaaq dan dari Ishaaq (akan lahir putranya) Ya’quub,” Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata bahwa ini adalah bukti bahwa Ibraahiim mendengar akan kelahiran Ishaaq kemudian dengan kelahiran anak Ishaaq setelahnya, yaitu Ya’quub ‘Alaihissalaam (dan ia pun seorang Nabi), artinya Ya’quub dilahirkan di saat Ibraahiim masih hidup. Penyebutan Ishaaq dan Ya’quub memberi faidah bahwasanya Ibraahiim dan Sarah akan melihat Ya’quub, cucu mereka, karena keduanya disebutkan berbarengan. Allah Ta’ala berfirman :

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا

Maka ketika Ibraahiim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaaq, dan Ya’quub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi. [QS Maryam : 49]

Dalil penguat bagi ayat diatas adalah apa yang diriwayatkan Asy-Syaikhain rahimahumallah dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifaariy radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ ثُمَّ قَالَ حَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ وَالْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ

“Wahai Rasulullah, masjid apakah yang dibangun pertama kali?” Beliau bersabda, “Masjidil Haraam,” aku bertanya, “Kemudian masjid apa?” beliau bersabda, “Kemudian Masjidil Aqshaa,” aku bertanya lagi, “Berapa jarak antara keduanya (ketika dibangun)?” Beliau bersabda, “Empat puluh tahun,” Kemudian beliau bersabda lagi, “Dimana saja kau berada dan menjumpai waktu shalat, maka shalatlah karena permukaan bumi adalah masjid untuk kalian.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 3366; Shahiih Muslim no. 520]

Hadits diatas menjadi penguat bagi pendapat ini. Pembangunan Masjidil Aqshaa (Masjid Illiya Baitul Maqdis) oleh Nabi Ya’quub terjadi empat puluh tahun setelah Ibraahiim dan Ismaa’iil membangun Masjidil Haraam (Ka’bah) dimana ketika keduanya membangunnya, Ishaaq sudah dilahirkan. Hal ini dibuktikan karena Ibraahiim berdo’a :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismaa’iil dan Ishaaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a. [QS Ibraahiim : 39]

Wafatnya Nabi Ibraahiim ‘Alaihissalaam

Al-Imam Ibnu Jariir Ath-Thabariy rahimahullah menyebutkan bahwa Ibraahiim dilahirkan pada masa kekuasaan Namruudz bin Kan’aan. Al-Imam Adh-Dhahhaak rahimahullah berkata bahwa ia adalah seorang raja terkenal yang dikatakan umurnya mencapai seribu tahun, ia sangat aniaya dan sangat zhalim, namun Nabi Ibraahiim mengalahkannya dalam perdebatan, dan ia akhirnya diadzab oleh Allah Ta’ala. Silahkan lihat bagian kedua dari kisah Nabi Ibraahiim yang telah kami tuliskan.

Sarah, telah meninggal di kampung Habrun yang berada di daerah Kan’aan, pada saat itu umurnya 127 tahun sebagaimana pendapat ahli kitab. Maka Nabi Ibraahiim pun sangat sedih, beliau bersedih dan menyebutkan segala kebaikan Sarah. Kemudian beliau membeli sebuah gua dari seorang lelaki bani Haits yang bernama ‘Afruun bin Shakhr seharga empat puluh mitsqal dan Sarah pun dimakamkan disana.

Selanjutnya ahli kitab berkata, Ibraahiim meminangkan anaknya Ishaaq dengan Rifqaa binti Bitwail bin Naahuur bin Tariikh (yaitu Azar, ayah Nabi Ibraahiim). Kemudian Nabi Ibraahiim menikahi Qanthuur dan dia pun melahirkan untuk beliau beberapa orang anak, yaitu Zamraan, Yaqsyan, Madzraan, Madyaan, Syiaq dan Sauh.

Nabi Ibraahiim jatuh sakit setelah itu, dan meninggal dunia ketika berusia 175 tahun. Pendapat lain mengatakan 195 tahun, dan dimakamkan di gua yang telah disebutkan yang terletak di Habrun tempat istrinya, Sarah, dimakamkan. Ada pendapat lain lagi mengatakan Ibraahiim meninggal pada usia 200 tahun, dan ini adalah pendapat Ibnu Al-Kalbiy rahimahullah. Ibnu ‘Asaakir rahimahullah dalam Taariikh-nya menyebutkan berbagai riwayat berkenaan kedatangan malaikat Maut kepada Nabi Ibraahiim dan semuanya adalah khabar Isra’iliyat. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui kebenaran riwayat-riwayat tersebut.

Allaahu a’lamu bish shawwaab.
(Selesai — Alhamdulillah)

Sumber :
“Al-Bidaayah wa An-Nihaayah” karya Al-Haafizh Abul Fidaa’ Ibnu Katsiir, tahqiiq : Syaikh Dr. ‘Abdullaah bin ‘Abdul Muhsin At-Turkiy, Daar Hijr. Edisi terjemahan penerbit Pustaka Azzam – dengan beberapa penambahan.

3 thoughts on “Kisah Nabi Ibraahiim -‘Alaihissalaam- (6) : Kelahiran Ishaaq dan Wafatnya Nabi Ibraahiim

  1. Pingback: Kisah Nabi Luuth ‘Alaihissalaam dan Kaum yang Melampaui Batas | Al-Muhandisu

  2. Pingback: [Peringatan untuk Kaum LGBT] Kisah Nabiyullaah Luuth ‘alaihissalam dan Kaum yang Melampaui Batas | Blog Abu Umamah™

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s