Al-Imam Nu’aim bin Hammaad Rahimahullahu Ta’ala

creativity11-e1350842733549NAMA DAN NASABNYA

Nama dan nasabnya adalah Nu’aim bin Hammaad bin Mu’aawiyah bin Al-Haarits bin Hammaam bin Salamah bin Maalik Al-Khuzaa’iy, Abu ‘Abdillaah Al-Marwaziy, seorang imam, ahli hadits, haafizh, ‘aalim, ahli fiqh terutama yang berhubungan dengan faraa’idh (ilmu waris) dan pemilik tulisan-tulisan yang bermanfaat.

ASALNYA DAN RIHLAHNYA

Beliau berasal dari Marw, yaitu suatu daerah di wilayah Khurasaan. Kemudian beliau rihlah mencari ilmu terutama mencari hadits ke berbagai daerah seperti ‘Iraaq, Hijaaz kemudian Mesir hingga beliau pun akhirnya menetap di negeri tersebut dan menjadi salah satu penduduknya pada masa kekhilafahan Abu Ishaaq Al-‘Abbaas bin Haaruun Ar-Rasyiid yang kita kenal dengan nama Al-Mu’tashim Billah rahimahumallah.

SYUYUUKH

Diantara guru-guru beliau adalah Ibraahiim bin Sa’d, Ibraahiim bin Thuhmaan (meriwayatkan 1 hadits darinya), Baqiyyah bin Al-Waliid, Jariir bin ‘Abdul Hamiid, Hafsh bin Ghiyaats, Khaarijah bin Mush’ab, Rauh bin ‘Ubaadah, Ibnu ‘Uyainah, Dhamrah bin Rabii’ah, Ibnul Mubaarak, ‘Abdurrazzaaq bin Hammaam Al-Haafizh, Ad-Daraawardiy, ‘Iisaa bin Yuunus, Fudhail bin ‘Iyyaadh, Mu’tamir bin Sulaimaan, Husyaim bin Basyiir, Wakii’, Al-Waliid bin Muslim, Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan Al-Haafizh, Abu Daawud Ath-Thayaalisiy Al-Haafizh, Abu Mu’aawiyah Adh-Dhariir, dan lain-lain -rahimahumullahu ajma’in-.

TALAAMIIDZ

Diantara murid-muridnya adalah Al-Bukhaariy Al-Imam Al-Kabiir, Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Hulwaaniy, Abu Haatim Ar-Raaziy, Abu Zur’ah Ad-Dimasyqiy, Ibraahiim bin Ya’quub Al-Jauzajaaniy, Muhammad bin ‘Auf Ath-Thaa’iy Al-Himshiy, Ya’quub bin Sufyaan, Yahyaa bin Ma’iin, Muhammad bin Yahyaa Adz-Dzuhliy, Shaalih bin Mismaar Al-Marwaziy, dan lain-lain -rahimahumullahu ajma’in.

JARH WA TA’DIIL

– Ahmad memujinya, beliau berkata, “Nu’aim bin Hammaad adalah orang yang pertama kali mengumpulkan dan menulis musnad.” Dan perkataan beliau dinukil oleh Al-Khathiib. Dalam riwayat lain, Ahmad berkata, “Sungguh, dia termasuk orang-orang tsiqah.”

– Ibnu Ma’iin berkata, “Tsiqah,” dalam riwayat lain ia berkata, “Shaduuq, lelaki yang jujur,” dalam riwayat lain ia berkata, “Terkenal dengan thalibul ‘ilmi kecuali bahwa ia meriwayatkan pula dari orang-orang yang tidak tsiqah.” Dan dalam riwayat akhir, ia berkata, “Haditsnya tidak ada-apanya, akan tetapi ia shahibus sunnah.”

– Al-‘Ijliy berkata, “Tsiqah.”

– Abu Zur’ah Ad-Dimasyqiy berkata, “Nu’aim menyambungkan hadits-hadits yang di-mauquf-kan oleh manusia.”

– Abu Haatim berkata, “Tempatnya kejujuran.”

– Abu Daawud berkata, “Di sisi Nu’aim terdapat 20 hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada asal-usulnya.”

– An-Nasaa’iy berkata, “Nu’aim dha’iif,” dalam riwayat lain ia berkata, “Tidak tsiqah.”

– Abu ‘Aliy An-Naisaabuuriy mendengar An-Nasaa’iy menyebutkan keutamaan-keutamaan Nu’aim dan dia mendahulukannya dalam ilmu, ma’rifatul hadits dan sunnah-sunnah, kemudian ditanyakan mengenai penerimaan haditsnya. An-Nasaa’iy berkata, “Dia telah banyak menyendiri dalam banyak periwayatan hadits dari para imam tsiqah yang terkenal, maka jelas pembatasannya pada riwayat-riwayat yang tidak boleh dijadikan hujjah (yaitu riwayat yang Nu’aim tafarrud didalamnya).”

– Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam kitab Ats-Tsiqaat, dan ia berkata, “Kemungkinan melakukan kesalahan dan wahm.”

– Abu Bisyr Ad-Daulaabiy mendha’ifkannya, seraya menuduhnya telah memalsukan hadits, dan dinukil oleh Ibnu ‘Adiy serta Al-Azdiy.

– Maslamah bin Al-Qaasim berkata, “Shaduuq, banyak salahnya, dan padanya terdapat hadits-hadits mungkar mengenai hikayat-hikayat.”

– Ad-Daaruquthniy berkata, “Imam dalam sunnah, banyak wahm.”

– Abu Ahmad Al-Haakim berkata, “Menyelisihi (riwayat yang lebih kuat) di beberapa haditsnya.”

– Al-Mizziy berkata, “Shaduuq, banyak melakukan kesalahan.”

– Adz-Dzahabiy berkata, “Ahadul A’immah, diatas kelemahan pada haditsnya.”

– Ibnu Hajar berkata, “Shaduuq, banyak melakukan kesalahan, ahli fiqh, mengetahui ilmu-ilmu waris.”

– Syu’aib Al-Arna’uuth dalam At-Tahriir mendha’ifkannya, beliau berkata, “Didha’ifkan oleh tidak hanya satu dari para imam, akan tetapi ia dikuatkan oleh beberapa imam dan mereka memberi pujian yang bagus untuknya disebabkan pembelaannya terhadap sunnah.”

Hadits-hadits beliau dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim dalam Muqaddimah, Abu Daawud, At-Tirmidziy dan Ibnu Maajah.

Tentang tuduhan bahwa beliau telah memalsukan hadits, maka ini tuduhan yang terlalu berlebihan dalam menyikapinya. Sungguh, beliau telah dipuji oleh lebih dari seorang imam yang jarh wa ta’dilnya sangat dipandang, seperti Ahmad, Ibnu Ma’iin (walaupun Ibnu Ma’iin belakangan tidak menganggap hadits-haditsnya), Abu Haatim (beliau mengatakan bahwa Nu’aim tempatnya kejujuran). An-Nasaa’iy walaupun menjarh-nya namun beliau mengakui dan mendahulukannya dalam ilmu walaupun kemudian ia berkata hadits-haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah namun ia tidak menyebutnya pemalsu hadits. Jarh untuknya pun telah dijelaskan oleh para imam bahwasanya ia berasal dari banyak kesalahannya dan tafarrudnya dalam beberapa periwayatan hadits dari orang-orang tsiqah, juga karena ia kerap meriwayatkan dari orang-orang yang tidak tsiqah.

Ibnu Hajar berkata,

أما نعيم فقد ثبتت عدالته وصدقه، ولكن في حديثه أوهام معروفة

“Adapun Nu’aim maka sungguh telah tetap keadilan dan kejujurannya, akan tetapi pada haditsnya terdapat kekeliruan-kekeliruan yang telah diketahui.”

Shaalih bin Muhammad Al-Asadiy berkata,

في حديث شعيب عن الزهري في الأمراء من قريش:
ليس لهـذا الحديث أصل، ولا يُعرف من حـديث ابن المبارك، ولا أدري من أين جاء به نعيـم، وكان نعيم يحـدث من حفظه، وعنده مناكير كثيرة لا يتابع عليها

“Pada hadits Syu’aib, dari Az-Zuhriy pada pembahasan pemimpin dari Quraisy, tidaklah hadits ini mempunyai asal-usul dan tidak diketahui dari hadits Ibnul Mubaarak, aku tidak tahu darimana Nu’aim mendatangkan hadits ini, Nu’aim menceritakan hadits ini dari hapalannya, dan di sisinya terdapat hadits-hadits mungkar yang banyak dan tidak memiliki mutaba’ah.

‘Abdurrahman Al-Mu’allimiy Al-Yamaaniy berkata,

وإنما أوقع نعيمًا فيما وقع فيه من الأوهام، أنه سمع فأكثر جداً من الثقات ومن الضعفاء.
وفي الميزان عن ابن معين : نعيم بن حمَّاد…كتب عن روح بن عبادة خمسين ألف حديث.
هذا ما سمعه من رجلٍ واحدٍ، ليس هو بأشهر شيوخه، فما ظنك بمجموع ما عنده عن شيوخه؟
فلكثرة حديث نعيم عن الثقات وعن الضعفاء، واعتماده على حفظه، كان ربما اشتبه عليه ما سمعه من بعض الضعفاء، بما سمع من بعض الثقات، فيظن أنه سمع الأول بسند الثاني، فيرويه كذلك

“Sesungguhnya telah ditetapkan bahwasanya pada apa yang berasal dari kekeliruan Nu’aim, adalah dia mendengar banyak sekali riwayat dari orang-orang tsiqah dan dha’if. Didalam Al-Miizaan, dari Ibnu Ma’iin, Nu’aim bin Hammaad…mencatat dari Rauh bin ‘Ubaadah sebanyak lima puluh ribu hadits. Inilah hadits-hadits yang ia dengar dari seorang perawi dan ia bukanlah dari syuyuukhnya yang terkenal, maka bagaimana perkiraanmu jika digabungkan semua riwayat-riwayat yang ada padanya dari syuyuukhnya?
Banyak dari hadits Nu’aim berasal dari orang-orang tsiqah dan dha’if, dan ia menyandarkannya pada hapalannya, kemungkinan terjadi kekacauan pada apa yang ia dengar dari sebagian orang-orang yang dha’if, dengan apa yang ia dengar dari sebagian orang-orang tsiqah, dan ia menduga bahwa ia mendengar hadits yang pertama dengan sanad yang kedua, maka ia meriwayatkannya seperti itu.”

Oleh karena itu tuduhan pemalsu hadits yang disematkan pada beliau adalah tuduhan yang terlalu jauh dikarenakan beliau adalah orang yang jujur dan beliau tidak pernah menyengaja untuk berdusta akan tetapi ia hanya berasal dari wahm-nya.

TENTANG KITAB BELIAU, Al-FITAN

Beliau mempunyai kitab bernama Al-Fitan yang membahas mengenai riwayat-riwayat dan hikayat-hikayat fitnah yang akan terjadi di akhir zaman. Adz-Dzahabiy berkata,

لا يجوز لأحد أن يحتج به وقد صنف كتاب الفتن فأتى فيه بعجائب ومناكير

“Tidak boleh sekalipun menjadikannya (kitab tersebut) sebagi hujjah, dan sungguh ia telah menulis kitab Al-Fitan kemudian mendatangkan hadits-hadits yang mengherankan dan mungkar didalamnya.” [Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 10/609]

Beliau juga berkata,

نعيم من كبار أوعية العلم لكنه لا تركن النفس إلى رواياته، وقد صنف كتاب الفتن فأتى فيه بعجائب ومناكير

“Nu’aim adalah termasuk ulama besar yang mengumpulkan ilmu, akan tetapi diri dan riwayatnya tidak bisa dipercaya, dan sungguh ia telah menulis kitab Al-Fitan kemudian mendatangkan hadits-hadits yang mengherankan dan mungkar didalamnya.” [via Islamweb : http://fatwa.islamweb.net/Fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=60848]

Dalam kitab Al-Fitan ini memang benar adanya bahwa beliau menukil riwayat-riwayat yang banyak darinya tidak ada asal-usulnya termasuk riwayat-riwayat Israiliyyat yang bathil dan bertentangan dengan ajaran Islam. Namun sekalipun begitu, sebagaimana manhaj ahlussunnah dalam menyikapi hal ini, tidak boleh bersikap buruk sangka kepada beliau karena sebab kitab ini, dikarenakan beliau adalah salah satu imam kaum muslimin, beliau termasuk salah satu guru Imam Al-Bukhaariy dan beliau adalah ulama yang pertama kali menyusun kitab musnad, oleh karena itu jasa dan kebaikan beliau masih lebih banyak ketimbang kekeliruannya. Lagipula siapakah manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan? Siapakah manusia yang ma’shum selain Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam?

Terlebih lagi, beliau meriwayatkan hadits-hadits dalam kitab ini dengan sanad-sanadnya yang memungkinkan kita untuk mengecek kevalidan riwayat-riwayatnya dan memilah-milah mana yang shahih, hasan atau dha’if, dan telah diketahui bersama bahwa jika seorang ahli hadits telah menyebutkan sanad sebuah riwayat, maka ia telah lepas dari beban tanggung jawab. Tinggallah kita sekarang yang harus benar-benar mengeceknya dan tidak tasahul (bermudah-mudahan) menukil seperti layaknya pencari kayu bakar di malam hari.

WAFATNYA BELIAU

Al-Imam Abu ‘Abdillaah Nu’aim bin Hammaad wafat pada tahun 228 H dan inilah yang benar dan telah disebutkan oleh Ibnu Hajar. Semoga Allah merahmati beliau, memaafkan kekeliruan-kekeliruan beliau dan menerima amal kebaikan beliau semasa hidupnya karena baktinya kepada sunnah Nabawiyyah dan ilmu-ilmu Islam.

*Faidah :

Betapa jarh wa ta’diil adalah sebuah ijtihad ulama. Jarh yang berlaku kepada seorang perawi hadits tidak bisa sepenuhnya kita terapkan, melainkan harus dipertimbangkan pula ta’dil untuknya apalagi bila ta’dil tersebut berasal dari para ulama yang pendapatnya sangat diperhitungkan. Sebaliknya, ta’dil juga tidak bisa kita terapkan begitu saja jika ada jarh untuk perawi tersebut terutama jika jarh-nya tergolong jarh yang dijelaskan (jarh mufassar). Haruslah kita menggabungkan semua perkataan para ulama baik dari ulama salaf maupun ulama sesudahnya yang memang ahli di bidang ini dan meneliti qarinah-qarinah apakah lebih condong kepada ta’dil ataukah kepada jarh. Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah telah memberi kita contoh yang baik dalam kitab beliau, At-Taqriib, bagaimana beliau berijtihad mempertimbangkan semua perkataan para ulama mengenai jarh wa ta’diil seorang perawi.

Dan ilmu ini adalah ilmu yang amat mulia, dengannya kita bisa menentukan tingkat keshahihan dan tingkat kedha’ifan suatu hadits. Sungguh, ilmu ini tidak bisa dipakai untuk menta’dil maupun menghajr orang secara sembarangan dikarenakan jarh wa ta’dil dibangun diatas suatu kaidah ilmiyyah berdasarkan prinsip-prinsip Islam, ilmu dan keadilan, bukan berdasarkan pandangan sinis, sentimen pribadi, perselisihan, ataupun karena adanya hubungan kekerabatan.

Sudah ma’ruuf bagaimana jarh Imam An-Nasaa’iy terhadap Imam Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy -rahimahumallah- tidaklah diterima karena hanya berdasarkan sentimen pribadi dan perselisihan mereka.

Abu Ahmad Ibnu ‘Adiy Al-Haafizh rahimahullah berkata,

وكان النسائي سيئ الرأي فيه . وينكر عليه أحاديث منها: عن ابن وهب، عن مالك، عن سهيل، عن أبيه، عن أبي هريرة . عن النبي صلى الله عليه وسلم . قال: ” الدين النصيحة “

“An-Nasaa’iy mempunyai pandangan yang buruk mengenainya, dan ia mengingkari hadits-hadits darinya, yaitu, dari Ibnu Wahb, dari Maalik, dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Agama adalah nasehat.”

Dan perkataannya pula,

وأحمد بن صالح من حفاظ الحديث . وخاصة لحديث الحجاز . ومن المشهورين بمعرفته . وحدث عنه البخاري مع شدة استقصائه . ومحمد بن يحيى . واعتمادهما عليه في كثير من حديث الحجاز . وعلى معرفته . وحدث عنه من حدث من الثقات . واعتمدوه حفظا وإتقانا . وكلام ابن معين فيه تحامل . وأما سوء ثناء النسائي عليه . فسمعت محمد بن هارون بن حسان البرقي . يقول: هذا الخراساني يتكلم في أحمد بن صالح . وحضرت مجلس أحمد بن صالح . وطرده من مجلسه . فحمله ذلك على أن يتكلم فيه

“Dan Ahmad bin Shaalih adalah termasuk huffaazh hadiits, terkhusus dengan hadits penduduk Hijaaz, dan ia adalah ulama masyhuur dengan ketinggiannya. Al-Bukhaariy meriwayatkan darinya dengan sangat sempurna, begitu pula Muhammad bin Yahyaa (Adz-Dzuhliy). Keduanya bergantung pada Ahmad bin Shaalih dari banyak hadits yang berasal dari Hijaaz, dan kepada ketinggiannya. Dan meriwayatkan darinya riwayat orang-orang tsiqah, mereka bergantung kepada hapalannya yang mutqin. Sementara perkataan Ibnu Ma’iin hanya mengandung prasangka (Ibnu Ma’iin mendustakannya). Adapun celaan yang buruk dari An-Nasaa’iy terhadapnya, maka aku telah mendengar Muhammad bin Haaruun bin Hassaan Al-Barqiy berkata, “Inilah orang Khuraasaan (Imam An-Nasaa’iy) yang membicarakan Ahmad bin Shaalih, aku telah menghadiri majelis Ahmad bin Shaalih dan (aku melihat) ia mengusirnya (An-Nasaa’iy) dari majelisnya, maka ia pun membawa pembicaraannya mengenai Ahmad bin Shaalih.”

Al-Khathiib Al-Baghdaadiy Al-Haafizh rahimahullah berkata,

احتج سائر الأئمة بحديث أحمد بن صالح . سوى أبي عبد الرحمن النسائي . فإنه ترك الرواية عنه . وكان يطلق لسانه فيه . وليس الأمر على ما ذكر النسائي . ويقال: كان آفة أحمد بن صالح الكبر . وشراسة الخلق. ونال النسائي منه جفاء في مجلسه . فذلك السبب الذي أفسد الحال بينهما

“Hadits Ahmad bin Shaalih dijadikan hujjah oleh banyak imam, kecuali Abu ‘Abdirrahman An-Nasaa’iy, sesungguhnya ia meninggalkan riwayat darinya dan ia memutlakkan lisannya kepadanya. Tidaklah perkara ini seperti apa yang disebutkan An-Nasaa’iy. Dikatakan, ia mencela Ahmad bin Shaalih dengan Al-Kibr (si sombong) dan berakhlak buruk. Dan An-Nasaa’iy pun mendapatkan pengusiran darinya di majelisnya. Maka inilah sebab keadaan keduanya menjadi rusak.”

Dan telah ma’ruuf pula perselisihan antara Imam Maalik dengan Imam Ibnu Ishaaq yang membuat Maalik menyebutnya dengan “Dajjaal”, Imam Al-Bukhaariy dengan gurunya, yaitu Imam Muhammad bin Yahyaa Adz-Dzuhliy seputar masalah perkataan Al-Qur’an makhluk, kemudian perselisihan Imam Ibnu Mandah dengan Imam Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy seputar permasalahan ‘aqiidah hingga khabarnya membuat keduanya saling mengkafirkan satu dengan yang lain. Kesemuanya adalah perselisihan pribadi yang menyebabkan keluarnya kalimat-kalimat jelek untuk lawannya yang berasal dari emosi-emosi mereka. Sungguh jika kita mau bersikap adil maka mereka semua adalah para imam kaum muslimin yang telah banyak kebaikannya untuk agama ini. Oleh karena itu tidak dibenarkan seorang thalibul ‘ilmi mengikuti nafsunya dalam jarh wa ta’diil, apalagi bila sang pencari ilmu tersebut hanya bermodal ikut-ikutan men-jarh tanpa mau meneliti masalah yang sesungguhnya dan bersikap adil mengenainya.

Allaahu a’lam.

Dikutip dari (berbagai sumber) :

Tahdziibul Kamaal
Tahdziibut Tahdziib
Siyaru A’laam An-Nubalaa’
Taqriibut Tahdziib
Tahriirut Taqriib
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showpost.php?p=1158655&postcount=11
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?s=&threadid=2576

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s