Ringkasan Daurah Musthalahul Hadits (bagian 1)

beautiful_scenery-wideDewasa ini, kebutuhan akan ilmu hadits dirasa semakin urgent dibutuhkan oleh umat untuk mengerti syari’at agama ini terutama untuk mengerti seluk-beluk hadits-hadits Nabawiyyah Asy-Syariif. Terlebih lagi akhir-akhir ini umat muslim begitu mudahnya membagi-bagikan sebuah perkataan yang dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam padahal tidak jelas diketahui apakah ia shahih, dha’if ataukah malah kepalsuan atas nama beliau, na’uudzubillah. Maka, mempelajari ilmu hadits, mengetahui seluk-beluk hadits, kitab-kitabnya, para imam hadits adalah salah satu cara agar kita tidak mudah ditipu dan mudah terjerumus oleh para ahlul hawa yang mempunyai berbagai macam syubhat demi menyesatkan umat muslim.

Diantara berbagai keutamaan mempelajari ilmu hadits adalah :

1. Membela Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Al-‘Allaamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah pernah berkata bahwa membela sunnah adalah jihaadul khaash (jihad khusus), disebabkan karena dalam jihad mengangkat senjata maka pada umumnya orang-orang bisa melakukannya, namun jihad ketika membela sunnah maka ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang khusus.

2. Dido’akan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam agar Allah Ta’ala mengkaruniakan kepadanya cahaya di wajahnya. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang mutawatir :

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا ثُمَّ أَدَّاهَا إِلَى مَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا

“Semoga Allah memancarkan cahaya kepada seorang hamba yang mendengar sabdaku, memahaminya kemudian menyebarkannya kepada hamba lain yang belum mendengarnya.”

3. Membela hadits-hadits Nabi dari makar orang-orang jahat yaitu pemalsuan hadits, tahrif makna, dan penafsiran-penafsiran yang menyimpang. Terkhusus untuk hal ini, maka para ulama telah memperingatkan bahwa golongan syi’ah raafidhah adalah golongan yang paling banyak berdusta atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan ahli baitnya, kemudian golongan orang-orang zindiq yang dari luarnya berbaju Islam akan tetapi ia merusak Islam dari dalam.

4. Selamat dari kesesatan dan kekafiran. Terkait dengan hal ini maka Allah Ta’ala telah berfirman :

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan RasulNya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. [QS Ali ‘Imraan : 101]

Sejarah Singkat Penulisan Hadits

Penulisan hadits sudah dimulai sejak masa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, walaupun sebelumnya beliau melarang menulis hadits. Ini dibuktikan oleh sabda beliau yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu :

لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّي وَلَا حَرَجَ

“Janganlah kalian menulis dariku, barangsiapa menulis dariku selain Al-Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya, ceritakanlah dariku dan tidak ada dosa.” [Shahiih Muslim no. 72]

Diantara sebab-sebab pelarangan ini adalah karena kekhawatiran Nabi akan tercampurnya hapalan Al-Qur’an para sahabat dengan hapalan yang selainnya, juga karena ketika itu banyak dari mereka yang baru masuk Islam dan belum memiliki hapalan yang mutqin sehingga dikhawatirkan pula para sahabat akan tersibukkan dengan selain Al-Qur’an. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan kekhawatiran itu perlahan menghilang serta kebutuhan akan penulisan sunnah mulai muncul, maka larangan ini dihapus.

Beberapa bukti yang mendukung hal ini adalah adanya beberapa sahabat yang mempunyai shahifah hadits, mereka menulis perkataan-perkataan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. ‘Abdullaah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma adalah sahabat yang selalu menulis apa yang beliau dengar dari Nabi, diceritakan oleh beliau seperti yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad :

كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ عَنْ ذَلِكَ وَقَالُوا تَكْتُبُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا فَأَمْسَكْتُ حَتَّى ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ

“Aku selalu mencatat segala sesuatu yang aku mendengarnya dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam agar aku bisa menghapalnya. Kemudian orang-orang Quraisy berusaha menghalang-halangi, mereka berkata, “Kau menulis sementara Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam (terkadang) mengatakannya pada saat marah atau ridha,” maka aku pun berhenti (menulis dari beliau) hingga aku mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah keluar dari (mulut) ini kecuali Al-Haq.” [Musnad Ahmad 2/163]

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata :

مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي إِلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلَا أَكْتُبُ

“Tidak ada seorangpun dari sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang paling banyak meriwayatkan hadits dariku kecuali pada apa yang dimiliki ‘Abdullaah bin ‘Amr karena ia menulisnya sedangkan aku tidak menulis.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 110]

Dan diketahui pula sahabat-sahabat lain pun menulis hadits-hadits Rasulullah seperti Usaid bin Hudhair, beliau menulis hadits dan perkataan-perkataan Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsmaan kemudian mengirimkan kepada Marwaan bin Al-Hakam, kemudian ada Jaabir bin ‘Abdullaah, ‘Abdullaah bin ‘Abbaas, Samurah bin Jundab, Ibnu Abu ‘Aufaa, ‘Aliy bin Abi Thaalib, Anas bin Maalik, mereka -radhiyallahu ‘anhum- pun menulis hadits-hadits Rasulullah. ‘Umar bin Al-Khaththaab radhiyallahu ‘anhu berkata :

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah ilmu (yaitu sunnah) dengan tulisan.” [Sunan Ad-Daarimiy no. 497]

Maka dari sini sangat jelas dan terang akan kebathilan orang-orang yang mengatakan bahwa hadits Rasulullah itu baru ditulis pada abad ke 2 H yaitu pada masa thabaqah Imam Ahmad, Al-Bukhaariy, Muslim dan lain-lain. Orang yang mengatakan ini meniru cara-cara orientalis yang ingin menjatuhkan Islam dengan cara membuat syubhat agar hadits-hadits Nabawiyyah menjadi jatuh dari sumber hukum Islam. Namun sayang hujjah mereka seperti sarang laba-laba.

Ilmu Sanad

Di zaman para sahabat, ilmu sanad belum ada karena mereka meriwayatkan langsung dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, mereka bertanya langsung jika mempunyai masalah dan sebagian mereka mencatatnya, lalu mereka memberitahukannya kepada sahabat lain yang tidak mendengarkannya.

Kodifikasi sanad baru dimulai ketika muncul fitnah, terutama setelah terbunuhnya khalifah ‘Utsmaan bin ‘Affaan radhiyallahu ‘anhu, munculnya firqah khawarij dan syi’ah, lalu masuknya pemikiran-pemikiran filsafat yang merusak tatanan cara berpikir umat Islam dan menjauhkannya dari Al-Qur’an dan Sunnah, paham-paham bid’ah seperti qadariyyah, jabriyyah, jahmiyyah, mu’tazilah serta munculnya orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, contohnya Al-Mukhtaar Ats-Tsaqafiy.

Maka dari sinilah kaum muslimin mulai memperketat sanad, yaitu mereka memperketat mata rantai sumber penukilan hadits Rasulullah. Setiap ada yang menyampaikan hadits, mereka tanyakan terlebih dahulu dari mana sumber penukilannya, jika sumbernya dari ahlussunnah maka mereka menerimanya, jika dari ahli bid’ah maka mereka menolaknya.

Al-Imam Ad-Daarimiy membawakan dengan sanadnya kisah Ibnu ‘Abbaas :

جَاءَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فَجَعَلَ يُحَدِّثُهُ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَعِدْ عَلَيَّ الْحَدِيثَ الْأَوَّلَ قَالَ لَهُ بُشَيْرٌ مَا أَدْرِي عَرَفْتَ حَدِيثِي كُلَّهُ وَأَنْكَرْتَ هَذَا أَوْ عَرَفْتَ هَذَا وَأَنْكَرْتَ حَدِيثِي كُلَّهُ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ إِنَّا كُنَّا نُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ لَمْ يَكُنْ يُكْذَبُ عَلَيْهِ فَلَمَّا رَكِبَ النَّاسُ الصَّعْبَ وَالذَّلُولَ تَرَكْنَا الْحَدِيثَ عَنْهُ

“Busyair bin Ka’b datang menemui Ibnu ‘Abbaas, lalu ia menceritakan hadits kepadanya. Ibnu ‘Abbaas berkata, “Ulangi hadits yang pertama!” Busyair berkata, “Aku tidak tahu apakah engkau mengakui semua haditsku, atau kau menolak hadits yang ini dan mengakui yang ini, atau menolak seluruh haditsku?” Lalu Ibnu ‘Abbaas berkata, “Kami menceritakan hadits dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika tidak ada kedustaan atas nama beliau. Namun ketika manusia menemui kesulitan (membedakan kejujuran perawi) dan mereka memperlonggar periwayatan hadits, maka kami menahan diri untuk tidak meriwayatkan hadits dari beliau.” [Sunan Ad-Daarimiy no. 428]

Al-Imam Muhammad bin Siiriin berkata :

لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ، فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ، فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

“Mereka tidak pernah menanyakan sanad hingga kemudian muncul fitnah, mereka berkata, “Sebutkan para perawi (rijal) kalian!” kemudian mereka melihat jika ia adalah ahlussunnah maka diambillah haditsnya, dan mereka mereka melihat jika ia adalah ahli bid’ah maka tidak diambil haditsnya.”

Beliau juga berkata :

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu adalah bagian dari agama, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian.”

Al-Imam ‘Abdullaah bin Al-Mubaarak berkata :

الْإِسْنَادُ عِنْدِي مِنَ الدِّينِ، لَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad disisiku adalah bagian dari agama. Kalaulah tidak ada sanad, maka seseorang akan berkata segala sesuatu yang ia kehendaki.”

Al-Imam Al-Humaidiy meriwayatkan dari Al-Imam Sufyaan bin ‘Uyainah, ia berkata :

كَانَ النَّاسُ يَحْمِلُونَ، عَنْ جَابِر، قَبْلَ أَنْ يُظْهِرَ مَا أَظْهَرَ، فَلَمَّا أَظْهَرَ مَا أَظْهَرَ، اتَّهَمَهُ النَّاسُ فِي حَدِيثِهِ، وَتَرَكَهُ بَعْضُ النَّاسِ، فَقِيلَ لَهُ: وَمَا أَظْهَرَ؟ قَالَ: الإِيمَانَ بِالرَّجْعَةِ

“Dahulu orang-orang mengambil riwayat dari Jaabir (yaitu Al-Ju’fiy) sebelum dia menampakkan apa yang dia tampakkan, lalu ia menampakkannya maka orang-orang pun menuduh haditsnya dan sebagian mereka meninggalkannya.” Ditanyakan kepada Ibnu ‘Uyainah, “Apa yang ditampakkannya?” Ia berkata, “Iman dengan ‘aqidah raj’ah.”

Riwayat-riwayat diatas dapat dilihat pada Muqaddimah Shahiih Muslim.

Inilah salah satu bentuk penjagaan agama yang telah dilakukan oleh para ulama jauh sebelum masa kita, karena atas jasa dan usaha mereka inilah hingga saat ini kita masih tetap berada pada Islam yang bersih, terjaga dan terpisahkan dari segala macam pemikiran sesat, bid’ah-bidah, dan tahrif Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabawiyyah, kemudian usaha mereka pun diteruskan oleh para ulama generasi setelah mereka yang setia mengikuti tradisi mereka dalam menjaga agama Islam ini. Dan telah tetap pula ketetapan Allah Ta’ala bahwa Dia telah menjamin agama Islam ini adalah agama yang senantiasa dalam penjagaanNya hingga hari kiamat nanti.

Wallaahu a’lam.

*Seperti diceritakan oleh Al-Ustadz Abu Yahyaa Badrusalam, Lc -hafizhahullah- di masjid Al-Barkah, Cileungsi, pada hari Sabtu, 26 Muharram 1435 H, dengan beberapa penambahan dari kami yang tidak mengubah esensi tema.

4 thoughts on “Ringkasan Daurah Musthalahul Hadits (bagian 1)

  1. Pingback: Ringkasan Daurah Musthalahul Hadits (bagian 1) | Al-Muntaqa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s