Tidak Shahih : Hadits Tentang 7 Golongan yang Tidak Akan Dilihat Allah Pada Hari Kiamat

number-sevenPertanyaan :

Numpang tanya apakah hadist ini shahih??
Ada tujuh golongan manusia yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak membersihkan mereka dari dosa bahkan Allah berfirman kepada mereka, “Masuklah kamu ke dalam neraka bersama orang- orang yang dimasukkan ke dalamnya.” 7 golongan tersebut ialah :
1. Orang yang melakukan homoseks.
2. Orang yang melakukan kawin tangan (onani).
3. Orang yang melakukan hubungan seks dengan binatang.
4. Orang yang melakukan hubungan seks melalui dubur (liwat).
5. Orang yang berkawin antara ibu dan anak.
6. Orang yang berzina dengan isteri Tetangganya.
7. Orang yang menggangu Tetangganya.
(Riwayat al-Tabrani).

Jawab :

Alhamdulillah, shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi dan Rasul akhir zaman, Abul Qaasim Muhammad bin ‘Abdillaah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan kepada umatnya yang senantiasa mengikuti jejak beliau hingga akhir zaman.

Pertama-tama, yang perlu diluruskan disini adalah, Al-Imam Ath-Thabaraaniy rahimahullah tidak pernah meriwayatkan hadits seperti itu. Ini adalah penisbatan yang sembrono atas nama beliau. Riwayat tersebut dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Hasan bin ‘Arafah Al-‘Abdiy[1] rahimahullah didalam Juz’-nya :

حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ ثَابِتٍ الْجَزَرِيُّ، عَنْ مَسْلَمَةَ بْنِ جَعْفَرٍ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” سَبْعَةٌ لا يَنْظُرُ اللَّهُ عز وجل إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلا يُزَكِّيهِمْ، وَلا يَجْمَعُهُمْ مَعَ الْعَالَمِينَ، يَدْخُلُونَ النَّارَ أَوَّلَ الدَّاخِلِينَ، إِلا أَنْ يَتُوبُوا، إِلا أَنْ يَتُوبُوا، إِلا أَنْ يَتُوبُوا مِمَّنْ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ: النَّاكِحُ يَدَهُ، وَالْفَاعِلُ، وَالْمَفْعُولُ بِهِ، وَمُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالضَّارِبُ أَبَوَيْهِ حَتَّى يَسْتَغِيثَا، وَالْمُؤْذِي جِيرَانَهُ حَتَّى يَلْعَنُوهُ، وَالنَّاكِحُ حَلِيلَةَ جَارِهِ “

Telah menceritakan kepadaku ‘Aliy bin Tsaabit Al-Jazariy, dari Maslamah bin Ja’far, dari Hassaan bin Humaid, dari Anas bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tujuh golongan yang Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, tidak juga mensucikan mereka dan tidak mengumpulkan mereka bersama penduduk dunia, mereka adalah yang pertama kali memasuki neraka kecuali jika mereka bertaubat, kecuali jika mereka bertaubat, kecuali jika mereka bertaubat dengan taubat yang Allah akan menerimanya. Mereka adalah orang yang menikahi tangannya (onani), orang yang mengerjai dan dikerjai (homoseks dan obyeknya), peminum khamr, orang yang memukuli kedua orangtuanya hingga keduanya meminta tolong, orang yang menyakiti tetangganya hingga ia melaknatnya, dan orang yang menghalalkan (menzinahi) istri tetangganya.”
[Juz’ Ibnu ‘Arafah no. 41]

Diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqiy (Syu’abul Iimaan no. 5196); Al-Aajurriy (Tahriim Al-Liwaath no. 54); Ibnul Jauziy (Dzammul Hawaa no. 609), semua dari jalan Maslamah bin Ja’far, dari Hassaan bin Humaid, dari Anas secara marfuu’.

Letak cacat hadits ini ada pada 2 orang, yaitu Maslamah bin Ja’far dan syaikhnya, Hassaan bin Humaid.

Maslamah bin Ja’far, dia adalah Al-Bajaliy Al-Ahmasiy Al-Kuufiy, dia majhuul haal, hanya ada 2 orang yang meriwayatkannya yaitu ‘Amr bin Muhammad Al-Anqaziy dan Abu Ghassaan An-Nahdiy, Adz-Dzahabiy berkata “dia dan syaikhnya tidak dikenali”, Al-Azdiy berkata “dha’iif”, Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat, Ibnul Jauziy berkata “Hassaan tidak dikenal begitu pula Maslamah”, Ibnu Katsiir berkata “Sanadnya terdiri dari orang-orang yang tak dikenal.” Sementara syaikhnya, yaitu Hassaan bin Humaid, dia majhuul ‘ain. [Taariikhul Kabiir 7/388; Miizaanul I’tidaal 6/421; Lisaanul Miizaan 8/57; Tafsiir Al-Qur’anil ‘Azhiim 5/463; Al-‘Ilal Al-Mutanaahiyah no. 1046]

Jadi, sanad hadits ini dha’if.

Akan tetapi Anas bin Maalik mempunyai syawaahid dari :

1. ‘Abdullaah bin ‘Amr, diriwayatkan oleh Al-Aajurriy :

حَدَّثَنَا الْفِرْيَابِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادِ بْنِ أَنْعُمٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” سَبْعَةٌ لا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلا يُزَكِّيهِمْ، وَيَقُولُ ادْخُلُوا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ: الْفَاعِلُ وَالْمَفْعُولُ بِهِ، وَالنَّاكِحُ يَدَهُ، وَنَاكِحُ الْبَهِيمَةِ، وَنَاكِحُ الْمَرْأَةِ فِي دُبُرِهَا، وَجَامِعٌ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَابْنَتِهَا، وَالزَّانِي بِحَلِيلَةِ جَارِهِ، وَالْمُؤْذِي لِجَارِهِ حَتَّى يَلْعَنَهُ “

Telah menceritakan kepada kami Al-Firyaabiy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Lahii’ah, dari ‘Abdurrahman bin Ziyaad bin An’am, dari Abu ‘Abdirrahman Al-Hubuliy, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tujuh golongan yang Allah tidak akan melihat mereka di hari kiamat, dan juga tidak mensucikan mereka, dikatakan kepada mereka, “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang memasukinya, yaitu orang yang mengerjai dan dikerjai, orang yang menikahi tangannya, orang yang menggauli hewan (beastiality), orang yang menggauli istrinya pada duburnya, orang yang mengumpulkan (mengawini) seorang wanita berikut putrinya, orang yang menzinahi istri tetangganya, dan orang yang menyakiti tetangganya hingga ia melaknatnya.”
[Tahriim Al-Liwaath no. 53]

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Bisyraan (Amaaliy 1/206) dari jalan Qutaibah, dari Ibnu Lahii’ah dan seterusnya seperti sanad diatas, secara marfuu’.

Masalah pada sanad ini terletak pada ‘Abdurrahman bin Ziyaad, namanya adalah ‘Abdurrahman bin Ziyaad bin An’am bin Munabbih Al-Ifriiqiy, Abu Ayyuub Asy-Sya’baaniy Al-Qadhiy. Yahyaa Al-Qaththaan dalam riwayat pertama menganggapnya tsiqah, namun dalam riwayat terakhir mendha’ifkannya, Ahmad dalam suatu riwayat berkata “tidak ada nilainya”, dalam riwayat lain ia berkata “aku tidak menulis haditsnya”, dalam riwayat terakhir berkata “munkarul hadiits”, Ibnu Ma’iin dalam suatu riwayat berkata “dha’iif, ditulis haditsnya”, dalam riwayat lain ia berkata “tidak ada yang salah padanya, dan dia dha’iif, dia lebih kusukai dibanding Abu Bakr bin Abu Maryam Al-Ghassaaniy”, Ibnul Madiiniy berkata “sahabat-sahabat kami melemahkan dan mengingkari hadits-hadits yang ia bersendirian didalamnya, Al-Jauzajaaniy berkata “bukan orang yang terpuji dalam hadits”, Ya’quub bin Syaibah berkata “dha’if dalam hadits, dan ia lelaki yang shalih”, Abu Haatim dan Abu Zur’ah berkata “Al-Ifriiqiy dan Ibnu Lahii’ah keduanya sama (dalam kedha’ifan), tetapi Ibnu Lahii’ah banyak riwayatnya, adapun Al-Ifriiqiy riwayat-riwayatnya diingkari jika ia datang dari syuyuukh-nya yang tidak dikenal dan dari penduduk negerinya (Afrika)”, Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy berkata “haditsnya dijadikan hujjah dan kitabnya shahih”, Al-Bukhaariy berkata “muqaaribul hadiits (haditsnya mendekati shahih)”, Ibnu Hibbaan berkata “meriwayatkan hadits-hadits palsu dari orang-orang tsiqah dan menambah-nambahi hal-hal yang tidak ada pada mereka”, Adz-Dzahabiy berkata “muhaddits dan ahli ilmu negeri Afrika bersama dengan hapalannya yang buruk”, Ibnu Hajar berkata “dha’if pada hapalannya”. [Tahdziibul Kamaal no. 3817; Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 6/411; Taqriibut Tahdziib no. 3862; Al-Majruuhiin 2/50]

Kesimpulannya, Ibnu An’am dha’if dan ia dikritik dari sisi hapalannya yang buruk, riwayat-riwayatnya yang ia tafarrud didalamnya diingkari oleh para ulama walaupun pada dasarnya ia adalah laki-laki shalih dan jujur berdasarkan keterangan banyak ulama, oleh karena itu Ibnu Hibbaan telah berlebih-lebihan menjarhnya karena Ibnu An’am bukan seorang pendusta atau sengaja berdusta namun karena hapalannya yang buruk sehingga riwayat-riwayatnya banyak tercampur dengan hal-hal yang tidak semestinya.

Keberadaan Ibnu Lahii’ah tidak memudharatkan karena ia diriwayatkan oleh Qutaibah, Ibnu Lahii’ah seorang yang shaduuq namun hapalannya mengalami ikhtilath setelah kitab-kitabnya terbakar pada 169 H atau 170 H, oleh karena itu perawi yang mendengar darinya sebelum kitab-kitabnya terbakar, maka ia shahih, diantaranya adalah 4 orang ‘Abdullaah, yaitu ‘Abdullaah bin Al-Mubaarak, ‘Abdullaah bin Wahb, ‘Abdullaah bin Yaziid Al-Muqri’ dan ‘Abdullaah Al-Qa’nabiy.

قال جعفر بن محمد الفريابي: سمعت بعض أصحابنا يذكر أنه سمع قتيبة يقول: قال لي أحمد بن حنبل: أحاديثك عن ابن لهيعة صحاح. قال: قلت: لأنا كنا نكتب من كتاب عبد الله بن وهب. ثم نسمعه من ابن لهيعة

Ja’far bin Muhammad Al-Firyaabiy berkata, “Aku mendengar sebagian sahabat kami menyebutkan bahwasanya mereka mendengar Qutaibah mengatakan, “Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku, “Hadits-haditsmu dari Ibnu Lahii’ah tidak ada masalah.” Aku (Qutaibah) berkata, “Karena kami dahulu menulisnya dari kitab ‘Abdullaah bin Wahb kemudian kami mendengarnya dari Ibnu Lahii’ah.” [Tahdziibul Kamaal no. 3513]

Jadi, sanad dari jalan ini pun dha’if.

Ibnu Lahii’ah mempunyai mutaba’ah, diriwayatkan oleh As-Samarqandiy dalam Tanbiihul Ghaafiliin 1/75 dengan sanadnya, telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad Al-Warraaq, telah menceritakan kepada kami An’am, dari Abu ‘Abdirrahman Al-Hubuliy, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr secara marfuu’.

Sanad ini juga dha’if, ‘Aliy bin Muhammad Al-Warraaq tidak ditemukan biografinya, sementara An’am, yaitu Ibnu An’am, telah berlalu keterangannya.

2. Abu Sa’iid Al-Khudriy, diriwayatkan oleh Ibnul Jauziy secara ringkas :

أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنِ الْجَوْهَرِيِّ، عَنِ ابْنِ شَاهِينَ، قَالَ: نا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ الْعَزِيزِ، قَالَ: نا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي حَرْبٌ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ الْبَصْرِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو جَنَابٍ الْكَلْبِيُّ، عَنِ الْخَلالِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” أَهْلَكَ اللَّهُ عز وجل أُمَّةً كَانُوا يَعْبَثُونَ بِذُكُورِهِمْ “

Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Malik, dari Al-Jauhariy, dari Ibnu Syaahiin, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr ‘Abdul ‘Aziiz, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Harb, dari Ismaa’iil Al-Bashriy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Janaab Al-Kalbiy, dari Khalaal bin ‘Umair, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membinasakan orang-orang yang bermain-main dengan zakar-zakar mereka (onani).”
[Al-‘Ilal Al-Mutanaahiyah no. 1047]

Ibnul Jauziy berkata :

وهذا ليس بشيء، إِسْمَاعِيل الْبَصْرِيّ مجهول، وأبو جناب ضعيف

“Hadits ini tidak ada nilainya, Ismaa’iil Al-Bashriy majhuul dan Abu Janaab dha’iif.”

Abu Janaab Al-Kalbiy namanya adalah Yahyaa bin Hayy Abu Hayah Al-Kuufiy, Abu Janaab Al-Kalbiy. Ibnu Sa’d berkata “dha’if dalam hadits”, Ibnul Madiiniy berkata “Yahyaa Al-Qaththaan membicarakannya”, Al-Bukhaariy dan Abu Haatim berkata “Yahyaa mendha’ifkannya”, Yaziid bin Haaruun berkata “shaduuq, melakukan tadlis”, Abu Nu’aim berkata “Abu Janaab tidak mengapa dengannya, kecuali ia melakukan tadlis”, Ahmad berkata “hadits-haditsnya mungkar”, Ibnu Ma’iin dalam suatu riwayat berkata “tidak ada yang salah dengannya”, dalam riwayat lain ia berkata “shaduuq”, dan dalam riwayat akhir ia berkata “dha’iif”, Ibnu Numair berkata “shaduuq, sering tadlis, merusak haditsnya dengan tadlis yang ia lakukan, ia menceritakan hal-hal yang ia tidak mendengarnya langsung”, Al-Fallaas berkata “matruukul hadiits”, An-Nasaa’iy berkata “laisa bil qawiy”, dalam riwayat lain ia berkata “tidak tsiqah, mudallis”, Ibnu ‘Adiy berkata “tidak kuat disisi mereka, termasuk orang-orang syi’ah di Kuufah”, As-Saajiy berkata “shaduuq, munkarul hadiits”, Ibnu Hajar berkata “mereka mendha’ifkannya, banyak melakukan tadlis”. [Al-Kaamil fiy Adh-Dhu’afaa’ 9/50; Tahdziibul Kamaal no. 6817; Tahdziibut Tahdziib 11/201; Taqriibut Tahdziib no. 7537]

Abu Janaab bukan hanya dha’if dan memiliki hadits-hadits mungkar, namun ia juga mudallis, oleh Ibnu Hajar ia dimasukkan dalam thabaqah mudallis ke-5 (Thabaqaatul Mudallisiin no. 152), yang artinya semua yang ia riwayatkan baik dengan lafazh ‘an’anah maupun dengan lafazh yang menunjukkan dengan tegas penyimakannya (haddatsaniy, akhbaraniy) tertolak.

Dari penjabaran diatas terlihat jelas bahwa hadits ini tetap dengan kelemahannya dan ia tidak dapat terangkat naik ke derajat hasan walau diriwayatkan dari beberapa jalan. Walhasil, hadits ini dha’if.

Tanbiih!

Kami juga pernah mendapati bahwa sebagian saudara-saudara kami menukil perkataan Al-Haakim rahimahullah bahwasanya hadits ini sanadnya shahih (mungkin bermaksud agar orang-orang percaya bahwa hadits ini shahih kemudian membuat-buat perkataan ini). Tanpa mengurangi rasa hormat kami, kami hanya ingin mengingatkan bahwasanya Al-Haakim Abu ‘Abdillaah Muhammad bin ‘Abdillaah An-Naisaabuuriy tidak pernah meriwayatkan hadits ini dalam Mustadrak-nya maupun dalam kitab-kitabnya yang lain, apalagi mengeluarkan perkataan tashhih seperti itu. Oleh karena itu kami menghimbau kepada mereka yang sengaja menisbatkan hadits ini kepada Ath-Thabaraaniy maupun Al-Haakim agar takut kepada Allah dan menghentikan kesembronoan ataupun kedustaannya. Kami menghargai semangat baik untuk menyebarkan targhib wa tarhib (anjuran dan ancaman), namun tidak dihalalkan dengan menggunakan cara-cara dusta dan sembrono seperti ini.

Silahkan merujuk pada Al-Badrul Muniir 7/662 karya Al-Haafizh Siraajuddiin Abu Hafsh Ibnul Mulaqqin, disana beliau rahimahullah telah menjabarkan dan menjelaskan jalan-jalan periwayatannya.

Lalu Bagaimana Hadits yang Shahih?

Berkebalikan dengan hadits diatas, ada hadits shahih mengenai 7 golongan manusia yang mendapat naungan Allah di hari kiamat disaat tidak ada naungan selain naunganNya. Hadits ini diriwayatkan Asy-Syaikhain rahimahumallah dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya, mereka adalah pemimpin yang ‘adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan beribadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah dan mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”, dan seseorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 660; Shahiih Muslim no. 1033]

Inilah yang shahih dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
Wallaahu a’lam.

Footnotes :

[1] Beliau adalah Al-Hasan bin ‘Arafah bin Yaziid Al-‘Abdiy, Abu ‘Aliy Al-Baghdaadiy Al-Mu’addib, Al-Imam Al-Muhaddits Ats-Tsiqah, seorang imam kaum muslimin, musnid di zamannya. Beliau berguru kepada para masyaikh terkenal seperti Husyaim bin Basyiir, Ibnul Mubaarak, Ziyaad Al-Bakkaa’iy, Jariir bin ‘Abdul Hamiid, Abu Bakr bin ‘Ayyaasy, Mu’tamir bin Sulaimaan, Hafsh bin Ghiyaats, ‘Ismaa’iil bin ‘Ulayyah, dan lain-lain.

Sedangkan yang mengambil riwayat darinya adalah para imam terkenal, seperti At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, Ibnu Maajah, Ibnu Abid Dunya, ‘Abdullaah bin Ahmad bin Hanbal, Abu Ya’laa Al-Maushiliy, Ibnu Abi Haatim, Muhammad bin Ishaaq Ash-Shaagaaniy, dan lain-lain.

Beliau wafat pada tahun 257 H. Biografinya bisa dilihat di Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 11/547 dan Tahdziibul Kamaal no. 1243.

4 thoughts on “Tidak Shahih : Hadits Tentang 7 Golongan yang Tidak Akan Dilihat Allah Pada Hari Kiamat

  1. lalu apakah ada yg salah jika itu bkn hadis shahih? apakah jika larangan hadis yg tidak shohih itu kita amalkan kita berdosa?

    • Yang ingin kami tekankan dalam artikel ini adalah penisbatan hadits ini yg salah kepada Imam Ath-Thabaraaniy dan Imam Al-Haakim. Itu sudah jelas salah, bahkan dikhawatirkan menjadi kedustaan yang diatas namakan kedua imam tersebut -rahimahumallah-, sudahlah salah penisbatannya, digadang-gadang sebagai hadits shahih pula.

      Dosa atau tidak, itu bukan urusan manusia. Namun umat muslim dianjurkan agar tidak bermudah-mudahan menerima perkataan manusia, ini hadits shahih, itu hadits hasan, namun ternyata setelah diselidiki haditsnya lemah atau malah hadits palsu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s