‘Abdullaah bin ‘Amr : “Barangsiapa Meramaikan Peringatan Hari Raya Nairuz dan Perayaan Orang Kafir, Akan Dibangkitkan Bersama Mereka…”

new-year-wallpapers-newAl-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy rahimahullah meriwayatkan :

وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ، ثنا أَبُو أُسَامَةَ، ثنا عَوْفٌ، عَنْ أَبِي الْمُغِيرَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرو، قَالَ: ” مَنْ بَنَى فِي بِلادِ الأَعَاجِمِ، وَصَنَعَ نَيْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهُمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ، حَتَّى يَمُوتَ، وَهُوَ كَذَلِكَ حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillaah Al-Haafizh, telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy bin ‘Affaan, telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, telah menceritakan kepada kami ‘Auf, dari Abul Mughiirah, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr -radhiyallaahu ‘anhuma-, ia berkata, “Barangsiapa yang membangun negeri-negeri kaum ‘ajam, meramaikan hari raya Nairuuz dan Mihrajaan milik mereka (yaitu perayaan tahun baru mereka, -pent), serta meniru-niru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”
[Sunan Al-Kubraa 9/234]

Dan Al-Imam Abu Bisyr Ad-Daulaabiy rahimahullah dalam Al-Kunaa wal Asmaa’ no. 1843 turut meriwayatkannya; telah menceritakan kepadaku Ayahku dan Al-Hasan bin ‘Aliy bin ‘Affaan, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, dari ‘Auf, dari Abul Mughiirah Al-Qawwaas, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr, perkataannya.

Keterangan para perawi Al-Baihaqiy :

1. Abu ‘Abdillaah Al-Haafizh, beliau adalah Muhammad bin ‘Abdillaah bin Hamdawaih bin Na’iim, Abu ‘Abdillaah Al-Haakim An-Naisaabuuriy. Al-Imam Al-Haafizh, penulis terkenal dan pemilik Al-Mustadrak, guru dari Al-Baihaqiy. [Taariikh Baghdaad 3/509]

2. Muhammad bin Ya’quub bin Yuusuf bin Ma’qil bin Sinaan, Abul ‘Abbaas Al-Umawiy atau terkenal dengan nama Abul ‘Abbaas Al-Asham. Adz-Dzahabiy berkata “Al-Imam muhaddits, musnid di zamannya”, Ibnul ‘Imaad berkata “Muhaddits negeri Khurasaan”, Al-Haakim berkata “Tidak pernah aku melihat orang yang banyak mengembara pada sebuah negeri yang melebihi dirinya. Aku telah melihat serombongan orang dari Andalus dan dari penduduk Persia yang menunggu di pintu (rumahnya).” [Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 15/452; Rijaal Al-Haakim fiy Al-Mustadrak 3/313; Syadzaraatu Adz-Dzahab 4/245]

3. Al-Hasan bin ‘Aliy bin ‘Affaan Al-‘Aamiriy, Abu Muhammad Al-Kuufiy. Ibnu Abi Haatim berkata “shaduuq”, Ad-Daaruquthniy dan Maslamah bin Qaasim sepakat mentsiqahkan, Adz-Dzahabiy berkata “muhaddits tsiqah”, Ibnu Hajar berkata “shaduuq”. Termasuk thabaqah ke-11. Wafat tahun 270 H. Ibnu Maajah (dan dikatakan pula Abu Daawud) meriwayatkan hadits-haditsnya. [Tahdziibul Kamaal no. 1249; Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 13/24; Taqriibut Tahdziib no. 1261]

4. Abu Usaamah, beliau adalah Hammaad bin Usaamah bin Zaid Al-Qurasyiy, Abu Usaamah Al-Kuufiy. Tsiqah tsabt, kemungkinan melakukan tadlis. Termasuk thabaqah ke-9. Wafat tahun 201 H. Riwayatnya dipakai Ash-Shahiihain dan empat kitab Sunan. [Taqriibut Tahdziib no. 1487]

5. ‘Auf bin Abi Jamiilah Al-‘Abdiy Al-Hajriy, Abu Sahl Al-Bashriy, terkenal dengan julukan ‘Auf Al-A’raabiy. Tsiqah, tertuduh berpemahaman qadariyyah dan tasyayyu’. Termasuk thabaqah ke-6. Wafat tahun 146 atau 147 H. Riwayatnya dipakai Ash-Shahiihain dan empat kitab Sunan. [Taqriibut Tahdziib no. 5215; Tahdziibul Kamaal no. 4545]

Kesemua perawi diatas adalah para perawi yang tsiqah atau shaduuq yang tidak perlu diragukan, masalah baru muncul pada perawi berikut.

6. Abul Mughiirah Al-Qawwaas, meriwayatkan dari ‘Abdullaah bin ‘Amr. Sulaimaan At-Taimiy melemahkannya. Ibnul Madiiniy berkata “aku tidak mengetahui seorangpun yang meriwayatkan darinya kecuali ‘Auf”, Yahyaa bin Ma’iin dalam riwayat Ishaaq bin Manshuur berkata “tsiqah”, dan Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. [Al-Jarh wa At-Ta’diil 9/439; Ats-Tsiqaat 5/567; Miizaanul I’tidaal 7/430; Lisaanul Miizaan 9/168]

Dari sini terlihat secara zhahir bahwa asalnya Abul Mughiirah Al-Qawwaas majhuul al-‘ain, tidak ada yang meriwayatkannya selain ‘Auf bin Abi Jamiilah. Namun tautsiq Ibnu Ma’iin -dan Ibnu Ma’iin termasuk ulama yang mu’tamad dalam jarh wa ta’diil- sudah cukup untuk mengangkat jahalah Abul Mughiirah dan tautsiqnya diikuti oleh Ibnu Hibbaan. Tadh’if dari Sulaimaan At-Taimiy adalah jarh yang masih bersifat global. Oleh karena itu dengan menggabungkan pendapat-pendapat diatas, maka Abul Mughiirah Al-Qawwaas dapat diterima riwayatnya. Wallaahu a’lam.

7. ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash bin Waa’il bin Haasyim bin Sa’iid bin Sa’d As-Sahmiy, Abu Muhammad atau Abu Nashr atau Abu ‘Abdirrahman Al-Qurasyiy Al-Makkiy. Sahabat Nabi yang mulia.

Kesimpulannya, perkataan ‘Abdullaah bin ‘Amr diatas tidak jatuh dari derajat hasan mauquuf, walhamdulillah. Dan perkataan diatas mencocoki beberapa sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam perihal kebiasaan meniru-niru kaum kuffar yang semakin sering dilakukan kaum muslimin. Seperti sabda beliau berikut :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sungguh, kalian akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga jika mereka masuk lubang biawak, niscaya kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, (apakah mereka) Yahudi dan Nasharaa?” Nabi bersabda, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 7320]

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meniru-niru kebiasaan suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”
[Sunan Abu Daawud no. 4031]

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

‘Abdullaah bin Mas’uud radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah tanggapanmu mengenai seorang laki-laki yang mencintai suatu kaum namun ia belum pernah berjumpa dengan mereka?” Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seseorang akan bersama dengan yang dicintainya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 6169]

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

Dari ‘Aaisyah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata, “Abu Bakr masuk menemuiku ketika disisiku ada dua orang hamba sahaya tetangga kaum Anshaar yang sedang bersenandung, yang mengingatkan kepada peristiwa pembantaian kaum Anshaar pada perang Bu’aats.” ‘Aaisyah melanjutkan kisahnya, “Kedua hamba sahaya tersebut tidaklah begitu pandai dalam bersenandung. Maka Abu Bakr pun berkata, “Seruling-seruling setan di kediaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam!” Peristiwa itu terjadi pada hari raya ‘Id. Maka bersabdalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Abu Bakr, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan sekarang ini adalah hari raya kita.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 952]

Maka dari sabda-sabda beliau diatas terkandung perintah kepada kaum muslimin untuk tidak meniru-niru dalam setiap perayaan orang-orang kafir, tidak memberi mereka selamat dan juga tidak ikut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan mereka karena ikut serta dalam kegiatan mereka berarti kita mendukung kekafiran dan keingkaran mereka kepada Allah Ta’ala dan dapat menumbuhkan rasa cinta kita kepada mereka. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu.” [QS Al-Mumtahanah : 1]

Allah Ta’ala telah menjadikan tiga hari raya untuk umat Islam yaitu hari raya ‘Idul Fithr dan ‘Idul Adhaa serta hari Jum’at yang berulang setiap pekannya, Allah Ta’ala berfirman :

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” [QS Al-Jaatsiyah : 18]

Dan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan :

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَضَلَّ اللَّهُ عَنْ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا فَكَانَ لِلْيَهُودِ يَوْمُ السَّبْتِ وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ الْأَحَدِ فَجَاءَ اللَّهُ بِنَا فَهَدَانَا اللَّهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ فَجَعَلَ الْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ وَالْأَحَدَ وَكَذَلِكَ هُمْ تَبَعٌ لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَحْنُ الْآخِرُونَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا وَالْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيُّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلَائِقِ

Dari Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah menyesatkan orang-orang sebelum kita mengenai hari Jumat. Untuk orang Yahudi jatuhnya pada hari Sabtu, dan untuk orang Nashrani jatuhnya pada hari Ahad. Lalu Allah menunjuki kita pada hari Jum’at. Karena itu, terjadilah berturut-turut tiga hari besar yang berkumpul, yaitu Jum’at, Sabtu dan Ahad. Hari kiamat kelak, mereka pun akan mengikuti kita, kita (adalah umat) yang terakhir dari penduduk dunia, tetapi pada hari kiamat kitalah yang pertama-tama diadili sebelum makhuk-makhluk yang lain.”
[Shahiih Muslim no. 857]

Bila Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya diatas telah menubuwahkan bahwasanya umat Islam akan diikuti oleh kaum-kaum sebelumnya pada hari kiamat nanti, maka untuk apa kita saat ini repot-repot mengikuti kebiasaan kaum-kaum tersebut, padahal telah jelas mereka adalah kaum yang ingkar kepada Allah dan RasulNya.

Semoga yang singkat ini bermanfaat.

Wallaahu a’lam.

2 thoughts on “‘Abdullaah bin ‘Amr : “Barangsiapa Meramaikan Peringatan Hari Raya Nairuz dan Perayaan Orang Kafir, Akan Dibangkitkan Bersama Mereka…”

  1. Pingback: Tahun Baru (Masehi) dengan Ajaran Islam serta Toleransinya | Lentera Jiwaku (Kehidupanku)

  2. Pingback: Idul Ghadir dan Nairuz, Hari Raya Syiah dan Majusi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s