Kokohnya Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain

karangKita mungkin sudah sering mendengar kisah kekokohan hapalan Abu Nu’aim ini, yang mungkin juga sudah sering disharing oleh saudara-saudara kita, entah di FB ataupun di media sosial lainnya, tapi entah kenapa kisah-kisah para ulama ahlussunnah ini sungguh sangat enak dibaca berulang-ulang seolah-olah bagai oase yang tak pernah kering untuk direguk faidahnya.

Kisah ini kami nukil dari kitab As-Siyar 10/142 karya Al-Imam Al-Mu’arrikh Syamsuddiin Adz-Dzahabiy rahimahullah :

قال احمد بن منصور الرمادي خرجت مع أحمد ويحيى إلى عبد الرزاق خادما لهما قال فلما عدنا إلى الكوفة قال يحيى بن معين أريد أن أختبر أبا نعيم فقال احمد لا ترد فالرجل ثقة قال يحيى لا بد لي فأخذ ورقة فكتب فيها ثلاثين حديثا وجعل على رأس كل عشرة منها حديثا ليس من حديثه ثم إنهم جاؤوا إلى أبي نعيم فخرج وجلس على دكان طين وأخذ أحمد بن حنبل فأجلسه عن يمينه ويحيى عن يساره وجلست أسفل الدكان ثم اخرج يحيى الطبق فقرأ عليه عشرة أحاديث فلما قرأ الحادي عشر قال أبو نعيم ليس هذا من حديثي اضرب عليه ثم قرأ العشر الثاني وابو نعيم ساكت فقرأ الحديث الثاني فقال أبو نعيم ليس هذا من حديثي فاضرب عليه ثم قرأ العشر الثالث ثم قرأ الحديث الثالث فتغير أبو نعيم وانقلبت عيناه ثم اقبل على يحيى فقال أما هذا وذراع احمد بيده فأورع من أن يعمل مثل هذا وأما هذا يريدني فأقل من أن يفعل ذاك ولكن هذا من فعلك يا فاعل وأخرج رجله فرفس يحيى فرمى به من الدكان وقام فدخل داره فقال أحمد بن حنبل ليحيى ألم أمنعك وأقل لك إنه ثبت قال والله لرفسته لي أحب إلي من سفرتي

Ahmad bin Manshuur Ar-Ramaadiy berkata, “Aku keluar bersama Ahmad (bin Hanbal) dan Yahyaa menuju ‘Abdurrazzaaq, dan aku adalah yang paling muda diantara mereka berdua.”

Ibnu Manshuur melanjutkan, “Ketika kami tiba di Kuufah, maka berkatalah Yahyaa bin Ma’iin, “Aku ingin menguji Abu Nu’aim.”

Ahmad bin Hanbal berkata, “Jangan kau lakukan! Dia seorang laki-laki yang tsiqah.”

Yahyaa berkata, “Wajib bagiku (mengujinya).”

Ibnu Manshuur melanjutkan, “Maka Yahyaa-pun mengambil selembar kertas dan ia menuliskan 30 hadits Abu Nu’aim yang mana di setiap 10 hadits tersebut telah disisipi riwayat yang bukan berasal darinya. Kemudian kami pun menuju rumah Abu Nu’aim. Ia keluar dan duduk diatas tempat yang terbuat dari tanah, kemudian mendudukkan Ahmad bin Hanbal di sebelah kanannya dan Yahyaa duduk di sebelah kirinya, sementara aku duduk di bagian bawah.

Mulailah Yahyaa mengeluarkan lembaran kertasnya dan membaca 10 hadits pertama.

Ketika ia sampai pada hadits ke-11 (yang ada sisipannya), Abu Nu’aim berkata, “Ini bukanlah haditsku, buang ia.”

Kemudian Yahyaa membaca 10 hadits kedua, dan Abu Nu’aim diam. Ketika sampai pada hadits (sisipan) yang kedua, Abu Nu’aim berkata, “Ini bukanlah haditsku, buang ia.”

Kemudian Yahyaa membaca 10 hadits ketiga, dan ketika ia membaca hadits (sisipan) yang ketiga, maka berubahlah (wajah) Abu Nu’aim (karena ia tahu sedang diuji). Ia memalingkan wajahnya kemudian menghadap ke arah Yahyaa.

Abu Nu’aim berkata, “Adapun ini (Abu Nu’aim menggenggam tangan Ahmad), maka ia terlalu wara’ untuk berbuat seperti ini. Adapun ini (Abu Nu’aim berisyarat kepadaku -Ahmad bin Manshuur), maka ia terlalu muda untuk melakukan yang seperti ini. Akan tetapi ini pasti perbuatanmu, wahai sang pelaku!”

Abu Nu’aim pun mengeluarkan kakinya dan menendang Yahyaa hingga terlempar dari tempat duduknya. Kemudian ia berdiri dan masuk ke rumahnya.

Ahmad bin Hanbal berkata kepada Yahyaa, “Bukankah aku sudah menghalangimu dan aku katakan kepadamu bahwa ia seorang yang kokoh (hapalannya)?”

Yahyaa berkata, “Demi Allah, tendangan Abu Nu’aim tadi lebih aku sukai ketimbang safarku.”

Wallaahu a’lamu bishshawwaab.

Sumber :

“Siyaru A’laam An-Nubalaa'”, karya Al-Imam Syamsuddiin Adz-Dzahabiy, tahqiiq : Syaikh Syu’aib Al-Arnaa’uuth, Mu’assasah Ar-Risaalah.

Sekilas Mengenai Penutur Cerita

Beliau bernama Ahmad bin Manshuur bin Sayyaar Al-Baghdaadiy, Abu Bakr Ar-Ramaadiy, seorang yang tsiqah dan haafizh masyhuur, banyak melakukan rihlah dalam menuntut ilmu dan mempunyai kitab musnad, namun tidak sampai kepada kita.

Diantara guru-guru yang beliau ambil riwayatnya adalah Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Hisyaam bin ‘Ammaar, Al-Qa’nabiy, Abu ‘Aashim Adh-Dhahhaak bin Makhlad, Abu Daawud Ath-Thayaalisiy, Sa’iid bin Abi Maryam, Zaid bin Al-Hubaab, ‘Abdurrazzaaq (dari kitabnya), Harmalah bin Yahyaa Al-Mishriy, ‘Affaan bin Muslim, ‘Aliy bin Al-Ja’d, Nu’aim bin Hammaad, Duhaim, Yaziid bin Haaruun, dan banyak lagi, rahimahumullah.

Dan murid-murid yang meriwayatkan dari beliau adalah Al-Imam Ibnu Maajah, Ismaa’iil bin Muhammad Ash-Shaffaar, Al-Husain bin Muhammad Al-Mahaamiliy, Abu Bakr An-Naisaabuuriy, Ibnu Abi Haatim, Abul ‘Abbaas As-Sarraaj, Abu ‘Awaanah Al-Isfaraa’iiniy, Abu Nu’aim bin ‘Adiy Al-Jurjaaniy, dan banyak lagi, rahimahumullah.

Beliau wafat pada tahun 265 H dalam usia sekitar 83 tahun. Semoga Allah merahmati beliau, melapangkan kuburnya dan memberi tempat yang layak di jannahNya.

Biografi beliau dapat dilihat pada Tahdziibul Kamaal no. 113 dan As-Siyar 12/389.

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s