‘Aaisyah : “Siapakah Manusia yang Paling Berhak Atas Seorang Istri?”

OBEY4Al-Imam An-Nasaa’iy rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan-nya :

أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلانَ، قَالَ: نا أَبُو أَحْمَدَ، قَالَ: نا مِسْعَرٌ، عَنْ أَبِي عُتْبَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم: أَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الْمَرْأَةِ ؟ قَالَ: ” زَوْجُهَا “، قُلْتُ: فَأَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الرَّجُلِ؟ قَالَ: ” أُمُّهُ “

Telah mengkhabarkan kepada kami Mahmuud bin Ghailaan, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ahmad, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Mis’ar, dari Abu ‘Utbah, dari ‘Aaisyah -radhiyallaahu ‘anha-, ia berkata, aku bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah manusia yang paling berhak atas seorang istri?” Beliau bersabda, “Suaminya.” Aku bertanya lagi, “Lalu siapakah manusia yang paling berhak atas seorang laki-laki?” Beliau bersabda, “Ibunya.”
[Sunan Al-Kubraa no. 9099]

Dan diriwayatkan pula oleh Al-Haakim (Al-Mustadrak 4/144, 4/171); Ibnu Abid Dunyaa (Al-‘Iyaal no. 525); Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahaaniy (Al-Fawaa’id 1/52); dari jalan Mis’ar, dari Abu ‘Utbah, dari ‘Aaisyah secara marfuu’.

Al-Haafizh Abu Muhammad Al-Mundziriy menyebutkan hadits ini dalam Targhib-nya 3/98, ia berkata :

رواه البزار والحاكم، وإسناد البزار حسن

“Al-Bazzaar dan Al-Haakim meriwayatkannya, dan sanad Al-Bazzaar hasan.”

Al-Imam Al-Bazzaar berkata, sebagaimana dinukil Al-Haafizh Abul Hasan Nuuruddiin Al-Haitsamiy dalam Kasyful Astaar no. 1461 :

لا نَعْلَمُهُ مَرْفُوعًا إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ، وَأَبُو عُتْبَةَ لا نَعْلَمُ حَدَّثَ عَنْهُ إِلا مِسْعَرٌ

“Kami tidak mengetahui diriwayatkan secara marfuu’ kecuali dengan sanad ini, dan kami tidak mengetahui perawi yang meriwayatkan dari Abu ‘Utbah kecuali Mis’ar.”

Para perawinya adalah :

1. Mahmuud bin Ghailaan Al-‘Adawiy, Abu Ahmad Al-Marwaziy. Disepakati akan ketsiqahannya, seorang imam. Thabaqah ke-10. Wafat tahun 239 H atau setelahnya. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim, dan 3 kitab Sunan kecuali Abu Daawud. [Taqriibut Tahdziib no. 6516]

2. Muhammad bin ‘Abdillaah bin Az-Zubair bin ‘Umar bin Dirham Al-Aslamiy, Abu Ahmad Az-Zubairiy Al-Kuufiy. Ibnu Numair berkata “tsiqah, shahiihul kitaab, berada di thabaqah ketiga pada sahabat Ats-Tsauriy”, Ahmad berkata “banyak salahnya pada hadits Ats-Tsauriy”, Ibnu Ma’iin mentautsiqnya, dalam riwayat lain ia berkata “tidak ada yang salah dengannya”, Al-‘Ijliy berkata “orang Kuufah tsiqah, tasyayyu'”, Abu Zur’ah dan Ibnu Khiraasy berkata “shaduuq”, Abu Haatim berkata “seorang haafizh, ahli ibadah dan mujtahid, lahu auham”, An-Nasaa’iy berkata “tidak ada yang salah dengannya”. Thabaqah ke-9. Wafat tahun 203 H. Dipakai Kutubus Sittah. [Tahdziibul Kamaal no. 5343]

Kesimpulannya, ia seorang tsiqah, namun riwayatnya dari Sufyaan Ats-Tsauriy perlu dilihat lagi.

3. Mis’ar bin Kidaam bin Zhahiir bin ‘Ubaidah bin Al-Haarits Al-‘Aamiriy, Abu Salamah Al-Hilaaliy Al-Kuufiy. Seorang yang tsiqah tsabt faadhil. Thabaqah ke-7. Wafat tahun 153 atau 155 H. Dipakai Kutubus Sittah. [Tahdziibul Kamaal no. 5906; Taqriibut Tahdziib no. 6605]

4. Abu ‘Utbah, meriwayatkan dari ‘Aaisyah, meriwayatkan darinya hanya seorang, yaitu Mis’ar, oleh karena itu Abu ‘Utbah majhuul al-‘ain. Ibnu Abi Haatim berkata, aku mendengar ayahku berkata, “tidak diketahui siapa dia dan tidak dikenal”, Al-Haafizh berkata “majhuul”. [Al-Jarh wa At-Ta’diil 9/412; Taqriibut Tahdziib no. 8236]

5. ‘Aaisyah binti Abu Bakr ‘Abdillaah -Ash-Shiddiiq- bin Abu Quhaafah ‘Utsmaan -radhiyallaahu ‘anhum- Al-Qurasyiy, Ummu ‘Abdillaah At-Taimiy. Istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, ummul mu’miniin yang mulia. Thabaqah ke-1. Wafat tahun 57 H. [Tahdziibul Kamaal no. 7885]

Terlebih lagi ada kemungkinan hadits ini adalah hadits mursal. Al-Haafizh Jamaaluddiin Abul Hajjaaj Al-Mizziy berkata :

وقال معاوية بن هشام، عن مسعر، عن أبي عتبة، عن رجل، عن عائشة

Dan berkata Mu’aawiyah bin Hisyaam, dari Mis’ar, dari Abu ‘Utbah, dari seorang laki-laki, dari ‘Aaisyah. [Tahdziibul Kamaal no. 7500]

Pendapat ini didukung oleh Adz-Dzahabiy dalam Al-Kaasyif 2/442 pada biografi Abu ‘Utbah, ia berkata :

أرسل عن عائشة، وعنه مسعر

“(meriwayatkan secara) Mursal dari ‘Aaisyah, dan darinya Mis’ar.”

Bila memang sanad yang disebutkan Al-Mizziy ini adalah yang rajih, maka sanad An-Nasaa’iy adalah hadits mursal. Namun nampaknya yang lebih rajih adalah sanad An-Nasaa’iy dikarenakan beberapa sebab :

1. Mu’aawiyah bin Hisyaam status ketsiqahannya berada di bawah Abu Ahmad Az-Zubairiy. Mu’aawiyah, ia adalah Mu’aawiyah bin Hisyaam Al-Qashshaar, Abul Hasan Al-Kuufiy, Ibnu Ma’iin berkata “shaalih wa laisa bi dzaaka”, Abu Haatim berkata “shaduuq”, Ya’quub bin Syaibah berkata “orang yang paling mengetahui hadits Syariik”, Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat, ia berkata “kemungkinan melakukan kekeliruan”, Abu Daawud mentautsiqnya, Adz-Dzahabiy menyebutkan hadits yang terdapat kekeliruan Mu’aawiyah didalamnya, dan ia berkata “ini keliru”, Al-Haafizh berkata “shaduuq, lahu auhaam”. [Tahdziibul Kamaal no. 6067; Miizaanul I’tidaal 6/460; Taqriibut Tahdziib no. 6771]

Jelaslah, bahwa Abu Ahmad Az-Zubairiy lebih tsiqah dari Mu’aawiyah.

2. Mu’aawiyah bin Hisyaam tidak diketahui memiliki periwayatan dari Mis’ar bin Kidaam, dan sebaliknya Mis’ar bin Kidaam tidak diketahui memiliki murid yang bernama Mu’aawiyah bin Hisyaam.

3. Al-Imam Al-Bukhaariy dalam Shahiih-nya no. 820 mengeluarkan riwayat Abu Ahmad Az-Zubairiy, dari Mis’ar, dari Al-Hakam bin ‘Utaibah, dari Ibnu Abi Lailaa, dari Al-Baraa’ bin ‘Aazib -radhiyallaahu ‘anhu- secara marfuu’ pada hadits sama panjangnya sujud, ruku’ dan duduk antara dua sujud Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ini membuktikan bahwa riwayat Abu Ahmad dari Mis’ar lebih mu’tamad.

Namun Al-Imam Ath-Thabaraaniy dalam Mu’jam Al-Kabiir 4/55 no. 3616 juga mengeluarkan hadits yang mauquuf hingga Khabaab bin Al-Arat radhiyallaahu ‘anhu dan didalamnya Mu’aawiyah bin Hisyaam meriwayatkan dari Mis’ar dengan lafazh “haddatsanaa”, dan secara zhahir sanadnya hasan hingga Mu’aawiyah bin Hisyaam. Wallaahu a’lam.

‘Alaa kulli haal, dengan tanpa mengurangi hormat kepada yang menghasankan hadits ini, kami dapatkan bahwasanya hadits ini adalah hadits yang dha’if karena jahaalah Abu ‘Utbah (dan dia majhuul al-‘ain) dan ada syubhat keterputusan antara Abu ‘Utbah dengan ‘Aaisyah.

Ta’atnya Istri Kepada Suami

Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta-harta mereka. [QS An-Nisaa’ : 34]

Dari ayat diatas, terlihat jelas bahwasanya Allah Ta’ala telah menggariskan kaum laki-laki yang akan menjadi pemimpin bagi kaum wanita disebabkan Allah Ta’ala telah melebihkan laki-laki diatas wanita. Oleh karena itu wajib bagi seorang wanita untuk menta’ati suaminya melebihi keta’atannya pada orangtua, saudara-saudara kandungnya juga kerabat-kerabatnya yang lain.

Dalam hal ini, Al-Imam Al-Bukhaariy telah meriwayatkan dengan sanadnya hingga Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

“Tidak halal bagi istri untuk berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada di dekatnya kecuali dengan seizinnya, dan tidak dibolehkan ia mengizinkan (orang lain) berada dirumahnya kecuali dengan seizin suaminya, dan apa saja yang ia infakkan diluar izin suaminya maka ia harus mengembalikan setengahnya kepada suaminya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 5195]

Syaikh Al-Albaaniy berkata mengomentari hadits ini :

فإذا وجب على المرأة أن تطيع زوجها في قضاء شهوته منها ، فبالأولى أن يجب عليها طاعته فيما هو أهم من ذلك مما فيه تربية أولادهما ، وصلاح أسرتهما ، ونحو ذلك من الحقوق والواجبات

“Jika diwajibkan atas istri untuk menta’ati suaminya dalam hal memenuhi kebutuhan syahwatnya, maka pertama-tama yang diwajibkan bagi istri untuk menta’atinya adalah pada hal-hal yang lebih penting dari syahwat, seperti mendidik anak-anak, membaguskan keluarganya, dan yang semakna dengannya dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban.” [Adaabuz Zifaaf hal. 282]

Al-Imam Ahmad bin Hanbal mengeluarkan dengan sanad yang hasan lighairihi hingga ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang istri shalat fardhu 5 waktu, berpuasa (Ramadhan) sebulan penuh, menjaga kemaluannya dan menta’ati suaminya, maka dikatakan kepadanya, “Masuklah ke dalam surga dari pintu-pintu mana saja yang kau kehendaki.”
[Musnad Ahmad no. 1664; Shahiih Ibnu Hibbaan no. 4163]

Al-Imam Ibnu Maajah meriwayatkan dengan sanad hasan lighairihi hingga ‘Abdullaah bin Abu Aufaa radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

“Jika aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, maka aku akan memerintahkan istri bersujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, tidaklah seorang istri memenuhi hak Rabbnya hingga ia memenuhi hak suaminya, jika suaminya meminta dilayani sementara istrinya sedang berada di atas pelana, ia tidak boleh menolak suaminya.”

[Sunan Ibnu Maajah no. 1853]

Tentu saja Rasulullah tidak menyuruh seorang istri untuk benar-benar bersujud kepada suaminya namun hadits ini menunjukkan betapa besar perkara seorang istri untuk memenuhi hak suaminya hingga ia tidak dikatakan memenuhi hak Allah Ta’ala jika belum memenuhi hak suami.

Pensyarah Jaami’ At-Tirmidziy berkata :

وفي هذا غاية في المبالغة لوجوب إطاعة المرأة في حق زوجها فإن السجدة لا تحل لغير الله

“Dan pada point ini terdapat mubalaghah dengan wajibnya seorang istri ta’at kepada hak suaminya, karena sesungguhnya diharamkan sujud kepada selain Allah.”
via : http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=66033

Al-Imam Al-Haakim meriwayatkan dengan sanadnya hingga Hushain bin Mihshan :

عَنْ حُصَيْنِ بْنِ مِحْصَنٍ، قَالَ: حَدَّثَتْنِي عَمَّتِي، قَالَتْ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ الْحَاجَةِ، فَقَالَ: ” أَيْ هَذِهِ أَذَاتُ بَعْلٍ أَنْتِ؟ “، قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: ” كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ “، قَالَتْ: مَا آلُوهُ إِلا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ، قَالَ: ” فَأَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ؟ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ “

Dari Hushain bin Mihshan, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Bibiku -radhiyallaahu ‘anha-, ia berkata, aku mendatangi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk beberapa keperluan, beliau bertanya, “Apakah kau sudah mempunyai suami?” Aku menjawab, “Ya,” beliau bertanya lagi, “Bagaimana kau memperlakukannya?” Aku menjawab, “Tidaklah aku mengabaikannya kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak mampu (melakukannya),” beliau bersabda, “Perhatikanlah posisimu terhadapnya karena sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.”
[Al-Mustadrak 2/189] – Al-Haakim berkata sanadnya shahih namun tidak dikeluarkan Al-Bukhaariy dan Muslim.

Jika terjadi pertentangan antara suami dengan orangtua, misalnya dalam kasus ayah atau ibu si istri sakit, manakah yang harus diprioritaskan? Berkata Al-Imam Ahmad :

طاعة زوجها أوجب عليها من أمها إلا أن يأذن لها

“Ta’at kepada suaminya lebih wajib baginya dibanding kepada ibunya kecuali suaminya mengizinkan (menjenguk ibunya).” [Syarhu Muntahaa Al-Iraadaat 3/47]

Dan dalam Al-Inshaaf :

لا يلزمها طاعة أبويها في فراق زوجها , ولا زيارةٍ ونحوها . بل طاعة زوجها أحق

“Tidak dilazimkan ta’at kepada kedua orangtuanya jika harus berpisah dengan suaminya, saling mengunjungi dan yang semakna dengannya. Bahkan, ta’at kepada suami lebih berhak (untuk dilazimkan).” [Al-Inshaaf 8/362]

Apakah Istri Diwajibkan Memasak Untuk Suami?

Syaikh ‘Abdullaah bin Jibriin rahimahullah berfatwa :

لم يزل عُرْف المسلمين على أن الزوجة تخدم زوجها الخدمة المعتادة لهما في إصلاح الطعام وتغسيل الثياب والأواني وتنظيف الدور ونحوه كلٌّ بما يناسبه ، وهذا عرف جرى عليه العمل من العهد النبوي إلى عهدنا هذا من غير نكير ، ولكن لا ينبغي تكليف الزوجة بما فيه مشقَّة وصعوبة ، وإنما ذلك حسب القدرة والعادة ، والله الموفق

“Kaum muslimin senantiasa mempunyai adat istiadat atas seorang istri yang melayani suaminya dengan pelayanan yang sudah menjadi kebiasaan seperti menyediakan makanan, mencuci baju dan peralatan, membersihkan rumah dan yang semaknanya. Dan adat istiadat ini juga merupakan kebiasaan yang berlaku di zaman kenabian hingga zaman kita dan tidak ada yang mengingkari. Namun kami menganjurkan agar istri tidak membebani diri yang akan menyebabkan kesulitan dan kesukaran, yang benar adalah harus sesuai dengan kapasitas dan kebiasaannya. Wallaahul Muwaffiq.

Sumber kutipan fatwa : http://islamqa.info/ar/12539

Semoga bermanfaat.
Allaahu a’lam.

3 thoughts on “‘Aaisyah : “Siapakah Manusia yang Paling Berhak Atas Seorang Istri?”

  1. jadi kesimpulannya hadits tentang yang paling berhak thd istri itu suami>> dhaif
    karena sanadnya ya?

    tentang hadits sujudnya Mu’adz.. jadi ingat postingan bang hendra (tipongtuktuk) yang ini
    http://tipongtuktuk.wordpress.com/2012/10/22/sujudkah-muadz-kepada-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam/

    ada cacat di haditsnya (sujudnya Mu’adz)

    tapi memang redaksi “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya kuperintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya. Demi (Allah) yang jiwa Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berada di tangan-Nya, tidaklah seorang istri (dianggap) telah menunaikan hak Rabb-nya sebelum dia menunaikan hak suaminya. Kalau pun suaminya itu meminta kepadanya dalam keadaan di atas hewan tunggangan, maka dia tak boleh menolaknya,”
    maka redaksi hadits ini tsabit, insya Allah, dengan keseluruhan jalannya dari Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan juga Aisyah –silakan merujuk kitab al-Irwa’ karya al-‘Allamah al-Albani (7/54-55) …

    *nyomot dari postingan bang hendra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s