Salafus Shaalih Menganjurkan Belajar Bahasa Arab! Ndak Percaya? Yuk Simak

bahasa arabMuqaddimah

Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitabNya :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” [QS Yuusuf : 2]

FirmanNya Ta’ala :

وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

Sedang Al-Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang. [QS An-Nahl : 103]

FirmanNya Ta’ala :

قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertaqwa. [QS Az-Zumar : 28]

Dan firmanNya ‘Azza wa Jalla :

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. [QS Fushshilat : 3]

Serta ayat-ayat lain yang banyak jumlahnya yang menyebutkan mengenai turunnya Al-Qur’an dengan bahasa Arab.

Menjadi sebuah musykilah besar bagi umat Islam jika mulai mengesampingkan bahasa Arab lalu lebih mengutamakan bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, Jerman, Perancis, dan yang lainnya, padahal bahasa Arab adalah bahasa kitab suci mereka, kitab yang menjadi petunjuk yang diturunkan Allah ‘Azza wa Jalla agar umat Islam tidak tersesat dan dapat meniti jalanNya yang lurus.

Lalu bahasa Arab adalah bahasa Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dengannya beliau menyampaikan petunjuk-petunjuk lewat hadits-haditsnya yang Allah Ta’ala karuniakan beliau dengan Jawami’ul Kalim, yaitu mu’jizat kemampuan berbicara bahasa Arab yang paling fasih dengan kalimat-kalimat singkat namun luas dan padat makna. Kemudian para sahabat Nabi radhiyallaahu ‘anhum kebanyakan adalah orang-orang Arab yang mereka pun menurunkan ilmu yang mereka dapat dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada para tabi’in dengan bahasa Arab. Lalu para tabi’in pun menurunkan ilmu mereka kepada para tabi’ut tabi’in, dan begitu seterusnya hingga kemudian warisan ilmu tersebut dibukukan oleh para ulama dari zaman ke zaman hingga zaman kita sekarang ini, dengan bahasa Arab!

Maka, dengan sangat memohon maaf, menjadi pertanyaan besar jika kemudian kita kehilangan ghirah belajar bahasa Arab untuk menggali warisan ilmu nan berkah tersebut dari kitab-kitab para ulama, kemudian lebih memilih untuk mencukupkan diri dengan kitab-kitab terjemahan yang bukan mustahil akan terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam proses penerjemahannya.

Hingga kapankah kita puas disuapi oleh kitab-kitab terjemahan tanpa mau berusaha membaca kepada kitab aslinya?

Atsar-atsar Para Salafus Shaalih Menganjurkan Belajar Bahasa Arab

Para salafus shaalih dalam atsar-atsar mereka telah banyak menganjurkan untuk belajar bahasa Arab dan memperdalamnya karena terkandung kebaikan yang banyak agar dapat bertafaqquh dalam agama serta dapat memperindah akhlak. Kami telah kumpulkan beberapa diantaranya -dengan mengharap kemudahan dari Allah-, yaitu dari :

1. ‘Umar bin Al-Khaththaab radhiyallaahu ‘anhu

أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ فِرَاسٍ، ثنا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بْنُ الضَّحَّاكِ، ثنا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا ابْنُ عَمَّارٍ، ثنا عَفِيفٌ هُوَ ابْنُ سَالِمٍ، عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ بْنِ سَعِيدٍ، حَدَّثَنِي أَبُو مُسْلِمٍ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ، قَالَ: قَالَ عُمَرُ: ” تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ، فَإِنَّهَا تُثَبِّتُ الْعَقْلَ، وَتَزِيدُ فِي الْمُرُوءَةِ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Firaas, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdillaah bin Adh-Dhahhaak, telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdil ‘Aziiz, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ammaar, telah menceritakan kepada kami ‘Afiif -dia adalah Ibnu Saalim-, dari ‘Abdul Waarits bin Sa’iid, telah menceritakan kepadaku Abu Muslim, seorang laki-laki dari penduduk Bashrah, ia berkata, ‘Umar berkata, “Pelajarilah bahasa Arab karena sesungguhnya ia dapat menetapkan akal, dan menambah kehormatan.”
[Syu’abul Iimaan no. 606]

حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ ثَوْرٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: كَتَبَ عُمَرُ إِلَى أَبِي مُوسَى: ” أَمَّا بَعْدُ فَتَفَقَّهُوا فِي السُّنَّةِ، وَتَفَقَّهُوا فِي الْعَرَبِيَّةِ، وَأَعْرِبُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ عَرَبِيٌّ، وَتَمَعْدَدُوا فَإِنَّكُمْ مَعْدِيُّونَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Iisaa bin Yuunus, dari Tsaur, dari ‘Amr bin Zaid, ia berkata, ‘Umar menulis surat kepada Abu Muusaa, “Amma ba’d, pahamilah sunnah dan pahamilah bahasa Arab, bahasakan Al-Qur’an (dengan bahasa Arab) karena sesungguhnya ia (diturunkan dengan) bahasa Arab, ikutilah akhlak hidup sederhana karena kalian adalah Ma’diyyuun (keturunan Ma’d bin Adnaan).”
[Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 30412]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَثِيرٍ، عَنْ شُعْبَةَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَيْفٍ أَبُو رَجَاءٍ، قَالَ: سَأَلْتُ الْحَسَنَ عَنِ الْمُصْحَفِ أَيُنْقَطُ بِالْعَرَبِيَّةِ؟ قَالَ: لا بَأْسَ بِهِ، أَمَا بَلَغَكَ كِتَابُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ؟ كَتَبَ: ” تَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ، وَأَحْسِنُوا عِبَارَةَ الرُّؤْيَا، وَتَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ

Dari ‘Abdullaah bin Katsiir, dari Syu’bah, ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Muhammad bin Saif Abu Rajaa’, ia berkata, aku bertanya kepada Al-Hasan mengenai mushaf Al-Qur’an yang diberi titik dengan bahasa Arab, ia menjawab, “Tidak mengapa dengannya, tidakkah sampai kepadamu kitab ‘Umar bin Al-Khaththaab? Tertulis : pahamilah agama kalian, baguskanlah perkataan dan pandangan kalian, dan pelajarilah bahasa Arab.”
[Mushannaf ‘Abdurrazzaaq no. 7948]

أَخْبَرَنَا أَبُو إِسْحَاق إِبْرَاهِيم بْن مُحَمَّد بْن سَهْل الْجُرْجَانِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّد بْن يُوسُف أَبُو سَعِيد الْخُوَارَزْمِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّد بْن أَيُّوب، حَدَّثَنَا أَبُو عُمَر، قَالَ: حدثت عَنِ ابْن جريج، قَالَ: كَانَ عُمَر فِي الطواف، فسمع رجلين يتكلمان بالفارسية، فَقَالَ لهما: انتقلا إِلَى العربية، وَقَالَ: من تعلم بالفارسية خب ومن خب ذهبت مروءته

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ishaaq Ibraahiim bin Muhammad bin Sahl Al-Jurjaaniy, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yuusuf Abu Sa’iid Al-Khawaarizmiy, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ayyuub, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Umar, ia berkata, aku telah menceritakan dari Ibnu Juraij, ia berkata, dahulu ‘Umar sedang melakukan thawaf lalu ia mendengar dua orang laki-laki sedang berbincang-bincang dengan bahasa Persia, ‘Umar berkata kepada mereka berdua, “Berpindahlah pada bahasa Arab.” dan ia berkata, “Barangsiapa mempelajari bahasa Persia (ia bagaikan) seorang penipu dan barangsiapa menipu maka hilanglah kehormatannya.”
[Taariikh Jurjaan li As-Sahmiy hal. 383]

2. ‘Abdullaah bin Mas’uud radhiyallaahu ‘anhu

أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ بِشْرَانَ، أنبأ أَبُو عَمْرِو بْنُ السَّمَّاكِ، ثنا حَنْبَلُ بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ يَعْنِي أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ، ثنا يَحْيَى بْنَ آدَمَ، ثنا أَبُو بَكْرٍ، عَنْ عَاصِمٍ، قَالَ: ” كَانَ زِرُّ بْنُ حُبَيْشٍ مِنْ أَعْرَبِ النَّاسِ، كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ يَسْأَلُهُ عَنِ الْعَرَبِيَّةِ “

Telah mengkhabarkan kepada kami Abul Husain bin Bisyraan, telah memberitakan Abu ‘Amr bin As-Sammaak, telah menceritakan kepada kami Hanbal bin Ishaaq, telah menceritakan kepadaku Abu ‘Abdillaah -yakni Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Aadam, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr, dari ‘Aashim, ia berkata, “Zirr bin Hubaisy adalah manusia yang fasih (berbahasa Arab), dahulu ‘Abdullaah -yakni Ibnu Mas’uud- bertanya kepadanya mengenai bahasa Arab.”
[Sunan Al-Kubraa li Al-Baihaqiy 10/113]

3. Ubay bin Ka’b radhiyallaahu ‘anhu

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عَقِيلٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمُرَ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: ” تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ كَمَا تَعَلَّمُونَ حِفْظَ الْقُرْآنِ “

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Aadam, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Waashil maulaa Abu ‘Uyainah, dari Yahyaa bin ‘Aqiil, dari Yahyaa bin Ya’mar, dari Ubay bin Ka’b, ia berkata, “Pelajarilah bahasa Arab sebagaimana kalian mempelajari hapalan Al-Qur’an.”
[Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 30413]

4. Mu’aawiyah bin Abi Sufyaan radhiyallaahu ‘anhuma

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، عَنْ أَبِي هِلالٍ الرَّاسِبِيِّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، أَنَّ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ أَرْسَلَ إِلَى دَغْفَلٍ فَسَأَلَهُ: عَنِ الْعَرَبِيَّةِ وَعَنْ أَنْسَابِ النَّاسِ، وَسَأَلَهُ عَنِ النُّجُومِ؟ فَإِذَا عَالِمٌ، فَقَالَ: يَا دَغْفَلُ مِنْ أَيْنَ حَفِظْتَ هَذَا؟ فَقَالَ: ” حَفِظْتُ هَذَا بِلِسَانٍ سَئُولٍ وَقَلْبٍ عَقُولٍ، وَإِنَّ آفَةَ الْعِلْمِ النِّسْيَانُ “، قَالَ: فَاذْهَبْ بِيَزِيدَ فَعَلِّمْهُ الْعَرَبِيَّةَ وَأَنْسَابَ قُرَيْشٍ وَالنُّجُومَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillaah Al-Hadhramiy, telah menceritakan kepada kami Syaibaan bin Farruukh, dari Abu Hilaal Ar-Raasibiy, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Buraidah, bahwasanya Mu’aawiyah radhiyallaahu Ta’ala ‘anhu pergi menemui Daghfal[1] untuk bertanya kepadanya mengenai bahasa Arab, silsilah nasab manusia dan ilmu astronomi karena ia orang berilmu. Mu’aawiyah bertanya, “Wahai Daghfal, dari mana kau menghapal ini semua?” Daghfal menjawab, “Aku menghapal ini dengan lisan yang bertanya dan hati yang memahami, dan bahwasanya (salah satu) cacat ilmu adalah melalaikan.”

Mu’aawiyah berkata, “Maka aku segera pergi dengan Yaziid kemudian aku mengajarinya bahasa Arab, nasab suku Quraisy dan ilmu astronomi.”
[Mu’jam Al-Kabiir no. 4201]

5. Buraidah Al-Aslamiy radhiyallaahu ‘anhu

أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ، رَحِمَ اللَّهُ، نا عَلِيٌّ، نا مُحَمَّدٌ، نا أَصْرَمُ بْنُ حَوْشَبٍ، نا الْخَزْرَجُ بْنُ أَشْيَمَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: ” كَانُوا يُؤْمَرُونَ، أَوْ كُنَّا نُؤْمَرُ، أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ السُّنَّةَ ثُمَّ الْفَرَائِضَ ثُمَّ الْعَرَبِيَّةَ الْحُرُوفَ الثَّلاثَةَ “. قَالَ: قُلْنَا: وَمَا الْحُرُوفُ الثَّلاثَةُ؟ قَالَ: ” الْجَرُّ وَالرَّفْعُ وَالنَّصْبُ “

Telah mengkhabarkan kepada kami Abul ‘Abbaas -semoga Allah merahmati-, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad, telah mengkhabarkan kepada kami Ashram bin Hausyab, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Khazraj bin Asyyam, dari ‘Abdullaah bin Buraidah, dari Ayahnya, ia berkata, “Mereka dahulu diperintahkan, atau kami dahulu diperintahkan untuk mempelajari Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Faraa’idh (ilmu waris), kemudian bahasa Arab dengan 3 huruf.” Kami bertanya, “Apakah 3 huruf itu?” Buraidah menjawab, “Huruf jar, rafa’ dan nashab.”
[Fawaa’id Abu ‘Aliy Ash-Shaffaar no. 12]

6. Abud Dardaa’ ‘Uwaimir bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu

أنا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُعَدِّلُ، أنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ، نا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ الرَّمَادِيُّ، نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أنا مَعْمَرٌ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابَةَ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: ” لا تَفْقَهُ كُلَّ الْفِقْهِ، حَتَّى تَرَى لِلْقُرْآنِ وُجُوهًا كَثِيرَةً فَيَحْتَاجُ النَّاظِرُ فِي عِلْمِ الْقُرْآنِ، إِلَى حِفْظِ الآثَارِ وَدَرْسِ النَّحْوِ وَعِلْمِ الْعَرَبِيَّةِ وَاللُّغَةِ، إِذْ كَانَ اللَّهُ تَعَالَى إِنَّمَا أَنْزَلَهُ بِلِسَانِ الْعَرَبِ، فَقَالَ: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Telah memberitakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad bin ‘Abdillaah Al-Mu’addil, telah memberitakan kepada kami Ismaa’iil bin Muhammad Ash-Shaffaar, telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Manshuur Ar-Ramaadiy, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, telah memberitakan kepada kami Ma’mar, dari Ayyuub, dari Abu Qilaabah, dari Abud Dardaa’, ia berkata, “Tidaklah mendalami semua fiqh hingga kau banyak melihat halaman-halaman Al-Qur’an, maka kau perlu untuk memperhatikan ilmu Al-Qur’an, menghapal atsar-atsar, mempelajari nahwu, ilmu bahasa Arab dan lughah, karena Allah Ta’ala telah menurunkan Al-Qur’an dengan lisan orang Arab, Dia berfirman : Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya (QS Yuusuf : 2).”
[Al-Faqiih wal Mutafaqqih 1/198]

7. ‘Athaa’ bin Abi Rabaah rahimahullah

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْد اللَّهِ مُحَمَّد بْن الفضل، أَنْبَأَنَا أَبُو الحسين الفارسي، أَنَا أَبُو سليمان الخطابي، ثنا عَبْد اللَّهِ بْن شاذان الطبراني، نا زكريا بْن يحيى الساجي، ثنا الحسين بْن إدريس، ثنا العلاء بْن عمرو، نا عَبْد القدوس، عن حجاج، قَالَ: قَالَ عطاء: وددت أني أحسن العربية، وهو يومئذ ابن تسعين سنة

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillaah Muhammad bin Al-Fadhl, telah memberitakan kepada kami Abul Husain Al-Faarisiy, telah memberitakan kepada kami Abu Sulaimaan Al-Khathaabiy, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Syaadzaan Ath-Thabaraaniy, telah mengkhabarkan kepada kami Zakariyaa bin Yahyaa As-Saajiy, telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Idriis, telah menceritakan kepada kami Al-‘Alaa’ bin ‘Amr, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul Quduus, dari Hajjaaj, ia berkata, ‘Athaa’ berkata, “Aku menginginkan diriku memperbaiki bahasa Arab, yang mana pada hari itu aku telah berusia 90 tahun.”
[Taariikh Dimasyq 40/403]

8. Ibnu Syubrumah rahimahullah

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ الأَصَمُّ، ثنا السَّرِيُّ بْنُ يَحْيَى، ثنا عُثْمَانُ بْنُ زُفَرَ، ثنا حِبَّانُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنِ ابْنِ شُبْرُمَةَ، قَالَ: ” مَا عَبَّرَ الرِّجَالُ بِعِبَارَةٍ، أَرْقَى مِنَ الْعَرَبِيَّةِ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillaah Al-Haafizh, telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Al-Asham, telah menceritakan kepada kami As-Sariy bin Yahyaa, telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin Zufar, telah menceritakan kepada kami Hibbaan bin ‘Aliy, dari Ibnu Syubrumah, ia berkata, “Tidaklah para pria berbicara dengan sebuah perkataan yang lebih baik daripada bahasa Arab.”
[Syu’abul Iimaan no. 616]

9. Syu’bah bin Al-Hajjaaj rahimahullah

أَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الطَّبَرِيُّ، أَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ الْمُقْرِئُ، نَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، نَا فَضْلٌ الأَعْرَجُ، نَا أَبُو نُوحٍ، قَالَ: سَمِعْتُ شُعْبَةَ، يَقُولُ: ” مَنْ طَلَبَ الْحَدِيثَ فَلَمْ يُبْصِرِ الْعَرَبِيَّةَ، فَمَثَلُهُ مَثَلُ رَجُلٍ عَلَيْهِ بُرْنُسٌ وَلَيْسَ لَهُ رَأْسٌ “

Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin ‘Aliy bin ‘Abdillaah Ath-Thabariy, telah memberitakan kepada kami ‘Ubaidullaah bin Ahmad bin ‘Aliy Al-Muqri’, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Husain bin Ismaa’iil, telah mengkhabarkan kepada kami Fadhl Al-A’raj, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Nuuh, ia berkata, aku mendengar Syu’bah mengatakan, “Barangsiapa yang mencari hadits tanpa melihat bahasa Arab, permisalan dirinya bagaikan seorang laki-laki yang dipakaikan mantel bertudung (burnus) namun tidak mempunyai kepala.”
[Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Raawiy no. 1080]

أخبرنا إبراهيم بْن مُحَمَّد بْن عرفه، قَالَ: أخبرنا إسماعيل بْن مُحَمَّد الشامي، قَالَ: أخبرني بدل بْن المحبر قَالَ: سمعت شعبة يَقُولُ: تعلموا العربية فإنها تزيد فِي العقل

Telah mengkhabarkan kepada kami Ibraahiim bin Muhammad bin ‘Arafah, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Ismaa’iil bin Muhammad Asy-Syaamiy, ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Badal bin Al-Muhabbar, ia berkata, aku mendengar Syu’bah mengatakan, “Pelajarilah bahasa Arab karena sesungguhnya ia dapat menambah akal.”
[Amaaliy Al-Jurjaaniy 1/185]

10. An-Nu’maan bin ‘Abdissalaam dan Ayahnya rahimahumallah[2]

ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ مَنْدَهْ، قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الزَّجَّاجُ، قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، قَالَ: ثنا النُّعْمَانُ، قَالَ: ثني شَيْخٌ ثِقَةٌ، يَعْنِي أَبَاهُ، قَالَ: ” الْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمُ الدِّينِ، وَعِلْمُ الْعَرَبِيَّةِ، وَسَائِرُهُ عِلاوَةٌ، فَإِنَّ أَحْسَنَهُ رَجُلٌ فَحَسَنٌ، وَإِنْ لَمْ يُحْسِنْهُ لَمْ يَضُرَّ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahyaa bin Mandah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Iisaa Az-Zajjaaj, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mughiirah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami An-Nu’maan, ia berkata, telah menceritakan kepadaku seorang Syaikh tsiqah, -yakni Ayahnya-, ia berkata, “Ilmu itu ada dua, ilmu Ad-Diin (agama) dan ilmu bahasa Arab sedangkan yang lainnya hanya tambahan saja. Jika ilmu tersebut membaguskan seorang laki-laki, maka itu adalah ilmu yang baik, namun jika tidak membaguskannya maka ilmu tersebut bukan ilmu yang membahayakan.”
[Thabaqaatul Muhadditsiin li Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahaaniy 2/14]

11. ‘Abdurrahman bin Mahdiy rahimahullah

وَبِهِ إِلَى الأَنْصَارِيِّ، أَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدٍ، وَأَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَا: أَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ الْجُرْجَانِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا بَكْرِ بْنَ شَاذَانَ، سَمِعْتُ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ بْنَ مَاجَهْ، يَقُولُ: حُدِّثْتُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَهْدِيٍّ، أَنَّهُ قَالَ: مَنْ طَلَبَ الْعَرَبِيَّةَ فَآخِرُهُ مُؤَدِّبٌ، وَمَنْ طَلَبَ الشِّعْرَ فَآخِرُهُ شَاعِرٌ يَهْجُو، وَيَمْدَحُ بِالْبَاطِلِ، وَمَنْ طَلَبَ الْكَلامَ فَآخِرُ أَمْرِهِ الزَّنْدَقَةُ، وَمَنْ طَلَبَ الْحَدِيثَ فَإِنْ قَامَ بِهِ كَانَ إِمَامًا، وَإِنْ فَرَّطَ فِيهِ ثُمَّ أَنَابَ يَوْمًا يَرْجِعُ إِلَيْهِ وَقَدْ عتقت وَجَادت

Dengan sanadnya hingga Al-Anshaariy, telah memberitakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Muhammad, dan Ahmad bin Ibraahiim, keduanya berkata, telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ahmad Al-Jurjaaniy, ia berkata, aku mendengar Bakr bin Syaadzaan, aku mendengar Al-Hasan bin ‘Aliy mengatakan, aku mendengar Abu ‘Abdillaah Ibnu Maajah mengatakan, aku telah menceritakan dari ‘Abdurrahman bin Mahdiy, bahwasanya ia mengatakan, “Barangsiapa mencari (ilmu) bahasa Arab maka ia akan menjadi seorang yang beradab, barangsiapa mencari (ilmu) sya’ir maka ia akan mahir bersya’ir menyindir dan menyebut yang baathil, barangsiapa mencari (ilmu) kalam maka ia akan menjadi seorang zindiq, barangsiapa mencari (ilmu) hadits untuk bangkit membelanya maka ia adalah seorang imam, dan jika ia berpaling (tidak membelanya) kemudian ia kembali suatu hari untuk membelanya, sungguh ia telah membebaskan dirinya dan bersungguh-sungguh.”
[Jam’ul Juyuusy wad Dasaakir ‘alaa Ibni ‘Asaakir 1/85]

12. Muhammad bin Idriis Asy-Syaafi’iy rahimahullah

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْعُثْمَانِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ الرَّبِيعَ بْنَ سُلَيْمَانَ، يَقُولُ: قَالَ الشَّافِعِيُّ: ” يَا رَبِيعُ، رِضَى النَّاسِ غَايَةٌ لا تُدْرَكُ، فَعَلَيْكَ بِمَا يُصْلِحُكَ فَالْزَمْهُ، فَإِنَّهُ لا سَبِيلَ إِلَى رِضَاهُمْ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ جَلَّ فِي عُيونِ النَّاسِ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ النَّحْوَ هِيبَ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَلَّ رَأْيُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ لَمْ يُضِرْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ، وَمِلاكُ ذَلِكَ كُلِّهِ التَّقْوَى

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin Muhammad Al-‘Utsmaaniy, ia berkata, aku mendengar Abu Bakr An-Naisaabuuriy mengatakan, aku mendengar Ar-Rabii’ bin Sulaimaan mengatakan, Asy-Syaafi’iy berkata, “Wahai Rabii’, membuat ridha manusia adalah sesuatu yang tidak akan pernah kau capai, maka wajib atasmu melakukan perbuatan-perbuatan baik dan melaziminya karena sesungguhnya ia tidak membawa kepada suatu jalan melainkan ridha mereka. Ketahuilah (wahai Rabii’), barangsiapa mempelajari Al-Qur’an maka ia akan mulia di mata manusia, barangsiapa mempelajari hadits maka hujjahnya akan kuat, barangsiapa mempelajari ilmu nahwu maka ia akan disegani, barangsiapa mempelajari bahasa Arab maka budi pekertinya akan halus, barangsiapa mempelajari ilmu hisab maka mulialah pandangannya, barangsiapa mempelajari fiqh maka tinggilah kedudukannya, dan barangsiapa belum menyusahkan dirinya (dengan mengamalkan ilmu yang telah ia dapat) maka ilmunya belum bermanfaat bagi dirinya. Dasar dari semua hal-hal tersebut adalah taqwa (kepada Allah).”
[Hilyatul Auliyaa’ 9/123]

أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ، أنا أَبُو مُحَمَّدٍ، ثنا أَبِي، ثنا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ، يَقُولُ: ” أَصْحَابُ الْعَرَبِيَّةِ جِنُّ الإِنْسِ، يُبْصِرُونَ مَا لا يُبْصِرُ غَيْرُهُمْ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abul Hasan, telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ayahku, telah menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahyaa, ia berkata, aku mendengar Asy-Syaafi’iy mengatakan, “Ahli bahasa Arab (dari kalangan) jin dan manusia, mereka dapat mengetahui apa yang tidak diketahui selain mereka.”
[Aadaabusy Syaafi’iy wa Manaaqibuhu 1/112]

أخبرنا أبو سعد عبد الله بن أسعد النسوي، وأبو بكر عبد الجبار بن محمد النيسابوري الصوفيان، قالا: أنبأنا محمد بن عبيد الله الصرام، أنبأنا القاضي أبو عمر محمد بن الحسين البسطامي، أنبأنا أحمد بن عبد الرحمن بن الجارود الرقي، قال: سمعت يونس، يقول: سمعت الشافعي، يقول: تعلموا العربية فإنها تثبت الفضل وتزيد في المروءة، زاد أبو سعد، قال: وسمعته، يقول: إعراب القرآن أحب إلي من بعض حروفه

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’d ‘Abdullaah bin As’ad An-Naswiy dan Abu Bakr ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad An-Naisaabuuriy Ash-Shuufiyaan, keduanya berkata, telah memberitakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaidillaah Ash-Sharaam, telah memberitakan kepada kami Al-Qaadhiy Abu ‘Umar Muhammad bin Al-Husain Al-Bisthaamiy, telah memberitakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdirrahman Al-Jaaruud Ar-Raqqiy, ia berkata, aku mendengar Yuunus mengatakan, aku mendengar Asy-Syaafi’iy mengatakan, “Pelajarilah bahasa Arab karena sesungguhnya ia menetapkan kemuliaan dan menambah kehormatan.” Abu Sa’d menambahkan, Yuunus berkata, aku mendengarnya mengatakan, “I’rab Al-Qur’an lebih kusukai daripada sebagian huruf-hurufnya.”
[Taariikh Dimasyq 51/374]

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، قَالَ: أَخْبَرَنِي الزُّبَيْرُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو الْمُؤَمَّلِ عَبَّاسُ بْنُ أَبِي الْفَضْلِ بِأَرْمنوفَ، قَالَ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَوْفٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ، يَقُولُ: ” الشَّافِعِيُّ فَيْلَسُوفٌ فِي أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: فِي اللُّغَةِ، وَاخْتِلافِ النَّاسِ، وَالْمَعَانِي، وَالْفِقْهِ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillaah Al-Haafizh, ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Az-Zubair bin ‘Abdil Waahid, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Abul Mu’ammal ‘Abbaas bin Abul Fadhl -di Armanuf-, ia berkata, aku mendengar Muhammad bin ‘Auf mengatakan, aku mendengar Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Filosofi Asy-Syaafi’iy ada pada 4 hal : lughah (bahasa Arab), ikhtilaf (perbedaan pendapat) manusia, ma’aaniy (makna-makna kata) dan fiqh.”
[Ma’rifatus Sunan wal Atsaar no. 98]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَحْمَدَ، حدَّثَنَا زَاهِرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْفَيْضِ بْنِ صَقْرٍ الْحِمْيَرِيُّ الشِّيرَازِيُّ بِهَا إمْلاءً مِنْ أَصْلِهِ، حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ الثَّعْلَبِيُّ بِمِصْرَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ الْحَبَّالِ الْحِمْيَرِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: كَانَ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ الشَّافِعِيُّ رَجُلا شَرِيفًا، وَكَانَ يَطْلُبُ اللُّغَةَ وَالْعَرَبِيَّةَ وَالْفَصَاحَةَ وَالشَّعَرَ فِي صِغَرِهِ، وَكَانَ كَثِيرًا مَا يَخْرُجُ إِلَى الْبَدْوِ وَيَحْمِلُ مَا فِيهِ مِنَ الأَدَبِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibraahiim bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Zaahir bin Muhammad bin Al-Faidh bin Shafr Al-Himyariy Asy-Syairaaziy -dengannya pembacaan dilakukan secara imlaa’ dari asal kitabnya-, telah menceritakan kepada kami Manshuur bin ‘Abdil ‘Aziiz Ats-Tsa’labiy -di Mesir-, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil bin Al-Habbaal Al-Himyariy, dari Ayahnya, ia berkata, “Muhammad bin Idriis Asy-Syaafi’iy adalah seorang laki-laki yang terhormat, ia menuntut ilmu lughah bahasa Arab, fashahah, dan sya’ir ketika ia masih berusia kanak-kanak, ketika itu ia sering keluar menuju orang-orang Badwi lalu membawa segala hal mengenai sastra (dari mereka).” – dengan diringkas.
[Hilyatul Auliyaa’ 9/80]

Semoga apa yang kami kumpulkan ini dapat bermanfaat bagi diri kami sendiri dan saudara-saudara kami kaum muslimin, tidak lain tidak bukan untuk memotivasi diri masing-masing agar semangat mempelajari bahasa Arab, serta tidak menomor sekiankan bahasa Arab dibawah bahasa-bahasa asing lainnya.

Wallaahul muwaffiq. Allaahu a’lam.

Footnotes :

[1] Daghfal bin Hanzhalah bin Zaid bin ‘Abdah bin ‘Abdillaah bin Rabii’ah As-Saduusiy Adz-Dzuhliy Al-Bashriy, ia diperselisihkan oleh para ulama apakah ia termasuk sahabat atau bukan, biografi lengkapnya dapat dibaca pada Al-Ishaabah 2/389 karya Al-Haafizh rahimahullah, dan Tahdziibul Kamaal 8/486 karya Jamaaluddiin Yuusuf Al-Mizziy rahimahullah.

[2] An-Nu’maan bin ‘Abdissalaam bin Habiib At-Taimiy, Abul Mundzir Al-Ashbahaaniy. Mufti Ashbahaan dan ahli fiqh mereka, seorang yang tsiqah dan zuhd. Meriwayatkan dari Sufyaan Ats-Tsauriy, Abu Haniifah, Hammaad bin Salamah, Ibnu ‘Uyainah, Syu’bah bin Al-Hajjaaj, Ibnul Mubaarak, Maalik bin Anas, dan lain-lain. Meriwayatkan darinya ‘Affaan bin Muslim, Ibnu Mahdiy, Muhammad bin Al-Mughiirah Al-Ashbahaaniy, Muhammad bin Al-Minhaal Al-Bashriy, Sulaimaan bin Daawud Asy-Syaadzakuuniy, Abu Sufyaan Shaalih bin Mihraan, dan lain-lain.

Ayahnya adalah ‘Abdussalaam bin Habiib, pegawai penguasa Ashbahaan, dikatakan bahwa ayahnya mewariskan ladangnya kepada An-Nu’maan namun An-Nu’maan meninggalkannya dan tidak mengambil warisan tersebut, demikian dikatakan oleh Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahaaniy.

Wafat tahun 183 H. Riwayatnya dipakai Abu Daawud dan An-Nasaa’iy. Biografinya dapat dibaca di Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 8/449 karya Syamsuddiin Adz-Dzahabiy, Tahdziibul Kamaal 29/451, dan Thabaqaatul Muhadditsiin bi Ashbahaan 2/5 karya Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahaaniy.

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s