Ada Apa Antara Adzan dan Iqamah?

319718_402892626407646_451976615_nHamba-hamba yang shalih….
Adalah hamba-hamba yang hatinya selalu terpaut…
Kepada Ar-Rahman Yang Maha Besar
Tak pernah meninggalkan kecintaan kepadaNya
Walau sedetikpun

Dan Ar-Rahman -Subhanahu wa Ta’ala-
Tidak pernah menyia-nyiakan hamba-hambaNya yang shalih…
Disediakanlah dariNya, waktu-waktu berfaidah…
Agar sang hamba dapat memanfaatkan dan memetik faidahnya.

Waktu-waktu berfaidah yang Allah Ta’ala berikan itu adalah antara adzan dan iqamah.

Dan, para hamba, inilah penjabaran faidah-faidahnya.

1. Bershalawat (dengan shalawat-shalawat shahih) dan ucapkan do’a wasilah

Wahai hamba-hamba yang shalih, sebagaimana Sang Pemilik ‘arsy -Subhanahu wa Ta’ala yang berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. [QS Al-Ahzab : 56]

Maka tidakkah kita melazimkan shalawat kita untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, wahai hamba? Sebab beliau sangat senang jika kita bershalawat untuknya :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

Dari ‘Abdullaah bin Mas’uud radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang (mu’min) yang paling dekatku pada hari kiamat adalah mereka yang banyak bershalawat kepadaku.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 484] – Dan Al-‘Asqalaaniy menyatakan sanadnya hasan dalam Nataa’ij miliknya 3/295.

Wahai hamba, tidak hanya itu faidahnya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
[Shahiih Muslim no. 410]

Lihatlah wahai hamba, tidakkah engkau ingin mendapatkan faidah sebesar ini? Bahkan jika gunung Uhud diubah menjadi gunung emas pun tidak akan bisa mengalahkannya.

Al-Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya hingga ‘Abdullaah bin ‘Amr secara marfuu’, yang para perawinya mustahil bersepakat diatas kedustaan, tidak seperti Abu Mikhnaf atau Jaabir Al-Ju’fiy yang kerap berdusta :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Dari ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash radhiyallaahu ‘anhuma bahwa ia mendengar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian mendengar mu’adzin (sedang beradzan) maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya kemudian bershalawatlah kepadaku karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, kemudian mohonlah kepada Allah wasilah untukku karena ia adalah sebuah tempat di surga yang tidak diberikanNya kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap akulah hamba tersebut, dan barangsiapa memohon wasilah untukku maka ia berhak mendapatkan syafa’at.”
[Shahiih Muslim no. 387]

Renungkanlah wahai hamba-hamba yang shalih, tidakkah engkau tertarik dan bergairah untuk mendapatkan yang seperti ini? Sebagaimana engkau bergairah kepada lawan jenismu yang tampan dan cantik? Bahkan seharusnyalah engkau lebih bergairah kepada yang seperti ini.

Do’a wasilah tersebut adalah, teriwayatkan kepada Al-Imam Al-Bukhaariy, dari seorang tsiqah bernama ‘Aliy bin ‘Ayyaasy, ia menceritakan dari gurunya, Syu’aib, putra seorang yang bernama Abu Hamzah, Syu’aib pun meneruskan rantai sanadnya dari Muhammad bin Al-Munkadir, imam besar di zamannya, yang mendapat riwayat dari Jaabir bin ‘Abdillaah radhiyallaahu ‘anhuma, sang sahabat Nabi yang mulia, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa mengucapkan do’a berikut setelah mendengar An-Nidaa’ (yaitu adzan) : Allaahumma Rabba haadzihid da’watit taammah, wash shalaatil qaa’imah, aati Muhammadanil washiilata wal fadhiilah, wab’atshu maqaamam mahmuudanil ladziy wa ‘adtahu (Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, dan shalat yang akan didirikan ini, berikanlah kepada Nabi Muhammad washilah dan keutamaan, dan bangkitkan beliau pada kedudukan yang terpuji yang telah Kau janjikan), maka dia berhak atas syafa’atku di hari kiamat nanti.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 614, 4719]

Jangan lupa wahai hamba, janganlah kau menjadi orang yang melalaikan kesempatan besar untuk mendapatkan syafa’at ini.

2. Shalat sunnah Rawatib (bagi shalat fardhu yang mempunyai qabliyah) atau shalat antara adzan dan iqamah

Wahai hamba, benar, engkau tidak salah baca, shalat…
Dan ia adalah shalat-shalat sunnah.
Dalam salah satu sabdanya, Al-Musthafaa Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya, Allah Jalla wa ‘Azza berfirman kepada Malaikat -dan Dia lebih mengetahui (amalan seseorang)-, “Periksalah shalat hambaKu, sempurnakah atau justru kurang? Jika sempurna, maka catatlah baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan, Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hambaKu memiliki amalan shalat sunnah? Jika terdapat shalat sunnah, Allah berfirman, “Cukupkan kekurangan yang ada pada shalat wajib hambaKu itu dengan shalat sunnahnya.” Dan selanjutnya semua amal manusia dihisab dengan cara demikian.”
[Sunan Abu Daawud no. 864] – Dan Syaikh Al-Albaaniy menshahihkan sanadnya.

Inilah janji Allah Ta’ala yang Dia wahyukan kepada RasulNya bahwa shalat sunnah akan berfungsi sebagai pelengkap shalat fardhu jika ada yang tidak sempurna, tergiurlah wahai hamba untuk melaksanakannya, sebagaimana engkau tergiur untuk menikmati hidangan kambing bakar dengan roti kering yang dicelup kuah.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku menghafal dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam berupa shalat sunnah sepuluh raka’at yaitu dua raka’at sebelum shalat Zhuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat Maghrib di rumah beliau, dua raka’at sesudah shalat ‘Isya’ di rumah beliau dan dua raka’at sebelum shalat Shubuh.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 1181]

أُمَّ حَبِيبَةَ تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ummu Habiibah radhiyallaahu ‘anha berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa shalat (sunnah) dua belas raka’at sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di surga.” Ummu Habiibah berkata, “Maka aku tidak akan meninggalkan dua belas rakaat itu semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.”
[Shahiih Muslim no. 1198]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

Dari ‘Abdullaah bin Mughaffal Al-Muzaniy radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Diantara setiap adzan dan iqamah ada shalat sunnah -beliau mengatakan 3 kali-, beliau bersabda lagi pada yang ketiga kali, “Bagi siapa saja yang berkehendak (melakukannya).”
[Shahiih Muslim no. 840]

Jangan lupa wahai hamba, janganlah melalaikannya.

3. Berdo’a

Seorang hamba, seberapapun mulia kedudukannya, ia tetaplah seorang hamba, maka hanya kepada Allah-lah ia mengiba, memohon pertolongan, memohon petunjuk dan memohon segalanya kepada Allah Ta’ala.

Dan, wahai hamba-hamba yang shalih…
Inilah kesempatanmu sekalian,
Tuk memanjatkan do’a sebanyak-banyaknya kepada Ar-Rahman…
Menangislah kepadaNya, mengibalah kepadaNya, memintalah kepadaNya.

At-Tirmidziy Abu ‘Iisaa telah meriwayatkannya hingga sahabat Anas bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

“Do’a yang tidak ditolak adalah do’a diantara adzan dan iqamah.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 212] – Al-Albaaniy menshahihkan sanadnya.

Janganlah malu dan sungkan untuk berdo’a kepada Ar-Rahman, wahai hamba, sebab Dia sendiri berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS Al-Mu’min : 60]

Dan dalam sebuah hadits qudsiy, Allah Ta’ala berfirman :

سَبَقَتْ رَحْمَتِي غَضَبِي

“RahmatKu mendahului murkaKu.”
[Shahiih Muslim no. 2752]

Allah Ar-Rahman tidak akan pernah mengingkari janjiNya.

Janganlah lupakan faidah-faidah tadi wahai hamba, ingatlah pada sebuah hari yang tidak diperkenankan lagi untuk berdo’a, bertaubat dan memohon ampun. Khawatirlah akan kengerian hari tersebut dimana mulut terkunci serta anggota-anggota tubuhmu mengeluarkan kesaksiannya.

Wallaahu a’lam.

Tangerang, Ahad 15 Rabii’ul Akhir 1435 H
Al-Faqiir Ilallaah, Abu Ahmad Tommi Marsetio -wafaqahullah-

* * * * *

5 thoughts on “Ada Apa Antara Adzan dan Iqamah?

  1. tanya pak, menggabungkan niat antara rawatib qabliyah dengan shalat sunnah antara adzan dan iqomah bolehkah?

    juga niat shalat tahiyatul masjid dengan shalat sunnah antara adzan dan iqomah?

  2. Pingback: Ada Apa Antara Adzan dan Iqamah? | Wajib Doa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s