Al-Imam Ad-Daaraquthniy, Sang Guru Besar Hadits dan Ilmu-ilmu Islam

sunan daraqutniMereka yang menggeluti ilmu hadits dan cabang-cabangnya sangat akrab dengan nama beliau, pendapat-pendapatnya serta betapa kritis dan cermatnya beliau didalam mengkoreksi sanad suatu hadits, mengomentarinya serta membetulkan letak kekeliruannya, atau ketika terjadi syubhat tadlis dan irsal, maka seakan-akan beliau-lah orang yang paling mengetahui dimana tadlis atau irsal itu terjadi.

Mengetahui yang shahih dan yang dha’if, yang sehat dan yang saqiim (berpenyakit), yang marfuu’ dan yang mauquuf, yang muttashil dan yang munqathi’, serta mengetahui nama-nama perawi dan keadaan mereka. Siapakah beliau? Mari kita berkenalan dengan guru besar Islam, Al-Imam Ad-Daaraquthniy.

Nama dan Nasabnya

Beliau adalah Al-Imam Al-Haafizh Syaikhul Islaam, kritikus hadits, haafizh di zamannya, Abul Hasan ‘Aliy bin ‘Umar bin Ahmad bin Mahdiy bin Mas’uud bin An-Nu’maan bin Diinaar bin ‘Abdillaah Al-Baghdaadiy, berasal dari suatu tempat bernama Daarul Qathn, dari sanalah laqabnya (Ad-Daaraquthniy) berasal.

Ibnu Bisyraan menyebutkan bahwa tahun lahirnya adalah 306 H, Al-‘Atiiqiy menyebutkan tahun lahirnya adalah 305 H. Adz-Dzahabiy dalam Siyar-nya menyebutkan bahwa yang rajih adalah 306 H. Wallaahu a’lam.

Guru-guru Ad-Daaraquthniy

Beliau menuntut ilmu dari banyak syaikh yang tersebar di berbagai tempat dan kota, dimulai dari Baghdaad, Bashrah, Kuufah, Waasith, hingga Mesir dan Syaam. Diantara syuyuukhnya adalah Abul Qaasim Al-Baghawiy (beliau mendengar darinya ketika masih anak-anak), Yahyaa bin Muhammad bin Shaa’id, Abu Bakr bin Abu Daawud, Muhammad bin Nairuuz Al-Anmaathiy, Abu Haamid Muhammad bin Haaruun Al-Hadhramiy, ‘Aliy bin Mubasysyir Al-Waasithiy, Abu ‘Aliy bin Sulaimaan Al-Maalikiy, Abu Bakr bin Ziyaad An-Naisaabuuriy, Abu ‘Umar Muhammad bin Yuusuf bin Ya’quub Al-Qaadhiy, Muhammad bin Al-Qaasim Al-Muhaaribiy, Al-Hasan bin ‘Aliy Al-‘Adawiy Al-Bashriy, Abu Thaalib Ahmad bin Nashr Al-Haafizh, Ismaa’iil Ash-Shaffaar, Abu Bakr Asy-Syaafi’iy, Ibnul Muzhaffar, Ibnu Hayyawaih An-Naisaabuuriy, Abu Thaahir Adz-Dzuhliy, dan lain-lain.

Murid-murid Ad-Daaraquthniy

Murid-murid beliau adalah Al-Haafizh Al-Imam Abu ‘Abdillaah Al-Haakim, Al-Haafizh ‘Abdul Ghaniy Al-Azdiy, Tammaam Ar-Raaziy, Abu Haamid Al-Isfaraayiiniy, Abu ‘Abdirrahman As-Sulamiy, Al-Haafizh Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy, Abu Bakr Al-Barqaaniy, Abul Hasan Al-‘Atiiqiy, Al-Qaadhiy Abu Ath-Thayyib Ath-Thabariy, Muhammad bin ‘Abdil Malik bin Bisyraan, Abu Haazim bin Al-Farraa’ (saudara Al-Qaadhiy Abu Ya’laa), Hamzah bin Yuusuf As-Sahmiy, Abul Husain bin Al-Muhtadiy Billah, Abu Mas’uud Ad-Dimasyqiy, Ahmad bin Muhammad bin Al-Haarits An-Nahwiy, dan lain-lain.

Pujian Para Ulama Terhadapnya

Beliau adalah lautan ilmu, termasuk diantara para imam dunia yang memiliki nama besar. Ilmu ‘ilal hadits, ilmu para perawi hadits dan kekokohan hifzh (hapalan) berakhir padanya, beliau didahulukan dalam ilmu qira’at dan jalan-jalannya, kedalaman pengetahuannya mengenai fiqh, perbedaan-perbedaan pendapat, maghaziy (kisah-kisah peperangan), tarikh, dan yang selainnya.

Berkata muridnya, Abu ‘Abdillaah Al-Haakim, “Abul Hasan menjadi orang pertama di zamannya dalam hal hapalan, kepahaman dan wara’, seorang imam dalam qira’ah dan ilmu nahwu. Beliau seorang huffaazh besar.”

Abu Dzar (Al-Harawiy) Al-Haafizh berkata, aku bertanya kepada Al-Haakim, “Apakah kau pernah melihat orang seperti Ad-Daaraquthniy?” Al-Haakim menjawab, “Ia sendiri belum pernah melihat orang seperti dirinya, maka bagaimanakah aku (bisa melihat orang yang sepertinya)?”

Abu Ath-Thayyib Ath-Thabariy berkata, “Ad-Daaraquthniy seorang amiirul mu’miniin fil hadiits, tidaklah aku melihat seorang haafizh yang mendatangi Baghdaad kecuali ia mengunjunginya dan mengucapkan salam untuknya.” Al-Khathiib berkata, “Maksudnya adalah salam penghormatan untuknya atas hapalannya dan ketinggian kedudukannya dalam ilmu.”

Al-Khathiib berkata, “Beliau seorang imam di zamannya. Ilmu atsar, ketinggian ilmu ‘ilal hadits, ilmu nama-nama perawi dan keadaan mereka berakhir padanya bersama dengan kejujuran dan sifat amanah beliau, fiqh dan sifat ‘adalah, bersihnya ‘aqidah beliau (dari penyimpangan), selamatnya madzhab beliau (dari madzhab-madzhab yang menyimpang) dan penguasaan beliau atas ilmu-ilmu selain ilmu hadits, diantaranya adalah ilmu qira’ah, penguasaannya atas madzhab para fuqahaa’, serta ilmu sastra dan sya’ir.”

Ibnu Katsiir berkata, “Seorang haafizh besar, guru besar dalam bidang ini (yaitu ilmu hadits) baik sebelum dan sesudah masa beliau hingga zaman kami. Mempunyai pandangan, ta’lil, kritik dan keyakinan yang bagus, seorang imam di negerinya dalam masalah nama-nama perawi hadits, bidang ‘ilal, dan jarh wa ta’dil.

Al-Azhariy berkata, “Aku melihat Ad-Daaraquthniy menjawab Ibnu Abul Fawaaris mengenai masalah ‘illat hadits dan nama (para perawi), ia berkata, “Wahai Abul Fath, tidak ada diantara timur dan barat ini yang mengetahui (masalah) ini selainku.”

Al-Haafizh ‘Abdul Ghaniy Al-Azdiy jika menghikayatkan suatu riwayat dari Ad-Daaraquthniy, ia mengatakan, “Telah berkata ustadzku.”

‘Abdul Ghaniy berkata lagi, “Sebaik-baik kalam manusia atas perkara hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam ada pada 3 orang : ‘Aliy bin Al-Madiiniy pada zamannya, Muusaa bin Haaruun -yakni Ibnul Hammaal- pada zamannya, dan Ad-Daaraquthniy pada zamannya.”

Abu Ath-Thayyib Ath-Thabariy berkata, “Aku menghadiri (majelis) Ad-Daaraquthniy dan aku membacakan kepadanya hadits-hadits yang ia kumpulkan pada masalah berwudhu’ ketika menyentuh zakar. Ia berkata, “Jika saja Ahmad bin Hanbal hadir (di majelis ini) maka tentu ia akan mengambil faidah dari hadits-hadits ini.”

Abu Bakr Al-Barqaaniy berkata, “Ad-Daaraquthniy mendiktekan kepadaku (masalah-masalah) ‘ilal dari hapalannya.”

Al-Haakim berkata, “Ad-Daaraquthniy memasuki Syaam dan Mesir sewaktu usianya beranjak tua kemudian ia menunaikan haji, mengambil faidah dan memberikan faidah ilmu ketika berhaji.”

Abu ‘Abdirrahman As-Sulamiy berkata (seperti dinukil Al-Haakim darinya), “Aku bersaksi dengan nama Allah bahwasanya syaikh kami, Ad-Daaraquthniy, tidak ada yang mampu menggantikannya di permukaan bumi ini dalam hal ketinggian ilmu hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, demikian pula (tidak ada yang mampu menggantikannya dalam hal ketinggian ilmu mengenai) para sahabat, tabi’in dan para pengikut mereka.

Telah shahih bahwa Ad-Daaraquthniy berkata, “Tidak ada sesuatupun yang diriku lebih membencinya selain ilmu kalam.”

Ad-Daaraquthniy berkata, “Kaum dari penduduk Baghdaad berselisih pendapat. Sekelompok kaum berkata bahwa ‘Utsmaan lebih afdhal, sekelompok kaum lagi berkata bahwa ‘Aliy lebih afdhal, lalu mereka meminta aku menghukuminya, maka aku menahan diri dan aku berkata bahwa menahan diri (dari pembicaraan ini) adalah lebih baik, namun kemudian aku melihat bahwa diriku tidaklah (menghendaki untuk) diam, maka aku berkata kepada yang meminta fatwaku, (bahwasanya) aku berharap atas mereka mengatakan, “Abul Hasan berkata bahwa ‘Utsmaan lebih afdhal dari ‘Aliy dengan kesepakatan jama’ah sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.” Inilah perkataan ahlussunnah dan kesepakatan awal untuk menghilangkan (‘aqidah) rafidhah.”

Adz-Dzahabiy berkata, “Jumhur ulama telah sepakat mendahulukan ‘Utsmaan atas ‘Aliy, dan diatas mereka berdua adalah Abu Bakr dan ‘Umar -radhiyallaahu ‘anhum-, barangsiapa yang berpendapat menyelisihi maka ia seorang syi’iy yang hukumannya dicambuk, barangsiapa yang membenci Asy-Syaikhain (Abu Bakr dan ‘Umar) namun berkeyakinan sahnya kepemimpinan mereka maka ia seorang rafidhiy yang jelek, barangsiapa melecehkan dan berkeyakinan bahwasanya keduanya bukan pemimpin yang mendapat petunjuk maka ia seorang rafidhiy ghuluw. Semoga Allah menjauhkan mereka.”

Hamzah As-Sahmiy berkata, aku bertanya kepada Abul Hasan, “Jika An-Nasaa’iy dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan sebuah hadits, manakah yang kami dahulukan?” Ia menjawab, “An-Nasaa’iy, karena tidak ada orang yang semisalnya (dalam hal ketelitian dan kecermatan), dan aku tidak mendahulukannya sama sekali.”

Karya-karyanya

– Kitabnya yang terkenal adalah “As-Sunan”.
– Al-‘Ilal, judul lengkapnya adalah “Al-‘Ilal Al-Waaridah fil Ahaadiitsun Nubuwwah”.
– Al-‘Ilzaamaat wa At-Tatabbi’.
– Al-Mu’talif wa Al-Mukhtalif fiy Asmaa’ir Rijaal.
– Al-Afraad.
– Al-Arba’iin.
– Adh-Dhu’afaa’ wa Al-Matruukiin.
– Al-Qiraa’aat.
– Kitab “Al-Amaaliy”.
– Kitab “Ghariibul Hadiits”.
Dan lain-lain.

Hadits-hadits yang Diperoleh Adz-Dzahabiy yang Sanadnya Sampai Kepada Ad-Daaraquthniy

Disebutkan oleh Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar dengan sanad masing-masing yang melewati Al-Imam Ad-Daaraquthniy (kami sebutkan dua hadits saja) :

أخبرنا أبو إسحاق إبراهيم بن علي , وجماعة إجازة قالوا : أخبرنا داود بن أحمد الوكيل , أخبرنا أبو الفضل محمد بن عمر القاضي , أخبرنا عبد الصمد بن علي , أخبرنا علي بن عمر الحافظ , حدثنا عبد الله بن محمد بن عبد العزيز , حدثني سريج بن يونس , حدثنا عبد الرحمن بن عبد الملك بن أبجر , عن أبيه , عن واصل الأحدب , عن أبي وائل , قال : خطبنا عمار , فأبلغ وأوجز , فقال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إن طول صلاة الرجل , وقصر خطبته مَئِنَّة من فقهه , فأطيلوا الصلاة , واقصروا الخطبة

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ishaaq Ibraahiim bin ‘Aliy, dan jama’ah secara ijaazah, mereka berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Daawud bin Ahmad Al-Wakiil, telah mengkhabarkan kepada kami Abul Fadhl Muhammad bin ‘Umar Al-Qaadhiy, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdush Shamad bin ‘Aliy, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin ‘Umar Al-Haafizh, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Muhammad bin ‘Abdil ‘Aziiz, telah menceritakan kepadaku Suraij bin Yuunus, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Abdil Malik bin Abjar, dari Ayahnya, dari Waashil Al-Ahdab, dari Abu Waa’il, ia berkata, ‘Ammaar berkhutbah kepada kami dengan bahasa yang bermakna dan singkat, ‘Ammaar berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Panjangnya shalat dan singkatnya khutbah seorang laki-laki menunjukkan faqihnya ia (dalam agama), maka panjangkan shalat dan persingkat khutbah kalian.”

Hadits diatas juga diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahiihnya no. 869 dalam pembahasan shalat Jum’at, dari jalan Suraij bin Yuunus.

أخبرنا عبد الخالق بن عبد السلام القاضي , وست الأهل بنت علوان , قالا : أخبرنا عبد الرحيم بن إبراهيم الفقيه , أخبرنا عبد المغيث بن زهير , أخبرنا أحمد بن عبيد الله العكبري , أخبرنا أبو طالب محمد بن علي الحربي , حدثنا علي بن عمر الحافظ , حدثنا ابن صاعد , حدثنا الحسن بن عرفة , حدثنا إسماعيل بن عياش , عن محمد بن زياد , سمعت أبا أمامة , سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم , يقول : وعدني ربي أن يدخل الجنة من أمتي سبعين ألفا بغير حساب ولا عذاب , مع كل ألف سبعين ألفا وثلاث حثيات من حثيات ربي عز وجل

Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul Khaaliq bin ‘Abdissalaam Al-Qaadhiy, dan 6 kerabat dari binti ‘Ulwaan, keduanya berkata, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrahiim bin Ibraahiim Al-Faqiih, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul Mughiits bin Zuhair, telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Ubaidillaah Al-‘Ukbariy, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Thaalib Muhammad bin ‘Aliy Al-Harbiy, telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Umar Al-Haafizh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Shaa’id, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Arafah, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy, dari Muhammad bin Ziyaad, aku mendengar Abu Umaamah, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Rabbku berjanji akan memasukkan ummatku ke dalam surga sebanyak 70000 orang tanpa hisab dan tidak pula adzab, setiap 1000 orang bersama 70000 orang dan tiga cakupan tangan dari tangan Rabbku ‘Azza wa Jalla.”

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnadnya 5/268 dari jalan Abul Yamaan Al-Hakam bin Naafi’. Adz-Dzahabiy berkata, “Sanadnya qawiy (kuat).”

Wafatnya Al-Imam Ad-Daaraquthniy

Beliau wafat pada tahun 385 H pada bulan Dzulqa’dah, dengan usia mencapai 80 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Baab Ad-Diir, dekat dengan makam Ma’ruuf Al-Karkhiy. Demikian disebutkan oleh Abul Hasan bin Al-Fadhl, Ibnu Abul Fawaaris dan Al-‘Atiiqiy.

Rahimahullaahu wa qaddasallaahu ruuhahu fil jannah. Aamiin.

Wallaahu a’lam.

Disarikan dan diterjemahkan secara bebas dari :

“Siyaru A’laam An-Nubalaa'”, karya Al-Haafizh Syamsuddiin Abu ‘Abdillaah Adz-Dzahabiy, tahqiiq : Syaikh Syu’aib Al-Arnaa’uuth, Mu’assasah Ar-Risaalah, cetakan kedua.
“Taraajim Rijaal Ad-Daaruquthniy fiy Sunanihi” bagian biografi Ad-Daaraquthniy, karya Syaikh Muqbil bin Haadiy Al-Waadi’iy, Daarul Atsaar, Shan’aa’, cetakan pertama.
“Al-Ilzaamaat wa At-Tatabbu'” bagian biografi Ad-Daaraquthniy, karya Al-Imam Abul Hasan Ad-Daaruquthniy, dirasah dan tahqiiq : Syaikh Muqbil bin Haadiy Al-Waadi’iy, Daarul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cetakan kedua.

* * * * *

One thought on “Al-Imam Ad-Daaraquthniy, Sang Guru Besar Hadits dan Ilmu-ilmu Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s