Hukum Menghisap Leher Istri Ketika Berjima’

ranjang-besiMarkaz Fatawa Islamweb ditanya :

ما حكم مص رقبة الزوجة من طرف زوجها بقصد إتيان الشهوة، وفي بعض الأحيان يصبح مكان المص لونه أزرق، ما حكم الشرع في هذا وخصوصا إذا قدم أهلها لزيارتها فقد يكون شيء محرجا للغاية، وإذا كان الجو حارا جداً لا تستطيع وضع شيء على رقبتها؟

Apa hukumnya menghisap leher istri bagi suami dengan maksud membangkitkan syahwat keduanya? Dan terkadang pada beberapa kesempatan, di tempat menghisap tersebut timbul bekas berwarna biru, apa hukum syar’i terkait hal ini? Terkhusus jika datang keluarga istri untuk mengunjunginya, maka (bekas ini) sungguh akan menimbulkan perasaan yang tidak enak, terlebih jika udara terasa sangat panas dan istri tidak mampu mengenakan sesuatu untuk menutupi lehernya.

Jawaban :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد

فقد ذكرنا في أكثر من فتوى أنه يجوز لكل من الزوجين أن أن يستمتع بالآخر كيف شاء، لكن بشرط أن يتجنبا مواطن الحرمة، وهما الوطء في الدبر أو القبل أثناء الحيض والنفاس، وراجعي الفتوى رقم: 1974.

وعلى هذا فلا حرج على الزوج أن يمص رقبة زوجته أو نحوها ما لم يصل ذلك إلى الإضرار أو الأذى، فإن بقي أثر ذلك المص بادياً وسئلت عنه فيمكنها أن تتخذ المعاريض ولا تصرح بحقيقة الأمر.

والله أعلم

Alhamdulillah, shalawat serta salam selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, keluarganya serta para sahabatnya. Amma ba’d.

Kami telah menyebutkan terkait hal ini pada banyak fatwa kami bahwasanya dibolehkan atas sepasang suami istri untuk saling menikmati satu dengan yang lain sekehendaknya, namun dengan syarat agar menghindari tempat-tempat yang diharamkan, yaitu bersenggama di dubur atau (menjima’i) kemaluan wanita ketika haid dan nifas. Silahkan rujuk fatwa kami nomor 1974.

Diatas semua ini, maka tidaklah berdosa bagi seorang suami untuk menghisap leher istrinya atau yang sejenisnya selama tidak menuju kepada hal-hal yang menimbulkan mudharat atau membahayakan. Jika bekas hisapan tersebut menimbulkan bekas sehingga dapat terlihat kemudian istri ditanya mengenainya, maka dimungkinkan bagi istri menjawab dengan bahasa sindiran dan tidak menjawab dengan bahasa yang jelas.

Wallaahu a’lam.

Al-Faqiir Ilallaah, Abu Ahmad Tommi Marsetio -wafaqahullah-

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=65653

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s