‘Amr bin Al-‘Aash, Sahabat Nabi yang Cerdik dan Ahli Strategi

mosque-of-amr-ibn-al-asAhlussunnah wal jama’ah mencintai sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, mengucapkan taradhi’ (radhiyallaahu ‘anhum) untuk mereka, serta berlepas diri dari perselisihan yang terjadi diantara mereka dan menyerahkan kepada Allah Ta’ala akan penyelesaiannya. Tidak terkecuali kepada sahabat Nabi yang bernama ‘Amr bin Al-‘Aash, wajib bagi kita mencintai beliau setelah sebelumnya beliau sangat memusuhi Islam dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, bahkan setelah memeluk Islam, beliau menjadi ahli strategi dan ahli siasat cerdik yang membuat jazirah Arab dan Afrika jatuh ke tangan kaum muslimin termasuk Palestina dan Mesir, yang sebelumnya dikuasai oleh Romawi. Keislaman beliau, bai’atnya kepada Rasulullah serta wafatnya beliau terekam dengan baik oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

Islamnya ‘Amr bin Al-‘Aash

Beliau bernama ‘Amr bin Al-‘Aash bin Waa’il bin Haasyim bin Sa’iid bin Sahm bin ‘Amr bin Hushaish bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghaalib Al-Qurasyiy, Abu ‘Abdillaah atau Abu Muhammad As-Sahmiy Al-Makkiy. Ayahnya, Al-‘Aash bin Waa’il adalah pembesar Quraisy yang terhormat di kalangan mereka. Ibunya bernama Naabighah dari bani ‘Anzah.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, kisah masuk Islamnya ‘Amr :

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ ابْنِ إِسْحَاقَ قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ رَاشِدٍ مَوْلَى حَبِيبِ بْنِ أَبِي أَوْسٍ الثَّقَفِيِّ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي أَوْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ مِنْ فِيهِ قَالَ، لَمَّا انْصَرَفْنَا مِنْ الْأَحْزَابِ عَنْ الْخَنْدَقِ جَمَعْتُ رِجَالًا مِنْ قُرَيْشٍ كَانُوا يَرَوْنَ مَكَانِي وَيَسْمَعُونَ مِنِّي فَقُلْتُ لَهُمْ تَعْلَمُونَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَى أَمْرَ مُحَمَّدٍ يَعْلُو الْأُمُورَ عُلُوًّا كَبِيرًا مُنْكَرًا وَإِنِّي قَدْ رَأَيْتُ رَأْيًا فَمَا تَرَوْنَ فِيهِ قَالُوا وَمَا رَأَيْتَ قَالَ رَأَيْتُ أَنْ نَلْحَقَ بِالنَّجَاشِيِّ فَنَكُونَ عِنْدَهُ فَإِنْ ظَهَرَ مُحَمَّدٌ عَلَى قَوْمِنَا كُنَّا عِنْدَ النَّجَاشِيِّ فَإِنَّا أَنْ نَكُونَ تَحْتَ يَدَيْهِ أَحَبُّ إِلَيْنَا مِنْ أَنْ نَكُونَ تَحْتَ يَدَيْ مُحَمَّدٍ وَإِنْ ظَهَرَ قَوْمُنَا فَنَحْنُ مَنْ قَدْ عُرِفَ فَلَنْ يَأْتِيَنَا مِنْهُمْ إِلَّا خَيْرٌ فَقَالُوا إِنَّ هَذَا الرَّأْيُ قَالَ فَقُلْتُ لَهُمْ فَاجْمَعُوا لَهُ مَا نُهْدِي لَهُ وَكَانَ أَحَبَّ مَا يُهْدَى إِلَيْهِ مِنْ أَرْضِنَا الْأَدَمُ فَجَمَعْنَا لَهُ أُدْمًا كَثِيرًا فَخَرَجْنَا حَتَّى قَدِمْنَا عَلَيْهِ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَعِنْدَهُ إِذْ جَاءَ عَمْرُو بْنُ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيُّ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ بَعَثَهُ إِلَيْهِ فِي شَأْنِ جَعْفَرٍ وَأَصْحَابِهِ قَالَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ ثُمَّ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهِ قَالَ فَقُلْتُ لِأَصْحَابِي هَذَا عَمْرُو بْنُ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيُّ لَوْ قَدْ دَخَلْتُ عَلَى النَّجَاشِيِّ فَسَأَلْتُهُ إِيَّاهُ فَأَعْطَانِيهِ فَضَرَبْتُ عُنُقَهُ فَإِذَا فَعَلْتُ ذَلِكَ رَأَتْ قُرَيْشٌ أَنِّي قَدْ أَجْزَأْتُ عَنْهَا حِينَ قَتَلْتُ رَسُولَ مُحَمَّدٍ قَالَ فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ فَسَجَدْتُ لَهُ كَمَا كُنْتُ أَصْنَعُ فَقَالَ مَرْحَبًا بِصَدِيقِي أَهْدَيْتَ لِي مِنْ بِلَادِكَ شَيْئًا قَالَ قُلْتُ نَعَمْ أَيُّهَا الْمَلِكُ قَدْ أَهْدَيْتُ لَكَ أُدْمًا كَثِيرًا قَالَ ثُمَّ قَدَّمْتُهُ إِلَيْهِ فَأَعْجَبَهُ وَاشْتَهَاهُ ثُمَّ قُلْتُ لَهُ أَيُّهَا الْمَلِكُ إِنِّي قَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا خَرَجَ مِنْ عِنْدِكَ وَهُوَ رَسُولُ رَجُلٍ عَدُوٍّ لَنَا فَأَعْطِنِيهِ لِأَقْتُلَهُ فَإِنَّهُ قَدْ أَصَابَ مِنْ أَشْرَافِنَا وَخِيَارِنَا قَالَ فَغَضِبَ ثُمَّ مَدَّ يَدَهُ فَضَرَبَ بِهَا أَنْفَهُ ضَرْبَةً ظَنَنْتُ أَنْ قَدْ كَسَرَهُ فَلَوْ انْشَقَّتْ لِي الْأَرْضُ لَدَخَلْتُ فِيهَا فَرَقًا مِنْهُ ثُمَّ قُلْتُ أَيُّهَا الْمَلِكُ وَاللَّهِ لَوْ ظَنَنْتُ أَنَّكَ تَكْرَهُ هَذَا مَا سَأَلْتُكَهُ فَقَالَ لَهُ أَتَسْأَلُنِي أَنْ أُعْطِيَكَ رَسُولَ رَجُلٍ يَأْتِيهِ النَّامُوسُ الْأَكْبَرُ الَّذِي كَانَ يَأْتِي مُوسَى لِتَقْتُلَهُ قَالَ قُلْتُ أَيُّهَا الْمَلِكُ أَكَذَاكَ هُوَ فَقَالَ وَيْحَكَ يَا عَمْرُو أَطِعْنِي وَاتَّبِعْهُ فَإِنَّهُ وَاللَّهِ لَعَلَى الْحَقِّ وَلَيَظْهَرَنَّ عَلَى مَنْ خَالَفَهُ كَمَا ظَهَرَ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ وَجُنُودِهِ قَالَ قُلْتُ فَبَايِعْنِي لَهُ عَلَى الْإِسْلَامِ قَالَ نَعَمْ فَبَسَطَ يَدَهُ وَبَايَعْتُهُ عَلَى الْإِسْلَامِ ثُمَّ خَرَجْتُ إِلَى أَصْحَابِي وَقَدْ حَالَ رَأْيِي عَمَّا كَانَ عَلَيْهِ وَكَتَمْتُ أَصْحَابِي إِسْلَامِي ثُمَّ خَرَجْتُ عَامِدًا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُسْلِمَ فَلَقِيتُ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَذَلِكَ قُبَيْلَ الْفَتْحِ وَهُوَ مُقْبِلٌ مِنْ مَكَّةَ فَقُلْتُ أَيْنَ يَا أَبَا سُلَيْمَانَ قَالَ وَاللَّهِ لَقَدْ اسْتَقَامَ الْمَنْسِمُ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَنَبِيٌّ أَذْهَبُ وَاللَّهِ أُسْلِمُ فَحَتَّى مَتَى قَالَ قُلْتُ وَاللَّهِ مَا جِئْتُ إِلَّا لِأُسْلِمَ قَالَ فَقَدِمْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدِمَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ فَأَسْلَمَ وَبَايَعَ ثُمَّ دَنَوْتُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُبَايِعُكَ عَلَى أَنْ تَغْفِرَ لِي مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِي وَلَا أَذْكُرُ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَمْرُو بَايِعْ فَإِنَّ الْإِسْلَامَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَإِنَّ الْهِجْرَةَ تَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهَا قَالَ فَبَايَعْتُهُ ثُمَّ انْصَرَفْتُ، قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ وَقَدْ حَدَّثَنِي مَنْ لَا أَتَّهِمُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ طَلْحَةَ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ كَانَ مَعَهُمَا أَسْلَمَ حِينَ أَسْلَمَا

Telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Ibraahiim, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ayahku, dari Ibnu Ishaaq, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Yaziid bin Abu Habiib, dari Raasyid maulaa Habiib bin Abu Aus Ats-Tsaqafiy, dari Habiib bin Abu Aus, ia berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Amr bin Al-‘Aash dari dirinya sendiri, ia berkata :

“Ketika pasukan kami kembali dari peperangan Khandaq, maka aku segera mengumpulkan orang-orang Quraisy, merekalah orang-orang yang paling mengerti kedudukanku dan setia mendengar ucapanku, kukatakan kepada mereka, “Demi Allah, sungguh telah kulihat sepak terjang Muhammad dan kaumnya yang sangat cerdik dan meresahkan. Aku punya suatu ide dan aku akan meminta tanggapan kalian.“ Orang-orang Quraisy bertanya, “Apa idemu?” ‘Amr berkata, “Sebaiknya kita temui Raja Najasyiy, kita pengaruhi dia dan tetap berada di sisinya. Jika ternyata Muhammad yang menang atas kaum kita, kita telah berada di sisi Raja Najasyiy. Dibawah perlindungannya adalah lebih aku sukai daripada dibawah kekuasaan Muhammad. Sebaliknya jika ternyata kaum kita yang menang maka kita telah dikenal oleh Raja Najasyiy sehingga tidaklah kaum muslimin menemui kita kecuali mereka akan membawa kebaikan semata (dan tidak akan memerangi kita).” Orang-orang Quraisy menanggapi, “Sungguh idemu ini sangat bagus (wahai ‘Amr)!”

‘Amr melanjutkan, “Maka kukatakan kepada orang-orang itu, “Sekarang tolong kumpulkan hadiah untuk sang raja, dan hadiah yang paling beliau sukai dari negeri kita adalah kulit hewan yang disamak.” Maka kami kumpulkan sekian banyak kulit hewan yang telah disamak, kemudian kami berangkat ke negeri Habasyah hingga akhirnya kami berhasil menemui Raja Najasyiy.

Demi Allah, ketika kami sedang berasa disisinya, tiba-tiba datanglah ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamriy yang telah diutus Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan kepada Raja Najasyiy perihal Ja’far bin Abi Thaalib dan kawan-kawannya. Rupanya ‘Amr bin Umayyah menemui Raja Najasyiy hanya sebentar dan segera pamit bergegas.

‘Amr bin Al-‘Aash berkata, “Maka kukatakan kepada teman-temanku yang menyertaiku, “‘Amr bin Umayyah rupanya telah datang kemari, jika nanti kutemui Raja Najasyiy maka aku akan meminta beliau agar bersedia menyerahkan ‘Amr bin Umayyah dan langsung akan kupenggal lehernya! Kalaulah bisa kulakukan yang demikian dan kaum Quraisy mengetahui tindakanku, maka berarti telah kulakukan pembalasan yang sepadan sebagai pelipur lara untuk kaum Quraisy karena aku berhasil membunuh utusan Muhammad.”

Segera kutemui Raja Najasyiy, aku bersujud kepadanya sebagaimana biasa aku lakukan kepada para pemimpin suatu kaum. Raja Najasyiy menyambutku dengan ramah, “Selamat datang wahai sahabatku, dan atas hadiahmu kepadaku dari negerimu.” Kujawab, “Benar wahai raja, telah kami persembahkan untukmu sekian banyak kulit hewan yang disamak.”

Kulit-kulit itu kuhamparkan didepannya. Beliau sangat terkesan dan terkagum-kagum. Kemudian aku segera menyampaikan maksud kedatangan kami, “Wahai raja, telah kulihat tadi seseorang pamit bergegas dari sisimu, aku mengenalnya, dia adalah utusan seseorang yang menjadi musuh kami. Tolonglah serahkan orang itu agar bisa kupenggal lehernya sebab orang yang mengutusnya telah melukai dan membunuh orang-orang terhormat dan pemimpin-pemimpin kami, kaum Quraisy.” Raja Najasyiy tiba-tiba menjadi marah sambil menjulurkan tangannya dan ia menampar hidungku dengan keras hingga kuperkirakan hidungku hampir remuk, aku sampai berangan-angan jikalau bumi terbelah, maka akan kumasuki karena aku merasa takut melihat kemarahannya.

Kemudian aku katakan pada beliau, “Duhai raja, kalau engkau tak berkenan terhadap permohonanku ini, maka aku akan menariknya kembali.” Raja Najasyiy membalas, “Apakah engkau memintaku untuk menyerahkan utusan seseorang yang telah didatangi malaikat teragung (Jibriil) yang pernah mendatangi Muusaa dengan maksud untuk kau bunuh?” Aku (‘Amr) berkata, “Apakah benar (Muhammad seperti itu)?” Raja Najasyiy melanjutkan, “Celaka engkau, wahai ‘Amr bin Al-‘Aash! Dengarkanlah perkataanku dan taatilah ia! Demi Allah, sungguh ia berada diatas kebenaran dan Allah pasti akan memenangkannya atas siapa saja yang memusuhinya sebagaimana Muusaa mengalahkan Fir’aun dan bala tentaranya!”

Aku terdiam dan berpikir beberapa saat, lalu kukatakan, “Tolong bai’atlah aku kepadanya untuk Islam.” Raja Najasyiy menjawab, “Baiklah.” Kemudian beliau menjulurkan tangannya dan aku berbaiat kepadanya untuk Islam. Kemudian aku pamit mohon diri dan pikiranku pun berubah dari tujuan semula kami berangkat ke negeri Habasyah, kurahasiakan keislamanku dari teman-temanku. Aku merencanakan akan langsung menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan bai’at dan keislamanku.

Aku bertemu dengan Khaalid bin Al-Waliid beberapa hari sebelum Fathu Makkah dan aku lihat Khaalid akan keluar dari Makkah. Aku bertanya padanya, “Mau kemana engkau wahai Abu Sulaimaan?” Khaalid menjawab, “Demi Allah, wahai ‘Amr, jalan petunjuk telah terang, laki-laki (Muhammad) itu betul-betul seorang Nabi. Berangkatlah kesana untuk menemuinya. Demi Allah, masuklah ke dalam Islam! sampai kapan kau menunggu wahai putra Al-‘Aash?” Aku menjawab, “Aku memang berencana untuk menemuinya dan menyatakan keislaman.”

Maka kami pun menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Khaalid masuk islam dan menyatakan bai’atnya kepada Rasulullah. Kemudian aku mendekat pada beliau dan kunyatakan, “Wahai Rasulullah, aku berbaiat kepadamu agar engkau memaafkan dosa-dosaku yang akan datang, yang tidak kusebutkan dan yang telah lewat.” Lantas Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai ‘Amr, berbaiatlah! Sebab Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu, dan hijrah itu menghapus kesalahan-kesalahan sebelumnya.” Maka aku berbai’at kepada beliau kemudian aku pulang.

Ibnu Ishaaq mengatakan, “Sungguh telah menceritakan kepadaku seseorang yang tidak tertuduh (berdusta), ia berkata bahwa ‘Utsmaan bin Thalhah bin Abu Thalhah masuk Islam bersama mereka.”
[Musnad Ahmad 29/312] – Hasan lighairihi.

Habiib bin Abu Aus dalam kisah diatas mempunyai mutaba’ah dari Ibnu Syimaasah pada bagian bai’at ‘Amr bin Al-‘Aash :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ أَخْبَرَنَا لَيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ ابْنِ شِمَاسَةَ أَنَّ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ قَالَ لَمَّا أَلْقَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي قَلْبِي الْإِسْلَامَ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُبَايِعَنِي فَبَسَطَ يَدَهُ إِلَيَّ فَقُلْتُ لَا أُبَايِعُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَتَّى تَغْفِرَ لِي مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِي قَالَ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَمْرُو أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْهِجْرَةَ تَجُبُّ مَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ يَا عَمْرُو أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ مِنْ الذُّنُوبِ؟

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ishaaq, telah mengkhabarkan kepada kami Laits bin Sa’d, dari Yaziid bin Abu Habiib, dari Ibnu Syimaasah, bahwasanya ‘Amr bin Al-‘Aash berkata :

“Ketika Allah ‘Azza wa Jalla menanamkan Islam dalam hatiku, maka akupun mendatangi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam agar beliau membaiatku. Kemudian beliau mengulurkan tangannya kepadaku, lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak akan membaiatmu sebelum engkau memberi maaf atas dosa-dosaku yang telah lalu.”

Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, “Wahai ‘Amr, tidakkah kau tahu bahwa hijrah menghapus dosa-dosa yang telah lalu? Wahai Amru, tidakkah kau tahu bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu?”
[Musnad Ahmad 29/360] – Sanadnya shahih

Wafatnya ‘Amr bin Al-‘Aash

‘Amr berislam dengan bagus, bahkan melalui tangan dan akalnya yang cerdik, kaum muslimin berhasil memperoleh kemenangan yang banyak. Dan tidaklah manusia memperoleh umur yang kekal melainkan Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan memanggilnya kembali. Kisah wafatnya ‘Amr diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ الْمُبَارَكِ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ قَالَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ شِمَاسَةَ حَدَّثَهُ قَالَ لَمَّا حَضَرَتْ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ الْوَفَاةُ بَكَى فَقَالَ لَهُ ابْنُهُ عَبْدُ اللَّهِ لِمَ تَبْكِي أَجَزَعًا عَلَى الْمَوْتِ فَقَالَ لَا وَاللَّهِ وَلَكِنْ مِمَّا بَعْدُ فَقَالَ لَهُ قَدْ كُنْتَ عَلَى خَيْرٍ فَجَعَلَ يُذَكِّرُهُ صُحْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفُتُوحَهُ الشَّامَ فَقَالَ عَمْرٌو تَرَكْتَ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنِّي كُنْتُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَطْبَاقٍ لَيْسَ فِيهَا طَبَقٌ إِلَّا قَدْ عَرَفْتُ نَفْسِي فِيهِ كُنْتُ أَوَّلَ شَيْءٍ كَافِرًا فَكُنْتُ أَشَدَّ النَّاسِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَوْ مِتُّ حِينَئِذٍ وَجَبَتْ لِي النَّارُ فَلَمَّا بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْتُ أَشَدَّ النَّاسِ حَيَاءً مِنْهُ فَمَا مَلَأْتُ عَيْنِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا رَاجَعْتُهُ فِيمَا أُرِيدُ حَتَّى لَحِقَ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيَاءً مِنْهُ فَلَوْ مِتُّ يَوْمَئِذٍ قَالَ النَّاسُ هَنِيئًا لِعَمْرٍو أَسْلَمَ وَكَانَ عَلَى خَيْرٍ فَمَاتَ فَرُجِيَ لَهُ الْجَنَّةُ ثُمَّ تَلَبَّسْتُ بَعْدَ ذَلِكَ بِالسُّلْطَانِ وَأَشْيَاءَ فَلَا أَدْرِي عَلَيَّ أَمْ لِي فَإِذَا مِتُّ فَلَا تَبْكِيَنَّ عَلَيَّ وَلَا تُتْبِعْنِي مَادِحًا وَلَا نَارًا وَشُدُّوا عَلَيَّ إِزَارِي فَإِنِّي مُخَاصِمٌ وَسُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا فَإِنَّ جَنْبِيَ الْأَيْمَنَ لَيْسَ بِأَحَقَّ بِالتُّرَابِ مِنْ جَنْبِي الْأَيْسَرِ وَلَا تَجْعَلَنَّ فِي قَبْرِي خَشَبَةً وَلَا حَجَرًا فَإِذَا وَارَيْتُمُونِي فَاقْعُدُوا عِنْدِي قَدْرَ نَحْرِ جَزُورٍ وَتَقْطِيعِهَا أَسْتَأْنِسْ بِكُمْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ishaaq, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullaah -yakni Ibnul Mubaarak-, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Lahii’ah, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Yaziid bin Abu Habiib, bahwa ‘Abdurrahman bin Syimaasah telah menceritakan kepadanya, ia berkata :

“Ketika aku hadir pada saat-saat wafatnya ‘Amr bin Al-‘Aash, ia menangis, maka anaknya, ‘Abdullaah berkata, “Kenapa kau menangis, apakah karena kau takut mati?” ‘Amr menjawab, “Tidak, demi Allah. Akan tetapi, aku takut akan apa yang terjadi setelahnya.” ‘Abdullaah berkata, “Sesungguhnya kau telah berada di atas kebaikan.” ‘Abdullaah kemudian mengingatkan akan persahabatan ayahnya bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan juga penaklukannya terhadap Syaam.

‘Amr berkata, “Kau tidak menyebutkan yang lebih besar keutamaannya daripada itu semua, yaitu syahadah bahwa ‘Tidak ada Sesembahan yang berhak disembah selain Allah’. Sesungguhnya diriku berada di atas tiga keadaan dan tidak ada satu keadaan pun kecuali aku telah mengenalnya di dalamnya. Aku adalah orang yang pertama kali kafir, dan aku adalah orang yang paling keras (permusuhannya) terhadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sekiranya aku meninggal sewaktu aku masih kafir, niscaya aku pasti akan masuk neraka. Ketika membai’at Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, aku adalah orang yang paling malu (sungkan) terhadap beliau, karena itu aku tidak pernah memandang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula meminta pertimbangan beliau terhadap sesuatu yang aku inginkan hingga beliau menemui Allah, dan aku masih malu pada beliau. Sekiranya pada hari itu aku meninggal, niscaya orang-orang akan mengatakan, “Berbahagialah ‘Amr, ia telah memeluk Islam dan berada di atas kebaikan, lalu ia meninggal dan diharapkan ia pun akan masuk surga.” Setelah itu aku kemudian berkecimpung dengan harta dan kekuasaan, maka aku tidak tahu apakah itu adalah kebinasaan atasku ataukah kebaikan bagiku. Karena itu, jika aku meninggal maka janganlah kalian menangisiku, janganlah mengikutiku dengan pujian ataupun dupa api. Kemudian eratkanlah ikatan kain kafanku karena aku akan mendebat (siapa yang menyelisihinya). Setelah itu, timbunlah dan ratakanlah tanahnya, karena rusuk kananku tidak lebih berhak untuk bersentuhan dengan tanah dari rusuk kiriku. Jangan kalian meletakkan kayu atau batu di atas kuburku, dan saat kalian hendak meninggalkanku, maka duduklah di sisiku selama waktu yang kalian gunakan untuk menyembelih dan memotong unta, karena aku merasa senang dengan kehadiran kalian.”
[Musnad Ahmad 29/317] – Sanadnya hasan.

Hadits ini terdapat pada Shahiih Muslim no. 123, Kitab Iman, Bab : Islam meleburkan dosa-dosa sebelumnya, begitu pula hijrah dan haji.

‘Amr bin Al-‘Aash, sahabat Nabi yang mulia, wafat di Mesir pada malam ‘Idul Fithr atau dikatakan pada hari ‘Idul Fithr tahun 43 H, begitulah yang dikatakan Al-Waaqidiy, Al-Laits bin Sa’d, Al-Haitsam bin ‘Adiy dan lainnya, sedangkan pendapat lain menyebutkan tahun 51 H.

Beliau sosok pemimpin yang dicintai, oleh karena itu dibangun Masjid ‘Amr bin Al-‘Aash oleh rakyat Mesir di daerah Fusthath, Kairo untuk mengenang beliau. Menurut sejarah, masjid ini adalah masjid yang pertama kali dibangun di Mesir, dan masjid yang pertama kali dibangun di benua Afrika. Semoga Allah Ta’ala meridhai ‘Amr bin Al-‘Aash, menempatkannya di jannahNya serta mengampuni segala kesalahan-kesalahannya.

Wallaahu a’lam.

Al-Faqiir Ilallaah, Abu Ahmad Tommi Marsetio -wafaqahullah-

Sumber :

Musnad Al-Imam Ahmad“, karya : Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Tahqiiq, takhriij & ta’liiq : Syaikh Syu’aib Al-Arnaa’uuth, Mu’assasah Ar-Risaalah, cetakan pertama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s