Islamnya ‘Umar bin Al-Khaththaab, Dirasah dan Beberapa Faidah dari Kisah-kisah Lemah yang Masyhur

omar-bin-khattabNama dan nasab beliau adalah ‘Umar bin Al-Khaththaab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzzaa bin Riyaah bin ‘Abdillaah bin Qurth bin Razaah bin ‘Adiy bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghaalib Al-Qurasyiy, Abu Hafsh Al-‘Adawiy Al-Madaniy, Amiirul Mu’miniin yang kedua, khalifah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sebelum memeluk Islam, beliau adalah orang kafir Quraisy yang paling keras permusuhannya terhadap Islam, namun Allah Ta’ala telah membuka hatinya untuk menerima Islam kemudian memeluknya, membelanya, menyebar luaskannya, dan wafat diatasnya.

Pada masa kekhalifahannya-lah, kerajaan Persia dapat ditaklukkan oleh kaum muslimin, Baitul Maqdis dapat direbut dari imperium Romawi oleh kaum muslimin dengan dipimpin komandan mereka, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarraah radhiyallaahu ‘anhu, serta direbutnya Mesir dari Romawi melalui ‘Amr bin Al-‘Aash radhiyallaahu ‘anhu.

Kekhalifahan beliau adalah keberkahan bagi umat Islam, kemakmuran dan ketenangan merebak di berbagai negeri kaum muslimin. ‘Umar sendiri adalah sosok pemimpin tegas dan keras, beliau tidak segan-segan menindak para gubernurnya jika ia mendapat laporan bahwa mereka tidak berbuat adil dalam memerintah daerah tugasnya atau melakukan tindakan yang melanggar aturan Allah dan RasulNya. Bahkan para ulama mengatakan bahwa ‘Umar bagai tembok kokoh yang menghalangi fitnah dan perpecahan masuk kepada umat Islam hingga kemudian ‘Umar wafat karena ditusuk oleh seorang tokoh Majusi, barulah setelah itu fitnah dan ujian datang melanda kaum muslimin bagai air bah menerjang.

Kisah islamnya ‘Umar bin Al-Khaththaab terdiri dari berbagai versi, salah satunya adalah kisah yang sudah sangat akrab pada kaum muslimin, kami akan paparkan pada pemaparan selanjutnya, insya Allah. Yang cukup mengejutkan kami adalah salah satu kisah ini ternyata dijadikan film pada sebuah film bertemakan islam berjudul “‘Umar” yang tahun lalu diputar di Indonesia oleh salah satu stasiun televisi ketika bulan Ramadhan.

1. Islamnya ‘Umar Ketika Ia Mendengar Surat Thaahaa

Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muhammad bin Sa’d Az-Zuhriy rahimahullah :

أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ يُوسُفَ الأَزْرَقُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الْقَاسِمُ بْنُ عُثْمَانَ الْبَصْرِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: خَرَجَ عُمَرُ مُتَقَلِّدَ السَّيْفِ، فَلَقِيَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُهْرَةَ، قَالَ: أَيْنَ تَعْمِدُ يَا عُمَرُ؟ فَقَالَ: أُرِيدُ أَنْ أَقْتُلَ مُحَمَّدًا، قَالَ: وَكَيْفَ تَأْمَنُ فِي بَنِي هَاشِمٍ، وَبَنِي زُهْرَةَ وَقَدْ قَتَلْتَ مُحَمَّدًا؟ قَالَ: فَقَالَ عُمَرُ: مَا أَرَاكَ إِلا قَدْ صَبَوْتَ وَتَرَكْتَ دِينَكَ الَّذِي أَنْتَ عَلَيْهِ، قَالَ: أَفَلا أَدُلُّكَ عَلَى الْعَجَبِ يَا عُمَرُ، إِنَّ خَتْنَكَ وَأُخْتَكَ قَدْ صَبَوَا وَتَرَكَا دِينَكَ الَّذِي أَنْتَ عَلَيْهِ، قَالَ: فَمَشَى عُمَرُ ذَامِرًا حَتَّى أَتَاهُمَا وَعِنْدَهُمَا رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ يُقَالُ لَهُ: خَبَّابٌ، قَالَ: فَلَمَّا سَمِعَ خَبَّابَ حِسَّ عُمَرَ تَوَارَى فِي الْبَيْتِ، فَدَخَلَ عَلَيْهِمَا فَقَالَ: مَا هَذِهِ الْهَيْنَمَةُ الَّتِي سَمِعْتُهَا عِنْدَكُمْ؟ قَالَ: وَكَانُوا يَقْرَءُونَ طه، فَقَالا: مَا عَدَا حَدِيثًا تَحَدَّثْنَاهُ بَيْنَنَا، قَالَ: فَلَعَلَّكُمَا قَدْ صَبَوْتُمَا؟ قَالَ: فَقَالَ لَهُ خَتْنُهُ: أَرَأَيْتَ يَا عُمَرُ إِنْ كَانَ الْحَقُّ فِي غَيْرِ دِينِكَ؟ قَالَ: فَوَثَبَ عُمَرُ عَلَى خَتْنِهِ فَوَطِئَهُ وَطْأً شَدِيدًا، فَجَاءَتْ أُخْتُهُ فَدَفَعَتْهُ عَنْ زَوْجِهَا فَنَفَحَهَا بِيَدِهِ نَفْحَةً فَدَمِيَ وَجْهُهَا، فَقَالَتْ وَهِيَ غَضْبَى: يَا عُمَرُ، إِنْ كَانَ الْحَقُّ فِي غَيْرِ دِينِكَ، اشْهَدْ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَاشْهَدْ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَلَمَّا يَئِسَ عُمَرُ، قَالَ: أَعْطُونِي هَذَا الْكِتَابَ الَّذِي عِنْدَكُمْ فَأَقْرَؤُهُ، قَالَ: وَكَانَ عُمَرُ يَقْرَأُ الْكُتُبَ، فَقَالَتْ أُخْتُهُ: إِنَّكَ رِجْسٌ وَلا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ، فَقُمْ فَاغْتَسِلْ أَوْ تَوَضَّأْ، قَالَ: فَقَامَ عُمَرُ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ أَخَذَ الْكِتَابَ فَقَرَأَ طه حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَوْلِهِ: إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي قَالَ: فَقَالَ عُمَرُ: دُلُّونِي عَلَى مُحَمَّدٍ، فَلَمَّا سَمِعَ خَبَّابٌ قَوْلَ عُمَرَ خَرَجَ مِنَ الْبَيْتِ فَقَالَ: أَبْشِرْ يَا عُمَرُ، فَإِنِّي أَرْجُو أَنْ تَكُونَ دَعْوَةُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَكَ لَيْلَةَ الْخَمِيسِ: ” اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلامَ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَوْ بِعَمْرِو بْنِ هِشَامٍ “، قَالَ: وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي الدَّارِ الَّتِي فِي أَصْلِ الصَّفَا، فَانْطَلَقَ عُمَرُ حَتَّى أَتَى الدَّارَ، قَالَ: وَعَلَى بَابِ الدَّارِ حَمْزَةُ، وَطَلْحَةُ، وَأُنَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا رَأَى حَمْزَةُ وَجَلَ الْقَوْمِ مِنْ عُمَرَ، قَالَ حَمْزَةُ: نَعَمْ، فَهَذَا عُمَرُ فَإِنْ يُرِدِ اللَّهُ بِعُمَرَ خَيْرًا يُسْلِمْ وَيَتْبَعِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَإِنْ يُرِدْ غَيْرَ ذَلِكَ يَكُنْ قَتْلُهُ عَلَيْنَا هَيِّنًا، قَالَ: وَالنَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلامُ دَاخِلٌ يُوحَى إِلَيْهِ، قَالَ: فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى أَتَى عُمَرُ فَأَخَذَ بِمَجَامِعِ ثَوْبِهِ وَحَمَائِلِ السَّيْفِ فَقَالَ: ” أَمَا أَنْتَ مُنْتَهِيًا يَا عُمَرُ حَتَّى يُنْزِلَ اللَّهُ بِكَ مِنَ الْخِزْي وَالنَّكَالِ مَا أَنْزَلَ بِالْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ، اللَّهُمَّ هَذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الدِّينَ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ” قَالَ: فَقَالَ عُمَرُ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ، فَأَسْلَمَ، وَقَالَ: اخْرُجْ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Telah mengkhabarkan kepada kami Ishaaq bin Yuusuf Al-Azraq, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Qaasim bin ‘Utsmaan Al-Bashriy, dari Anas bin Maalik -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, “‘Umar keluar sambil menggenggam sebilah pedang, ia pun bertemu dengan seorang lelaki dari bani Zuhrah, laki-laki tersebut bertanya, “Hendak kemanakah engkau, wahai ‘Umar?” ‘Umar menjawab, “Aku hendak membunuh Muhammad!” Laki-laki berkata, “Bagaimanakah nanti kau mengamankan dirimu dari bani Haasyim dan bani Zuhrah jika kau telah membunuh Muhammad?” ‘Umar berkata, “Tidaklah aku melihatmu melainkan sungguh kau telah keluar dan meninggalkan agamamu yang dahulu kau berada diatasnya!” Laki-laki berkata, “Maukah kutunjukkan sesuatu padamu yang akan membuatmu takjub wahai ‘Umar? Sesungguhnya iparmu (yaitu Sa’iid bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail) dan saudari perempuanmu (yaitu Faathimah binti Al-Khaththaab) telah keluar dan meninggalkan agamamu yang dahulu kau berada diatasnya!”

Maka ‘Umar pun segera bergegas melangkah hingga ia pun mendatangi mereka berdua sedangkan di sisi mereka ada seorang laki-laki dari kaum Muhajirin yang bernama Khabbaab (bin Al-Aaraat). Ketika Khabbaab mendengar suara langkah kaki dan merasakan kehadiran ‘Umar, ia segera bersembunyi didalam rumah. ‘Umar pun masuk ke dalam rumah dan bertanya kepada shahibul bait, “Apakah perkataan yang barusan kudengar dari kalian?”

Anas berkata, “Pada saat itu mereka sedang membaca Al-Qur’an surat Thaahaa.”

Keduanya menjawab, “Tidak ada, kecuali pembicaraan yang memang kami sedang memperbincangkannya,” ‘Umar bertanya lagi, “Benarkah bahwa kalian berdua telah keluar (dari agama kalian)?” Iparnya balik bertanya, “Bagaimanakah menurutmu wahai ‘Umar jika Al-Haqq ternyata berada diluar agamamu?”

‘Umar pun langsung menerjang iparnya tersebut, ia menendangnya dengan tendangan yang keras. Saudari perempuan ‘Umar segera memisahkan ‘Umar dari suaminya, maka ‘Umar pun menamparnya dengan tangannya, berdarahlah wajah saudarinya seraya berkata dengan marah, “Wahai ‘Umar! Jika Al-Haqq berada diluar agamamu, ketahuilah bahwasanya aku bersaksi tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah!” ‘Umar pun merasa menyesal (atas apa yang dilakukannya), ia berkata, “Berikan aku kitab yang kalian baca, aku akan coba membacanya.”

Anas berkata, “Pada saat itu ‘Umar termasuk orang Quraisy yang pandai membaca kitab-kitab.”

Saudarinya berkata, “Sesungguhnya engkau itu najis, tidaklah Al-Qur’an itu disentuh melainkan oleh orang-orang yang suci, berdirilah engkau untuk mandi atau berwudhu’,” Maka ‘Umar pun berdiri lalu berwudhu’, kemudian ia mengambil lembaran Al-Qur’an tersebut dan membaca, “Thaahaa,” hingga berakhir pada firmanNya, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haqq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS Thaahaa : 14).”

‘Umar berkata, “Tunjukkanlah padaku dimana Muhammad berada!” Ketika Khabbaab mendengar perkataan ‘Umar yang demikian, segeralah ia keluar dari tempat persembunyiannya, ia berseru kepada ‘Umar, “Bergembiralah wahai ‘Umar! Sesungguhnya aku berharap kau adalah jawaban Allah atas do’a Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pada malam Kamis : Allaahumma a’izzal Islaama bi ‘Umarabnil Khaththaabi aw bi ‘Amribni Hisyaamin (‘Amr bin Hisyaam adalah Abu Jahl, -pent) (arti do’a ini adalah : Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan ‘Umar bin Al-Khaththaab atau ‘Amr bin Hisyaam, -pent).” Saudari ‘Umar berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang berada di rumah yang terletak di kaki bukit Shaffaa.” ‘Umar pun langsung pergi hingga ia datang ke tempat yang dimaksud saudarinya.

Hamzah, Thalhah dan sekelompok sahabat Rasulullah sedang berada di pintu rumah. Ketika Hamzah melihat orang-orang takut atas kedatangan ‘Umar, ia berkata, “Ya, ini adalah ‘Umar, jika Allah menghendaki kebaikan atasnya maka ia akan masuk Islam dan mengikuti Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, namun jika Dia menghendaki diluar itu maka kami akan membunuhnya dengan tanpa kesulitan.”

Nabi pun diberitahu akan kedatangan ‘Umar, kemudian beliau keluar hingga datanglah ‘Umar, Rasulullah langsung mencengkram kerah baju ‘Umar dan sarung pedangnya, beliau bersabda, “Akankah kau berhenti wahai ‘Umar, hingga nanti Allah akan menurunkan kehinaan dan siksa padamu seperti apa yang menimpa Al-Waliid bin Mughiirah. Ya Allah, inilah ‘Umar bin Al-Khaththaab! Ya Allah, kuatkanlah agama Islam dengan ‘Umar bin Al-Khaththaab!”

‘Umar pun bersaksi, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah,” maka ‘Umar pun memeluk Islam. Ia berkata kepada Rasulullah, “Keluarlah wahai Rasulullah (kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi)!”
[Ath-Thabaqaat Al-Kubraa li Ibni Sa’d 3/248]

Diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqiy (Dalaa’il An-Nubuwwah 2/219); Ibnu Syabah (Taariikh Al-Madiinah 1/348); Al-Haakim (Al-Mustadrak 4/59); Al-Balaadzuriy (Ansaabul Asyraaf 10/289); Ibnu ‘Asaakir (Taariikh Dimasyq 44/33); Ibnul Jauziy (Al-Muntazham 4/132).

Dan diriwayatkan dengan matan yang diringkas, oleh Ad-Daaraquthniy (Sunan no. 435); Ad-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy (Al-Mukhtarah no. 2302 dan 2303); Ath-Thabaraaniy (Mu’jam Al-Ausath no. 1860), semua meriwayatkan dari Ishaaq bin Yuusuf Al-Azraq, dari Al-Qaasim, dari Anas.

Kisah ini disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Hisyaam dalam Sirah Nabawiyyah 1/370 dengan menukil dari Ibnu Ishaaq, ia menggunakan sighat “balaghaniy” (disampaikan kepadaku) yang merupakan isyarat tidak mu’tamadnya kisah ini.

Dr. ‘Aliy Muhammad Ash-Shalabiy juga menyebutkan kisah ini pada buku beliau yang khusus membahas mengenai khalifah ‘Umar, judulnya “Fashl Al-Khathaab fiy Siirah Amiirul Mu’miniin ‘Umar bin Al-Khaththaab”.

Pembahasan Derajat Sanad Kisah

Al-Imam Ath-Thabaraaniy mengisyaratkan akan tafarrudnya Al-Qaasim dengan perkataannya :

لا تُرْوَى هَذِهِ الأَحَادِيثُ الثَّلاثَةُ عَنْ أَنَسٍ إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ، تَفَرَّدَ بِهَا الْقَاسِمُ

“Ketiga hadits-hadits ini tidaklah teriwayatkan dari Anas kecuali dengan sanad ini, Al-Qaasim tafarrud didalamnya.”

Dan, sanad kisah islamnya ‘Umar ini dha’iif, cacatnya terletak pada perawi yang bernama Al-Qaasim :

Al-Qaasim bin ‘Utsmaan, Abul ‘Alaa’ Al-Bashriy. Abu Ja’far Al-‘Uqailiy berkata “Ishaaq Al-Azraq meriwayatkan darinya hadits-hadits yang tidak mempunyai mutaba’ah sedikitpun”, Adz-Dzahabiy berkata “Ishaaq Al-Azraq meriwayatkan darinya dengan matan yang utuh mengenai kisah Islamnya ‘Umar, dan kisah ini munkar jiddan”. [Taariikhul Kabiir 7/165; Adh-Dhu’afaa’ Al-‘Uqailiy no. 1541; Miizaanul I’tidaal 5/456]

Al-Haafizh Abul ‘Abbaas Al-Buushiiriy menguatkan akan kelemahan sanad hadits ini dengan perkataannya :

رواه أبو يعلى الموصلي بسند ضعيف لضعف القاسم بن عثمان

“Diriwayatkan Abu Ya’laa Al-Maushiliy (sebagaimana disebutkan dalam Al-Mathaalibul ‘Aaliyah no. 4281, -pent) dengan sanad yang dha’iif, karena kedha’ifan Al-Qaasim bin ‘Utsmaan.” [Ithaaf Al-Khairah Al-Mahrah 9/222]

2. Islamnya ‘Umar Ketika Ia Mendengar Surat Al-‘Alaq

Ia diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَمْزَةَ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ رَبِيعَةَ، ثنا أَبُو الأَشْعَثِ، عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلامَ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ “، وَقَدْ ضَرَبَ أُخْتَهُ أَوَّلَ اللَّيْلِ، وَهِي تَقْرَأُ: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ حَتَّى أَظُنَّ أَنَّهُ قَتَلَهَا، ثُمَّ قَامَ مِنَ السَّحَرِ فَسَمِعَ صَوْتَهَا، تَقْرَأُ: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، فَقَالَ: وَاللَّهِ مَا هَذَا بِشِعْرٍ، وَلا هَمْهَمَةٍ، فَذَهَبَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَوَجَدَ بِلالا، عَلَى الْبَابِ فَدَفَعَ الْبَابَ، فَقَالَ بِلالٌ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، فَقَالَ: حَتَّى أَسْتَأْذِنَ لَكَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ بِلالٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ عُمَرُ بِالْبَابِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” إِنْ يُرِدِ اللَّهُ بِعُمَرَ خَيْرًا، أَدْخَلَهُ فِي الدِّينِ “، فَقَالَ لِبِلالٍ: ” افْتَحْ ” وَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِضَبْعَيْهِ فَهَزَّهُ، فَقَالَ: ” مَا الَّذِي تُرِيدُ، وَمَا الَّذِي جِئْتَ؟ “، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: اعْرِضْ عَلَيَّ الَّذِي تَدْعُو إِلَيْهِ، قَالَ: ” تَشْهَدُ أَنَّ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ “، فَأَسْلَمَ عُمَرُ مَكَانَهُ، وَقَالَ: ” اخْرُجْ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Yahyaa bin Hamzah, telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim, telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Rabii’ah, telah menceritakan kepada kami Abul Asy’ats, dari Tsaubaan -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan ‘Umar bin Al-Khaththaab.” Tsaubaan berkata, “Dan sungguh ia (‘Umar) telah memukul saudarinya pada awal malam sementara saudarinya tersebut tengah membaca : Iqra’ bismi Rabbikal ladziy khalaq (QS Al-‘Alaq : 1), hingga aku menduga bahwa ‘Umar telah membunuh saudarinya.

Kemudian ‘Umar bangun menjelang subuh dan ia mendengar suara saudarinya yang membaca : Iqra’ bismi Rabbikal ladziy khalaq. ‘Umar berkata, “Demi Allah, tidaklah ini sejenis sya’ir, bukan pula suara orang meracau.” Maka ‘Umar pergi hingga ia mendatangi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan ia mendapati Bilaal di pintu, Bilaal segera menutup pintu seraya bertanya, “Siapa itu?” Dijawab, “‘Umar bin Al-Khaththaab,” Bilaal berkata kembali, “Hingga aku memintakan izin untukmu dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam (tetaplah kau berdiri di tempatmu).”

Bilaal berkata, “Wahai Rasulullah, ‘Umar sedang berada di depan pintu.” Rasulullah bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi ‘Umar, Dia akan memasukkannya ke dalam agama Islam. Bukalah (wahai Bilaal)!” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menggenggam kedua tangan ‘Umar lalu menggoncangkannya seraya bertanya, “Apa yang kau inginkan, dan apa yang membuatmu datang?” ‘Umar menjawab, “Tunjukkan aku kepada apa yang engkau serukan.”

Rasulullah bersabda, “Bersaksilah bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya.” Maka masuk Islamlah ‘Umar di tempat ia berdiri, ia berkata, “Keluarlah (wahai Rasulullah, tidak perlu bersembunyi lagi)!”
[Mu’jam Al-Kabiir no. 1428]

Pembahasan Derajat Sanad Kisah

Telah berkata Al-Haafizh Abul Hasan Al-Haitsamiy :

فيه يزيد بن ربيعة الرحبي وهو متروك وقال إبن عدي أرجو أنه لا بأس به وبقية رجاله ثقات

“Didalam sanadnya ada Yaziid bin Rabii’ah Ar-Rahabiy dan dia matruuk, Ibnu ‘Adiy berkata, “Aku berharap bahwa tidak mengapa dengannya.” Para perawi sisanya adalah orang-orang tsiqah.” [Majma’ Az-Zawaa’id 9/65]

Yaziid bin Rabii’ah Ar-Rahabiy, Abu Kaamil Ad-Dimasqiy. Al-Bukhaariy berkata “hadits-haditsnya mungkar”, Abu Haatim, Ad-Daaraquthniy dan lainnya melemahkannya, An-Nasaa’iy berkata “matruuk”, Abu Mushir berkata “ia seorang faqih, bukan tertuduh (berdusta), kami tidak mengingkarinya bahwa ia memang pernah bertemu Abul Asyats, namun kami khawatir akan buruknya hapalan dan wahm-nya”, Ibnu Hibbaan berkata “seorang syaikh yang jujur, terkecuali ia mengalami ikhtilath di akhir umurnya, ia meriwayatkan riwayat-riwayat yang terbolak-balik, tidak boleh menjadikannya hujjah jika ia bersendirian”. [Taariikhul Kabiir 8/332; Adh-Dhu’afaa’ wal Matruukiin li Ad-Daaraquthniy hal. 398; Miizaanul I’tidaal 7/238]

Kami menambahkan bahwa sebab-sebab kelemahannya tidak hanya Yaziid, melainkan ada syaikhnya Ath-Thabaraaniy :

Ahmad bin Muhammad bin Yahyaa bin Hamzah Al-Batalhiy Ad-Dimasyqiy. Abu Ahmad Al-Haakim berkata “fiihi nazhar, Abul Jahm meriwayatkan darinya hadits-hadits baathil”, Adz-Dzahabiy berkata “padanya terdapat riwayat-riwayat mungkar” dan disepakati Al-Haafizh. [Miizaanul I’tidaal 1/296; Lisaanul Miizaan 1/650]

Sanad ini pun rapuh, ia dha’iif jiddan dan tidak bisa dipakai sebagai penguat bagi kisah pertama karena Yaziid adalah perawi yang ditinggalkan hadits-haditsnya dan kelemahan Ahmad bin Muhammad bin Yahyaa bin Hamzah.

3. Kisah Islamnya ‘Umar Setelah Membaca Surat Al-Hadiid yang Diriwayatkan dari ‘Umar Sendiri

Kisah yang sangat panjang ini diriwayatkan Al-Imam Abu Bakr Al-Bazzaar dalam Musnad-nya :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحِ، وَمُحَمَّدُ بْنُ رِزْقِ اللَّهِ، قَالا: نا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَتُحِبُّونَ أَنْ أُعْلِمَكُمْ، أَوَّلَ إِسْلامِي؟ قَالَ: قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: كُنْتُ أَشَدَّ النَّاسِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبَيْنَا أَنَا فِي يَوْمٍ شَدِيدِ الْحَرِّ فِي بَعْضِ طُرُقِ مَكَّةَ إِذْ رَآنِي رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ، فَقَالَ: أَيْنَ تَذْهَبُ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ قُلْتُ: أُرِيدُ هَذَا الرَّجُلَ، فَقَالَ: يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، قَدْ دَخَلَ عَلَيْكَ هَذَا الأَمْرُ فِي مَنْزِلِكَ وَأَنْتَ تَقُولُ هَكَذَا، فَقُلْتُ: وَمَا ذَاكَ؟ فَقَالَ: إِنَّ أُخْتَكَ قَدْ ذَهَبَتْ إِلَيْهِ، قَالَ: فَرَجَعْتُ مُغْتَضِبًا حَتَّى قَرَعْتُ عَلَيْهَا الْبَابَ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَسْلَمَ بَعْضُ مَنْ لا شَيْءَ لَهُ ضَمَّ الرَّجُلَ وَالرَّجُلَيْنِ إِلَى الرَّجُلِ يُنْفِقُ عَلَيْهِ، قَالَ: وَكَانَ ضَمَّ رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِهِ إِلَى زَوْجِ أُخْتِي، قَالَ: فَقَرَعْتُ الْبَابَ، فَقِيلَ لِي: مَنْ هَذَا؟ قُلْتُ: أَنَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، وَقَدْ كَانُوا يَقْرَءُونَ كِتَابًا فِي أَيْدِيهِمْ، فَلَمَّا سَمِعُوا صَوْتِي قَامُوا حَتَّى اخْتَبَئُوا فِي مَكَانٍ وَتَرَكُوا الْكِتَابَ، فَلَمَّا فَتَحَتْ لِي أُخْتِيَ الْبَابَ، قُلْتُ: أَيَا عَدُوَّةَ نَفْسِهَا أَصَبَوْتِ ؟ قَالَ: وَأَرْفَعُ شَيْئًا فَأَضْرِبُ بِهِ عَلَى رَأْسِهَا، فَبَكَتِ الْمَرْأَةُ، وَقَالَتْ لِي: يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، اصْنَعْ مَا كُنْتَ صَانِعًا فَقَدْ أَسْلَمْتُ، فَذَهَبْتُ فَجَلَسْتُ عَلَى السَّرِيرِ، فَإِذَا بِصَحِيفَةٍ وَسَطَ الْبَابِ، فَقُلْتُ: مَا هَذِهِ الصَّحِيفَةُ هَا هُنَا؟ فَقَالَتْ لِي: دَعْنَا عَنْكَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ فَإِنَّكَ لا تَغْتَسِلُ مِنَ الْجَنَابَةِ، وَلا تَتَطَهَّرُ، وَهَذَا لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ، فَمَا زِلْتُ بِهَا حَتَّى أَعْطَتْنِيهَا فَإِذَا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فَلَمَّا قَرَأْتُ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ تَذَكَّرْتُ مِنْ أَيْنَ اشْتُقَ، ثُمَّ رَجَعْتُ إِلَى نَفْسِي، فَقَرَأْتُ فِي الصَّحِيفَةِف سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُق، فَكُلَّمَا مَرَرْتُ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ ذَكَرْتُ اللَّهَ، فَأَلْقَيْتُ الصَّحِيفَةَ مِنْ يَدِي، قَالَ: ثُمَّ أَرْجِعُ إِلَى نَفْسِي، فَأَقْرَأُ فِيهَاف سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُق حَتَّى بَلَغَف آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِق، قَالَ: قُلْتُ: أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَخَرَجَ الْقَوْمُ مُبَادِرِينَ فَكَبَّرُوا اسْتَبْشَارًا بِذَلِكَ، ثُمَّ قَالُوا لِي: أَبْشِرْ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ دَعَا يَوْمَ الاثْنَيْنِ، فَقَالَ: ” اللَّهُمَّ أَعِزَّ الدِّينَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ، إِمَّا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَإِمَّا أَبُو جَهْلِ بْنُ هِشَامٍ “.
وَأَنَا نَرْجُو أَنْ تَكُونَ دَعْوَةُ رَسُولِ اللَّهِ لَكَ، فَقُلْتُ: دُلُّونِي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ أَيْنَ هُوَ؟ فَلَمَّا عَرَفُوا الصِّدْقَ مِنِّي دَلُّونِي عَلَيْهِ فِي الْمَنْزِلِ الَّذِي هُوَ فِيهِ، فَجِئْتُ حَتَّى قَرَعْتُ الْبَابَ، فَقَالَ: مَنْ هَذَا؟ فَقُلْتُ: عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، وَقَدْ عَلِمُوا شِدَّتِي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَلَمْ يَعْلَمُوا بِإِسْلامِي، فَمَا اجْتَرَأَ أَحَدٌ مِنْهُمْ أَنْ يَفْتَحَ لِي حَتَّى قَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ : ” افْتَحُوا لَهُ، فَإِنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يَهْدِهِ “.
قَالَ: فَفُتِحَ لِي الْبَابُ، فَأَخَذَ رَجُلانِ بِعَضُدِي حَتَّى دَنَوْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ : ” أَرْسِلُوهُ ” فَأَرْسَلُونِي، فَجَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَأَخَذَ بِمَجَامِعِ قَمِيصِي ثُمَّ قَالَ: ” أَسْلِمْ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، اللَّهُمَّ اهْدِهِ “.
فَقُلْتُ: أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: فَكَبَّرَ الْمُسْلِمُونَ تَكْبِيرَةً سُمِعَتْ فِيَ طُرُقِ مَكَّةَ، قَالَ: وَقَدْ كَانُوا سَبْعِينَ قَبْلَ ذَلِكَ، وَكَانَ الرَّجُلُ إِذَا أَسْلَمَ فَعَلِمَ بِهِ النَّاسُ يَضْرِبُونَهُ وَيَضْرِبُهُمْ، قَالَ: فَجِئْتُ إِلَى رَجُلٍ فَقَرَعْتُ عَلَيْهِ الْبَابَ فَقَالَ: مَنْ هَذَا؟ قُلْتُ: عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، فَخَرَجَ إِلَيَّ، فَقُلْتُ لَهُ: أَعَلِمْتَ أَنِّي قَدْ صَبَوْتُ؟ قَالَ: أَوَ فَعَلْتَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: لا تَفْعَلْ، قَالَ: وَدَخَلَ الْبَيْتَ فَأَجَافَ الْبَابَ دُونِي، قَالَ: فَذَهَبْتُ إِلَى رَجُلٍ آخَرَ مِنْ قُرَيْشٍ فَنَادَيْتُهُ فَخَرَجَ، فَقُلْتُ لَهُ: أَعَلِمْتَ أَنِّي قَدْ صَبَوْتُ، فَقَالَ: أَوَ فَعَلْتَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: لا تَفْعَلْ وَدَخَلَ الْبَيْتَ وَأَجَافَ الْبَابَ دُونِي، فَقُلْتُ: مَا هَذَا بِشَيْءٍ، قَالَ: فَإِذَا أَنَا لا أُضْرَبُ وَلا يُقَالُ لِي شَيْءٌ، فَقَالَ الرَّجُلُ أَتُحِبُّ أَنْ يُعْلَمَ إِسْلامُكَ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: إِذَا جَلَسَ النَّاسُ فِي الْحِجْرِ فَأْتِ فُلانًا فَقُلْ لَهُ فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ: أَشَعَرْتَ أَنِّي قَدْ صَبَوْتُ فَإِنَّهُ قَلَّ مَا يَكْتُمُ الشَّيْءَ، فَجِئْتُ إِلَيْهِ وَقَدِ اجْتَمَعَ النَّاسُ فِي الْحِجْرِ فَقُلْتُ لَهُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ: أَشَعَرْتَ أَنِّي قَدْ صَبَوْتُ؟ قَالَ: فَقَالَ: أَفَعَلْتَ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ أَلا إِنَّ عُمَرَ قَدْ صَبَا، قَالَ: فَثَارَ إِلَيَّ أُولَئِكَ النَّاسُ فَمَا زَالُوا يَضْرِبُونِي وَأَضْرِبُهُمْ، حَتَّى أَتَى خَالِي فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ عُمَرَ قَدْ صَبَا، فَقَامَ عَلَى الْحِجْرِ فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ: أَلا إِنِّي قَدْ أَجَرْتُ ابْنَ أُخْتِي فَلا يَمَسُّهُ أَحَدٌ، قَالَ: فَانْكَشَفُوا عَنِّي فَكُنْتُ لا أَشَاءُ أَنْ أَرَى أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ يُضْرَبُ إِلا رَأَيْتُهُ فَقُلْتُ: مَا هَذَا بِشَيْءٍ، إِنَّ النَّاسَ يُضْرَبُونَ وَأَنَا لا أُضْرَبُ، وَلا يُقَالُ لِي شَيْءٌ فَلَمَّا جَلَسَ النَّاسُ فِي الْحِجْرِ جِئْتُ إِلَى خَالِي فَقُلْتُ: اسْمَعْ، جِوَارُكَ عَلَيْكَ رَدٌّ، قَالَ: لا تَفْعَلْ، قَالَ: فَأَبَيْتُ فَمَا زِلْتُ أُضْرَبُ وَأَضْرِبُ حَتَّى أَظْهَرَ اللَّهُ الإِسْلامَ

Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ash-Shabaah dan Muhammad bin Rizqillah, keduanya berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim, dari Usaamah bin Zaid, dari Ayahnya, dari Kakeknya, ia berkata, ‘Umar bin Al-Khaththaab radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Apakah kalian suka jika aku beritahu kalian mengenai awal keislamanku?” Aslam maulaa ‘Umar berkata, kami berkata, “Ya, ceritakanlah.” ‘Umar pun melanjutkan, “Aku dahulu adalah manusia yang paling keras kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Suatu saat aku sedang berada di sebagian jalan-jalan kota Makkah di hari yang sangat panas, ketika seorang laki-laki Quraisy melihatku, ia bertanya, “Hendak kemana engkau, wahai Ibnul Khaththaab?” Aku menjawab, “Aku menginginkan laki-laki ini (Muhammad)!” Laki-laki itu berkata, “Wahai Ibnul Khaththaab, sungguh perkara ini telah sedemikian besar memasukimu dan keluargamu sementara engkau berkata seperti itu.” Aku bertanya, “Perkara apa itu?” Ia menjawab, “Sesungguhnya saudarimu telah murtad (dari agamamu) kepadanya!”

Mendengar itu aku segera beranjak menuju rumah saudariku dengan perasaan yang sangat marah hingga aku tiba di depan pintu rumahnya. Ketika itu Rasulullah jika mengislamkan beberapa orang yang tidak memiliki apa-apa, maka beliau mengumpulkan beberapa orang laki-laki untuk berinfaq kepada mereka yang miskin ini, dan waktu itu beliau mengumpulkan dua orang laki-laki dari sahabatnya kepada suami dari saudariku (sehingga mereka bisa membantunya).

‘Umar berkata, “Maka akupun mengetuk pintu rumahnya dan terdengar suara yang bertanya kepadaku, “Siapa itu?” Akupun menjawab, “Aku, ‘Umar bin Al-Khaththaab.” Saat itu mereka sedang membaca sebuah kitab di tangan mereka, ketika mereka mendengar suaraku segeralah mereka berdiri dan menyembunyikan kitabnya di suatu tempat seraya meninggalkannya di tempat itu. Saudariku membukakan pintu untukku, aku bertanya kepadanya, “Wahai musuh yang memusuhi dirinya, bukankah kau telah murtad?” Akupun memukulnya tepat di kepalanya, maka menangislah ia, ia berkata, “Wahai Ibnul Khaththaab, berbuatlah apa yang kau suka! Sungguh aku memang telah masuk Islam!”

Aku segera menyingkir darinya dan aku terduduk di atas kursi. Aku melihat ada sebuah lembaran di tengah pintu, maka kutanyakan kepadanya, “Lembaran apakah yang ada disana?” Saudariku menjawab, “Jauhilah lembaran itu wahai Ibnul Khaththaab, sesungguhnya kau belum mandi janabah dan kau belum bersuci, tidak boleh menyentuhnya melainkan orang-orang yang suci.”

Aku membiarkan lembaran itu tetap berada disitu hingga saudariku memberikannya kepadaku (setelah aku mandi dan bersuci). Didalamnya terdapat tulisan “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim”, ketika aku membaca “Ar-Rahmaanir Rahiim”, aku bergumam penuh takjub, “Darimana datangnya kata-kata ini?” Kemudian aku menguasai diriku kembali. Lalu aku membaca “Sabbaha Lillaahi maa fis samaawaati wal ardhi wa huwal ‘Aziizul Hakiim (semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu)” (QS Al-Hadiid : 1)”, setiap kali aku melewati nama dari nama-nama Allah, tanpa sadar aku menyebut, “Allah!” Akupun melempar lembaran tersebut dari tanganku, kemudian aku menguasai diriku dan kembali aku baca “Sabbaha Lillaahi maa fis samaawaati wal ardhi wa huwal ‘Aziizul Hakiim” hingga sampai pada “Aaminuu billaahi wa Rasuulihi wa anfiquu mimmaa ja’alakum mustakhlafiina fiih (berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya)” (QS Al-Hadiid : 7), akupun mengucapkan, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah!”

Maka keluarlah orang-orang yang bersembunyi seraya bertakbir dan saling memberi kabar gembira ini. Kemudian mereka berkata kepadaku, “Bergembiralah wahai Ibnul Khaththaab! Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah berdo’a pada hari Senin, “Ya Allah, kuatkanlah agama ini dengan dua orang laki-laki yang Kau cintai, apakah ‘Umar bin Al-Khaththaab ataukah Abu Jahl bin Hisyaam,” dan kami berharap engkaulah yang menjadi jawaban dari do’a Rasulullah.”

Aku berkata, “Tunjukkanlah aku kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau berada?” Ketika mereka mengetahui ketulusan dari diriku maka mereka menunjukkan dimana tempat Rasulullah berada. Aku mendatangi tempat tersebut dan kuketuk pintunya, ditanyakan dari dalam rumah, “Siapa itu?” Aku menjawab, “‘Umar bin Al-Khaththaab.” Sungguh mereka telah mengetahui kekerasanku terhadap Rasulullah namun mereka belum mengetahui keislamanku. Tak seorangpun dari mereka yang bergeming untuk membukakan pintu hingga Rasulullah bersabda, “Bukakanlah untuknya, jika Allah menghendaki kebaikan baginya maka Dia akan menunjukinya.”

Maka dibukakanlah pintu rumah dan segera dua orang laki-laki meringkusku hingga mereka menjauhkanku dari Rasulullah, beliau bersabda, “Lepaskan ia!” Mereka melepaskanku, aku duduk di hadapan beliau, beliau menggenggam ikatan gamisku dan bersabda, “Islamlah wahai Ibnul Khaththaab! Ya Allah, tunjukilah ia!” Akupun berucap di hadapan beliau, “Aku bersaksi tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Mendengar aku mengucap syahadat, maka kaum muslimin yang ada disitu pun bertakbir dengan suara takbir yang terdengar hingga ke jalan-jalan kota Makkah. Saat itu kaum muslimin berjumlah 70 orang sebelumnya. Setiap ada seorang laki-laki yang memeluk Islam dan diketahui oleh orang-orang kafir maka mereka akan mengeroyok dan memukulinya. Lalu aku mendatangi rumah seorang laki-laki kafir, kuketuk pintunya dan ia bertanya dari dalam, “Siapa itu?” Kujawab, “‘Umar bin Al-Khaththaab,” ia pun keluar dan kukatakan kepadanya, “Maukah kuberitahukan padamu bahwa sungguh aku telah murtad (keluar dari agama kalian),” Ia bertanya, “Kau melakukannya?” Aku menjawab, “Benar!” Ia berkata, “Jangan kau lakukan!” Laki-laki itu langsung masuk dan membanting pintunya. (Begitulah seterusnya yang terjadi hingga ‘Umar mengetuk pintu rumah lain dari kaum Quraisy).

‘Umar melanjutkan, “Ini tidak menjadi masalah bagiku, namun tidak ada yang memukuliku dan tidak ada yang berkata-kata tentangku. Maka seorang laki-laki berkata, “Sukakah engkau kuberitahu cara mereka mengetahui keislamanmu?” Aku menjawab, “Ya.” Lalu laki-laki itu memberikan saran, “Jika orang-orang sedang duduk-duduk di sekitar Al-Hijr, maka datangilah fulaan dan katakanlah dengan pelan : Aku beritahukan engkau bahwasanya aku telah murtad, karena sesungguhnya fulaan adalah orang yang tidak bisa menutupi rahasia.”

Aku segera mendatanginya dan aku mendapati orang-orang sedang berkumpul di sekitar Al-Hijr. Aku katakan kepada fulaan dengan pelan, “Aku beritahukan engkau bahwasanya aku telah murtad.” Fulaan bertanya, “Kau melakukannya?” Aku menjawab, “Benar.” Fulaan pun berteriak dengan suara yang keras, “Ketahuilah, sesungguhnya ‘Umar telah murtad!”

Maka orang-orang itu segera menyerangku dan senantiasa mereka memukuliku dan aku membalas pukulan mereka, hingga datanglah salah seorang pamanku dari keluarga ibu. Dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya ‘Umar telah murtad.” Pamanku berdiri diatas Al-Hijr dan berseru dengan suara yang keras, “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah melindungi putra saudariku, maka jangan ada seorangpun yang menyentuhnya!” Orang-orang tersebut segera menyingkir dariku. Aku tidak ingin melihat seorangpun dari kaum muslimin yang dipukuli melainkan aku melihatnya sementara aku berkata, “Ini tidak menjadi masalah, orang-orang dipukuli sementara aku tidak dan tidak ada yang mengatakan apa-apa terhadapku.”

Ketika orang-orang sedang duduk di Al-Hijr, aku kembali mendatangi pamanku, aku katakan padanya, “Dengarlah! Aku kembalikan perlindunganmu terhadapku,” Ia berkata, “Jangan kau lakukan itu.” Aku menolak permintaannya dan senantiasa aku dipukuli sementara aku balas memukul hingga Allah menampakkan Islam.”
[Musnad Al-Bazzaar no. 279]

Kisah ini diriwayatkan pula oleh Ahmad (Fadhaa’ilush Shahaabah no. 376); Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy (Hilyatul Auliyaa’ 1/41; Ma’rifatush Shahaabah no. 7833); Al-Baihaqiy (Dalaa’il An-Nubuwwah 2/216); Ismaa’iil bin Muhammad Al-Ashbahaaniy (Siyar Salafush Shaalihiin 1/94); Ibnul ‘Atsiir (Usdul Ghaabah 3/320), semua dari jalan Ishaaq bin Ibraahiim Al-Hunainiy, dari Usaamah bin Zaid bin Aslam, dari Ayahnya, dari Kakeknya, yaitu Aslam, dari ‘Umar.

Pembahasan Derajat Sanad Kisah

Seakan-akan mengisyaratkan akan kelemahan kisah ini, Al-Imam Abu Bakr Al-Bazzaar berkata :

وَهَذَا الْحَدِيثُ لا نَعْلَمُ رَوَاهُ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ عُمَرَ إِلا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحُنَيْنِيُّ، وَلا نَعْلَمُ يُرْوَى فِي قِصَّةِ إِسْلامِ عُمَرَ إِسْنَادٌ أَحْسَنُ مِنْ هَذَا الإِسْنَادِ، عَلَى أَنَّ الْحُنَيْنِيَّ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّهُ خَرَجَ عَنِ الْمَدِينَةِ فَكَفَّ وَاضْطَرَبَ حَدِيثُهُ

“Dan hadits ini tidaklah kami ketahui diriwayatkan dari Usaamah bin Zaid, dari Ayahnya, dari Kakeknya, dari ‘Umar kecuali melalui Ishaaq bin Ibraahiim Al-Hunainiy, dan kami tidak mengetahui kisah Islamnya ‘Umar diriwayatkan dengan sanad yang lebih hasan daripada sanad ini. Dan atas Al-Hunainiy, disebutkan kepada kami bahwa ia keluar dari Madinah lalu ia kehilangan penglihatannya dan haditsnya menjadi guncang.”

Abul Hasan Al-Haitsamiy dalam Kasyful Astaar no. 2491 menukil perkataan Al-Bazzaar. Kemudian didalam Al-Majma’ 9/66, Al-Haitsamiy menambahkan :

فيه أسامة بن زيد بن أسلم وهو ضعيف

“Didalamnya ada Usaamah bin Zaid bin Aslam, dan dia dha’iif.”

Ishaaq bin Ibraahiim Al-Hunainiy, Abu Ya’quub Al-Madaniy. Ibnu ‘Adiy berkata “ditulis haditsnya bersama dengan kelemahannya”, Al-Bukhaariy berkata “fiihi nazhar”, An-Nasaa’iy berkata “tidak tsiqah”, Abu Haatim berkata “aku melihat Ahmad bin Shaalih tidak meridhainya”, Abul Fath Al-Azdiy berkata “salah dalam haditsnya”, Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat, seraya berkata “yukhti'”, Al-Haafizh berkata “dha’iif”. [Miizaanul I’tidaal 1/329; Tahdziibul Kamaal no. 337; Taqriibut Tahdziib no. 337]

Usaamah bin Zaid bin Aslam Al-Qurasyiy Al-‘Adawiy, Abu Zaid Al-Madaniy, saudara ‘Abdurrahman dan ‘Abdullaah bin Zaid bin Aslam. Ahmad dalam suatu riwayat berkata “aku khawatir bahwa ia tidak kuat dalam hadits”, dalam riwayat lain ia berkata “munkarul hadiits, dha’iif”, Ibnu Ma’iin berkata “anak-anak Zaid bin Aslam tidak ada nilainya dalam hadits”, dalam riwayat lain ia berkata “dha’iif”, Abu Haatim berkata “ditulis haditsnya namun tidak dijadikan hujjah”, An-Nasaa’iy berkata “laisa bil qawiy”, Al-Haafizh berkata “dha’iif dari sisi hapalannya”. [Tahdziibul Kamaal no. 315; Taqriibut Tahdziib no. 315]

Oleh karena itu sanad Al-Bazzaar diatas dha’iif dengan sebab keduanya.

Al-Imam Al-Haakim meriwayatkan dengan sanad yang berbeda :

أَخْبَرَنَاهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ حَمْدَانَ الْجَلابُ بِهَمْدَانَ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بُرْدٍ الأَنْطَاكِيُّ، ثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحُنَيْنِيُّ، ثَنَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ” لَمَّا فَتَحَتْ لِي أُخْتِي، قُلْتُ: يَا عَدُوَّةَ نَفْسِهَا، أَصَبَوْتِ ؟ قَالَتْ: وَرَفَعَ شَيْئًا، فَقَالَتْ: يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، مَا كُنْتَ صَانِعًا فَاصْنَعْهُ، فَإِنِّي قَدْ أَسْلَمْتُ. قَالَ: فَدَخَلْتُ، فَجَلَسْتُ عَلَى السَّرِيرِ، فَإِذَا بِصَحِيفَةٍ وَسَطَ الْبَيْتِ، فَقُلْتُ: مَا هَذِهِ الصَّحِيفَةُ هَاهُنَا؟ فَقَالَتْ: دَعْنَا عَنْكَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، أَنْتَ لا تَغْتَسِلُ مِنَ الْجَنَابَةِ، وَلا تَطْهُرُ، وَهَذَا لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ

Telah mengkhabarkannya kepada kami ‘Abdurrahman bin Hamdaan Al-Jalaab -di Hamdaan-, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Burd Al-Anthaakiy, telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim Al-Hunainiy, telah menceritakan kepada kami Usaamah bin Zaid bin Aslam, dari Ayahnya, dari ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “…(al-hadiits).”
[Al-Mustadrak 4/151]

Sanad Al-Haakim ini selain dha’iif juga munqathi’ karena Zaid bin Aslam tidak pernah bertemu dengan ‘Umar. Maka, terjadi idhtiraab pada kedua sanad, di satu sisi teriwayatkan secara maushul mauquuf, dan di sisi yang lain teriwayatkan secara munqathi’ antara Zaid bin Aslam dan ‘Umar.

Maka kisah ini sama seperti kisah-kisah sebelumnya, tidak bisa dijadikan hujjah, maupun dijadikan syawahid karena rapuh sanadnya.

4. Kisah Islamnya ‘Umar Setelah Mendengar Rasulullah Membaca Surat Al-Haaqqah

Kisah ini diriwayatkan Al-Imam Ahmad bin Hanbal :

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا صَفْوَانُ، حَدَّثَنَا شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ، قَالَ: قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: ” خَرَجْتُ أَتَعَرَّضُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَبْلَ أَنْ أُسْلِمَ، فَوَجَدْتُهُ قَدْ سَبَقَنِي إِلَى الْمَسْجِدِ، فَقُمْتُ خَلْفَهُ، فَاسْتَفْتَحَ سُورَةَ الْحَاقَّةِ، فَجَعَلْتُ أَعْجَبُ مِنْ تَأْلِيفِ الْقُرْآنِ، قَالَ: فَقُلْتُ: هَذَا وَاللَّهِ شَاعِرٌ كَمَا قَالَتْ قُرَيْشٌ، قَالَ: فَقَرَأَ: إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلا مَا تُؤْمِنُونَ، قَالَ: قُلْتُ: كَاهِنٌ، قَالَ: وَلا بِقَوْلِ كَاهِنٍ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأَقَاوِيلِ لأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ إِلَى آخِرِ السُّورَةِ، قَالَ: فَوَقَعَ الْإِسْلَامُ فِي قَلْبِي كُلَّ مَوْقِعٍ

Telah menceritakan kepada kami Abul Mughiirah, telah menceritakan kepada kami Shafwaan, telah menceritakan kepada kami Syuraih bin ‘Ubaid, ia berkata, ‘Umar bin Al-Khaththaab berkata, “Aku keluar untuk menghadang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sebelum aku masuk Islam, namun aku dapati beliau telah mendahuluiku hingga tiba di masjid dan aku berdiri di belakangnya, kemudian beliau membuka shalatnya dengan membaca surat Al-Haaqqah sehingga aku terkagum-kagum dengan susunan Al Qur’an,”

‘Umar melanjutkan, maka aku berkata, “Demi Allah, orang ini adalah seorang penya’ir sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy,” Kemudian beliau membaca ayat, “Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul yang mulia. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya (QS Al-Haaqqah : 40-41),”

‘Umar berkata, maka aku berkata, “Tukang tenung,” kemudian beliau membaca, “Dan bukan pula perkataan tukang tenung, sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu,” hingga akhir surat (QS Al-Haaqqah : 42-52), maka ‘Umar berkata, “Maka Islam benar-benar merasuk didalam hatiku.”
[Musnad Ahmad 1/262]

Diriwayatkan pula oleh Al-Waahidiy (Tafsiir Al-Wasiith 4/349); Ibnu ‘Asaakir (Taariikh Dimasyq 44/28); Ibnul Atsiir (Usdhul Ghaabah 3/319), semua dari jalan Abul Mughiirah dan seterusnya.

Pembahasan Derajat Sanad Kisah

Al-Haafizh Ibnu Katsiir berkata dalam Musnad Al-Faaruuq 2/619 :

هذا حديث حسن جيد الإسناد إلا أن شريح بن عبيد هذا هو الحضرمي الشامي الحمصي، وهو أحد الثقات، لم يدرك أيام عمر فيما قاله أبو زرعة الرازي وغيره

“Hadits ini hasan, sanadnya jayyid terkecuali Syuraih bin ‘Ubaid, dia adalah Al-Hadhramiy Asy-Syaamiy Al-Himshiy, dia perawi tsiqah, namun tidak menemui masa-masa ‘Umar sebagaimana dikatakan oleh Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan yang lainnya.”

Al-Haafizh Abul Hasan Al-Haitsamiy berkata dalam Majma’ Az-Zawaa’id 9/65 :

رجاله ثقات إلا أن شريح بن عبيد لم يدرك عمر

“Para perawinya adalah orang-orang tsiqah kecuali Syuraih bin ‘Ubaid tidak pernah bertemu ‘Umar.”

Dan Syaikh Syu’aib Al-Arnaa’uuth dalam ta’liiqnya terhadap Musnad Ahmad berkata :

إسناده ضعيف لإنقطاعة، شريح بن عبيد لم يدرك عمر

“Sanadnya dha’iif karena keterputusan, Syuraih bin ‘Ubaid tidak pernah bertemu ‘Umar.”

Jadi, berdasarkan perkataan para huffaazh dan muhaqqiq diatas, bahwasanya sanad kisah ini pun tidak terlepas dari kelemahan karena inqitha’ antara Syuraih dan ‘Umar, walaupun para perawinya adalah orang-orang tsiqah.

Tanbiihaat

Kelemahan kisah-kisah ini telah jelas, dan walaupun ternukil dari banyak jalan periwayatan namun tidak bisa saling menguatkan dikarenakan pada salah satu jalannya terdapat perawi matruuk dan perawi matruuk jelas tidak bisa dipakai hadits-haditsnya juga tidak bisa dijadikan mutaba’ah atau syaahid, salah satu jalannya juga terjadi idhtiraab, serta jalan lainnya munqathi’ antara perawi tabi’in dengan ‘Umar, sehingga jelaslah dalam literatur ilmu hadits, hadits-hadits seperti ini tidak bisa dijadikan hujjah.

Dari sisi matan hadits pun terlihat jelas keguncangannya, dalam salah satu jalan periwayatan disebut bahwa ‘Umar mendengar surat Ath-Thaahaa, dalam jalan yang lain disebut ia mendengar surat Al-‘Alaq, sedangkan dalam jalan yang lainnya ia membaca surat Al-Hadiid, dan pada jalan yang terakhir disebutkan ia mendengar surat Al-Haaqqah langsung dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sehingga terjadi ta’aarudh dan tidak bisa ditentukan mana yang benar dari kisah-kisah ini.

Maka cukuplah bagi kita setelah tahu bahwa kisah-kisah ini lemah, tidak menjadikannya hujjah dan tidak menyebarkannya kepada khalayak, kecuali jika ingin memberitahukan mengenai kelemahannya.

Kisah Shahih Islamnya ‘Umar bin Al-Khaththaab

Kita sudah memiliki riwayat yang shahih mengenai Islamnya beliau. Ia diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dengan sanad dan matan :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ: ثنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَيُّوبَ، قثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ نَافِعٍ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: ” لَمَّا أَسْلَمَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، قَالَ: أَيُّ قُرَيْشٍ أَنْقَلُ لِلْحَدِيثِ ؟ قِيلَ لَهُ: جَمِيلُ بْنُ مَعْمَرٍ الْجُمَحِيُّ، قَالَ: فَغَدَا عَلَيْهِ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: وَغَدَوْتُ أَتْبَعُ أَثَرَهُ أَنْظُرُ مَا يَفْعَلُ، وَأَنَا غُلامٌ، وَجَمِيلُ بْنُ مَعْمَرٍ هُوَ جَدُّ نَافِعِ بْنِ عُمَرَ بْنِ جَمِيلِ بْنِ مَعْمَرٍ الْجُمَحِيُّ أَعْقِلُ كُلَّمَا رَأَيْتُ، حَتَّى جَاءَهُ، فَقَالَ: أَمَا عَلِمْتَ يَا جَمِيلُ، أَنِّي قَدْ أَسْلَمْتُ وَدَخَلْتُ فِي دِينِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم قَالَ: فَوَاللَّهِ، مَا رَاجَعَهُ حَتَّى قَامَ يَجُرُّ رِجْلَيْهِ، وَاتَّبَعَهُ عُمَرُ، وَاتَّبَعْتُ أَبِي، حَتَّى إِذَا قَامَ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ صَرَخَ بِأَعْلَى صَوْتِهِ: يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ وَهُمْ فِي أَنْدِيَتِهِمْ حَوْلَ الْكَعْبَةِ أَلا إِنَّ عُمَرَ قَدْ صَبَا، قَالَ: يَقُولُ عُمَرُ مِنْ خَلْفِهِ: كَذَبَ، وَلَكِنْ قَدْ أَسْلَمْتُ وَشَهِدْتُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، قَالَ: وَثَارُوا إِلَيْهِ، قَالَ: فَمَا بَرِحَ يُقَاتِلُهُمْ وَيُقَاتِلُونَهُ حَتَّى قَامَتِ الشَّمْسُ عَلَى رُءُوسِهِمْ، قَالَ: وَطَلَحَ فَقَعَدَ، وَقَامُوا عَلَى رَأْسِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: افْعَلُوا مَا بَدَا لَكُمْ، فَأَحْلِفُ أَنْ لَوْ كُنَّا ثَلاثَ مِائَةِ رَجُلٍ لَقَدْ تَرَكْنَاهَا لَكُمْ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا لَنَا، قَالَ: فَبَيْنَاهُمْ عَلَى ذَلِكَ إِذْ أَقْبَلَ شَيْخٌ مِنْ قُرَيْشٍ عَلَيْهِ جُبَّةٌ حِبَرَةٌ وَقَمِيصٌ قُومِسُ حَتَّى وَقَفَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ: مَا شَأْنُكُمْ؟ قَالُوا: صَبَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، قَالَ: فَمَهْ، رَجُلٌ اخْتَارَ لِنَفْسِهِ أَمْرًا فَمَاذَا تُرِيدُونَ؟ أَتَرَوْنَ بَنِي عَدِيِّ بْنِ كَعْبٍ يُسْلِمُونَ لَكُمْ صَاحِبَهُمْ؟ هَكَذَا عَنِ الرَّجُلِ، قَالَ: فَوَاللَّهِ لَكَأَنَّمَا كَانُوا ثَوْبًا كُشِفَ عَنْهُ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَقُلْتُ لأَبِي بَعْدَ أَنْ هَاجَرْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ: يَا أَبَتِ، مَنِ الرَّجُلُ الَّذِي زَجَرَ الْقَوْمَ بِمَكَّةَ يَوْمَ أَسْلَمْتَ وَهُمْ يُقَاتِلُونَكَ؟ قَالَ: ذَاكَ الْعَاصُ بْنُ وَائِلٍ السَّهْمِيُّ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Ayyuub, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Sa’d, dari Muhammad bin Ishaaq, dari Naafi’ maulaa ‘Abdullaah bin ‘Umar, dari ‘Abdullaah bin ‘Umar -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, “Ketika ‘Umar bin Al-Khaththaab masuk Islam, ia berkata, “Siapakah orang Quraisy yang paling cepat ketika menyebarkan berita?” Dijawab, “Jamiil bin Ma’mar Al-Jumahiy,” ‘Umar berkata, “Aku akan menemuinya.”

‘Abdullaah berkata, “Akupun juga berangkat mengikutinya sembari aku memperhatikan apa yang diperbuatnya, dan aku ketika itu masih bocah kecil, sementara Jamiil bin Ma’mar adalah kakek dari Naafi’ bin ‘Umar bin Jamiil bin Ma’mar, aku telah mengerti hal-hal yang kulihat, hingga ‘Umar pun mendatanginya. Ia berkata, “Tidakkah kau tahu wahai Jamiil, sesungguhnya aku telah memeluk Islam dan masuk agama Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam?” Maka demi Allah, tidaklah perkataan ‘Umar diulang hingga Jamiil berdiri dan melangkahkan kedua kakinya, dan diikuti oleh ‘Umar, sementara aku mengikuti ayahku, hingga Jamiil tiba di pintu Masjid, ia pun berteriak dengan lantang, “Wahai sekalian Quraisy -dan mereka sedang berada di seputar Ka’bah-, ketahuilah bahwa ‘Umar telah murtad!” ‘Umar berkata dari belakangnya, “Pendusta! Namun yang benar adalah aku telah memeluk Islam dan mengucap syahadat : tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah, tiada sekutu bagiNya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusanNya.”

Kaum Quraisy langsung menyerangnya, maka ‘Umar terus-menerus memukuli mereka sedangkan mereka membalas pukulannya hingga matahari tepat berada di atas kepala mereka. Akhirnya ‘Umar terduduk karena kecapaian sementara kaum Quraisy berkumpul mengelilinginya, ‘Umar mengatakan, “Lakukanlah sekehendak kalian, aku bersumpah kalau saja kami sudah berjumlah 300 orang laki-laki maka kami akan meninggalkannya untuk kalian, atau kalian meninggalkannya untuk kami (yang dimaksud adalah meninggalkan kota Makkah, -pent).”

‘Abdullaah berkata, “Pada saat itu lewatlah seorang Quraisy yang sudah tua, ia mengenakan jubah bermotif dan gamis bersulam, ia berhenti kepada mereka, ia bertanya, “Apa gerangan yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “‘Umar bin Al-Khaththaab telah murtad,” Laki-laki tua itu berkata, “Diamlah, ia telah memilih pilihannya sendiri, apa yang kalian inginkan darinya? Apa kalian menginginkan bani ‘Adiy bin Ka’b akan memasrahkan begitu saja perbuatan kalian kepada sahabat kalian ini? Beginilah seorang laki-laki.” Maka demi Allah, setelah mendengarkan perkataannya, orang-orang Quraisy bagaikan pakaian yang beterbangan begitu saja.”

‘Abdullaah berkata, aku bertanya kepada ayahku setelah hijrah kami ke Madinah, “Wahai ayahku, siapakah laki-laki yang mencegah orang-orang yang memerangimu di Makkah pada hari kau memeluk Islam?” ‘Umar menjawab, “Dia adalah Al-‘Aash bin Waa’il.”
[Fadhaa’ilush Shahaabah li Al-Imam Ahmad no. 372]

Pembahasan Derajat Sanad Kisah

Sanad hadits ini hasan, Muhammad bin Ishaaq dia shaduuq akan tetapi seorang mudallis sebagaimana dikatakan oleh Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 5725. Pada sanad Imam Ahmad ini ia membawakan dengan ‘an’anah, namun an’ana’ahnya tidak memudharatkan sanad karena justru di kitab Sirah-nya sendiri, ia sharih menyatakan sima’ dari Naafi’, seperti dikutip oleh Al-Imam Ibnu Hisyaam :

قال إبن إسحاق، وحدثني نافع مولى عبد الله بن عمر، عن إبن عمر قال، لم أسلم أبي عمر…فذكر الحدىث

Ibnu Ishaaq berkata, telah menceritakan kepadaku Naafi’ maulaa ‘Abdullaah bin ‘Umar, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, ketika ayahku ‘Umar masuk Islam…(Al-Hadits).
[As-Siirah An-Nabawiyyah li Ibni Hisyaam 1/374]

Sehingga hilanglah syubhat tadlis, dan sanad ini menjadi hasan dengan sendirinya. Sanad Ibnu Ishaaq dalam Siirah-nya juga dikutip oleh Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah 4/201, Ibnu Katsiir menyetujui bahwa sanad ini kuat seraya berkata :

وهذا إسناد جيد قوي، وهو يدل على تأخر إسلام عمر لأن إبن عمر عرض يوم أحد وهو إبن أربع عشرة سنة، وكانت أحد في سنة ثلاث من الهجرة، وقد كان مميزا يوم أسلم أبوه

“Dan hadits ini sanadnya jayyid qawiy, dan ia menunjukkan akan terlambatnya keislaman ‘Umar dikarenakan Ibnu ‘Umar ketika tiba hari Uhud ia sudah berumur empat belas tahun, dan perang Uhud terjadi 3 tahun setelah hijrah, berarti ia telah mumayyiz pada hari masuk Islamnya ayahnya.”

Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 3/96 juga mengeluarkan sanad dari Muhammad bin Ishaaq :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْفَقِيهُ، وَأَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الزَّاهِدُ، وَعَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذَ الْعَدْلُ، قَالُوا: ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ الْقَاضِي، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَاتَلَ عُمَرُ الْمُشْرِكِينَ فِي مَسْجِدِ مَكَّةَ…ثم ذكر الحديث

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Sulaimaan Al-Faqiih, Abu ‘Abdillaah Muhammad bin ‘Abdillaah Az-Zaahid, dan ‘Aliy bin Hamsyaadz Al-‘Adl, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ishaaq Al-Qaadhiy, telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Muhammad bin Ishaaq, dari ‘Ubaidullaah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “‘Umar memerangi kaum musyrikin di masjid Makkah…(Al-Hadits, dengan matan yang diringkas)”

‘An’anah Ibnu Ishaaq dari ‘Ubaidullaah bin ‘Umar tidak memudharatkan dikarenakan pada sanad yang telah lalu, ia secara jelas mengatakan sima’ dari Naafi’. Dan kisah Islamnya ‘Umar ini lebih dikuatkan lagi oleh Al-Imam Al-Bukhaariy, ia berkata :

حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ فَأَخْبَرَنِي جَدِّي زَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ بَيْنَمَا هُوَ فِي الدَّارِ خَائِفًا إِذْ جَاءَهُ الْعَاصِ بْنُ وَائِلٍ السَّهْمِيُّ أَبُو عَمْرٍو عَلَيْهِ حُلَّةُ حِبَرَةٍ وَقَمِيصٌ مَكْفُوفٌ بِحَرِيرٍ وَهُوَ مِنْ بَنِي سَهْمٍ وَهُمْ حُلَفَاؤُنَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ لَهُ مَا بَالُكَ قَالَ زَعَمَ قَوْمُكَ أَنَّهُمْ سَيَقْتُلُونِي إِنْ أَسْلَمْتُ قَالَ لَا سَبِيلَ إِلَيْكَ بَعْدَ أَنْ قَالَهَا أَمِنْتُ فَخَرَجَ الْعَاصِ فَلَقِيَ النَّاسَ قَدْ سَالَ بِهِمْ الْوَادِي فَقَالَ أَيْنَ تُرِيدُونَ فَقَالُوا نُرِيدُ هَذَا ابْنَ الْخَطَّابِ الَّذِي صَبَا قَالَ لَا سَبِيلَ إِلَيْهِ فَكَرَّ النَّاسُ

Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin Sulaimaan, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb, ia berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Umar bin Muhammad, ia berkata, dan telah mengkhabarkan kepadaku Kakekku, yaitu Zaid bin ‘Abdillaah bin ‘Umar, dari Ayahnya, ia berkata, “Ketika ‘Umar sedang berada di rumahnya dalam keadaan khawatir (akan serangan orang-orang Quraisy kepadanya), datanglah kepadanya Al-‘Aash bin Waa’il As-Sahmiy Abu ‘Amr dengan mengenakan baju yang bermotif dan gamis terbuat dari sutera -dan dia dari bani Sahm-, Mereka adalah kawan sumpah setia kami pada zaman jahiliyyah.

Al-‘Aash bertanya kepada ‘Umar, “Ada apa gerangan yang terjadi padamu?” ‘Umar menjawab, “Kaummu berencana akan membunuhku karena aku memeluk Islam,” Al-‘Aash berkata, “Tidak ada jalan (bagi mereka) terhadapmu!”

‘Umar berkata, “Setelah ia mengucapkan kalimat itu aku merasa aman. Kemudian Al-‘Aash keluar menemui orang-orang yang sedang berkumpul di lembah (Makkah). Dia bertanya, “Hendak kemanakah kalian?” Mereka menjawab, “Kami ingin menemui Ibnul Khaththaab yang telah murtad.” Al-‘Aash berkata, “Tidak ada jalan (bagi kalian) terhadapnya!” Maka orang-orang pun membubarkan diri.”
[Shahiih Al-Bukhaariy 2/760]

Dan Al-Imam Al-Bukhaariy meriwayatkan pula :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ: سَمِعْتُهُ قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: ” لَمَّا أَسْلَمَ عُمَرُ اجْتَمَعَ النَّاسُ عِنْدَ دَارِهِ، وَقَالُوا: صَبَا عُمَرُ وَأَنَا غُلَامٌ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِي، فَجَاءَ رَجُلٌ عَلَيْهِ قَبَاءٌ مِنْ دِيبَاجٍ، فَقَالَ: قَدْ صَبَا عُمَرُ فَمَا ذَاكَ فَأَنَا لَهُ جَارٌ، قَالَ: فَرَأَيْتُ النَّاسَ تَصَدَّعُوا عَنْهُ، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوا: الْعَاصِ بْنُ وَائِلٍ

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdillaah, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, aku mendengar ‘Amr bin Diinaar berkata, ‘Abdullaah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Ketika ‘Umar memeluk Islam, berkumpullah orang-orang di sisi rumahnya, mereka berkata, “‘Umar telah murtad!” dan aku ketika itu adalah seorang anak kecil yang sedang berada di atap rumahku.

Kemudian datanglah seorang laki-laki kepada mereka, ia mengenakan jubah yang terbuat dari sutera, ia berkata, “‘Umar memang telah murtad, ada apa dengan hal itu? Aku adalah pelindungnya!” Maka aku melihat orang-orang pun meninggalkannya. Aku bertanya, “Siapakah itu?” Orang-orang menjawab, “Dia Al-‘Aash bin Waa’il.”
[Shahiih Al-Bukhaariy 2/760]

Dari riwayat yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Fadhaa’ilush Shahaabah dan riwayat Imam Al-Bukhaariy dalam Shahiih-nya, kedua riwayat ini dapat dijamak, bahwasanya riwayat Imam Ahmad terjadi pada kesempatan pertama setelah ‘Umar memeluk Islam, yaitu ia langsung mengkhabarkan kepada Jamiil bin Ma’mar mengenai keislamannya, dan Jamiil pun mengkhabarkannya kepada orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul di sekitar Masjidil Haram yang membuat mereka mengeroyok ‘Umar dan ia pun membalas pengeroyokan mereka lalu datanglah Al-‘Aash bin Waa’il dan orang-orang pun membubarkan diri.

Lalu riwayat Imam Al-Bukhaariy terjadi pada kesempatan kedua ketika ‘Umar telah pulang ke rumahnya setelah peristiwa pengeroyokan pertama, dan orang-orang Quraisy masih belum puas oleh karena itu mereka mengepung rumah ‘Umar (sementara Ibnu ‘Umar naik ke atap rumah), lalu Al-‘Aash bin Waa’il kembali datang dan mengatakan bahwa ‘Umar berada dalam perlindungannya, maka bubarlah orang-orang. Al-‘Aash juga mengkhabarkan kepada orang-orang Quraisy yang berada di lembah Makkah bahwa tidak ada jalan bagi kalian untuk mendapatkan ‘Umar, oleh karena itu setelah ini tidak ada lagi yang mengeroyok ‘Umar.

Inilah kisah yang telah jelas shahih dan ia telah mencukupi kita dari banyak kisah-kisah lemah yang rapuh dan tidak mu’tamad untuk dijadikan hujjah. Hanya kepada Allah kami memohon petunjuk dan istiqamah dalam agama Islam.

Wallaahu Ta’ala a’lam.

Al-Faqiir Ilallaah, Abu Ahmad Tommi Marsetio -wafaqahullah-

Rujukan :

1. “As-Siirah An-Nabawiyyah“, karya Al-Imam Ibnu Hisyaam, tahqiiq dan takhriij : Dr. ‘Umar ‘Abdissalaam Tadmuriy, Daar Al-Kitaab Al-‘Arabiy, Beirut, cetakan ketiga.

2. “Maa Syaa’a wa Lam Yatsbutu fiy As-Siirah An-Nabawiyyah“, karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdillaah Al-‘Ausyan, Daar Thayyibah, Riyaadh.

One thought on “Islamnya ‘Umar bin Al-Khaththaab, Dirasah dan Beberapa Faidah dari Kisah-kisah Lemah yang Masyhur

  1. Pingback: ‘Umar dan Hamzah Berunjuk Rasa Ketika Memeluk Islam | Al-Muhandisu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s