Usia Berapakah Khadiijah Radhiyallaahu ‘anha Dinikahi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam?

khadijah_bint_khuwaylid_by_taoufiq-d4dlgvk=====
Mereka berkata bahwa cinta pertama itu sulit dilupakan
Cinta pertama yang begitu membekas di hati
Demikianlah pula yang terjadi pada Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam
Manusia agung sepanjang zaman
Kepada cinta pertamanya, ibu kita, Khadiijah radhiyallaahu ‘anha

Mereka berkata bahwa hati yang telah terpaut itu sulit terpisahkan
Terus terikat tak renggang oleh putaran waktu dan kematian
Bahkan oleh prahara yang tak henti-henti menerjang
Demikianlah ibu kita, Khadiijah, setia mendampingi Muhammad
Ketika sang suami mengemban tugas sangat berat
Menjadi utusan Allah, Rabbul ‘alamin
Menjadi rahmat bagi semesta alam
Kepadanya diturunkan Al-Qur’an, kitab terakhir untuk umat akhir zaman
Membimbing umat menuju surga, menghindari neraka
=====

Khadiijah

Ummul Mu’miniin Sayyidah Khadiijah, bernama lengkap Khadiijah binti Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzzaa bin Qushay Al-Qurasyiyyah Al-Asadiyyah, istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, kuniyahnya adalah Ummu Hind atau Ummul Qaasim. Ibunya bernama Faathimah binti Zaa’idah dari bani ‘Aamir bin Lu’ay.

Beliaulah istri Rasulullah yang melahirkan semua putra-putrinya, yaitu Al-Qaasim, ‘Abdullaah Ath-Thaahir atau Ath-Thayyib (ia dilahirkan sesudah Muhammad diutus menjadi Rasul), Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Faathimah -radhiyallaahu ‘anhum-. Para ulama berbeda pendapat mengenai Mariyah Al-Qibthiyyah yang dihadiahkan Muqauqis kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, apakah ia budak atau istri beliau, dan dari rahim Mariyah -radhiyallaahu ‘anha- Rasulullah dikaruniai Ibraahiim yang wafat ketika masih kecil.

Tentang usia mereka ketika menikah, maka umat Islam sepakat bahwasanya usia Nabi Muhammad ketika itu adalah 25 tahun. Namun mereka berbeda pendapat berapakah usia Khadiijah ketika itu, pendapat tersebut mengerucut kepada dua pendapat yang mu’tabar, yaitu 40 tahun, dan 28 tahun.

Mungkin diantara pembaca (termasuk kami) sudah banyak yang mengetahui dari banyak buku-buku bacaan Islam bahwa pendapat yang banyak diketahui oleh umat Islam adalah usia Khadiijah 40 tahun. Kami pun juga baru mengetahui bahwa ternyata ada pendapat lain yaitu 28 tahun, seperti yang pernah ditulis oleh Al-Ustadz Firanda Andirja hafizhahullah dalam salah satu tulisan di webnya beberapa waktu lalu dan sepertinya pendapat inilah yang beliau pegang.

Riwayat yang Mengatakan Usia Khadiijah adalah 40 Tahun

Ia diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Sa’d :

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ، أَخْبَرَنَا الْمُنْذِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحِزَامِيُّ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ أَبِي حَبِيبَةَ مَوْلَى الزُّبَيْرِ، قَالَ: سَمِعْتُ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ، يَقُولُ: ” تَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَدِيجَةَ وَهِيَ ابْنَةُ أَرْبَعِينَ سَنَةً، وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ابْنُ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ سَنَةً، وَكَانَتْ خَدِيجَةُ أَسَنَّ مِنِّي بِسَنَتَيْنِ، وُلِدَتْ قَبْلَ الْفِيلِ بِخَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً، وَوُلِدْتُ أَنَا قَبْلَ الْفِيلِ بِثَلاثَةَ عَشْرَةَ سَنَةً

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Umar, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Mundzir bin ‘Abdillaah Al-Hizaamiy, dari Muusaa bin ‘Uqbah, dari Abu Habiibah maulaa Az-Zubair, ia berkata, aku mendengar Hakiim bin Hizaam -radhiyallaahu ‘anhu- mengatakan, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menikahi Khadiijah ketika Khadiijah berusia 40 tahun dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berusia 25 tahun. Khadiijah lebih tua dua tahun dariku, ia dilahirkan 15 tahun sebelum tahun gajah dan aku 13 tahun sebelumnya.”
[Ath-Thabaqaat Al-Kubraa li Ibni Sa’d 10/18]

Riwayat Imam Ibnu Sa’d ini perlu mendapat catatan, karena syaikhnya, Muhammad bin ‘Umar adalah seorang yang matruuk.

Muhammad bin ‘Umar bin Waaqid Al-Waaqidiy Al-Aslamiy, Abu ‘Abdillaah Al-Madaniy. Al-Bukhaariy dan Muslim mengatakan ia matruuk, telah ditinggalkan hadits-haditsnya oleh Ahmad, Ibnu Numair, Ibnul Mubaarak dan Ismaa’iil bin Zakariyaa, dalam riwayat lain Al-Bukhaariy berkata, “Ahmad mendustakannya”, Ibnu Ma’iin melemahkannya, dalam riwayat lain ia berkata “tidak ada nilainya”, dan dalam riwayat lain ia berkata “tidak tsiqah”, Ibnul Madiiniy berkata “aku tidak meridhainya dalam hadits, tidak juga dalam masalah nasab dan dalam segala hal”, Abu Ahmad Al-Haakim berkata “dzaahibul hadiits (orang yang hilang haditsnya)”, An-Nasaa’iy berkata “tidak tsiqah”, Al-Haafizh berkata “matruuk”. [Tahdziibul Kamaal no. 5501; Taqriibut Tahdziib no. 6175]

Perawi sisanya adalah orang-orang yang tsiqah. Maka hadits ini sangat lemah dan tidak mu’tamad, dan pendapat yang mengatakan usia Khadiijah 40 tahun (karena Rasulullah Muhammad dilahirkan pada tahun gajah) ini menjadi pendapat Al-Waaqidiy, ia berkata :

ونحن نقول ومن عندنا من أهل العلم إن خديجة ولدة قبل الفيل بخمس عشرة سنة وإنها كانت يوم تزوجها رسول الله بنت أربعين سنة

“Dan kami mengatakan apa yang ada di sisi kami dari apa yang diyakini ahli ilmu bahwasanya Khadiijah dilahirkan 15 tahun sebelum tahun gajah, dan pada hari pernikahannya dengan Rasulullah ia telah berusia 40 tahun.” [Ath-Thabaqaat 10/18]

Riwayat yang Mengatakan Usia Khadiijah adalah 28 Tahun

Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ibnu Sa’d :

أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: ” كَانَتْ خَدِيجَةُ يَوْمَ تَزَوَّجَهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ابْنَةَ ثَمَانٍ وَعِشْرِينَ سَنَةً، وَمَهْرُهَا اثْنَتَا عَشْرَةَ أُوقِيَّةً، وَكَذَلِكَ كَانَتْ مُهُورُ نِسَائِهِ

Telah mengkhabarkan kepada kami Hisyaam bin Muhammad bin As-Saa’ib, dari Ayahnya, dari Abu Shaalih, dari Ibnu ‘Abbaas -radhiyallaahu ‘anhuma-, ia berkata, “Pada hari pernikahannya dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, Khadiijah berusia 28 tahun, maharnya sebanyak 12 ‘uqiyyah, dan demikianlah mahar untuk istri-istri beliau.”
[Ath-Thabaqaat Al-Kubraa li Ibni Sa’d 10/18]

Riwayat ini pun tidak lepas dari catatan. Hisyaam bin Muhammad dan Ayahnya adalah dua orang yang matruuk, terkhusus Muhammad bin As-Saa’ib, ia tertuduh berdusta.

Hisyaam bin Muhammad bin As-Saa’ib, Abul Mundzir Al-Kalbiy. Ad-Daaraquthniy dan lainnya berkata “matruuk”, Ibnu ‘Asaakir berkata “raafidhiy, tidak tsiqah”, Adz-Dzahabiy berkata “syii’iy, ahadul matruukiin”. [Miizaanul I’tidaal 7/88; Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 10/101]

Muhammad bin As-Saa’ib bin Bisyr bin ‘Amr bin Al-Haarits bin ‘Abdil Haarits bin ‘Abdil ‘Uzzaa Al-Kalbiy, Abu An-Nadhr Al-Kuufiy Asy-Syii’iy. Mu’tamir bin Sulaimaan meriwayatkan dari ayahnya yang berkata “di Kuufah ada dua orang pendusta, salah satunya adalah Al-Kalbiy”, Laits bin Abu Sulaim berkata “dua orang pendusta di Kuufah yaitu Al-Kalbiy dan As-Suddiy, yakni Muhammad bin Marwaan”, Ibnu Ma’iin melemahkannya, dalam riwayat lain ia berkata “tidak ada nilainya”, Al-Bukhaariy berkata “Yahyaa Al-Qaththaan dan Ibnu Mahdiy meninggalkannya”, Abu Haatim berkata “manusia sepakat meninggalkan haditsnya, jangan menyibukkan diri dengannya”, An-Nasaa’iy berkata “tidak tsiqah, tidak ditulis haditsnya”, terakhir Al-Haafizh berkata “tertuduh berdusta dan raafidhah”. [Tahdziibul Kamaal no. 5234; Taqriibut Tahdziib no. 5901]

Maka hadits ini pun juga sangat lemah dan tidak mu’tamad.

Namun Al-Imam Al-Haakim meriwayatkan dengan sanadnya hingga Al-Imam Ibnu Ishaaq :

أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بَالَوَيْهِ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَيُّوبَ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، ” أَنَّ أَبَا طَالِبٍ وَخَدِيجَةَ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ هَلَكَا فِي عَامٍ وَاحِدٍ، وَذَلِكَ قَبْلَ مُهَاجِرٍ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ بِثَلاثِ سِنِينَ، وَدُفِنَتْ خَدِيجَةُ بِالْحَجُونِ، وَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ لَهَا يَوْمَ تَزَوَّجَهَا ثَمَانٌ وَعِشْرُونَ سَنَةً

Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Baalawaih, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Ayyuub, telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Sa’d, dari Muhammad bin Ishaaq, ia berkata, “Abu Thaalib dan Khadiijah binti Khuwailid wafat di tahun yang sama, yaitu 3 tahun sebelum hijrahnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam ke Madinah. Khadiijah dikuburkan di Hajuun dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam turun ke kuburnya (untuk menguburkannya). Pada hari pernikahannya, Khadiijah berusia 28 tahun.”
[Al-Mustadrak 3/217]

Sanadnya shahih hingga Ibnu Ishaaq. Dan ini menjadi pendapatnya mengenai usia Khadiijah ketika dinikahi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Kesimpulan

Tidak ada riwayat yang shahih yang secara valid menyebutkan mengenai usia Khadiijah ketika dinikahi Rasulullah, semua riwayat tersebut adalah riwayat-riwayat yang sangat lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah. Oleh karena itu permasalahan ini masuk pada khilafiyah mu’tabar yang memang sudah menjadi perdebatan sejak lama. Seseorang boleh saja berpegang pada pendapat yang mengatakan usianya 40 tahun, atau pada yang mengatakan 28 tahun, karena tidak ada nash yang shahih mengenainya.

Dan tidak dibenarkan berlama-lama berselisih dalam masalah ini selama ia bukan masalah pada ‘aqiidah dan dasar-dasar agama. Wallaahu a’lam.

=====
Mereka berkata bahwa cinta pertama itu membuat istri-istri yang lain cemburu
Dengan banyaknya sang cinta pertama disebut-sebut
Dan mereka benar, ‘Aaisyah radhiyallaahu ‘anha, wanita yang paling dicintai Nabi setelah Khadiijah wafat, ia mengatakan :

مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ لِكَثْرَةِ ذِكْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاهَا وَثَنَائِهِ عَلَيْهَا

“Tidaklah aku cemburu kepada salah seorang istri-istri Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagaimana aku cemburu terhadap Khadiijah dengan banyaknya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menyebut-nyebut namanya dan memuji-mujinya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 5229]

Lihatlah, orang yang sudah wafat pun dicemburui oleh bunda ‘Aaisyah
Dan mereka benar, bahwa cinta pertama sulit dilupakan
Setidaknya bagi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
=====

Tangerang, 10 Jumadil Awwal 1435 H

Abu Ahmad Tommi Marsetio -wafaqahullah-

Rujukan :

1. “Ath-Thabaqaat Al-Kubraa“, karya Al-Imam Muhammad bin Sa’d Az-Zuhriy, tahqiiq : Dr. ‘Aliy Muhammad ‘Umar, Maktabah Al-Khaanujiy, Kairo, cetakan pertama.

2. “As-Siirah An-Nabawiyyah Ash-Shahiihah“, karya Dr. Akram Dhiyaa’ Al-‘Umariy, Maktabah Al-‘Uluum wal Hikam, Madinah, cetakan keenam.

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s