Al-Imam Ja’far Ash-Shaadiq, Imam Ahlussunnah dari Keluarga Ahlul Bait ‘Aliy, Mencintai Abu Bakr dan ‘Umar

Tree-Of-Love-WallpaperNama dan Nasab Beliau

Nama dan nasab beliau secara lengkap adalah, Ja’far bin Muhammad bin ‘Aliy bin Al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thaalib bin ‘Abdul Muththalib bin Haasyim bin ‘Abd Manaaf bin Qushay Al-Qurasyiy, Abu ‘Abdillaah Al-Haasyimiy Al-Madaniy, Al-Imam Ash-Shaadiq, Ahadul A’laam, Syaikh bani Haasyim.

Terlihat dari nasabnya beliau adalah ‘Alawiy, keturunan langsung ‘Aliy bin Abi Thaalib radhiyallaahu ‘anhu. Dan dari keturunan Ja’far Ash-Shaadiq inilah yang menurunkan silsilah keturunan ‘Alawiyyin (yang kemudian banyak menyebar ke berbagai daerah termasuk Indonesia dan Malaysia) dari salah seorang keturunannya yang kemudian menetap di Hadhramaut, Yaman, yaitu Ahmad bin ‘Iisaa Al-Muhaajir[1] rahimahullah.

Ibunda Ja’far Ash-Shaadiq bernama Ummu Farwah binti Al-Qaasim bin Muhammad bin Abu Bakr Ash-Shiddiiq At-Taimiy, dan neneknya (yaitu ibu dari Ummu Farwah) bernama Asmaa’ binti ‘Abdirrahman bin Abu Bakr Ash-Shiddiiq, oleh karena itu Ja’far pernah berujar bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiiq telah melahirkannya dua kali, kami akan sebutkan nanti, insya Allah.

Ja’far Ash-Shaadiq dilahirkan tahun 80 H, beliau sempat melihat beberapa orang sahabat seperti Anas bin Maalik dan Sahl bin Sa’d radhiyallaahu ‘anhuma.

Guru-gurunya

Diantara para imam yang beliau meriwayatkan dari mereka adalah Ayahnya sendiri yaitu Abu Ja’far Muhammad Al-Baaqir, ‘Ubaidullaah bin Abu Raafi’, ‘Urwah bin Az-Zubair, ‘Athaa’ bin Abi Rabaah, Kakeknya dari pihak ibu yaitu Al-Qaasim bin Muhammad bin Abu Bakr, Naafi’ maulaa Ibnu ‘Umar, Muhammad bin Al-Munkadir, Ibnu Syihaab Az-Zuhriy, Muslim bin Abu Maryam, dan yang lainnya. Rahimahumullahu.

Beliau tidak banyak meriwayatkan hadits dari guru-gurunya tersebut kecuali dari ayahnya, Muhammad Al-Baaqir, dan ayahnya termasuk ulama yang mempunyai kedudukan yang mulia di Madinah.

Murid-murid Ash-Shaadiq

Meriwayatkan dari Ja’far Ash-Shaadiq, yaitu Putranya sendiri, Muusaa bin Ja’far atau yang lebih dikenal dengan julukan Al-Kaazhim, Yahyaa bin Sa’iid Al-Anshaariy, Yaziid bin ‘Abdillaah bin Al-Haad (keduanya lebih senior dari Ja’far), Al-Imam Al-Faqiih Abu Haniifah An-Nu’maan bin Tsaabit, Abaan bin Taghlib, Ibnu Juraij, Mu’aawiyah bin ‘Ammaar, Ibnu Ishaaq, Sufyaan Ats-Tsauriy, Syu’bah bin Al-Hajjaaj, Sufyan bin ‘Uyainah, Hafsh bin Ghiyaats, ‘Abdul ‘Aziiz Ad-Daraawardiy, Al-Imam Maalik bin Anas, Muusaa bin ‘Umair Al-Qurasyiy, Sulaimaan bin Bilaal, Muhammad bin Maimuun Az-Za’faraaniy, Muslim bin Khaalid Az-Zanjiy, Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan Al-Haafizh An-Naaqid, Abu ‘Aashim An-Nabiil, dan yang lainnya. Rahimahumullahu.

Seputar Kehidupannya dan Pujian Para Ulama Terhadapnya

Beliau adalah ‘aalim kota Madinah, seorang yang tsiqah, faadhil (mempunyai keutamaan), ahli fiqh mereka dan tempat bertanya mereka, hidupnya zuhud dan wara’, tidak dipusingkan oleh gemerlap harta dan kehidupan dunia, serta dari lisannya selalu keluar kejujuran, oleh karena itulah beliau dijuluki Ash-Shaadiq.

Dari Mush’ab bin ‘Abdillaah, aku mendengar Ad-Daraawardiy yang mengatakan, “Maalik tidak meriwayatkan dari Ja’far hingga munculnya kekhalifahan bani ‘Abbaas.”

Shaalih bin Ahmad bin Hanbal berkata, dari Ibnul Madiiniy, aku bertanya kepada Yahyaa bin Sa’iid (Al-Qaththaan) mengenai Ja’far, Yahyaa berkata, “Diriku merasakan ada sesuatu pada dirinya.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana dengan Mujaalid?” Yahyaa menjawab, “Mujaalid lebih kusukai dibanding Ja’far.” Dalam riwayat lain Yahyaa berkata, “Ja’far bin Muhammad menuliskan kepadaku sebuah hadits panjang, yakni hadits Jaabir mengenai haji.”

Dalam riwayat yang lainnya, disebutkan nama Ja’far bin Muhammad di hadapan Yahyaa Al-Qaththaan, ia berkata, “Ia bukanlah seorang pendusta.”

*Adz-Dzahabiy berkata, “Ini adalah beberapa ketergelinciran dari Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan, bahkan para imam yang ahli dalam bidang ini telah sepakat bahwa Ja’far lebih tsiqah dari Mujaalid, dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengindahkan perkataan Yahyaa.”

Ishaaq bin Raahawaih bertanya kepada Asy-Syaafi’iy dalam sebuah debat, “Bagaimana Ja’far bin Muhammad menurutmu?” Asy-Syaafi’iy berkata, “Tsiqah.”

Diriwayatkan dari ‘Abbaas Ad-Duuriy, bahwa Yahyaa bin Ma’iin berkata, “Ja’far tsiqah ma’muun.” Dan dari riwayat Ad-Daarimiy, Ahmad bin Zuhair dan Ahmad bin Abi Maryam, bahwa Ibnu Ma’iin berkata, “Ja’far tsiqah.”

Ibnu Abi Haatim berkata, aku mendengar Abu Zur’ah ditanya mengenai (beberapa sanad hadits), Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, Suhail dari ayahnya dan Al-‘Alaa’ dari ayahnya, manakah sanad yang paling shahih dari ketiganya? Abu Zur’ah menjawab, “Janganlah memperbandingkan Ja’far dengan mereka!” Sementara Abu Haatim berkata, “Janganlah mempertanyakan orang seperti Ja’far!”

*Adz-Dzahabiy berkata, “Ja’far seorang yang tsiqah shaduuq, ia tidak tsabt seperti Syu’bah namun ia lebih tsiqah dari Suhail dan Ibnu Ishaaq, dan ia setingkat dengan Ibnu Abi Dzi’b dan yang sepertinya, riwayatnya yang dominan dari ayahnya adalah riwayat-riwayat mursal (maksudnya mursal Muhammad Al-Baaqir, -pent).”

Abu Ahmad Ibnu ‘Adiy berkata, “Ia memiliki hadits yang banyak dari ayahnya dari Jaabir, dan dari ayah-ayahnya yang ternaskahkan kepada ahlul bait. Dan sungguh para imam telah meriwayatkan darinya dan Ja’far termasuk para perawi tsiqah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ma’iin.”

Abul ‘Abbaas bin ‘Uqdah meriwayatkan dengan sanadnya hingga ‘Amr bin Abul Miqdaam, ia berkata, “Dahulu jika aku melihat Ja’far bin Muhammad, akupun mengetahui bahwasanya ia berasal dari garis keturunan Nabi.”

Dan dari Abul ‘Abbaas bin ‘Uqdah, dengan sanadnya hingga ‘Amr bin Tsaabit, ia berkata, “Aku melihat Ja’far bin Muhammad berhenti di sekitar tempat melempar jumrah (Al-Jamratul ‘Uzhmaa) dan dia berkata, “Bertanyalah kalian kepadaku, bertanyalah kalian kepadaku.”

Dan dengan sanadnya hingga Shaalih bin Abul Aswad, aku mendengar Ja’far bin Muhammad mengatakan, “Bertanyalah kalian kepadaku sebelum kalian kehilangan diriku, karena sesungguhnya tidak akan ada lagi yang menceritakan hadits kepada kalian setelahku, yang seperti haditsku ini.”

Muhammad bin ‘Imraan bin Abi Lailaa meriwayatkan dari Maslamah bin Ja’far Al-Ahmasiy, aku berkata kepada Ja’far bin Muhammad, “Sesungguhnya ada sebuah kaum yang menyangka bahwa barangsiapa yang mentalak tiga dengan ketidaktahuannya maka ia telah menentang sunnah, mereka menjadikan perkataan tersebut teriwayatkan dari kalian.” Ja’far berkata, “Ma’aadzallah! Ini bukanlah perkataan kami, bahwa barangsiapa yang mentalak tiga maka ia seperti apa yang dikatakannya!”

Hammaad bin Zaid berkata, dari Ayyuub, aku mendengar Ja’far berkata, “Sesungguhnya, demi Allah! Tidaklah kami mengetahui segala sesuatu yang kalian tanyakan kepada kami mengenainya, dan yang orang lainpun tidak lebih mengetahui dibanding kami.”

Abul ‘Abbaas Ahmad bin Abul Khair Al-Haddaad meriwayatkan dengan sanadnya hingga Ja’far bin Muhammad, ia berkata, “Tidak ada (sesuatu yang kadarnya) bertambah yang lebih afdhal dibanding ketaqwaan, tidak ada sesuatu yang lebih baik dibanding engkau berpuasa, tidak ada musuh yang lebih membahayakan dibanding kebodohan, dan tidak ada penyakit yang lebih memperdayakan dibanding sebuah kedustaan.”

Dan dengan sanadnya hingga Ja’far bin Muhammad, ia berkata, “Para fuqaha’ adalah orang-orang kepercayaan para Rasul, jika kalian melihat para fuqaha’ mulai condong kepada para sulthan, maka ragukanlah (kejujuran) mereka.”

Kecintaan Ja’far Ash-Shaadiq Terhadap Abu Bakr dan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, Serta Berlepas Dirinya Ia dan Ayahnya dari Kaum yang Membenci Asy-Syaikhaan

Telah disebutkan diatas bahwasanya garis keturunan beliau dari pihak ibu berasal dari Abu Bakr Ash-Shiddiiq, oleh karena itu beliau mengatakan bahwa Abu Bakr telah melahirkannya dua kali. Ini adalah penghormatan beliau kepada kakeknya tersebut, dan sesungguhnya beliau sangat mencintai Abu Bakr dan ‘Umar serta berlepas diri dari kaum Syi’ah Raafidhah pendengki yang membenci mereka berdua dengan mengatasnamakan ahlul bait. Na’uudzubillaahi min dzaalikal qaum!

قال حفص بن غياث سمعت جعفر بن محمد يقول ما أرجو من شفاعة علي شيئا إلا وأنا أرجو من شفاعة أبي بكر مثله لقد ولدني مرتين

Hafsh bin Ghiyaats berkata, aku mendengar Ja’far bin Muhammad berkata, “Tiadalah sedikitpun aku berharap dari syafa’at seseorang kepadaku kecuali aku berharap dari syafa’at Abu Bakr dan yang semisalnya, karena sungguh ia telah melahirkanku dua kali.” [As-Siyar 6/259]

محمد بن فضيل عن سالم بن أبي حفصة قال سألت أبا جعفر وابنه جعفرا عن أبي بكر وعمر فقال يا سالم تولهما وابرأ من عدوهما فإنهما كانا إمامي هدى ثم قال جعفر يا سالم أيسب الرجل جده أبو بكر جدي لا نالتني شفاعة محمد صلى الله عليه وسلم يو م القيامة إن لم أكن أتولاهما وأبرأ من عدوهما

Muhammad bin Fudhail berkata, dari Saalim bin Abi Hafshah, ia berkata, aku bertanya kepada Abu Ja’far (Al-Baaqir) dan putranya, Ja’far, mengenai Abu Bakr dan ‘Umar, maka Abu Ja’far berkata, “Wahai Saalim, cintailah mereka berdua dan berlepas dirilah dari musuh keduanya karena sesungguhnya keduanya adalah imam yang memberi petunjuk.” Kemudian Ja’far berkata, “Wahai Saalim, apakah seseorang diperbolehkan mencela kakeknya? Abu Bakr adalah kakekku, aku tidak akan memperoleh syafa’at Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam pada hari kiamat kelak jika aku tidak mencintai keduanya dan berlepas diri dari musuh keduanya.” [As-Siyar 6/258]

وبه عن الدارقطني حدثنا اسماعيل الصفار حدثنا أبو يحيى جعفر بن محمد الرازي حدثنا علي بن محمد الطنافسي حدثنا حنان بن سدير سمعت جعفر بن محمد وسئل عن أبي بكر وعمر فقال إنك تسألني عن رجلين قد أكلا من ثمار الجنة

Dan dengan sanadnya dari Ad-Daaraquthniy, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil Ash-Shaffaar, telah menceritakan kepada kami Abu Yahyaa Ja’far bin Muhammad Ar-Raaziy, telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad Ath-Thanaafisiy, telah menceritakan kepada kami Hannaan bin Sadiir, aku mendengar Ja’far bin Muhammad ketika ia ditanya mengenai Abu Bakr dan ‘Umar, ia berkata, “Sesungguhnya kalian bertanya kepadaku mengenai dua orang lelaki yang telah memakan buah dari surga.” [As-Siyar 6/259]

وبه حدثنا الحسين بن إسماعيل حدثنا محمود بن خداش حدثنا أسباط بن محمد حدثنا عمرو بن قيس الملائي سمعت جعفر بن محمد يقول برىء الله ممن تبرأ من أبي بكر وعمر

Dan dengan sanadnya, telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Ismaa’iil, telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Khidaasy, telah menceritakan kepada kami Asbaath bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Qais Al-Malaa’iy, aku mendengar Ja’far bin Muhammad berkata, “Allah berlepas diri dari mereka yang berlepas diri dari Abu Bakr dan ‘Umar.” [As-Siyar 6/260]

*Adz-Dzahabiy berkata bahwa atsar Ja’far ini mutawatir.

قال علي بن الجعد، عن زهير بن معاوية قال أبي لجعفر بن محمد: إن لي جارا يزعم أنك تبرأ من أبي بكر، وعمر، فقال جعفر: برئ الله من جارك، والله إني لأرجو أن ينفعني الله بقرابتي من أبي بكر، ولقد اشتكيت شكاية، فأوصيت إلى خالي عبد الرحمن بن القاسم

‘Aliy bin Al-Ja’d berkata, dari Zuhair bin Mu’aawiyah, ia berkata, Ayahku berkata kepada Ja’far bin Muhammad, “Sesungguhnya aku memiliki tetangga yang menduga bahwa engkau berlepas diri dari Abu Bakr dan ‘Umar.” Lalu Ja’far berkata, “Allah berlepas diri dari tetanggamu. Demi Allah, sesungguhnya aku berharap semoga Allah memberiku manfaat dengan kekerabatanku terhadap Abu Bakr, dan sungguh aku telah mengadukan sebuah keluhan (yang sama denganmu), maka aku wasiatkan kau agar (pergi) menuju pamanku, ‘Abdurrahman bin Al-Qaasim.” [Al-Kamaal 5/80]

قال هشام بن يونس، عن سفيان بن عيينة حدثونا عن جعفر بن محمد، ولم أسمعه منه، قال: كان آل أبي بكر يدعون على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم: آل رسول الله صلى الله عليه وسلم

Hisyaam bin Yuunus berkata, dari Sufyaan bin ‘Uyainah, ia berkata, mereka telah menceritakan kepada kami, dari Ja’far bin Muhammad, namun aku belum mendengarnya darinya, ia berkata, “Dahulu keluarga Abu Bakr pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam disebut juga : keluarga Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.”

وقال محمد بن يحيى بن أبي عمر العدني، وغير واحد، عن سفيان بن عيينة عن جعفر بن محمد، عن أبيه نحو ذلك

Dan berkata Muhammad bin Yahyaa bin Abu ‘Umar Al-‘Adaniy dan yang lainnya, dari Sufyaan bin ‘Uyainah, dari Ja’far bin Muhammad, dari Ayahnya, yang semakna dengannya. [Al-Kamaal 5/80]

وبه قال: أخبرنا أبو الحسن الدارقطني، قال: حدثنا أبو بكر أحمد بن محمد بن إسماعيل الأدمي، قال: حدثنا الفضل بن سهل، قال: حدثنا هاشم بن القاسم، قال: حدثنا محمد بن طلحة، عن خلف بن حوشب، عن سالم بن أبي حفصة، قال: دخلت على جعفر بن محمد أعوده وهو مريض، فقال: اللهم إني أحب أبا بكر، وعمر، وأتولاهما، اللهم إن كان في نفسي غير هذا، فلا تنالني شفاعة محمد صلى الله عليه وسلم

Dan dengan sanadnya, telah mengkhabarkan kepada kami Abul Hasan Ad-Daaraquthniy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Ismaa’iil Al-Adamiy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Sahl, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Haasyim bin Al-Qaasim, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Thalhah, dari Khalaf bin Hausyab, dari Saalim bin Abi Hafshah, ia berkata, “Aku datang menjenguk Ja’far bin Muhammad ketika ia sedang terbaring karena sakit, Ja’far berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan aku mencintai keduanya. Ya Allah, jika ternyata didalam diriku terdapat hal diluar kecintaan ini, maka janganlah Kau berikan aku syafa’at Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam.” [Al-Kamaal 5/81]

وبه قال أخبرنا الدارقطني، قال: حدثنا أحمد بن محمد بن إسماعيل الأدمي، قال: حدثنا محمد بن الحسين الحنيني، قال: حدثنا مخلد بن أبي قريش الطحان قال: حدثنا عبد الجبار بن العباس الهمداني أن جعفر بن محمد أتاهم، وهم يريدون أن يرتحلوا من المدينة، فقال: إنكم إن شاء الله من صالحي أهل مصركم، فأبلغوهم عني من زعم أني إمام مفترض الطاعة، فأنا منه بريء، ومن زعم أني أبرأ من أبي بكر، وعمر، فأنا منه بريء

Dan dengan sanadnya, telah mengkhabarkan kepada kami Ad-Daaraquthniy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Ismaa’iil Al-Adamiy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Husain Al-Hunainiy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Makhlad bin Abu Quraisy Ath-Thahhaan, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Jabbaar bin Al-‘Abbaas Al-Hamdaaniy, bahwa Ja’far bin Muhammad mendatangi mereka sementara mereka hendak pergi meninggalkan Madinah. Ja’far berkata, “Sesungguhnya kalian, insya Allah, termasuk orang-orang shalih dari negeri Mesir kalian, maka jika ada yang menyampaikan pada kalian mengenai diriku, barangsiapa menyangka bahwa aku adalah seorang imam (ma’shum) yang wajib untuk dita’ati, maka aku berlepas diri darinya. Dan barangsiapa menyangka bahwa aku berlepas diri dari Abu Bakr dan ‘Umar, maka akupun berlepas diri darinya.” [Al-Kamaal 5/82]

وبه قال : أخبرنا الدارقطني، قال: حدثنا إسماعيل بن محمد الصفار، قال: حدثنا أبو يحيى الرازي جعفر بن محمد، قال: حدثنا محمد بن مهران، قال: حدثنا يحيى بن سليم، عن جعفر بن محمد، قال: إن الخبثاء من أهل العراق يزعمون أنا نقع في أبي بكر، وعمر رضي الله تعالى عنهما، وهما والداي

Dan dengan sanadnya, telah mengkhabarkan kepada kami Ad-Daaraquthniy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Muhammad Ash-Shaffaar, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Yahyaa Ar-Raaziiy Ja’far bin Muhammad, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mihraan, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Saliim, dari Ja’far bin Muhammad, ia berkata, “Ada sekelompok orang-orang busuk dari penduduk ‘Iraaq yang menyangka bahwa kami merendahkan Abu Bakr dan ‘Umar radhiyallaahu Ta’ala ‘anhuma, padahal keduanya adalah orangtuaku.” [Al-Kamaal 5/82]

Khabar-khabar ini saling menguatkan satu dengan yang lain dan tak diragukan lagi, bahwa ini adalah ‘aqidah ahli bait yang disucikan, kepada Abu Bakr dan ‘Umar. Dan dari sini maka telah salahlah perkataan kaum Raafidhah yang mereka menasabkan diri mereka kepada ahli bait yang suci dan mereka berprasangka bahwa ahli bait membenci Abu Bakr dan ‘Umar, dan sungguh ini sangat jauh panggang dari api, karena dari apa yang terkutip diatas, terlihat bahwa justru ahli bait-lah yang membenci orang-orang yang berlepas diri dari Asy-Syaikhain, dan Ja’far As-Shaadiq adalah ulama ahli bait yang sangat membenci orang-orang yang demikian. Maka adakah orang-orang Raafidhah yang mau mengambil pelajaran dari perkataan salah seorang imam “ma’shum” panutannya ini?

‘Aqidah Al-Imam Ash-Shaadiq Terhadap Al-Qur’an

قال معبد بن راشد، عن معاوية بن عمار الدهني سألت جعفر بن محمد عن القرآن، فقال: ليس بخالق، ولا مخلوق، ولكنه كلام الله عز وجل

Muhammad bin Raasyid berkata, dari Mu’aawiyah bin ‘Ammaar Ad-Duhaniy, aku bertanya kepada Ja’far bin Muhammad mengenai Al-Qur’an, maka ia menjawab, “Bukan Sang Pencipta, bukan pula makhluk, namun ia adalah Kalamullah ‘Azza wa Jalla.” [Al-Kamaal 5/83]

Maka ‘aqidah beliau sangat jelas adalah ‘aqidah shahih yaitu Al-Qur’an adalah Kalamullah ‘Azza wa Jalla, bukan makhluk, dan ini menandakan jauhnya beliau dari ‘aqidah mu’tazilah dan madzhab-madzhab bid’ah lainnya dalam ‘aqidah.

Wafatnya Al-Imam Ash-Shaadiq

Jamaaluddiin Yuusuf Al-Mizziy berkata :

قال أبو الحسن المدائني، وخليفة بن خياط، والزبير بن بكار، وغير واحد: مات سنة ثمان وأربعين ومئة، زاد الزبير، وهو ابن ثمان وخمسين

Abul Hasan Al-Madaa’iniy, Khaliifah bin Khayyaath, Az-Zubair bin Bakkaar dan lebih dari seorang selain mereka, berkata, “Ia wafat pada tahun 148 H.” Az-Zubair menambahkan, “Dan dia berumur 58 tahun.” [Al-Kamaal 5/91]

Sementara Syamsuddiin Adz-Dzahabiy berkata :

مات جعفر الصادق في سنة ثمان وأربعين ومئة وقد مر أن مولده سنة ثمانين أرخه الجعابي وأبو بكر بن منجويه وأبو القاسم اللالكائي فيكون عمره ثمانيا وستين سنة رحمه الله

Ja’far Ash-Shaadiq wafat pada tahun 148 H, dan telah berlalu bahwa ia lahir pada tahun 80 H, disebutkan tarikhnya oleh Al-Ji’aabiy, Abu Bakr bin Manjuwaih dan Abul Qaasim Al-Laalikaa’iy, maka umurnya ketika wafat adalah 68 tahun (dan inilah yang benar, -pent). Semoga Allah merahmatinya.” [As-Siyar 6/269]

Dan selesailah biografi Al-Imam Ja’far Ash-Shaadiq –qaddasallaahu ruuhahu fil jannah-. Alhamdulillaahil-ladziy bi ni’matihi tatimmush-shaalihaat.
Semoga dapat bermanfaat. Wallaahu a’lam.

Abu Ahmad Tommi Marsetio –wafaqahullah

Disarikan dan diterjemahkan dari :

1. “Tahdziibul Kamaal fiy Asmaa’ir Rijaal“, karya Al-Haafizh Jamaaluddiin Yuusuf Al-Mizziy, tahqiiq : Dr. Basyaar ‘Awwaad Ma’ruuf, Mu’assasah Ar-Risaalah, cetakan kedua.

2. “Siyaru A’laam An-Nubalaa‘”, karya Al-Haafizh Syamsuddiin Adz-Dzahabiy, tahqiiq : Syaikh Syu’aib Al-Arnaa’uuth, Mu’assasah Ar-Risaalah, cetakan kedua.

Footnote :

[1] Beliau adalah Ahmad bin ‘Iisaa bin Muhammad bin ‘Aliy Al-‘Uraidhiy bin Ja’far Ash-Shaadiq bin Muhammad Al-Baaqir bin ‘Aliy Zain Al-‘Aabidiin As-Sajjaad bin Al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thaalib, Al-Imam Al-Muhaajir Al-Haasyimiy Al-Qurasyiy tsumma Al-Hadhramiy.

Dari cucu beliaulah, silsilah keturunan ‘Alawiy atau Ba ‘Alawiy atau ‘Alawiyyiin dimulai, cucu beliau tersebut bernama As-Sayyid ‘Alwiy bin ‘Ubaidullaah bin Ahmad Al-Muhaajir.

Nama famili keturunan ‘Alawiyyiin tersebut mungkin sebagian sudah akrab di telinga kita, yaitu : Al-‘Aththaas, Al-Haamid, As-Saqqaaf, Al-‘Aydruus, Al-Habsyiy, Al-Jufriy, Al-Kaaf, Al-Muhdhaar, Al-Baar, Al-Junaid, Asy-Syaathiriy, Ibnu Jindaan, Al-Haddaad, dan lain-lain.

Selengkapnya bisa dibaca :

http://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%85%D8%A7%D9%85_%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%87%D8%A7%D8%AC%D8%B1
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=233501

* * * * *

3 thoughts on “Al-Imam Ja’far Ash-Shaadiq, Imam Ahlussunnah dari Keluarga Ahlul Bait ‘Aliy, Mencintai Abu Bakr dan ‘Umar

    • Seperti dikatakan oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar dalam At-Taqriib no. 6478, Mujaalid adalah Mujaalid bin Sa’iid bin ‘Umair Al-Hamdaaniy, Abu ‘Amr Al-Kuufiy, Al-Haafizh berkata bahwa ia “laisa bil qawiy” dan hapalannya berubah di akhir usianya.

      Ahlul bait yg disucikan itu berhubungan erat dengan QS Al-Ahzab : 33, Allah Ta’ala berfirman :

      إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

      Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

      Dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari ‘Aaisyah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata :

      خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا ثُمَّ جَاءَ عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ قَالَ { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمْ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا }

      “Pada suatu pagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumahnya dengan mengenakan kain bulu hitam yang berhias. Tak lama kemudian, datanglah Hasan bin Ali. Lalu Rasulullah menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Kemudian datanglah Husain dan beliau pun masuk bersamanya ke dalam rumah. Setelah itu datanglah Fatimah dan beliau pun menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Akhirnya, datanglah Ali dan beliau pun menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Lalu beliau membaca ayat Al Qur’an yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu hai ahlul bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya (QS Al-Ahzab: 33).” [Shahih Muslim no. 4450]

      Namun maksudnya bukanlah ahlul bait Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam lantas ma’shum dari dosa, melainkan ini adalah do’a Nabi kepada ahlul baitnya agar Allah mengampuni mereka dari dosa-dosanya dan mensucikan mereka, dan hal ini berlaku bagi seluruh kaum muslimin, bukan kepada ahlul bait saja karena Allah Ta’ala telah berfirman dalam ayat yang lain :

      يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

      Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. [QS Al-Maa’idah : 6]

      Wallaahu a’lam

      NB : saya bukan ustadz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s