Malam Jum’at Sunnah Rasul Untuk Berhubungan? Lupakan Saja, Kawan!

mistake oopsIlustrasi :

Alkisah di sebuah kantor pada suatu sore…
Pria A : “Masbro, mau kemana? Buru-buru banget? Masih jam 5 sore ini.”
Pria B : “Ah, ente kayak nggak tau aja ini hari apa?”
Pria A : “Sekarang kan hari Kamis masbro, terus ntar malam Jum’at deh, emang ada apa masbro? Ente mau Jum’at kliwonan?”
Pria B : “Yah ente, masa’ harus ane kasihtau? Ga seru ah, malam Jum’at kan sunnah Rasul masberow, untuk berhubungan…yah ente udah gede lah brow, masa’ harus ane jelasin sedetil-detilnya? He…he…he…”
Pria A : “Wah ane baru tau nih masbrow, emang ada gitu sunnahnya?”
Pria B : “Dari yang pernah ane dengar sih, katanya keutamaannya bagai membunuh berapa puluh ribu orang Yahudi gitu deh. Nah sekarang coba ente berpikir brow, sekali saja berhubungan, sudah berapa puluh ribu orang Yahudi yang bisa kita bunuh. Coba ente bayangin jika berkali-kali, banyak banget khan…?”
Pria A : “Wah iya masbrow…sampeyan benar bangeeuuddd…!!! Tapi dalilnya shahih nggak tuh masbrow?”
Pria B : “Yah denger-denger dari orang-orang sih katanya begitu masbrow. Tapi whatever shahih atau nggak brow, kan nggak bakalan rugi dah ente, ya ga ya ga?? He…he…he.”

=====

Begitu banyak percakapan seperti ini kita dengar di sekeliling kita saat beraktivitas, terutama dari rekan-rekan kantor yang sudah menikah, dan kami mendapati bahwasanya percakapan seperti ini sering terjadi ketika Kamis sore tiba dan kebanyakan para ikhwan-lah yang sering melontarkan wacana “Sunnah Rasul” atau berhubungan intim setiap malam Jum’at ini. Katanya dalil yang mendasarinya adalah, “Berhubungan dengan istri pada malam Jum’at keutamaannya bagai membunuh 7000 orang Yahudi,” atau entah berapa puluh ribu orang Yahudi, dan biasanya kami pun terheran dan hanya tersenyum-senyum saja menyaksikan rekan-rekan kami yang begitu semangatnya mengaplikasikan dalil tersebut, hingga ada yang berkhayal semakin banyak berhubungan maka pahala dan keutamaannya semakin banyak sebagaimana ilustrasi diatas.

Dear kawan, berhubungan intim dengan istri termasuk aktivitas yang berguna untuk mempererat keharmonisan suami-istri dan agar hubungan suami-istri tetap langgeng dan terbina, utamanya lagi adalah ternyata hubungan intim suami-istri ini mendatangkan pahala Allah Ta’ala.

Diriwayatkan Al-Imam Muslim dengan sanadnya hingga Abu Dzar radhiyallaahu ‘anhu, bahwa ada beberapa orang sahabat bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenai cara-cara bersedekah agar dapat menandingi orang-orang kaya yang mampu bersedekah harta, maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

“Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah, bahkan pada kemaluan seseorang dari kalian pun ada sedekah.”

Para sahabat bertanya kembali :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ

“Wahai Rasulullah, bagaimana jika salah seorang diantara kami menyalurkan syahwatnya, apakah akan mendapatkan pahala?”

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا

“Bagaimana menurut kalian jika kalian menyalurkannya pada sesuatu yang haram, bukankah kalian akan mendapat dosa? Maka begitu pula jika kalian menyalurkannya pada sesuatu yang halal, kalian akan mendapatkan pahala.”
[Shahiih Muslim no. 1009]

Dan syari’at tidak menetapkan batasan keutamaan hari untuk berhubungan intim selama istri tidak dalam masa nifas setelah melahirkan atau haid. Kami hingga saat ini pun belum menemukan adanya dalil shahih yang menyebutkan sunnahnya berhubungan intim pada malam Jum’at apalagi lantas disebutkan keutamaannya bagai membunuhi orang-orang Yahudi. Namun, ada sebuah hadits yang menyebutkan keutamaan berhubungan intim dengan istri pada hari Jum’at, haditsnya seperti berikut :

Anjuran Menggauli Istri Pada Hari Jum’at

Diriwayatkan Al-Imam Al-Haafizh Abu Bakr Al-Baihaqiy :

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، وَأَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ، وَأَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ، قَالُوا: ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ الأَصَمُّ، ثنا أَبُو عُتْبَةَ، ثنا بَقِيَّةُ، ثنا يَزِيدُ بْنُ سِنَانٍ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ فَيْرُوزَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قال: قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يُجَامِعَ أَهْلَهُ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ فَإِنَّ لَهُ أَجْرَيْنِ اثْنَيْنِ أَجْرَ غُسْلِهِ، وَأَجْرَ غُسْلِ امْرَأَتِهِ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillaah Al-Haafizh, Abu ‘Abdirrahman As-Sulamiy, dan Ahmad bin Al-Hasan, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Al-Asham, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Utbah, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Sinaan, dari Bukair bin Fairuuz, dari Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak sanggupkah salah seorang dari kalian menggauli istrinya pada setiap hari Jum’at, karena baginya dua pahala yaitu pahala mandinya (mandi janabah) dan pahala mandi istrinya.”
[Syu’abul Iimaan no. 2991]

Dalam sanad ini ada 2 yang menjadi cacatnya :

Baqiyyah, dia adalah Ibnul Waliid bin Shaa’id bin Ka’b Al-Kalaa’iy, Abu Yuhmid Al-Himshiy. Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 734 berkata “shaduuq, banyak melakukan tadlis dari para perawi lemah”, dan tadlis yang dilakukannya adalah tadlis taswiyah yang menurut para ulama termasuk salah satu jenis tadlis terburuk karena mudallis tidak hanya menggugurkan syaikhnya, namun juga syaikh dari syaikhnya, bahkan hingga thabaqah ke atasnya. Oleh karena itu solusi bagi tadlis jenis ini adalah mudallis harus mengatakan dengan jelas bahwa ia memang mendengarkan dari syaikhnya (haddatsaniy), begitu pula seterusnya hingga thabaqah sahabat dengan lafazh yang jelas tersebut. Dan pada sanad ini ada ‘an’anah pada Bukair bin Fairuuz dan Abu Hurairah, oleh karena itu muncullah syubhat tadlis disini.

Yaziid bin Sinaan bin Yaziid At-Tamiimiy Al-Jazariy, Abu Farwah Ar-Ruhaawiy. Ahmad dan Ibnul Madiiniy mendha’ifkannya, Ibnu Ma’iin berkata “tidak ada nilainya”, dalam riwayat lain ia berkata “haditsnya tidak bernilai apa-apa”, Al-Bukhaariy berkata “muqaaribul hadiits (haditsnya mendekati shahih) kecuali putranya Muhammad yang meriwayatkan riwayat-riwayat mungkar darinya”, Abu Haatim berkata “tempatnya kejujuran, sering lalai, ditulis haditsnya namun tidak dijadikan hujjah dengannya”, An-Nasaa’iy berkata “dha’iif, matruuk” dalam riwayat lain ia berkata “tidak tsiqah”, Al-Haafizh berkata “dha’iif”. [Tahdziibul Kamaal no. 7001; Taqriibut Tahdziib no. 7727]

Maka, yang lebih tepat adalah Yaziid dha’if, tidak matruuk. Perkataan Abu Haatim mengisyaratkan bahwa haditsnya perlu penguat (mutaba’ah), jika ia tafarrud maka haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.

Sedangkan Bukair bin Fairuuz Ar-Ruhaawiy, Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 764 mengisyaratkan akan maqbulnya ia, yaitu jika ia mempunyai mutaba’ah. Namun Al-Albaaniy dalam Adh-Dha’iifah 13/424 mengatakan bahwa Bukair diriwayatkan oleh sekelompok perawi tsiqah, seperti Zaid bin Abu Unaisah, Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullaah bin Mas’uud (dan Abu ‘Ubaidah lebih senior darinya), Naafi’ maulaa Ibnu ‘Umar (satu thabaqah dengannya), dan yang lainnya, pun ia telah ditautsiq Ibnu Hibbaan dalam Ats-Tsiqaat 4/76, maka Al-Albaaniy berkata bahwa ia “shaduuq”, dan perkataannya dikuatkan oleh Syu’aib Al-Arnaa’uuth dalam At-Tahriir 1/184 seraya berkata “tidak kami ketahui para ulama yang menjarhnya”.

Dari sini, maka hadits ini adalah hadits dha’if dengan sebab syubhat tadlis Baqiyyah dan kelemahan Yaziid, ia tafarrud dalam sanad ini dan ia tidak mempunyai penguat. Dan jika dikaitkan dengan hadits yang akan datang berikut mengenai keutamaan berhubungan intim pada hari Jum’at, maka hadits diatas adalah hadits munkar, hadits berikut diriwayatkan oleh Al-Imam Abu ‘Abdirrahman An-Nasaa’iy :

أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ كَثِيرٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا الْأَشْعَثِ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَوْسَ بْنَ أَوْسٍ صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ وَغَدَا وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ وَأَنْصَتَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ

Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amr bin ‘Utsmaan bin Sa’iid bin Katsiir, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Waliid, dari ‘Abdurrahman bin Yaziid bin Jaabir, bahwasanya ia mendengar Abul Asy’ats yang menceritakan kepadanya, bahwa ia mendengar Aus bin Aus -radhiyallaahu ‘anhu-, sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dan memandikan, lalu bersegera untuk mendapatkan awal khutbah dengan berjalan kaki dan tidak berkendaraan, dan mendekat kepada imam, diam dan mendengarkan khutbah, maka setiap langkah kakinya akan dicatat bagai pahala amalan setahun.”
[Sunan An-Nasaa’iy no. 1384; dan juga diriwayatkan Ashabus Sunan yang lain]

Al-Albaaniy dalam Shahiih An-Nasaa’iy dan Shahiih Al-Jaami’ no. 6405 berkata bahwa hadits ini shahih, begitu pula Syu’aib Al-Arnaa’uuth dalam tahqiiq dan takhriij-nya terhadap Sunan Abu Daawud 1/259, Daar Ar-Risaalah.

Pensyarah Jaami’ At-Tirmidziy mengatakan :

قَوْلُهُ: ( مَنْ اِغْتَسَلَ وَغَسَّلَ ) رُوِيَ بِالتَّشْدِيدِ وَالتَّخْفِيفِ قِيلَ أَرَادَ بِهِ غَسَلَ رَأْسَهُ، وَبِقَوْلِهِ اِغْتَسَلَ غَسَلَ سَائِرَ بَدَنِهِ، وَقِيلَ جَامَعَ زَوْجَتَهُ فَأَوْجَبَ عَلَيْهَا الْغُسْلَ فَكَأَنَّهُ غَسَّلَهَا وَاغْتَسَلَ

Sabdanya (barangsiapa yang mandi dan memandikan), diriwayatkan dengan tasydid dan takhfif, dikatakan bahwa makna yang dikehendaki adalah mencuci/membasuh kepalanya. Dan dengan sabdanya “mandi”, yaitu memandikan seluruh badannya, dan dikatakan pula maknanya adalah menjima’ istrinya, maka diwajibkan bagi istrinya untuk mandi seolah-olah suaminya memandikan istrinya dan ia pun mandi. [Tuhfatul Ahwadziy 3/3, Daarul Fikr]

Dan ulama lain mengatakan :

غَسَلَ ثيابَه واغتسل في جسده، وقيل : غَسَّلَ : أي جامع أهله قبل الخروج إلى الصلاة لأنه يعين على غض البصر في الطريق، يقال : غسل الرجل امرأته بالتخفيف والتشديد إذا جامعها

Mencuci pakaiannya dan memandikan badannya, dan dikatakan “memandikan” (dengan huruf sin ditasydid), maksudnya adalah menjima’ istrinya sebelum keluar menuju shalat Jum’at dikarenakan dengan berjima’ maka ia akan dapat menjaga pandangannya ketika dalam perjalanan menuju shalat, sebagian mengatakan bahwa maknanya adalah seorang laki-laki memandikan istrinya jika dibaca dengan takhfif, dan dibaca dengan tasydid jika menjima’nya. [Syarh Sunan An-Nasaa’iy 3/95 – sebagaimana kami nukil dari ta’liq Syaikh Al-Arnaa’uuth terhadap Sunan Abu Daawud]

Demikian pula dikatakan oleh pensyarah Sunan Abu Daawud 1/204, Daar Ibnu Hazm, hal yang semakna.

Maka, dapat disimpulkan bahwa jika kita berpendapat seperti tersebut diatas, lazimnya “sunnah Rasul” tersebut dilakukan pada Jum’at pagi hari atau sebelum berangkat untuk shalat Jum’at, bukannya malah malam Jum’at. Oleh karena itu setidaknya dari sini kita dapat mengubah mainstream pola pikir kita mengenai “sunnah Rasul” tersebut menjadi “sunnah Rasul” yang berlandaskan dalil shahih dan penjelasan para ulama mengenainya.

Demikian yang bisa kami tuliskan. Semoga bermanfaat.
Wallaahu a’lam.

Tangerang, 19 Jumadil Awwal 1435 H.

Tommi Marsetio

3 thoughts on “Malam Jum’at Sunnah Rasul Untuk Berhubungan? Lupakan Saja, Kawan!

  1. Bukankah dlm sistem penanggalan Islam waktu pergantian hari adalah saat matahari terbenam yaitu magrib? Berarti malam jumat itu sudah masuk hari jumat kan..?

  2. Benar, malam jum’at sudah masuk hari Jum’at menurut penanggalan Hijriyyah, namun yg diinginkan oleh hadits yg lebih mendekati kebenaran adalah pada pagi hari sebelum mulai shalat Jum’at.

    Perhatikan redaksi ini :

    “Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dan memandikan, lalu bersegera untuk mendapatkan awal khutbah….”

    Wallaahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s