Beberapa Faidah Sanad “Ibnu Lahii’ah” dan Ilmu dari “Diam”

silencePepatah mengatakan “Diam itu Emas”, dan begitu banyak orang bijak mengatakan bahwasanya diam itu akan lebih menyelamatkan ketimbang banyak berbicara namun lebih membawa mudharat ketimbang maslahat. Begitu pun di dalam agama Islam, dianjurkan untuk berkata-kata yang baik dan benar atau diam sama sekali. Allah Ta’ala telah berfirman :

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. [QS Al-Israa’ : 53]

Karena setan pada hakikatnya akan senang melihat manusia saling berselisih yang tidak membawa manfaat, apalagi hingga tertumpahnya darah kaum muslimin.

Diam

Al-Imam Abu Bakr Ibnu Abi ‘Aashim meriwayatkan sebuah hadits :

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَاصِمٍ، أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ الْحَرْبِ الْمَرْوَزِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ صَمَتَ نَجَا

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin ‘Amr bin Abi ‘Aashim, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Husain bin Al-Hasan bin Al-Harb Al-Marwaziy, telah mengkhabarkan kepada kami Ibnul Mubaarak, dari Ibnu Lahii’ah, dari Yaziid bin ‘Amr, dari Abu ‘Abdirrahman Al-Hubuliy, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr -radhiyallaahu ‘anhuma-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang diam, maka ia akan selamat.”
[Az-Zuhd li Ibni Abi ‘Aashim no. 1, Ad-Daar As-Salafiyyah, Al-Hind]

Dan sanad ini adalah sanad Ibnul Mubaarak yang meriwayatkan dari Ibnu Lahii’ah dalam kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqaa’iq no. 385.

Diriwayatkan pula oleh Al-Baghawiy (Syarhus Sunnah no. 4129); Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahaaniy (Amtsaalul Hadiits no. 207), dari jalan Ibnul Mubaarak dan seterusnya.

Tinjauan Faidah Sanad

Para perawi sanad ini adalah orang-orang tsiqah, kecuali Yaziid bin ‘Amr Al-Ma’aafiriy Al-Mishriy, dalam Al-Kamaal no. 7032, Abu Haatim berkata bahwa ia tidak mengapa, sementara Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 7758 berkata “shaduuq”. Letak permasalahan ada pada Ibnu Lahii’ah, namanya adalah ‘Abdullaah bin Lahii’ah bin ‘Uqbah Al-Hadhramiy, Abu ‘Abdirrahman Al-Mishriy Al-Qaadhiy, seperti dikatakan Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 3563, bahwa ia seorang yang shaduuq atau bahkan tsiqah sebelum kitab-kitabnya terbakar dan ia mengalami ikhtilath. Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar 8/13 membawakan perkataan Al-Imam Ahmad :

من كان مثل ابن لهيعة بمصر في كثرة حديثه وضبطه وإتقانه

Siapakah yang semisal Ibnu Lahii’ah di Mesir dalam hal banyak haditsnya, dhabithnya dan mutqin-nya?

Namun kemudian bencana terjadi yaitu kitab-kitabnya terbakar habis hingga hapalannya mengalami ikhtilath, Imam Ahmad berkata :

حدثني إسحاق بن عيسى أنه لقيه في سنة أربع وستين وأن كتبه احترقت سنة تسع وستين ومئة

Telah menceritakan kepadaku Ishaaq bin ‘Iisaa bahwa ia menemuinya (Ibnu Lahii’ah) pada tahun 164 H dan kitab-kitabnya terbakar pada tahun 169 H. [As-Siyar 8/13]

Maka solusi dalam hal ini adalah perlu ada perincian perawi-perawi yang meriwayatkan dari Ibnu Lahii’ah sebelum atau setelah ikhtilathnya.

وقال الفضل : سمعت أبا عبد الله وسئل عن إبن لهيعة، فقال : من كتب عنه قديما فسماعه صحيح

Al-Fadhl (bin Ziyaad) berkata, “Aku mendengar Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) ditanya mengenai Ibnu Lahii’ah, maka ia menjawab, “Barangsiapa yang menulis darinya pada masa terdahulu, maka penyimakan darinya adalah shahih.” [Mausuu’atu Aqwaal Al-Imam Ahmad 2/280]

Dan penyimakan Ibnul Mubaarak dari Ibnu Lahii’ah adalah shahih dikarenakan ia menyimak darinya sebelum kitab-kitabnya terbakar, hal ini disebutkan oleh Al-Fallaas :

قال عمرو بن علي الفلاس : من كتب عنه قبل احتراق كتبه كإبن المبارك والمقرئ فهو أصح

‘Amr bin ‘Aliy Al-Fallaas berkata, “Barangsiapa yang menulis darinya sebelum kitab-kitabnya terbakar seperti Ibnul Mubaarak dan Al-Muqri’ (yaitu ‘Abdullaah bin Yaziid Al-Makkiy), maka ia shahih.” [Al-Mukhtalithiin hal. 65]

قال نعيم بن حماد : سمعت إبن مهدي يقول : ما اعتد بشيء سمعته من حديث إبن لهيعة إلا سماع إبن المبارك ونحوه

Nu’aim bin Hammaad berkata, aku mendengar Ibnu Mahdiy mengatakan, “Tidaklah aku berpedoman dengan sesuatu yang aku mendengarnya dari hadits Ibnu Lahii’ah kecuali (dari) penyimakan Ibnul Mubaarak dan yang semisalnya.” [Al-Ightibaath hal. 191]

Ibnul Mubaarak tidak sendirian meriwayatkan dari Ibnu Lahii’ah, ia mempunyai mutaba’ah dari perawi-perawi berikut :

1. Qutaibah bin Sa’iid

Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dalam Jaami’-nya no. 2501[1], telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah, dan seterusnya secara marfuu’.

Diriwayatkan pula oleh Al-Qudhaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab no. 334.

Qutaibah bin Sa’iid bin Jamiil bin Thariif Ats-Tsaqafiy, Abu Rajaa’ Al-Balkhiy Al-Baghlaaniy. Perawi Al-Bukhaariy dan Muslim. Dikatakan Al-Haafizh, “tsiqah tsabt”. [Taqriibut Tahdziib no. 5522]

Penyimakan Qutaibah dari Ibnu Lahii’ah termasuk shahih karena ia menulisnya dari kitab Ibnu Wahb kemudian mendengarnya dari Ibnu Lahii’ah :

قال جعفر بن محمد الفريابي، سمعتُ بعض أصحابنا يذكر أنه سمع قتيبة يقول : قال لي أحمد بن حنبل : أحاديثك عن إبن لهيعة صحاح، قال : قلتُ : لأن كنا نكتب من كتاب عبد الله بن وهب، ثم نسمعه من إبن لهيعة

Ja’far bin Muhammad Al-Firyaabiy berkata, aku mendengar beberapa sahabat kami menyebutkan bahwasanya ia mendengar Qutaibah berkata, “Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku, “Hadits-haditsmu dari Ibnu Lahii’ah tidak bermasalah.” Aku berkata, “Karena dahulu kami menulisnya dari kitab ‘Abdullaah bin Wahb, kemudian kami mendengarnya dari Ibnu Lahii’ah.” [Mausuu’atu Aqwaal Al-Imam Ahmad 2/279]

2. Al-Hasan bin Muusaa

Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid dalam Musnad-nya no. 345[2], telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Muusaa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah dan seterusnya secara marfuu’.

Diriwayatkan pula oleh Ahmad (Musnad no. 6616).

– Al-Hasan bin Muusaa Al-Usyaib, Abu ‘Aliy Al-Baghdaadiy Al-Qaadhiy. Perawi Al-Bukhaariy dan Muslim. Seorang yang tsiqah. [Tahdziibul Kamaal no. 1277; Taqriibut Tahdziib no. 1288]

Tidak kami dapatkan keterangannya apakah Al-Hasan bin Muusaa menyimak dari Ibnu Lahii’ah sebelum atau setelah ikhtilathnya.

3. Ishaaq bin ‘Iisaa bin Najiih

Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy dalam Sunan-nya no. 2713[3], telah mengkhabarkan kepada kami Ishaaq bin ‘Iisaa, dari ‘Abdullaah bin ‘Uqbah (yaitu Ibnu Lahii’ah), dan seterusnya secara marfuu’.

Diriwayatkan pula oleh Ahmad (Musnad no. 6445, 6616); Abu ‘Aliy Ibnul Banaa’ Al-Baghdaadiy (Ar-Risaalah Al-Mughniyyah fis-Sukuut wa Luzuum Al-Buyuut no. 1)

Ishaaq bin ‘Iisaa bin Najiih bin Ath-Thabbaa’, Abu Ya’quub Al-Baghdaadiy. Perawi Muslim dalam Shahihnya. Al-Haafizh berkata mengenainya bahwa ia shaduuq. [Taqriibut Tahdziib no. 375]

Telah berlalu diatas nukilan dari Imam Ahmad dalam As-Siyar bahwa Ishaaq bin ‘Iisaa menyimak dari Ibnu Lahii’ah pada tahun 164 H sebelum kitab-kitabnya terbakar pada tahun 169 H, oleh karena itu penyimakannya shahih.

4. Yahyaa bin Ishaaq As-Siilahiiniy

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya no. 6616[4], telah menceritakan kepada kami Hasan, Ishaaq bin ‘Iisaa dan Yahyaa bin Ishaaq, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah, dan seterusnya secara marfuu’.

Yahyaa bin Ishaaq Al-Bajaliy, Abu Zakariyaa atau Abu Bakr As-Siilahiiniy. Perawi Muslim dalam Shahihnya. Ditautsiq oleh Ahmad dan Ibnu Sa’d, Ibnu Ma’iin berkata “shaduuq”, dan begitu pula Al-Haafizh. [Tahdziibul Kamaal no. 6781; Taqriibut Tahdziib no. 7499]

Penyimakan Yahyaa dari Ibnu Lahii’ah adalah shahih karena ia mendengar dari Ibnu Lahii’ah sebelum kitab-kitabnya terbakar. Hal ini disebutkan oleh Al-Haafizh, ia berkata setelah menyebutkan majhuul-nya Hafsh bin Haasyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqaash :

قلت أظن الغلط فيه من بن لهيعة لأن يحيى بن إسحاق السيلحيني من قدماء أصحابه

Aku (Al-Haafizh) berkata, “Aku menduga kesalahan didalamnya berasal dari Ibnu Lahii’ah dikarenakan Yahyaa bin Ishaaq As-Siilahiiniy termasuk ashab Ibnu Lahii’ah (yang mendengar darinya) pada masa terdahulu.” [Tahdziibut Tahdziib 2/420]

5. Yahyaa bin Yahyaa An-Naisaabuuriy

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iimaan no. 4756[5], dengan sanadnya dari Abu ‘Abdillaah Al-Haakim, Abu Nashr bin Qataadah dan Abu Bakr Muhammad bin Ibraahiim Al-Faarisiy, hingga Yahyaa bin Yahyaa, telah memberitakan kepada kami Ibnu Lahii’ah, dan seterusnya secara marfuu’.

Yahyaa bin Yahyaa bin Bakr bin ‘Abdirrahman bin Yahyaa bin Hammaad At-Tamiimiy Al-Hanzhaliy, Abu Zakariyaa An-Naisaabuuriy. Perawi Al-Bukhaariy dan Muslim. Seorang imam yang tsiqah tsabt. Termasuk periwayat kitab Al-Muwaththa’ Imam Maalik bin Anas. [Taqriibut Tahdziib no. 7668]

Tidak kami temukan keterangannya apakah Yahyaa bin Yahyaa mendengar dari Ibnu Lahii’ah sebelum atau setelah ikhtilathnya.

6. Ibnu Wahb

Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb sendiri dalam Jaami’-nya no. 302[6], telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Lahii’ah, dan seterusnya secara marfuu’.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Syaahiin (At-Targhiib fiy Fadhaa’ilul A’maal no. 387)

‘Abdullaah bin Wahb bin Muslim Al-Qurasyiy Al-Fihriy, Abu Muhammad Al-Mishriy Al-Faqiih. Perawi Al-Bukhaariy dan Muslim. Al-Haafizh berkata “tsiqah haafizh ‘aabid”. [Taqriibut Tahdziib no. 3694]

Penyimakan Ibnu Wahb dari Ibnu Lahii’ah adalah shahih, ia mendengar hadits-haditsnya pada masa-masa awal. Ibnu Wahb sendiri yang memberitahukannya :

حدثني أبي، قال : حدثنا خالد يعني إبن خداش، قال : قال لي إبن وهب ورآني لا أكتب حديث إبن لهيعة : إني لستُ كغيري في إبن لهيعة فأكتُبُها، وقال في حديثه، عن عقبة بن عامر، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : لو كان القرآن في إهاب ما مَسَّتْه النار، قال إبن وهب : ما رفعه لنا قط إبن لهيعة في أول عُمره

Telah menceritakan kepadaku Ayahku (yaitu Imam Ahmad), ia berkata, telah menceritakan kepada kami Khaalid -yakni Ibnu Khidaasy-, ia berkata, Ibnu Wahb berkata kepadaku sementara ia melihatku tidak menulis hadits Ibnu Lahii’ah, “Aku tidak seperti yang lainnya pada perkara Ibnu Lahii’ah, maka tulislah!” Dan ia juga berkata pada haditsnya, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jikalau Al-Qur’an diletakkan pada kulit niscaya api neraka tidak akan dapat menyentuhnya,” berkatalah Ibnu Wahb, “Tidak sekalipun Ibnu Lahii’ah memarfu’kan sanad hadits ini kepada kami pada masa awal umurnya.” [Al-‘Ilal wa Ma’rifatir Rijaal no. 5190]

Al-Haafizh Al-‘Asqalaaniy berkata pada biografi Ibnu Lahii’ah :

خلط بعد احتراق كتبه ورواية بن المبارك وابن وهب عنه أعدل من غيرهما

“Ikhtilath setelah terbakar kitab-kitabnya, riwayat Ibnul Mubaarak dan Ibnu Wahb darinya paling lurus dibanding selain keduanya.” [Taqriibut Tahdziib no. 3563]

Oleh karenanya, tidak ada syubhat ikhtilath Ibnu Lahii’ah pada sanad ini karena telah shahih bahwa beberapa perawi meriwayatkan darinya sebelum kitab-kitabnya terbakar seperti yang telah kami sebutkan diatas. Jika pun ternyata ada yang berkata bahwa riwayat Ibnu Lahii’ah tidak diterima karena ia dilemahkan secara mutlak, maka :

Ibnu Lahii’ah tidak sendirian dalam sanadnya dari Yaziid bin ‘Amr Al-Ma’aafiriy. Ia mempunyai mutaba’ah dari ‘Amr bin Al-Haarits, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Mu’jam Al-Ausath no. 1933[7], telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Naafi’, telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Shaalih, telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengkhabarkan kepadaku Ibnu Lahii’ah, dan ‘Amr bin Al-Haarits, dari Yaziid bin ‘Amr, dan seterusnya secara marfuu’.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhiid 21/37.

‘Amr bin Al-Haarits bin Ya’quub bin ‘Abdillaah Al-Anshaariy, Abu Umayyah Al-Mishriy. Seorang qari’, ahli fiqh dan mufti Mesir. Ditautsiq oleh Ibnu Sa’d, Ibnu Ma’iin, Abu Zur’ah dan Al-‘Ijliy, Ahmad berkata “tidak ada penduduk Mesir yang haditsnya lebih shahih dari Al-Laits dan ‘Amr bin Al-Haarits”, dalam riwayat lain ia berkata “ada sesuatu yang diingkari dalam haditsnya”, dalam riwayat akhir ia berkata “meriwayatkan hadits Qataadah dengan idhtiraab dan kekeliruan”, Abu Haatim berkata “seorang huffazh pada zamannya, tidak ada yang perlu diteliti ulang dari hafalannya”, Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat seraya berkata “termasuk para huffazh mutqin dan wara’ dalam agama”, Adz-Dzahabiy berkata “hujjah, mempunyai riwayat-riwayat gharib”, Al-Haafizh berkata “tsiqah faqiih haafizh”. Perawi Al-Bukhaariy dan Muslim. [Tahdziibul Kamaal no. 4341; Ats-Tsiqaat 7/228; Al-Kaasyif 2/74; Taqriibut Tahdziib no. 5004]

Al-Haafizh Zainuddiin Al-‘Iraaqiy berkata :

أخرجه الترمذي بسند فيه ضعف وهو عند الطبراني بسند جيد

“Dikeluarkan At-Tirmidziy dengan sanad yang terdapat kelemahan didalamnya, namun di sisi Ath-Thabaraaniy dengan sanad yang jayyid.” [Takhriij Al-Ihyaa’ 3/108]

Maka, dengan mengumpulkan keterangan-keterangan diatas, sanad hadits ini secara keseluruhan adalah hasan. Syaikh Al-Albaaniy menshahihkannya dalam Shahiih At-Targhiib no. 2874, Shahiih Al-Jaami’ no. 6367. Dihasankan Syaikh Syu’aib Al-Arnaa’uuth dalam Ta’liiq Musnad Ahmad 11/19 dan 11/235.

Faidah dari Diam

Al-Hasan Al-Bashriy berkata ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar), “Yakni, tidak mengucapkan kepadanya semisal perkataannya (yang buruk-buruk), bahkan ucapkanlah : semoga rahmat dan ampunan Allah senantiasa tertuju padamu.” [Jaami’ul Bayaan 14/623]

Syaikh Al-Mubaarakfuuriy dalam Syarahnya terhadap Jaami’ At-Tirmidziy berkata, “Sabdanya Shallallaahu ‘alaihi wasallam (barangsiapa yang diam), maksudnya adalah diam dari ucapan-ucapan yang buruk, dan sabdanya (maka ia akan selamat), maksudnya adalah kemenangan dan akan ditampakkan semua kebaikan baginya.” [Tuhfatul Ahwadziy 7/204]

Karena muslim yang baik dan beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir adalah muslim yang berkata-kata baik atau ia diam. Asy-Syaikhaan meriwayatkan dengan sanadnya masing-masing hingga Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia mengganggu tetangganya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata-kata yang baik atau diam.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 6018; Shahiih Muslim no. 49]

Maksud dari sabdanya (berkata-kata yang baik atau diam) adalah hendaknya seseorang jika ia menginginkan berbicara, maka terlebih dahulu ia memikirkan dengan benar (termasuk akibat dari perkataannya tersebut) sebelum ia berbicara, jika diketahui bahwasanya perkataannya tidak akan menimbulkan mafsadat atasnya, tidak membawa kepada keharaman dan tidak pula makruh, maka berbicaralah. [Tuhfatul Ahwadziy 7/203]

Senada dengan penjelasan diatas, Al-Haafizh Al-‘Asqalaaniy berkata, “Sabdanya ini adalah Jawaami’ul Kalim (perkataan ringkas namun penuh makna), karena perkataan itu seluruhnya dapat berupa kebaikan, dapat berupa keburukan, atau dapat pula salah satu antara keduanya, maka jika menyeret kepada keburukan, hendaklah seseorang itu diam.” [Fathul Baariy 10/445]

Abud Dardaa’ ‘Uwaimir bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu berkata :

تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ كَمَا تَتَعَلَّمُونَ الْكَلامَ، فَإِنَّ الصَّمْتَ حُكْمٌ عَظِيمٌ

“Belajarlah untuk diam sebagaimana kalian belajar berbicara, karena diam mempunyai hukum yang agung.” [Makaarimul Akhlaaq li Al-Kharaa’ithiy no. 483] – dengan diringkas.

Jaabir bin ‘Abdillaah Al-Anshaariy radhiyallaahu ‘anhuma berkata :

تَعَلَّمُوا الصَّمْتَ، ثُمَّ تَعَلَّمُوا الْحِلْمَ، ثُمَّ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ، ثُمَّ تَعَلَّمُوا الْعَمَلَ، ثُمَّ انْشُرُوا

“Belajarlah untuk diam, kemudian belajarlah bersabar, kemudian pelajarilah ilmu, kemudian belajarlah beramal, kemudian bertebaranlah kalian (di muka bumi).” [Syu’abul Iimaan no. 706]

Sebagaimana kita dianjurkan untuk diam jika tidak ada maslahatnya berbicara, maka hendaknya seorang muslim mengutamakan untuk mengerem lisannya agar tidak menyakiti orang lain dan agar mereka selamat dari bahaya lisannya. Asy-Syaikhaan meriwayatkan dengan sanadnya masing-masing hingga ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ

“Seorang muslim adalah seseorang yang kaum muslimin selamat dari (gangguan) lisan dan kedua tangannya, dan seorang muhajir (orang yang hijrah) adalah seseorang yang meninggalkan apa-apa yang Allah telah melarangnya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 10; Shahiih Muslim no. 43; dan ini lafazh Al-Bukhaariy]

Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dari hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Diantara (tanda-tanda) baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 2317]

Diriwayatkan pula oleh Abu Ja’far Al-Kharaa’ithiy dari ‘Aliy Zainul ‘Aabidiin secara mursal, dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sabdanya. [Makaarimul Akhlaaq no. 485] – sanadnya mursal shahih.

Termasuk hal-hal yang tidak bermanfaat adalah terlalu banyak bicara yang tidak ada kepentingannya ia berbicara didalamnya, dan termasuk pula ia berbicara pada bidang yang sama sekali bukan spesialisasinya, contohnya orang jahil yang berbicara masalah-masalah politik, atau orang jahil yang berbicara masalah-masalah agama dengan tanpa dalil dan rujukan dari para ulama, sehingga yang keluar dari lisannya adalah hal-hal ajaib yang bukan mustahil mempunyai potensi lebih merusak aqidah masyarakat awam dan merusak tatanan kehidupan sosial masyarakat.

Akhirul kalam, Allah Ta’ala berfirman :

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [QS Qaaf : 18]

Maka semoga kita bisa menjaga lisan, pendengaran dan penglihatan dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.

Selesai. Walhamdulillaahil-ladziy bi ni’matihi tatimmush-shaalihaat.
Wallaahu a’lam.

Tangerang, 21 Jumadil Awwal 1435 H

Tommi Marsetio

Footnotes :

[1] Riwayatnya adalah :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَمْرٍو الْمَعَافِرِيِّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ صَمَتَ نَجَا “، قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ ابْنِ لَهِيعَةَ، وَأَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيُّ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ

[2] Riwayatnya adalah :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لَهِيعَةَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ صَمَتَ نَجَا

[3] Riwayatnya adalah :

أَخْبَرَنَا إِسْحَاق بْنُ عِيسَى، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ صَمَتَ، نَجَا

[4] Riwayatnya adalah :

حَدَّثَنَا حَسَنٌ، وَإِسْحَاقُ بْنُ عِيسَى، وَيَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، قَالُوا: حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ عَمْرٍو الْمَعَافِرِيُّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العاص، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ صَمَتَ نَجَا

[5] Riwayatnya adalah :

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ عِصْمَةَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، نا أَبِي، نا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو نَصْرِ بْنُ قَتَادَةَ، وَأَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الفارسي، أنا أَبُو عَمْرِو بْنُ مَطَرَ، نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَلِيٍّ، نا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ صَمَتَ نَجَا

[6] Riwayatnya adalah :

قَالَ: وَأَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَمْرٍو الْمَعَافِرِيِّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ صَمَتَ نَجَا

[7] Riwayatnya adalah :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نَافِعٍ، قَالَ: نا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، قَالَ: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ، وَعَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَمْرٍو الْمَعَافِرِيِّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” مَنْ صَمَتَ نَجَا

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s