Penjelasan Al-Haafizh Ibnu Rajab Mengenai Shirathal Mustaqim

jalan yg lurusTelah tsabt sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad, An-Nasaa’iy dan At-Tirmidziy dengan sanadnya masing-masing hingga An-Nawwaas bin Sam’aan radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلَا تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ تَعَالَى وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ تَعَالَى وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِي فَوْقَ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

“Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, “Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam Shirath dan janganlah kalian menoleh kesana kemari!”

Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, “Celaka kau! Janganlah sekali-kali membukanya! Karena jika kau membukanya maka kau akan masuk kedalamnya.”

Ash-Shirath itu adalah Al-Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan Shirath itu adalah Kitabullah (Al-Qur`an) ‘Azza wa Jalla. Sedangkan penyeru dari atas Shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.”
[Musnad Ahmad no. 17182; Jaami’ At-Tirmidziy no. 2859; Sunan Al-Kubraa li An-Nasaa’iy no. 11169] – dan ini lafazh Al-Imam Ahmad.

Dalam Jaami’ At-Tirmidziy terdapat tambahan lafazh :

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus.” [QS Yuunus : 25]

Dan At-Tirmidziy berkata, “Hadits hasan ghariib,” sementara Al-Imam Al-Haakim mengeluarkannya dalam Al-Mustadrak 1/73, beliau berkata :

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَلا أَعْرِفُ لَهُ عِلَّةً وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ

“Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Muslim, dan aku tidak mengetahui terdapat cacat padanya, namun ia (Imam Muslim) tidak mengeluarkannya.”

Penjelasan Shirathal Mustaqim

Berkata Al-Haafizh Zainuddiin Abul Faraj ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy (w. 795 H) -semoga Allah meridhainya, mensucikan ruhnya dan menerima segala amalan jerih payahnya untuk islam dan kaum muslimin- :

Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam membuat perumpamaan dalam hadits yang agung ini sebagaimana yang beliau hikayatkan dari Rabbnya ‘Azza wa Jalla, perumpamaan Islam dengan Shirathal Mustaqim. Sungguh, Allah Ta’ala telah menamai agamaNya ini, -yaitu agama Islam-, dengan Shirathal Mustaqim pada banyak tempat dalam kitabNya, seperti firmanNya Ta’ala :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” [QS Al-Faatihah : 6-7]

Para ahli tafsir (seperti Ibnu Jariir Ath-Thabariy dan lainnya) telah menafsirkan Ash-Shirath yang ada pada ayat diatas dengan Kitabullah (Al-Qur’an), dan didalam Kitabullah telah terkandung penjelasan-penjelasan mengenai agama Islam, bukti-bukti kebenaran mengenainya, keutamaan-keutamaannya serta dakwah kepadanya.

Diriwayatkan dari Jaabir bin ‘Abdillaah radhiyallaahu ‘anhuma, beliau berkata :

الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ هُوَ الإِسْلامُ وَهُوَ أَوْسَعُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ

“Shirathal Mustaqim adalah Al-Islam, dan ia lebih luas (dari) apa yang ada diantara langit dan bumi.”
[Al-Mustadrak 2/446] – Al-Haakim berkata sanadnya shahih.

Allah Ta’ala berfirman :

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ. يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” [QS Al-Maa’idah : 15-16]

Allah Ta’ala berfirman :

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” [QS Al-An’aam : 153]

Dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad dan An-Nasaa’iy, sebuah hadits dengan sanadnya hingga ‘Abdullaah bin Mas’uud radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :

خَطَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ مُسْتَقِيمًا قَالَ ثُمَّ خَطَّ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ السُّبُلُ وَلَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ { وَإِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ }

“Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah membuat garis dengan tangannya, lalu beliau bersabda, “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Kemudian beliau membuat garis di samping kanan dan kirinya seraya bersabda, “Ini adalah jalan-jalan yang tidak ada satu jalan pun kecuali ada setan yang menyeru kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat, “Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) [QS Al-An’aam : 153].”
[Musnad Ahmad no. 4423; Sunan Al-Kubraa li An-Nasaa’iy no. 11105]

Sesungguhnya dinamakan Ash-Shirath, dikarenakan ia adalah jalan yang luas dan gamblang yang dapat mengantarkan kepada tujuan, dimisalkan keutamaan agama Islam diatas agama-agama lainnya karena agama Islam mengantarkan kepada Allah Ta’ala, kepada surga dan naunganNya, bersama dengan kemudahan-kemudahan syari’atNya dan keluasannya.

Sementara jalan-jalan sisanya -dan ia berjumlah banyak sekali-, adalah jalan-jalan yang sempit dan sulit, tidak akan mengantarkan kepada Allah Ta’ala bahkan akan menyimpang dariNya dan akan mengantarkan kepada kemarahanNya, kemurkaanNya, juga naungan musuh-musuhNya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS Aali ‘Imraan : 85]

Dan Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” [QS Aali ‘Imraan : 19]

Agama Islam secara umum adalah agama Allah Ta’ala yang dibawa oleh para RasulNya, sebagaimana perkataan Nuuh ‘Alaihissalaam :

وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan aku diperintah agar aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepadaNya).” [QS Yuunus : 72]

Allah Ta’ala mensifati agama Nabi Ibraahiim ‘Alaihissalaam sebagai agama Islam, dengan firmanNya :

مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ

“(Ikutilah) agama orang tuamu, Ibraahiim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu.” [QS Al-Hajj : 78]

Dan perkataan Al-Hawaariyyiin, yaitu sahabat-sahabat Nabi ‘Iisaa ‘Alaihissalaam :

آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ

“Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).” [QS Al-Maa’idah : 111]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensifati Ash-Shirath, dengan firmanNya dalam surat Al-Faatihah yang telah lalu, “(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.” Kemudian orang-orang yang telah diberi nikmat ini telah Allah Ta’ala sebutkan dalam firmanNya :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [QS An-Nisaa’ : 69]

Maka berdasarkan ayat diatas ada 4 macam golongan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka, yaitu para Nabi, para shiddiiqiin, para syuhada dan orang-orang yang shalih. Ini menunjukkan bahwasanya mereka semua berada diatas Shirathal Mustaqim, tidaklah keluar dari golongan mereka kecuali golongan orang-orang yang dimurkai Allah seperti Yahudi dan kaum Musyrikin, kemudian golongan orang-orang sesat lagi bodoh yang mana mereka tidak berada diatas Ash-Shirath karena kebodohan namun mereka menyangka berada diatasnya.

Diantara hal-hal yang tergolong maksiat kepada Allah Jalla Jalaaluh adalah menyelisihi perintah-perintahNya dan melazimi keta’atan kepada setan karena setan selalu berada pada jalan-jalan yang berada di sebelah kanan dan kiri dari Ash-Shirath, sebagaimana telah dijelaskan pada hadits Ibnu Mas’uud yang telah lalu. Allah Ta’ala berfirman :

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ. وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu menyembahKu. Inilah jalan yang lurus.” [QS Yaasiin : 60-61]

Diriwayatkan dari Abu Waa’il Syaqiiq bin Salamah, bahwa Ibnu Mas’uud berkata :

إِنَّ هَذَا الصِّرَاطَ مُحْتَضَرٌ تَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ يُنَادُونَ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا الطَّرِيقُ فَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ فَإِنَّ حَبْلَ اللَّهِ الْقُرْآنُ

“Sesungguhnya jalan ini dipenuhi dengan setan-setan yang selalu datang sambil berseru, “Wahai hamba Allah, ini adalah jalanmu.” Oleh karena itu berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah, sesungguhnya tali Allah adalah Al-Qur’an.”
[Sunan Ad-Daarimiy no. 3222]

Islam yang paling utama adalah yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya, sebagaimana telah dikeluarkan dalam Ash-Shahiihain dari sahabat Abu Muusaa Al-Asy’ariy radhiyallaahu ‘anhu bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenai Islam yang paling utama, maka Rasul bersabda :

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“(Islam yang utama adalah) Mereka yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 11; Shahiih Muslim no. 44]

Dan diantara tanda-tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya, dikeluarkan oleh Al-Imam At-Tirmidziy dari hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Diantara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 2317]

Al-Imam Muslim mengeluarkan hadits dari ‘Abdullaah bin Sallaam radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :

بَيْنَمَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي رَجُلٌ فَقَالَ لِي قُمْ فَأَخَذَ بِيَدِي فَانْطَلَقْتُ مَعَهُ قَالَ فَإِذَا أَنَا بِجَوَادَّ عَنْ شِمَالِي قَالَ فَأَخَذْتُ لِآخُذَ فِيهَا فَقَالَ لِي لَا تَأْخُذْ فِيهَا فَإِنَّهَا طُرُقُ أَصْحَابِ الشِّمَالِ قَالَ فَإِذَا جَوَادُّ مَنْهَجٌ عَلَى يَمِينِي فَقَالَ لِي خُذْ هَاهُنَا فَأَتَى بِي جَبَلًا فَقَالَ لِيَ اصْعَدْ قَالَ فَجَعَلْتُ إِذَا أَرَدْتُ أَنْ أَصْعَدَ خَرَرْتُ عَلَى اسْتِي قَالَ حَتَّى فَعَلْتُ ذَلِكَ مِرَارًا قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ بِي حَتَّى أَتَى بِي عَمُودًا رَأْسُهُ فِي السَّمَاءِ وَأَسْفَلُهُ فِي الْأَرْضِ فِي أَعْلَاهُ حَلْقَةٌ فَقَالَ لِيَ اصْعَدْ فَوْقَ هَذَا قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْعَدُ هَذَا وَرَأْسُهُ فِي السَّمَاءِ قَالَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَزَجَلَ بِي قَالَ فَإِذَا أَنَا مُتَعَلِّقٌ بِالْحَلْقَةِ قَالَ ثُمَّ ضَرَبَ الْعَمُودَ فَخَرَّ قَالَ وَبَقِيتُ مُتَعَلِّقًا بِالْحَلْقَةِ حَتَّى أَصْبَحْتُ قَالَ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَصَصْتُهَا عَلَيْهِ فَقَالَ أَمَّا الطُّرُقُ الَّتِي رَأَيْتَ عَنْ يَسَارِكَ فَهِيَ طُرُقُ أَصْحَابِ الشِّمَالِ قَالَ وَأَمَّا الطُّرُقُ الَّتِي رَأَيْتَ عَنْ يَمِينِكَ فَهِيَ طُرُقُ أَصْحَابِ الْيَمِينِ وَأَمَّا الْجَبَلُ فَهُوَ مَنْزِلُ الشُّهَدَاءِ وَلَنْ تَنَالَهُ وَأَمَّا الْعَمُودُ فَهُوَ عَمُودُ الْإِسْلَامِ وَأَمَّا الْعُرْوَةُ فَهِيَ عُرْوَةُ الْإِسْلَامِ وَلَنْ تَزَالَ مُتَمَسِّكًا بِهَا حَتَّى تَمُوتَ

“Aku pernah bermimpi dan dalam mimpi tersebut aku didatangi oleh seorang laki-laki. Kemudian laki-laki itu berkata kepadaku, “Wahai ‘Abdullaah, bangunlah!” Lalu ia memegang tanganku dan pergi bersamanya. Ternyata di sebelah kiri aku melihat jalan yang memanjang dan aku ingin berada diatas jalan itu. Tetapi laki-laki tersebut berkata kepadaku, “Janganlah kau lewati jalan itu karena ia adalah jalan orang-orang yang tersesat!”

Selain itu, ada pula jalan yang memanjang di sebelah kanan. Lalu laki-laki tersebut berkata kepadaku, “Lewatilah jalan ini!” Kemudian ia membawaku ke sebuah gunung. Sesampainya di sana ia berkata, “Naiklah,” tetapi, setiap kali aku naik aku pun terjatuh.

Kemudian ia mengajakku pergi hingga sampai di sebuah tiang yang ujungnya di langit dan pangkalnya di bumi serta ada sebuah Iingkaran di bagian atasnya. Laki-laki itu berkata, “Naiklah ke atas tiang ini.” Aku menjawab, “Bagaimana aku dapat naik ke atas sedangkan ujungnya ada di langit?” Lalu laki-laki itu memegang tanganku dan melemparkan aku ke atas hingga aku bergelantungan di atas lingkaran yang ada di ujung tiang tersebut. Setelah itu, ia memukul tiang hingga runtuh sedangkan Aku tetap bergelantungan di atas Iingkaran tersebut sampai pagi.

‘Abdullaah bin Sallaam berkata, “Keesokannya aku datang menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menceritakan mimpi tersebut kepada beIiau. Maka Rasulullah menjelaskan mimpi itu kepadaku, beliau bersabda, “Jalan yang kau lihat di sebelah kiri adalah jalan orang-orang yang sesat, sedangkan jalan yang kau lihat di sebelah kanan adalah jalan orang-orang yang baik. Gunung adalah rumah para syuhada, tetapi kau tidak dapat meraihnya. Tiang itu adalah agama Islam, sedangkan lingkaran tempat kau berpegangan adalah agama Islam yang senantiasa akan kau pegang hingga meninggal dunia.”
[Shahiih Muslim no. 2486]

Jalan yang haq yaitu Shirathal Mustaqim adalah jalan yang satu, tiada berbilang, sementara jalan-jalan kesesatan berjumlah banyak yang tidak akan mengantarkan kita kepada tujuan yaitu Allah, surga dan naunganNya, melainkan kemurkaanNya dikarenakan jalan-jalan kesesatan adalah jalan-jalan musuh-musuh Allah Ta’ala.

Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari segala jalan kesesatan dan kita memohon diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala agar dapat meniti Shirathal Mustaqim kemudian istiqamah diatasnya.

Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam.

Tangerang, 29 Jumadil Awwal 1435 H

Abu Ahmad Tommi Marsetio -wafaqahullah-

Disarikan dan diterjemahkan secara bebas dari :

Majmuu’ Rasaa’il Al-Haafizh Ibn Rajab Al-Hanbaliy“, karya : Al-Haafizh Ibnu Rajab Al-Hanbaliy, tahqiiq : Abu Mush’ab Thal’at bin Fu’aad Al-Hulwaaniy, penerbit Al-Faaruuq Al-Hadiitsah, Kairo, cetakan kedua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s